METODE PENELITIAN
G. Prosedur dan Teknik Analisis Data
2. Teknik Analisis Data
Selanjutnya, dalam menganalisis data penelitian ini ditempuh beberapa teknis
analisis berikut ini :
a. Teknik analisis statistik deskriptif, data analisis statistik induktif digunakan
untuk menganalisis besar-kecilnya implikasi perilaku keberagamaan siswa
terhadap pendidikan agama Islam sebagai variabel independen .
b. Teknik analisis statistik inferensial, digunakan untuk mengungkap tingkat
implikasi perilaku keberagamaan siswa terhadap pendidikan agama Islam.
c. Teknis analisis sebagaimana disebutkan di atas adalah sebagai berikut:
1) Teknik Analisis Statistik Deskriptif
2) Teknik analisis ini digunakan untuk menjelaskan karakteristik data
penelitian dengan menggunakan tabel-tabel antara lain distribusi
frekwensi, grafik, diagram, dan beberapa ukuran statistik seperti
persentase, rata-rata simpangan baku yang diperlukan.
3) Analisis Statistik Inferensial
Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis tentang implikasi
variabel-variabel perilaku keberagamaan siswa terhadap pendidikan agama Islam.
Teknik analisis yang digunakan yaitu dengan t-test satu sampel karena
untuk menguji hipotesis yang berupa deskriptif dengan jenis data interval
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan penafsiran pengolahan data, dan uji hipotesis untuk menjawab
pertanyaan penelitian yang diajukan pada Bab I tentang kesiplinan menjalankan
ibadah makhdah (ibadah ritual), dan ibadah social (hubungan dengan sesama
manusia, dan memelihara lingkungan fisik ) dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Mekanisme pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di MTsN
dan SMPN sebagai berikut:
a. Prosedur pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTsN
dan di SMPN. Semua responden GAI di MTsN dan SMPN telah
melaksanakan prosedur pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) sesuai BNSP meliputi pembuatan silabus dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pembuatan silabus dan RPP tidak
dilaksanakan di sekolah masing-masing, tetapi melalui MGMP (Musyawarah
Guru Mata Pelajaran) di rayon masing-masing.
b. Keterlibatan guru dan administrator lainnya dalam pengembangan kurikulum
Pendidikan Agama Islam di MTsN dan di SMPN. Yang telibat langsung
dalam pengembangan kurikulum PAI di MTsN dan SMPN adalah setiap GAI
yang mengajar pelajaran PAI, Kepala Sekolah, Pengawas dari Diknas dan
Depag Kabupaten dan Kota, serta Komite Sekolah, termasuk orang tua siswa.
2. Dokumen sebagai acuan implementasi kurikulum PAI di MTsN dan SMPN
a. Tujuan Pendidikan Agama Islam di MTsN dan SMPN,
Tujuan Pendidikan Agama Islam baik MTs dan SMP pada intinya memiliki
kesamaan merujuk kepada Visi, Misi sekolah, yaitu “Meletakan dasar-dasar
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”.
b. Materi (isi kurikulum).
1) Isi kurikulum MTsN: Akidah-Akhlak, Quran-Hadits, Fiqih, Sejarah
Kebudayaan Islam/SKI, dan Bahasa Arab.
2) Isi kurikulum SMPN: Akidah-Akhlak, Quran-Hadits, Fiqih, Sejarah
Kebudayaan Islam/SKI.
c. Implementasi kurikulum PAI di MTsN dan SMPN
Kegiatan pokok implementasi kurikulum di MTs Negeri dan SMP Negeri yang
dilakukan oleh GAI tahapannya mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu
pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
1) Pengembangan program mencakup program tahunan, semester, bulanan,
mingguan, dan harian.
2) Pelaksanaan pembelajaran. Pada hakikatnya kegiatan pembelajaran
mencakup:
a) Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam satu pertemuan pembelajaran
yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, menyenangkan,
menantang, memotivasi siswa untuk berpartisi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Kegiatan ini
dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi,
elaborasi, dan konfirmasi.
c) Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompeetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indicator
pencapaian kompetensi
d) Evaluasi Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrument penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan
dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar
Penilaian;
e) Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau
kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
3. Implikasi kurikulum Pendidikan Agama Islam di MTsN dan SMPN terhadap
perilaku keberagamaan siswa dalam menjalankan ibadah ritual, sosial dan
a. Kedisiplinan dalam Menjalankan Ibadah Ritual. Berdasarkan hasil analisis
data dan uji hipotesis tentang perilaku keberagamaan siswa MTsN dalam
menjalankan ibadah ritual terdapat perbedaan dengan siswa SMPN. Hal ini
disebabkan pembelajaran PAI di MTsN untuk pelajaran: Quran-Hadits,
Akidah-Akhlak, Fiqih, SKI dan Bhs. Arab, beban belajar tiap mata pelajaran
tersebut adalah dua (2) jam, stiap pelajaran itu diajarkan secara
terpisaah-pisah oleh masing-masing guru pada gilirannya penguasaan materi pelajaran
oleh siswa MTsN lebih mendalam. Sedangkan di SMPN pelajaran PAI
mencakup pelajaran: Quran-Hadits, Akidah-Akhlak, Fiqih, dan SKI, beban
hanya dua (2) jam. Implementasi kurikulum dipadukan tidak ada pembatas
dan diajarkan oleh satu orang guru, sehingga penguasaan materi pelajaran
oleh siswa kurang mendalam.
b. Tidak terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa
dengan orang tua di rumah, hal ini disebabkan 1) pendidikan keluarga sejak
kanak-kanak, siswa telah mendapat pendidikan sopan satun kepada kedua
orang, 2) kurikulum di sekolah (tujuan, materi, metode, media, KBM)
sama-sama mengajarkan siswa berbuat baik kepada kedua orang, 3) implikasi
pendidikan non-formasl siswa memperoleh pelajaran agama Islam melalui
belajar di masyarakat, seperi di Mushala, Masjid, dan/atau Pesantren,
c. Tidak terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTs dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa
dengan guru di sekolah. Penyebabnya adalah: 1) Implikasi penghormatan
implikasi penghormatan kepada guru-guru yang mengajar agama, 3)
Kurikulum di sekolah (tujuan PAI, materi, media, metode, dan KBM), dan
lingkungan pendidikan non-formal di Mushala, Masjid dan/atau di Pesantren.
d. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
saudara di keluarga. Penyebab perbedaan ini adalah faktor: 1) Perbedaan usia
siswa, 2) Pendidikan keluarga, 3) Kurikulum di sekolah (tujuan PAI, materi,
media, metode, dan KBM), 4) dan lingkungan pendidikan non-formal, di
Mushala, Masjid dan/atau di Pesantren.
e. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
teman di masyarakat. Fkctor yang menyebabkan perbedaan adalah: 1)
Perbedaan usia siswa, 2) Pendidikan keluarga, 3) lingkungan pendidikan
non-formal, di Mushala, Masjid dan/atau di Pesantren.
f. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
orang lain yang lebih tua usianya dan tidak dikenal di masyarakat.
Penyebabnya adalah: 1) Pendidikan keluarga, 2) Kurikulum (tujuan, materi,
metode, media, dan KBM) di sekolah, 3) Pendidikan non-formal di Mushala,
Masjid dan/atau di Pesantren.
g. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
yang lebih muda dikenal di masyarakat. Penyebabnya: 1) Faktor usia, 2)
h. Tidak terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa
dengan yang lebih muda tidak dikenal di masyarakat. Hal ini disebakan: 1)
Kurikulum sekolah, 2) Pergaulan siswa, 3) implikasi media elektronika: t.v,
internet, dan media cetak.
i. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
yang berbeda agama di masyarakat sekolah. Penyebab perbedaan adalah: 1)
Pendidikan keluarga, 2) implikasi dari pendidikan non-farmal Pendidikan
non-formal di Mushala, Masjid dan/atau di Pesantren.
j. Tidak terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa
dengan yang berbeda suku di masyarakat. Implikasi dari: 1) Kurikulum
selain Pendidikan Agama Islam, misalnya PPKn, 2) Lingkungan sekolah, 3)
4) Kegiatan ekstrakurikuler.
k. Tidak terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa
dengan yang berbeda ras di masyarakat. Factor penyebabnya, yaitu: 1)
kurikulum PAI, 2) dukungan dari pelajaran PPKn, 3) kegiatan ekstrakurkuler.
l. Terdapat perbedaan implikasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa MTsN dan siswa SMPN pada aspek perilaku hubungan siswa dengan
lingkungan fisik keluarga, sekolah dan masyarakat. Penyebabnya implikasi
dari: 1) Kepedulian warga sekolah, 2) Pendidikan keluarga, 3) Lingkungan
4. Sistem Evaluasi dalam Pendidikan Agama Islam
a. Evaluas Hasil Belajar Ranah Kognitif
Evaluasi hasil belajar ranah kognitif (intelektual) untuk mengtahui
keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang terkait dengan:
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sinstesis, analisis, dan evaluasi dapat dilakukan dengan tes obyobtif. Misalnya dengan bentuk tes Benar Salah
(True-Falese Test); bentuk Menjodohkan (Matching Test); Melengkapi (Completion Test); bentuk Isian (Fill in Test); bentuk Pilihan Ganda (Multiplel Choise Intem Test).
b. Evaluasi Hasil Belajar Ranah Afektif
Evalusi hasil belajar ranah afektif sikap untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan dengan cara:
Pengamatan (Observation); Wawancara (Interview); Angket
(Questionnarie); Pemeriksaan Dokumen (Documestary Analyisis).