• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Penelitian Terdahulu

Abik Fatoni (2017), dengan penelitian berjudul “Efisiensi Pemasaran Pepaya Varietas Calina IPB-9 (Studi Kasus Di Kecamatan Langensari Kota Banjar)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran pepaya varietas calina serta besarnya marjin pemasaran dan farmer’s share yang diterima oleh petani. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui saluran pemasaran. Secara kuantitatif, dilakukan analisis marjin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian saluran pemasaran pepaya Di Kecamatan Lengensari terbagi menjadi empat pola saluran pemasaran, yaitu :

a. Saluran I : Petani → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer→ Konsumen b. Saluran II : Petani → Pedagang Pengumpul → Pedagang Besar → Pedagang

Pengecer→Konsumen

c. Saluran III : Petani → Pedagang Pengumpul → Pedagang Pengecer → Konsumen

d. Saluran IV : Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen

Marjin pemasaran pada saluran I untuk pedagang besar sebesar Rp 750/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.000/kg, saluran II untuk pedagang pengumpul sebesar Rp 500/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.000/kg, saluran III untuk

pedagang pengumpul sebesar Rp 750/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.250/kg, dan saluran IV untuk pedagang pengecer Rp 1.250/kg. besarnya bagian harga (farmer’s share) yang diterima petani pepaya dari harga yang dibayar konsumen di Kecamatan Lengensari Kota Banjar pada saluran I sebesar 50%, saluran II sebesar 42,86%, saluran III sebesar 42,86% dan saluran IV sebesar 64, 29%. Efisiensi pemasaran pada saluran I sebesar 18,57%, saluran II sebesar 25,71%, saluran III sebesar 21,39% dan saluran Iv sebesar 12,29%.

Hadi Permana (2020) dengan penelitian berjudul “Analisis Saluran Pemasaran Pepaya california (Studi Kasus Desa Sukajaya Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran pepaya california, marjin pemasaran dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pepaya california di Desa Sukajaya Kecamatan Pamarican. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa di Desa Sukajaya terdapat 3 saluran pemasaran pepaya yaitu :

a. Saluran I : Produsen → Konsumen

b. Saluran II : Produsen → Pedagang Pengecer → Konsumen

c. Saluran III : Produsen → pedagang Pengumpul → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer → Konsumen

Biaya pemasaran pada saluran I sebesar Rp. 125/kg, saluran II sebesar Rp.

230/kg dan saluran pemasaran III sebesar Rp. 1.000/kg. Sedangkan marjin pemasaran pada saluran I sebesar Rp. 0/kg, saluran II Rp. 1.900/kg dan pada saluran III Rp. 4.300/kg. Keuntungan pemasaran pada saluran I sebesar Rp.

1.575/kg, saluran II sebesar Rp. 1.670/kg dan pada saluran III sebesar Rp.

3.300/kg. Efisiensi pemasaran pada saluran I sebesar 5,43%, saluran II sebesar 9,61% dan pada saluran III sebesar 43,47%. Farmer’s Share pada saluran pemasaran I sebesar 57,50%, saluran II 57,78%, saluran III 35,58%.

Pada penelitian Ferry Firmansyah (2021) dengan judul “Analisis Pemasaran Buah Nanas di Desa Sarireja Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, biaya dan keuntungan serta tingkat efisiensi pemasaran nanas di Desa Sarireja Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Metode yang digunakan dalam

penelitian ini adalah metode analisis deskriptif untuk saluran pemasaran, secara kuantitatif dilakukan analisis marjin pemasaran, dan efisiensi pemasaran. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pemasaran nanas di Desa Srireja Kecamatan Jalancagak terdapat dua saluran pemasaran yaitu saluran pertama terdiri dari Petani → Bandar → Pedagang Pengecer → Konsumen akhir.

Sedangkan saluran pemasaran kedua yaitu Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen akhir. Hasil perhitungan diperoleh bahwa biaya dan keuntungan lembaga pemasaran I : biaya yang dikeluarkan bandar berjumlah Rp. 193/kg, keuntungan bandar Rp.2.757/kg. Biaya yang ditanggung pedagang pengecer Rp.1.162/kg, dengan keuntungan Rp.2.088/kg. saluran pemasaran II biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 213/kg, keuntungan yang diperoleh Rp.4.787/kg.

Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer sebesar Rp. 611/kg, dan jumlah keuntungan yang didapat Rp.4.000/kg. Tingkat efisiensi pemasaran saluran II : marjin pemasaran sebesar Rp.4.000/kg, farmer’s share 55,56%, perbandingan antara biaya pemasaran dan nila produk 9,16%. Berdasarkan nilai dari marjin, farmer’s share, dan perbandingan biaya pemasaran serta nilai produk saluran II lebih efisien dari saluran I.

Rangga Setiawan (2020), dengan penelitian berjudul “Analisis Efisiensi Pemasaran Cabai Merah di Desa Jetak Ngasri Kecamatan Dau Kabupaten Malang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran cabai merah dan mengetahui tingkat pemasaran efisiensi cabai. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat dua saluran pemasaran cabai merah. Saluran I : Petani → Pengepul → Konsumen akhir, Saluran II : Petani → Pengepul → Pedagang besar → Konsumen akhir. Marjin pemasaran di tingkat pedagang besar yaitu Rp.1.850/kg, di pedagang pengecer sebesar Rp.1.600/kg, sehingga marjin keseluruhan sebesar Rp.1.950/kg. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran yang paling efisien terdapat pada saluran I.

Pada penelitian Achirudin (2021) dengan judul penelitian “Analisis Pemasaran Bawang Merah Lokal di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci”.

Penelitian ini bertujuan untuk saluran pemasaran bawang lokal, mengetahui nilai marjin dan farmer’s share pada masing-masing saluran pemasaran serta untuk

menganalisis efisiensi pemasaran bawang merah lokal. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan saluran pemasaran bawang merah lokal sedangkan analisis metode kuantitatif dilakukan untuk menganalisis efisiensi pemasaran yaitu analisis marjin pemasaran, analisis farmer’s share dan efisiensi pemasaran.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa saluran pemasaran bawang merah lokal di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci terdapat tiga saluran pemasaran yaitu saluran I : Petani → Pedagang pengumpul desa → Pedagang pengecer → Konsumen, saluran II : Petani → Pedagang pengumpul kecamatan → Pedagang pengecer → Konsumen, saluran III : Petani → Pedagang pengumpul desa → Pedagang pengumpul kecamatan → Pedagang pengecer → Konsumen akhir.

Saluran pemasaran I menunjukan total marjin pemasaran sebesar Rp.8.200/kg dan persentase farmer’s share sebesar 61,86%. Saluran pemasaran II menunjukan bahwa total marjin pemasaran sebesar Rp.7.100/kg dan persentase farmer’s share sebesar 66,19%, sedangkan saluran pemasaran III dengan total marjin sebesar Rp.9.226/kg dan persentase farmer’s share sebesar 59%. Saluran pemasaran yang efisien dilihat dari indeks efisiensi teknis adalah saluran pemasaran II, namun jika dilihat dari indeks efisiensi ekonomis adalah saluran pemasaran III.

Ivony Annisa (2018) dengan judul “Efisiensi Pemasaran Bawang Merah (Kasus: Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah)”. Penelitian Ivony bertujuan untuk menganalisis efisiensi operasional meliputi marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan terhadap biaya. Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share,dan rasiio keuntungan terhadap biaya menggunakan metode analisis data kuantitatif. sedangkan untuk menganalisis saluran pemasaran dan lembaga pemasaran menggunakan metode analisis kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah analisis efisiensi pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes menunjukan bahwa terdapat 7 saluran pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Analisis efisiensi operasional menunjukan bahwa saluran pemasaran yang efisien untuk saluran pemasaran Jawa Tengah merupakan saluran pemasaran dua. Sedangkan untuk saluran pemasaran diluar Provinsi Jawa Tengah yaitu saluran pemasaran

enam. Analisis efisiensi harga menunjukan bahwa hanya terdapat integrasi jangka pendek pada pemasaran bawang merah keluar Provinsi Jawa Tengah, yaitu Provinsi Lampung. Dimana harga bawang merah di tingkat petani mempengaruhi harga bawang merah di tingkat grosir dan pedagang eceran di Provinsi Lampung.

Dapat disimpulkan bahwa pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah telah efisien secara operasional namun belum efisien secara harga.

Penelitian Haeriyati Saad (2019) dengan judul “Analisis Pemasaran Jeruk Pamelo di Kelurahan Attangsalo Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep”.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui pemasaran jeruk pamelo demi meningkatkan hasil penjualan di Kelurahan Attangso Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, kueisioner dan dokumentasi. Untuk menganalisis data Haeriyati menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif.

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa saluran pemasaran untuk memasarkan jeruk pamelo di Kelurahan Attangsalo Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep menggunakan dua saluran pemasaran. Saluran pemasaran I : Petani → Pedagang pengumpul → Pedagang besar → Pedagang pengecer → Konsumen. Saluran pemasaran II : Petani → Pedagang pengecer → Konsumen.

Pada saluran I harga di tingkat petani sebesar Rp.2.500/kg sementara biaya di tingkat konsumen akhir Rp.15.000/kg sehingga di dapat persentase farmer’s share sebesar 16,67% dengan total marjin pemasaran Rp.100.000.000 dan total keuntungan Rp.81.250.000 serta total biaya pemasaran sebesar Rp.18.750.000 Pada saluran pemasaran II , harga di tingkat petani sebesar Rp.7.000/kg sedangkan harga di tingkat konsumen akhir Rp.15.000/kg sehingga di dapat persentase farmer’s share sebesar 46,67% dengan total marjin pemasaran Rp.2.400.000 dan total keuntungan Rp.1.600.000 serta total biaya Rp.740.000.

Dilihat secara ekonomis saluran pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang lebih ekonomis di Kelurahan Attangso Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep.

Rokhman Permadi (2017) dengan judul penelitian “Analisis Efisiensi Pemasaran Pisang Kepok di Kabupaten Seruyan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat efisiensi ekonomis masing-masing saluran pemasaran pisang

kepok berdasarkan pola pemasaran yang terbentuk, nilai persentase marjin pemasaran dan farmer’s share pada pemasaran kentang di Kabupaten Seruyan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dan pelaksanaannya menggunakan teknik survey.

Hasil penelitian ini terdapat tiga saluran pemasaran yang digunakan untuk memasarkan pisang kepok di Kabupaten Seruyan. Saluran pemasaran I : Petani

→ Konsumen. Saluran pemasaran II A : Petani → Pedagang pengumpul→

Pedagang pengecer (Kota Sampit) → Konsumen. Saluran Pemasaran II B : Petani

→ Pedangang pengumpul → Pedagang pengecer (Kota Palangkaraya) → Konsumen. Saluran pemasaran II Berdasarkan farmer’s share dan π/c merupakan saluran distribusi pemasaran yang relatif paling efisien dengan farmer’s share 50% dan π/c 4,76.

Pada penelitian Eneng Mia Saptarini (2019) dengan judul “Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Jamur Tiram Di Kabupaten Purbalingga”. Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola saluran pemasaran, menganalisis biaya marjin pemasaran dan keuntungan serta efisiensi dari masing-masing saluran pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga.

Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga saluran pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga. Saluran I : Petani → Konsumen. Saluran II : Petani → Pedagang pengepul→ Pedagang pengecer → Konsumen. Saluran III : Petani → Pedagang pengepul desa → Pedagang besar → Pedagang pengecer → Konsumen.

Margin pemasaran saluran II merupakan margin pemasaran terkecil dibandingkan dengan margin pemasaran saluran I dan saluran III. Sedangkan dari segi biaya pemasaran, saluran pemasaran I mengeluarkan biaya pemasaran terkecil dibandingkan dengan saluran II dan saluran III. Rata-rata pendapatan yang diterima petani adalah sebesar Rp.6.905.008,00/bulan dengan skala usaha sebanyak 6,489 log. Efisiensi pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga secara indeks efisiensi teknis saluran pemasaran yang efisien adalah saluran pemasaran I, sedangkan secara indeks efisiensi ekonomis saluran yang efisien adalah saluran pemasaran II.

Suci Rahayu (2018) dengan judul penelitian “Analisis Efisiensi Pemasaran Komoditas Nanas Berbasis Structure Conduct Performance Di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur pasar pada pemasaran nanas, serta perilaku dan kinerja pasar pada pemasaran nanas. Metode analisis yang digunakan yaitu metode analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga pemasaran yang memiliki pangsa pasar terbesar adalah pedagang grosir. Hal ini menjadikan pedagang grosir sebagai price maker. Struktur pasar yang dihadapi pada pemasaran nanas di Kecamatan Ngancar adalah jenis pasar persaingan tidak sempurna yang cenderung mengarah pada pasar oligopoly. Perilaku pasar menunjukkan keseimbangan pasar dalam jangka yang tidak sempurna. Hal ini menjadikan adanya perilaku pasar yang didominasi oleh pedagang grosir berupa kolusi untuk tidak menyampaikan informasi perubahan harga agar memperoleh keuntungan tinggi dengan membuat dan menetapkan harga berdasarkan kerjasama dengan pedagang grosir lain.

Dokumen terkait