BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDAS
C. Rekomendas
1. Rekomendasi untuk Penentu Kebijakan
a. Rekomendasi Umum untuk Pemangku Kebijakan Pendidikan
Keberhasilan peningkatan perilaku keberagamaan pada siswa di sekolah-
sekolah terkait dengan kebijakan pemerintah pusat seperti Kementerin
Depatemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Departemen Agama yang
berwenang menentukan keputusan dalam bidang pendidikan di lingkungan
Dikdasmen dan Depag Kabupaten dan / atau daerah, dalam pembelajaran PAI
perlu mengakomodasikan nilai-nilai Agama Islam yang diperlukan untuk
kepentingan hidup siswa. Pemerintah harus memiliki task commitmen yang
kuat untuk melaksanakan program peningkatan keberagamaan siswa itu,
dengan tetap memandang pentingnya pencapaian keberagamaan yang optimal.
Program pembelajaran hendaknya dirancang secara cermat baik perencanaan,
pelaksanaan, maupun evaluasi. Hal ini penting untuk memudahkan
mendiagnosis kegagalan maupun keberhasilan dalam suatu program. Jika
terjadi kegagalan program ini, sesungguhnya aspek dan faktor apa yang
menjadi akar kegagalan tersebut, apakah bidang perencanaan ataukah evaluasi
b. Sebagai pemangku kebijakan baik Diknas maupun Depag untuk sekolah level
MTs-SMP sebaiknya tidak ada dikotomi antara pelajaran yang di UN-kan
dengan pelajaran agama Islam khususnya. Artinya dana dan pengadaan sarana
pembelajaran tetap diperhatikan dan dicukupi sebagai upaya untuk
meningkatkan kinerja guru dan mutu hasil belajar siswa.
2. Rekomendasi Khusus Kepala Sekolah dan Guru
a. Rekomendasi untuk Kepala Sekolah
Sekolah sebagai tempat pendidikan, belajar mengajar dan latihan bagi
siswa dibawah bimbingan Kepala sekolah, guru-guru, staf administrasi dan tata
laksana di mana sikap keberagamaan mereka berimplikasi terhadap perilaku
keberagamaan siswa. Kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi program sekolah. Kinerja kepala sekolah menentukan
berhasil atau tidaknya mengelola manajemen kurikulum baik di dalam kelas
(menggerakan guru dalam mengefektifitaskan kurikulum aktual/KBM) ataupun
pembelajaran di luar kelas (ekstrakurikuler), termasuk di dalamnya peningkatan
perilaku keberagamaan siswa.
Hendaknya kepala sekolah bersama guru umum dan guru pendidikan
agama Islam (GAI) merancang kurikulum keagamaan untuk meningkatkan
perilaku keberagamaan siswa, tanpa peran kepala sekolah sebagai pemangku
kebijakan tertinggi (top down) implementasi dan evaluasi kurikulum mencakup
perilaku keberagamaan siswa tidak akan berhasil, oleh karena itu peran kepala
sekolah dalam menumbuhkan kesuburan syiar Islam di sekolah sangat diharapkan
b. Rekomendasi untuk GAI
Peralihan pengelolaan pendidikan dari sentralisasi (orientasi pusat) ke
desentralisasi (otonomi daerah) membawa implikasi terhadap diversifikasi
(keleluasaan) pengembangan kurikulum PAI khususnya oleh GAI di sekolah.
Melalui paradigma ini hendaknya GAI memanfaatkan ” Actual Curriculum” dan
”Hidden Curriculum”. Pengembangan kurikulum aktual (KBM) hendaknya GPAI pandai-pandai mengemas kurikulum PAI dan implementasinya menggunakan
berbagai metode, model pembelajaran, dan PAI berbasis teknologi (VCD,
Internet, media buatan, dsb) agar pembelajaran PAI aktif, kreatif, dan
menyenangkan siswa. Sedangkan pengembangan hidden curriculum dapat
dilakukan dengan berbagai kegiatan misalnya kegiatan ko-kurikuler, dan GAI
perlu berani mengambik keputusan mendiskusikan isu-isu keagamaan yang
kontroversi berkembang di masyarakat, mengundang praktisi ke sekolah agar
berpikir siswa tentang nilai-nilai keagamaan berkembang luas, artinya
pemahaman Islam tidak sekedar aspek ibadah praktis (makhdah) melainkan
pengkajian Islam secara universal (ibadah ghairi makhdah) meliputi aspek
keterampilan spiritual, emosional, sosial, dan isu-isu lingkungan yang sekarang ini
mengalami kerusakan baik lokal atau global. Selain itu GAI mampu melakukan
penelitian di lingkungan sendiri/ sekolah tentang keberagamaan siswa, dan
membuat buku sebagai bahan ajar PAI sesuai konteks sekolah dan kebutuhan
siswa setempat, tanpa mengandalkan LKS PAI yang belum tentu sesuai dengan
hati nurani dan kognitif guru serta siswa.
c. Rekomendasi Untuk Guru Umum
Pengembangan nilai-nilai Islam mencakup peningkatan perilaku
keberagamaan (ketaatan ibadah makhdah dan ibadah ghairi makhdah) siswa di
sekolah bukan berarti sepenuhnya tanggung GAI saja, tetapi adalah
kewajiban semua Muslim memerlukan dukungan langsung guru umum yang
beragama Islam di sekolah tersebut. Secara keseluruhan jumlah siswa yang
begitu banyak mencapai ratusan dari berbagai tingkat kelas dan keagamaannya
berbeda-beda, menuntut kerja sama yang proaktif bersama guru umum dengan
GAI membina perilaku keberagamaan siswa sebagai upaya pembinaan
mentalitas keagamaan siswa dalam menghadapi krisis global yang
indikatornya mengakibatkan selain kemajuan sains dan teknologi, tetapi juga
membawa krusakan mental, moral, dan spiritual keagaaman di kalangan para
pelajar SD,SLTP dan SLTA.
3. Rekomendasi untuk Institusi di Masyarakat
a. Rekomendasi untuk Lembaga Keagamaan
Masjid, Langgar, dan Pesantren adalah termasuk lembaga pendidikan
keagamaan yang berpotensi untuk meningkatkan kehidupan beragamaan siswa.
Kemajuan keberagaaman siswa belum cukup mengandalkan pihak orang tua dan
sekolah saja, orang tua sibuk dengan urusan ekonomi dan jam pelajaran PAI di
sekolah sangat terbatas waktunya. Oleh sebab itu, semua pemuka agama (Kiayi,
Ustadz, Ulama dan tokoh masyarakat) perlu berkolaborasi dengan pihak sekolah
dan sebaliknya sekolah kerjasama dengan lembaga keagamaan yang ada di
masyarakat untuk menumbuhkembangkan keberagamaan siswa sehingga optimal
kanak-kanak ke masa remaja yang banyak menimbulkan krisis emosional, sosial
dan spiritual yang mengakibatkan degradasi moral dan kemanusian yang sering
terjadi di kalangan para pelajar saat ini tidak dibatasi oleh goegrafis baik daerah
pedesaan maupun perkotaan.
b. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan
Dalam studi ini, cakupan studi masih terbatas pada ruang lingkup beberapa
sekolah di Prov. Jabar dengan metode survai, dan perlu dikaji secara lebih luas
jangkauan studinya dengan memperluas wilayah sampai ke provinsi di Indonesia.
Sebab, pendidikan agama Islam dalam mengembangkan perilaku keberagamaan
pada siswa menghadapi tantangan serius, sebab untuk memperbaiki moral/akhlak
siswa yang tercabik-cabik oleh krisis global. Krisis ini merontokan sendi-sendi
kehidupan keberagamaan siswa di berbagai tingkatan baik siswa SD, SMP, SMA
dan Perguruan Tinggi / Universitas.
2. Rekomendasi Perluasaan Subyek Penelitian
Dalam studi ini peneliti banyak memiliki keterbatasan, karena banyaknya
variabel bebas hanya perilaku keberagamaan yang diteliti. Ternyata setelah dikaji
secara mendalam tidak hanya variabel tersebut, tetapi masih banyak variabel lain
yang belum terungkap. Secara metodologis penelitian ini hanya menggunakan
metode survai disertai penyebaran angket dan wawancara dengan GAI kemudian
diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara statistik tanpa
obervasi yang mendalam dan studi dokumentasi sudah barang tentu banyak
kelemahan atau kekurangan. Keterbatasan dalam penelitian ini, akan memberikan
peluang kepada peneliti lanjutan yang akan merumuskan dan mengkaji faktor-
DAFTAR PUSTAKA
.
Ahmad, A.Z. (1973). Piagam Nabi Muhammad SAW., Konstitusi Negara Tertulis
Pertama Kali Di Dunia. Jakarta: Bulan Bintang.
Ahmad. (2009). PAI Tak Pengaruhi Tingkat Keberagamaan Siswa. [Online].
Tersedia: http://www.hupelita.com/aca.php?id. [23/11/09].
Ahsan, M, dan Syafa, Z.A. (t.t). Etika dan Kunci Sukses Belajar Mengajar.
Surabaya: Terbit Terang.
Ahyadi, Z.A. (2001). Psikologi Agama: Kepribadian Muslim Panca Sila. Jakarta:
Sinar Baru Algesindo.
Al-Hasyimi, A.M. (2000). Jati Diri Muslim. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Al-Hijazy. (2001). Manhaj Tarbiayah Ibnu Qayyim. (terjemah). Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar.
Ali, M dan Asrori,M. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Siswa. Jakarta:
Bumi Aksara.
Ali, M. (2004). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinar
Algesindo.
Allyn and Bacon. Longstreet, W.S. dan Shane, H.G. (1993). Curriculum For New
Millenium. Botson
Al-Syaibany. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. (terjemah). Jakarta: Bulan
Bintang.
Al-Syihab, U. (1993). Al-Quran dan Kekenyalan Hukum. Semarang: Dimas.
An-Nahlawi, A. (1995). Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah Dan Masyarakat.
(terjemah). Jakarta: Gema Insani.
An-Nakhlawi, A. (2004). Pendidikan Islam di Sekolah dan Msyarakat. Jakarta:
Gema Insani.
Arief, A. (2007). Reformasi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press Grup.
Arifin, M.H. (1978). Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan
Sekolah dan Keluarga. Jakarta: Bulan Bintang.
Arikunto, S. (1986). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, S. (1999). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:
Assegaf, A. (2005). Studi Islam Kontekstual: Elaborasi Pradigma Baru Muslim Kafaah. Yoyakarta: Gama Media.
Azra, A. (1999). Menuju Masyarakat Madani: Gagasan dan Tantangan.
Bandung: Rosda.
Azra, A. (2003). Pendidikan Islam: tradisi dan Modernisasi Menuju melenium
Baru. Jakarta: Logos
Azra, A. (2006). Paradigma Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan
Demokratisasi. Jakarta: Kompas.
Azra, A. (2009). Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun
Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Bahresy, S. dan Bahresy, S. (t.t). Inilah Islam. Semarang: Toha Putra.
Barasyi, A.M. (2003). Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung: Pusta
Setia.
Bloom.B. et.al. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A
Revesion of Bloom’s Taxonomy of Educationnal Objective. London: Longman.
Buchari, M. (1995). Transformasi Pendidikan. Yogyakara: IKIP-Muhammadiyah
Jakarta Press.
Daradjar. Z. (1983). Pendidikan Agama Islam I. Jakarta: Departemen Agama R.I.
Daradjat, Z. (1982). Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung
Agung.
Daradjat, Z. (2008). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Daradjat, Z. et al. (1984). Dasar-Dasar Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Delor, J. (1996). Learning: The Treasure Within, Report to UNIESCO of the
Internatinal Commision on Education for the Twenty-First. Paris: UNISCO Publishing.
Departemen Agama RI. (2001). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (2001). Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Bahan Dasar Peningkatan
Wawasan Kependidikan Guru Agama Islam Sekolah Lanjutan Tingkat
Departemen Pendidikan Nasional, (2003). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Dalam Negeri.
Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi
Mata Pelajaran Agama. Jakarta: Depdiknas.
DePorter, B & Henarcki, M. (2002). Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Dewantara, K.H. (9177). Karya Ki Hadjar Dewantara. Yoyakarta: Majlis Luhur
Perguruaan Taman Siswa.
Dunkin, Michael, J. (ED). (1987). The International Encyclopedia of Teachng and
Teacher Education. England: Pengamoon Press, Headington Hill Hall. Gagne, et al. (1974). Principle of Instructional Design. London: Houcour Brace
Jovanovich College Publishers.
Goleman, D. (2001). Kecerdasan Emosional. (terjemahan). Jakarta: Gramedia.
Grahan, H. (2005). Psikologi Humanistik. (terjemaah). Yogyakarta: Pusta Pelajar.
Hamalik, O. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Rosda.
Hamka. (1984). Tafsir Al-Azhar Juz’ IX. Jakarta: Pusta Panjimas.
Hamlik, O. (2007). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Rosda.
Hasan, H.S. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan.
Hasbulah. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hurlock, E. (1968). Developmental Psychology. Nerw York: Hill book Company.
Jalaluddin. (2001). Psikologi Agama. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Jiyce, B. et al. (2000). Model of Teaching. London: Allyn and Bacon.
Ki Hadjar Dewantara. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majlis
Luhur Persatuan Taman Siswa.
Krathwohl, D. (1973). Taxonomy Of Educational Objective The Calsification of
Educational Goal Handbook II Afective Domain. London: Longman Group.
Kusnadi, E. (2008). Keberagamaan Siswa SMA : Studi Korelasi Antara
Pengetahuan Pendidikan Islam dengan Pelaksanaan Ritual dan Hubungan Sosial Keagamaan Siswa. TAPIS Vol. 8 No. 01 Januari 2008.
Langgulung, H. (2004). Manusia Pendidikan Suatu Analisis Psikologis, Filsafat
Lasley, et al. (2002). Instructional Models Strategies For Teaching In A Diverse Society. Canada: Wadsworth Thomson Lerning.
Majid, A. (2007). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Kompetensi
Guru. Bandung: Rosda.
Makmun, S.A. (2005). Psikologi Perkembangan Kependidikan Perangkat Sistem
Pengajaran Modul. Bandung: Rosda.
Mappiare (1968). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Mardapi, D. (2004). Instrument Ranah Sfektif. Jakarta: Depdiknas.
Mardapi, D. (2004). Pengembangan Instrumen dalam Penelitian Ranah Afektif.
Jakarta: Depdiknas.
Miller, J.P. & Seller, W. (1995). Curriculum: Perespectives and Practice. New York and London: Longman.
Muhaemin dan Mujib. (1993). Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.
Muhaemin, at.al. (2008). Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Menefektifkan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Rosda.
Mukti, A. (2004). Agama dan Problem Sosial. [Online].Tersedia : http://islam
milb.com/id/index.php?page=article&id=545. [19/04/2007].
Mukti, A. (2007). Agama dan Problema Sosial. [Online]. Tersedia:
http://suarapembaruan.com.News/2007/06/09/Editor/edit02.htm. [Selasa 4 Deseber, 2007).
Mulyana, R. (2001). Profil Kepribadian Guru Dalam Dimensi Psikologis, Sosial,
Dan Spiritual. Disertasi. Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Mulyasa, E. (2006). KurikulumYang Disempurnakan: Pengembangan Standar
Kompetensi dan Kompetensi Guru. Bandung: Rosda.
Munir, A. (2008). Tafsir Tarbawi: Mengungkap Pesan Al-Qur’an Tentang
Pendidikan. Yogyakarta: Sukse Offset.
Najtai, U.M. (2005). Psikologi Nabi: Membangun Pesona Diri Dengan Ajaran-
Ajaran Nabi SAW. (terjemaah). Bandung: Pusataka Hidayah.
Nasution, S. (1982). Didaktik Azas-Azas Mengajar. Bandung: Jemmars.
Ornstein, C.O & Hunkins, P.F. (1998). Curriculum Foundations, Priciples, And Issues. London: Allyn and Bacon.
Othman, I.A. (1981). Manusia Menurut Al-Ghazali. Bandung: Pusta Institut
Teknologi Bandung.
Ozman, H dan Craver, S. (1990). Philosophical Foundations Of Education.
London: Merrill Publishing Company.
Poerbarbakawaca, S dan Harahap, A. (1981). Enseklopedi Pendidikan. Jakarta:
Gunung Agung.
Polard, A. (2005). Reflective Teaching. London-New York: Coninum.
Purwanto, N. (2000). Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Bandung: Rosda.
Qardhawi, Y. (1998). Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.
Jakarta: Gema Insani.
Rahim, H. (2007). Arah Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.
Rakhmat, J. (1997). Islam Alternatif. Bandung: Mizan.
Reece, I dan Walker, S. (1997). Teaching, Training and Learning. Great Britain:
New College Duham.
Rowle, B.J. et.al. (2002). Instructional Models Strategy For Teaching In A
Deverse Society. Canda: Wadsworth.
Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Perdana Media.
Santoso, E. (2005). Persepsi Siswa Terhadap Bidang Studi Pendidikan Agama
Islam dan Pengaruhnya pada Perilaku Keberagamaan Siswa SMPN Sukolilo Pati. [Online]. Tersedia: http://digilib.sunan- ampel.ac.id/gdl.php?mod=browse...id. [23-11-2009].
Sauri, S. (2002). Pengembangan Strategi Pendidikan Berbahasa Santun Di
Sekolah. Bandung: Disertasi Program Studi Pendidikan Umum Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Schmidt, L. (2000). Jalan Pintas Menjadi 7 Kali Lebih Cerdas. Bandung: Kaifa.
Schubert, William H. (1986). Curriculum: Perspective, Pardigm, and Possibility.
New Tork: Mc Millan Pulished Co.
Silberman, M. (t.t). Active Learning 101 Strategies to Teach Any Subject. London:
Allyn and Bacon
Soeratman, D. (1985). Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan
Sudijono, A. (2007). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajafindo Persada.
Sujana, N dan Rivai, A. (2005). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Sukmadinata, N.S. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana.
Sukmadinata, N.S. (2007). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda.
Sukmadinata, S.N. (2004). Kurikulum Dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung:
Kesuma Karya.
Sulaeman, H.F. (1986). Alam Pikiran Al-Ghazali Mengenai Pendidikan Dan Ilmu.
(Terjemah). Bandung: Dipanegoro.
Sulaeman, H.F. (1993). Aliran-Aliran Dalam Pendidikan: Studi Tentang Aliran
Pendidikan Menurut Al-Ghazali. (Terjemah). Semrang: Dimas.
Sumantri dan Su’ud. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung:
Pedagogiana.
Supriadi, D. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adi
Citra Karya Nusa.
Surakhmad, W. (1980). Metodologi Pengjaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Tafsir, A. (1996). Pendidikan Agama dalam Keluarga. Bandung: Rosda.
Tafsir, A. (2004). Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Rosda.
Tafsir, A. (2009). Pendidikan Agama Islam. Tersedia [Online].
http://www.scrib.com/doc/348172.[6/29/2009
Tilaar, H.A.R. (1999). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Rosda.
Turmuddhi, M.A. (2009). Praksis Pendidikan Agama Di Sekolah. [Online].
Tersedia: http://dosen.amikom.ac.id.doc. [23/11/09].
Usman, U. (1995). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda.
Usmanto. (2008). Keberagamaan Siswa Muslim Di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.
Tersedia[Online].Digilib.uinsuka.ac.id/gdl.php?mod=browsed&op=read [31-08-2008].
Wafi, W.A. (1965). Persamaan Hak dalam Islam. Bandung: Al-Maarif.
Wiles, J. dan Bondi, J. (1989). Curriculum Development A Guide to Practice.
London: Melbourne.
Wiley, J dan Sons. (2005). Preparing Teaching for a Changing Warld What
Ya’qub, H. (1996). Etika Islam: Pembinaan Akhlaqulkarimah Suatu Pengantar. Bandung: Diponegoro.
Yusuf, A.M. (2003). Studi Agama Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Yusuf, S. (2001). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Rosda.
Zainsyah, A.E. et al. (1984). Model Mengajar. Bandung: Dipanegoro.
Zuhairini, et.al (1981). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha