• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALISASI DAN PROYEKSI BELANJA DAERAH 2012-2015

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

3.3. ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

3.3.3. REALISASI DAN PROYEKSI BELANJA DAERAH 2012-2015

Alokasi Belanja Daerah yang dikeluarkan pemerintah kota setiap tahunnya dimaksudkan untuk mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kota baik urusan wajib maupun urusan pilihan. Belanja daerah terdiri atas:

1. Belanja Tidak Langsung meliputi belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan tidak terduga;

2. Belanja Langsung yang meliputi belanja pegawai, barang dan jasa serta belanja modal.

Perkembangan realisasi belanja daerah Kota Bandung mengalami kenaikan dari Rp.

3,490Trilyun pada tahun 2012 menjadi Rp.4,027 Trilyun pada tahun 2013. Dilihat dari proporsinya, perbandingan alokasi belanja tidak langsung (BTL) dengan belanja langsung (BL) adalah sekitar 60:40pada tahun 2012, menjadi 53:47pada tahun 2013.

Realisasi Belanja Tidak Langsung tahun 2012 mencapai Rp. 2,106 Trilyun meningkat menjadi Rp. 2,115 Trilyun pada tahun 2013. Sedangkan untuk realisasi Belanja Langsung mencapai Rp. 1,383 Trilyun meningkat menjadi Rp. 1,911 Trilyun pada tahun 2013.

Pada tahun 2014, belanja daerah ditetapkan pada nilai Rp. 5,255 Trilyun, dengan komposisi Rp. 2,550 Trilyun untuk Belanja Tidak Langsung, dan Rp. 2,704 Trilyun untuk Belanja Langsung. Sementara itu, untuk perhitungan proyeksi belanja daerah tahun 2015, diperkirakan mencapai angka Rp. 5,640 Trilyun dengan komposisi Rp.

2,770 Trilyun untuk Belanja Tidak Langsung, dan Rp. 2,869 Trilyun untuk Belanja Langsung. Secara rinci realisasi dan proyeksi belanja dalam kurun waktu 2012-2015 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

TABEL 3.15

REALISASI BELANJA TAHUN 2012-2013, PENETAPAN APBD TAHUN 2014, SERTA PROYEKSI BELANJA TAHUN 2015

No Uraian Jumlah (Rp)

Realisasi

2012 * Realisasi

2013 * Penetapan APBD

2014 ** Proyeksi 2015***

2 BELANJA 3.490.099.865.059 4.027.469.180.321 5.255.142.559.331 5.640.159.819.320,00 2.1 BELANJA TIDAK

LANGSUNG 2.106.950.224.766 2.115.995.404.687 2.550.674.779.140 2.770.875.462.000,00 2.1.1 Belanja Pegawai 1.634.604.768.384 1.791.058.168.884 2.145.793.214.140 2.460.289.669.346,00

2.1.2 Belanja Bunga 0 0 0 0,00

2.1.3 Belanja Subsidi 62.055.500.000 95.875.317.500 98.000.000.000 154.206.000.000,00 2.1.4 Belanja Hibah 408.326.642.999 207.644.276.589 195.020.565.000 140.379.792.654,00 2.1.5 Belanja Bantuan

Sosial 383.850.600 19.951.732.000 100.546.000.000 0,00

2.1.6 Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/

Kab/Kota dan Pem. Desa Lainnya

763.417.844 814.044.939 815.000.000 1.000.000.000,00

2.1.7 Belanja Tidak

Terduga 814.044.939 651.864.775 10.500.000.000 15.000.000.000,00

2.2 BELANJA

LANGSUNG 1.383.149.640.293 1.911.473.775.634 2.704.467.780.191 2.869.284.357.320,00 2.2.1 Belanja Pegawai 110.083.025.846 162.332.577.849 275.006.644.792 PM 2.2.2 Belanja Barang

dan Jasa 466.326.408.024 684.295.757.477 1.035.611.027.418 PM

2.2.3 Belanja Modal 806.740.206.423 1.064.845.440.308 1.393.850.107.981 PM

Sumber: *Data RealisasiAPBD Tahun 2012& 2013,

** Data penetapan APBD 2014 (tahun berjalan)

*** RPJMD Kota Bandung Tahun 2013-2018 3.3.4. ARAH KEBIJAKAN BELANJA DAERAH

Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran, belanja daerah tahun 2015 disusun dengan pendekatan anggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, dengan memperhatikan prestasi kerja setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta menjamin efektifitas penggunaan anggaran kedalam program/kegiatan.

Kebijakan belanja daerah tahun 2015 diarahkan dengan pengaturan pola pembelajaan yang proporsional,efisien dan efektif, dengan upaya sebagai berikut:

1. Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang pelayanan dasar Masyarakat meliputi urusan Pendidikan dan urusan Kesehatan serta Peningkatan Infrastruktur Kota bagi pertumbuhan ekonomi untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Masyarakat

2. Efektifitas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi SKPD dalam rangka melaksanakan urusan pemerintah daerah yang menjadi tanggung jawab pemerintah Kota Bandung.

3. Belanja dalam rangka penyelenggaran urusan wajib diarahkan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan fasilitas sosial dan fasilitas umum.

4. Pengelolaan pembangunan melalui penerapan belanja sistem multi-tahun untuk kegiatan yang memerlukan dana yang sangat besar dan peruntukannya untuk kepentingan publik.

5. Mengefisienkan pengeluaran belanja yang bersifat umum dalam kegiatan pada masing-masing SKPD, sesuai dengan kompleksitas, besaran pagu anggaran dan jumlah personilnya. Kebijakan ini terkait terutama Efisiensi Belanja Perjalanan Dinas, menekan belanja Makanan dan Minuman kegiatan serta pengakomodiran usulan pengadaan Kendaraan Dinas yang lebih selektif.

6. Mengakomodir serta mempertegas proporsi usulan masyarakat melalui media Musrenbang pada beberapa SKPD yang dapat memfasilitasi usulan tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Kebijakan untuk belanja tidak langsung meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Mengalokasikan belanja pegawai yang merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

2. Mengefisienkan alokasi belanja bantuan sosial yang digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3. Mengefisienkan alokasi dana hibah yang digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah kepada kelompok masyarakat dan perorangan dengan tujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik dalam bentuk fisik dan non fisik.

4. Mengalokasikan bantuan keuangan di tingkat kelurahan dalam rangka percepatan pengentasan kemiskinan, akselerasi, kolaborasi dan disentralisasi program/kegiatan di kewilayahan.

5. Mengalokasikan belanja tidak terduga, yang merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya 3.3.5. REALISASI DAN PROYEKSI PEMBIAYAAN DAERAH 2012-2015

Pengertian pembiayaan menurut peraturan perundangan adalah sebagai berikut:

 Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. (UU No.23/2014)

 Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus (Permendagri No.13/2006)

Istilah pembiayaan berbeda dengan pendanaan (funding). Pendanaan diartikan sebagai dana atau uang dan digunakan sebagai kata umum, sedangkan Pembiayaan diartikan sebagai penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Sisi pendapatan dari pembiayaan sebagai faktor penambah sisi penerimaan/pendapatan daerah dimana pos pembiayaan digunakan untuk menutupi anggaran pendapatan dan belanja daerah yang defisit.

Jenis pembiayaan daerah dapat dibedakan sebagai berikut:

 Penerimaan Pembiayaan, yang meliputi: SILPA tahun anggaran sebelumnya, Pencairan dana cadangan, Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, Penerimaan pinjaman, Penerimaan kembali pemberian pinjaman dan Penerimaan piutang daerah;

 Pengeluaran Pembiayaan yang meliputi: Pembentukan dana cadangan, Penyertaan modal pemerintah daerah, Pembayaan pokok utang dan Pemberian pinjaman.

Selanjutnya Pembiayaan Netto adalah selisih lebih penerimaan pembiayaan terhadap pengeluaran pembiayaan. Jumlah pembiayaan Netto harus dapat menutup defisit APBD. Berikut ini ditampilkan tabel mengenai perkembangan pembiayaan daerah tahun 2012-2015.

TABEL 3.16

REALISASI PEMBIAYAAN TAHUN 2012-2013, PENETAPAN APBD 2014 DAN PROYEKSI PEMBIAYAAN DAERAH TAHUN 2015

No Uraian Jumlah (Rp)

Realisasi

2012 * Realisasi

2013 * Penetapan

APBD 2014 ** Proyeksi 2015***

3 PEMBIAYAAN 255.790.714.813 405.526.073.788 427.400.000.000 590.023.500.845,00 3.1 PENERIMAAN

PEMBIAYAAN DAERAH

293.759.835.532 432.448.611.338 427.400.000.000 590.023.500.845,00 3.1.1 Sisa Lebih

Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya

293.759.835.532 432.448.611.338 427.400.000.000 590.023.500.845,00

3.1.2 Pencairan Dana

Cadangan 0 0 0 0,00

3.1.3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

0 0 0 0,00

3.1.4 Penerimaan Kembali

Pemberian Pinjaman 0 0 0 0,00

3.1.5 Penerimaan Kembali

Investasi 0 0 0 0,00

3.2 PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH

37.969.714.813 26.922.537.550 427.400.000.000 115.000.000.000,00 3.2.1 Pembentukan Dana

Cadangan 0 0 0 0,00

3.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah

31.000.000.000 26.000.000.000 0 115.000.000.000,00

3.2.3 Pembayaran Pokok

Utang 6.969.120.719 922.537.550 0 0,00

3.3 SILPA AKHIR

TAHUN 0 0 0 0,00

Sumber: *Data RealisasiAPBD Tahun 2012& 2013,

** Data penetapan APBD 2014 (tahun berjalan)

*** RPJMD Kota Bandung Tahun 2013-2018 3.3.6. ARAH KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH

Pembiayaan ditetapkan untuk menutup defisit yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah. Penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat. Kebijakan Pembiayaan Daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, yang mencakup: sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman dan penerimaan piutang daerah.

Kebijakan Pembiayaan Daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, yang mencakup: sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah

yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman dan penerimaan piutang daerah.