IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
7) Bagian Utility
4.8. Rekomendasi Solusi Bagi Peningkatan Kinerja Karyawan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai analisis gap pada seluruh posisi karyawan dan unit kerja di Departemen Waeving maka diketahui hasil mengenai penilaian kompetensi pada masing- masing unit kerja. Di samping hasil mengenai penilaian kompetensi, informasi mengenai kinerja karyawan setiap tahunnya telah dianalisis berdasarkan standar yang perusahaan tetapkan. Maka, dari hasil pembahasan yang diperoleh dapat dijadikan masukan yang bermanfaat. Berikut ini beberapa rekomendasi solusi
yang dapat dilakukan terkait peningkatan kinerja karyawan pada departemen ini, yaitu:
1). Kemampuan karyawan mampunyai tingkat pemahaman dan penguasaan yang berbeda di setiap unit kerja. Secara umum tuntutan kompetensi manajemen, leadership, dan komputer pada posisi karyawan bagian operator tidak terlalu di persyaratkan tinggi oleh perusahaan. Oleh karena itu, seluruh operator di seluruh unit kerja sudah memenuhi ketentuan standar yang perusahaan tetapkan. Namun, masih diperlukan kompetensi pada keahlian teknik di setiap unit kerja sebagaimana diuraikan berikut ini:
a. Unit kerja Reaching; pada keahlian teknik masih terdapat atribut kompetensi yang belum mencapai standar kompetensi yang perusahaan tetapkan seperti membaca design, pengecekan anyaman, naik turun beam, ketelitian nyusuk, dan persiapan plat- l diketahui bahwa kompetensi karyawan masih dibawah standar perusahaan. Diperlukan usaha perusahaan dalam meningkatkan keterampilan dan kemampuan operator. Metode yang dapat dilakukan untuk peningkatan yaitu dengan cara membimbing operator yang nampak kesulitan dan kurang terampil oleh kepala unit sehingga operator dapat terus memperbaiki keterampilannya.
b. Unit kerja Kowari; sebagaimana hasil penilaian kompetensi operator pada keahlian teknik diketahui beberapa kompetensi karyawan masih dibawah standar perusahaan antara lain atribut kompetensi operasikan mesin, ketelitian kerja, dan kecepatan kerja.
Peran kepala unit terhadap peningkatan perlu ditingkatkan terhadap pengawas standar prosedur kerja yang benar. Dengan adanya kontrol tersebut akan memberikan dampak yang baik terhadap motivasi operator bekerja untuk lebih baik.
c. Unit kerja Warper; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan bahwa terdapat kompetensi pada keahlian teknik yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu membaca design, dan memasukkan benang.
96
Kondisi operator pada unit kerja ini perlu dibimbing dan diberikan arahan oleh kepala unit. Kesulitan yang dihadapi oleh operator dapat terus dibantu sehingga dapat dicapai tujuan perbaikan pada unit kerja ini.
d. Unit kerja Sizing; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa keahlian teknik masih belum mencapai standar seperti atribut kompetensi kelurusan beam. Peningkatan kemampuan dalam kompetensi ini dapat diperhatikan oleh atasan dengan memberikan arahan dan diskusi terhadap operator yang masih belum mengerti. Dengan adanya metode diskusi dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan operator sesuai teori dan standar prosedur kerja yang benar.
e. Unit kerja Hozen Jumbi; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa seluruh atribut kompetensi pada keahlian teknik belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Dengan hasil kompetensi karyawan tersebut menandakan informasi bahwa perlu tindakan dari pihak pimpinan perusahaan untuk dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan operator pada unit kerja ini. Diperlukan jenis pelatihan yang memfokuskan pada keterampilan teknik (technical skills) secara teori dan praktek untuk operator unit kerja ini.
f. Unit kerja Shokki; hasil penilaian kompetensi karyawan pada keahlian teknik menandakan bahwa kompetensi karyawan yang masih dibawah standar perusahaan antara lain atribut kompetensi operasikan mesin, pengecekan kain, keliling mesin, perbaiki benang yoko, perbaiki kesalahan, ketelitian kerja, pengecekan yoko, dan pengecekan kualitas.
Sebagian besar kompetensi pada keahlian teknik yang masih belum dicapai sesuai standar oleh operator berarti mengindikasikan diperlukan peningkatan dan perbaikan metode kerja pada unit kerja ini. Perlu pengawasan yang intensif dan pembelajar yang baik oleh
atasan sehingga operator dapat memiliki motivasi yang lebih baik saat bekerja.
g. Unit kerja Shikake; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan bahwa atribut kompetensi yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu memasang beam, membaca design, dan cori khusus.
Operator yang belum mencapai standar kompetensi yang perusahaan tetapkan hendaknya dibimbing oleh atasan sesuai standar prosedur kerja yang benar. Sehingga tingkat kemampuan dan keterampilan operator dapat diperbaiki dengan maksimal.
h. Unit kerja Hozen Shokki; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa masih terdapat atribut kompetensi seperti usaha preventif yang berada dibawah standar perusahaan.
Tingkat kompetensi pada keahlian teknik ini sebetulnya dapat ditingkatkan yaitu dengan cara memberikan instruksi kerja yang jelas pada operator sehingga dapat mengetahui jenis pekerjaan yang akan dikerjakan. Selain itu, komunikasi antar karyawan perlu ditingkatkan guna koordinasi yang baik pada unit kerja ini.
i. Unit kerja Unten; hasil penilaian kompetensi karyawan memperlihatkan bahwa seluruh atribut kompetensi karyawan pada keahlian teknik masih berada dibawah standar perusahaan.
Hasil penilaian ini dapat memberikan masukan sebagai motivasi yang lebih baik oleh pimpinan departemen dan unit kerja untuk dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan operator. Cara yang dapat digunakan yaitu dengan memberikan pembelajaran, pembimbingan, dan pengawasan terhadap operator sehingga dapat terus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.
j. Unit kerja Shiage; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa terdapat beberapa atribut kompetensi karyawan yang belum mampu mencapai standar perusahaan seperti pemeriksaan kentan,
98
shusei kentan, shusei meja, mengetahui grade, mengoperasikan mesin, dan mengetahui produk.
Peningkatan keterampilan dan kemampuan operator pada unit kerja ini dilakukan dengan cara pembimbingan pada operator yang masih belum mengusai kemampuan teknik oleh atasan pada unit kerja. k. Unit kerja Packing Shiage; hasil penilaian kompetensi karyawan
pada keahlian menunjukkan masih terdapat atribut kompetensi yang dibawah standar antara lain atribut mengetahui grade, perbaikan kain, dan packing kain.
Pengawasan atasan pada unit kerja ini perlu ditingkatkan sehingga dapat pula membantu perbaikan peningkatan kemampuan operator yang dinilai kurang mengusai terhadap keterampilan teknik yang dimiliki operator.
Adapun hasil penilaian kompetensi karyawan pada posisi kepala regu di setiap unit kerja menunjukkan bahwa kompetensi manajemen, leadership, dan komputer sudah mampu dicapai sesuai standar yang perusahaan tetapkan. Namun, kompetensi pada keahlian teknik di beberapa unit kerja masih diperlukan perbaikan terhadap peningkatan kompetensi sesuai persyaratan yang ditetapkan. Berikut ini uraian hasil rekomendasi pada unit kerja:
a. Unit kerja Kowari; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa pada keahlian teknik masih terdapat atribut kompetensi seperti menyambung benang, jenis benang, dan kecepatan kerja yang berada dibawah standar perusahaan.
Peningkatan keterampilan dan pengetahuan teori terhadap standar kerja yang benar pada kepala regu oleh atasan perlu dilakukan sehingga dapat membantu dalam meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan tersebut.
b. Unit kerja Hozen Jumbi; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan bahwa seluruh atribut kompetensi
teknik karyawan pada unit kerja ini masih berada dibawah standar kompetensi perusahaan.
Hasil penilaian kompetensi menunjukkan tingkat keterampilan dan kemampuan kepala regu pada unit kerja ini masih kurang menguasai. Diperlukan jenis pelatihan yang memfokuskan pada ketrampilan teknik (technical skills) secara teori dan praktek yang dapat membantu karyawan dalam meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.
c. Unit kerja Shokki; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa terdapat beberapa atribut kompetensi karyawan yang belum mampu mencapai standar perusahaan seperti operasikan mesin, pengecekan kain, keliling mesin, ketelitian kerja, dan pengecekan yoko.
Jenis kompetensi yang dinilai belum memenuhi standar dapat diperbaiki dengan cara pembelajaran dan peningkatan kemampuan yang dibimbing oleh atasan sehingga kepala regu dapat termotivasi untuk meningkatkan kompetensinya.
d. Unit kerja Hozen Shokki; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan bahwa atribut kompetensi yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu deteksi kerusakan, pekerjaan mudah, usaha preventif, dan standar mesin.
Usaha perbaikan pada kompetensi yang dimiliki kepala regu pada unit kerja ini dapat dilakukan dengan cara pembelajaran teori, komunikasi dan intruksi yang jelas oleh atasan. Adanya umpan balik yang dirasakan kepala regu dapat membantu meningkatkan kemampuannya.
e. Unit kerja Unten; hasil penilaian kompetensi karyawan pada keahlian teknik menunjukkan kompetensi karyawan yang masih dibawah standar perusahaan antara lain atribut kompetensi alur order, dan informasi kerja.
100
Kepala regu pada unit kerja ini perlu meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar unit kerja. Cara pengawasan dan kontrol atasan dapat membantu kepala regu terhadap pemahaman proses produksi yang dijalankan pada saat itu. Dengan adanya hubungan yang baik dapat melahirkan diskusi yang sehat mengenai pekerjaan yang dilaksanakan sehari- hari.
f. Unit kerja Shiage; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan yaitu atribut kompetensi seperti mengetahui grade, mengetahui produk, perbaikan kain, packing kain, Delivery, dan pelipatan folding diketahui bahwa kompetensi karyawan masih dibawah standar perusahaan.
Usaha perbaikan yang perlu dilakukan pada kepala regu unit ini yaitu dengan cara pengawas dan pembimbingan oleh atasan terhadap karyawan yang belum mampu memahami pekerjaan yang dijalaninya. Perlu ditekankan motivasi untuk dapat meningkatkan kemampuan kepala regu pada kompetensi ini.
Secara umum hasil mengenai penilaian kompetensi karyawan pada posisi kepala unit pada unit kerja seperti Kowari, Warper, Sizing, Hozen Jumbi, Shikake, dan Shiage memerlukan peningkatan pada kompetensi manajemen dan leadership. Dalam meningkatkan kinerja kepala unit dan kontribusi maksimalnya terhadap unit kerja diperlukan perbaikan kompetensi manajemen dan leadership oleh perusahaan.
Salah satu cara yang dapat ditempuh perusahaan yaitu strategi pembelajaran merupakan strategi agar semua pekerjaan mencapai hasil yang baik. Itu terjadi bila dilakukan dengan prinsip manajemen, antara lain adanya perencanaan dan persiapan. Agar tujuan dan sasaran itu tercapai dengan sebaik-baiknya.
Beberapa unit kerja yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kompetensi komputer pada kepala unit yaitu Reaching, Kowari, Warper, Sizing, Hozen Jumbi, Shokki, Hozen Shokki, Shikake, dan Shiage.
Peningkatan pengetahuan terdapat aplikasi komputer dapat dilakukan perusahaan dengan cara memberikan waktu khusus pada kepala unit untuk secara bergantian menurut jadwal dalam mengikuti pengenalan dan pelatihan komputer. Pelatihan dilakukan dalam bentuk praktek dan teori tentang komputer.
Perbaikan terhadap keahlian teknik pada kepala unit masih perlu dilakukan hal ini berdasarkan hasil penilaian kompetensi. Masih terdapat kepala unit yang belum mampu memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan perusahaan. Adapun unit kerja solusi rekomendasi perbaikan kompetensi dijelaskan sebagai berikut:
a. Unit kerja Kowari; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa seluruh atribut kompetensi teknik belum mampu dicapai oleh karyawan dalam memenuhi standar perusahaan.
Solusi yang dapat dilakukan pada kepala unit yaitu dengan cara pengawasan oleh atasan secara berdiskusi mengenai komitmen dan standar prosedur yang benar pada karyawan mengenai jenis pekerjaan.
b. Unit kerja Warper; hasil penilaian kompetensi karyawan menunjukkan masih terdapat atribut kompetensi seperti membaca design, memasukan cheese, membaca label, panjang benang, dan koordinasi produksi yang berada dibawah standar perusahaan.
Perbaikan yang dapat dilakukan pada peningkatan kompetensi teknik dengan cara memberikan masukan oleh atasan agar karyawan dapat meningkatkan kemampuan pada bidang tersebut.
c. Unit kerja Sizing; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan yaitu atribut kompetensi yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu memasang beam, perbaiki benang, mengecek tang, data produksi, kelurusan beam, kekentalan nori, dan koordinasi produksi.
Peningkatan kompetensi yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong kepala unit dengan cara pembelajaran terhadap teori dan
102
penerapan kerja yang konsisten dengan standar prosedur kerja yang benar.
d. Unit kerja Hozen Jumbi; hasil penilaian kompetensi karyawan menunjukkan bahwa seluruh atribut kompetensi teknik karyawan masih berada dibawah standar perusahaan.
Pada unit ini perlu dilakukan perhatian khusus karena untuk posisi kepala unit penting dalam menguasai keterampilan teknik. Karakteristik unit kerja ini memerlukan fokus dan pengetahuan yang lebih terhadap mesin- mesin produksi sehingga membutuhkkan jenis pelatihan terhadap karyawan yang berupa keterampilan teknik oleh perusahaan.
e. Unit kerja Shokki; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa beberapa atribut kompetensi teknik karyawan masih dibawah standar perusahaan seperti operasikan mesin, keliling mesin, perbaiki benang yoko, perbaiki benang tate, dan pengecekan yoko.
Konsistensi kepala unit perlu dipantau dan diawasi oleh perusahaan lewat atasan mengenai standar kerja yang benar. Agar karyawan dapat mempraktekan pekerjaan dengan baik dan sesuai prosedur yang ditetapkan di setiap unit kerja.
f. Unit kerja Shikake; hasil penilaian kompetensi karyawan yaitu terdapat beberapa atribut kompetensi belum mampu mencapai standar perusahaan antara lain atribut kompetensi cek warna benang, perbaiki kain, kualitas kain, dan pengisian peg.
Pemahaman karyawan perlu ditingkatkan dengan cara memperbaiki kemampuan teknik yaitu salah satu cara mengkomunikasikan dan mendikusikan teknik-teknik yang benar pada unit kerja ini oleh atasan.
g. Unit kerja Hozen Shokki; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa masih terdapat atribut kompetensi seperti deteksi kerusakan, pekerjaan mudah, usaha preventif, standar mesin, dan tension beam yang berada dibawah standar perusahaan.
Teknik pembelajaran mengenai keterampilan teknis terkait kompetensi dapat dilakukan secara terus menerus sehingga karyawan dengan sendirinya dapat meningkatkan kemampuan yang dimilikinya.
h. Unit kerja Shiage; hasil penilaian kompetensi karyawan yang dipaparkan terdapat atribut kompetensi seperti pemeriksaan kentan, perbaikan kain, shusei kentan, koordinasi produksi, mengetahui grade, dan mengetahui produk diketahui bahwa kompetensi karyawan masih dibawah standar perusahaan.
Perlu ditingkatkan pemahaman terhadap pengetahuan produk dan keterampilan teknis. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu koordinasi dengan atasan langsung sehingga adanya feed back yang baik terhadap kompetensi yang dimiliki karyawan.
Hasil penilaian kompetensi pada wakil pengawas dan pengawas pada setiap unit kerja menunjukkan hasil yang berbeda pada kompetensi manajemen, leadership, komputer, dan teknik. Tuntutan yang dipersyaratkan perusahaan pada karyawan posisi wakil pengawas dan pengawas menunjukkan standar yang tinggi untuk dicapai oleh karyawan.
Kompetensi aktual karyawan pada kompetensi manajemen dapat disimpulkan bahwa seluruh wakil pengawas dan pengawas di seluruh unit kerja masih dibawah standar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan perbaikan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai komitmen pimpinan perusahaan dalam menjaga sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Salah satu cara yang efektif yang dapat dilakukan perusahaan yaitu dengan mengadakan pelatihan kepada karyawan yang bersifat in-house training berupa praktek dan materi untuk karyawan. Tujuan pelatihan ini agar kompetensi manajemen yang dimiliki karyawan dapat ditingkatkan lebih baik.
Hasil penilaian karyawan yang sama diperoleh pada kompetensi leadership dan komputer yaitu wakil pengawas dan pengawas di seluruh unit kerja masih belum mencapai standar yang perusahaan
104
tetapkan. Perbaikan yang dapat dilakukan perusahaan dalam meningkatkan kompetensi leadership dapat berupa pelatihan in-house training seperti mengadakan forum diskusi antar pimpinan unit kerja di departemen seluruh perusahaan dan pembekalan terhadap kemampuan dan cara memimpin karyawan dengan baik.
Peningkatan kompetensi komputer dapat berupa pelatihan berupa teori dan praktek yang dilakukan pada karyawan. Tujuan dari pelatihan ini agar karyawan dapat mengenal aplikasi pada penggunaan komputer dalam bekerja. Pelatihan praktek juga dapat diterapkan pada pengusaaan bahasa Jepang kepada karyawan yang dinilai masih belum mengusai dengan baik kompetensi tersebut.
Sedangkan, untuk perbaikan yang dilakukan pada kompetensi teknik diterapkan berbeda pada setiap unit kerja karena spesifikasi jenis perkerjaan yang berbeda memerlukan pembelajaran yang tepat sesuai unit kerja. Uraian dari perbaikan yang dapat direkomendasikan antara lain berupa:
a. Unit kerja Reaching; hasil penilaian kompetensi karyawan yang disajikan terdapat beberapa atribut kompetensi teknik karyawan masih dibawah standar perusahaan seperti membaca design, pengecekan anyaman, pemasukan benang, target kerja, dan persiapan plat- l.
Solusi perbaikan terhadap wakil pengawas dan pengawas yaitu dengan melakukan diskusi yang bersifat teori dan praktek oleh kepala departemen. Dengan adanya diskusi dapat mengingkatkan dan memperbaiki cara kerja kurang tepat yang selama ini masih dilakukan karyawan.
b. Unit kerja Jumbi; hasil penilaian kompetensi karyawan menandakan bahwa masih terdapat keahlian teknik pada beberapa atribut kompetensi karyawan yang belum mampu mencapai standar perusahaan antara lain atribut kompetensi bahasa Jepang, memisahkan jenis benang, kualitas benang, koordinasi produksi dan data produksi.
Sesuai dengan peningkatan kompetensi yang dikehendaki metode yang dapat dilakukan yaitu melalui komunikasi dan koordinasi yang lebih baik dilakukan oleh kepala departemen agar tujuan untuk meningkatkan kompetensi dapat dicapai oleh karyawan.
c. Unit kerja Waper; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa masih terdapat atribut kompetensi seperti bahasa Jepang, membaca design, membaca label, dan koordinasi produksi yang berada dibawah standar perusahaan. Metode yang dapat dilakukan perusahaan yaitu dengan melibatkan kepala departemen untuk melakukan monitoring dan pembimbingan kepada wakil pengawas. Tujuannya agar karyawan dapat lebih baik dalam menunjukkan konsistensi dalam melakukan pekerjaan
d. Unit kerja sizing; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan dapat disimpulkan bahwa atribut kompetensi yang masih berada dibawah standar perusahaan yaitu mengecek tang, data produksi, kelurusan beam, dan koordinasi produksi.
Permasalahan mengenai data produksi dapat dilakukan perbaikan dengan koordinasi yang baik dan tepat untuk diterapkan saat produksi berlangsung. Tujuan dari koordinasi ini agar lebih memudahkan karyawan dalam menyelesaikan order produksi yang rumit.
e. Unit kerja Hozen Jumbi; hasil penilaian kompetensi karyawan dipaparkan bahwa atribut kompetensi yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu deteksi kerusakan, perbaiki mesin, usaha preventif, dan standar mesin. Pemahaman terhadap keterampilan teknik karyawan pada unit ini dengan mengadakan pendampingan melalui praktek langsung oleh senior teknisi. Cara ini dapat membantu karyawan dengan cepat bekerja melalui praktek selama bekerja sehingga dapat diterapkan dengan baik.
f. Unit kerja Shokki; hasil penilaian kompetensi karyawan yang masih berada dibawah standar perusahaan yaitu bahasa Jepang, pengecekan
106
kain, perbaiki benang yoko, perbaiki benang tate, dan pengecekan kualitas.
Perbaikan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pengawasan dan kontrol dari kepala departemen saat berlangsungnya proses produksi. Cara ini akan lebih efektif karena karyawan dapat langsung berdiskusi dengan baik sesuai standar prosedur kerja yang benar. g. Unit kerja Shikake; adapun hasil penilaian kompetensi karyawan
dapat disimpulkan bahwa atribut kompetensi yang belum mampu dicapai karyawan dalam memenuhi standar perusahaan yaitu bahasa Jepang dan koordinasi produksi.
Permasalah koordinasi produksi dapat dilakukan perbaikan melalui peran kepala departemen selaku pimpinan dengan mengadakan diskusi sebelum bekerja antar wakil pengawas dan pengawas di setiap unit kerja. Dengan adanya forum diskusi dapat memperkuat team work dan membantu karyawn bekerja lebih baik.
h. Unit kerja Hozen Shokki; hasil penilaian kompetensi karyawan bahwa yang masih berada di bawah atribut kompetensi seperti bahasa Jepang, usaha preventif, standar mesin, dan koordinasi produksi yang berada dibawah standar perusahaan.
Usaha perbaikan yang dapat dilakukan pada wakil pengawas dan pengawas unit kerja ini dengan cara memberikan pendampingan senior teknisi perusahaan. Pembelajaran langsung dapat berupa pemberian materi selama praktek dalam bekerja sehingga dapat langsung diserap dengan baik peningkatan kompetensi oleh karyawan.
i. Unit kerja Unten; sebagaimana hasil dari penilaian kompetensi karyawan dapat diketahui informasi bahwa masih terdapat atribut kompetensi seperti bahasa Jepang, komunikasi, alur produksi, Informasi kerja, jenis kain, dan koordinasi produksi yang berada di bawah standar perusahaan.
Peningkatan yang sesuai dengan unit kerja ini yaitu berupa diskusi dan instruksi jelas dari kepala departemen selaku pimpinan. Unten
merupakan unit kerja yang berkoordinasi dengan unit kerja lain sebagai unit penghubung. Oleh sebab itu, diskusi yang baik dapat membantu karyawan dengan bekerja dengan baik.
Hasil kompetensi karyawan pada bagian operator, kepala regu, kepala unit, wakil pengawas dan pengawas diketahui bahwa kesenjangan kompetensi masih terjadi di setiap unit kerja. Kesenjangan kompetensi yang terjadi pada unit kerja diberbagai posisi karyawan dapat dijadikan informasi penting dalam peningkatan kemampuan dan keterampilan kompetensi karyawan. Pada posisi operator dan kepala regu kesenjangan kompetensi karyawan yang rendah pada atribut kompetensi teknik kerja karyawan perlu ditingkatkan. Karyawan pada posisi ini dalam bekerja sehari-hari lebih besar menggunakan kemampuan keahlian teknik dibandingkan keahlian umum. Dalam melakukan proses produksi karyawan operator dan kepala regu dituntut untuk selalu meningkatkan keterampilan teknik bekerja agar mencapai target produksi yang diinginkan perusahaan.
2). Sesuai dengan hasil analisis pengaruh kompetensi terhadap kinerja pada posisi kepala unit mempunyai fokus yang berbeda dalam meningkatkan kinerja dengan bagian operator dan kepala regu. Selain kompetensi pada keahlian teknik, perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen oleh karyawan pada posisi ini. Kepala unit mempunyai tugas dalam koordinasi produksi mengenai jadwal, target, dan mutu