• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik agraria berkepanjangan di Indonesia adalah warisan kolonialisme yang terpusat pada persoalan ekonomi-politik dan berlanjut pada masa kemerdekaan. Kondisi ini menurut teori Edward Azar,218 minimal didasarkan

pada empat kondisi utama. Pertama, adanya beragam identitas komunal yang mewarisi prinsip “memecah belah dan menguasai”. Negara dijadikan alat dominasi kelompok yang satu dan tidak mau merespon kebutuhan kelompok yang lain. Kedua, terjadi perampasan kebutuhan dasar kelompok masyarakat

tertentu dan negara gagal mengatasinya. Ketiga, peran negara dalam posisi kritis (tidak mampu, picik, rapuh, dan otoriter) dalam memuaskan keinginan dasar rakyatnya. Keempat, keterkaitan internasional dalam posisi tergantung dalam

hubungan politik-ekonomi. Formasi institusi sosial dan politik dalam negeri serta dampaknya terhadap peran negara sangat dipengaruhi oleh pola hubungan di dalam sistem internasional.

Kesimpulan Azar tersebut menunjukkan adanya dua gugus realitas sistem agraria, yakni masa kolonialisme dan kemerdekaan. Pertama, keduanya berbeda

dalam episode kekuasaan rezim tetapi dalam beberapa hal mengandung unsur kontinuitas, seperti “hak menguasai (sumber agraria) oleh negara” yang bersifat antagonis terhadap petani. Dengan kata lain, kebijakan agraria kolonial bebasis “domeinverklaring” masih tetap berlaku pada masa kemerdekaan. Kedua, kedua

gugus sistem agraria tersebut terpusat pada orientasi ekonomi-politik, berada pada jalur tahapan kapitalisme (kolonial hingga neoliberal) dan berjalan seiring

217 Data resmi Pemerintah Provinsi Lampung menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin tahun 2006 tercatat sebanyak 1.561.700 jiwa, atau 21,1 persen dari jumlah penduduk Lampung yang tercatat sebanyak 7,4 juta jiwa. Angka kemiskinan di Lampung ini ternyata lebih tinggi dari angka kemiskinan tingkat nasional sebesar 17,75 persen. Angka pengangguran pada tahun 2006 tercatat 375.325 jiwa, merupakan suatu peningkatan sangat siqnifikan dibanding angka pengangguran tahun 2005 yang tercatat 366.920 jiwa (Bappeda Propinsi Lampung. 2006. Penganggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat di Provinsi Lampung. Makalah disampaikan dalam acara Seminar “Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Lampung”, yang diselenggarakan oleh KAGAMA Lampung, Tanggal 14 Desember 2006 di Bandar Lampung).

dengan munculnya dua realitas sosial lain yang terkait, yakni konflik dan gerakan agraria.

Gambaran historis tentang perkembangan kapitalisme dan gerakan agraria dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan, pada satu sisi, dalam hal tertentu terdapat diskontinuitas, tetapi dalam beberapa hal lain bersifat kontinum. Sistem kapitalisme berkembang di dalam ruangnya sendiri sesuai dengan kepentingan rezim. Posisi petani dalam sistem agraria kolonial dan kemerdekaan tetap marginal dan karena posisinya itu selalu direspon oleh petani dengan gerakan perlawanan. Secara historis, gerakan-gerakan agraria di Lampung merupakan suatu proses reaksi adaptif terhadap perkembangan sistem agraria yang tetap tidak responsif terhadap nasib petani. Gerakan tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yakni: 1) gerakan tradisional, 2) gerakan transisi moderan, 3) gerakan moderen, dan 4) gerakan transnasional.

1. Gerakan Tradisional

Selama masa kolonial di Lampung telah berkembang tiga tahapan sistem kapitalisme (perdagangan, negara dan korporasi) yang berpengaruh terhadap perubahan sistem agraria. Perubahan struktural tersebut memperlemah dan memingggirkan otoritas masyarakat adat. Kekuasaan tertinggi masyarakat adat atas sumberdaya agraria dirampas dan diganti dengan kekuasaan kolonial. Tindakan kolonial ini mendapat reaksi penolakan keras dari masyarakat adat. Reaksi penolakan tersebut diwujudkan dalam gerakan tradisional. Dikatakan gerakan tradisional karena didasarkan pada ikatan (solidaritas) tradisi yang memiliki kekuatan sentimen, perasaan dan ikatan primordial (masyarakat adat marga), serta diperkuat oleh ideologi tradisional. Bentuk gerakan tradisional ini bersifat komunal terpisah-pisah (segmented), sehingga memberi corak sebagai

gerakan yang berlokus lokal, mudah dilokalisir dan dilemahkan. Di Lampung, gerakan perlawanan keras masyarakat adat terjadi mulai sejak intervensi VOC sampai terbunuhnya Raden Intan II tahun 1856. Hancurnya gerakan perlawanan masyarakat adat di Lampung bukan hanya karena kuatnya serangan balik pihak lawan (penguasa kolonial) tetapi juga karena terjadi pengeroposan (penghianatan) dari dalam gerakan itu sendiri. Kapala-kepala kampung mudah terjerat siasat kolonial Belanda yang terkenal, yakni devide et empera,

mempengaruhi dan mengadu domba. Seperti Sultan Lingga berhasil dibujuk untuk menyerahkan buronan, yakni Raden Imba II, dan juga terbunuhnya Raden

Intan II oleh Belanda akibat pengkhianatan Raden Ngerapat, Kepala Kampung Tataan Udik.219

Seperti yang terjadi di Lampung, protes dan pemberontakan petani di Jawa selama masa kolonialisme sebagaimana disajikan dalam ketiga karya Sartono Kartodirdjo (Protest Movement in Rural Java, 1973; Pemberontakan Petani Banten 1888, 1984; Ratu Adil, 1984) juga dapat dilemahkan dan dipatahkan.

Bahkan melalui kebijakan agraria yang dikeluarkan akibat tekanan para pemodal, maka sistem agraria semakin diperkuat menguntungkan pemerintah Belanda dan para pemodal asing. Gerakan-gerakan tradisional di Indonesia terjadi dengan basis ideologi tertentu sebagai tandingan.220 Jika gerakan tradisional di Banten

dan di Sukamanah Tasikmalaya berbasis ideologi agama, maka gerakan tradisional di Lampung pada masa awal pemerintahan kolonial berbasis pada ideologi nativisme, yakni berorientasi pada kembalinya tata kehidupan masyarakat adat.

2. Gerakan Transisi Moderen

Gerakan transisi moderen tidak lagi berbasis pada ideologi nativisme tetapi pada ideologi kedaulatan atau kemerdekaan. Gerakan ini muncul seiring dengan berdirinya beragam organisasi gerakan lintas etnik dan agama melancarkan aksi- aksi anti asing, menentang dominasi kolonial atau secara implisit termasuk menentang sistem agraria kolonial. Di Lampung, lawan gerakan tidak hanya tertuju kepada penguasa kolonial tetapi juga kepada para ketua marga (pesirah) bentukan kolonial (1928). Simbol penolakan diaktualisasikan dalam tindakan atau pernyataan dalam setiap aksi-aksinya. Sistem marga ditentang dan dituntut segera dihapuskan karena dianggap melestarikan feodalisme yang dikontrol kolonialisme dan imperialisme, sehingga melegitimasi keberlanjutan penderitaan petani. Mereka mendirikan kelompok Anti Sistem Marga (Anti Marga Stelsel) dan

membentuk Panitia Penggugat Stelsel Marga, kemudian mereka dengan gencar melancarkan propaganda anti Pesirah. Gerakan ini didukung oleh PKI, SI dan PNI tetapi ciri gerakanya masih tradisional dan lokal (daerah Lampung) dan terkonsentrasi di perkotaan atau segmented. 221

219 Depdikbud. 1987.

Risalah Peperangan Di Daerah Lampung Tahun 1856:Gugurnya Raden Inten II Pahlawan Nasional Daerah Lampung. Alih Bahasa M. Tahir Raden Batin. Bandar Lampung: 31/12/1987, hal. 43-89. 220 Beberapa ideologi tandingan yang dipergunakan dalam gerakan tradisional adalah millerianisme (ajaran

akan datangnya jaman keemasan), mesianisme (kepercayaan kepada ratu adil), nativisme (gerakan kembali ke abad kuno) dan perang suci (ajaran untuk berjihad) (Sartono Kartodirjo. 1984. Op.Cit., hal. 8-10). 221 Depdikbud. 1987. Op.Cit., hal. 100-105.

Mekipun dilihat pola organisasinya lebih maju dari gerakan tradisional, tetapi gerakan transisi moderen tersebut belum termanafestasi dalam solidaritas organisasional yang dapat mengintegrasikan masyarakat Lampung secara horizontal dan dalam jejaring skala nasional. Gerakan inipun gagal karena selain masih menyentuh pada kalangan menengah atau hanya sampai pada lapisan tipis penduduk desa juga terjadi penangkapan besar-besaran oleh penguasa kolonial sekitar tahun 1935-1937.222

3. Gerakan Moderen

Aksi penangkapan tidak menyurutkan semangat perjuangan dan organisasi gerakan semakin berkembang ke arah bentuk gerakan moderen. Para elit organisasi semakin bersemangat untuk berjuang dan mampu mengkaitkan kekuatan vertikal dan horizontal. Ke atas memperkuat jejaring tingkat nasional dan ke bawah menjangkau akar rumput. Proses komunikasi (penyadaran) dan partisipasi politik tidak lagi terkonsentrasi pada kalangan elit organisasi tetapi semakin merasuk ke lapisan bawah. Aspirasi, partisipasi dan kesadaran politik petani menjadi semakin terbuka dan terintegrasi ke dalam arus gerakan nasional. Masyarakat Lampung semakin akrab berkenalan dengan ideologi-ideologi politik egalitarian dari luar desa dan melalukan afiliasi politik, sehingga gerakan petani meninggalkan ciri transisi menjadi gerakan bercorak moderen. Gerakan moderen lebih terintegrasi dan massa petani dapat dimobilisasi ke dalam gerakan-gerakan politik, sehingga berhasil merebut kemerdekaan Indonesia (1945).

Gerakan agraria meskipun tidak berposisi sebagai elemen sentral dalam arus gerakan perubahan tetapi keberadaanya tetap menjadi bagian utama dalam gerakan transformasi kemerdekaan. Pada masa kemerdekaan obyek tanah menjadi masalah utama dan petani tampil sebagai basis utama dalam gerakan politik agraria moderen. Hanya saja, petani pada masa ini menjadi terpecah dalam beberapa afiliasi politik seiring berkembangnya beberapa organisasi gerakan dengan aliran atau ideologi politik yang beragam. Organisasi-organisasi petani lahir dan berkembang dibidani oleh partai-partai politik. Realitas ini mengubah posisi desa menjadi ladang politik nasional, atau persoalan politik agraria tingkat desa semakin terintegrasi ke arena politik nasional.

Realitas di atas menjadikan kepentingan petani sebagai bagian dari isu agraria yang terpolitisasi ke dalam agenda politik nasional melalui organisasi

petani yang berada di bawah kontrol partai-partai induk. Keragaman afiliasi politik petani kemudian terpolarisasi ke dalam dua kelas, yakni petani miskin dan tuan tanah. Polarisasi ini jika ditarik pada arena ekonomi-politik internasional terpusat atau berporos pada pertarungan antara dua ideologi asing, yakni sosialisme dan kapitalisme. Pertentangan antara tuan tanah dan petani membuat ketegangan di desa jauh lebih keras daripada di kota. Tetapi, kapabilitas negara dan partai politik ternyata tidak cukup kuat dalam menghadapi gejolak agraria di pedesaan. Justru lembaga tradisional yang berakar pada masyarakat pedesaan yang cukup kuat mengatasi gejolak agraria di aras desa.223 Agenda gerakan agraria yang

syarat kepentingan petani miskin menjadi kandas.

4. Gerakan Transnasional

Realitas di atas juga bermakna sebaliknya, yakni ruang kapitalisme semakin terbuka. Era modernisasi pembangunan bergerak cepat mencapai sasaran jauh ke dalam relung masyarakat pedesaan dan berjalan seiring dengan berkembangnya gerakan-gerakan moderen bersifat konsensus (consensus movement) yang terorganisir dan terintegrasi. Hingga akhir dasawarsa tahun 1980-an, ketika konflik pertanahan semakin sering terjadi akibat penggusuran, pengambil-alihan dan pembebasan tanah-tanah komunitas setempat maka gerakan petani bersifat konfliktual menjadi sering muncul, meskipun masih berciri sederhana seperti aksi-aksi protes yang sporadis, spontan, dan tidak terorganisir dengan baik. Memasuki dasawarsa tahun 1990-an mulai muncul gerakan- gerakan lokal-tradisional, yakni mengandalkan otoritas tradisional setempat. Gerak perjuangan petani tersebut tetap berbasis pada isu material (pertanahan).

Pada tataran makro nasional (dan juga dirasakan di wilayah Lampung) sejak masa itu terjadi tarik menarik antara kapitalisme aristokrasi (berporos pada keluarga cendana) yang mulai mapan dengan arus neoliberalisme internasional. Sejalan dengan berkembangnya fenomena tersebut, gerakan agraria mulai di dikembangkan ke arah gerakan sosio-politik berbasis pada isu-isu non meterial (termasuk kearifan lokal) yang terintegrasi dengan arus dukungan gerakan internasional. Tetapi lawan yang mereka bangun terkonsentrasi (secara tidak disadari) pada kekuatan negara dan belum terbangun jaringan horizontal (segmented) dan jaringan vertikal tingkat nasional (integrated).

223 Djoko Suryo. 1984. Gerakan Petani. Dalam Prisma. 1984. Kelas Menengah Baru: Menggapai Harta dan

Semakin kuat tekanan neoliberal berjalan seiring dengan semakin kuatnya tekanan masyarakat sipil terhadap rezim penguasa. Dengan semakin banyaknya terjadi konflik pertanahan di Lampung, maka tuntutan perubahan ke arah sistem agraria yang adil dan demokratis semakin kuat, termasuk di dalamnya gerakan petani. Ketika rezim penguasa sudah digulingkan, para aktivis gerakan tidak menyadari bahwa gerakan mereka masuk dalam jebakan arus kapitalisme global (neoliberal). Mereka inilah (rezim pasar bebas) yang semakin kuat mengontrol negara, berada di balik jatuhnya rezim Orde Baru dan kemudian diposisikan sebagai lawan gerakan.224 Artinya, anggapan bahwa negara Orde Baru sebagai

satu-satunya lawan gerakan yang harus digulingkan sebagaimana pandangan Gramsci, ternyata tidak sepenuhnya benar. Pandangan itu segera digeser diarahkan pada lawan gerakan yang lebih kuat berada di atas aras atau lokus negara, yakni rezim kapitalisme neoliberal yang mendominasi (mengontrol) kekuatan negara.225 Realitas ini oleh Richard J.F. Day disebut “domination of domination”, sehingga teori Gramsci dalam konteks ini dianggap sudah mati

(Gramsci is Dead).226 Jejaring gerakan agraria nasional dengan gerakan

transnasional semakin kuat, dan bahkan salah satu organisasi gerakan agraria transnasional dipegang oleh para penggiat (aktivis) organisasi gerakan di Indonesia, seperti organisasi La Via Campesina. Sering para penggiat gerakan

petani di Lampung yang ikut aksi-aksi kolektif di luar negeri akibat dari intensifnya berjejaring dengan organisasi gerakan transnasonal.

4.6. Ikhtisar

Masyarakat Lampung bersifat majemuk terdiri atas beragam kelompok etnik asli Lampung dan pendatang. Masing-masing etnik tetap eksis dengan adat- istiadatnya yang khas. Masyarakat adat Lampung memiliki struktur adat dan wilayah teritorialnya sendiri yang diikat secara genealogis berdasarkan prinsip nilai Pil-il Pesenggiri. Makna struktur adat sudah mulai bergeser mulai sejak masa Kesultanan Banten, dan dipertegas pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Ini berkonsekuensi pada semakin menyempitkan wilayah teritorial

224 Mansour Fakih. 2003. Op.cit.

225 Lihat: “Pandangan dan Sikap” dan “Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO)” Serikat Petani Indonesia (SPI) Periode 2007-2012. Jakarta: SPI, 2007.

226 Dalam era globalisasi saat ini persoalan ekonomi, politik dan kultural semakin menguat menjadi kepentingan negara-negara, terutama antar negara-negara maju, dengan membangun kekuatan supra nasional. Persoalan yang muncul di suatu negara, seperti negara berbembang dan gerakan-gerakan sosial yang mengiringinya sebenarnya bukan lagi terletak pada kekuatan negara tersebut tetapi terletak pada (disebabkan dan diciptakan) kekuatan supra nasional tersebut (Richard J.F. Day. 2005. Gramsci is Dead: Anarchist Currents in the Newest Social Movements. London: Pluto Press).

masyarakat adat, terutama setelah dikeluarkannya kebijakan Domeinverklaring

tahun 1870.

Perumbuhan penduduk Lampung menjadi semakin nyata ketika dilakukan program kolonisasi. Kebijakan ini diikuti banyaknya migrasi murni dengan alasan ekonomi. Semakin sempitnya lahan yang dimiliki petani mendorong mereka membuka lahan-lahan kawasan hutan. Realitas ini terus berlangsung pada masa pasca kemerdekaan hingga masa Orde Baru. Proses perubahan tersebut berjalan seiring dengan berubahnya status tanah pertanian di Lampung masa Orde Baru menjadi “aset negara” dan “komoditas” pasar. Meskipun realitas ini sebenarnya sudah berlangsung sejak masa kolonial, tetapi persoalan agraria (pertanahan) menjadi semakin kompleks pada masa Orde Baru. Penduduk Lampung tumbuh pesat, berebut tanah dan konflik pertanahan antara petani dengan negara dan swasta menjadi semakin tak terhindarkan.

Kondisi internal dan eksternal masyarakat petani di pedesaan Lampung secara khusus semakin mendorong meningkatnya persoalan stabilitas ekonomi rumah tangga tani dan secara umum semakin mendorong menurunnya stabilitas sosio-kultural masyarakat desa. Selama Orde Baru, upaya pembebasan dan pengambil-alihan tanah adalah banyak yang dikuasai oleh komunitas petani baik secara adat, secara historis, bahkan ada yang sudah memiliki bukti sertifikat. Saluran komunikasi sosio-politik dan hukum disumbat (mengabaikan hak-hak petani) sehingga aspirasi petani tidak dapat menjadi bagian penting dari berbagai kebijakan agraria di pedesaan. Hingga pasca reformasi kesejahteraan petani di pedesaan tidak mengalami perubahan berarti. Kemiskinan di pedesaan masih tinggi meskipun program-program pengentasan kemiskinan dengan berbagai cara sudah dilakukan.

Penderitaan petani yang bersifat struktural dan berlatar historis tersebut selalu melahirkan serangkaian perjuangan petani. Dalam rentang sejarah perkembangan masyarakat Lampung mulai masa penjajahan Belanda hingga saat ini telah terjadi empat kategori gerakan petani, yakni gerakan tradisional, gerakan transisi moderan, gerakan moderen, dan gerakan transnasional.

BAB V

KETEGANGAN STRUKTURAL AGRARIA SEBAGAI PRAKONDISI UTAMA MUNCULNYA GERAKAN PETANI DI LAMPUNG

5.1. Sumber Utama Ketegangan Struktural Agraria