• Tidak ada hasil yang ditemukan

Escherichia coli ENTEROPATOGENIK K1.1

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 15 Oktober 1969, sebagai anak ke-4 dari tujuh bersaudara, dari pasangan Drs.H.Yusuf Azidin dan Hj. St. Fatimah. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan IPB, lulus pada tahun 1993. Penulis melanjutkan studi kejenjang S2 di Program Studi Ilmu Pangan IPB dan lulus pada tahun 2000. Pada tahun 2003, penulis melanjutkan studi S3 di Program Studi Ilmu Pangan.

Sejak tahun 1994, penulis bekerja sebagai staf pengaajar di Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat pada Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan hingga sekarang.

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ……… iii

DAFTAR GAMBAR ………... v

DAFTAR LAMPIRAN ……… vii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……… 1

B. Lingkup Penelitian ……….. 3

C. Tujuan Penelitian ……… 4

D. Hipotesis ………. 4

II. TINJAUAN PUSTAKA

       A. Teratai   ……….     5 

B. Anti-Diare ……… 10

C. Prebiotik ……….. 17

D. Beberapa Bakteri Penyebab Diare ………. 23

E. Sistem Imun Saluran Pencernaan ……… 30

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Penelitian ………. 35

B. Bahan dan Alat ……… 35

C. Metode Penelitian ……… 36

D. Prosedur Analisis ………. 43

E. Analisis Data ……… 55

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tanaman Teratai ………. 56

B. Komposisi Kimia Biji dan Umbi Teratai ……… 59

C. Antimikroba Biji dan Umbi Teratai ……… 60

D. Komponen Fitokimia Ekstrak Biji dan Umbi Teratai ... 68

E. Fraksinasi Ekstrak Etil asetat Biji dan Umbi Teratai dan Uji Aktivitas Fraksi ... 70

F. Identifikasi Senyawa Antimikroba Beberapa Fraksi Ekstrak

Biji dan Umbi Teratai ………... 76

G. Analisis Fraksi Karbohidrat dari Biji dan Umbi Teratai ………. 79

H. Evaluasi Aktivitas Biologis Biji Teratai dan Ekstrak Biji Teratai

1. Penelitian Pendahuluan ………. 81

2. Penelitian Lanjutan ... 86

3. Histologi tebal mukosa usus halus tikus percobaan... 104

4. Pengaruh pemberian tepung biji teratai dan ekstrak etil asetat biji teratai terhadap kandungan imunoglobulin A(IgA) usus halus tikus percobaan ... 108

V. KESIMPULAN DAN SARAN………….……… . 113

DAFTAR PUSTAKA ………... 115

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Komposisi kimia tepung biji teratai ……… 7

2. Komposisi asam amino dan asam lemak esensial tepung biji teratai 8

3. Sifat fisik dari tepung biji teratai ……….. 9

4. Persamaan dan perbedaan serat pangan, inulin dan oligofruktosa … 18

5. Komposisi ransum tikus percobaan modifikasi AOAC 1990 ……… 40

6. Komposisi kimia biji dan umbi teratai ………... 59

7. Sifat fisik dan rendemen ekstrak biji dan umbi teratai ... 60

8. Diameter penghambatan (mm) ekstrak heksana, etil asetat dan

etanol biji dan umbi teratai ... 64

9. Pertumbuhan bakteri EPEC K.1.1 dan Salmonella Typhimurium pada

media NB yang mengandung ekstrak etil asetat biji dan umbi teratai 66

10. Diameter penghambatan (mm) ekstrak etil asetat biji dan umbi teratai

dibandingkan dengan antibiotik terhadap EPEC K.1.1 dan S.Typhimurium... 67

11. Komponen fitokimia ekstrak biji dan umbi teratai ... 69

12. Nilai Rf fraksi ekstrak etil asetat biji dan umbi teratai ... 71

13. Diameter penghambatan (mm) dari ekstrak etil asetat biji (2%) dan

fraksi-fraksinya (2%) terhadap EPEC K1.1 dan S. Typhimurium... 75

14. Diameter penghambatan (mm) dari ekstrak etil asetat umbi (2%) dan

fraksi-fraksinya (2%) terhadap EPEC K1.1 dan S. Typhimurium ... 75

15. Senyawa-senyawa dugaan yang terdapat pada fraksi ekstrak etil asetat

biji dan umbi teratai ………. 78

16. Kadar gula yang terdapat pada biji dan umbi teratai (mg/g sampel) ... 79

17. Total mikroba isi sekum dan mukosa sekum pada tikus percobaan

yang sehat dan yang di intervensi EPEC K1.1... 91

18. Total E.coli isi sekum dan mukosa sekum pada tikus percobaan

yang sehat dan yang di intervensi EPEC K1.1 ... 94

19. Total BAL aerob dan anaerob isi sekum dan mukosa sekum pada

20. Tebal mukosa (µm) usus halus tikus percobaan kelompok sehat…. 105

21. Tebal mukosa (µm) usus halus tikus percobaan kelompok yang

diintervensi EPEC K1.1 ……… 106

22. Kandungan Imunoglobulin A (Ig A) secara imunohistokimia pada

usus halus tikus percobaan yang sehat dan yang diintervensi EPEC K1.1 ……… 111

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Mekanisme peranan prebiotik ………. 23

2. Efek dari infeksi EPEC pada sel epitel usus inang ……….. 25

3. Mekanisme yang menginduksi respon IgA pada saluran pencernaan 33 4. Prosedur ekstraksi biji/umbi teratai ……….. 37

5. Bagan penelitian secara in vivo ……… 41

6 . Pengukuran tebal mukosa pada usus halus ... 53

7. Teratai (Nymphaea pubescens Willd) ………. 56

8. Buah teratai (a), buah yang pecah (b) dan biji teratai (c) ………… 57

9. Umbi teratai (Nymphaea pubescens Willd) ... 58

10. Penghambatan ekstrak etil asetat biji dan umbi teratai dengan

konsentrasi 10, 20 dan 30% terhadap S. Typhimurium. ... 61

11. Penghambatan ekstrak etil asetat biji dan umbi teratai dengan

konsentrasi 5,10, 20 dan 30% terhadap EPEC K.1.1 ……… 61

12. Bioautogram menunjukkan penghambatan ekstrak etil asetat biji

terhadap EPEC K1.1 dan S.Typhimurium ... 72

13. Bioautogram yang menunjukkan penghambatan ekstrak etil asetat umbi terhadap S.Typhimurium dan EPEC K1.1 ………. 73

14. Koloni Bifidobacterium bifidum dan Lactobacillus acidophilus

yang dapat memfermentasi gula (glukosa, oligosakarida) ... 80

15. E.coli dari isi sekum tikus percobaan dengan perlakuan pemberian

tepung biji teratai dosis 10, 20 dan 30 MIC………. 83

16. E.coli dari mukosa sekum tikus percobaan dengan perlakuan

pemberian tepung biji teratai dosis 10, 20 dan 30 MIC... 84

17. BAL aerob isi sekum tikus percobaan dengan perlakuan pemberian tepung biji teratai dosis 10, 20 dan 30 MIC... 85

18. BAL aerob mukosa sekum tikus percobaan dengan perlakuan

Pemberian epung biji teratai dosis 10, 20 dan 30 MIC... 85

19. Konsumsi ransum rata-rata (g), kenaikan berat badan rata-rata (g) dan efisiensi ransum (%) tikus percobaan kelompok yang sehat .… 87

20. Konsumsi ransum rata-rata (g), kenaikan berat badan rata-rata (g) dan efisiensi ransum (%) tikus percobaan yang diintervensi EPEC K1.1……….. 88

21. Fotomikrograf jejenum tikus percobaan dengan pewarnaan HE... 107 22. Foto mikrograf jejenum tikus perlcobaan yang diwarnai secara

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teratai merupakan tanaman air yang banyak tumbuh secara alami di perairan rawa atau sungai yang tidak begitu dalam dan berair tenang. Kalimantan Selatan yang memiliki rawa seluas 800 000 ha (BPS Kalimantan Selatan 2000) banyak ditumbuhi tanaman air salah satunya adalah teratai. Bagian tanaman teratai ini yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan adalah bunga, biji, batang dan umbinya. Akan tetapi yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk, terutama di daerah Hulu Sungai Utara adalah bijinya. Biji buah teratai oleh penduduk setempat sering dijadikan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras disaat paceklik ataupun dijadikan tepung untuk membuat kue. Berdasarkan hasil penelitian Kairina dan Fitrial (2002) diperoleh hasil bahwa dari setiap rumpun teratai rata-rata terdapat 5.3 buah teratai tua yang menghasilkan 63.10 gram biji teratai kering. Biji teratai kering inilah yang kemudian dikupas kulitnya dan dijual dipasar.

Di daerah dengan sistem persawahan tadah hujan dimana sebagian besar areal persawahan di musim hujan terendam air memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tanaman air, terutama teratai. Meskipun demikian, hanya sedikit dari petani yang memanfaatkan tanaman teratai sebagai sumber penghasilan di musim hujan. Oleh karena itu, pemanfaatan tanaman teratai dianggap belum optimal. Sementara umbinya, selama ini tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja ketika sawah dibersihkan untuk persiapan menanam padi.

Secara tradisional masyarakat memanfaatkan biji dan umbi teratai sebagai obat diare dan disentri. Umbi segar yang sudah ditumbuk halus diseduh dengan air matang, kemudian didinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus (Depkes 1997). Demikian pula dengan biji teratai. Pengobatan dengan biji teratai untuk disentri yang berkepanjangan dilakukan dengan mengukus biji hingga matang, kemudian dijemur dan ditumbuk menjadi bubuk. Bubuk selanjutnya ditambahkan pada menu makanan sehari-hari, dilakukan tiga kali sehari (SENIOR 2004).