Gerakan “agraria” adalah suatu bentuk gerakan sosial yang mengusung isu keadilan dan demokrasi agraria. Gerakan agraria tidak hanya dilakukan dalam bentuk gerakan petani, tetapi juga bisa dilakukan oleh aktor-aktor lain selain petani yang mengusung agenda perubahan agraria. Gerakan petani bisa disebut sebagai gerakan agraria karena aktor gerakan terdiri atas petani dan non petani, basis massa utamanya adalah petani, isu utama gerakan adalah persoalan agraria, dan agenda utamanya adalah perubahan tatanan agraria. Jadi yang dimaksud dengan gerakan agraria dalam studi ini secara spesifik menunjuk pada “gerakan petani”. Oleh karena itu, dalam bahasan selanjutnya sebutan “gerakan agraria” dalam studi ini secara khusus menunjuk pada “gerakan petani”. Masing-
31 Kebijakan agraria yang tidak responsif terhadap kepentingan petani, yakni berbasis paradigma modernisasi pembangunan yang berorientasi pertumbuhan ekonomi dan didukung stabilitas politik yang menekan ternyata telah gagal dalam meningkatkan pemerataan pendapatan. Dalam skala mikro banyak petani miskin yang menjadi korban pembangunan. Oleh karena itu proses modernisasi berjalan seiring dengan kegagalan pembangunan atau modernisasi tanpa pembangunan.
masing akan dipakai secara bergantian sesuai dengan konteksnya (umum dan khusus) tersebut.
Selain menjadi suatu konsepsi untuk menjelaskan realitas, maka gerakan agraria oleh petani juga difahami sebagai suatu institusi yang selalu berusaha bagaimana sistem agraria yang diharapkan dapat terwujud. Oleh karena itu, konsepsi gerakan agraria oleh petani (atau gerakan petani) dalam studi ini tidak dapat terlepas dari obyek representasinya, yakni organisasi gerakan petani.32
Melalui perspektif itu, maka organisasi gerakan petani dituntut untuk memiliki visi, misi dan mengidentifikasi tujuan-tujuanya dengan pilihan terhadap suatu gerakan sosial dan berusaha melaksanakan tujuan-tujuan tersebut secara konsisten, baik tujuan jangka pendek (material) dalam bentuk gerakan sosio-politik maupun
tujuan jangka panjang (postmaterial) dalam bentuk gerakan sosio-kultural.
Secara garis besar ada tiga pokok masalah yang akan dijelaskan dalam studi ini. Pertama, tentang sejauh mana realitas struktur hubungan agraria terkonstruksi sehingga menjadi prakondisi utama munculnya gerakan petani. Ini berhubungan dengan derajat ketegangan hubungan agraria (structural straints)
yang mengandung suatu kondisi struktural yang mendukung atau memberi peluang (structural condusiveness) bagi dilakukannya tindakan kolektif petani. Secara khusus bagian ini akan dikonsentrasikan pada persoalan penguasaan tanah masyarakat petani berhubungan dengan negara (pemerintah) dan swasta (perusahaan), termasuk di dalamnya upaya kolektif (perjuangan) petani dalam menyelesaikan persoalan pertanahan yang dihadapi tersebut.
Kedua, kondisi-kondisi utama yang mendukung dilancarkannya aksi-aksi
kolektif dalam gerakan petani. Diduga ada tiga kondisi utama yang saling terkait, yaitu struktur peluang politik, struktur mobilisasi sumberdaya, dan pembingkaian kolektif. Pertama, struktur peluang politik difahami sebagai derajat keterbukaan politik yang memungkinkan dilakukannya aksi-aksi kolektif petani. Kedua, struktur mobilisasi sumberdaya merupakan proses di mana suatu organisasi gerakan
32 Banyak ahli yang sepakat bahwa “gerakan sosial sebagai organisasi dan aktivitas terorganisir”. Sosiolog politik awal seperti Lenin (1929) dan Michels (1949) menempatkan dimensi organisasional gerakan sosial sebagai topik utama dalam kajiannya. Kemudian McCarthy dan Zald’s (1973, 1977) dalam mengembangkan perspektif mobilisasi semberdaya meletakkan dimensi organisasional sebagai tahapan sentral dan organisasi gerakan sosial menjadi focal unit of analysis. Sejak itu, kemudian berlangsung perdebatan (Gamson, 1990; Melluci, 1989; Piven dan Cloward, 1977) tentang peranan sentral organisasi formal dalam beroperasinya gerakan sosial dan tentang apakah organisasi formal tersebut menfasilitasi atau justru sebagai perintang dalam upaya mencapai tujuan gerakan. Dalam perkembangan lebih lanjut Sidney Tarrow (1994) membedakan antara gerakan sosial sebagai organisasi formal dan organisasi aksi kolektif. Meskipun pembedaan ini penting, tetapi terasa sulit jika dipergunakan untuk memahami operasi dan dinamika gerakan sosial, termasuk hampir semua gerakan berhubungan dengan aksi-aksi kolektif, tanpa merujuk pada organisasi dan karakteristik organisasional (Lihat Doug McAdam dan David A. Snow. 1997. Social Movements: Reading on The Emergence, Mobilization, and Dynamics. Los Angeles, California: Roxbury Publishing Company., hal.xxii).
petani menjamin kontrol terhadap sumberdaya gerakan petani. Ketiga,
pembingkaian kolektif difahami sebagai suatu proses interpretasi bersama dan sebagai suatu proses konstruksi sosial yang dilakukan oleh para aktor yang menjadi mediasi antara peluang politik tersebut dengan aksi-aksi kolektif petani.
Ketiga, sejauh mana urgensi gerakan petani dalam proses perubahan
sistem agraria di era demokratisasi saat ini. Persoalan ini berhubungan dengan kondisi-kondisi yang menunjukkan kemampuan gerakan petani dalam mencapai tujuannya sesuai dengan klaim-klaim yang diperjuangkan. Analisis persoalan ini mencakup proses dinamis gerakan petani. Oleh karena itu, disini terdapat dua urgensi gerakan petani, yakni dalam mencapai tujuannya sesuai dengan kekuatan sumberdaya yang dimiliki, dan arah kecenderungan aktivitas gerakan dalam mencapai tujuannya sesuai dengan klaim-klaim yang diperjuangkan.
Dipilh wilayah penelitian di Provinsi Lampung didasarkan pada alasan obyektif dan subyektif (lihat sub bab tentang Desain Penelitian). Analisis tentang dinamika gerakan petani yang direpresentasikan oleh organisasi gerakan petani dibatasi berlangsung dari tahun 1998-2009. Gerakan petani ini sengaja dipilih berdasarkan dua kategorikan utama, yakni konstruksi dari bawah dan dari atas (lihat sub bab tentang Desain Penelitian).
1.5. Kebaruan (Novelty)
Kebaruan penelitian ini berada pada tataran konsepsi, lokus penelitian dan pendekatan teoritik. Pertama, pada tataran konsepsi berhasil menggunakan
konsep “involusi” untuk menjelaskan dinamika gerakan agraria (gerakan petani) yang terjadi di era demokratisasi saat ini. Kedua, lokus penelitian gerakan petani
skala provinsi, khususnya di era demokrasisasi saat ini, sejauh yang penulis ketahui belum pernah diteliti secara akedemis. Petani yang terlibat dalam gerakan petani skala provinsi Lampung adalah yang mengalami berbagai kasus konflik pertanahan dan berasal dari berbagai wilayah komunitas petani basis.
Gerakan petani skala provinsi di era demokrasitasi lebih tepat dijelaskan menggunakan teori mobilisasi sumberdaya dalam perspektif konstruksionisme sosial. Perspektif ini memperhatikan dualias orientasi material dan postmaterial
(keduanya saling mendukung). Karena peran integratif antara elemen aktor petani dan non petani di dalam struktur gerakan petani skala provinsi, maka perlu redefinisi konsep “gerakan petani” yang memposisikan kedua elemen aktor tersebut bersifat komplementer.
Penggunaan pendekatan teori mobilisasi sumber daya perspektif konstruksionisme sosial dalam penelitian ini ada perberbedaan dan persamaan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya, seperti penelitian Ngadisah (2003), Wahyudi (2005) dan Victor Silaen (2006) dan Oetami Dewi (2006), sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Perspektif Teori Dalam Studi Gerakan Agraria
Peneliti Klasik Perspektif Teori dalam Studi Gerakan Sosial Neoklasik (Fungsional) Mobilisasi Sumberdaya Gerakan Sosial Baru Ngadisah (2003) - V - V Wahyudi (2005) - V V (interest-Tilly) - Victor Silaen (2006) - - - V Oetami Dewi (2006) V V - -
Terdapat tiga aspek perbedaan dan kesesuaian. Pertama, berbeda dengan penelitian Ngadisah, Wahyudi dan Oetami Dewi karena perspektif teori mobilisasi sumberdaya dalam studi ini menolak asumsi-asumsi yang dibangun oleh perspektif teori fungsional (neoklasik). Kedua, sama dengan kesimpulan
teoritik dari penelitian Wahyudi, tetapi dalam studi ini tidak hanya memperhatikan aspek kepentingan (interest) sebagai faktor utama dalam gerakan petani, tetapi juga memperhatikan grievances, values dan ideology. Ketiga, sama dengan
Ngadisah dan Victor Silaen yang memasukkan gerakan agraria dalam perskeptif gerakan sosial baru (new social movement) antara lain dilihat dari struktur
organisasi, orientasi gerakan (postmaterial), dan penguatan identitas organisasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA