• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PANDANGAN THABATHABA’I, EDIP YUKSEL DKK.

C. Relevansi Pandangan Thabathaba’i, Edip Yuksel, dkk.

QS. Al-Baqarah [2] : 62 dan 120 yang telah ditafsirkan oleh kedua mufasir secara universal-komprehensif telah dihidangkan dengan tujuan untuk perdamaian dunia sesuai harapan kebanyakan umat manusia dewasa ini dari berbagai carut-

marutnya konflik atas dasar truth claim agama. Bagir mengatakan bahwa secara

yakin, sampai sekarang Barat masih membutuhkan Timur, sebagaimana Timur

juga membutuhkan Barat.288 Namun hal ini tidak sesuai ekspektasi perkataan

tersebut justru intensitas permasalahan yang sangat tinggi ini, bisa dikatakan

bersumber dari agama, baik itu dari agama Yahudi, Nasrani, Islam ataupun the

other religion. Kesemua agama tersebut saling truth claim atas kebenaran dan kevalidan bahwa agama merekalah yang sesuai dengan agama Allah. Dari sinilah

mereka saling membenci, saling berbuat diabolic (kejam), kekerasan dan cara

apapun sehingga ada pihak atau seseorang yang dirugikan. Mereka melakukan hal

285 Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 118. 286

Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 35.

287

Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 38.

288 Haidar Bagir, Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau,

itu atas kesalahan interpretasi pada kitab-kitabnya bahkan ada yang mengkonversikanya seperti yang dilakukan agama Yahudi dan Nasrani. Ungkapan

ini terbukti dengan adanya al-Qur’an yang secara luas menjabarkan seluk-beluk

historis mereka lewat ayat-ayat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya.

Mengaitkan kajian konflik antar pemeluk agama dengan al-Qur’an adalah

suatu ide atau gagasan yang brilian. Oleh karena dengan cara ini imej yang selama

ini cenderung memojokkan al-Qur’an akan dapat dijelaskan dan diluruskan bahwa

al-Qur’an bukan seperti yang mereka bayangkan. Al-Qur'an adalah kitab suci

yang mengajarkan toleransi. Allah tidak pernah memanggil kaum Yahudi dan

Nasrani dengan sebutan, "orang-orang kafir” tetapi dengan julukan yang

terhormat, "ahli kitab” padahal mereka sedikit pun tidak mau memercayai

Muhammad sebagai Rasul Allah, apalagi memeluk Islam.

Berangkat dari kenyataan itu, dapat dikatakan bahwa percekcokkan antar

umat “berlainan agama yang berujung konflik, semua itu lebih banyak disebabkan

oleh pemeluk masing-masing agama yang kurang memahami ajaran kitab sucinya secara utuh. Atau bisa jadi, mereka paham, tapi sengaja mencari interpretasi lain agar sesuai dengan paham yang mereka anut, tanpa peduli apakah penafsiran itu benar atau salah. Tidak terkecuali pemeluk agama Islam. Ada yang memahami al-

Qur'an secara apriori dan keliru sesuai dengan mazhab atau aliran yang dianut.

Kelompok ini biasanya cenderung ekstrim dan menganggap pendapat atau pemahaman yang dianut orang lain keliru dan tidak Islami. Sikap dan mental

diakui bahwa ada banyak ayat al-Qur’an yang secara tekstual tampak kontradiktif satu sama lain. Ayat-ayat semacam ini yang dijadikan alasan oleh mereka untuk melakukan tindakan kekerasan dan mengangkat senjata untuk memerangi

penganut agama lain yang tidak mereka senangi.289 Padahal, jika diamati secara

seksama tidak ada satu ayat pun di dalam al-Qur'an yang memerintahkan umat Islam untuk memerangi orang lain karena berbeda paham atau aliran agama yang dianutnya, agar lebih jelas, mari kita amati ayat kontradiktif QS. Al-Baqarah [2] : 62 dan 120.

Ketika menjelaskan QS. al-Baqarah [2]: 62 pada bab sebelumnya,

Thabathaba‘i menyatakan bahwa diulangnya kata iman merupakan penyifatan

iman yang sesungguhnya. Dari pemahaman ini, ia menyatakan bahwa penyebutan

seperti mu’minin, Yahudi, Nashara, dan Shabi’in—dalam pandangan Allah—

tidak secara aksiomatis menjamin pahala dan keselamatan dari siksa-Nya,

sebagaimana ucapan Yahudi dan Nasrani; “Tidak akan masuk surga kecuali bila

menjadi Yahudi atau Nasrani”. Justru yang menjadi faktor penentu kemuliaan dan

kebahagiaan seseorang akan didapat bila ia beriman yang benar kepada Allah, hari

akhir dan beramal saleh.290 Thabathaba'i menjelaskan bahwa berulang kali ayat-

ayat al-Qur'an menyatakan bahwa kebahagiaan dan kemuliaan tergantung pada

‘ubudiyyah. sehingga nama291 tidak dapat memberi jaminan manfaat bagi pemilik

namanya. Demikian juga sifat-sifat kesempurnaan, kecuali apabila semuanya itu

289 Nashruddin Baidan dan Erwati Aziz, Solusi Qur’ani terhadap Berbagai Problem Sosial Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), hlm. 140-142.

290 Waryono Abdul Ghafur, Persaudaraan Agama-Agama:,... hlm. 156.

291 Dikutip dari Mun’im Sirry, Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik Al-

disertai konsistensi ‘ubiidiyyah. Hal ini berlaku secara universal, baik bagi para

nabi ataupun yang lainnya.292

Becermin pada kutipan dalam wacana pluralis—Yuksel, dkk. melalui QS.

2:62 ia menjelaskan pandangan Yahudi dan Nasrani melalui endnote-nya ini agak

berbeda dengan Thabathaba’i meskipun ada persamaan, menurut Yuksel bahwa:

tidak peduli akan agama, ritual, bahasa, kebangsaan, dan kitab yang diikuti, setiap individu yang memenuhi tiga kriteria ini bisa mendapat keselamatan abadi. berdasarkan kriteria tersebut, Sokrates yang mempertaruhkan hidupnya untuk mendorong penggunaan akal sehat dan menolak agama politeis (banyak Tuhan) yang disembah orang-orang di negerinya, merupakan seorang muslim. Sama halnya dengan Maimonides yang menganggap Tuhan sebagai Penggerak Utama, Rabi Judah bin Samuel yang menyaksikan satu dari tanda-tanda ketuhanan dan menolak penyimpangan agama, Leibniz yang menganggap Tuhan sebagai pencipta dan pengatur dari monads (bagian terkecil yang tidak bisa dibagi lagi di dunia ini), Galileo yang meneliti dan mengapresiasi tanda-tanda Tuhan di surga

dan menolak agama charlatans (para penipu), Darwin yang berkeliling dunia dan

mempelajari kreasi biologi Tuhan dengan rajin dan pekiran terbuka, Newton yang meneliti hukum Tuhan di dunia dan menunjukkan kebijaksanaan dan keberanian untuk menolak trinitas dan ketuhanan Yesus dengan membantah bahwa dotkrin Kristen ini berlawanan dengan firman Tuhan yang pertama dalam Kitab Injil, dan

banyak lagi yang cocok dengan deskripsi al-Quran ayat 2:62, ya semua menurut

al-Quran dapat dianggap sebagai muslim.293

Penulis kelompokkan tiga divisi pendapat Yuksel mengenai keselamatan

agama lain pertama, orang yang “beriman” misalnya orang yang dianggap tidak

beriman lalu disucikan oleh Allah kemudian mengikuti ajaran dan aturan-Nya.294

Kedua, tentang kaum Yahudi-Nasrani,295 Ketiga, kaum Sabiene yang diartikan

Yuksel the other religion. Ketiga-tiganya yaitu orang yang “Benar-benar beriman

kepada Allah”: keimanan ini tidak diterima jika hanya sebatas lisan (ucapan di

bibir), hal itu harus didasarkan pada alasan, bukti perbuatan dan kemampuan.

“Mengimani Hari Kemudian”: menyiratkan keimanan saat ini juga bahwa nanti

akan ada hari akhir (akhirat), hari kebangkitan, dan hari penghakiman di mana

tidak ada seorangpun kecuali Allah dan Allah berkuasa mutlak. “Beramal saleh”:

mengatur kehidupan yang benar sesuai dalam al-Qur’an, sebagai contoh,

kesalehan memenuhi kebutuhan (hajat) dan amal nyata dengan saling berbagi dari sebagian apa yang dimiliki; baik itu pengetahuan, bakat-keterampilan (termasuk menghibur atau menebar kebahagiaan), jasa, ataupun rizki kepada sesama. Tentu hal ini harus dengan tatacara menghargai diri sendiri, yaitu mempertahankan kejujuran, integritas dan rasa yang adil kesemua itu dibarengi dengan niat yang

baik, berjuang melawan penindasan dan penyerangan.296

Menurut Thabathaba’i—berbeda dengan pandangan Yuksel—tentang

masing-masing pemeluk agama tersebut apabila memenuhi tiga syarat, dijamin

293 Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 84-85 294 Lihat Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 85. 295 Lihat Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 85. 296 Lihat Edip Yuksel (dkk.), Quran a Reformist Translation,... hlm. 86.

keselamatannya, namun jaminan tersebut menurutnya tidak dapat dijadikan sebagai klaim yang pasti dan perdebatan tanpa dasar di antara mereka. Sebab, keputusan akhirnya ada pada Allah nanti di akhirat. Ini artinya, siapa pun tidak boleh mengklaim bahwa hanya diri dan kelompoknya yang sama dengan dirinya

yang akan masuk surga.297

Tampaknya, dalam konteks tidak boleh saling klaim ltulah Thabathabaii

menjelaskan pengertian masing-masing dari komponen dalam al-Qur’an yang

relevan dengan QS. al-Baqarah [2]: 62. Pertama, alladzina amanu, yaitu mereka

yang beriman kepada Muhammad dan kitab mereka adalah al-Qur'an. Kedua,

alladzina hadu, yaitu mereka yang beriman kepada Musa dan rasul-rasul

sebelumnya dan kitabnya adalah Taurat. Ketiga, al-shabi’in298 yaitu kelompok

antara Yahudi-Majusi dan kitabnya yang dinisbahkan kepada Yahya bin Zakariya.

Keempat, Nashara yaitu mereka yang beriman dengan Isa Almasih ibn Maryam dan nabi-nabi sebelumnya dan kitab sucinya adalah empat Injil; Lukas, Markus,

Matius, dan Yohanes serta beberapa kitab Perjanjian Lama. Kelima, al-majus299,

yaitu yang dikenal sebagai mereka yang beriman kepada Zoroaster dan kitabnya

adalah Avesta. Keenam, alladzina asyraku, yaitu al-watsaniyyah, penyembah

berhala yang aliran atau mazhab utamanya ada tiga, yaitu al-watsaniyyah al-

shobi’ah, Brahmana, dan Buddha.300

297 Waryono Abdul Ghafur, Persaudaraan Agama-Agama:,... hlm. 157.

298 Lihat Ismail, Sejarah Agama-agama: Pengantar Studi Agama-agama, (Yogyakarta :

Pustaka Pelajar, 2017), hlm. 304-305.

299 Lihat Waryono Abdul Ghafur, Persaudaraan Agama-Agama:,... hlm. 137-138. 300 Waryono Abdul Ghafur, Persaudaraan Agama-Agama:,... hlm. 157-158.

Keenam, kelompok tersebut memiliki kedudukan yang sejajar dihadapan Allah, bahwa semuanya akan mendapat keputusan dan dipisahkan secara jelas, tanpa ada penutup atau hijab sedikit pun.

Apabila kita melihat QS. al-Baqarah [2]: 62, hemat penulis, pandangan

Thabathaba’i dengan Yuksel memaparkan tentang adanya kemungkinan

keselamatan agama lain sehingga tersirat bahwa ayat ini tidak mengundang kebencian atas dasar konflik yang bernuansa agama. Setelah itu, kita bahas ayat yang kontradiktif antara QS. al-Baqarah [2]: ayat 62 dengan ayat 120. Apakah ayat 120 ini, benar-benar mengundang kebencian konflik antara agama tersebut?

Apabila kita menilik tekstual dari QS. al-Baqarah [2]: 120 dikatakan bahwa orang-orang Yahudi dan juga Nasrani tidak akan senang sebelum orang- orang yang beriman mengikuti pola dan model hidup mereka. Ayat ini menegaskan bahwa terdapat dua golongan Yahudi:

Pertama, mereka yang tidak benar-benar membaca kitabnya dan lebih banyak mengikuti hawa nafsu dan pikirannya. Kelompok pertama ini selamanya

tidak akan rela terhadap orang yang beriman. Kedua, mereka yang benar-benar

membaca kitab sucinya dan memercayai bahwa apa yang terdapat dalam al-Qur'an adalah sama dengan yang mereka terima, sehingga mereka akan beriman kepada Muhammad. Petunjuk al-Qur'an dan Taurat-lah yang benar sebagai petunjuk Allah. Menurut riwayat al-Dailami yang dikutip Thabathaba'i, maksud (membaca dengan sebenar-benarnya) adalah membaca secara tartil ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, berharap kepada janji-Nya, khawatir pada ancaman-Nya, mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, amar makruf nahi

mungkar, memelihara ayat-ayatNya, mengkaji huruf-hurufnya, membaca surat- suratnya, mengkaji bagian-bagiannya, menjaga huruf-hurufnya, dan menjaga

batas-batasnya. Semuanya itu hanya didapat apabila mau men-tadabburi ayat-

ayat-Nya dan mengamalkan hukum-hukum-Nya. Allah berfirman, “Ini adalah

sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka ber-tadabbur terhadap ayat-ayatnya”.301

Ayat ini sebenarnya ditujukan khusus untuk nabi Muhammad dengan

penggunaan dlomir “ka” (kamu/engkau), ayat ini tidak dimaksudkan untuk semua

umat Islam atau ketidaksukaan Yahudi dan Nasrani itu ditujukan kepada semua

agama Islam. Yahudi dan Nasrani yang dimaksudkan juga terbatas sesuai asbab

an-nuzul ayat ini, bukan dituduhkan semua Yahudi dan Nasrani.302

Kata millah dalam teks al-Quran di atas dipahami berbeda-beda oleh para

mufasir. Imam Al-Thabari menafsirkan millah dengan agama. Namun, Tafsir Al-

Baghawi mengartikannya sebagai “Thariqah”, yaitu jalan. Maka, yang

dikehendaki non-Muslim itu adalah agar Nabi Muhammad mengikuti jalan

mereka (bukan mengikuti agama mereka).303 Tafsir Ibn Katsir hanya mengutip

sepotong penjelasan dari Imam at-Thabari, Nabi Muhammad diminta fokus untuk mengharapkan ridha Allah, dan tidak perlu mencari-cari cara untuk menyenangkan Yahudi dan Nasrani. Apa yang Nabi dakwahkan kepada mereka itu akan mereka tentang karena antara mereka sendiri saling tidak cocok. Nasrani tidak cocok dengan Yahudi, begitu pula sebaliknya. Apa yang Nabi Muhammad

301 Waryono Abdul Ghafur, Persaudaraan Agama-Agama:,... hlm. 148-149.

302 Nadirsyah Hosen, Tafsir Al-Qur’an di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci Pada Era Media Sosial, (Yogyakarta: Bunyan, 2017), hlm. 171.

dakwahkan kepada mereka itu adalah jalan untuk berkumpul bersama dalam kasih sayang di bawah naungan Islam. Yahudi dan Nasrani tidak dapat bertemu untuk rela kepadamu wahai Nabi kecuali kalau engkau menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani. Hal itu tidak mungkin. Karena engkau adalah pribadi yang satu. Tidak mungkin engkau menjadi keduanya yang saling bertentangan. Jadi, carilah ridha Allah semata dan tidak perlu risau dengan mereka yang tidak rela

denganmu.304

Tafsir Al-Baghawi menceritakan asbabun nuzul ayat ini, biar lebih jelas

bagi kita apa peristiwa yang membuat non-Muslim tidak senang dengan jalan yang ditempuh Nabi Muhammad. Mereka (Yahudi dan Nasrani) meminta Nabi Saw. untuk melakukan gencatan senjata dan berjanji untuk mengikuti Nabi. Maka, Allah menurunkan ayat ini. Maksud ayat ini adalah apabila engkau (Muhammad) melakukan gencatan senjata, mereka selamanya tetap tidak akan senang dengan kamu. Mereka meminta gencatan senjata itu hanya sebagai alasan bukan tanda mereka rela kecuali kamu ikut jalan mereka.

Ibnu Abbas berkata, “Ini dalam kasus kiblat, Yahudi Madinah dan Nasrani

Najran mengharap kepada Nabi agar ketika shalat menghadap kiblat mereka.

Ketika Allah memindahkan kiblat umat Islam ke Ka’bah mereka menjadi putus

asa untuk mengharapkan Nabi agar setuju pada kiblat mereka. Maka, Allah menurunkan ayat (QS Al-Baqarah [2]: 120) ini. Untuk itu Ibn Abbas mengkhususkan bahwa yang tidak suka selamanya dengan Nabi itu terbatas

kepada Yahudi di Madinah dan Nasrani di Najran, bukan semua Yahudi dan

Nasrani.305

Jadi sekali lagi, ayat ini bukan berarti bukan semua Yahud-Nasrani benci kepada Islam dan mengingatkan kita untuk pindah agama mereka. Ayat ini sekedar memberitahu Nabi Muhammad untuk fokus dalam berdakwah mencari ridha Allah semata, bukan karena menginginkan kerelaan dari Yahudi di Madinah

dan Nasrani di Najran. Ayat yang berupa reminder khusus kepada Nabi

Muhammad ini sayangnya sekarang malah sering dipakai untuk saling menyerang pihak lain.

Dokumen terkait