• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar pada disegala aspek perpajakan. Reformasi perpajakan yang sekarang menjadi prioritas menyangkut modernisasi administrasi perpajakan jangka menengah (tiga atau

hingga enam tahun) dengan tujuan tercapainya, pertama, tingkat kepatuhan

sukarela yang tinggi.

Kedua, kepercayaan terhadap administrasi perpajakan yang tinggi. Dan

ketiga, produktivitas aparat perpajakan yang tinggi. Sebagaimana kondisi masyarakat yang selalu berubah dan tuntutan adanya reformasi diseua bidang, kondisi dan situasi yang terjadi didalam proses pemberian pelayanan maupun penerapan administrasi kepada Wajib Pajak sudah semakin kritis dalam melihat setiap perubahan kebijakan pemerintah terutama dalam bidang fiskal. Kondisi ini mau tidak mau mengharuskan Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan reformasi dibdang perpajakan. Sebagaimana yang menjadi sasarn sejak tahun 2002, bahwa reformasi perpajakan secara komperhensif sebagai satu kesatuan dilakukan terhadap tiga bidang pokok atau utama secara langsung menyentuh pilar perpajakan, yaitu:

1) Bidang administrasi, yakni melallui modernisasi administasi perpajakan.

2) Bidang peraturan, dengan melakukan amandemen terhadap Undang - undang

perpajakan.

b. Reformasi Administrasi Perpajakan Indonesia

Administrasi perpajakan ialah cara-cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan perpajakan. Administrasi pajak dalam arti sempit merupakan penatausahaan dan pelayanan atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban pembayaran pajak, baik penatausahaan dan pelayanan yang dilakukan di kantor pajak maupun ditempat Wajib Pajak, sedangkan administrasi pajak dalam arti luas meliputi fungsi, sistem dan organisasi atau kelembagaan. Sebagai suatu fungsi, administrasi perpajakan meliputi perencanaa, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian perpajakan.

Sebagai suatu sistem, adminisrasi perpajakan merupaka seperangkat unsur (subsistem) yaitu peraturan perundang - undangan, sarana dan prasarana, dan Wajib Pajak yang saling berkaitan yang secara bersama-sama menjalankan fungsi dan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan sebagai lembaga administrasi perpajakan merupakan institusi yang mengelola sistem dan mengelola proses perpajakan yang terwujud pada kantor pusat, wilayah, dan pelayanan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia juga merupakan salah satu tolak ukur kinerja administrasi pajak. Administrasi perpajakan memegang peranan yang sangat penting karena seharusnya bukan saja

sebagai perangka laws enforcement, tetapi lebih penting daripada itu, sebagai

service point yang memberikan pelayanan prima kepada masyarakat sekaligus informasi perpajakan.

Pembaruan sistem administrasi perpajakan harus disusun dengan sebaik – baiknya sehingga menjadi instrumen yang mampu bekerja secara efektif dan

efisien. Menurut Carlos A Silvani (1992), administrasi perpajakan dikatakan efektif apabila mampu mengatasi masalah – masalah berikut :

1) Wajib Pajak yang tidak terdaftar (unregistered taxpayers)

Ini artinya, sejauh mana administrasi pajak mampu mendeteksi dan mengambil tindakan terhadap masyarakat yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak walaupun seharusnya yang bersangkutan sudah memenuhi ketentuan untuk menjadi Wajib Pajak.

2) Wajib Pajak yang tidak menyampaikan surat pemberitahuan (stopfiling taxpayers)

Yaitu Wajib Pajak yang sudah terdaftar di administrasi kantor pajak, tetapi tidak menyampaikan surat pemberitahuan. Administrasi pajak dituntut untuk dapat mengumpulkan data sekaligus menindaklanjutinya dengan meminimalkan kasus.

3) Penyelundupan pajak (tax evaders)

Yaitu Wajib Pajak yang melaporkan pajak lebih kecil dari yang seharusnya

menurut ketentua perundang – undangan perpajakan. Sistem Self Assessment

yang sekarang berlaku memang rentan menyebabkan terjadinya modus kejahatan seperti ini, karena sangat tergantung dari kejujuran Wajib Pajak.

4) Penunggak pajak (delinquent taxpayers)

Dari tahun ke tahum selalu ada tunggakan pajak yang terjadi, bahkan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Permasalahan ini seolah sudah menjadi benang kusut yang selalu dihadapi oleh otoritas pajak setiap tahunnya.

Reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan kinerja administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar efisien dan ekonomis dan cepat (Nasucha : 2004). Hal – hal yang dibutuhkan agar reformasi administrasi perpajakan berhasil yaitu:

- Struktur pajak disederhanakan untuk kemudahan, kepatuhan, dan

administrasi;

- Strategi reformasi yang cocok harus dikembangkan;

- Komitmen politik yang kuat terhadap peningkatan administrasi

perpajakan.

Elemen dasar reformasi administrasi perpajakan menurut Pallechio (19950 seperti yang dikutip oleh Nasucha memiliki syarat sebagai berikut:

- Komitmen politik yang berkelanjutan;

- Staf yang mampu berkosentrasi terhadap pekerjaan dalam jangka panjang;

- Strategi yang tepat dan didefinisikan dengan baik karena tidak ada strategi yang cocok untuk semua negara;

- Pendidikan dan pelatihan pegawai;

- Tersedia dana dan sumber daya lain yang cukup.

Mengacu kepada prinsip – prinsip good governance reformasi administrasi perpajakan dengan mengedepankan tujuan penerimaan negara dan mendorong tingkat kepatuhan sukarela, mengarah ke hal – hal berikut :

1) Partisipasi masyarakat yang yang tertib sosial karena pajak pada hakekatnya

2) Landasan dan kepastian hukum pengenaan, pemungutan, dan penarikan pajak.

3) Transparansi baik dari administrasi perpajakan, masyarakat yang membayar

pajak maupun pihak yang terkait dengan sistem perpajakan.

4) Responsiveness, yaitu peka dan fleksibel terhadap pertumbuhan sosial,

politik, hukum, ekonomi dan kebutuhan publik.

5) Keadilan dalam sistem perpajakan.

6) Adanya visi strategi dari administrator pajak. 7) Prnsip efektivitas dan efisiensi.

8) Profesionalisme dalam proses perpajakan.

9) Akuntabilitas dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

10) Supervisi sehat. (Nasucha: 2004)

Reformasi Perpajakan di Indonesia telah dilakukan pertama sekali pada tahun 1983 dimana saat itu terjadi reformasi atau perubahan sistem mendasar atas pengelolaan perpajakan Indonesia dari sistem Official Assessment ke sistem Self Assessment . Langkah pemerintah untuk terus meningkatkan penerimaan dari

sektor pajak yaitu dengan melakukan reformasi perpajakan dari Official

Assessment System menjadi Self Assessment System. Dalam official assessment system tanggung jawab pemungutan terletak sepenuhnya pada penguasa

pemerintah, sedangkan dalam Self Assessment system Wajib Pajak diberi

kepercayaan penuh untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor dan melaporkan besarnya pajak yang terhutang sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

c. Sistem Self Assessment

Sistem Self Assesment adalah metode yang diterapkan untuk memberi

tanggung jawab penuh kepada Wajib Pajak yang mana untuk memenuhi kewajiban membayar pajak semua prosedur dan tahapannya dilakukan sendiri oleh pihak yang wajib membayar pajak tersebut. Dalam metode ini, pihak yang wajib membayar pajak diberikan wewenang untuk menghitung dan melaporkan seberapa besar beban pajak yang harus dibayar untuk setiap tahunnya, hal ini sudah ditentukan dalam Undang-Undang Perpajakan yang berlaku dan setiap Wajib Pajak harus mematuhi Undang - Undang tersebut.

Self Assesment System menurut B Ilyas dalam bukunya Perpajakan Indonesia adalah pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar (2003:18).

Sedangkan Self Assessment System menurut Siti Resmi dalam bukunya

Perpajakan adalah system pemungutan pajak yang memberikan wewenang Wajib Pajak untuk menentukan sendiri jumlah pajak terhutang setiap tahunnya sesuai dengan undang-undang perpajakan yang berlaku (2003:27).

Pada sistem official-assessment besarnya pajak yang seharusnya terutang ditetapkan sepenuhnya oleh Fiskus (aparat pajak). Kriteria dari Official Assesment system adalah :

- Wewenang untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang ada pada

- Wajib Pajak bersifat pasif;

- Utang pajak timbul setelah dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh

fiskus.

Sebaliknya Sistem Self Assessment merupakan sistem pemungutan pajak

yang memberikan kepercayaan kepada Wajib Pajak (Wajib Pajak), dimana kriteria Sistem Self Assessment antara lain:

- Wewenang untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang ada pada

Wajib Pajak sendiri;

- Wajib Pajak Aktif mulai dari menghitung, memperhitungkan,

menyetorkan dan melaporkan sendiri pajak yang terutang;

- Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.

Sebaliknya

Perbedaannya kedua sistem ini terletak pada pemegang tanggung jawab (siapa) yang menetapkan besarnya pajak yang seharusnya terutang. Jika dalam sistem official-assessment penetapan besarnya jumlah pajak Wajib Pajak menjadi tanggung jawab Fiskus, sehingga segala resiko pajak yang akan timbul menjadi tanggung jawab Fiskus, misalnya terlambat membayar atau melapor dikarenakan keterlambatan Fiskus menetapkan besarnya jumlah pajak terutang Wajib Pajak yang harus dibayar. Keterlambatan ini bisa saja dikarenakan terbatasnya petugas pajak untuk menghitung jumlah pajak yang harus dibayar Wajib Pajak, yang nota bene tidak sedikit jumlahnya.

Pemerintah memutuskan untuk mengubah sistem pemungutan pajaknya

seharusnya terutang menjadi tanggung jawab Wajib Pajak itu sendiri, sehingga segala resiko pajak yang timbul menjadi tanggung jawab Wajib Pajak itu sendiri pula. Di sini terlihat adanya pergeseran tanggung jawab dari Fiskus kepada Wajib Pajak, yang tanpa disadari Wajib Pajak bahwa hal ini akan menjadi beban berat

dalam melaksanakan kewajban perpajakannya. Fiskus dalam sistem Self

Assessment hanya bertugas mengawasi pelaksanaannya saja yaitu dengan melakukan pemeriksaan atas kepatuhan Wajib Pajak terhadap peraturan

perundang-undangan perpajakan yang berlaku. System Self Assessment yang kini

dianut Indonesia memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang besar kepada Wajib Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Hal ini akan berhasil apabila memenuhi beberapa syarat yang diharapkan ada dalam diri Wajib Pajak yaitu:

- Kesadaran Wajib Pajak (tax consciousness)

- Kejujuran Wajib Pajak

- Kemauan atau hasrat untuk membayar pajak (tax mindness)

- Kedisiplinan Wajib Pajak (tax discipline) dalam melaksanakan peraturan

perpajakan.

Dalam system ini terdapat pemberian kepercayaan sepenuhnya kepada

Wajib Pajak untuk melakukan Self Assessment memberikan konsekuaensi yang

berat bagi Wajib Pajak, artinya jika Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban- kewajiban Perpajakan yang dipikul kepadanya, sanksi yang dijatuhkan akan lebih

berat. Oleh karena itu sistem Self Assessment mewajibkan Wajib Pajak untuk

Wajib Pajak dapat melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik. Sistem ini juga dapat memberikan biaya tambahan (dalam arti luas) bagi Wajib Pajak karena Wajib Pajak akan mengorbankan lebih banyak waktu dan usaha serta

biaya untuk membayar jasa konsultan pajak. Selain itu Self Assessment

menunjukkan proporsi yang lebih kecil dari yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga sesuai dengan kenyataan yang ada, jumlah pajak yang dianggarkan akan menurun pula.

Di lain pihak system ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat meningkatkan produktifitas dan murah. Pemerintah tidak lagi dibebankan kewajiban administrasi menghitung jumlah pajak terutang Wajib Pajak dan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk memberitahukan (sekaligus memerintahkan pembayaran) jumlah tersebut kepada Wajib Pajak, sehingga waktu, tenaga dan biaya sehubungan dengan hal tersebut dapat dihemat atau dialihkan untuk melakukan aktivitas pemerintahan lainnya. Selain itu system Self Assessment akan mendorong Wajib Pajak untuk memahami dengan baik atas system perpajakan yang berlaku terhadapnya.

Selama pelaksanaan sistem Self Assessment dimulai sejak pertama kali

reformasi perpajakan dilakukan hingga saat ini (1983-2009), sudah empat kali Undang - Undang KUP diubah yaitu tahun 1994, 1997, 2000 dan terakhir 2007. Perubahan yang dilakukan secara komprehensif ini membawa dampak bagi pelaksanaan kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, terutama perubahan- perubahan yang berhubungan dengan kewajiban Wajib Pajak dalam menghitung/memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajaknya. Sering kali

mereka dihadapkan dengan keterbatasan informasi mengenai perubahan tersebut sehingga tidak sedikit yang akhirnya mendapat teguran dari Dirjen Pajak (Direktorat Jenderal Pajak) karena tidak mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat itu.

Dikarenakan Indonesia menganut sistem Self Assessment , hal ini memaksa

Wajib Pajak untuk selalu aktif mencari informasi-informasi perpajakan yang terbaru, terutama yang berkaitan dengan kegiatan usahanya. Namun, tindakan Wajib Pajak tersebut kurang effektif jika tidak dibarengi dengan kebijakan Direktorat Jenderal Pajak dalam mensosialisasikan setiap informasi yang dipublikasikan kepada masyarakat. Hal ini patut diperhatikan karena tidak semua Wajib Pajak mengerti peraturan perpajakan tanpa adanya penjelasan dari Direktorat Jenderal Pajak, sehingga dapat mencegah timbulnya kesalah-pahaman antara Wajib Pajak dengan Fiskus.

Di dalam melaksanakan sistem Self Assessment, pemerintah mengeluarkan

beberapa kebijakan seperti memberikan penyuluhan perpajakan (tax dissessmination), pelayanan perpajakan (tax service), dan pengawasan perpajakan (law enforcement ). Hal tersebut harus dapat dilaksanakan secara optimal agar

tercipta kepatuhan sukarela (voluntary compliance) Wajib Pajak dalam memenuhi

kewajiban perpajakannya dan haknya di bidang perpajakan. Penyuluhan perpajakan perlu dilakukan untuk mmberikan penjelasan mengenai tata cara

pelaksanaan sistem Self Assessment ini, karena tidak satu pasal pun dalam

undang-undang perpajakan yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem

1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang berbunyi, Ciri dan corak tersendiri dari sistem pemungutan pajak tersebut adalah:

a) Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian

kewajiban dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.

b) Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pajak, sebagai pencerminan

kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri. Pemerintah, dalam hal ini aparat perpajakan sesuai dengan fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan, penelitian, dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang- undangan perpajakan;

c) Anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk dapat

melaksanakan kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung,

memperhitungkan, dan membayar sendiri pajak yang terutang (Self

Assessment), sehingga melalui sistem ini pelaksanaan administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi, terkendali, sederhana dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat Wajib Pajak.

Dari penjelasan tersebut diharapkan Wajib Pajak lebih memahami

kewajiban perpajakannya,namun apakah sistem Self Assessment tersebut telah

mengefisiensikan administrasi pajak yaitu tidak menyulitkan pemerintah dalam memungut pajak dan memudahkan Wajib Pajak dalam melakukan kewajiban perpajakannya.

Menurut Fritz Neumark, kemudahan dalam melakukan administrasi tercermin jika memenuhi empat syarat sebagai berikut:

a) The requirement of clarity, yaitu dalam proses pemungutan pajak terdapat kejelasan, antara lain menyangkut kejelasan mengenai subjek, objek, tarif, kapan pajak harus dibayar, di mana harus dibayar, hak-hak Wajib Pajak, sanksi hukum bagi Wajib Pajak maupun bagi pejabat pajak (kursif-pen) dan sebagainya.

b) The requirement of continuity, yaitu menyangkut perlunya kesinambungan kebijaksanaan, karena peraturan perundang-undangan kemungkinan dapat berubah-ubah dan bervariasi, tapi tetap dalam kerangka kebijakan umum perpajakan.

c) The requirement of economy, yaitu menghendaki agar organisasi dan administrasi pajak (fiskus) dilaksanakan seefisien mungkin, karena biaya dan tenaga yang dikorbankan untuk pemungutan pajak harus seimbang, dalam hal efisiensi itu bukan hanya dari segi fiskus, tapi juga dari segi Wajib Pajak.

d) The requirement of convinience, yaitu menghendaki supaya dalam melaksanakan kewajiban perpajakan Wajib Pajak merasa senang, maksudnya tidak merasa tertekan, merasa diburu atas kewajiban membayar pajak. Misalnya, merasa senang karena dapat mencicil hutang

pajak atau merasa senang karena tidak dipersulit dalam memperoleh kembali kelebihan membayar pajak.

Pelayanan di bidang perpajakan dilakukan untuk memberikan kenyamanan, keamanan dan kepastian bagi Wajib Pajak di dalam pemenuhan

kewajiban dan haknya di bidang perpajakan. Sistem Self Assessment bertujuan

untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak. Namun system ini juga membuka adanya kemungkinan penyimpangan dari Wajib Pajak untuk tidak melaporkan kewajiban perpajakannya dengan benar. Direktorat Jendral pajak sebagai instansi yang diberi wewenang untuk menerapkan kebijakan dalam rangka mengawasi dan menjaga penerimaan pajak wajib untuk melakukan

berbagai tindakan agar system Self Assessment berjalan dengan baik.

Dalam rangka pengawasan terhadap kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan berdasarkan system self assessment, Dirjen Pajak melakukan dua fungsi utama :

1) Fungsi pemeriksaaan (audit function) yang ditujukan untuk memantau dan

mengawasi kepatuhan Wajib Pajak agar melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

2) Fungsi pemungutan atau penagihan (colection function) yang ditujukan

unuk meneliti dan mencatat pembayaran pajak, meneliti bahwa semua pelaporan Wajib Pajak telah diikuti dengan pelunasan pajak yang terutang, baik sebagian maupun keseluruhan sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Untuk meyakinkan sistem Self Assessment dilaksanakan dengan baik,

perlu dilakukan pengawasan (Law enforcement ) dalam pelaksanaannya. Peran

pengawasan ini dilakukan oleh Fiskus dalam bentuk pemeriksaan (tax audit) dengan maksud menguji kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, kemudian penyidikan pajak (tax investigation) dan terakhir berupa penagihan pajak (tax collection). Pemeriksaan dalam fungsinya merupakan salah satu alat yang diperlukan dalam melaksanakan manajemen perpajakan.

Khususnya dalam Self Assessment system ada ketentuan bahwa pelaporan Wajib

Pajak dalam Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) harus dianggap benar, kecuali dapat dibuktikan terjadinya kesalahan. Pembuktian tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan penelitian dan pemeriksaan. Pada prinsipnya pemeriksaan merupakan kegiatan mengumpulkan bukti/bahan-bahan untuk dijadikan dasar menerbitkan Surat Ketetapan dan tujuan lain yang berkaitan dengan administrasi pajak. Kecuali pemeriksaan tersebut merupakan kegiatan rutin yang bukan insidental.

Penyidikan pajak dilakukan sebagai salah satu upaya Direktorat Jenderal Pajak untuk menindak Wajib Pajak yang telah melakukan tindakan pidana dalam bidang perpajakan. Menurut undang-undang perpajakan mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, disebutkan terjadinya tindakan pidana dalam perpajakan apabila Wajib Pajak melakukan hal-hal seperti alpa, sengaja, percobaan dan pengulangan dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan penyidikan untuk mencari dan

mengumpilkan bukti serta memperjelas tindak pidana pajak yang telah dilakukan Wajib Pajak.

Penagihan pajak dilakukan apabila terdapat selisih perhitungan pajak terutang dalam SPT yang dilaporkan oleh Wajib Pajak dengan perhitungan menurut Fiskus sehingga timbul pajak terutang kurang bayar. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pajak akan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) untuk Wajib Pajak yang bersangkutan. Penagihan pajak juga dilakukan atas sanksi admnistrasi pajak berupa bunga dan denda yang timbul akibat kelalaian Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, yang belum dilunasi Wajib Pajak yang bersangkutan.

Dalam praktiknya, sistem Self Assessment ini masih terbentur dengan

beberapa kendala, diantaranya sebagai berikut:

1) Kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk

menghitung/memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajaknya sendiri masih diragukan kebenarannya,oleh karena itu dapat menimbulkan terjadinya penyeludupan pajak karena yang mengetahui kebenaran SPT yang dilaporkan Wajib Pajak hanya ia sendiri.

2) Masih banyaknya Wajib Pajak yang kesulitan untuk

menghitung/memperhitungkan pajak yang terutang, karena di dalam undang-undang tidak dijelaskan secara terinci bagaimana menghitung pajak terutang untuk berbagai jenis usaha, sehingga banyak perusahaan yang akhirnya melakukan kesalahan dalam menghitung pajak terutangnya. Lain halnya ketika Wajib Pajak harus melakukan rekonsiliasi laporan

keuangan komersial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan menjadi laporan keuangan fiskal. Seperti yang dilakukan di Belanda, dimana laporan keuangan fiskal merupakan by product dari akuntansi komersial.

3) Kendala juga tidak terjadi di pihak Wajib Pajak, di pihak fiskus juga

terjadi masalah yaitu terbatasnya akses data Wajib Pajak yang dimiliki oleh pihak ketiga sehingga mempersulit Direktorat Jenderal Pajak untuk mendeteksi kebenaran isi SPT yang dilaporkan Wajib Pajak. Sehingga pengawasan tidak dapat dilakukan secara optimal.

Sejauh ini pelaksanaan sistem Self Assessment masih dipertahankan sesuai dengan yang tertera di dalam peraturan perundang-undangan mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.28 tahun 2007. Perubahan undang-undang yang terakhir ini sudah lebih banyak menunjukkan perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Fasilitas pelayanan pun sudah ditingkatkan dengan adanya modernisasi di kantor-kantor pelayanan pajak sehingga lebih memudahkan akses Wajib Pajak untuk mencari informasi perpajakan terkini, dan Wajib Pajak yang memilki mobilitas tinggi.

Untuk menilai kinerja sistem pemungutan pajak ini, diperlukan beberapa alat ukur, menurut penelitian Gunawan Setiyaji dan Hidayat Amir, diantaranya :

1) Penerimaan pajak

2) Tax ratio (tax coverage ratio dan tax buoyancy ratio)

3) Jumlah pertambahan Wajib Pajak

d. Kewajiban Wajib Pajak

Selain mempunyai hak, Wajib Pajak juga harus menjalankan kewajibannya. Kewajiban-kewajiban sebagai Wajib Pajak berdasarkan undang- undang sebagai berikut:

1) Mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atau

nomor pengukuhan pengusaha kena pajak.

2) Menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak terutang, termasuk

kewajiban pemungut dan pemotong pajak.

3) SPT

Mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) dengan benar, jelas, lengkap, dan ditandatangani.

4) Pembukuan

- Menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan.

- Menyimpan pembukuan selama 5 tahun.

5) Pembayaran utang

Menangung renteng pembayaran PPN maupun akibat adanya utang pajak. Artinya, kita ikut bertanggung jawab melunasi utang meskipun terutang atas nama perusahaan milik kita.

6) Dan lain-lain

3. Sosialisasi Perpajakan

Dokumen terkait