RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.3. ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.3.1. REALISASI DAN PROYEKSI PENDAPATAN DAERAH 2012-2015
Pendapatan Daerah menurut Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, didefinisikan sebagai:“hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih”.
Secara umum, sumber-sumber pendapatan daerah terdiri atas:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan yang diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, sumber PAD terdiri atas:
(a) Hasil pajak daerah, yaitu pungutan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada semua obyek pajak, seperti orang/badan, benda bergerak/tidak bergerak;
(b) Hasil retribusi daerah, yaitu pungutan yang dilakukan sehubungan dengan suatu jasa/fasilitas yang berlaku oleh Pemerintah Daerah secara langsung dan nyata;
(c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, antara lain:
i. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD;
ii. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN;
iii. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.
(d) Lain-lain PAD yang sah, antara lain:
i. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;
ii. Jasa giro;
iii. Pendapatan bunga;
iv. Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah;
v. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah;
vi. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
vii. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;
viii. Pendapatan denda pajak;
ix. Pendapatan denda retribusi;
x. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
xi. Pendapatan dari pengembalian;
xii. Fasilitas sosial dan fasilitas umum;
xiii. Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; dan xiv. Pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.
Pemberian sumber PAD bagi daerah ini bertujuan untuk memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.
2. Dana Perimbangan
Dana perimbangan yaitu dana yang bersumber dari dana penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada Daerah untuk membiayai kebutuhan daerah. Dana Perimbangan/ Pendapatan Transfer merupakan penerimaan daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Dana perimbangan ini terdiri atas: (1) Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak; (2) Dana Alokasi Umum; dan (3) Dana Alokasi Khusus. Dana Perimbangan bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, serta mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antardaerah.
3. Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah
meliputi: Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi antara lain meliputi bagi hasil pajak kendaraan bermotor, bea balik nama, pajak bahan bakar, bagi hasil air permukaan, dan dana penyesuaian dari otonomi khusus serta Bantuan Keuangan dari Provinsi, pada saat nanti ketika evaluasi gubernur atas rancangan APBD.
Analisis dan perhitungan pendapatan daerah dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar realisasi dan potensi pendapatan daerah yang dapat digunakan untuk pendanaan pembangunan di Kota Bandung. Analisis dan perhitungan pendapatan daerah dilakukan dengan melihat data: 1) realisasi pendapatan tahun 2012, 2) realisasi pendapatan tahun 2013, 3) penetapan APBD tahun 2014 dan 4) proyeksi pendapatan tahun 2015 (tahun rencana)
Berdasarkan data tahun 2012-2013 terlihat bahwa sumber penerimaan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Lain-lain Pendapatan yang Sah mengalami kenaikan, sementara penerimaan yang berasal dari Dana Perimbangan mengalami penurunan.
Secara agregat, realisasi pendapatan daerah tahun 2013 (Rp. 4,360 Trilyun) lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun 2012 (Rp. 3,666 Trilyun). Adapun untuk kontribusi per komponen pendapatan, secara umum masih didorong oleh Dana Perimbangan yang mencapai Rp. 1,778 Trilyun (40,80%) pada tahun 2013 dan Rp.
1,806 Trilyun (49,28%) pada tahun 2012, selanjutnyadiikuti komponen Pendapatan Asli Daerahyang mencapai Rp. 1,444 Trilyun (33,13%) pada tahun 2013 dan Rp.
1,005 Trilyun (27,43%) pada tahun 2012, disusul komponen Lain-lain Pendapatan yang Sah yang mencapai Rp. 1,136 Trilyun (26,07%) pada tahun 2013 dan Rp. 854 Milyar (23,29%) pada tahun 2012. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa terjadi penurunan kontribusi Dana Perimbangan pada satu sisi dan diikuti oleh kenaikan kontribusi PAD di sisi lainnya, hal ini dikarenakan adanya perubahan struktur dimana PBB maupun BPHTB yang semula ada pada komponen Dana Perimbangan berubah menjadi komponen Pajak Daerah.
Pada tahun 2014, pendapatan daerah ditetapkan pada nilai Rp. 4,827 Trilyun, dengan komposisi Rp. 1, 762 Trilyun untuk Pendapatan Asli Daerah, Rp. 2,011 Trilyun untuk Dana Perimbangan, dan Rp. 1,053 Trilyun untuk Lain-lain Pendapatan yang Sah. Sementara itu, untuk perhitungan proyeksi pendapatan daerah tahun
2015, diperkirakan mencapai angka Rp. 5,165 Trilyun dengan komposisi Rp. 1,989 Trilyun untuk Pendapatan Asli Daerah, Rp. 1,847 Trilyun untuk Dana Perimbangan, dan Rp. 1,328 Trilyun untuk Lain-lain Pendapatan yang Sah. Proyeksi pendapatan tahun 2015 tersebut telah memperhitungkan tingkat pertumbuhan masing-masing sumber penerimaan, baik dari pendapatan asli daerah, Dana Perimbangan, maupun Lain-lain Pendapatan yang sah.
TABEL 3.14
REALISASI PENDAPATAN TAHUN 2012-2013, PENETAPAN APBD TAHUN 2014 DAN PROYEKSI PENDAPATAN DAERAH TAHUN 2015
No Uraian Jumlah (Rp)
Realisasi
2012 * Realisasi
2013 * Penetapan APBD
2014 ** Proyeksi 2015***
1 PENDAPATAN 3.666.703.946.900 4.360.056.951.085 4.827.742.559.331 5.165.136.318.475,00 1.1 PENDAPATAN
ASLI DAERAH 1.005.836.878.460 1.444.564.145.713 1.762.952.227.000 1.989.000.000.000,00 1.1.1 Pendapatan Pajak
Daerah 821.045.120.342 1.194.087.447.016 1.400.000.000.000 1.613.000.000.000,00 1.1.2 Pendapatan
Retribusi Daerah 78.649.880.372 115.508.351.284 137.909.349.792 140.000.000.000,00 1.1.3 Pendapatan Hasil
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
7.227.067.446 11.662.442.681 19.157.551.445 20.000.000.000,00
1.1.4 Lain-lain Pandapatan Asli Daerah yang Sah
98.914.810.300 123.305.904.732 205.885.325.763 216.000.000.000,00 1.2 DANA
PERIMBANGAN 1.806.832.269.571 1.778.972.208.159 2.011.570.787.000 1.847.617.210.475,00 1.2.1 Dana Bagi Hasil
Pajak atau BH Bukan Pajak (SDA)
446.103.767.571 225.718.646.159 275.979.986.000 247.083.719.475,00
1.2.2 Dana Alokasi
Umum 1.323.681.042.000 1.485.941.032.000 1.671.683.661.000 1.574.737.891.000,00 1.2.3 Dana Alokasi
Khusus 37.047.460.000 67.312.530.000 63.607.140.000 25.795.600.000,00 1.3 LAIN-LAIN
PENDAPATAN YANG SAH
854.034.798.869 1.136.520.597.213 1.053.519.545.331 1.328.519.108.000,00 1.3.1 Pendapatan
Hibah 0 0 15.000.000.000 0,00
1.3.2 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya
428.866.061.359 636.275.728.993 521.470.220.331 696.000.000.000,00
1.3.3 Dana
Penyesuaian dan Otonomi Khusus
293.695.361.000 425.123.281.000 417.049.325.000 632.519.108.000,00 1.3.4 Bantuan
Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya
131.573.376.510 75.121.587.220 0 0,00
Sumber: *Data RealisasiAPBD Tahun 2012& 2013,
** Data penetapan APBD 2014 (tahun berjalan)
*** RPJMD Kota Bandung Tahun 2013-2018 3.3.2. ARAH KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH
Arah kebijakan pendapatan daerah tahun 2015 disesuaikan dengan kewenangan dan sumber pendapatan daerah dapat dibagi sebagai berikut :
a) Arah kebijakan pendapatan daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
1.
Mengoptimalkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah dengan: menerapkan sistem on-line penerimaan Pajak Daerah dan membenahi manajemen data penerimaan PAD;2.
Memantapkan regulasi pajak yang telah diserahkan ke daerah antara lain BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan), Pajak Bumi dan Bangunan serta Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah berikut prosedur dan mekanismenya;3.
Memantapkan kelembagaan dan Sistem Operasional Pemungutan Pendapatan Daerah;4.
Mengoptimalkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah untuk memberikan kontribusi secara signifikan terhadap Pendapatan Daerah;5.
Meningkatkan kualitas pengelolaan aset dan keuangan daerah;6.
Meningkatkan pelayanan dan perlindungan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah;7.
Meningkatkan koordinasi dalam peningkatan pendapatan daerah dengan Instansi/lembaga terkait di tingkat kota dan provinsi;b) Arah kebijakan pendapatan daerah untuk meningkatkan Dana Perimbangan 1. Mengoptimalkan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PBB,
Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh OPDN) dan PPh pasal 21;
2. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi dalam pelaksanaan Dana Perimbangan.
c) Arah kebijakan pendapatan daerah untuk meningkatkan penerimaan pendapatan non-konvensional, antara lain melalui: peluang pendanaan pihak ketiga melalui pola kerjasama pemerintah dan swasta (KPS).