• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Desa Ngraji termasuk dalam Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah.Letak Desa Ngraji dekat dengan fasilitas jalan menuju Kota Purwodadi dan dilalui oleh jalan lokal sekunder yaitu jalan Danyang-Kuwu yang memiliki intensitas kendaaran yang cukup tinggi pada jam sibuk. Desa Ngraji terdiri dari 5 (lima) dusun, yakni: Dusun Ngraji, Dusun Ngablak, Dusun Dadabong, Dusun Cabean dan Dusun Tempel serta terdiri atas 6 Rukun Warga ( RW) dan 66 Rukun Tetangga ( RT). Desa Ngraji terletak di bagian Barat Daya Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan, yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pusat kota Purwodadi. Memiliki luas wilayah 564,38 Ha dengan pemanfaatan lahan sebagian besar berupa lahan sawah seluas 387,992Ha, sedangkan lahan untuk bangunan dan pekarangan seluas 90,86Ha, lahan kering seluas 70,861 Ha, dan fasilitas umum lainnya seluas 4,894 Ha.

Jumlah penduduk Desa Ngraji 10.863 jiwa yang terdiri dari 5415 jiwa laki-laki dan 5448 jiwa perempuan. Jumlah kepala keluarga di Desa Ngraj isebanyak 2715 diantaranya termasuk dalam penduduk miskin.

Sebagian besar penduduk di Desa Ngraji bermata pencaharian sebagai petani, dimana hampir 4.165 jiwa penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Di Desa Ngraji terdapat 5 kelompok tani yang cukup aktif, yakni Kelompok Tani Ngudi Makmur 1 terletak di Dusun Ngraji, Kelompok Tani Ngudi Makmur 2 terletak di Dusun Ngablak, Kelompok Tani Ngudi Makmur 3 terletak di Dusun Dadabong, Kelompok Tani Ngudi Makmur 4 terletak di Dusun Cabean dan Kelompok Tani Sido Makmur 5 terletak di Dusun Tempel. Kelima Kelompok Tani tersebut tergabung dalam GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) NGUDI MAKMUR. Dalam 1 tahun petani menanam padi sebanyak 2 kali dan 1 kali palawija

Selain bekerja sebagai petani, penduduk Desa Ngraji juga mempunyai usaha sampingan sebagai peternak dan sebagai pelaku usaha rumahan kecil menengah. Aktivitas penduduk di Desa Ngraji ini saling terkait dan mengisi, dimana pakan ternak banyak didapat dari jerami hasil pertanian dan ampas dari industri yang tidak terpakai bisa digunakan sebagai pakan ternak. Kegiatan beternak dan sebagai pelakuu usaha industri memberikan keuntungan secara ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun disisi lain juga menimbulkan masalah terkait limbah kotoran ternak dan industri dalam jumlah besar yang dapat menyebabkan adanya pencemaran lingkungan sehingga sangat mengganggu kenyamanan penduduk sekitar.

Permasalahan kotoran ternak sebenarnya merupakan potensi yang sangat menguntungkan bagi masyarakat Desa Ngraji, bahkan memiliki nilai ekonomis jika dikelola menjadi pupuk organik dan biogas (sumber energi alternatif). Hal tersebut telah dibuktikan oleh masyarakat desa sudah ada yang memulai menangani limbah kotoran ternak padat menjadi biogas dengan menggunakan Alat instalasi pengolahan

limbah kotoran ternak menjadi gas. Biogas yang dikelola mampu melayani 7 KK untuk kebutuhan gas rumah tangga, biogas ini murni berbahan utama kotoran ternak Untuk penanganan limbah industri contohnya tempe dan tahu di Desa Ngraji sudah didapati beberapa pengrajin memiliki Ipal yang juga bias digunakan sebagai biogas, sedangkan pengrajin tempe skala kecil ampas tempe di jadikan sebagai pakan ternak.

Penanganan yang tepat dalam pengelolaan limbah kotoran ternak dan sampah-sampah lain akan menjadikan wilayah Desa Ngraji lebih bersih, sehat, dan nyaman, serta mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Selanjutnya petani juga menjadi lebih mandiri dan kreatif, tidak lagi bergantung kepada pupuk anorganik.

Kegiatan masyarakat Desa Ngraji yang sebagian besar berprofesi sebagai petani membentuk karakter khas kawasan, baik secara fisik maupun non-fisik. Secara fisik, hunian atau rumah tinggal yang terbentuk memiliki persil yang cukup luas (minimal 200 m2) dengan bentuk bangunan tradisional/kampung

dengan deretan tiang-tiang penyangga di bagian teras rumah, bentuk atap limasan, pembagian fungsi bangunan yang jelas juga tempat penyimpanan hasil pertanian dan kandang ternak.

Ketika memasuki persil hunian permukiman terdapat area gerbang masuk berupa gapura. Persil hunian juga masih menyisakan area yang cukup luas berupa pekarangan yang belum dimanfaatkan dan juga sebagai tempat penjemuran padi. Letak kamar mandi, WC, dan sumur pada umumnya terpisah dari hunian.

Permasalahan lain yang dihadapi Desa Ngraji adalah masih adanya rumah-rumah penduduk yang tidak layak huni. Penanganannya memerlukan campur tangan dari berbagai pihak untuk memperbaiki dan menata lingkungan permukiman tersebut agar menjadi lingkungan permukiman yang sehat, bersih, nyaman dan teratur. Selain itu, masih terbatasnya kondisi jalan pedesaan yang rusak dan sebagian masih makadam, mengganggu pendistribusian produksi pertanian.

Pada tiap persil rumah juga banyak ditemukan kegiatan ekonomi lain yang terkait dengan kegiatan masyarakat setempat, yaitu adanya kandang-kandang ternak (sapi) yang menjadi karakter tersendiri pada sebuah wilayah dengan fungsi pertanian serta didapati juga adanya industri kecil rumah tangga yang banyak dilakukan masyarakat setempat, dan industri rumah tangga kecil dan menengah di Desa Ngraji cukup beraneka ragam hasilnya dan berbeda beda hasil produk industri rumah tangga pada tiap dusunnya, sehingga membentuk suatu karakteristik pada setiap dusun di Desa Ngraji.

Secara non-fisik pola kehidupan yang terbentuk sebagai kawasan permukiman dengan sektor pertanian sebagai sumber ekonomi serta tatanan masyarakat pedesaan membentuk sistem kekerabatan dan kegotongroyongan yang sangat kuat yang terlihat dengan partisipasi dan kepedulian terhadap sesama dalam setiap kegiatan yang diadakan, baik oleh individu maupun kelompok, seperti acara pernikahan, khitanan/sunatan, kematian, dan selamatan.

(2)

Kegiatan-kegiatan tersebut sedikit banyak telah berpengaruh terhadap fisik bangunan yang ada di Desa Ngraji. Acara-acara yang sering diadakan membuat masyarakat Desa Ngraji membuat sebuah area penerima tamu yang cukup luas untuk mewadahi tamu dan juga area servis untuk melayani tamu berupa ruang tamu/penerima yang cukup luas dan dapur yang cukup luas pula untuk menampung tetangga-tetangga yang turut membantu (rewang) dalam acara tersebut.

Usaha masyarakat yang bersifat rumahan dan hasil pertanian yang menjadi pekerjaan atau profesi dominan di Desa Ngraji memerlukan sarana dan prasarana penunjang untuk lebih bisa ditingkatkan dan berimbas kepada peningkatan ekonomi lokal, permaslahan yang dihadapi adalah ketika hasil panen dan hasil produksi UMKM/Industri Rumah Tangga yang berlimpah mengalami kesulitan untuk pendistribusian, hal ini dikarenakan kondisi prasarana jalan yang kurang mendukung/ banyak ditemukan jalan yang rusak.

Selain permasalahan jalan yang rusak permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah kondisi saluran air dan drainase yang masih alami atau masih banyak yang belum diberikan perkerasan menambah permasalahan yang ada, yaitu ketika musim penghujan datang terjadi erosi dan sedimentasi, sehingga banyak ditemukan lokasi yang rawan longsor serta banjir, hal ini akan berdampak langsung pada masyarakat, karena menghambat aktivitas dan merusak lahan pertanian, dimana pertanian adalah profesi dominan di Desa Ngraji.

Selain permasalahan jalan yamh rusak atau masih didapati jalan dengan kondisi tanah dan makadam juga permasalahan drainase dan saluran air yang berimbas pada banjir dan longsor juga ditemukan permasalahan yang cukup serius lainnya, yaitu air bersih sebagai kebutuhan dasar manusia, air yang selama ini didapatkan di Desa Ngraji untuk kebutuhan minum dan masak mereka membeli air gallon sedangkan untuk keperluan mandi cuci mereka menggunakan sumur tadah hujan. Sehingga apabila musim kemarau datang air dalam sumur juga ikut berkurang sehingga cukup susah mendapatkan air bersih dikala musim kemarau. Hal ini harus mendapatkan perhatian dan dapat diberikan solusi yang tepat sehingga dapat dikembangkan dan dikelola oleh masyarakat sehingga mereka mampu berdaya dan selp help untuk keperluan mereka sendiri dan menjadi progam berkelanjutan. Mengingat hanya sebagian kecil saja jumlah keluarga yang sudah terlayani oleh PDAM.

Selain itu juga terdapat permasalahan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh kotoran ternak dan limbah industri, untuk itu perlu penanganan kusus yang melibatkan dinas terkait dalam memberikan pelatihan pemanfaatan limbah kotoran ternak dan insudtri yang ada dikawasan perancangan dan sosialaisasi rumah sehat.

Melihat berbagai potensi dan permasalahan yang ada di Desa Ngraji di atas, maka pada dasarnya berbagai permasalahan tersebut bisa dilimitasi dengan mengelola potensi yang ada dan belum tertangani dengan baik hingga menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis serta mampu menciptakan kawasan permukiman yang lebih bersih, sehat, dan nyaman serta mampu mewujudukan desa mandiri dan kreatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal secara lebih baik.

Oleh karena itu, perlu disusun Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP) Desa Ngraji, yang akan berlaku selama 10 tahun ke depan yaitu tahun 2013 – 2023. RTPLP ini akan menjadi panduan bagi penataan wilayah dan pemanfaatan ruang khususnya pengembangan kegiatan permukiman dan pendukungnya untuk mewadahi perkembangan aktivitas masyarakat Desa Ngraji.

1.2. MAKSUD, TUJUAN, SASARAN, DAN MANFAAT 1.2.1 Maksud

Penyusunan Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP) ini dimaksudkan untuk : 1. Mengenali karakteristik kawasan baik fisik maupun non-fisik untuk memperkuat identitas kawasan

prioritas;

2. Melakukan identifikasi potensi dan permasalahan kawasan prioritas serta melihat peluang yang ada sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan kawasan untuk kepentingan masa sekarang dan yang akan datang secara berkelanjutan;

3. Melakukan identifikasi terhadap posisi kawasan prioritas Desa Ngraji dikaitkan dengan fungsinya terhadap wilayah lain disekitarnya serta kawasan yang lebih luas;

4. Melakukan analisis terhadap data dan informasi yang diperoleh guna penyusunan konsep perancangan kawasan prioritas.

1.2.2 Tujuan

Tujuan dari penyusunan Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP) Desa Ngraji adalah sebagai tindak lanjut dari pedoman pengendalian dalam pemanfaatan dan pengembangan lingkungan permukiman yang terkait dengan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

1.2.3 Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai melalui penyusunan Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP) Desa Ngraji adalah :

1. Tersusunnya program pemanfaatan ruang dan pengendalian lingkungan permukiman yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan;

2. Tersusunnya program perancangan bangunan dan lingkungan permukiman yang memperkuat identitas setempat sebagai kawasan permukiman;

3. Tersusunnya program peningkatan perekonomian masyarakat berbasis masyarakat mandiri; 4. Tersusunnya kebutuhan investasi dalam menunjang pengembangan ekonomi masyarakat.

1.2.4 Manfaat

1. Bagi Warga, Komunitas Setempat, dan Pengusaha

• Menciptakan kawasan Desa Ngraji sebagai kawasan permukiman yang memiliki karakter kuat; • Menciptakan kualitas lingkungan yang lebih baik melalui penataan permukiman dan sarana

prasarana penunjang permukiman;

• Mengembangkan ekonomi masyarakat melalui perdagangan lokal dan peluang investasi usaha. 2. Bagi Pemerintah Daerah

• Melalui dokumen RTPLP yang disusun secara komprehensif dengan mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Grobogan memiliki pedoman untuk mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini di kawasan ini;

• Mengendalikan pertumbuhan fisik kawasan;

• Mewujudkan kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan, dan mengembangkan potensi kawasan.

1.3. LINGKUP RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman ini dibatasi pada kawasan prioritas yang terdiri dari 1 dusun, yaitu: Dusun Cabean dengan pertimbangan adalah :

1. Merupakan kawasan yang terletak diantara lintasan jalan utama antar desa yaitu jalan lokal sekunder yang menghubungkan dua desa yaitu Desa Danyang dan Desa Kuwu;

2. Merupakan kawasan dengan skala pelayanan prasarana dasar permukiman yang masih kurang maksimal.

(3)

3. Merupakan kawasan yang memiliki banyak bentuk bangunan khas akan tetapi keberadaannya semakin berkurang karena semakin banyaknya bangunan baru;

4. Potensi pertanian dan peternakan serta industi kecil menengah yang cukup besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat Desa Ngraji;

5. Pola penanganan kegiatan pembangunan ditentukan oleh kesiapan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.

1.4. KELUARAN

Keluaran dari kegiatan penyusunan Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTPLP) ini adalah suatu dokumen yang berisi ketentuan dan rencana tindak penataan lingkungan permukiman Desa Ngraji yang diwujudkan dalam bentuk program penataan dan pengembangan kawasan untuk mewujudkan lingkungan yang layak huni, berjati diri, produktif, dan berkelanjutan.

1.5. KERANGKA PIKIR DAN METODOLOGI 1.5.1. Masalah dan Pendekatan

Masalah penataan permukiman pedesaan merupakan bagian kawasan yang menjadi ruang utama bagi aktivitas kegiatan manusia/masyarakat dimana permasalahan yang tidak hanya menyangkut satu pihak (user) saja tetapi juga menjadi permasalahan pemerintah daerah.

Beberapa masalah dominan yang muncul bagi perkembangan dan perencanaan permukiman adalah semakin memudarnya karakter permukiman dan menurunnya kualitas lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan penghuninya itu sendiri.

Permasalahan lainnya adalah kurang berfungsinya area-area yang sebenarnya sangat mendukung pengembangan ekonomi masyarakatnya seperti area perdagangan dan area pusat pertumbuhan kawasan. Hal ini tentunya tidak hanya menyangkut kepentingan pengguna tetapi juga terkait dengan kepentingan lain yang juga ingin terlibat dalam mengembangkan wilayah yaitu terkait pengelolaan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya.

Pada kasus Desa Ngraji, selain mempertahankan pola permukiman yang tumbuh dengan pola organik yang menjadi ciri khas dari perkembangan kawasan desa dan perkembangan fisik kawasan permukiman yang mempertahankan nilai-nilai khas kawasan tradisional (desa), banyak potensi yang perlu dipertimbangkan dalam penataan kawasan permukiman ini.

Pola kebiasaan (budaya) masa lalu yang mengandung nilai-nilai luhur dan (pernah) ada di masyarakat Desa Ngraji menjadi sebuah nilai dan karakter yang harus dipertahankan atau bahkan perlu untuk dikembalikan.

Hal itu termasuk juga dalam pola kebiasaan masyarakat yang mendukung aktivitas/kegiatan. Potensi-potensi yang telah ada perlu untuk dikembangkan dan penataan yang dilakukan juga diharapkan bisa mendukung ke arah peningkatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan dan masyarakatnya.

Upaya-upaya nyata dan berkelanjutan perlu dilakukan dalam rangka penataan kawasan permukiman untuk mengembangkan kawasan dan mengatasi permasalahan kawasan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah bagaimana merumuskan suatu pendekatan terpadu yang mempertemukan pendekatan-pendekatan top-down planning dan bottom-up planning dengan fokus pengembangan kawasan sebagai area permukiman dengan kualitas lingkungan yang baik dan mendukung perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat dengan mempertimbangkan potensi-potensi yang ada.

1.5.2. Kerangka Pikir

Secara umum, kerangka kajian dalam penyusunan dokumen ini meliputi kajian pada eksisting kawasan dengan mengacu pada berbagai potensi dan masalah yang ada serta komponen-komponen pendukungnya seperti aturan dan nilai lokal yang berkembang. Setelah itu melakukan perumusan program pengembangan dalam rangka menjadikan kawasan prioritas menjadi satu kawasan permukiman yang produktif, berjati diri, dan terintegrasi dengan mengacu pada nilai-nilai lokal yang sudah lama berkembang. 1.5.3. Metodologi

Metode pendekatan dalam penyusunan RTPLP ini adalah dengan menggunakan pendekatan DEDUKTIF KUALITATIF RASIONALISTIK yang didasarkan pada kajian EMPIRIS. Pendekatan yang digunakan ini mendasarkan pada pengamatan lapangan dan pengkajian data baik primer maupun sekunder yang kemudian dikolaborasikan dengan teori-teori dasar dalam penataan bangunan dan lingkungan sebagai background knowledge. Kajian terhadap potensi dan permasalahan yang terjadi di lapangan ini menyangkut berbagai kondisi fisik lingkungan, ekonomi, dan sosial termasuk nilai-nilai yang berkembang di dalamnya. Selanjutnya dikaji perumusan pedoman pengembangan kawasan desa dalam rangka penyusunan RTPLP (Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman) pada kawasan-kawasan kajian.

Hal yang diatur dalam RTPLP kawasan Desa Ngraji : - Struktur peruntukan lahan

- Intensitas Pemanfaatan Lahan - Tata Bangunan

- Sistem Sirkulasi atau Jalur Penghubung - Sistem Ruang Terbuka atau Tata Hijau - Tata Kualitas Lingkungan

- Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan - Pelestarian Bangunan dan Lingkungan

(4)

Sumber: Tim Penyusun, 2013

Gambar 1.1

Kerangka Pikir dan Metodologi Pendekatan

1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika Pembahasan dalam dokumen Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman Kawasan Prioritas Desa Ngraji sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang permasalahan; maksud, tujuan, sasaran, dan manfaat; lingkup Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan; kerangka berpikir dan metodologi; sistematika pembahasan. Bab 2 Gambaran Umum Wilayah Desa Ngraji

Bab ini berisi Kedudukan Wilayah Kecamatan Purwodadi dalam arahan RTRW Kabupaten Grobogan; Lingkup Perencanaan dan Batasan Wilayah Studi; Kondisi Iklim; Kondisi Topografi; Kondisi Sosial Ekonomi; Kriteria Delineasi Kawasan Perencanaan untuk Kawasan Desa Ngraji.

Bab 3 Potensi dan Permasalahan

Bab ini berisi Analisis SWOT kawasan, Strategi Pengembangan, Skenario Pengembangan. Bab 4 Design GuidelineKawasan Desa Ngraji

Bab ini berisi Guideline Penataan Permukiman, Guideline Penataan Jaringan Jalan, Guideline Penataan Area Hijau,GuidelinePenataan Sarana, Prasarana, dan Utilitas.

Bab 5 Rencana Kawasan Prioritas

Bab ini berisi rencana pengembangan kawasan prioritas yang siap bangun serta arahan desain. Bab 6 Pedoman Pelaksanaan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Bab ini berisi tentang pedoman Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang tentang yang nantinya menjadi landasan dalam pelaksanaan program penataan lingkungan permukiman di kawasan prioritas.

Bab 7 Rencana Investasi

Bab ini berisi tentang komponen pembiayaan dan volume yang nantinya menjadi perkiraan biaya yang harus dikeluarkan dalam perencanaan kawasan prioritas.

KESEPAKATAN LOKASI KESEPAKATAN MATERI DAN SUBSTANSI LATAR BELAKANG MAKSUD TUJUAN RENCANA KERJA, PERSIAPAN ANALISIS & JUSTIFIKASI KAWASAN KEBUTUHAN PERENCANAAN RTPLP DESIGN GUIDELINE RTPLP PROGRAM PENATAAN RUANG RENCANA INVESTASI PERATURAN PENGENDALIAN PROGRAM KESEPAKATAN PERATURAN SETEMPAT RENCANA UMUM RANCANGAN KAWASAN PRIORITAS TERPILIH

R

T

P

L

P

KESEPAKATAN PRODUK RTPLP KESEPAKATAN SKENARIO

(5)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH

DESA NGRAJI

2.1. KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2009-2028

2.1.1. Rencana Sistem Perkotaan

Besar atau jangkauan pusat pemukiman dapat dilihat pada pusat-pusat pelayanan yang ada, semakin banyak/besar pusat pelayanan tersebut akan semakin besar dan semakin luas pula jangkauan yang dilayani. Dalam proses pengembangan wilayah Kabupaten Grobogan pusat-pusat pelayanan dibagi menurut hirarki sebagai berikut :

Tabel II.1

Rencana Pusat Pelayanan Hirarki Kabupaten Grobogan Tahun 2009 - 2028

Hirarki Struktur Kota Keterangan Kawasan

Perkotaan I Pusat Kegiatan

Lokal (PKL-1)

Kota yang akan

dikembangkan menjadi PKL-1 adalah kota-kota yang kawasan

fungsionalnya telah berkembang lebih dari 1 administrasi kecamatan. Skala fasilitas/ kegiatan yang dikembangkan di kota ini memiliki pelayanan sebagian wilayah kabupaten.

- Koridor Purwodadi -Godong - Gubug

II Pusat Kegiatan Lokal -2

(PKL-2)

Kota yang akan

dikembangkan menjadi PKL-2 adalah kota-kota ibukota kecamatan atau kota pusat kegiatan

setingkat kecamatan. Kota-kota ini merupakan pusat pemerintahan, aktifitas sosial, serta kegiatan perekonomian di tingkat - Wirosari - Kradenan - Grobogan - Brati - Tegowanu - Geyer - Ngaringan - Kedungjati - Klambu

Hirarki Struktur Kota Keterangan PerkotaanKawasan III Pusat Desa Pusat desa berfungsi

sebagai pusat kegiatan perekonomian, yaitu pusat pemasaran dan distribusi input produksi pada daerah yang bersangkutan. Kota (pusat perdesaan) ini berfungsi pula sebagai pusat pelayanan kegiatan sosial, sehingga mengurangi ketergantungan pelayanan kepada kota hirarki di atasnya - Penawangan - Gabus - Toroh - Tawangharjo - Karangrayung - Tanggungharjo - Pulokulon

Sumber :RTRW Kabupaten Grobogan, 2008-2029

2.1.2.Rencana Sistem Perwilayahan

Kebijakan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Grobogan yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Grobogan 2009 - 2028 merupakan dasar dari rencana pengembangan wilayah Desa Ngraji Kecamatan Purwodadi.

Sesuai dengan hirarki dan jangkauan pusat-pusat seperti tersebut diatas, semua akan melayani penduduk pada kawasan dengan jangkauan tertentu. Dalam suatu kawasan, masing-masing mempunyai potensi dan permasalahan dengan karakteristik tertentu. Pengembangan wilayah tersebut selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu pengembangan fungsi kawasan diperhitungkan terhadap aspek-aspek fisik, sosial dan ekonomi. Pengembangan ini didukung oleh sektor-sektor potensial bagi wilayah setempat. Penentuan sektor-sektor yang akan dikembangkan dikaitkan pula dengan kesesuaian dalam alokasi pemanfaatan lahan. Dengan demikian pengembangan ekonomi wilayah akan mempunyai potensi sumber daya yang menjamin kelanjutan kegiatan sektor tersebut.

Kebijaksanaan daerah juga berisi pengaturan kebijaksanan sektoral. Berdasarkan pada kecenderungan perkembangan sosial ekonomi yang dihadapkan pada potensi dan kendala-kendala alam,

(6)

ď‚· Sub Satuan Wilayah Pengembangan I dengan pusat di Kota Purwodadi, meliputi Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan, Toroh dan Geyer. Wilayah pengembangan ini akan mengutamakan pengembangan sektor pemerintahan, pertanian, transportasi, perdagangan dan jasa, permukiman, pertambangan dan industri.

ď‚· Sub Satuan Wilayah Pengembangan II dengan pusat di Kota Gubug, meliputi Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo dan Kedungjati. Sektor-sektor yang potensial dan akan dikembangkan disini adalah pemerintahan, industri, pertambangan, permukiman, perdagangan, bangunan dan konstruksi.

ď‚· Sub Satuan Wilayah Pengembangan III dengan pusat di Kota Wirosari, meliputi Kecamatan Tawangharjo dan Ngaringan. Pengembangan wilayah ini didukung sektor pemerintahan, pertanian, permukiman, pertambangan, bangunan dan konstruksi.

ď‚· Sub Satuan Wilayah Pengembangan IV dengan pusat di Kota Godong, mencakup Kecamatan Karangrayung dan Penawangan. Sektor-sektor yang dikembangkan adalah pemerintahan, pertanian, perdagangan dan jasa, permukiman.

ď‚· Sub Satuan Wilayah Pengembangan V dengan pusat di Kota Kradenan, mencakup Kecamatan Pulokulon dan Gabus. Sektor-sektor yang dikembangkan adalah pemerintahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, angkutan dan komunikasi.

Tabel II.2

Rencana Satuan Wilayah Pengembangan Kabupaten Grobogan Tahun 2009 - 2028 Sub Satuan

Wilayah Pengembangan

(SSWP)

Pusat

Pengembangan Kecamatan Arah Pengembangan

SSWP I PURWODADI 1. Purwodadi

Pusat Pengembangan Kab. Grobogan, Pusat Pemerintahan Kabupaten, Industri, Pusat Pertumbuhan SSWP, Pusat Permukiman, Kota Tani Utama, Transportasi, Perdagangan & Jasa. 2. Klambu Pusat Pemerintahan Kecamatan,Pertambangan, Permukiman , Pertanian

lahan basah dan kering.

3. Brati Pusat Pemerintahan Kecamatan,Pertanian, Pertambangan, Permukiman, Pertanian lahan basah dan kering.

4. Grobogan

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Peternakan, Industri, Pertambangan, Pertanian lahan basah & kering, Permukiman.

5. Toroh Pusat Pemerintahan Kecamatan, KotaTani, Pariwisata, Permukiman, Peternakan

6. Geyer Pusat Pemerintahan Kecamatan, Hutannegara, Peternakan, Pertanian lahan kering.

SSWP II GUBUG 7. Gubug

Pusat Pemerintahan

Kecamatan,Pertanian lahan basah & kering, Permukiman, Industri,

Pertambangan, Perhubungan & Pusat Pertumbuhan SSWP.

8. Kedungjati Pusat Pemerintahan Kecamatan,

Sub Satuan Wilayah Pengembangan

(SSWP)

Pusat

Pengembangan Kecamatan Arah Pengembangan Pertambangan, Perdagangan & Jasa, Permukiman

9. Tegowanu Pusat Pemerintahan Kecamatan,Permukiman, Industri, Pertanian lahan basah & kering

10.

Tanggungharjo

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Pertambangan, Perkebunan, Industri, Hutan Negara, Pertanian lahan basah & kering.

SSWP III WIROSARI 11. Wirosari

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Kota Tani, Peternakan Industri,

Pertambangan,

Perhubungan, Permukiman, Pusat Pertumbuhan SSWP

12. Tawangharjo Pusat Pemerintahan Kecamatan,Pertambangan, Permukiman, Pertanian lahan basah & kering.

13. Ngaringan Pusat Pemerintahan Kecamatan,Pertanian lahan basah & kering, Pertambangan, Permukiman.

SSWP IV GODONG 14. Godong

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Pertanian, Perdagangan & jasa, Pusat Pertumbuhan SSWP.

15. Karanganyung Pusat Pemerintahan Kecamatan,Perkebunan, Pertambangan, Pertanian lahan basah&Kering, Permukiman. 16. Penawangan Pusat Pemerintahan Kecamatan,Pertanian Lahan Basah dan Kering,

Permukiman.

SSWP V KRADENAN 17. Kradenan Pusat Pemerintahan Kecamatan,Perdagangan, Pertambangan, Pertanian Lahan Basah dan Kering, Permukiman.

18. Pulokulon

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Pertanian lahan basah dan kering, Perdagangan, Pertambangan, Permukiman.

19. Gabus

Pusat Pemerintahan Kecamatan, Pertanian lahan basah&kering, Peternakan, Pertambangan, Permukiman.

Sumber :RTRW Kabupaten Grobogan, 2008-2029

2.1.3.Rencana Pola Pemanfaatan Ruang

Rencana pola pemanfaatan ruang diharapkan dapat mewujudkan tata ruang Kabupaten Grobogan yang sesuai dengan ketentuan dari UU No. 26 Tahun 2007, yang antara lain memperhatikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Aspek-aspek yang dipertimbangkan terhadap perencanaan alokasi pemanfaatan ruang adalah :

(7)

 Potensi dari pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia dalam penentuan kegiatan,

 Fungsi-fungsi kegiatan yang ditampung,

 Pola dan struktur tata ruang yang ada dan kecenderungan di masa mendatang,

 Kuantitas dan kualitas ruang, meliputi keadaan ruang yang ada pada saat ini dan tuntutan serta kebutuhan pada tahun-tahun yang akan datang.

 Mencegah benturan penggunaan ruang,

 Mencegah penggunaan lahan secara tidak terkendali.

Wilayah Kabupaten Grobogan dalam alokasi pemanfaatan ruang dibagi dalam kawasan lindung dan kawasan budidaya. Sedangkan untuk Desa Ngraji termasuk dalam kawasan lindung setempat dan rawan bencana alam. Sedangkan untuk kawasan budidaya di Desa Ngraji termasuk memiliki kawasan budidaya khususnya pertanian lahan basah dan permukiman. Untuk lebih jelasnya mengenai pola pemanfaatan ruang Desa Ngraji sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada uraian berikut ini.

2.1.3.1. Kawasan Lindung

Sesuai dengan RTRW Kabupaten Grobogan 2009 – 2028, kawasan lindung yang ada di Desa Ngraji dapat dikelompokan menjadi kawasan lindung yang berfungsi kawasan lindung setempat dan kawasan rawan bencana.

1. Kawasan Lindung Setempat

Kawasan perlindungan setempat di Desa Ngraji meliputi kawasan-kawasan sebagai berikut: a. Sempadan Sungai

Sempadan sungai adalah kawasan garis batas pengamanan sungai/saluran. Kriteria sempadan sungai dan saluran dibedakan atas :

ď‚§ Sungai Bertanggul

 Garis sempadan sungai bertanggul di kawasan perkotaan adalah 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

 Garis Sempadan Sungai Bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

 Sungai Tidak Bertanggul di Luar Kawasan Perkotaan :  Sungai Besar adalah 100 (seratus) meter;

 Sungai Kecil adalah 50 (lima puluh) meter;

 Masing-masing diukur dari tepi sungai pada waktu ditetapkan, pada setiap ruas daerah pengaliran sungai.

ď‚§ Saluran Bertanggul :

 3 meter untuk saluran irigasi dan pernbuangan dengan debit 4 m3/detik atau lebih diukur dari luar kaki tanggul;

 2 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan debit 1-4 m3/detik;

 1 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan debit kurang dari 1 m3/detik diukur dari luar kaki tanggul;

ď‚§ Saluran Tidak Bertanggul :

 4 kali kedalaman saluran ditambah 5 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan debit 4 m3/detik;

 4 kali kedalaman saluran ditambah 3 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan debit 1 - 4 m3/detik;

 4 kali kedalaman saluran ditambah 2 meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan debit kurang dari 1 m3/detik;

 Masing-masing diukur dari tepi saluran.

Arahan pengelolaan sempadan sungai adalah sebagai berikut :

ď‚§ Pada kawasan sempadan sungai yang belum dibangun, pendirian bangunan dilarang (IMB tidak diberikan).

ď‚§ Kegiatan lain yang tidak memanfaatkan lahan secara luas seperti misalnya pemasangan papan reklame/pengumuman, pemasangan pondasi dan rentangan kabel listrik, pondasi jembatan, dan sebagainya masih bisa diperbolehkan.

ď‚§ Kegiatan atau bentuk bangunan yang secara sengaja dan jelas menghambat arah dan intensitas aliran air sama sekali dilarang atau tidak diperbolehkan.

ď‚§ Kegiatan lain yang justru memperkuat fungsi perlindungan kawasan sempadan sungai tetap boleh dilaksanakan tapi dengan pengendalian agar tidak mengubah fungsi kegiatannya di masa mendatang.

Lokasi di sepanjang seluruh aliran sungai dan seluruh aliran saluran irigasi di Desa Ngraji. 2. Kawasan Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Grobogan terdiri dari kawasan rawan bencana banjir, kawasan rawan tanah longsor/gerakan tanah, kawasan bencana kekeringan, dan kawasan bencana angin lisus. Tujuan perlindungan kawasan ini adalah untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia. Kabupaten Grobogan mempunyai kawasan rawan bencana alam yang teridentifikasi terdiri dari : kawasan rawan banjir, rawan longsor dan rawan bencana kekeringan. Dalam rencana alokasi kawasan lindung di Kabupaten Grobogan ini ditetapkan hanya untuk kawasan rawan longsor, rawan banjir dan kekeringan, walaupun juga terdapat bencana angin lisus.

Lokasi rawan bencana tersebut terbagi sebagai berikut :

ď‚§ Kawasan rawan bencana banjir adalah kawasan yang rutin terjadi bencana banjir dalam kurun waktu tertentu, untuk kawasan ini sebaiknya dihindari sebagai daerah permukiman atau dilakukan usaha-usaha pengurangan banjir. Kawasan rawan banjir di Kabupaten Grobogan terdapat di Kecamatan Godong, Grobogan, Gubug, Brati,Purwodadi, Tegowanu, Ngaringan dan Klambu, dengan kawasan banjir rutin di Kecamatan Gubug dan Tegowanu.

ď‚§ Kawasan rawan bencana longsor berada di Kecamatan Purwodadi, Kradenan, Wirosari, Tanggungharjo, Pulokulon dan Tawangharjo.

ď‚§ Kekeringan oleh masyarakat dianggap sebagai bencana karena masyarakat merasa kesulitan air untuk kebutuhan hidup. Kekeringan disebabkan karena jenis tanah yang sulit menyerap air, curah hujan rendah dan sedikitnya penghijauan. Lokasi rawan kekeringan berada di sebagian Kecamatan Geyer, Wirosari, dan Ngaringan.

Berdasarkan RTRW Kabupaten Grobogan 2009 – 2028 maka Desa Ngraji dengan melihat kondisi yang ada termasuk dalam kategori kawasan rawan bencana banjir dan longsor (tepian sungai).

Arahan pengelolaan kawasan ini adalah sebagai berikut :

ď‚§ Kawasan rawan banjir permanen tidak diijinkan untuk permukiman dan kegiatan lainnya. Pada kawasan ini secara bertahap dan terencana kegiatan yang sudah ada dipindahkan.

(8)

ď‚§ Penataan bangunan dan pemindahan kegiatan (apabila memungkinkan) di sekitar sungai serta normalisasi sungai dan saluran/sistem drainase.

ď‚§ Kegiatan yang berdampak dapat mempengaruhi kelancaran saluran/sistem drainase di kawasan ini dilarang, sedangkan pembangunan fisik berupa pengembangan saluran drainase diutamakan. ď‚§ Pada kawasan rawan longsor dilarang digunakan untuk kegiatan permukiman.

ď‚§ Daerah rawan bencana, hendaknya diberi penyuluhan dan peringatan akan bahaya yang mungkin terjadi di waktu mendatang.

ď‚§ Perlu adanya koordinasi lintas sektoral dan daerah berkaitan dengan pengaturan kewenangan pengelolaan wilayah sungai, terutama dengan instansi terkait.

ď‚§ Pada kawasan rawan longsor dilakukan kegiatan reboisasi dan penghijauan. 2.1.3.2. Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya merupakan kawasan yang diperuntukkan untuk kegiatan manusia, dimana kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk segala kegiatan yang menunjang hidup manusia, antara lain: hutan produksi, hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan peternakan, kawasan perikanan, kawasan permukiman, dan sebagainya. Berdasarkan RTRW Kabupaten Grobogan 2009 – 2028, kawasan budidaya yang ada dan bisa dikembangkan di Desa Ngraji adalah kawasan pertanian, kawasan peternakan, dan kawasan permukiman. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut ini.

1. Kawasan Pertanian

A. Kawasan Pertanian Lahan Basah

Kawasan pertanian lahan basah adalah kawasan yang fungsi utamanya diperuntukkan bagi kegiatan pertanian lahan basah karena didukung oleh kondisi topografi tanah yang sesuai dengan tujuan untuk memanfaatkan potensi lahan sesuai untuk lahan basah dalam menghasilkan produksi pangan, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kawasan ini hanya diperuntukkan bagi penanaman tanaman padi secara terus-menerus dengan pola tanam yang ditetapkan oleh pemerintah kabupaten/kota setempat. Penggunaan jenis tanaman laian selain padi diperkenankan apabila air tidak mencukupi atau dengan pertimbangan pencapaian target produktivitas optimal melalui tanaman selingan seperti palawija.

Lokasi rencana peruntukan lahan untuk pertanian lahan basah berada di sebagian Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Gubug, Godong, Karangrayung, Klambu, Penawangan, Brati, Grobogan, Purwodadi, Toroh, Geyer, Tawangharjo, Wirosari, Pulokulon, Kradenan, Gabus dan Ngaringan. Kawasan pertanian lahan basah memiliki fungsi dan peran dalam mencukupi kebutuhan pangan. Untuk mengurangi ketergantungan dengan wilayah lain dan sebagai upaya meningkatkan produktifitas, maka usaha-usaha dan pengelolaan yang perlu dilakukan adalah :

ď‚§ Pengelolaan sistem irigasi dengan baik sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan status irigasi.

ď‚§ Perubahan atau konversi lahan pertanian ke non pertanian, seminimal mungkin dicegah dan harus memperhatikan produktifitas.

ď‚§ Pengembangan sarana dan prasarana pendukung pertanian terutama bangunan untuk irigasi diperbolehkan selama bertujuan untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah hasil pertanian.

ď‚§ Penggunaan teknologi dan modernisasi dalam pengelolaan pertanian diperlukan. B. Kawasan Pertanian Lahan Kering

Kawasan pertanian lahan kering adalah kawasan yang berfungsi untuk kegiatan pertanian lahan kering karena didukung oleh kondisi dan topografi tanah yang memadai dengan tujuan pengelolaan untuk memanfaatkan potensi lahan yang sesuai untuk kegiatan pertanian lahan

kering dalam meningkatkan produksi lahan pangan, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pada kawasan ini selain untuk kegiatan pertanian lahan kering, juga diperkenankan mengusahakan tanaman keras yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, dan apabila memenuhi syarat dapat diberikan Hak Guna Usaha (HGU). Selain itu, pada kawasan ini dapat dikembangkan kegiatan agroindustri dan agrowisata.

Lokasi kawasan pertanian lahan kering tersebar disemua kecamatan di Kabupaten Grobogan. Arahan pengelolaan kawasan pertanian lahan kering diatur sebagai berikut :

ď‚§ Pengolahan lahan dengan menggunakan teknologi yang sesuai dan ditetapkan pemerintah. ď‚§ Mempertahankan tanaman yang telah ada dan memiliki produktifitas atau daya saing tinggi. ď‚§ Penambahan sarana prasarana pendukung dan pengolahan hasil-hasil pertanian

diperkenankan.

ď‚§ Konversi lahan dapat dilakukan dengan tetap mengingat fungsi utama, daya dukung, dan kesesuaian dengan aktifitas sekitar.

2. Kawasan Peternakan

Kawasan peternakan adalah kawasan yang fungsi utamanya diperuntukkan bagi kegiatan peternakan dan segala kegiatan penunjangnya. Tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk memanfaatkan lahan yang sesuai untuk kegiatan peternakan dalam menghasilkan produksi peternakan seperti ternak dan hasil ternak lainnya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kawasan ini merupakan kawasan padang rumput atau semak belukar cukup luas (minimum 2 hektar), yang diperuntukkan bagi melepaskan dan sekaligus memelihara ternak. Lokasi untuk kawasan peternakan diutamakan pada tanah yang tidak produktif dan terpisah dari lahan pertanian penduduk sekitarnya.

Pengarahan lokasi kawasan peternakan memperhatikan beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Fisik, yang meliputi topografi, pola drainase, jarak terhadap permukiman terdekat, ketersediaan air, penggunaan tanah, dan kemampuan tanah.

2. sosial, meliputi aspek keagamaan, polusi udara dan air, aspek keamanan, dan atau kesehatan masyarakat/lingkungan.

3. ekonomi, meliputi aspek kesehatan ternak dan aspek kompetisi antar peternak dan aspek pemasaran.

Lokasi kawasan peternakan ini tersebar di Kecamatan Toroh dan Wirosari. Pokok-pokok arahan pengelolaan kawasan peternakan adalah sebagai berikut :

ď‚§ Usaha peternakan yang sudah ada dan berada di luar kawasan peternakan serta tidak memenuhi persyaratan lokasi, secara bertahap diusahakan pemindahannya ke tempat yang memenuhi syarat atau telah ditetapkan.

ď‚§ Kegiatan baru yang merupakan kegiatan yang harus dipindahkan dari kawasan peternakan di antaranya adalah: perumahan, industri dan pabrik.

Di dalam RTRW Kabupaten Grobogan 2009 – 2028 memang tidak menyebutkan bahwa Kecamatan Purwodadi (Desa Ngraji) sebagai kawasan peternakan, namun dengan melihat kondisi dan potensi peternakan yang ada di Desa Ngraji maka perlu kiranya di dalam RPLP ini ditegaskan bahwa Desa Ngraji merupakan desa potensial untuk pengembangan kegiatan peternakan.

3. Kawasan Permukiman

Kawasan permukiman adalah kawasan di luar kawasan lindung yang diperlukan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang berada di daerah perkotaan atau perdesaan. Tujuan dari

(9)

pengelolaan kawasan ini adalah untuk menyediakan tempat permukiman yang sehat dan aman dari bencana alam serta memberikan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kriteria kawasan permukiman adalah kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam, sehat, dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha. Secara keruangan, kawasan permukiman ini terdiri dari permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan.

a. Kawasan Perdesaan

Kawasan permukiman perdesaan pada dasarnya adalah tempat tinggal yang tidak dapat dipisahkan (atau letaknya tidak boleh terlalu jauh) dengan tempat usaha. Oleh karenanya, pengembangan permukiman atau rumah tempat tinggal di desa yang bersangkutan, dengan jarak maksimum dari pusat desa 250 meter. Kawasan permukiman yang saat ini belum terbangun, diutamakan peruntukannya bagi perluasan permukiman penduduk yang tinggal di perkampungan terdekat.

Arahan pemanfaatan kawasan permukiman perdesaan adalah :

ď‚§ Kawasan permukiman perdesaan tidak dapat dipisahkan dengan tempat usaha pertanian.

ď‚§ Pengembangan kawasan permukiman perdesaan sebisa mungkin tidak dilakukan melalui konversi (alih fungsi) lahan pertanian.

ď‚§ Jika alih fungsi lahan pertanian bagi pembangunan permukiman perdesaan tidak bisa dihindarkan maka sebaiknya alih fungsi tidak dilakukan pada tanah sawah beririgasi.

b. Kawasan Perkotaan

Kawasan permukiman perkotaan dapat terdiri atas bangunan rumah tempat tinggal, baik berskala besar, sedang, atau kecil; bangunan rumah campuran tempat tinggal/usaha; dan tempat usaha.

Pengembangan permukiman pada tempat-tempat yang menjadi pusat pelayanan penduduk di sekitarnya, seperti ibukota kecamatan, ibukota kabupaten, agar dialokasikan di sekeliling kota yang bersangkutan atau merupakan perluasan areal permukiman yang telah ada. Untuk pengembangan kawasan permukiman perkotaan ini, diperhatikan beberapa hal berikut :

ď‚§ Sejauh mungkin tidak menggunakan tanah sawah beririgasi teknis dan setengah teknis, yang intensitas penggunaannya lebih dari satu kali dalam satu tahun.

ď‚§ Pengembangan permukiman pada sawah non-irigasi teknis atau kawasan pertanian lahan kering diperkenankan sejauh mematuhi ketentuan yang berlaku mengenai peralihan fungsi peruntukkan kawasan.

Lokasi kawasan permukiman baik perkotaan maupun pedesaan tersebar di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Grobogan, antara lain IKK yang ada di bawah ini :

Tabel II.3

Rencana Alokasi Kawasan Lindung dan Budidaya di Kabupaten Grobogan

No Jenis Kawasan Luas(ha) Persentase

A Kawasan Lindung 20.023 6,72% 1 Kawasan Perlindungan Setempat 8.796 4,45% a. Sempadan Sungai 7.265 3,67% b. Sempadan Danau/Waduk 149 0,08%

c. Sekitar Mata Air 1.382 0,70%

2 Kawasan Cagar Budaya dan 500 0,25%

No Jenis Kawasan Luas(ha) Persentase

Ilmu Pengetahuan

3 Kawasan Rawan Bencana Alam 4.000 2,02%

B Kawasan Budidaya 177.858 93,28%

a. Hutan produksi 67.478 34,10%

b. Pertanian lahan basah 62.000 32,85%

c. Pertanian lahan kering 13.000 8,45%

d. Tanaman tahunan/perkebunan 1.000 0,51% e. Peternakan 3.609 1,82% f. Pertambangan 2.000 1,01% g. Peruntukan industri 1.665 0,84% h. Pariwisata 606 0,31% i. Permukiman 20.000 10,11%

k. Prasarana Kawasan (jalan, sungai, dll)

6.500 3,28%

Jumlah 197.881 100,00%

Sumber : Tim Penyusun RTRW, 2008

2.2. KONDISI WILAYAH PERENCANAAN

2.2.1.Letak Geografis dan Wilayah Administrasi

Desa Ngraji terletak di Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan, yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pusat Kota Purwodadi. Luas wilayah Desa Ngraji 566,470 Ha yang terdiri dari lahan sawah seluas 294 Ha..

Secara adminstratif Desa Ngraji terbagi menjadi 5 (Lima) dusun, yaitu: Dusun Ngraji, Dusun Ngablak, Dusun Dadabong, Dusun Cabean, Dusun Tempel. Desa Ngraji terbagi atas atas 6 Rukun Warga (RW) dan 66 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk Desa Ngraji adalah 10.863 jiwa terdiri dari 5.415 jiwa laki-laki dan 5.448 jiwa perempuan. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Desa Ngraji adalah 2715 Kepala Keluarga. Desa Ngraji secara administratif berbatasan dengan:

Sebelah Timur : Desa Karanganyar

Sebelah Barat : Desa Tambirejo

Sebelah Utara : Desa Kalongan

(10)

2.2.2. Topografi

Secara umum wilayah Desa Ngraji merupakan daerah yang landai dengan ketinggian rata-rata 22 m di atas permukaan laut. Wilayah Desa Ngraji memiliki karakteristik daerah pertanian potensial dengan jenis tanaman padi dan holtikultura sebagai komoditas unggulan. Kondisi topografi yang landai ini memiliki keuntungan secara geografis sebagai pengembangan daerah permukiman, namun tetap harus dikendalikan karena berkaitan dengan alih fungsi lahan. Dan sebisa mungkin untuk meminimalisir alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman, mengingat sebagian besar areal persawahan di Desa Ngraji merupakan persawahan dengan irigasi teknis.

2.2.3. Hidrologi

Suatu kawasan ditentukan oleh kondisi geologi termasuk iklim yang terjadi dalam wilayah tertentu/ Kondisi hidrologi memiliki peranan penting dalam kaitannya pengembangan suatu wilayah, kususunya dalam pemenuhan kebutuhan air untuk aktivitas masauarakat setempat.

Desa Ngraji yang memiliki potensi pertanian produktif yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan agrobisnis. Dimana potensi pertanian ini didukung oleh saluran irigasi dari Waduk Kedungombo serta embung yang terdapat di Desa Ngraji membuat pertanian sangat potensial untuk dikembangkan, selain itu Desa Ngraji juga dijadikan percontohan untuk holtikultura, sehingga membutuhkan sumber air dalam menunjang kegiatan tersebut. Desa Ngraji pada kondisi eksisting dilewati oleh dua sungai besar dan memiliki embung air , hal ini merupakan potensi untuk pengembangan pertanian dan sumber air untuk irigasi teknis yang menunjang aktivitas masayrakat setempat. Namun disisi lain masih diperlukan penyadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai atau saluran irigasi karena akan mengganggu fungsi yang seharusnya dapat terwadahi. Tetapi dalam suatu musim, misalnya musim penghujan timbul permasalahan diwilayah tersebut yang diakibatkan oleh meluapnya sungai yang terdapat di wilayah tersebut. Kondisi genangan air dari luapan sungai mencapai ke permukiman warga yang letaknya dekat dengan sungai, tidak hanya menggenangi permukiman saja areal pertanian juga ikut tergenangi, hal ini menjadi permaslahan serius apabila tidak segera ditangani karena merugikan masyarakat setempat.

(11)
(12)

2.2.4. Klimatologi

Kondisi Klimatologi Desa Ngraji secara umum sama dengan kondisi iklim di Indonesia yaitu iklim tropis yang dipengaruhi oleh 2 musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Suhu rata-rata Desa Ngraji 35oC, sedangkan suhu maksimum dapat mencapai 40oC. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember,

sedangkan curah hujan terendah biasa terjadi pada bulan Maret.

2.2.5. Vegetasi

Vegetasi yang mendominasi di Desa Ngraji merupakan vegetasi produktif yaitu areal lahan pertanian padi sawah yang terlihat merata di sekitar areal permukiman. Selain itu, vegetasi yang mendukung di sekitar kana kiri jalan utama Desa Ngraji yang berfungsi sebagai peneduh. Sedangkan vegetasi yang berada di sekitar rumah biasanya merupakan tanaman pekarangan yang berfungsi sebagai peneduh dan pengindah dan ada sebagian yang merupakan tanaman produktif buah-buahan.

2.2.6. Penggunaan Lahan

Desa Ngraji memiliki luas wilayah 564,383 Ha, dengan fungsi lahan sawah yang memiliki luasan paling besar, yaitu 397,882. Sedangkan untuk permukiman dengan luas 90,806 Ha, dan kebun 70, 861 Ha, sedangkan yang paling kecil luasannya adalah fasilitas umum yaitu sebesar 4,894 Ha

Tabel II.4

Jenis Penggunaan Lahan Desa Ngraji Tahun 2010-2012 (Ha) No jenis penggunaanlahan Luasan(Ha)

1 Permukiman 90.806

2 Sawah 397.822

3 Kebun 70.861

4 Fasilitas Umum 4.894

jumlah 564.383

(13)
(14)

2.3. KEPENDUDUKAN 2.3.1.Jumlah Penduduk

Komposisi penduduk berdasarkan monografi Desa Ngraji Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan dari 2010 hingga 2012 dapat dilihat melalui tabel dibawah ini :

Tabel II.5

Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur Desa Ngraji Tahun 2010-2012

Kelompok Umur

2010 2011 2012

Laki

-laki Perempuan Jml Laki-laki Perempuan Jml -lakiLaki Perempuan Jml

0– 4 449 446 895 471 470 941 383 394 777 5 – 9 551 543 1094 573 567 1140 379 392 771 10 – 14 544 579 1123 566 566 2270 377 393 770 15 – 19 540 538 1078 355 354 423 20 – 24 403 430 833 562 567 1129 409 381 790 25 – 29 393 427 820 425 454 879 386 391 777 30 – 39 653 648 1301 415 451 866 752 710 1462 40 – 49 394 418 812 675 672 2213 714 738 1452 50 – 59 335 344 679 416 442 3071 715 735 1450 > 60 307 335 642 692 730 1422 877 940 1817 Jumlah 4569 4479 9277 4795 4914 9714 5415 5448 10863

Sumber : Monografi Desa Ngraji, 2010-2012

Gambar 2.1

Grafik Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur Desa Ngraji Tahun 2012

Sumber :Tabel II.3.

Dari tabel dan grafik di atas terlihat bahwa ketersediaan sumberdaya manusia cukup besar untuk mampu mengolah potensi sumberdaya alam yang tersedia, khususnya potensi pertanian. juga dapat dilihat angka ketergantungan juga tinggi hal ini dilihat dari banyaknya tingkat usia yang lanjut, sehingga usia

muda dituntuk untuk lebih produktif untuk mengimbangi angka ketergantungan tersebut. Sumberdaya alam pertanian dan industri menengah kecil masyarakat serta peternakan di Desa Ngraji membutuhkan sumberdaya manusia (khususnya para pemuda) untuk mampu mengolah secara efektif, efisien dan inovatif dengan teknologi yang semakin berkembang untuk meningkatkan nilai ekonomis yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Ngraji. Potensi sumberdaya manusia yang cukup besar untuk mengolah sumberdaya alam di Desa Ngraji juga harus diimbangi dengan kualitas sumberdaya manusia yang ada untuk mampu mengolah potensi alam yang ada dengan sebaik-baiknya dan bijaksana.

Berdasarkan data monografi tahun 2012, jumlah penduduk Desa Ngraji sebanyak 10.863 jiwa, yang terdiri dari 5448 jiwa perempuan dan 5415 jiwa laki-laki. Jika dibandingkan dengan tahun 2010 dan 2011 jumlah penduduk selalu mengalami kenaikan, pada tahun 2010-2011 terjadi kenaikan jumlah penduduk, dan jumlahnya cukup signifikan, yaitu pada tahun 2010 dengan jumlah penduduk 9277 dan mengalami kenaikan pada tahun 2011 menjadi 9714 jiwa penduduk.

2.3.2. Mata Pencaharian

Dominasi aktivitas pertanian terlihat dari data di bawah ini yang menunjukkan bahwa 59,1% penduduk Desa Ngraji melakukan aktivitas di bidang pertanian, disusul kemudian oleh aktivitas sebagai karyawan swasta sebanyak 30,1%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel II.6

Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Desa Ngraji Tahun 2010-2012

No Jenis/Bidang Pekerjaan 2010 2011 2012 % 1 PNS 97 101 101 1.4 2 TNI/POLRI 19 19 19 0.2 3 Karyawan (swasta) 141 145 2125 30.1 4 Wiraswasta 95 99 99 1.4 5 Pertukangan 217 22 221 3.1 6 Buruh Tani/Petani 643 652 4165 59.1 7 Pensiunan 13 17 17 0.2 8 Pemulung - - -9 Jasa/Lainnya 61 68 299 4.2 Jumlah 1286 1123 7046 100,00

(15)

Gambar 2.2

Grafik Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Desa Ngraji Tahun 2012

Sumber : Tabel II.5. 2.4. FASILITAS LINGKUNGAN 2.4.1.Hunian

A. Kondisi Fisik Dasar Permukiman

Permukiman di Desa Ngraji dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: rumah permanen, rumah semi permanen, dan rumah tidak permanen. Pengelompokan ini didasarkan pada material penyusun struktur rumah. Rumah permanen tersusun atas tembok/dinding dari campuran batu bata dan semen serta lantai yang berkeramik, untuk rumah semi permanen tersusun atas perpaduan antara tembok/dinding batu bata dan semen dengan papan/bambu. Sedangkan rumah tidak permanen terbuat dari papan/bambu sertai lantai dari tanah.

Jumlah rumah di Desa Ngraji didominasi oleh rumah tidak permanen 1054 unit dari total jumlah rumah di Desa Ngraji, sedangkan rumah permanen dan semi permanen sekitar 663 dan 101 unit. Melihat kondisi ini, maka kawasan permukiman di Desa Ngraji memerlukan perhatian khusus untuk peningkatan kualitas permukiman dan penataan bangunan serta lingkungan sekitar untuk mewujudkan lokasi hunian yang lebih bersih, sehat, dan nyaman sebagai tempat tinggal.

Tabel II.7

Kondisi Tempat Tinggal Desa Ngraji Berdasarkan Jenis Rumah Tahun 2010 - 2012

No Keterangan Tahun Persentase(%)

2010 2011 2012

1 Permanen 413 461 663 24.3

2 Non permanen 619 1029 1054 38.7

3 Semi permanen 1027 627 1001 36.8

Jumlah 2059 2117 2718 100

Sumber : Hasil Pemetaan Swadaya, 2013

Sedangkan berdasarkan kondisi fisik bangunan dapat teridentifikasi lokasi permukiman di Desa Ngraji sebagai berikut :

Tabel II.8

Kondisi Fisik Bangunan RT/

RW

Rumah Tidak Layak Huni

Alas Dinding Ventilasi/Jendela Atap Kamarmandi WC Saluran SampahTempat Penerangan Tanah Papan Gedek < 4 tengGen lainnya Permanen Permanen ada /tdk ada /tdk ada /tdk

01 221 232 33 173 277 2 238 255 265 146 224 02 28 0 0 28 0 0 0 0 0 0 0 03 444 503 138 437 575 5 484 486 269 217 564 04 466 431 158 391 516 1 418 438 366 228 519 05 291 389 98 236 480 9 375 371 12 4 9 06 89 96 10 81 108 0 108 108 107 100 108

Sumber: Hasil PS Desa Ngraji 2013

2.4.2. Pendidikan

Sarana pendidikan merupakan salah satu sarana yang sangat penting untuk meningkatkankualitas pembangunan suatu wilayah, karena kualitas SDM dapat diukur dari seberapa besar tingkat pendidikan yang diperoleh masyarakat. Kualitas pendidikan yang baik akan menghasilkan warga masyarakat yang baik dan berpendidikan. Oleh karena itu, kualitas sumber daya manusia dapat dijadikan sebagai salah satu indikator perkembangan suatu wilayah. Kualitas sumber daya manusia yang baik dan unggul erat kaitannya dengan sarana pendidikan yang baik guna mewujudkan usaha dalam peningkatan mutu kualitas pendidikan di negara ini. Pendidikan merupakan variable input yang mempunyai determinasi kuat terhadap kualitas manusia sebagai individu maupun masyarakat. Output yang dihasilkan adalah produktivitas, kreativitas, etos kerja, dan kemandirian. Indikator yang sering digunakan untuk menggambarkan kemajuan penduduk adalah status, pendidikan tertinggi, partisipasi dan kemampuan baca tulis serta berbahasa

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Ngraji dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jenjang pendidikan yang pernah ditempuh. Dari kelompok tersebut pendudukan yang hanya tamatan SLTP/SLTA menempati jumlah yang paling besar yaitu 8426 jiwa atau 91,01% pada tahun 2012. Sedangkan penduduk Desa Ngraji yang menempuh pendidikan lulusan akademi menempati jumlah paling sedikit yaitu 112 orang atau 1,2% saja. Berdasarkan data data tersebut, tingkat pendidikan di Desa Ngraji pada tahun terahir terus meningkat, hal ini berarti kebutuhan akan pendidikan dirasa penting bagi penduduk setemopat. Dengan tingginya partisipasi pendidikan setinglkat SLTP/SLTA diharapkan mampu menjadi sumberdaya manusia yang mumpuni untuk mengolah potensi lokal demi terwujudnya kesejahteraan. Berikut disajikan data pendudukmenurut tingkat pendidikan:

(16)

Tabel II.9

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Ngraji Tahun 2010 – 2013

No Keterangan Tahun Persentase

(%)

2010 2011 2012

1 Tamatperguruan tinggi 95 95 112 1,2

2 TamatSLTA/SLTP 8017 8017 8426 91,01

3 Tidak tamatSD/Tamat SD 61 61 469 5,06

4 Belum tamatSD/tidak sekolah 242 242 251 2,7

Jumlah 8415 8415 9258 100

Sumber: Hasil Pemetaan Swadaya, 2013

Grafik 2.3

Grafik Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Desa Ngraji Tahun 2012

Sumber: Tabel II.9.

Berdasarkan data diatas, jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan di Ngraji selama tiga tahun terakhir (2010 – 2012) mengalami perubahan yang cukup signifikan dan diindikasikan setiap tahun pendidikan terahir semakin bertambah jumlah penduduknua, tingginya peningkatan ini mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan cukup tinggi. Sementara itu jumlah penduduk yang berpendidikan akademi dan perguruna tinggi paling kecil 1,2% saja.Diharapkan sedikitnya jumlah penduduk yang berpendidikan hingga perguruan tinggi tersebut mampu menjadi motor penggerak bagi pembangunan dan kemajuan Desa Ngraji. Disisi lain perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan di Ngraji. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) maka kebutuhan sarana pendidikan formal eksisiting di Ngraji adalah sebagai berikut:

Tabel II.10

Kebutuhan Jumlah Sarana Pendidikan Eksisting Desa Ngraji Jenis Sarana EksistingJumlah StandarSNI

TK 5 9

SD/MI 5 7

SMP/MTS 2 2

Sumber : Hasil Analisi Tim Penyusun, 2013

Berdasarkan data diatas, jumlah sarana pendidikan di Ngraji masih kekurangan terutama TK, untuk pendidikan anak usia dini perlu penambahan dalam perencanaan kedepan masing-masing memerlukan penambahan untuk TK 4 unit dan SD 2 unit,untuk SMP unit yang ada sudah mampu melayani kebutuhan masyarakat. Penambahan fasilitas pendidikan guna menunjang peningkatan kualitas SDM sehingga salah satu akar penyebab kemiskinan dapat diminimalisir. Selain itu perlu adanya peningkatan mutu pendidikan itu sendiri baik secara fisik maupun sistem pembelajaran terutama untuk Sekolah Dasar. 2.4.3. Kesehatan

Kesehatan sangat dipengaruhi oleh pola dan perilaku masyarakat serta kondisi lingkungannya. Oleh sebab itu perlu adanya penanganan yang komprehensif dan terintegrasi yang dilakukan oleh semua pihak agar penyelesaiannya efektif. Upaya pembangunan di bidang kesehatan masyarakat, diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat mencakup gizi masyarakat dan perbaikan kualitas lingkungan. Selain itu penambahan fasilitas kesehatan publik juga perlu ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas.

Kualitas lingkungan yang buruk menjadi salah satu sumber timbulnya berbagai macam penyakit. Hal ini bisa dilihat masih banyaknya warga Ngraji yang menjadikan dapur sekaligus sebagai tempat ternak sapi ataupun kambing. Selain itu sebagian besar rumah penduduk Ngraji belum dilengakpi dengan WC permanen yang bersih dan layak dibandingkan dengan menggunakan WC Cemlung yang berada dibelakang rumah. Hal ini terjadi terkait kondisi geografis Desa Ngraji yang sedikit memiliki sungai dan lahan belakang rumah atau kebun yang relatif luas.

Tabel.II.11 Sarana Kesehatan Jenis Sarana Jumlah

Eksisting Standar SNI Puskesmas Pembantu 1 -Balai Pengobatan/dokter 2 2 Posyandu 5 9

Sumber : Hasil Analisi Tim Penyusun, 2013

Berdasarkan perhitungan Standar Nasional Indonesia (SNI) kebutuhan jumlah fasilitas kesehatan Posyandu di Desa Ngraji masih perlu penambahan 4 unit namun di Desa tersebut hanya ada 5 dusun dan dengan keberadaan 5 posyandu dirasa cukup melayani kebutuhan akan posyandu bagi masyarakat setempat, untuk pengobatan dokter sudah cukup untuk melayani kebutuhan masyarakat setempat. Selain itu Desa Ngraji juga sudah mempunya 1 unit Pustu (Puskesmas Pembantu) yang berada di Dusun Ngraji. Berdasarkan jumlah penduduk yang ada seharusnya tidak wajib memliki PUSTU namun dalam kondisi eksisting didapati guna melayani pusat kesehatan masyarakat.

(17)

2.4.4. Peribadatan

Sarana peribadatan merupakan tempat ibadah seseorang terhadap Tuhannya secara langsung. Oleh sebab itu penyediaan kebutuhan sarana seperti masjid, musholla dan gereja perlu ditingkatkan karena hal ini juga secara tidak langsung akan menjaga kerukunan antar umat beragama. Selain itu konflik multi etnis dan golongan pun bisa dihindarkan apabila kehidupan antar umat beragama hidup rukun dan damai.

Berdasarkan jumlah penduduk menurut agama di Desa Ngraji, hampir seluruh masyarakatnya beragam Islam yaitu 10845 jiwa atau 99,83% dan sisanya adalah pemeluk agama Kristen sebanyak 6 jiwa , katolik 8 jiwa dan budha sebanyak 4 jiwa, dan hal ini merupakan suatu potensi Sumber Daya Manusia dibidang keagamaan dilihat penduduk yang memelukl agama islam cukup besar, sehingga bisa dikembangkan untuk membuat suatu kelembagaan-kelembagaan ataupun kelompok yang berbasis Islam untuk menciptakan suatu pembangunan yang berorientasi terhadap nilai-nilai Keislaman.

Selain itu, potensi kegamaan Islam di Desa Ngraji harus diakomodir terhadap kepentingan peribadatan tersebut dengan menciptakan sarana peribadatan yang sesuai dengan jumlah kebutuhannya. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan sarana peribadatan adalah sebagai berikut:

Tabel II.12

Kebutuhan Jumlah Sarana PeribadatanEksisting Desa Ngraji Jenis Sarana EksistingJumlah StandarSNI

Mushola 54 43

Masjid 6 4

Gereja 0 0

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2013

Berdasarkan data diatas, kebutuhan sarana peribadatan berupa masjid sudah mencukupi, sedangkan musholla juga sudah mencukupi bahkan untuk kebutuhan sarana mendatang juga sudagh mampu mencukupi karena banyaknya jumlah mushola yang ada di Desa Ngraji. Sementara untuk gereja dan vihara saat ini belum diperlukan. Selain penyediaan sarana peribadatan, di Desa Ngraji saat ini juga terdapat lembaga-lembaga keagamaan yang memiliki peran startegis sebagai kontrol sosial dan wadah aspirasi keagamaan bagi pemeluknya. Berikut ini lembaga-lembaga kegamaan yang teridentifikasi di Desa Ngraji:

Tabel II.13

Banyaknya Lembaga Kegamaan Desa Ngraji Nama Lembaga (kelompok)Jumlah AnggotaJumlah

Majelis Masjid 6 252

Remaja Masjid 6 246

Majelis taklim 1 265

Sumber: Monografi Desa Ngraji, 2012

2.4.5. Perdagangan dan Jasa

Perdagangan dan jasa merupakan unsur penting terhahadap kelangsungan perekonomian di Desa Ngraji. Terdapatnya pasar umum di Dusun Tempel dan Dusun Ngablak merupakan aktivitas utama perekonomian yang memberikan pelayanan akan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Selain itu terdapatnya beberapa jumlah toko/ warung yang berada tersebar dipinggir jalan dan di tengah permukiman penduduk yang mudah dijangkau memberikan kemudahan bagi pembeli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan sektor jasa di Ngraji berupa jasa angkutan dan lain-lain. Berikut ini disajikan tabel kegiatan perekonomian berupa perdagangan dan jasa yang ada di Ngraji.

Tabel II.14

Jumlah Sarana Perdagangan Desa Ngraji Tahun 2010 – 2012 Jenis Sarana 2010 Jumlah (unit)2011 2012

Pasar umum 2 2 2

Kelompok simpan pinjam

2 2 2

Toko/kios 48 27 70

Sumber: Monografi Desa Ngraji, 20012

Jumlah sarana perdagangan di Desa Ngraji selama tiga tahun terakhir (2010 – 2012) tidak mengalami perubahan. Di Desa Ngraji terdapat pasar lingkungan. Skala pelayanan pasar tersebut yaitu untuk melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat Ngraji. Pasar tersebut hanya beroperasi setengah hari mulai pagi sampai siang. Selain itu terdapat kelompokn simpan pinjam juga di Desa Ngraji dan hingga saat ini baik pasar maupun kelompok simpan pinjam masih beroperasi secara aktif.

Sementara untuk aktivitas usaha atau jasa di Desa Ngraji dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Tabel II.15

Banyaknya Usaha atau Jasa Desa Ngraji Tahun 2010 – 2012

Jenis Usaha/jasa 2010 Jumlah (unit)2011 2012

Industri rumah tangga 13 55 58

Warung makan 5 16 16

Perdagangan 26 11 11

Angkutan 2 2 2

Lain-lain - 5

(18)

Berdasarkan data diatas, jumlah usaha dan jasa di Desa Ngraji selama tiga tahun terakhir mengalami perubahan. Perubahan paling signifikasn adalah home industri yang pada tahun 2010 hanya sebesar 13 pengrajin namun pada tahun 2012 terdapat penambahan 45 pengrajin menjadi 58 pengrajin. Perlu adanya modal usaha yang lebih besar bagi pelaku usaha rumah tangga agar mampu mengembangkan usahanya dan bisa menciptakan inovasi-inovasi serta diversifikasi jenis usaha maupun bahan baku. Adanya jalan lokal sekunder yaitu Jl.Danyang Kuwu yang menghubungkan Desa Danyang dengan Desa Kuwu membuka peluang usaha dibidang perdagangan yaitu usaha berupa warung makan.

2.4.6. Pemerintahan

Pusat pemerintahan Desa Ngraji berada di Dusun Ngraji dimana terdapat balai desa, kantor desa dan fasilitas umum berupa lapangan tenis dan bulu tangkis yang berada di satu lahan yang sama. Selain itu juga terdapat fasilitas sosial berupa sarana kesehatan yaitu posyandu bagi Dusun Ngraji. Selain berfungsi untuk melayani publik, pemerintahan juga sangat berfungsi untuk urusan tata kelola dan administrasi suatu desa sehingga tercipta suatu kehidupan desa yang terintegrasi dan independen.

Salah satu indikasi keberhasilan suatu pemerintahan adalah bukan seberapa banyak suatu kebijakan atau keputusan itu dikeluarkan akan tetapi keberhasilan pemerintahan itu adalah seberapa besar kebijakan dan keputusan itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini paling tidak bisa dilihat dari banyaknya jumlah pelayanan masyarakat oleh perangkat pemerintahan Desa Ngraji. Untuk mengetahui jumlah pelayanan masyarakat oleh pemerintahan dapat dilihat pad atabel berikut:

Tabel II.16

Jumlah Pelayanan Masyarakat Desa Ngraji Tahun 2010-2012 Jenis Pelayanan Jumlah (orang)

2010 2011 2012 Pelayanan umum 1 1 1 Pelayanan Kependudukan 1 1 1 Pelayanan Legalisasi 1 1 1 Jumlah 3 3 3

Sumber: Monografi Desa Ngraji, 2012

Jumlah pelayanan umum di Ngraji selama tiga tahun terakhir (20010 – 2012) jumlah aparat pemerintahan yang melayani masayarakat baik pelayanan umum, pelayanan kependudukan dan pelayanan legalisasi tidak ada peningkatan anggota pemerintahan, pada tiap pelayanan didapati ada 1 orang aparat pemeriuntahan yang melayani masayrakat. Untuk kedepannya perlu peningkatan anngota pemerintahan dalam peningkatan pelayanan terhadap masyarakat, agar pelayanan bias maksimal.

Selain jumlah pelayanan masyarakat oleh pemerintah, banyaknya pembinanaan perangkat desa yaitu ketua RT dan ketua RW oleh pemerintahan Ngraji juga menjadi indikator tingkat keberhasilan pemerintah yaitu peduli terhadap perangkat terendah tingkat desa. Selama tiga tahun terakhir, pemerintahan Ngraji telah melakukan pembinaan kepada semua ketua RT dan RW masing-masing dusun yang berjumlah 66 orang dan 6 orang. Diharapkan terjadi suatu hubungan yang konstruktif dan terjadi sinergitas antar masing-masing perangkat desa mulain tingkat RT hingga kepala desa.

Adapun perangkat desa di Ngraji dibagi menjadi 3 unsur yaitu Kepala Urusan dan Kepala Dusun yang masing-masing berjumlah 5 orang serta dibantu oleh staf. Kepala urusan dibagi menjadi 2 yaitu kaur kesra dan kaur pengairan. Kaur kesra bertugas mengurusi nikah, cerai, talak, rujuk, kelahiran dan kematian. Sedangkan kaur pengairan bertugas untuk pembagian air ataur irigasi petani. Sedangkan Kepala Dusun (kadus) merupakan jabatan fungsional tertinggi ditingkat dusun dengan ketentuan satu dusun dipimpin oleh kadus.

2.5. UTILITAS

2.5.1.JARINGAN JALAN DAN JEMBATAN

Jaringan jalan yang terdapat di Desa Ngraji membentuk pola liner organik yaitu jaringan jalan yang mengikuti perkembangan permukiman dengan sumbu jalan utamanya yaitu Jl. Danyang Kuwu. Berdasarkan fungsinya, jalan di Ngraji terdiri dari 2 fungsi yaitu jalan lokal sekunder yaitu Jl. Danyang -Kuwui yang menghubungkan Desa Danyang dengan Desa kuwu dan jalan lingkungan yaitu penghubung antar persil di tengah permukiman warga. Berdasarkan jenis perkerasannya jalan di Desa Ngraji dibagi menjadi 4 yaitu paving, makadam, beton dan tanah. Sedangkan berdasarkan kondisinya jalan di Ngraji dibagi menjadi tiga yaitu baik, sedang dan rusak.

Jalan yang sudah dibeton meliputi Jl.Danyang Kuwu yang merupakan jalan lokal sekunder dengan sistem beton penuh yaitu semua sisi badan jalan dibeton dan jalan lingkungan dibeberapa dusun dengan sistem setengah penuh atau rabat beton yaitu hanya kedua sisi pinggir dari badan jalan yang dibeton. Kemudian jalan yang sudah dipaving meliputi jalan lingkungan disebagian kecil Desa Ngraji dengan sistem paving penuh dan setengah penuh. Selanjutnya jalan yang masih berupa makadam dan tanah meliputi hampir sebagian besar dusun di Ngraji.

Berikut ini hasil identifikasi data jalan di Desa Ngraji pada tahun 2007 – 2009. Tabel II. 17

Panjang jalan di Ngraji Tahun 2010 - 2012 Kondisi jalan 2010 Tahun (km)2011 2012

Jalan desa bukan aspal - - 1

Jalan desa aspal - -- 1

Jalan kabupaten - 2

Sumber: Monografi Desa Ngraji, 2012

Berdasarkan data jalan diatas selama tiga tahun terakhir tidak begitu lengkap, hanya ada pada tahun 2012 keterangan panjang jalan. Pada kondisi eksisting jalan Kabupaten yang ad di Desa Ngraji sudah Beton penuh dnegan kondisi bagus. Jalan-jalan lingkungan yang menghubungkan permukiman warga sebagian besar belum beraspal atau makadam yaitu campuran perkerasan kerikil dan tanah sehingga kalau musim hujan akan menimbulkan genangan air (inundation) dan “becek”. Hampir semua dusun masih terdapat jalan lingkungan berupa makadam. Namun terdapat juga jalan lingkungan yang sudah berupa beton. Persebarannya semua dusun yaitu meliputi sebagian Dusun Ngraji, Dusun Ngablak, Dusun

Referensi

Dokumen terkait

bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta – pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Berdasarkan analisis hasil penelitian diperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa dan analisis hasil belajar siswa, untuk aktivitas guru dan siswa diperoleh

Selain variabel-variabel tersebut, untuk membentuk suatu model dinamis guna lahan permukiman dalam memproyeksikan besarnya kebutuhan permukiman pada masa mendatang,

Hasil lainnya yang diperoleh dari simulasi ini adalah kenaikan nilai temperatur udara primer sebesar 463°K dengan kondisi flowrate udara dan batubara pada nilai yang

Dalam rangka memberikan jaminan mutu atas pelaksanaan abdimas, dilakukan proses monitoring dan evaluasi oleh LPPM melalui staf PPM dan/atau key person dari jurusan yang

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata