BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN
C. PEMBAHASAN
1. Representasi Sosial Pengurus FPI Medan terhadap Tujuan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Representasi sosial pengurus FPI Medan terhadap tujuan amar ma’ruf nahi munkar yaitu tujuan melindungi umat dan tujuan melindungi diri sendiri. Makna tujuan dari amar ma’ruf nahi munkar menurut FPI Medan adalah menghimbau masyarakat untuk berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar, memberi contoh kebaikan dengan cara mengajak mendengarkan dakwah, mensyiarkan ajaran islam kepada umat, menyampaikan ajaran Al-Qur’an terhadap umat dan memperbaiki aqidah akhlak (contohnya: mendirikan sholat, berperilaku sopan dalam berbusana), berjuang dalam menghadapi kezaliman dan memerangi setiap hal yang tidak disukai Allah, contohnya berjudi, meminum khamar, memakan yang haram dan menduakan Allah, sebuah penghormatan Allah kepada pribadi muslim untuk memikulnya dan hanya pada orang mulia saja, melindungi sistem/ajaran yang mengatur seluruh tatanan kehidupan, dan melindungi suatu alat yang digunakan untuk berpikir dan dapat membedakan baik dan buruk.
Persoalan yang menarik dari representasi sosial terhadap amar ma’ruf nahi munkar ini adalah, bahwa masyarakat berasumsi penegakkan amar ma’ruf nahi munkar itu termasuk gerakan radikal-fundamentalis, artinya sesuatu yang ditakuti dan diwaspadai. Hal ini dikuatkan dengan penelitian Badriyah (2013) menyatakan
kebanyakan masyarakat, tetapi lebih kepada gerakan yang mencoba mencari legitimasi agama demi mewujudkan kepentingannya. Namun, hasil penelitian Artha (2012), mengatakan adanya komodifikasi dalam pemberitaan mengenai FPI di media online. Komodifikasi adalah upaya mengubah apapun menjadi komoditas atau barang dagangan sebagai alat untuk mendapat keuntungan.
Melihat hasil penelitian di atas, kemungkinan besar ada masyarakat lain yang belum terlalu paham akan apa yang digalakkan FPI, masyarakat lain hanya sering melihat berita yang dimuat di dalam media, dengan kata lain kebenaran yang sesungguhnya masih harus dipertanyakan.
Amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuatu yang subjektif oleh pengurus FPI, berhubungan dengan nilai, konsep, dan atribut lain yang mereka pahami. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Fishben dan Ajzen tentang belief. Beraninya FPI dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah karena melihat kondisi di Indonesia yang penuh dengan ketidakamanan, ketidaksejahteraan, dan tidak stabilnya kontrol sosialnya, lalu FPI berpikir bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah belief yang bisa berdampak baik jika diterapkan di Indonesia. Sejalan dengan pengertian belief yang merupakan hasil dari observasi sehingga seseorang dapat mempunyai belief tentang suatu tingkah laku tertentu.
Berdasarkan penelitian ini, maka dapat diketahui pula bahwa FPI dalam memaknai konsep amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuatu tujuan yang wajib dilakukan oleh umat manusia, guna melindungi akal, agama, dan keturunan.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Al-Qasim (2009) bahwa pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar merupakan upaya atau usaha dalam memelihara lima perkara
urgen, yaitu: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kemudian ketika semua orang sudah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka kehidupan ini akan sejahtera dan bahagia. FPI mengambil sikap bahwa dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka semua akan merasakan keamanan dari segala sisi, sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Fishben dan Ajzen (Hogg, 2011) bahwa belief dapat mempengaruhi pembentukan sikap. Aspek sikap konatif adalah salah satu aspek yang sebahagian besar membuat anggota FPI melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Berdasarkan penelitian ini, dapat diketahui bahwa objectification tentang amar ma’ruf nahi munkar pada pengurus FPI Medan adalah perintah agama Islam.
Objectification mengacu pada penerjemahaan ide yang abstrak dari suatu objek ke dalam ide yang lebih konkret (Deaux dan Philogene, 2001). Hal tersebut berarti bahwa amar ma’ruf nahi munkar sebagai sesuatu yang abstrak bagi pengurus FPI Medan diterjemahkan kedalam ide yang lebih konkret yaitu sebagai sebuah tujuan.
Elemen-elemen representasi sosial adalah informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap. Elemen informasi dapat terlihat dari pengetahuan pengurus FPI Medan tentang langkah-langkah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Elemen keyakinan dapat terlihat dari alasan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Elemen pendapat dapat dilihat dari situasi untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Elemen sikap juga dapat terlihat dari alasan melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
2. Langkah-langkah dalam melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar adalah berdakwah, hisbah kemudian jihad. Berdakwah adalah menyampaikan ditengah-tengah masyarakat yang kurang mengerti tentang pemahaman islam. Metode yang digunakan oleh FPI dalam berdakwah adalah dengan cara lemah lembut, berkasih sayang, tegas, penuh bijaksana, dan mengedepankan sifat-sifat nabi yaitu siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), amanah (terpercaya), fatanah (cerdas) menyesuaikan dengan kondisi masyarakat (kegemaran masyarakat) sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Berhisbah atau memerintah orang untuk melakukan kebaikan jika ia melanggarnya, dan berjihad di jalan Allah untuk menegakkan agama Allah, dan rela mati untuk berjuang dalam memerangi segala jenis kezaliman di muka bumi Allah ini.
Sejalan dengan visi misi organisasi FPI yakni penerapan syariat Islam secara menyeluruh di bawah naungan Khilaafah Islamiyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan da’wah, penegakan hisbah dan pengamalan jihad (Rizieq, 2008). Dakwah berarti menyampaikan sesuatu yang benar sesuai syariat Islam melalui cara-cara yang hikmah, penuh kasih sayang, dan kelembutan (Wawancara Imam Daerah FPI Medan, 2016). Hisbah maknanya menegakkan kebaikan dalam kondisi kebaikan tersebut sudah jelas-jelas tidak dilaksanakan, dan mencegah kemungkaran yang sudah jelas-jelas dilaksanakan. Setiap Aksi FPI dalam melaksanakan Hisbah wajib memenuhi prosedur dibawah ini, berikut pemaparannya:
1. Laporan Masuk: baik laporan dari masyarakat maupun dari anggota FPI.
Laporan ini wajib tertulis dan diterima secara resmi oleh organisasi FPI yaitu : sekum di tingkat DPP dan sekretaris di tingkat DPD, DPLN, DPW, DPC dan DPRa.
2. Investigasi: laporan tersebut dibawa dalam rapat pengurus FPI untuk pembentukan Tim Investigasi yang bertugas menghimpun fakta dan data.
3. Pemetaan: hasil investigasi dianalisa dalam rapat pengurus FPI untuk memetakan wilayah juang. Apabila dari hasil analisa dan pemetaan tersebut disimpulkan bahwa kemaksiatan yang terjadi tersebut didukung oleh masyarakat sekitar, maka wilayah tersebut disimpulkan sebagai Wilayah Da’wah, sehingga FPI wajib mengirim Para Da’i untuk melakukan pembinaan masyarakat di wilayah tersebut. Sedang apabila dari hasil investigasi dan analisa masyarakat setempat menolak kemaksiatan tersebut, maka wilayah tersebut ditetapkan sebagai wilayah Hisbah, sehingga prosedur selanjutnya adalah :
4. Laporan Keluar: setelah menetapkan wilayah maksiat tersebut adalah wilayah Hisbah maka FPI wajib menulis surat ajakan ke ulama, tokoh dan ormas Islam serta kelompok masyarakat lainnya untuk bersama FPI memprotes dan menolak tempat kemaksiatan tersebut. FPI wajib melakukan penggalangan dukungan terus-menerus dari masyarakat dan Ulama setempat. Selain itu juga FPI wajib menulis surat protes ke pejabat sesuai tingkatan (SATPOL PP, POLSEK, POLRES, POLDA, POLRI, LURAH, CAMAT, BUPATI/ WALIKOTA, GUBERNUR, MENTERI, PRESIDEN, DPRD, DPR RI) untuk minta menghentikan
kemaksiatan tersebut. Surat Protes tesebut wajib dilampirkan tanda tangan warga sekitar tempat maksiat yang dikeluhkan sebanyak-banyaknya.
5. Dialog: setelah surat dikirim baik ajakan ke Ulama dan ormas Islam setempat maupun protes ke pejabat setempat untuk berdialog dan mengajak mereka memberantas kemaksiatan dan tempat maksiat melalui kebijakan resmi Negara.
6. Demontrasi: dilakukan di kantor pemerintah yang berwenang (SATPOL PP, POLSEK, POLRES, POLDA, POLRI, LURAH, CAMAT, BUPATI/
WALIKOTA, GUBERNUR, MENTERI, PRESIDEN, DPRD, DPR RI). Apabila pejabat setempat kurang merespon dialog sebagaimana prosedur nomor 5 diatas, maka demonstrasi dilakukan setelah melalui evaluasi dan analisa hasil dialog.
7. Ultimatum: dilakukan setelah surat kepada pejabat setempat dan tempat kemaksiatan yang berupa Peringatan Keras berdasarkan dalil hukum agama dan argumentasi hukum negara untuk menghentikan segala bentuk kemaksiatan.
8. Aksi: apabila juga tidak direspon oleh pejabat pemerintahan setempat setelah langkah ke tujuh diatas dilakukan, maka pengurus FPI melakukan langkah hukum dan lobby politik serta aksi simpatik lainnya.
9. Resiko: resiko dalam melakukan aksi tersebut harus di tanggung sabagai konsekwensi logis dari perjuangan. Resiko dapat berupa tuntutan balik, dimanfaatkan politisi, difitnah, atau bahkan penjara dan kematian.
10. Evaluasi: setelah 9 tahapan dilakukan maka wajib untuk melakukan evaluasi terhadap aksi-aksi hisbah yang sudah dilakukan.
Jihad adalah berperang melawan musuh-musuh Allah untuk menegakkan agama Allah, serta rela mati akan perjuangan itu. Tahapan terakhir adalah
kematian yang menjadi pertaruhan dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Sejalan dengan langkah-langkah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar versi Al-Qasim (2009), yakni: pengenalan, nasehat, menyerahkannya ke ahluh hisbah, berulang-ulang kali dan tidak berputus asa, memberikan hadiah buku dan kaset bermanfaat, boleh melarangnya dan memukulnya dengan pukulan yang mendidik apabila kepada orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya, seperti istri, anak-anak, serta amar ma’ruf nahi munkar mengharuskan pelakunya untuk bersikap lembut, santun, lapang dada, sabar, penyayang, bersahabat, dan semuanya menuntur pengorbanan.
Hisbah dan jihad identik dengan agresivitas, karena melakukan sesuatu yang merusak/memerangi semua kemungkaran yang ada di bumi. Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bandura (dalam Kenrick, 2010) bahwa agresi adalah perilaku yang menyebabkan cedera atau kerusakan suatu benda. Menurut FPI, melakukan hisbah dan jihad adalah kewajiban karena melihat kondisi Indonesia yang memprihatinkan, maraknya maksiat dimana-mana, transaksi bebas narkoba, minuman keras mudah didapat, perjudian merajalela, dan sebagainya. Poin ke 7 dalam melaksanakan hisbah adalah ultimatum (dilakukan setelah surat kepada pejabat setempat dan tempat maksiat yang berupa peringatan keras berdasarkan dalih hukum agama dan argumentasi hukum negara untuk menghentikan segala bentuk kemaksiatan). Berdasarkan tahapan ke 7, jenis agresivitas yang dilakukan oleh FPI adalah agresivitas langsung, karena bertujuan menyakiti seseorang dengan berhadapan secara langsung dengan orang yang dimaksud, misalnya menghentikan dengan keras orang yang sedang berbuat maksiat.
3. Situasi dalam Melaksanakan Amar Ma’ruf
Situasi dalam melakukan amar ma’ruf adalah ketika banyaknya manusia yang tidak mau melakukan kebaikan, banyaknya melakukan kemungkaran, misalnya tidak ada yang mengerjakan ibadah, pengedaran narkoba, perjudian (keadaan manusia pada umumnya) dan masyarakat tidak resah dengan situasi keburukan yang ada di masyarakat tersebut, maka FPI berkewajiban untuk beramar ma’ruf atau mengajak kepada kebaikan. Sejalan dengan penjelasan di dalam buku Dialog FPI: Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam pembahasan prosedur standar dalam melaksakan hisbah poin ketiga, yaitu hasil investigasi dianalisa dalam rapat pengurus FPI untuk memetakan wilayah juang. Apabila dari hasil analisa dan pemetaan tersebut disimpulkan bahwa kemaksiatan yang terjadi tersebut didukung oleh masyarakat sekitar, maka wilayah tersebut disimpulkan sebagai Wilayah Da’wah, sehingga FPI wajib mengirim Para Da’i untuk melakukan pembinaan masyarakat di wilayah tersebut (Rizieq, 2008).
4. Situasi untuk Melaksanakan Nahi Munkar
Situasi yang membuat FPI Medan melakukan nahi munkar adalah ketika banyaknya manusia yang melakukan kemungkaran (keadaan manusia pada umumnya), misalnya berjudi, berzina, perdagangan wanita, pesta miras, tempat-tempat hiburan malam, dan banyaknya laporan bahwa masyarakat sekitar resah akan keadaan lingkungan sekitar mereka.
Sejalan dengan pengertian An-Nahyu artinya mencegah pengadaan sesuatu, sehingga pengertiannya mencakup: melarang, menjauhkan, menghindarkan, menentang, mengancam, melawan, peringatan, teguran, menyudahi serta lainnya
yang mencegah dikerjakannya sesuatu. Sedang Al-Munkar artinya sesuatu yang diingkari (kemunkaran), yaitu segala perbuatan munkar menurut Syari’at Islam dan menjauhkan pelakunya dari pada Allah SWT (Rizieq, 2008). Kemudian ketika masyarakat resah akan kondisi yang terjadi maka ditetapkan wilayah tersebut wilayah hisbah (penjelasan ada di prosedur standar FPI dalam melaksanakan hisbah).
5. Alasan dalam melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Alasan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah karena adanya faktor internal yaitu kewajiban dari Allah dan Rasul untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, sesuai Al-Qur’an dan Hadist. Sedangkan faktor eksternalnya adalah agar penduduk bumi diberikan keberkahan ketika semua berjalan sesuai syari’at, dan tidak akan diberi azab karena kita hanya diam saja lalu untuk mengabdi kepada Allah, memperbaiki akhlak, mengajak kebaikan, mencegah perbuatan zalim, memerangi orang-orang kafir jika mereka memerangi kita, siap mati dalam menegakkan agama Allah.
Sejalan dengan penjelasan singkat tentang amar ma’ruf nahi munkar pada karangan buku Habib Rizieq, yakni:
1. Pintu gerbang keberuntungan 2. Ciri umat terbaik
3. Sendi pembangunan akhlak 4. Tugas mulia para nabi 5. Penyebab turunnya rahmat
7. Kewajiban dari Allah SWT
Penegakan amar ma’ruf nahi munkar di suatu masyarakat akan mengantarkan kepada penciptaan kondisi yang mendorong manusia untuk berlomba dalam berbuat baik, dan saling menjaga serta melindungi dari segala bentuk kerusakan.
Dengan adanya penegakan amar ma’ruf nahi munkar akan terbuka pintu keberkahan, maksudnya kebahagiaan hidup yang mencakup berbagai sektor kehidupan manusia, di bidang hubungan antar manusia (mu’amalah), politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, ilmu pengetahuan, teknologi, industri dan sektor kehidupan lainnya.
Sesuai dengan apa yang ditulis oleh Al-Qasim (2009) bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban umat Muslim, yang memiliki banyak keutamaan, seperti: merupakan profesi dan tugas agung para rasul, temasuk ciri-ciri orang yang beriman dan shalih, untuk kebaikan umat, meneguhkan kedudukan umat, sebab-sebab turunnya pertolongan dari Tuhan, dan ganjarannya sangat istimewa.
Sedangkan apabila ditinggalkan, maka akan terjadi kebinasaan, siksaan (azab), tidak diterimanya doa, menafikan kebaikan umat, munculnya kebodohan, lenyapnya ilmu, dan terpuruknya umat di dalam kesewenang-wenangan.
Berdasarkan hasil penelitian tentang alasan FPI dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar bahwa benar salah satu belief yang harus dilakukan oleh FPI adalah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar agar keamanan, kesejahteraan, kesenangan, kenyamanan tercapai dan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk.
Sejalan dengan jenis-jenis belief, bahwa FPI dalam meyakini amar ma’ruf nahi munkar termasuk ke dalam jenis religious belief. Keyakinan dalam beramar
ma’ruf nahi munkar adalah sebuah keyakinan yang berhubungan dengan agama, karena termasuk menjadi salah satu perintah agama Islam, dalam hal ini FPI. Juga agama memberikan nilai plus seperti dukungan sosial, sebuah rasa makna, tujuan, arah tujuan hidup, lingkungan, dan mengembangkan kebajikan, seperti kejujuran dan integritas (Baumeister & Bushman, 2011), sejalan dengan pemikiran FPI dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Representasi sosial tentang tujuan amar ma’ruf nahi munkar pada pengurus FPI Medan tujuan untuk melindungi umat dan tujuan untuk melindungi diri sendiri.
2. Langkah-langkah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar menurut pengurus FPI Medan adalah melaksanakan dakwah terlebih dahulu, kemudian menegakkan hisbah, dan terakhir berjihad.
3. Situasi dalam melaksanakan amar ma’ruf adalah ketika manusia pada umumnya, lingkungan terdekat dan lingkungan masyarakat tidak berbuat baik.
4. Situasi saat melakukan nahi munkar menurut FPI Medan adalah ketika manusia pada umumnya, lingkungan terdekat, lingkungan masyarakat terinstitusi dan non institusi berbuat hal yang buruk, dan adanya penista agama.
5. Alasan utama pengurus FPI Medan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah berasal dari faktor internal yaitu karena kewajiban dari Agama sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mereka pahami.
B. SARAN
Adapun saran-saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah:
1. Saran Metodologis
a. Bagi peneliti yang tertarik mengenai representasi sosial amar ma’ruf nahi munkar dapat mencoba meneliti representasi sosial amar ma’ruf nahi munkar pada organisasi islam lainnya. Kemudian untuk memperkaya konsep – konsep representasi sosial amar ma’ruf nahi munkar pada FPI secara keseluruhan dan sempurna bisa menggunakan metode pendekatan kualitatif.
b. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk meneliti perbedaan amar ma’ruf nahi munkar dengan hisbah ditilik dari representasi sosialnya, kemudian meneliti hubungan konsep amar ma’ruf nahi munkar dengan radikalisme.
2. Saran Praktis
a. Bagi pengurus FPI Medan agar tetap bergerak dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan petunjuk teknis baku yang disusun oleh Imam Besar, guna untuk mengecilkan segala resiko yang ditimbulkan demi menjaga tujuan mulia organisasi. Kemudian, tetap mengutamakan kelembutan dan kebijaksanaan dalam mempengaruhi masyarakat untuk ber amar ma’ruf nahi munkar.
b. Bagi pemerintah dan lembaga – lembaga yang terkait dengan keagamaan, agar melindungi dan membuat kebijakan – kebijakan untuk
mengembangkan dan mengenalkan konsep amar ma’ruf nahi munkar agar tidak ada yang organisasi yang meleceng dari aturan yang sebenarnya.
c. Bagi masyarakat yang sudah mengetahui konsep amar ma’ruf nahi munkar yang sesungguhnya agar tidak berprasangka negatif terhadap organisasi FPI, karena sebenarnya ketika ingin melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, FPI selalu menjalankan tahap-tahap yang terstandarisasi, dan pihak berwajib pasti sudah mengetahuinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Al-Banna, H. (2007). Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Jakarta: Era Intermedia.
Al-Qasim, Malik Abdul. (2009). Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jakarta: IslamHouse Amin. (2010). Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Munkar. IslamHouse
Arianti. (2014). Tinjauan Sosiologi Huku terhadap Aksi Organisasi Masyarakat Front Pembela Islam (FPI) dalam kaitannya dengan Konflik Keagamaan di Kota Makassar. Skripsi. Fakultas Hukum Hasanuddin Makassar.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta Artha, D.A. (2012). Representasi FPI Pada Media Online (Analisis Wacana Kritis
Terhadap Portal Berita www.liputan6.com). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
Badriyah, Nurotul. (2013). Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Persfektif Front Pembela Islam (FPI): Studi Kasus di Surabaya. Thesis. UIN Sunan Ampel Surabaya
Baron, R.A, & Byrne, D. (2006). Social Psychology Elevent Edition. United States of Amerika.
Baumeister, R. F. & Bushman, B. J. (2011). Social Psychology and Human Nature. USA: Wadsworth Cengage
Bungin, HM Burhan., 2007, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media.
Daftar Aksi Front Pembela Islam. (2014). Retrieved Desember 19, 2015, from Wikipedia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_aksi_Front_Pembela_Islam
Daftar organisasi massa Islam di Indonesia. (2015, September 21). Retrieved
Desember 16, 2015, from Wikipedia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_organisasi_massa_Islam_di_Indonesi a
Damayanti, Rika. (2015). Prasangka Terhadap Front Pembela Islam pada Mahasiswa Muslim Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Skripsi Fakultas Psikologi USU.
Damayanti, Thayibi, Gardhiani, & Limy. (2003). Radikalisme Agama sebagai Salah Satu Bentuk Perilaku Menyimpang: Studi Kasus Front Pembela Islam. Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3 No. 1 Juni 2003 : 43-57
Deaux, K., Dane, F. C., & Wrightsman, L. S. (1993). Social Psychology In the '90s 6th edition. California: Wadsworth.
Depag RI. (1984). Al Qur’an dan terjemahnya. Jakarta
Flick, U. (1998). The Psychologu of the Social. Cambridge: Cambridge University Press.
Hadi, S. (2003). Metodologi Research: Jilid 1–4. Yogyakarta: Andi
Hogg, Michael A & Vaughan (2011). Social Psychology Sixth Edition. Newyork:
Prenticene Hall
Kenrick, D. T., Neuberg, S. L., & Cialdini, R. B. (2010). Social Psychologi: Goals in Interaction. Boston: Pearson Education
Khotimah, Husnul. (2015). Eksistensi Organisasi Keagamaan Front Pembela Islam (FPI) di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. Skripsi.
IAIN Ushuluddin Antasari
Latipun. (2008). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
Maradona, S. (2011, November 25). Mau Tau Berapa Jumlah Ormas di Indonesia. Retrieved Desember 21, 2015, from Republika.co:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/12/01/lv75sf-mau-tahu-berapa-jumlah-ormas-di-indonesia-ini-jawaban-mendagri
Moscovici, S. (2001). Social Representation : Explarations in Social Psychology, ed. Gerard Duveen. New York : New York University Press.Myers, D. G.
(2012). Social Psychology. New York: Mc-Graw-Hill Companies Inc.
Organisasi FPI untuk Pertama Kalinya. (n.d.). Retrieved Desember 16, 2015, from Front Pembela Islam: http://www.fpi.or.id/p/organisasi-fpi-untuk-pertama-kalinya.html
Poerwandari, E.K. (2009). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi.
Penerbit: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran. Jakarta:
Pendidikan Psikologi (PSP3) UI.
Rizieq, Muhammad Al-Habib. (2008). Dialog FPI: Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Jakarta: Pustaka Ibnu Sidah.
Robbins, Stephen P. (1994). Teori Organisasi: Struktur, Desain, dan Aplikasi. (alih bahasa: Jusuf Udayana). Jakarta: Arcan.
Smith A. J. (2011). Rethinking Psychology Dasar – Dasar Teoritis dan Konseptual Psikologi Baru. Bandung : Nusa Media.
Suliyanto, F. M. (2011). Pengaruh Terpaan Berita FPI terhadap Sikap Mahasiswa FISIP UAJY pada Organisasi FPI. Jurnal UAJY.
Thoha, Miftah. (1992). Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya.
Fisipol: Universitas Gadjah Mada
Visi-misi. (n.d.). Retrieved Desember 16, 2015, from Front pembela Islam:
http://www.fpi.or.id/p/visi-misi.html
Wagner, W., G. Duveen, D. Rose, et al. (1999). Theory and Method of Social Representations. Asian Journal of Social Psychology. Vol. 2 : 95 – 125.
Wursanto, Ig. (2005). Dasar-dasar Ilmu Organisasi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Zainuddin. (2009, Agustus 9). Hitam Putih FRONT PEMBELA ISLAM. Retrieved Desember 17, 2015, from Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan:
Zainuddin. (2009, Agustus 9). Hitam Putih FRONT PEMBELA ISLAM. Retrieved Desember 17, 2015, from Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan: