ANALISA DATA DAN INTERPRETAS
B. Analisa Data
4. Responden 4 (Taaruf) a Latar belakang responden
Nama responden adalah Ima (bukan nama sebenarnya). Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Pendidikan terakhir responden adalah tamatan SMA. Responden adalah warga negara Indonesia dengan suku bangsa Padang. Namun sejak kecil ia dibesarkan di Medan, sehingga budaya-budaya Padang asli tidak begitu melekat pada dirinya.
Responden menikah di usia 22 tahun. Ia menikah di usia tersebut selain karena memang sudah jodoh, juga karena ia juga sudah menargetkan diri untuk menikah di usia 20-an, dan niatan baiknya itu terkabulkan di usia 22 tahun. Proses perkenalan responden dan suami melalui proses taaruf yang diperantarai oleh seorang ustadzah. Proses perkenalan responden dan suaminya cukup singkat, hanya satu kali pertemuan dan itu sudah menghasilkan keputusan dan persetujuan
untuk melanjut ke tahap sesungguhnya, yakni menikah. Kini dari hasil pernikahannya, mereka telah dikaruniai dua orang anak, pria dan wanita.
Peneliti mengenal responden melalui seorang teman yang cukup dekat dengan responden. Awalnya peneliti meminta bantuan teman tersebut untuk menghubungi responden dan menanyakan kesediaannya dan suami untuk di wawancarai dalam penelitian ini. Setelah mendapat persetujuan dari keduanya, peneliti bersama teman kemudian mendatangi rumah responden setelah melakukan janji terlebih dulu.
b. Data Hasil Wawancara
1) Masa Perkenalan Sebelum Menikah
Responden menikah melalui proses taaruf. Responden menikah melalui proses taaruf dengan alasan ingin mencari kehalalan dan keridhoan Allah, melalu cara dan proses yang halal. Responden memilih menikah melalui taaruf juga didasari karena kepercayaan responden dengan proses yang melalui ustadzah responden.
“...kakak memilih taaruf untuk mencari kehalalan dan juga mencari keridhoan Allah. Dan juga kakak lebih percaya melalui ustadzah dan ustad gitu. Mungkin karena insya Allah ke-tsiqoh-an (kepercayaan) kakak kepada ustadzah maupun kepada ustad itu tadi. Seperti itu.”
(R4. W3/k. 344-355/hal. 105)
Awal perkenalan responden dengan suami karena dikenalkan oleh ustadzah responden melalui proses taaruf (perkenalan). Sebelum responden dipertemukan dengan calon suami, responden disuruh ustadzah responden untuk membuat biodata diri serta melampirkan foto. Beberapa waktu kemudian,
ustadzah responden memberikan biodata beserta foto calon suami kepada responden.
“Ya, kalo proses perkenalan taaruf itu memang gak melalui pacaran. Beda orang yang pacaran sama orang yang dikenalin sama ustadzahnya. Kemarin itu proses perkenalan kakak itu, kemarin dikenalkan sama ustadzah kakak. Dikenalkan bukan langsung dipertemukan. Kita disuruh buat biodata, dan disuruh fotonya juga, beserta dengan foto.”
(R4. W1/k. 13-37/hal. 80-81)
Responden tidak langsung menerima calon suami yang ditawarkan ustadzah kepada responden. Responden berusaha meyakinkan diri untuk mengambil keputusan dengan melakukan shalat istikharah. Responden mengakui bahwa disujud terakhir shalat istikharah, responden terbayang wajah calon suami. Padahal saat itu responden belum melihat foto calon suami yang diserahkan ustadzah kepada responden karena sebelumnya responden hanya membaca biodata calon suami dan belum melihat foto calon suami. Setelah responden melakukan shalat istikharah, dan terbayang sebuah bayangan, responden kemudian melihat foto calon suami dan ternyata wajah calon suami sesuai dengan wajah yang muncul dibayangan responden saat sujud terakhir shalat istikharah. Responden merasa kesesuaian ini adalah sebuah jawaban dari Allah. Hanya satu kali pertemuan taaruf dengan calon suami, responden langsung memutuskan setuju dan bersedia menikah dengan calon suami.
“...Ya kakak tidak langsung menerima, apa namanya, tidak langsung menerima yang ditawarkan ustadzah, gitu ya. Kita kan ada usahanya, shalat istikharah. Alhamdulillah sekali shalat istikharah dan dirakaat kedua di sujud terakhir Allah memberi jawaban, terbayang wajah calon suami saat itu. Ya, sementara kakak waktu itu belum melihat fotonya. Walaupun waktu itu udah diserahkan ke kakak tapi kakak tidak melihat fotonya;...Kakak langsung baca biodatanya aja. Waktu tu fotonya gak kakak buka-buka, shalat istikharah dulu, baru ada bayangan, baru kakak
buka, lho, ini kan foto yang ini, wajah yang di waktu jawaban Allah di sujud terakhir itu. Subhana Allah, langsung kakak iyakan, alhamdulillah sekali taaruf langsung menyatakan iya jadi.”
(R4. W3/k. 358-378/hal. 105)
2) Masa Pernikahan
Responden menikah dengan calon suami di usia responden yang ke 22 tahun. Responden mengatakan bahwa salah betul bila ada orang yang mengatakan bahwa mustahil bisa menikah tanpa didasari cinta. Buktinya, responden yang menikah tanpa didasari cinta pada awalnya, bisa tetap bertahan dalam menjalani pernikahan dan pernikahan yang responden jalani selama ini berjalan dengan baik-baik saja.
“...Jadi, salah betul kalo orang bilang tanpa cinta bisa nikah. Ya, insya Allah yang kami hadapi, ya ini, baik-baik saja.”
(R4. W1/k. 13-37/hal. 80)
Responden merasa bahwa tahun pertama pernikahan responden merupakan masa yang paling menyenangkan dan tidak terlupakan bagi responden. Apalagi responden mendapatkan suami yang ideal menurut responden. Responden merasa senang ketika berada di dekata suami, bagi responden, masalah seberat apapun bila ada suami di samping, responden tetap merasa senang. Menurut responden, masa yang paling menyenangkan dari pernikahan adalah masa di awal- awal pernikahan.
“Waktu nikah tahun pertama. Itu yang paling tak terlupakan.” (R4. W3/k. 198-200/hal. 102)
“Karena mungkin karena kita tidak pacaran ya. Terus begitu kita menikah dengan suami yang alhamdulillah ideal menurut kita, kayaknya senang aja, ada masalah berat, beban apapun tetap, selagi ada suami disamping ya
senang aja. Jadi kalo kakak bilang menyenangkan di tahun pertama;...kita kan pasti ada yang paling, ya di awal-awal menikah.”
(R4. W3/k. 202-213/hal. 102)
Menurut responden, komunikasi antara responden dengan suami berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Responden terkadang suka menelepon suami ke kantor menanyakan tentang pekerjaan suami, dan sebaliknya suami juga begitu kepada responden. Dimana pun berada, responden dan suami selalu berkomunikasi dan saling menelepon. Responden juga selalu terbuka dan jujur pada suami, tidak ada yang ditutup-tutupi.
“Kadang-kadang kakak suka nelpon ke kantor, gitu kan, nanya, kek mana kerjaannya, sebaliknya suami pun gitu. Di luar suami nanya. Ya, alhamdulillah kalo komunikasi kami lancar. Seperti itu. Dimana pun berada tetep telpon-telponan, dialog.”
(R4. W1/k. 186-193/hal. 83-84)
“Ya, insya Allah terbuka. Ya, alhamdulillah gak ada yang ditutup-tutupi, kalo suami gak tau lah ya, kalo kakak, insya Allah kakak jujur aja.”
(R4. W1/k. 213-216/hal. 84)
Responden selalu mengisi waktu luang responden bersama-sama dengan keluarga. Biasanya responden mengisi waktu luang responden bersama keluarga dengan pergi jalan-jalan bersama, silaturahim ke rumah keluarga atau pergi berenang. Terkadang, sambil jalan-jalan mengisi waktu luang, responden bediskusi dengan suami untuk saling memperbaiki diri atau membicarakan target- target rumah tangga responden dan suami ke depannya.
“Bersama keluarga. Kami waktu luang lebih sering, kalo gak jalan-jalan ato silaturahim, itu renang;...Terus itu sambil jalan-jalan kami berdiskusi untuk memperbaiki atau untuk membicarakan target-target rumah tangga ke depannya. Jadi, diskusi, waktu luang.”
(R4. W1/k. 274-286/hal. 85)
Menurut responden, setelah menikah responden merasa religiusitas dan ibadah-ibadah responden semakin meningkat. Responden merasa bahwa peningkatan ibadah responden setelah menikah disebabkan karena adanya dukungan dari suami, yang saling menguatkan dalam beribadah, sehingga semakin lebih baik.
“...kayaknya kebanyakan lebih baiknya setelah menikah, karena ada dukungan suami ya,..”
(R4. W1/k. 329-336/hal. 86)
“...setelah kita menikah, alhamdulillah lagi suami lah yang menguatkan. Jadi saling menegur;...”
(R4. W3/k. 140-154/hal. 100-101)
Masalah adalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah rumah tangga. Responden merasa sedih dan kecewa pertamanya bila terjadi masalah dalam rumah tangganya, namun kemudian responden beristighfar dan menyadari bahwa masalah adalah salah satu hal yang memang harus dihadapi dalam setiap rumah tangga.
“Ya, yang jelas sedih dan kecewa pertamanya. Tapi, kakak lama-lama ya istighfar aja. Oh ini salah satu kendala-kendala dalam rumah tangga yang harus diatasi.”
(R4. W2/k. 21-29/hal. 87)
Masalah yang biasanya sering terjadi dalam rumah tangga responden diakibatkan karena kurangnya komunikasi responden dengan suami. Umumnya, responden sudah merajuk duluan sebelum mengkonfimasi masalah yang terjadi kepada suami responden, misalnya tentang masalah keterlambatan suami pulang kerja atau ketidaksesuaian antara rencana yang dibuat dengan kenyataan yang
terjadi. Responden menyadari bahwa seharusnya responden tidak langsung merajuk sebelum mengkonfirmasi terlebih dulu penyebab masalah yang terjadi kepada suami.
“...masalah keterlambatan pulang kerja,...Terus, e... apa... tidak sesuai dengan agenda, schedule yang kita atur, gitu.”
(R4. W2/k. 7-17/hal. 80)
“Ya inilah dengan menanyakannya. Memang sih, jujur saja awalnya merajuk duluan, nanyanya belakangan gitu, itu kan salah sebenarnya.” (R4. W3/k. 115-120/hal. 100)
Responden merasa bahwa sifat mudah merajuk responden muncul sejak responden menikah dan sifat itu hanya terjadi kepada suami responden. Menurut responden bila responden berada di keluarga, responden mampu bersikap lebih dewasa. Responden merasa bahwa sikap responden yang mudah merajuk dipengaruhi setelah menikah karena responden merasa sudah ada suami sebagai tempat responden bermanja, selain itu juga dipengaruhi karena responden adalah anak perempuan paling kecil di keluarga jadi manja, sedangkan suami responden adalah anak paling besar di keluarga suami, sehingga sikap suami jauh lebih dewasa khususnya dalam menyikapi sifat reponden yang mudah merajuk.
“Memang kakak orangnya suka merajuk, mungkin karena faktor anak paling kecil perempuan kali ya, dan suami juga paling besar, jadi dia lebih dewasa, kakak lebih kekanak-kanakan;...”
(R4. W3/k. 4-26/hal. 91)
“...karena anak paling kecil itu suka manja. Tapi kalo dikeluarga, di keluarga kakak, kakak lebih dewasa, entah kenapa sama suami aja.”
(R4. W3/k. 46-61/hal. 99)
“Ntah kenapa setelah kakak menikah pula jadi seperti itu. Kakak pun heran.”
Suami responden mampu menyikapi sifat responden yang mudah merajuk dengan sabar dan bijaksana. Terkadang, suami responden berpesan agar responden jangan terlalu sering merajuk. Menurut responden, suami responden sudah ideal sekali bagi responden. Menurut responden, suami responden orang yang mengayomi, tidak banyak bicara, namun sekali bicara suami responden bisa membuat responden tertekun.
“Jujur aja kakak orangnya keras, kakak sering suka merajuk. Ya, tapi alhamdulillah, suami yang sering sabar dalam menyikapinya.”
(R4. W1/k. 158-167/hal. 83)
“Tapi jangan sering-seringlah merajuk sama abi, katanya gitu.” (R4. W3/k. 4-26/hal. 91)
“...suami lebih dewasa, dia juga pande menyikapi, memberi saran, jangan terlalu banyak cemburunya, nanti syetan yang berlebih-lebihan, katanya gitu. Insya Allah, kakak terima.”
(R4. W1/k. 252-259/hal. 85)
“Kalo menurut kakak udah subhana Allah kali. Udah ideal kali lah. Mengayomi, terus dia juga orangnya gak banyak cakap, cuma sekali cakap kita kena, maksudnya gak nyindir gitu tapi kita langsung dibuatnya tertekun gitu;...”
(R4. W3/k. 123-135/hal. 100)
Hubungan responden dengan mertua dan keluarga suami berjalan dengan baik. Responden yang mudah akrab dengan orang lain, maka di awal pernikahan responden langsung berusaha mendekatkan diri dengan mertua. Saat selesai akad nikah pada saat pesta pernikahan, responden baru pertama kali ketemu dengan mertu, masih kaku. Responden langsung memanggil mertua responden dengan sebutan “mamak”, sehingga dengan begitu responden semakin cepat akrab dengan mertua. Hubungan responden dengan keluarga responden yang lain juga berjalan dengan baik, rukun, dan tidak ada konflik antara satu dengan yang lainnya.
“...mungkin karena kakak orangnya, ini ya, bangsa yang cepat akrab, sama keluarga mertua lebih cepat akrab, karena waktu, istilahnya kita kan waktu habis akad, walimahan gitu kan masih kaku gitu ya sama orang tua suami. Karena kan baru sekali ketemu gitu. Ya, kakak langsung manggil mamak, menyebutkan mertua itu langsung mamak, cepet gitu, akrab. Ya, alhamdulillah keluarga kami, kakak, lekat juga, cepat juga lekatnya.”
(R4. W1/k. 135-153/hal. 83)
“Akur ya. Jadi semua kami akur dan rukun. gak ada cekcok dan konflik- konflik lain.”
(R4. W2/k. 100-101/hal. 89)
Setelah menikah, responden tetap menjalin hubungan dengan teman-teman responden. Responden dan teman-teman responden tetap saling berhubungan, saling memberi kabar, sms, telpon-telponan dan terkadang jika ada acara, responden masih sering diajak.
“...sejak kakak menikah kami gak renggang dalam persahabatan itu tetap,kalo sms, telpon, acara-acara rihlah di ajak.”
(R4. W2/k. 131-147/hal. 89-100)
Menurut responden, kondisi ekonomi keluarga responden saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan responden dan keluarga sehari-hari. Responden berusaha mengelola dan mengatur gaji yang diberikan suami responden agar cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama sebulan dan kalau bisa berlebih sehingga bisa ditabung, karena menurut responden, kayanya sebuah keluarga tergantung pada kemampuan istri dalam mengelola keuangan dengan baik dan hemat.
“Ya, alhamdulillah mencukupi, gitu ya.” (R4. W2/k. 35-42/hal. 87-88)
“Ya, kakak kelola ya, pokoknya kakak atur. Jadi kalo misalnya gaji suami itu sekian, sebulan itu kalo bisa cukup, gitu. Bahkan alhamdulillah ada lebihnya. Itu tadi ya, kaya nya dalam rumah tangga itu tergantung istri.”
(R4. W2/k. 54-81/hal. 88)
Dari gaji yang diberikan suami selama ini, responden mampu mengelola gaji tersebut sehingga ada lebihnya. Uang gaji yang mampu dikelola responden hingga berlebih ditabung oleh responden. Tabungan yang disimpan responden dari sisa belanja selama sebulan tidak semuanya diberitahukan responden kepada suami. Sebagian tabungan responden beritahukan kepada suami, namun ada sebagian lagi yang responden rahasiakan dari suami dengan tujuan sebagai pegangan bila sewaktu-waktu ada kebutuhan yang mendadak sementara suami tidak punya uang jadi tabungan rahasia tersebut bisa dipergunakan.
“Ya, alhamdulillah, dari nafkah yang diberi suami bisa kita simpan, bahkan ada tabungan yang bahkan suami tidak tahu. Itu memang harus, suami tidak tahu, karena, kita gak tau ya, suatu saat ntah kejadian apa-apa gitu kan, terus, e.. jadi kita udah ada pegangan;... sewaktu-waktu ada keperluan mendadak sementara gaji suami belum keluar, gaji istri juga belum keluar. Nah gitu, kek simpanan yang rahasia itu bisa kita apakan, pergunakan, seperti itu.”
(R4. W2/k. 54-81/hal. 88)
Responden merahasiakan sebagian tabungan dari suami bukan karena responden tidak percaya dengan suami. Responden hanya berjaga-jaga agar tabungan rahasia tersebut bisa menjadi pegangan bila sewaktu-waktu dibutuhkan dana segera, responden sudah ada uangnya, dan sudah terbukti waktu kemaren ada keperluan mendadak, suami belum gajian, responden juga tidak punya pegangan uang, jadi tabungan tersebut bisa dipergunakan saat itu.
“Ya alasannya untuk pegangan. Bukan kita tidak percaya dengan suami, kita kan gak tau situasi nantinya,...Dan sudah terbukti ya, dari simpanan yang tidak suami ketahui itu, waktu saat, sementara dia belum gajian, kakak juga belum ada pegangan uang, itu pas-pas uang yang kita belanjakan. Sementara ada sesuaatu yang harus dibutuhkan saat itu dana.
Alhamdulillah lebih, dari uang tabungan yang kakak tidak kasih tau ke suami, lebih dari yang dia butuhkan. Ya udah kakak serahkan.”
(R4. W3/k. 385-423/hal. 105-106)
Responden dan suami selalu mengkomunikasikan bila memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Responden dan suami hanya melakukan hubungan seksual dalam keadaan sama-sama mau. Kalau misalnya sedang ada masalah atau sedang capek, maka lebih baik tidak berhubungan, karena jika berhubungan maka akan ada satu yang merasa tidak enak. Menurut responden, salah satu keharmonisan rumah tangga itu dipengaruhi juga oleh intensitas hubungan yang sering dan juga afeksi yang baik dalam melakukan hubungan seksual antara suami dan istri. Afeksi yang baik itu bila kedua pasangan melakukan hubungan seksual dengan dilandasi kesepakatan mau sama mau, tidak ada keterpaksaan, sehingga timbul perasaan senang dalam melakukan hubungan seksual.
“Ya, yang jelas, ditanya dulu, kalo misalnya lagi ada masalah, lebih bagus gak usah, seperti itu kan. Nanti yang satu tidak enak. Terus kan ini ya, salah satu keharmonisan rumah tangga itu kalo apa namanya itu, afeksi yang dalam sex itu baik dan juga sering itu, insya Allah lebih harmonis lagi;...Tapi, kalo kami, alhamdulillah ya sering gitu”
(R4. W2/k. 377-390/hal. 94)
“Ya menyenangkan gitu, tidak ada yang menyakitkan, tidak ada keterpaksaan, memang ada kesepakatan mau sama sama mau.”
(R4. W3/k. 288-291/hal. 103)
“...suami sering nanya, kalo capek, udah gak usah. Ya, suami itu sering nanya apa kondisi istri. Ditanya dulu kondisi istrinya gitu. Ya, ahamdulillah dengan adanya itu, ya alhamdulillah baik-baik aja.”
Responden menjalani peran-peran dalam rumah tangga dengan baik. Responden merasa senang dalam menjalani peran-peran responden dan responden berusaha untuk melakukan setiap peran dan tugasnya dengan senang hati. Responden menyerahkan diri pada Allah, mudah-mudahan Allah membantu responden dalam menjalani peran-perannya. Peran responden sebagai istri juga tetap responden jalankan walaupun responden sedang dalam keadaan merajuk.
“Ya, alhamdulillah senang. Bawa senang aja. Yang penting begitu bekerja, begitu kita sudah memiliki anak, dengan bismillah, insya Allah, Allah membantu kita;...”
(R4. W2/k. 285-294/hal. 92-93)
“Kakak pun gitu merajuk semarah-marah apapun tugas sebagai istri tetap kakak layani gitu, kayak macam sarapan paginya, makan malamnya, terus untuk menyalamnya waktu dia berangkat kerja, pulang kerja, itu tetap.” (R3. W3/k. 30-38/hal. 98)
Usia pernikahan responden kini sudah memasuki usia tiga tahun. Saat ini, responden sudah dikaruniai dua orang anak. Responden dan suami sama-sama berperan dan bekerja sama dalam pengasuhan anak. Saat anak responden masih satu orang, suami berperan mengasuh anak di waktu malam, suami responden berperan dalam menidurkan anak, mengajak anak gosok gigi, berwudhu sebelum tidur dan sebagainya. Setelah anak kedua lahir, bila suami responden di rumah maka suami berperan dalam mengasuh anak yang pertama sedangkan responden mengasuh anak yang kedua. Menurut responden, bagaimana pun sibuknya suami, anak tetap membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah, oleh karena itu suami sebagai ayah tetap harus berperan dalam pengasuhan anak. Jadi responden dan suami saling berbagi tugas dalam mengasuh anak.
“Maksudnya gini lo, kalo malam itu, kan sekarang dah dua ya, dulu waktu anaknya satu kalo malam si abi tugasnya,...apakah dia mengelon, mengelon anaknya, gitu, untuk membuat cerita dongeng mengenai keislaman, ya seperti itu. Bagi-bagi tugas. Jadi yang, kalo yang kedua ini, si abi pegang, ngurus anak yang pertama, kakak yang ngurus kedua, karena kan masih kecil.”
(R4. W3/k. 230-241/hal. 102)
“....Gimana pun kan, karena abi nya kerja dari pagi pulang sore, malam, anak harus sama abi, gitu, karena kan butuh juga dekat sama abi nya, nanti kalo dekat ma kakak aja, susah juga. Jadi harus lebih dekat gitu.”
(R4. W1/k. 230-249/hal. 84-85)
Responden berusaha mendidik dan mengasuh anak-anak responden dengan konsep dan cara yang islami sesuai dengan ajaran agama. Misal, ketika ayah anak pergi bekerja, responden mengajarkan anak untuk menyalami ayahnya dan mengucapkan salam, ketika makan responden mengajarkan anaknya membaca doa sebelum makan.
“Kalo cara mendidik anak, tetap yang islami kakak ajarin, yang pertama,...”
(R4. W3/k. 263-281/hal. 92)
“...keluarga itu kakak apakan sesuai agama, dalam menata keluarga, dalam mendidik anak-anak pun kakak ajarkan sesuai dengan agama. Contohnya, jika abi nya pergi, kakak suruh anak-anak salaman dan ucapkan salam, seperti itu juga ketika makan, kakak ajarkan dia baca doa, karena dia belum bisa, jadi kakak yang bacakan, dia mengikuti.”
(R4. W1/k.309-322/hal. 86)
Responden berusaha untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak- anaknya. Bahkan bila terkadang responden sedang merajuk pada suami, responden berusaha untuk tetap bersikap manis dan tersenyum dihadapan anak- anak. Sehingga anak-anak tidak merasakan dan tidak melihat gejolak emosi orangtuanya.
“Terus di depan anak-anak tetap kakak, tetap seloro, biar gak nampak. Tetap seloro, tetap tersenyum.”
(R4. W3/k. 41-44/hal. 99)
Responden merasa bahwa saat baru-baru menikah, hubungan responden dan suami begitu mesra, namun setelah responden memiliki anak, perhatian suami responden menjadi terbagi-bagi. Setelah memiliki anak, responden merasa kurang diperhatikan oleh suami. Menurut suami responden, responden juga tetap diperhatikan, walaupun sedikit tapi tetap diperhatikan. Responden tidak merasa cemburu dengan anak karena hak anak untuk mendapatkan perhatian ayahnya, sekarang responden berusaha menyadari bahwa kini perhatian suami sudah terbagi. Responden memanfaatkan masa ketika jalan berdua dengan suami, karena saat berdua tanpa membawa anak membuat responden merasa kembali diperhatikan suami karena perhatian suami menjadi penuh untuk responden saat berdua.
“...waktu baru menikah kita kan mesra, bisa apa tu, lebih dekat gitu. Ibaratnya, suami itu cuma ma kakak perhatiannya. Punya anak, sekarang dua, dua, jadikan tiga perhatiannya kan, dibagi-bagi lagi;...Bagaimana pun itu hak anak, harus diperhatiin.”
(R4. W2/k. 247-257/hal. 92)
“Ya. Mungkin menurut kakak itu kita kurang diperhatikan. Tapi bagi suami kita juga diperhatikan, walaupun sikit-sikit kan, karena kan dah dibagi tiga, anak dua istri satu. Jadi ya perasaannya ya dibilang cemburu gak, gak ada. Cuma gini aja, oya, menyadari udah terbagi ni. Tapi alhamdulillah itu tadi waktu kami jalan berdua itu rasanya perhatiannya itu penuh, semua umminya gitu, karena anak-anaknya gak dibawa kan jadi ke kakak semua perhatiannya.”
C. Interpretasi Data