BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Strategi Pengembangan Usaha Pengadaan Beras
Bersertifikat
Dari hasil analisis AHP yang diperoleh dan wawancara mendalam tentang faktor internal maupun eksternal pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat dapat disusun alternatif strategi pengembangannya. Untuk itu, diperlukan langkah – langkah berikut :
4.5.1. Identifikasi Faktor – Faktor yang berpengaruh
Kinerja kemitraan antara Gapoktan Citra Sawargi dengan CV Quasindo dalam pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal kemitraan terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang
dan ancaman yang mempengaruhi pengembangan usaha pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat.
Mengacu pada Saputro et al (1996), faktor – faktor internal yang mempengaruhi kinerja kemitraan meliputi :
a. Kekuatan
1) Keterkaitan usaha
Agar hubungan kemitraan dapat memberikan manfaat dan nilai tambah, maka perlu ada keterkaitan usaha utama (core business) antara kedua pihak. Adanya keterkaitan usaha dapat menciptakan kondisi saling membutuhkan. Keterkaitan ini merupakan modal utama untuk menciptakan saling ketergantungan dan saling membutuhkan.
Faktor ini menjadi kekuatan, karena bidang usaha utama perusahaan mitra dan bidang usaha utama petani mitra saling melengkapi.
2) Keterpaduan operasi
Keterpaduan operasi dalam arti adanya koordinasi, kolaborasi dan kerjasama yang baik antara petani dengan perusahaan mitra, merupakan syarat pokok keberhasilan kemitraan. Untuk mencapai suatu keterpaduan, diperlukan perencanaan yang matang, yang dalam pelaksanaannya diperlukan keterbukaan, komunikasi yang baik, pendekatan personal dan pengawasan.
Faktor ini menjadi kekuatan dalam kemitraan ini, hal ini antara lain ditandai dengan selalu dipenuhinya persyaratan jenis dan mutu produk yang dihasilan petani mitra sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan mitra.
3) Intensitas hubungan
Intensitas hubungan antara petani (Gapoktan) dengan perusahaan mitra sangat penting untuk menciptakan persamaan persepsi dan keharmonisan hubungan yang dapat menumbuhkan kepercayaan antar kedua pihak. Kondisi ini dapat dicapai melalui
pembinaan, pemberian bantuan modal, pemberian bantuan saprodi dan prasarana dari perusahaan mitra kepada para petani.
Kendati saat ini hubungan antara pihak yang bermitra hanya terbatas pada aspek pasar (transaksi produk), namun intensitas hubungan antara Direktur Utama CV Quasindo dengan petani sangat kuat. CV Quasindo mampu membangun hubungan personal melalui kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan. Salah satunya adalah dengan memberikan penghargaan kepada petani mitra yang berprestasi, yang dilakukan setiap musim panen. Hal ini mampu menimbulkan kedekatan dan keterikatan khusus antara petani dengan CV Quasindo. Karenanya faktor ini merupakan salah satu kekuatan yang mempengaruhi kemitraan ini.
4) Keterikatan
Faktor-faktor di atas seringkali masih belum cukup untuk menjamin kepastian dalam kemitraan. Oleh karena itu tetap diperlukan suatu perjanjian formal oleh pihak-pihak terkait yang mengikat secara hukum.
Dalam kemitraan pengadaan beras Pandanwangi, telah diawali dengan kesepakatan kedua pihak yang dituangkan dalam perjanjian tertulis (kontrak jual-beli), sehingga ada jaminan kepastian hukum bagi kedua pihak yang bermitra. Perjanjian ini juga memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak secara rinci, sehingga dapat menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan bagi kedua pihak. Dalam hal ini, faktor keterikatan menjadi kekuatan utama kemitraan beras Pandanwangi bersertifikat.
b. Kelemahan
1) Saling ketergantungan
Manfaat kemitraan dapat diperoleh jika terdapat faktor saling ketergantungan. Namun faktor ini saja tidak cukup, jika tidak diikuti dengan adanya kekuatan yang saling melengkapi dari masing-masing pihak yang bermitra. Dalam kondisi ini, diharapkan
para pelaku dapat saling membagi keunggulan di bidang teknologi, manajemen, permodalan ataupun akses pasar.
Dalam kemitraan ini, saling ketergantungan antara perusahaan mitra dengan Gapoktan lemah, karena hanya dari aspek pasar. Disamping itu, dilihat dari sisi petani Pandanwangi, ketergantungan terhadap CV Quasindo lemah, karena petani dapat dengan mudah menjual hasil panennya ke pihak lain, khususnya tengkulak. Faktor ini menjadi salah satu kelemahan dalam kemitraan ini.
2) Pembagian manfaat dan korbanan
Para pelaku kemitraan akan mengharapkan manfaat dari kemitraan sesuai dengan beban dan risiko yang dihadapi. Pembagian manfaat dan korbanan akan dirasakan adil, jika manfaat, beban dan risiko yang dihadapi pihak-pihak yang bermitra sebanding besarnya. Ketidakadilan akan menyebabkan salah satu pihak merasa dirugikan dan diperdaya, sehingga dapat menyebabkan rusaknya hubungan kemitraan.
Faktor ini menjadi salah satu kelemahan dalam kemitraan beras Pandanwangi bersertifikat karena saat ini Gapoktan merasakan keuntungan yang sangat tipis dari usahanya menghasilkan beras Pandanwangi. Upaya Gapoktan untuk mengusulkan kenaikan harga jual beras telah beberapa kali dilakukan kepada CV Quasindo, namun hingga saat ini belum disetujui.
3) Keterandalan dan kepercayaan
Faktor ini merupakan faktor internal yang paling penting untuk menjamin kelangsungan hubungan kemitraan. Factor ini dapat diciptakan oleh para pelaku kemitraan dengan menepati janji dan mengikuti aturan. Kondisi saling mempercayai juga perlu didukung oleh suatu kondisi keterbukaan dan jalannya mekanisme kontrol. Kepercayaan dan keterandalan tidak saja menjadi keharusan antara organisasi petani dengan perusahaan mitra, tetapi
juga menjadi keharusan antar petani anggota dan antara petani dengan pengurus organisasi (Gapoktan).
Dilihat dari hubungan antara Gapoktan dengan CV Quasindo, kondisinya sangat baik dalam hal keterandalan dan kepercayaan. Namun, internal Gapoktan, khususnya antara petani anggota dan antara petani dengan pengurus, pada awal kemitraan berlangsung sering muncul perselisihan khususnya terkait dengan penilaian lapangan atas kualitas gabah petani oleh unit QC Gapoktan. Dalam hal kepengurusan Gapoktan telah 3 kali mengalami perubahan pengurus yang potensial menimbulkan konflik serius yang mengancam kelangsungan hubungan kemitraan.
Faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat melalui wadah kemitraan dapat dikelompokkan sebagai faktor peluang dan ancaman. Masing- masing faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Peluang
1) Pangsa Pasar
Pangsa pasar beras pada wilayah tertentu dapat dilihat dari jumlah penduduk dan rataan konsumsi per kapita. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk rataan 1,21% per tahun maka permintaan beras nasional akan cenderung bertambah dari tahun ke tahun. Pangsa pasar beras nasional saat ini sepenuhnya dikuasai oleh beras produksi dalam negeri, dengan klasifikasi mutu tinggi, sedang dan rendah. Pangsa pasar beras bermutu tinggi khususnya jenis beras wangi seperti beras Pandanwangi (sebelum tahun 2004) sebagian besar dikuasai oleh beras impor, yaitu jenis Thai Hom Mali. Kebutuhan akan jenis tersebut menurut Dirjen PPHP (2006) mencapai 75.000 ton per tahun (dilihat dari angka pengajuan dispensasi impor beras wangi tahun 2005). Memperhatikan kondisi tersebut, maka pangsa pasar beras Pandanwangi akan cenderung meningkat.
2) Trend Tuntutan Konsumen
Pola konsumsi beras di Indonesia secara perlahan, tetapi pasti mengalami perubahan sejalan dengan makin meningkatnya pendapatan, pendidikan dan mudahnya akses informasi. Konsumen beras saat ini semakin mementingkan mutu dan melihat beras tidak hanya sebagai komoditas melainkan sebagai suatu produk dengan kriteria tertentu. Hal ini terjadi khususnya pada konsumen yang memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi yang cukup, dan biasanya dijumpai di kota-kota besar (Sutrisno, 2006). Kondisi ini didukung juga dengan pesatnya laju pertumbuhan pasar modern. Menurut Nielsen (2005), selama periode 1980-2003, pasar tradisional hanya tumbuh 5%/tahun, minimarket tumbuh 15%/tahun, supermarket tumbuh 7%/tahun dan hypermarket tumbuh 25%/tahun. Kecenderungan tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen dan pilihan masyarakat dalam berbelanja. Kegiatan belanja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tetapi juga sebagai kegiatan rekreasi bagi keluarga.
Atribut-atribut yang mencirikan preferensi konsumen dari yang semula hanya jenis, kenyamanan dan harga telah berkembang dengan tambahan atribut lain yang lebih rinci seperti kemasan, mutu, kandungan nutrisi, keamanan pangan dan aspek lingkungan atau organik (Sutrisno, 2006). Kecenderungan preferensi konsumen tersebut merupakan peluang bagi beras Pandanwangi bersertifikat dengan merek Xiang Mi produksi CV Quasindo, karena telah mampu memenuhi atribut – atribut yang dikehendaki konsumen.
3) Pasar Ekspor
Peluang ekspor beras Pandanwangi sangat baik, mengingat karakteristiknya yang harum dan pulen, sehingga sangat diminati
konsumen segmen pasar menengah ke atas. Demand beras internasional atas beras-beras aromatik cukup tinggi, dan selama ini hanya dapat dipenuhi dari Thailand, yaitu khususnya jenis beras Thai Hom Mali. Beras aromatik, khususnya diminati konsumen di Asia, khususnya Thailand, Vietnam, China, Singapura dan Malaysia.
4) Proteksi Impor
Salah satu kebijakan strategis yang telah memberikan implikasi nilai politis positif khususnya bagi petani produsen padi, yaitu kebijakan ketentuan impor beras (Kepmen Perindag No 9/MPP/Kep/1/2004 dan perubahannnya). Kebijakan ketentuan impor beras berupa larangan impor beras telah diimplementasikan sejak 21 Januari 2004 dan terus mengalami perpanjangan hingga saat ini, mengingat dampak positif kebijakan tersebut, khususnya dilihat dari perkembangan harga gabah yang cukup baik, perdagangan beras antar wilayah/pulau yang semakin dinamis dan harga beras dalam negeri yang cukup stabil, sehingga mampu memotivasi petani meningkatkan produksi padinya.
Kebijakan ini juga telah membuka peluang bagi pelaku agribisnis beras di dalam negeri khususnya untuk memproduksi beras bermutu tinggi guna mensubstitusi jenis beras serupa yang selama ini dipenuhi melalui impor.
b. Ancaman
1) Promosi sertifikasi beras berlabel
Cikal bakal kemitraan antara Gapoktan Citra Sawargi dengan CV Quasindo dalam pengadaan beras Pandanwangi adalah adanya Program Sertifikasi Beras berlabel, khususnya beras Pandanwangi oleh Departemen Pertanian, yang salah satu keluarannya adalah sertifikasi jaminan kemurnian varietas yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian. Adanya logo sertifikasi pada kemasan beras Pandanwangi bermerek Xiang Mi ini diharapkan akan
mampu memberikan nilai jual tersendiri khususnya bagi segmen konsumen kelas atas yang biasanya menuntut atribut produk secara lebih lengkap mulai dari jenis varietas, mutu produk, warna, rasa, kepulenan, kandungan nutrisi, keamanan pangan, kemasan yang menarik, hingga aspek lingkungan (Sutrisno, 2006).
Mengingat pentingnya atribut kemurnian varietas, khususnya dalam perdagangan beras pada segmen konsumen kelas atas, maka sangat penting bagi Pemerintah (Departemen Pertanian) untuk mempromosikan dan mensosialisasikan makna dari logo sertifikasi pada kemasan beras tersebut. Namun hingga saat ini dirasakan kegiatan promosi dan sosialisasi tersebut masih sangat kurang bahkan seperti terhenti, sejalan dengan telah berakhirnya proyek pemerintah dalam program sertifikasi beras berlabel pada akhir Tahun Anggaran 2007.
Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan sangat mengancam laju penjualan beras Pandanwangi bersertifikat, sehingga kelanjutan kemitraan punakan terancam.
2) Tataniaga Tradisional
Petani padi Pandanwangi di wilayah Warung Kondang – Cianjur selama ini telah terbiasa menjual gabahnya kepada pelaku tataniaga tradisional (tengkulak/pedagang pengumpul desa/ kecamatan). Hadirnya CV Quasindo yang menawarkan kemitraan kepada petani khususnya dalam aspek pasar akan memberikan alternatif pasar baru bagi petani dan sekaligus ancaman bagi para pelaku tataniaga tradisional. Karena hal tersebut, maka pada awal kemitraan berlangsung sempat terjadi ketegangan antara pengurus Gapoktan dengan para tengkulak.
Kendati harga yang ditawarkan melalui program kemitraan ini relatif lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan tengkulak dan bahkan mampu menjadi harga acuan di wilayah Warung Kondang, namun petani umumnya masih memiliki ikatan
dengan para tengkulak, yang mampu memberikan fasilitas pinjaman bagi petani, sehingga hal ini potensial menjadi ancaman dalam kemitraan ini.
3) Produk pesaing
Beras yang diperdagangkan di pasar modern lebih seragam dibandingkan di pasaram umum, baik dari segi jenis maupun mutu. Jenis beras yang paling banyak beredar adalah Pandanwangi dan Setra Ramos (Sutrisno, 2006). Jenis beras tersebut mayoritas dijual dengan mutu super dan kepala dan hanya sebagian kecil bermutu biasa. Hal ini terkait erat dengan target pelanggan yang belanja di supermarket yaitu masyarakat menengah-atas.
Beras bermerek Pandanwangi tersebut dikemas khusus dengan plastik PP (Poly Propilen) dengan desain dan warna yang sangat menarik serta informasi produk yang memadai. Berdasarkan penelitian Sutrisno (2006), peta persaingan beras Merek Varietas Pandanwangi di Supermarket Jabotabek sangat kompetitif khususnya pada kuadran dua yang menjadi pusat persaingan beras varietas Pandanwangi di supermarket yaitu beras dengan kualitas baik namun dengan harga yang relatif rendah. 4) Law enforcement
Beras dalam kemasan berlabel yang diperdagangkan belum sepenuhnya menunjukkan mutu beras yang diinginkan konsumen. Demikian pula label yang tertera dalam kemasan pada umumnya tidak sesuai dengan identitas sesungguhnya dari beras yang dikemas. Hasil pengamatan dan uji laboratorium oleh IPB tahun 2006 menunjukkan bahwa rataan keaslian beras Pandanwangi ‘asli’ pada beras berlabel Pandan-wangi yang dijual adalah 24,7 %, artinya 75,3 % merupakan beras pencampur (bukan Pandanwangi). Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan tidak ada korelasi antara besarnya tingkat kemurnian dengan tingginya harga jual beras berlabel Pandanwangi.
Beras yang beredar di masyarakat umunya belum taat ketentuan tentang pencantuman label dan ketentuan lainnya. Peraturan terkait hal tersebut sebenarnya sudah ada namun implemetasinya masih lemah. Berdasarkan Undang-Undang No. 7 tahun 2000 tentang pangan, mengingat Undang-Undang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, telah dijelaskan hal-hal yang harus diatur dalam label pangan, untuk komoditi beras minimal salah satunya mencantum- kan pada bagian utama label ‘nama produk beras serta bahan/komposisi jenis beras atau komposisi gizi’. Keterangan tentang bahan/komposisi jenis yang secara fisik dapat ditandai seperti asal varietas/jenis gabahnya sebagai contoh Pandanwangi 100% atau Ciherang 40% dan IR 64 sejumlah 60% dan sebagainya. Lemahnya penegakan hukum/peraturan yang ada akan menyebabkan ketiadaan jaminan perlindungan bagi produsen/ pelaku bisnis beras agar dapat memperoleh jaminan kepercayaan produknya sehingga dapat bersaing dengan sehat dan disisi pelanggan/konsumen dapat membelanjakan uangnya secara tepat dan memuaskan.
4.5.2. Matriks IFAS
Berdasarkan identifikasi terhadap faktor-faktor internal yang telah dikemukakan, serta mengacu pada kuesioner yang telah diisi oleh Direktur Utama CV Quasindo dan Ketua Gapoktan Citra Sawargi selaku pakar, sekaligus pihak yang memiliki kapasitas sebagai pengambil keputusan dalam kemitraan ini, maka dengan metode perbandingan berpasangan (paired comparison) dihasilkan bobot dan peringkat dari masing-masing faktor internal yang mempengaruhi kinerja kemitraan.
Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 24, terlihat bahwa faktor keterikatan merupakan faktor kekuatan yang paling berpengaruh
dalam menentukan kinerja kemitraan. Sedangkan faktor saling ketergantungan menempati ranking pertama sebagai faktor kelemahan yang paling berpengaruh terhadap kinerja kemitraan.
Tabel 24 . Faktor strategik internal kemitraan usaha
Faktor penentu Bobot Rating Skor Ranking
(a) (b) (c=axb) (d) A. Kekuatan Keterkaitan usaha 0,132 4,0 0,528 2 keterpaduan operasi 0,151 3,0 0,453 3 Intensitas hubungan 0,126 3,0 0,377 4 Keterikatan 0,157 3,5 0,550 1 Jumlah (A) 0,566 1,909 B. Kelemahan Saling ketergantungan 0,138 2,5 0,346 1 Manfaat dan korbanan 0,138 2 0,277 2 keterandalan dan kepercayaan 0,157 1,5 0,236 3 Jumlah (B) 0,434 0,859 Total (A + B) 1,000 2,767
4.5.3. Matriks EFAS
Berdasarkan identifikasi terhadap faktor-faktor eksternal, baik berupa peluang maupun ancaman yang mempengaruhi usaha pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat, dilanjutkan dengan pemberian bobot dan rating (Tabel 25). Berdasarkan hasil perhitungan, terlihat bahwa permberlakuan proteksi impor beras memberikan peluang utama bagi berkembangnya usaha-usaha perberasan di dalam negeri untuk merebut pangsa pasar beras lokal yang selama ini dikuasai beras impor disamping itu, trend tuntutan/ preferensi konsumen atas beras bermutu tinggi seperti beras Pandanwangi merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan bagi
kelanjutan pengembangan usaha ini. Bobot kedua faktor tersebut masing–masing 0,550 untuk kebijakan proteksi impor dan 0,424 untuk trend tuntutan konsumen.
Di sisi lain, lemahnya promosi dan sosialisasi program sertifikasi beras (jaminan kemurnian varietas) oleh pemerintah, serta law enforcement yang lemah dalam implementasi ketentuan hukum terkait pelabelan beras menjadi dua faktor utama yang menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pengembangan usaha beras Pandanwangi bersertifikat dengan bobot masing-masing 0,682 dan 0,499.
Tabel 25. Faktor strategik eksternal kemitraan usaha
Bobot Rating Skor Ranking
Faktor penentu
(a) (b) (c=axb) (d)
A. Peluang
Pangsa pasar 0,134 2,5 0,334 3
Trend Tuntutan konsumen 0,106 4,0 0,424 2
Pasar ekspor 0,133 2,0 0,267 4
Proteksi impor 0,171 3,5 0,597 1 Jumlah (A) 0,544 1,622
B. Ancaman
Promosi sertifikasi lemah 0,171 4 0,682 1 Tataniaga tradisional 0,065 2 0,129 4 Produk competitor 0,078 2,5 0,196 3
Law enforcement rendah 0,143 3,5 0,499 2
Jumlah (B) 0,456 1,507 Total (A + B) 1,000 3,129
4.5.4. Matriks IE
Dari hasil evaluasi dan analisis terhadap faktor internal dan eksternal, selanjutnya dilakukan penggabungan yang menghasil-kan Matriks IE, sehingga dapat diketahui posisi hubungan kemitraan yang berlangsung dalam pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat, sebagai dasar pemilihan strategi bagi pengembangan usaha.
Dengan total nilai faktor strategik internal 2,767, maka hubungan kemitraan memiliki faktor internal yang tergolong sedang atau rataan dalam melakukan usaha pengadaan beras Pandanwangi bersertifkat melalui wadah kemitraan. Total nilai faktor strategik eksternal 3,129 memperlihatkan respon yang diberikan oleh hubungan kemitraan terhadap lingkungan eksternal tergolong tinggi.
Apabila masing-masing total skor dari faktor strategis internal maupun eksternal dipetakan dalam matriks, maka posisi hubungan kemitraan saat ini berada pada kuadran/sel kedua (Tabel 26), yang berarti strategi yang perlu diterapkan melalui wadah kemitraan ini adalah strategi pertumbuhan. Strategi ini didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam penjualan, aset, laba atau kombinasi dari ketiganya.
Pada sel ini, strategi pertumbuhan dimaksud dapat dilakukan melalui konsentrasi integrasi horizontal, baik secara internal melalui sumber dayanya sendiri atau secara eksternal dengan memanfaatkan sumber daya dari luar. Strategi ini pada intinya adalah suatu kegiatan untuk memperluas usaha dengan cara perluasan dilokasi lain dan meningkatkan jenis dan mutu produk dan jasa. Tujuan utamanya adalah meningkatkan penjualan dan profit, dengan cara memanfaatkan keuntungan economic of scale baik di produksi maupun pemasaran.
Tabel 26. Matriks IE
TOTAL SKOR IFAS
4.0 Tinggi 3.0 Rataan 2.0 Lemah 1.0 Tinggi 3.0 1 GROWTH Konsentrasi melalui integrasi vertikal 2 GROWTH Konsentrasi melalui integrasi horizontal 3 RETRENCHMENT Turnaround Sedang 2.0 4 STABILITY Hati – hati 5 GROWTH Konsentrasi melalui integrasi horizontal STABILITY
Tak ada perubahan profil strategi
6
RETRENCHMENT Captive Company atau
Divestment TOTAL SKOR EFAS Rendah 1.0 7 GROWTH Diversifikasi konsentrik 8 GROWTH Diversifikasi Konglomerat 9 RETRENCHMENT Bangkrut atau Likuidasi
4.5.5. Analisis Matriks SWOT
Penajaman alternatif strategi pengembangan usaha pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat melalui pola kemitraan dapat dirumuskan berdasarkan analisis Matriks SWOT. Penyusunan formulasi strategi dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai faktor yang telah diidentifikasi dan dikelompokkan. Hasil formulasi dikelompokkan menjadi empat kelompok formulasi strategi yang terdiri dari strategi Kekuatan – Peluang (S – O), strategi Kekuatan – Ancaman (S – T), stratei Kelemahan – Peluang (W – O) dan strategi Kelemahan – Ancaman (W – T), seperti yang dimuat pada Tabel 27.
Tabel 27. Matriks SWOT
" " % , % , % , ' %", * - , % - , . / ' - , 0 1 , ( ' 1 , ' ' 1 , 1", ' " " @ % , . & 0 2% !% !% !%" 3 1 !1 !1 4 , . ' ' 2% !% !% !%" 3 1 !1 !1"4 , ' ' 2% !% 3 1 !1 !1"4 " " @ % , . 2- !- !- 31 !1 !1"4 , . / 2- !- 3 1 ! 1"4 , 5 / / 2- 31 !1 4 ( , ' ' / ( , 6 & /' ( , ' ' ' (", ( ' " " @ " , . 0 2% !% 3( !("4 , . 2% !% 3( !( !( 4 , 5 / ' ' 2% !% !% 3( !( !("4 " " @ " , . ) 2- !- 3( 4 , 7 / 0 2- 3( !( 4 , * ) 2- !- !- 3( !( !( 4 ", 2- !- !- 3( !( !("4
a. Strategi S – O
Strategi S – O adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada, dengan alternatif strategi berikut :
1) Memperluas wilayah pemasaran
Saat ini, beras Pandanwangi bersertifikat merek Xiang Mi hanya dipasarkan di super/hypermarket dan special outlet di wilayah Jakarta, antara lain : Carefour, Giant, Hero, Total All Fresh, Kemchick, Sogo, Ranchmarket dan lain-lain. Mengingat segmen pasar beras Xiang Mi ini adalah konsumen tingkat atas yang keberadaannya tersebar di kota- kota besar, maka perluasan wilayah pemasaran ke wilayah Botabek dan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Surabaya, Semarang, serta Bandung sangat potensial dan prospektif. Terlebih lagi, CV Quasindo telah memiliki jalur pemasaran hampir keseluruh kota besar di Indonesia, sebagai distributor beras kesehatan (beras Taj Mahal).
Untuk efisiensi biaya pemasaran, Perusahaan dapat memanfaatkan agen beras Taj Mahal sebagai distributor beras Xiang Mi pada daerah-daerah yang mempunyai potensi pasar yang besar.
2) Meningkatkan promosi
Beras Xiang Mi saat ini merupakan satu–satunya jenis beras Pandanwangi yang telah mendapatkan sertifikasi jaminan kemurnian varietas dari pemerintah. Logo Sertifikasi tersebut melengkapi atribut produk beras yang umum digunakan selama ini untuk memenuhi kebutuhan informasi konsumen tingkat atas, terkait dengan jaminan mutu beras.
Beras Xiang Mi dapat dikatakan sebagai ‘pionir’ untuk beras jenis Pandanwangi sejenis, karena telah dilengkapi dengan sertifikat
jaminan kemurnian varietas, sehingga menjamin kandungan beras Pandanwanginya sebesar 100%.
Sebagai pionir, biasanya akan mendapatkan banyak keuntungan, antara lain (Irawan, 2002) :
i. Merek produk akan mempunyai reputasi baik. Reputasi sebagai pionir biasanya menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen untuk suatu merek
ii. Pionir biasanya diuntungkan, karena dapat mengembangkan loyalitas, yaitu masuk terlebih dahulu, sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk mendidik konsumen yang sudah mencoba dan menumbuhkan keyakinan konsumen atas mutu produk ini.
Merek pionir bukanlah selalu merek yang benar-benar pertama di pasar, karena merek yang mendapatkan keuntungan besar sebagai pionir adalah merek yang dipersepsikan sebagai pertama oleh konsumen. Karena itu, jika beras Pandanwangi bersertifikat ingin memperoleh seluruh keuntungan sebagai pionir, maka merek Xiang Mi harus menjadi yang pertama di pasaran dan dalam benak konsumen (top of mind), maka perlu upaya keras untuk mengkomunikasikan dengan baik kepada konsumen bahwa merek Xiang Mi merupakan beras pertama yang mengandung 100 % asli beras Pandanwangi, melalui promosi dan periklanan (advertising).
3) Pengembangan lokal dan internasional brand
Penggunaan merek Xiang Mi yang berarti beras wangi memberi kesan bahwa beras dimaksud merupakan beras impor. Karenanya bagi konsumen lokal yang menginginkan beras pandanwangi ’asli’ akan ada kecenderungan meragukan bahwa beras merek Xiang Mi berisi beras Pandanwangi asli dari Cianjur. Karenanya, perlu dikembangkan merek lokal yang lebih mencerminkan keaslian beras pandanwangi tersebut. Penggunaan brand Internasional seperti merek Xiang Mi sangat prospektif digunakan untuk menarik konsumen lokal menengah atas etnis China sesuai dengan pilihan bahasa yang digunakan untuk merek.
Disamping itu, brand internasional juga prospektif digunakan untuk menembus pasar ekspor mengingat peluang ekspor juga cukup besar.