• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas merupakan rasio yang berfungsi untuk menunjukan kemampuan koperasi dalam membayar hutang pada saat jatuh tempo atau mengukur seberapa liquid kas yang tersedia untuk membayar kewajiban yang segera jatuh tempo. Dengan kata lain rasio likuiditas berfungsi untuk menunjukan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan (likuiditas badan usaha) maupun didalam perusahaan (likuiditas perusahaan). Caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada dineraca, yaitu total aktiva lancar dengan total passiva lancar (utang angka pendek).

Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat di hitung oleh penulis dari data yang di dapat adalah Rasio Lancar (current Ratio), Rasio Kas (Cash Ratio), Rasio Perputaran Kas, adapun perhitungannya sebagai berikut :

a. Rasio lancar (current Ratio)

Rasio Lancar (current Ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar, adapun rumus untuk menghitung rasio lancar yaitu :

Current Ratio = Aktiva Lancar (Current assets)

Utang Lancar (Current liabilitas)

Tabel 4.3 Perhitungan Current Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Tahun Total Aktiva Lancar ( Rp )

Total Utang lancar ( Rp ) Current Ratio 2014 1.811.524.651 765.877.955 2,36 2015 2.053.687.787 778.218.758 2,63 2016 2.097.158.360 843.736.457 2,48 2017 2.445.544.315 990.475.186 2,46

Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari perhitungan tahun 2014 di atas Current Ratio sebesar 2,36 kali yang artinya aktiva lancar sebanyak 2,36 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,36 aktiva lancar. Tahun 2015

current ratio mengalami kenaikan sebanyak 0,27 kali dari tahun 2014

sebesar 2,36 kali menjadi 2,63 kali yang artinya aktiva lancar sebesar 2,63 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,63 aktiva lancar. Penurunan rasio tahun 2015 disebabkan oleh naiknya aktiva lancar dari Rp1.811.524.651,00 menjadi

Rp2.053.687.787,00 yang tidak sebesar kenaikan utang lancar yang sebelumnya sebesar Rp765.877.955,00 menjadi Rp778.218.758,00.

Tahun 2016 current ratio mengalami penurunan 0,15 kali dari tahun 2015 sebesar 2,63 kali menjadi 2,48 kali, yang artinya aktiva lancar sebesar 2,48 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,48 aktiva lancar. Penurunan disebabkan oleh naiknya hutang lancar dari Rp778.218.758,00 menjadi Rp843.736.457,00 yang lebih besar dibandingkan kenaikan aktiva lancar yang sebelumnya sebesar Rp2.053.687.787,00 menjadi Rp2.097.158.360,00. Pada tahun 2017

current ratio mengalami sedikit penurunan sebanyak 0,02 kali dari tahun

2016 sebesar 2,48 kali menjadi 2,46 kali, yang berarti aktiva lancar sebanyak 2,46 kali utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp2,46 aktiva lancar. Terjadinya penurunan tersebut disebabkan oleh naiknya aktiva lancar dari Rp2.097.158.360,00 menjadi Rp2.445.544.315,00 dan ketika naiknya utang lancar yang lebih besar dari kenaikan aktiva lancar yaitu dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00.

Berdasarkan perhitungan Current Ratio diatas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dengan grafik 4.1 berikut ini :

Grafik 4.1 Perkembangan Curren Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari grafik diatas menunjukan bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Mampu untuk melunasi utang jangka pendeknya pada saat ditagih dengan menggunakan kas atau setara kas yang ada meski kinerja koperasi dari tahun ke tahun mengalami penurunan dalam hal membayar utang yang segera jatuh tempo.

b. Rasio kas (Cash Ratio)

Rasio kas atau Cash Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di Bank yang dapat ditarik setiap saat. Dapat dikatakan rasio ini menunukan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.

Adapun rumus untuk menghitung Rasio Kas adalah sebagai berikut:

Cash ratio = Kas + Bank Current liabilitas 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2014 2015 2016 2017 2,36 2.63 2.48 2.46 Ka li Tahun (2)

Tabel 4.4 Perhitungan Cash Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Tahun Kas ( Rp) Bank (Rp)

Total Utang Lancar (Rp) Cash Ratio % 2014 462.120.274 1.288.240 765.877.955 0,60 60% 2015 175.288.240 513.098.108 778.218.758 0,88 88% 2016 27.290.120 700.168.240 843.736.457 0,86 86% 2017 33.616.475 1.050.073.240 990.475.186 1,09 109%

Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari perhitungan diatas cash ratio tahun 2014 sebesar 0,60 kali atau 60%, artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,60 utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp0,60 kas atau setara kas. Tahun 2015 cash ratio mengalami kenaikan sebesar 0,28 kali atau 28% dari tahun 2014 sebesar 0,60 kali atau 60% menjadi 0,88 kali atau 88%. Artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,88 utang lancar atau setiap Rp1,00 utang lancar dijamin oleh Rp0,88 kas atau setara kas. Kenaikan di atas disebabkan oleh turunnya kas dari Rp462.120.274,00 menjadi Rp175.288.240,00. Kas di bank yang mengalami kenaikan dari Rp1.288.240,00 menjadi Rp513.098.108,00 hutang lancar juga mengalami kenaikan dari Rp765.877.955,00 menjadi Rp778.218.758,00.

Tahun 2016 cash ratio mengalami sedikit penurunan sebesar 0,02 kali atau 2% dari tahun 2015 sebesar 0,88 kali atau 88% menjadi 0,86 kali atau 86% artinya jumlah kas atau setara kas sebanyak 0,86 hutang lancar atau setiap Rp1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp0,86 kas atau setara kas. Terjadinya penurunan pada tahun 2016 disebabkan oleh turunnya kas dari Rp175.288.240,00 menjadi Rp27.290.120,00. Kas di bank mengalami kenaikan dari Rp513.098.108,00 menjadi Rp700.168.240,00 dan hutang lancar juga mengalami kenaikan dari Rp778.218.758,00 menjadi Rp843.736.457,00. Tahun 2017 cash ratio mengalami kenaikan sebanyak 0,23 kali atau 23% dari tahun 2016 sebesar 0,86 kali atau 86% menjadi 1,09 kali atau 109% artinya jumlah

kas atau setara kas sebesar 1,09 utang lancar atau setiap Rp1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp1,09 kas atau setara kas. Kenaikan tersebut disebabkan naiknya jumlah kas dari Rp27.290.120,00 menjadi Rp33.616.475,00. Dan naiknya kas di bank dari Rp700.168.240,00 menjadi Rp1.050.073.240,00 serta hutang lancar juga mengalami sedikit kenaikan dari Rp843.736.457,00 menjadi Rp990.475.186,00.

Berdasarkan perhitungan rasio kas atau cash ratio di atas dapat disimpulkan perhitungan tersebut dalam bentuk grafik 4.2 sebagai berikut:

Grafik 4.2 Perkembangan Cash Ratio Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin cukup mampu membayar hutang jangka pendeknya karena kas atau setara kas yang tersedia cukup mampu umtuk membiayai hutang jangka pendeknya.

0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 2014 2015 2016 2017 60% 88% 86% 109% Per se nta se Tahun

c. Rasio perputaran kas (Cas Turn Over)

Rasio perputaran kas berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan. Dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan atau utang dan biaya-biaya lainnya

Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung perputaran kas sebagai berikut :

Rasio perputaran kas = Pendapatan bersih

Total aktiva lancar - Total utang lancar

Tabel 4.5 Perhitungan Modal Kerja Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Tahun Aktiva Lancar ( Rp)

Hutang Lancar ( Rp)

Modal Kerja Bersih ( RP )

2014 1.811.524.651 765.877.955 1.045.646.696

2015 2.053.687.787 778.218.758 1.275.469.029

2016 2.097.158.360 843.736.457 1.253.421.903

2017 2.445.544.315 990.475.186 1.455.069.129

Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Tabel 4.6 Perhitungan Perputaran Kas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Tahun Pendapatan

Bersih (Rp)

Modal Kerja Bersih (Rp) Perputaran Kas % 2014 423.306.359 1.045.646.696 0,40 40% 2015 536.314.997 1.275.469.029 0,42 42% 2016 579.422.667 1.253.421.903 0,46 46% 2017 576.143.226 1.455.069.129 0,39 39%

Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh rasio perputaran kas tahun 2014 sebesar 0,40 kali atau 40% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan

pendapatan tahun 2014 sebanyak 0,40 kali atau 40% modal kerja. Perputaran kas tahun 2015 mengalami kenaikan sebanyak 2% dari tahun sebelumnya sebesar 0,40 kali atau 40% menjadi 0,42 kali atau 42%, artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan jumlah pendapatan sebesar 0,42 kali atau 42% modal kerja. Terjadinya kenaikan disebabkan oleh naiknya pendapatan di tahun 2015 dari Rp423.306.359,00 menjadi Rp536.314.997,00 dan modal kerja bersih juga mengalami kenaikan dari Rp1.045.646.696,00 menjadi Rp1.275.469.029,00.

Tahun 2016 perputaran kas mengalami kenaikan sebanyak 4% dari tahun 2015 sebesar 42% menjadi 46% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan pendapatan sebanyak 0,46 kali. Kenaikan tersebut disebabkan naiknya pendapatan tahun 2016 dari Rp536.314.997,00 menjadi Rp579.422.667,00 dan modal kerja mengalami sedikit penurunan sebesar Rp1.275.469.029,00 menjadi Rp1.253.421.903,00.

Perputaran kas tahun 2017 mengalami penurunan sebanyak 0,7 kali atau 7% dari tahun 2016 sebesar 0,46 kali atau 46% menjadi 0,39 kali atau 39% artinya tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan pendapatan sebanyak 0,39 kali atau 39% modal kerja. Penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya pendapatan sebesar Rp579.422.667,00 menjadi Rp576.143.226,00 sebaliknya modal kerja mengalami kenaikan dari Rp1.253.421.903,00 menjadi Rp1.455.069.129,00.

Berdasarkan perhitungan perputaran kas diatas dapat di simpulkan dalam bentuk grafik 4.3 sebagai berikut :

Grafik 4.3 Perkembangan Perputaran Kas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari grafik menunjukan bahwa Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin mampu membayar tagihan dan biaya lainnya dengan modal kerja yang dimilikinya.

Berdasarkan perhitungan rasio likuiditas yang dapat dihitung menggunakan metode Rasio Lancar (current Ratio), Rasio Kas (Cash

Ratio) dan Rasio Perputaran Kas dapat dilihat pada tabel 4.7 dan grafik

4.4 dan 4.4 berikut :

Tabel 4.7 Perkembangan Rasio Likuiditas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin

No Jenis Rasio 2014 2015 2016 2017

1 CurrentRatio 2,36 2,63 2,48 2,46

2 Cash Ratio 60% 88% 86% 109%

3 Rasio Perputaran Kas 40% 42% 46% 39%

Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019) 34% 36% 38% 40% 42% 44% 46% 2014 2015 2016 2017 40% 42% 46% 39% Per se nta se Tahun

Grafik 4.4 Perkembangan Rasio Likuiditas Tahun 2014 s.d 2017 Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin Sumber : Koperasi Karyawan SMB (diolah penulis, 2019)

Dari grafik rasio likuiditas diatas menunjukan bahwa koperasi mampu membayar kewajibannya kepada pihak luar Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin meskipun setiap tahunnya mengalami turun naik tidak menentu.

Dokumen terkait