BAB IV DESIGN GUIDELINE KAWASAN PRIORITAS
A. Rumah dengan Kandang a. Prinsip-Prinsip
Prinsip umum dalam perencanaan rumah dengan kandang antara lain :
Pengaturan letak kandang serta pengeloalan limbah yang dihasilkan menjadi biogas serta menata visual kawasan menjadi target utama dalam pengaturan kandang. Jika dimungkinkan dibuat kandang komunal dan mandiri sehingga memudahkan dalam pengaturan dan pengelolaan limbah kotoran kandang sehingga di dapat sumber biogas yang memadai guna mencukupi kebutuhan penduduk.
Dua hingga tiga sapi dapat menghasilkan ±2,5 liter biogas yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga atau jika dibuat kandang komunal yang dapat menghasilkan lebih banyak biogas dapat memberikan nilai ekonomis berupa pemasukan kepada masyarakat yang mengelolanya.
Selain itu limbah kotoran ternak bisa dibudidayakan sebagai pupuk organic. 1 (satu) sapi dapat menghasilkan ±40 l kotoran dalam sehari sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Jika dibuat kandang komunal yang dapat menghasilkan lebih banyak pupuk organik dapat memberikan nilai ekonomis berupa pemasukan kepada masyarakat yang mengelolanya.
b. Aturan/Anjuran a. Kualitas visual :
Pengaturan letak kandang di belakang rumah atau tidak terlihat langsung dari jalan utama. Jika tidak memungkinkan maka di gunakan tanaman/pohon sebagai pelingkup untuk menutupi kandang dari jalan. Hal ini dimaksudkan guna menjaga kualitas visual.
Letak hunian
Area pemanfaatan pekarangan rumah dg tanaman produktif; selain dapat membantu peningkatan kualitas lingkungan juga memberikan nilai ekonomis pemiliknya
Sumber: Rencana Tim, 2014
Gambar 4.4
Contoh Perspektif Rencana Peletakkan Kandang Mandiri di Belakang Rumah
b. Fisik dan Fungsi
- Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian.
- Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang. - Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi
yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Di antara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan
- Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat
- Setiap kandang harus disiapkan tempat penampungan limbah sementara untuk di alirkan ke penampungan limbah komunal.
- Setiap kelompok kandang ternak harus menyiapkan penampungan limbah komunal guna menampung limbah ternak dari penampungan sementara. Minimal kelompok adalah 2 buah kandang ternak.
- Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi dewasa adalah 1,25x2 m atau 2,5x2 m,dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
Sumber : www.google.com
Gambar 4.5
Contoh Gambar Skema Pengolah Limbah Ternak/Biogas 4.2. GUIDELINEPENATAAN JARINGAN JALAN
Jejalur berupa jaringan jalan adalah penghubung antara komponen kegiatan dari daerah satu dengan daerah yang lain. Disamping itu jaringan jalan juga akan mempengaruhi struktur tata ruang suatu kawasan.
4.2.1. Pola Jaringan Jalan
Rencana jaringan jalan merupakan penelahan pola jaringan jalan eksisting terhadap kecenderungan penduduk dari kawasan lain. Dari hasil pengamatan dapat ditentukan kelayakan pola jaringan yang telah ada, penggal-penggal jalan penunjang pola jaringan jalan, serta arahan bagi bentukan jalan yang baru, pola jaringan yang ada pada desa Ngraji adalah berbentuk linier organik. Rencana pengembangan jalan di desa Ngraji, pola atau struktur jaringan jalan yang diusulkan adalah pola linier formal untuk jalan putar desa dan pola linier organik untuk jalan lingkungan.
4.2.2. Hirarki Jalan
Dalam menunjang pola pergerakan kendaraan diperlukan jaringan jalan yang bersifat operasional. Untuk mendukung jaringan jalan yang operasional tersebut, diperlukan hirarki jalan yang ditentukan
berdasarkan fungsi jalan tersebut sebagai lintasan pergerakan lokal, kota maupun regional, adapun persyaratan jalan desa Ngraji menurut perannya :
1. Jalan Lokal Primer
- Kecepatan strategi minimal 20 km/jam - Lebar minimal 6 meter
- Tidak terputus walaupun memasuki desa 2. Jalan Lokal Sekunder
- Kecepatan strategi minimal 10 km/jam - Lebar badan jalan minimal 5 meter
- Lebar badan jalan tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau lebih, minimal 3,5 meter
-4.2.3. Bagian-Bagian Jalan 1. Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA)
a. Ditetapkan oleh pembina jalan b. Diperuntukkan bagi :
Median
Perkerasan jalan Jalur pemisah Bahu jalan Saluran tepi jalan Trotoar
Talud
Ambang pengaman Timbunan dan galian Gorong-gorong Perlengkapan jalan Bangunan pelengkap 2. Badan Jalan
a. Diperuntukkan bagi arus lalu-lintas dan pengaman konstruksi jalan b. Lebar, tinggi dan kedalaman ruang bebas ditentukan oleh pembina jalan
c. Tinggi ruang bebas jalan arteri dan jalan kolektor minimal 5 meter dengan kedalaman lebih dari 1,5 meter
3. Saluran Tepi/Drainase Jalan
Untuk penampungan dan penyaluran air, agar jalan bebas dari pengaruh air 4. Bangunan Utilitas
Pada sistem jaringan jalan primer dan sekunder dalam kota, dapat ditempatkan dalam DAMAJA a. Untuk yang berada di atas tanah ditempatkan di luar jarak tertentu dari tepi paling luar bahu
jalan atau perkerasan jalan sehingga tidak menimbulkan hambatan samping bagi pemakai jalan. b. Untuk yang berada di bawah tanah, ditempatkan di luar jarak tertentu dari tepi paling luar bahu
jalan atau perkerasan jalan, sehingga tidak mengganggu keamanan konstruksi jalan. Jarak ditentukan oleh pembina jalan.
5. Pohon-Pohon
a. Pada sistem jaringan primer dan sekunder dalam kota, pohon-pohon dapat ditanam di batas DAMAJA, median atau di jalur pemisah
b. Di luar ketentuan di atas harus disetujui oleh pembina jalan. Adapun ketegori jenis jalan terbagi atas beberapa kategori yaitu : 1. Jalan utama desa
Jaringan jalan yang berfungsi sebagai jalan utama desa yang menghubungkan ke dusun-dusun dan fungsi-fungsi utama desa lainnya.
2. Jalan lingkungan
Jaringan jalan pendukung ini berfungsi sebagai sirkulasi antar deret hunian ke deret yang lain maupun ke dusun lain
3. Jalan gang
Jaringan jalan ini menghubungkan antar hunian dalam satu dusun 4. Jalan produksi
Jaringan jalan ini menghubungkan antar lahan garapan/sawah yang berfungsi juga sebagai jalur pengangkutan hasil pertanian.
Aturan/Anjuran
1. Peruntukan jalan diklasifikasikan menjadi :
- Jalan lokal primer dengan lebar minimal 6 m dengan bahu jalan samping kiri kanan selebar 1.2 m. Ini untuk mengakomodasi arus lalu lintas pengguna jalan seperti pengguna kendaraan bermotor, juga para petani. Menyediakan trotoar dengan material yang berbeda dengan jalan utama desa bertujuan untuk mengakomodasi pejalan kaki, mempunyai saluran air di sisi pedestrian.
- Jalan lingkungan menjadi jalan lokal sekunder lebar minimal 5 m dengan bahu jalan samping kiri kanan selebar 1 m. Ini untuk mengakomodasi arus lalu lintas pengguna jalan seperti pengguna kendaraan bermotor, juga para petani. Menyediakan trotoar dengan material yang berbeda dengan jalan kampung untuk mengakomodasi pejalan kaki, mempunyai saluran air di sisi pedestrian.
- Jalan gang, jalan dengan lebar minimal 4 meter, untuk mengakomodasi lalu lintas warga untuk skala rumah tangga, terdapat saluran air disisi kiri dan kanan jalan gang.
- Jalan produksi, yaitu jalan yang terletak di area persawahan untuk mengakomodasi para petani dalam merawat persawahannya juga untuk mendistribusikan hasil panen mereka, lebar minimal 2 m, dengan saluran irigasi berada di sisi kiri dan kanan jalan produksi
Adanyastreet furniture (tempat sampah, tempat duduk, plaza, lampu penerang jalan, pohon) pada jalan utama desa dan jalan lingkungan untuk para pejalan kaki dimaksudkan untuk memberikan ruang yang nyaman, aksesibel, serta akomodatif bagi penggunanya.
2. Penataan Ruang jalan
Pertumbuhan dan perkembangan fisik kawasan cenderung mengikuti pola linier jaringan jalan yang ada. Jaringan jalan pada umumnya membentuk pola formal dan organik. Rangka utama struktur jaringan jalan yang di rencanakan antara lain jalan utama desa yaitu yang membentang di tengah tengah desa dan menghubungkan dari satu dusun ke dusun yang lain. Jalan utama desa terhubung dengan beberapa jalan kampung, gang, dan jalan tanah.
Penataan Ruang Jalan meliputi: A. Jalan Utama Desa
Sumber: Rencana Tim, 2014
Gambar 4.6
Contoh Perspektif Jalan Utama Desa (Jalan Danyang Kuwu