dibentuk 2013, berbatasan langsung dengan Malaysia. Di provinsi termuda ini ada lima wilayah kabupaten/kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tanah Tidung, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kota Tarakan. Kelima kabupaten / kota tersebut telah terhubung dengan jaringan transportasi. Dari kelima wilayah yang ada,
kota Tarakan memiliki layanan transportasi yang paling lengkap. Fasilitas infrastruktur bandara dan pelabuhan cukup besar. Infrastruktur tersebut ditopang ketersediaan sarana transportasi yang memadai untuk menjangkau daerah lainnya di Kalimantan Utara.
Kendati demikian, ada beberapa tantangan bagi pengembangan transportasi di wilayah itu. Selama ini, masyarakat menggunakan kendaraan pribadi untuk menjangkau daerah pedalaman yang terdekat, sementara untuk daerah Nunukan dan Tarakan yang jauh memanfaatkan angkutan udara dan laut. Sementara jaringan transportasi melalui sungai kurang bisa menjadi andalan karena saat aliran arus air sungai deras jalur ini tidak dapat dilalui oleh kapal besar.
TRANSPORTASI AKTIF DI KALIMANTAN UTARA
Saat ini Provinsi Kalimantan Utara memiliki jalan nasional seluas 552,047 kilometer yang merupakan bagian Trans Kalimantan. Untuk jaringan jalan telah terhubungkan ke semua ibukota kabupaten di wilayah daratan. Tahun ini, Kementerian Perhubungan telah mengoperasikan Bis Perintis dengan operator Perusahaan Umum (Perum) Damri sebagai transportasi jaringan jalan.
Bis Damri yang tersedia melayani beberapa rute, dan hanya satu keberangkatan setiap harinya yaitu pukul 09.00 wita. Rute tersebut antara lain Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan) – Malianu (Kabupaten Malinau) yang dapat ditempuh selama
4 jam, dengan tarif Rp.130 ribu. Untuk layanan lainnya yaitu Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan) dengan kota Tanjung Redep (Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur), yang dapat ditempuh 2 jam dengan tarif Rp.50 ribu. Sejatinya, sebelum bis perintis beroperasi telah terdapat pelayanan angkutan pelat hitam (travel), yang dimiliki perseorangan. Angkutan tersebut melayani perjalanan dari Tanjung Selor – Tideng Pala (Kabupaten Tana Tidung) – Malinau. Tarif rute Tanjung Selor – Malinau Rp 250 ribu per orang, Tanjung Selor – Tideng Pala Rp 100 ribu per orang, dan rute Tideng Pala – Malinau Rp 150 ribu per orang.
Saat ini Provinsi
Kalimantan Utara
memiliki jalan
nasional seluas
552,047 kilometer
yang merupakan
bagian Trans
Kalimantan.
1-2. Aktivitas Bandara Juwata Tarakan
3. Aktivitas Kapal Ferry di dermaga penyeberangan Juata Tarakan
POTRET
Di wilayah perkotaan Tanjung Selor, terdapat 3 trayek angkutan kota, namun tarifnya tidak pasti dan relatif mahal, bisa mencapai Rp 30 ribu per orang. Sementara di dalam wilayah perkotaan Malinau, angkutan kota yang berjumlah sekitar 85 unit menerapkan tarif jauh dekat Rp 6.500 dengan lima rute layanan. Sedangkan di wilayah perkotaan Nunukan terdapat pelayanan angkutan penumpang dengan
kendaraan pribadi yang melayani door to door service. Diperkirakan angkutan seperti ini berjumlah sekitar 250 armada.
Di Kabupaten Nunukan terdapat Pulau Sebatik yang wilayahnya terpecah menjadi dua, milik Indonesia dan Malaysia. Untuk layanan angkutan umum di Pulau Sebatik dilayani kendaraan pribadi yang sifatnya charter
atau sewa.
Satu-satunya wilayah di Provinsi Kalimantan Utara yang sudah terlayani angkutan taksi ada di Tarakan. Tarif taksi terbagi dalam 3 wilayah layanan (Ring). Ring pertama Rp 65 ribu, Ring kedua Rp 90 ribu dan Ring Ketiga Rp 130 ribu. Sementara untuk angkutan kota di dalam wilayah Tarakan dilayani armada berkapasitas 10 penumpang dengan 10 rute.
Fasilitas Terminal Tipe B ada di Kota Tanjung Selor yang menopang seluruh
aktivitas penyelenggaraan angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP). Sedangkan untuk Terminal Tipe C terdapat di masing-masing kabupaten/ kota. Diantaranya, Terminal Pasar Induk Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan), Terminal Malinau (Kabupaten Malinau), Terminal Nunukan (Kabupaten Nunukan), Terminal Tengkuyun, dan Terminal Simpang Tiga (Kota Tarakan).
AKSES PENYEBERANGAN DAN BANDARA
Di Provinsi Kalimantan Utara terdapat tiga pelabuhan penyeberangan, yaitu Juata Laut di Kota Tarakan, Sungai Jepun di Kabupaten Nunukan, dan Ancam di Kabupaten Bulungan.
Untuk Pelabuhan Penyeberangan Juata Laut (Kota Tarakan) terdapat tiga
4
4-5. Aktivitas Bandara Juwata, Tarakan 6. Angkotan umum di Kota Tarakan 7. Pelabuhan Penyeberangan Juata, Tarakan 8. Aktivitas di Penyeberangan Juata, Tarakan
POTRET
lintasan penyeberangan, yaitu Tarakan – Toli Toli oleh KMP Julung-Julung, sekali seminggu; Tarakan – Nunukan, oleh KMP Manta, 2 kali seminggu; dan Tarakan – Ancam, oleh KMP Manta II, 3 kali seminggu. Operator angkutan penyeberangan dijalankan PT ASDP Indonesia Ferry.
Untuk jaringan pelayanan angkutan laut antarprovinsi di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, dilayani empat kapal milik PT Pelni. Kapal-kapal tersebut bersandar di Pelabuhan Tarakan dengan frekuensi 1 kali seminggu bergantian. Diantaranya, KM Dobonsolo, KM Tidar, KM Umsini, dan KM Bukit Siguntang. Sementara pelayaran jarak dekat tersedia angkutan speed boat yang rata-rata mampu mengangkut 45 orang.
Angkutan ini merupakan transportasi andalan untuk menghubungkan wilayah kota Tarakan ke kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Utara. Saat ini, tercatat lebih dari 50 kali per hari keberangkatan speed boat dari Pelabuhan Tengkayu II Tarakan menuju ke kabupaten lainnya. Tarif terendah yang dikenakan sebesar Rp 85 ribu dengan lintasan Tarakan – Pulau Bunyu, dan tarif tertinggi Rp 215 ribu dengan lintasan Tarakan – Malinau. Sementara frekuensi terbanyak terdapat pada lintasan Tarakan – Tanjung Selor dengan tarif sebesar Rp 110 ribu per orang. Sejalan dengan transportasi laut, ketersediaan layanan transportasi udara yang melayani masyarakat di Kalimantan Utara cukup memadai.
Frekuensi penerbangan teramai dan terpadat berada di Bandara Juwata, Tarakan. Disamping itu, masih ada juga bandara lainnya yang melayani rute penerbangan di Kalimantan Utara, yakni Bandara RA Besing di Malinau, Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor, dan Bandara Nunukan.
Keberhasilan dalam pembangunan ekonomi lokal sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur transportasi yang baik. Konektivitas transportasi yang kuat ikut menentukan keberhasilan peningkatan perekonomian lokal dan membuka keterisolasian yang ada di Kalimantan Utara.
Djoko Setijowarno, Pengajar Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata
6
7 8 5