• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN PEPAYA DI KABUPATEN MUARO JAMBI SKRIPSI FENI OKTAVIANI JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN PEPAYA DI KABUPATEN MUARO JAMBI SKRIPSI FENI OKTAVIANI JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2023"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

DI KABUPATEN MUARO JAMBI

SKRIPSI

FENI OKTAVIANI

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2023

(2)

DI KABUPATEN MUARO JAMBI

FENI OKTAVIANI

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Jambi

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2023

(3)

Feni Oktaviani. Analisis Efisiensi Pemasaran Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi Dibimbing oleh Dr. Ir. Ira Wahyuni, M.P sebagai pembimbing I dan Riri Oktari Ulma, S.P., M.Si sebagai pembimbing II.

Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Menganalisis gambaran saluran pemasaran pepaya california, papaya besi dan papaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi, 2) Menganalisis efisiensi saluran pemasaran berdasarkan efisiensi teknis dan ekonomis pada pemasaran pepaya di Kabupaten Muaro Jambi. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang didapat berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner pada petani dan pedagang sampel serta didukung data sekunder dari beberapa literatur. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sungai Gelam Desa Tangkit dan Kecamatan Kumpeh Ulu Desa Kasang Lopak Alai. Sampel yang diambil merupakan dari 2 desa tersebut sebanyak 20 orang petani yang terdiri dari 12 orang petani pepaya california, 5 orang petani pepaya besi dan 3 orang petani pepaya bangkok. Lembaga pemasaran yang terlibat terdiri dari 5 orang pedagang pengumpul, dan 11 orang pedagang pengecer. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa 1) Pemasaran pepaya california di Kabupaten Muaro Jambi terdiri dari dua saluran pemasaran yaitu : a.) Saluran I terdiri dari petani → pedagang pengecer → konsumen akhir, b) Saluran II terdiri dari petani → pedagang pengumpul → pedagang pengecer → konsumen akhir. Pemasaran pepaya besi di Kabupaten Muaro Jambi terdiri dari dua saluran pemasaran yaitu : a.) Saluran I terdiri dari petani → pedagang pengecer → konsumen akhir, b) Saluran II terdiri dari petani → pedagang pengumpul → pedagang pengecer → konsumen akhir. Pemasaran pepaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi terdiri dari dua saluran pemasaran yaitu : a.) Saluran I terdiri dari petani → pedagang pengecer → konsumen akhir, b) Saluran II terdiri dari petani → pedagang pengumpul → pedagang pengecer → konsumen akhir. 2) Saluran yang lebih efisien menurut Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) adalah saluran Saluran I. Saluran I jenis pepaya california memiliki IET 0,04 dan IEE 8,06, pepaya jenis besi memiliki IET 0,08 dan IEE 6,60. Sedangkan pepaya jenis bangkok memiliki IET 0,19 dan IEE 5,66. Dari keseluruhan jenis pepaya, menunjukan bahwa saluran I merupakan saluran yang efisien secara teknis dan ekonomis.

Kata Kunci : Efisiensi, Pemasaran, Pepaya, IET, IEE.

(4)

ii

Skripsi dengan judul “Analisis Efisiensi Pemasaran Pepaya Di Kabupaten Muaro Jambi” oleh Feni Oktaviani telah diuji dan dinyatakan lulus pada tanggal 01Februari 2023 dihadapan tim penguji yang terdiri atas:

Ketua : Dr. Ir. Ira Wahyuni, M.P.

Sekretaris : Riri Oktari Ulma, S.P., M.Si.

Penguji Utama : Dr. Ir. H. Yanuar Fitri, M. Si Penguji Aggota : 1. Ir. Dewi Sri Nurchaini, M.P.

2. Ir. Gina Fauzia, S.P., M.Si,

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Ir. Ira Wahyuni, M.P. Riri Oktari Ulma, S.P.,M.Si.

NIP. 196111061987102002 NIP. 198410222012122002

Mengetahui, Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Dr. Mirawati Yanita, S.P., M.M . NIP. 1973012520006042001

(5)

iii Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Feni Oktaviani

NIM : D1B018184

Jurusan/Prodi : Agribisnis

Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini belum pernah diajukan dan tidak dalam proses pengajuan dimanapun juga atau oleh siapapun juga.

2. Semua sumber kepustakaan dan bantuan dari pihak yang diterima selama penelitian dan penyusunan skripsi ini telah dicantumkan atau dinyatakan pada bagian yang relevan dan skripsi ini bebas dari plagiarisme.

3. Apabila kemudian hari terbukti bahwa skripsi ini telah diajukan atau dalam proses pengajuan oleh pihak lain dan terdapat plagiarism di dalam skripsi ini maka penulis bersedia menerima sanksi dengan pasal 12 ayat (1) butir (g) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, yakni pembatalan ijazah.

Jambi, Februari 2022 Yang membuat pernyataan

Feni Oktaviani

D1B018184

(6)

iv

Penulis dilahirkan di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 01 Oktober 2000 dengan nama Feni Oktaviani. Penulis merupakan anak kelima dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Syafrizal Amir (Alm) dan Ibu Asnawati. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri 21 Kota Lubuklinggau pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2015 penulis menyelesaikan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Kota Lubuklinggau dan lulus Sekolah Menengah Atas pada tahun 2018 di SMA Negeri 1 Kota Lubuklinggau, serta pada tahun yang sama penulis diterima pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi melalui jalur SBMPTN.

Selama menempuh pendidikan Strata 1 penulis aktif berorganisasi pada Organisasi Kemahasiswan Lembaga Kreatifitas Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jambi sebagai Kepala Divisi Public Relationship. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik pada semester ganjil 2021/2022 di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari.

Pada tanggal 01 Februari 2023 penulis melaksanakan ujian skripsi yang berjudul

“Analisis Efisiensi Pemasaran Pepaya Di Kabupaten Muaro Jambi” dihadapan tim penguji dan dinyatakan lulus dengan menyandang gelar Sarjana Pertanian (SP).

(7)

v

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Pepaya California di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi” dengan baik. Penulis menyadari dalam menyelesaikan skripsi ini banyak mendapat bimbingan, bantuan, dukungan dan motivasi dari berbagai pihak sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberi segala nikmat, mulai dari nikmat berfikir, nikmat sabar, nikmat sehat dan kelancaran sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

2. Terkhusus untuk keluarga tercinta, Papa Syafrizal Amir (Alm) dan Mama Asnawati yang tiada henti mendo’akan penulis, selalu memberi cinta kasihnya dalam bentuk dukungan materi maupun moril. Terima kasih kepada Abang Muhammad Iqbal Syaf, Muhammad Ikhsan Syaf, S.Kom dan Uni Atika Syafitri, S.E yang selalu mendo’akan dan memberi semangat kepada penulis dalam bentuk materi untuk menyelesaikan skirpsi ini.

3. Ibu Dr. Ir. Ira Wahyuni, M.P selaku dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing skripsi I dan Ibu Riri Oktari Ulma, S.P.,M.Si selaku dosen pembimbing skripsi II yang telah sabar membimbing, mengarahkan, memberikan masukan dan memberikan motivasi kepada penulis selama proses penyusunan skripsi ini dari awal pembuatan proposal sampai dengan selesai.

4. Bapak Dr. Ir. H. Yanuar Fitri, M. Si., Ibu Ir. Dewi Sri Nurchaini, M.P., dan

(8)

vi

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si. IPU selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Ibu Dr. Mirawati Yanita, S.P., M.M selaku Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, Bapak Ir. Jamaludin, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Argisbisnis Fakultas Pertanian, serta staf Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian yang telah banyak membantu penulis.

6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Pertanian yang telah banyak memberikan banyak ilmu pengetahuan, bimbingan, petunjuk serta arahan kepada penulisselama masa perkuliahan.

7. Terimakasih Suhermansyah, S.E., yang sudah memberikan semangat, memberikan motivasi, perhatian, selalu menemani hari-hari, menghibur, dan berbagi suka maupun duka serta selalu ada untuk penulis sampai proses penyelesaian skripsi.

8. Sahabat penulis Vera Martarini, S.P., Nur Sakinah, S.Pd., dan Tri Suryani Wiwik Nur Rahayu, yang selalu memberi doa, hiburan, dukungan, dan mendengarkan keluh kesah penulis dalam proses penyelesaian skripsi.

9. Fairuz Ananta Putra, S.P., Diah Ana Faujiah, S.P., Eka Yulianti Pasaribu, S.P., Yuni Arnita, S.P., Dewi Kurnia Siregar, S.P., Mila Ramadhani Putri Daulay, S.P., Monika Br Manik, S.P., Laurina Santa, S.P., Theodora Oktaviani, S.P., Mega Hotma S.P., Silviana Eli Rahmawati, S.P., Masaso Lase, S.P., Martin Luther Silalahi, S.P., Yessi Tarigan, S.P., Yosefin Dheo Warson, S.P., Naufal Anzani Tanjung, S.P., Achmad Medy Azani, S.P., dan semua teman-teman kocak kelas J-Blay agribisnis yang tidak dapat penulis

(9)

vii

teman dipermudahkan dalam penyelesain skripsi.

10. Yolanda, S.P., Dymas Tsania Rahma, S.P., Nabila Ikhsani Athalla Putri, S.P., yang telah banyak memberi bantuan dan menjadi teman seorganisasi dan jalan-jalan dari awal semester hingga saat ini dan kedepannya tetap berteman.

11. Terimakasih kepada Yuliana Sari, S.Pd., Zikri Aulia Rahman, S.P., Muhammad Raihan Ghalib, S.P., yang telah menjadi teman tongkrongan penulis di akhir semester, serta telah mendengarkan keluh kesah penulis dalam menyelesaikan skripsi.

12. Organisasi Kemahasiswaan Lembaga Kreativitas Mahasiswa Insan Cita Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang telah banyak memberi pengalaman kepada penulis dalam berorganisai.

13. Tim KKN Tematik Desa Pulau Betung Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari yang telah menemani penulis selama satu bulan full di posko dari bangun tidur hingga tidur lagi.

14. Teman – teman agribisnis angkatan 2018 yang turut serta selalu menjadi tempat bertukar pikiran mengenai perkuliahan dan menjadi tempat bertukar informasi mengenai penyelesaian skripsi sehingga penulis bisa mencapai tahap sidang akhir.

15. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkansatu-persatu.

(10)

viii

having no days off, I wanna thank me for never quitting, for just being me at all times.

(11)

i

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul

“Analisis Efisiensi Pemasaran Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi”.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ir. Ira Wahyuni, M.P selaku Pembimbing Skripsi I sekaligus Pembimbing Akademik dan Ibu Riri Oktari Ulma, S.P, M.Si selaku pembimbing II yang telah membimbing dan motivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, penulis juga berterimakasih kepada orang tua, keluarga dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan semangat dan do’a kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kesalahan karena terbatasnya pengetahuan dan kemampuan penulis, sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini.

Jambi, Februari 2023

Penulis

(12)

ii

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Pepaya ... 8

2.2 Sitem Pemasaran ... 10

2.2.1 Lembaga Pemasaran ... 11

2.2.2 Saluran Pemasaran ... 12

2.3 Marjin Pemasaran ... 13

2.4 Farmer’s Share ... 14

2.5 Efisiensi Pemasaran ... 15

2.6 Penelitian Terdahulu ... 17

2.7 Kerangka Pemikiran ... 23

III. METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 25

3.2 Sumber dan Metode Penelitian ... 25

3.3 Metode Penarikan Sampel... 26

3.4 Metode Analisis Data ... 27

3.5 Konsepsi Pengukuran ... 29

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 32

4.1.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Wilayah ... 32

4.1.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Kecamatan Sungai Gelam dan Kecamatan Kumpeh Ulu ... 32

4.1.3 Sarana dan Prasarana ... 34

4.2 Identitas Petani Responden ... 35

4.2.1 Umur Petani ... 35

4.2.2 Pendidikan Petani ... 36

4.2.3 Pengalaman Berusahatani ... 37

4.2.4 Luas dan Kepemilikan Lahan ... 38

4.3 Identitas Pedagang ... 39

4.4 Gambaran Pemasaran Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi ... 40

(13)

iii

4.4.3 Fungsi Pemasaran ... 45

4.5 Analisis Pemasaran Pepaya ... 47

4.5.1 Margin Pemasaran ... 47

4.5.2 Farmer’s Share ... 52

4.5.3 Efisiensi Pemasaran ... 54

4.6 Implikasi Penelitian ... 60

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

5.1 Kesimpulan ... 61

5.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62

LAMPIRAN ... 65

(14)

iv

1. Luas panen, produksi dan produktivitas pepaya di Provinsi

Jambi menurut Kabupaten tahun 2020 ... 2 2. Luas panen, produksi dan produktivitas pepaya di Kabupaten

Muaro Jambi tahun 2015 – 2020 ... 3 3. Luas panen, produksi dan produktivitas pepaya di Kabupaten

Muaro Jambi menurut Kecamatan tahun 2020 ... 4 4. Jumlah petani pepaya di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2021 25 5. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menurut Desa

atau Kelurahan di Kecamatan Sungai Gelam Tahun 2020 ... 33 6. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menurut Desa

atau Kelurahan di Kecamatan Kumpeh Ulu Tahun 2020 ... 34 7. Distribusi dan persentase petani pepaya berdasarkan umur di

Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 36 8. Distribusi dan persentase petani pepaya berdasarkan tingkat

pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 37 9. Distribusi dan persentase petani pepaya berdasarkan

pengalaman berusahatani di Kabupaten Muaro Jambi tahun

2022 ... 38 10. Distribusi petani responden berdasarkan penggunaan luas

lahan di daerah penelitian Tahun 2020 ... 38 11. Distribusi responden lembaga pemasaran berdasarkan umur,

tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang pepaya di

Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 39 12. Distribusi lembaga pemasaran pepaya di Kabupaten Muaro

Jambi ... 41 13. Fungsi-fungsi pemasaran pada setiap lembaga pemasaran

pepaya di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 45 14. Perhitungan margin pemasaran pepaya jenis california di

Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 48

(15)

v

16. Perhitungan margin pemasaran pepaya jenis bangkok di

Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 51 17. Perhitungan Farmer’s Share Pepaya Jenis California di

Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2022 ... 52 18. Perhitungan Farmer’s Share Pepaya Jenis besi di Kabupaten

Muaro Jambi Tahun 2022 ... 53 19. Perhitungan Farmer’s Share Pepaya Jenis bangkok di

Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2022 ... 54 20. Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi

Ekonomis (IEE) pada setiap saluran pemasaran pepaya

california di Kabupaten Muaro Jambi ... 55 21. Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi

Ekonomis (IEE) pada setiap saluran pemasaran pepaya

bangkok di Kabupaten Muaro Jambi ... 56 22. Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi

Ekonomis (IEE) pada setiap saluran pemasaran pepaya besi

di Kabupaten Muaro Jambi ... 57 23. Efisiensi pemasaran pepaya pada masing-masing saluran

pemasaran di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 58

(16)

vi

1. Kerangka Pemikiran ... 24

2. Saluran Pemasaran I pepaya jenis california ... 41

3. Saluran Pemasaran II pepaya jenis california ... 42

4. Saluran Pemasaran I papaya jenis besi ... 43

5. Saluran Pemasaran II papaya jenis besi ... 43

6. Saluran Pemasaran I pepaya jenis Bangkok ... 44

7. Saluran Pemasaran II pepaya jenis Bangkok ... 44

(17)

vii

1. Produksi buah-buahan di Indonesia tahun 2018 - 2020 ... 65 2. Luas lahan, produksi pepaya di Kecamatan Sungai Gelam

menurut Desa/Kelurahan tahun 2022 ... 66 3. Luas lahan, produksi pepaya di Kecamatan Kumpeh Ulu

menurut Desa/Kelurahan tahun 2022 ... 67 4. Identitas petani sampel daerah penelitian tahun 2022 ... 68 5. Identitas pedagang sampel di daerah penelitian tahun 2022 .... 70 6. Harga jual, tujuan penjualan, dan jarak tempuh dari petani ke

lembaga pemasaran 2022 ... 72 7. Harga jual, tujuan penjualan, dan jarak tempuh lembaga

pemasaran 2022 ... 74 8. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran I

pepaya jenis california di Kabupaten Muaro Jambi ... 76 9. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran II

pepaya jenis california di Kabupaten Muaro Jambi ... 77 10. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran I

pepaya jenis besi di Kabupaten Muaro Jambi ... 79 11. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran II

pepaya jenis besi di Kabupaten Muaro Jambi ... 80 12. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran I

pepaya jenis bangkok di Kabupaten Muaro Jambi... 81 13. Harga, tujuan dan jarak tempuh pada saluran pemasaran II

pepaya jenis bangkok di Kabupaten Muaro Jambi... 82 14. Volume jual, harga jual rata-rata, harga beli rata-rata pada

saluran pemasaran pepaya california di Kabupaten Muaro

Jambi tahun 2022 ... 83 15. Volume jual, harga jual rata-rata, harga beli rata-rata pada

saluran pemasaran pepaya besi di Kabupaten Muaro Jambi

tahun 2022 ... 84

(18)

viii

17. Biaya pemasaran pada setiap saluran pemasaran pepaya

california di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 86 18. Biaya pemasaran pada setiap saluran pemasaran pepaya besi

di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022 ... 87 19. Biaya pemasaran pada setiap saluran pemasaran pepaya

bangkok di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2022... 88 20. Kuesioner penelitian……… 89 21. Dokumentasi penelitian……… 93

(19)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertanian merupakan sektor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini dilihat dari sebagian besar penduduk Indonesia yang bekerja disektor peranian.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi untuk mengembangkan beragam produk dari tanaman hortikultura. Hortikultura merupakan salah satu sumber sub sektor pertanian. Buah-buahan yang merupakan tanaman hortikultura memiliki prospek baik untuk dikembangkan. Pengembangan buah-buahan perlu dlakukan secara intensif dan komersil dalam skala agribisnis serta dikelola secara professional guna membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan pelaku agribisnis, dan menambah penerimaan daerah serta devisa negara. Buah-buahan merupakan sumber gizi karena mengandung berbagai zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Buah-buahan juga bermanfaat bagi tubuh manusia, antara lain mampu meredakan stres, menjaga kesehatan usus, sumber air dan gizi, serta mencegah penyakit tertentu. Salah satu tanaman hortikultura yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia yaitu pepaya.

Pepaya merupakan suatu komoditas buah yang memiliki banyak fungsi dan manfaat. Sebagai buah segar, pepaya banyak dikonsumsi karena memiliki kandungan nutrisi yang baik serta harganya yang relatif terjangkau. Selain itu pepaya merupakan penghasil papain yang merupakan bahan baku berbagai industri, antara lain industri farmasi dan makanan.

Tanaman pepaya (Carica pepaya L.) merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Meksiko Selatan. Tanaman ini diketahui tumbuh di daerah-daerah basah, kering, daerah dataran rendah, serta pegunungan. Di dataran tinggi, pepaya tetap dapat tumbuh tetapi buah yang dihasilkan kurang optimal. Di Indonesia, tanaman pepaya dapat dijumpai di berbagai daerah, mulai dari Sabang sampai Merauke. Berdasarkan data yang didapat, pepaya merupakan buah nomor enam terbanyak yang diperdagangkan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada data produksi buah-buahan di Indonesia dimana pada tahun 2020 produksi pepaya sebesar 1.016.388 ton.

(20)

Provinsi Jambi merupakan salah satu penyumbang pepaya di Indonesia.

Pepaya merupakan salah satu tanaman buah yang di usahakan di Provinsi Jambi tergolong buah yang popular dan digemari oleh masyarakat. Budidaya pepaya di Provinsi Jambi terdapat di semua kabupaten dengan tingkat produksi yang dihasilkan pada tahun 2020 yaitu sebesar 14.330,7 ton, luas panen 208,7 hektar dan produktivitas 68,6 ton/ha. Dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Pepaya di Provinsi Jambi Menurut Kabupaten Tahun 2020

Kabupaten/Kota Luas Panen

(ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

Kerinci 31,6 5.686,3 179,8

Merangin 116,8 4.531,2 38,8

Sarolangun 2,1 752,6 351,4

Batang Hari 2,9 222,4 78,0

Muaro Jambi 24,1 1.184,1 49,1

Tanjung Jabung Timur 3,8 367,2 97,7

Tanjung Jabung Barat 7,7 461,1 60,0

Tebo 3,5 180,8 52,1

Bungo 5,0 583,7 116,2

Kota Jambi 4,1 114,1 28,1

Sungai Penuh 1,6 247,2 156,1

Jumlah 208,7 14.330,7 68,6

Sumber : Dinas Tanaman dan Hortikultura Provinsi Jambi (2021)

Berdasarkan Tabel 1 diatas, Kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu daerah yang mengusahakan budidaya pepaya. Tahun 2020 luas panen dan produksi pepaya di Kabupaten Muaro Jambi menempati urutan ketiga setelah Kabupaten Kerinci dengan luas panen sebesar 31,6 ha dan produksi 5.686,3 ton dan Kabupaten Merangin dengan luas panen sebesar 116,8 ha dan produksi 4.531,2 ton. Jumlah produksi pepaya di Kabupaten Muaro Jambi pada tahun 2020 sebanyak 1.184,1 ton dengan luas panen 24,1 ha dan produktivitas sebesar 49,1 ton/ha. Berdasarkan sifat produk pertanian yang besifat mudah rusak dan mudah

(21)

busuk serta harus dikonsumsi secara segar maka Kabupaten Muaro Jambi berpotensi untuk dikembangkan komoditi pertanian salah satunya adalah pepaya.

Pasa yang dituju untuk memasarkan produk pertanian harus berjarak dekat agar produk petanian tersebut dapat tetap dikonsumsi dalam keadaan segar. Pasar yang tersedia disekitar Kota Jambi dapat dijadkan tujuan untuk memasarkan pepaya mengingat bahwa jarak untuk mencapai pasar tersebut tidak terlalu jauh. Hasil produksi tanaman pepaya di Kabupaten Muaro Jambi mengalami fluktuasi dan cenderung menurun dari tahun 2015 hingga tahun 2020. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2015-2020

Tahun Luas Panen

(ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

2015 23,2 1.671,6 72,1

2016 15,1 1.056,0 70,0

2017 24,8 2.156,1 87,1

2018 23,3 1.747,4 74,2

2019 21,4 1.512,2 70,6

2020 24,1 1.184,1 68,6

Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi(2021)

Dapat dilihat dari Tabel 2 Luas panen pepaya di Kabupaten Muaro Jambi mengalami fluktuasi dari tahun 2015 hingga tahun 2019. Dapat dilihat pada Tabel 2 produksi pepaya tertinggi terdapat pada tahun 2017 yaitu sebesar 2.156,1 ton per tahun. Pada tahun 2014 ke tahun 2015 produksi pepaya mengalami penurunan sebesar 615,6 ton per tahun. Tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 1.100,1 ton per tahun. Tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 408,7 ton per tahun.

Pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 235,2 ton per tahun. Sedangkan di tahun 2020 produksi pepaya di Kabupaten Muaro Jambi mengalami penurunan lagi sebesar 428,1 ton.

Pepaya merupakan komoditas yang bagus untuk dikembangkan dan memiliki potensi yang bagus. Pembudidayaan dan pengembangan secara intensif dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani (Mukriyani, 2019). Pepaya mengandung enzim papain yang mampu memecah ikatan protein pada daging. Oleh karena itu, pepaya dikenal sebagai bahan alami untuk mengempukkan daging. Pepaya mengandung banyak nutrisi. Dalam satu buah

(22)

pepaya kecil atau sekitar 152 gram terdapat nutrisi berupa karbohidrat, serat, protein, viatamin c, vitamin a, folat, potasium, dan antioksidan. Pepaya juga dapat meningkatkan system imun atau sistem kekebalan tubuh, mencegah Alzheimer, mencegah penyakit jantung dan melancarkan saluran pencernaan. Produksi pepaya di Kabupaten Muaro Jambi dihasilkan pada tiap kecamatan yang ada.

Usahatani pepaya di Kabupaten Muaro Jambi sendiri masih diusahkan dalam skala kecil. Salah satu daerah penghasil pepaya dengan tingkat produksi tertinggi bila diandingkan dengan kecamatan lainnya adalah Kecamatan Sungai Gelam dan Kecamatan Kumpeh Ulu. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi Menurut Kecamatan Tahun 2020

Kecamatan Luas

Panen Produksi Produkivitas

(Ha) (Ton) (Ton/Ha)

Mestong 0,4 18,4 46

Sungai Bahar 0,3 8,0 26,6

Kumpeh Ulu 3,6 225,9 62,7

Sungai Gelam 16,3 772,5 47,4

Kumpeh 0,4 11,8 29,5

Maro Sebo 0,9 41,7 46,3

Taman Rajo 0,7 46,4 66,2

Jambi Luar Kota 0,8 27,9 34,8

Sekernan 0,7 31,5 45

Jumlah 24,1 1.184,1 49,1

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi (2021) Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 Kecamatan Sungai Gelam dan Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan kecamatan dengan tingkat produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan lain (Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi, 2020). Sentra produksi pepaya di Kecamatan Sungai Gelam yaitu Desa Tangkit. Sedangkan di Kecamatan Kumpeh Ulu terdapat pada Desa Kasang Lopak Alai.

Jenis pepaya yang saat ini ditanam oleh para petani untuk dikembangkan adalah pepaya bangkok, pepaya besi dan pepaya california. Dikarenakan keterbatasan data, maka tidak di dapat data produksi dari pepaya california,

(23)

pepaya besi atau pun pepaya bangkok hanya ada data papaya secara umum.

Pepaya bangkok, besi dan pepaya california memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pepaya bangkok dan pepaya besi memiliki ukuran paling besar dibanding dengan pepaya jenis lainnya. Selain ukuran, keunggulan lainnya yaitu ketahanan buah lebih lama, namun memiliki masa panen lebih lama. Pepaya california merupakan varietas baru yang memiliki keunggulan dengan rasa yang lebih manis, lebih tahan lama, dan bisa dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain. Pepaya bangkok dan besi lebih tahan terhadap serangan hama dibandingkan dengan pepaya california. Perbedaan lainnya antar pepaya bangkok, besi dan pepaya california yaitu pepaya bangkok dan besi tidak memerlukan perawatan yang intensif dan tidak mudah busuk. Dari segi harga pepaya california dijual petani dengan harga Rp. 3.000/kg - Rp. 5.000/kg sedangkan pepaya bangkok dan besi dijual tergantung dengan ukuran pepaya tersebut, harganya berkisar Rp.9.000/buah – Rp. 13.000/buah atau Rp. 2.500/kg. Penetapan harga pepaya ini ditentukan oleh pedagang pengumpul. Sedangkan harga pepaya di tingkat konsumen untuk pepaya california berkisar Rp. 11.000 – Rp. 12.000/kg, untuk pepaya bangkok dan pepaya besi berkisar Rp.8.000 – Rp. 10.000/kg.

Apabila jumlah produksi pepaya melimpah maka mengalami penurunan harga dan sebaliknya jika jumlah produksi pepaya menurun maka harga pepaya mengalami kenaikan.

Produksi pepaya di Kabupaten Muaro Jambi tidak hanya dipasarkan di Kabupaten Muaro Jambi saja tetapi juga ke Kota Jambi seperti Pasar Mayang, Pasar Handil, Pasar Hongkong, Pasar Madiyah dan Pasar Talang Banjar. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas tersebut petani perlu melibatkan lembaga pemasaran agar dapat menyalurkan produk dengan cepat. Panjang pendeknya saluran pemasaran menyebabkan perbedaan harga di tingkat petani pepaya dan harga yang dibayarkan oleh konsumen. Masalah saluran pemasaran bukan semata- mata terletak pada panjang pendeknya saluran pemasaran tetapi saluran mana yang memberikan tingkat efisiensi yang tinggi. Salah satu indikator keberhasilan pemasaran suatu produk adalah sistem pemasaran yang berlangsung secara efisien atau tidak. Sistem pemasaran yang efisien berarti mampu mengalirkan produk dengan biaya seminimal mungkin, tingkat harga dan keuntungan yang wajar.

(24)

Adapun sistem pemasaran pepaya pada Kabupaten Muaro Jambi melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu dimana para petani menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul lalu selanjutnya pedagang pengumpul menjual pepaya yang telah dibeli dari beberapa petani kepada pedagang pengecer dan ada pula petani yang langsung menjual langsung kepada pedagang pengecer, dan setiap lembaga pemasaran memiliki harga yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan margin pemasaran yang berdampak pada efisiensi pemasaran pepaya. Keputusan petani dalam memilih saluran pemasaran dan pasar yang dituju oleh lembaga pemasaran akan mempengaruhi efisiensi pemasaran yang akan berdampak pada keuntungan petani maupun lembaga pemasaran. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Efisiensi Pemasaran Pepaya di Kabupaten Muaro Jambi”.

1.2 Rumusan Masalah

Pepaya yang terkenal di masyarakat yaitu pepaya bangkok, pepaya besi dan pepaya california. Pepaya california memiliki ukuran yang relatif kecil.

Daging buah yang merah serta rasa yang manis menjadikan buah ini memiliki keunggulan tersendiri. Sedangkan pepaya bangkok memiliki keunggulan buah yang tahan lama dan harga lebih murah.

Petani pepaya di Kabupaten Muaro Jambi memiliki beberapa kendala pemasaran dalam menjual pepaya california ini, salah satunya kurangnya informasi yang diterima petani mengenai perkembangan harga pepaya di pasar, sehingga menyebabkan harga pepaya yang diterima petani lebih rendah dibandingkan harga akhir pepaya di tingkat konsumen sehingga keuntungan yang diterima petani rendah.

Permasalahan yang terjadi pada pemasaran pepaya berdampak pada keuntungan yang diperoleh petani maupun lembaga pemasaran, maka diperlukan adanya sistem pemasaran yang efisien dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil kepada semua pihak baik petani pepaya maupun lembaga pemasaran. Panjang pendeknya saluran pemasaran dapat menyebabkan adanya selisih harga pada tingkat konsumen dan harga yang ditetapkan petani. Harga yang tinggi di tingkat konsumen belum tentu memberikan keuntungan bagi produsen atau petani pepaya. Kesenjangan antara harga ditinkat petani dengan

(25)

harga ditingkat konsumen akhir mempengaruhi bagian yang diterima petani atau farmer’s share. Apabila margin pemasaran tinggi maka bagian yang diterima petani rendah yang artinya petani menerima keuntungan yang relative kecil.

Keputusan petani dalam memilih saluran pemasaran dan pasar yang dituju oleh lembaga pemasaran mempengaruhi efisiensi pemasaran yang akan berdampak pada keuntungan petani maupu lembaga pemasaran. Saluran pemasaran yang tidak efektif maka akan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh petani dalam memasarkan pepaya relative kecil dikarenakan tingginya margin pemasaran dan rendahnya farmer’s share yang diterima petani.

Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran saluran pemasaran pepaya california, papaya besi dan papaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi ?

2. Bagaimana tingkat efisiensi saluran pemasaran berdasarkan efisiensi teknis dan ekonomis pada pemasaran pepaya california, papaya besi dan papaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gambaran saluran pemasaran pepaya california, papaya besi dan papaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi.

2. Untuk menganalisis tingkat efisiensi saluran pemasaran berdasarkan efisiensi teknis dan ekonomis pada pemasaran pepaya california, papaya besi dan papaya bangkok di Kabupaten Muaro Jambi.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1 pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

2. Sebagai informasi dan referensi untuk pihak lain yang berkepentingan dalam penelitian ini.

(26)

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pepaya

Pepaya merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia.

Masyarakat Indonesia biasa menanam pepaya di pekarangan rumah. Pada umumnya masyarakat menanam tanaman ini hanya sebatas memenuhi kebutuhan buah ataupun sayur dalam rumah tangga. Buah pepaya bukan merupakan buah asli dari Indonesia. Tanaman pepaya berasal dari Meksiko dan Kosta Rika (Muktiani, 2019).

Berdasarkan taksonominya, tanaman pepaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Dilleniidae Ordo : Violales

Famili : Caricaceae Genus : Carica

Spesies :Carica pepaya L.

Pepaya merupakan tanaman berbatang tunggal dan tumbuh tegak. Batang tidak berkayu, silindris, berongga dan berwarna putih kehijauan. Tanaman ini termasuk perdu. Tinggi tanaman berkisar 5-10 meter, dengan perakaran yang kuat.

Tanaman pepaya tidak mempunyai percadangan. Daun tersusun spiral menutupi ujung pohon. Daunnya termasuk tunggal, bulat, ujung meruncing, tepi bergerigi, dan ber diameter 25-27 cm. pertulangan daun menjari dan panjang tangkai 25-100 cm. Daun pepaya berwarna hijau. Helaian daun pepaya tersebut menyerupai telapak tangan manusia. Apabila daun pepaya tersebut dilipat menjadi dua bagian persis ditengah, akan terlihat bahwa daun pepaya tersebut simetris.

Bunga pepaya berwarna putih dan berbentuk seperti lilin. Bunga pepaya dapat terlihat di atas daun. Berdasarkan keberadaan bunganya, pepaya termasuk

(27)

monodioecious yaitu berumah tunggal. Bunga ini berbentuk bintang, terdapat di ketiak daun. Selain itu, ada tanaman yang berumah dua. Bunga jantan memiliki kelopak kecil, berwarna kuning, mahkota lepas, kepala putik berjumlah lima, dan berwarna putih kekuningan (Muktiani, 2019).

Pepaya Bangkok bukan tanaman asli Indonesia. Jenis pepaya ini didatangkan dari Thailand sekitar tahun 70-an. Pepaya Bangkok dan pepaya besi diunggulkan karena ukurannya paling besar dibandingkan jenis pepaya lainnya.

Beratnya dapat mencapai 3,5 kg per buah. Selain ukuran, keunggulan pepaya ini adalah rasa dan ketahanan buah. Daging buah berwarna jingga kemerahan, rasanya manis, segar, dan teksturnya keras sehingga tahan dalam pengangkutan.

Rongga buahnya kecil sehingga dagingnya tebal. Permukaan kulit buah kasar dan tidak rata. Keunggulan dari pepaya Bangkok dan pepaya besi yaitu tanaman ini dapat berproduksi banyak dan berukuran besar.

Sedangkan untuk pepaya California, sebenarnya pepaya California merupakan hasil pemuliaan tanaman dari Pusat Kajian Buah-buahan Tropika Institut Pertanian Bogor (PKBT-IPB) dengan nama IPB-9 atau calina. Pepaya ini berukuran kecil berbentuk lebih lonjong dengan bobot rata-rata 1,3 kg per buah.

Tanaman ini dapat tumbuh subur sepanjang tahun (tanpa mengenal musim) di Indonesia.

Tanaman jenis pepaya californis mempunyai ukuran lebih pendek dibangkan jenis pepaya lain. Ukuran paling tinggi lebih kurang 2 meter. Daunnya berjari banyak dan memiliki kuncung di permukaan pangkalnya. Buahnya berkulit tebal dan permukaannya rata, dagingnya kenyal, tebal, dan manis rasanya. Daging buah pepaya ini berwarna jingga kemerahan. Pepaya ini berbunga pada umur 4 bulan setelah bibit dipindahkan ke lahan. Adapun buahnya dapat dipanen pada umur 180 hari setelah berbunga. Secara fisik, tanaman ini mempunyai ciridibagian pangkal helai daun terdapat daun bendera yang berdiri. Uniknya tanaman ini memiliki ukuran buah yang seragam.

2.2 Sistem Pemasaran

Bagi seorang penjual pasar didefinisikan sebagai tempat untuk menjual komoditas atau jasa yang dihasilkan, konsumen mendefinisikan pasar sebagai tempat membeli komoditas atau jasa-jasa guna memenuhi kebutuhan dan

(28)

keinginannya, sedangkan pedagang mendefinisikan pasar sebagai tempat untuk melakukan aktivitas usaha perdagangan dengan melakukan fungsi-fungsi pemasaran untuk memperoleh kuntungan (Masyrofie, 1994). Sedangkan pemasaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Pemasaran juga diartikan sebagai proses dimana perusahaan menciptakan nilai untuk pelanggan dan membangun hubungan pelanggan yang kuat dalam rangka mendapatkan manfaat atau keuntungan (Suharno dan Sutarso, 2013).

Menurut Swastha (2008) pasar merupakan tempat dimana pembeli dan penjual bertemu dan berfungsi, barang atau jasa tersedia untuk dijual, dan terjadi perpindahan hak milik. Pemasaran pertanian adalah proses aliran komoditi yang disertai perpindahan hak milik dan penciptaan guna waktu, guna tempat dan guna bentuk, yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dengan melaksanakan satu atau lebih fungsi–fungsi pemasaran. Pemasaran merupakan hal-hal yang sangat penting setelah selesainya produksi pertanian. Kondisi pemasaran menghasilkan suatu siklus atau lingkungan pasar suatu komoditi. Bila pemasarannya tidak lancar dan tidak memberikan harga yang layak bagi petani, maka kondisi ini akan mempengaruhi motivasi petani, akibatnya penawaran akan berkurang, sehingga kurangnya penawaran akan menaikan harga.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, pemasaran adalah suatu usaha untuk mendistribusikan barang ataupun jasa dari pihak produsen hingga ketangan konsumen guna menghasilkan laba atau keuntungan.

Beragam kegiatan produktif yang terdapat didalam sistem pemasaran disebut dengan fungsi pemasaran. Pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran akan menentukan efisiensi dari pelaksanaan suatu sistem pemasaran. Tujuan dari pelaksanaan fungsi pemasaran adalah untuk meningkatkan kepuasan konsumen (Herawati, 2015).

Menurut Anindita (2014), menyatakan bahwa fungsi pemasaran adalah kegiatan utama yang khusus dilaksanakan untuk menyelesaikan proses pemasaran.

Pendekatan fungsi merupakan pendekatan pemasaran yang mempelajari masalah- masalah pemasaran dari segi kegiatan fungsi-fungsi yang dilakukan dalam proses penyaluran barang dari titik produsen hingga titik konsumen.

(29)

Adapun fungsi pemasaran yang dikemukakan oleh Anindita (2014) sebagai berikut :

1. Fungsi pertukaran yaitu dengan adanya pemasaran, maka pembeli dapat membeli produk yang dijual oleh produsen. Cara yang digunakan melalui pertukaran dengan uang maupun menukar produk dengan produk (barter) bertujuan dipakai sendiri maupun di jual kembali.

2. Fungsi distribusi fisik suatu produk dilaksanakan dengan menyalurkan serta menyimpan barang. Produk disalurkan dari produsen untuk konsumen akhir melalui air, udara dan darat. Penyimpanan produk berfokus pada upaya menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan.

3. Fungsi fasilitas merupakan aktivitas yang membantu sistem pasar beroperasi lebih baik dan berjalan lancar. Adapun fungsi fasilitas tediri dari standarisasi, penanggulangan resiko, informasi pasar dan keuangan.

2.2.1 Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran adalah suatu badan usaha atau individu yang melakukan aktivitas penyampaian komoditas dari produsen ke konsumen, serta mempunyai hubungan satu sama lainnya (Masyrofie, 1994).

Lembaga pemasaran merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyaluran barang dari produsen hingga konsumen. Munculnya lembaga pemasaran disebabkan oleh adanya keinginan konsumen untuk memiliki barang atau produk sesuai dengan waktu, tempat, dan bentuk tertentu.

Macam lembaga pemasaran menurut penguasaannya terhadap komoditas yang dipasarkan dapat digolongkan, yaitu : (a) lembaga pemasaran yang tidak memiliki tetapi menguasai komoditas yang dipasarkan, seperti komisioner, (b) lembaga pemasaran yang memiliki dan menguasai komoditas yang dipasarkan, sepeti penebas, tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer, eksportir, importir, (c) lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan tidak menguasai komoditas yang dipasarkan, seperti makelar, pelelang, penguasaha penyedia sarana transportasi, asuransi pemasaran (Masyrofie, 1994).

(30)

2.2.2 Saluran Pemasaran

Lembaga pemasaran menyalurkan barang dari produsen ke konsumen melalui suatu saluran yang disebut saluran pemasaran. Saluran pemasaran melaksanakan pekerjaan pemindahan barang dari produsen ke konsumen. Hal tersebut mengatasi kesenjangan waktu, tempat dan kepemilikan yang memisahkan barang dan layanan dari mereka yang membutuhkan atau menginginkan.

Aliran produk dari petani hingga sampai ke konsumen dalam proses pemasaran hasil pertanian akan menciptakan suatu rangkaian yang disebut saluran pemasaran. Saluran pemasaran yang terbentuk berbeda-beda sesuai dengan komoditinya.

Panjang pendeknya saluran pemasaran yang terbentuk dalam proses pemasaran dapat dilihat dari banyaknya lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat didalamnya. Peran lembaga pemasaran dalam proses pemasaran adalah menyalurkan produk hingga sampai ke tangan konsumen, baik itu konsumen rumah tangga maupun industri. Lembaga-lembaga pemasaran inilah yang akan menjalankan fungsi-fungsi pemasaran.

Menurut Swastha (2008), dalam penyaluran barang konsumsi yang ditujukan untuk pasar konsumen, terdapat lima macam saluran. Pada setiap saluran, produsen mempunyai alternatif yang sama untuk menggunakan lebih dari satu pedagang besar ke pedagang besar lainnya. Adapun macam-macam saluran distribusi barang konsumsi tersebut yaitu :

a. Produsen → konsumen

b. Produsen → pengecer → konsumen

c. Produsen → pedagang besar → pengecer → konsumen d. Produsen → agen → pengecer → konsumen

e. Produsen → agen → pedagang besar → pengecer →konsumen 2.3 Margin Pemasaran

Margin pemasaran adalah perbedaan harga yang diterima produsen terhadap harga pokok yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Margin pemasaran dapat juga diartikan sebagai selisih antara yang dibayarkan oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen. Margin ini akan diterima oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran tersebut. Semakin panjang saluran

(31)

pemasaran maka semakin besar pula margin pemasarannya, karena lembaga pemasaran yang terlibat semakin banyak. Semakin besar margin pemasaran akan menyebabkan bagian harga yang diterima oleh petani produsen dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen semakin kecil, yang berarti saluran pemasaran tidak efisien.

Nilai margin pemasaran berbeda-beda antara satu komoditas dengan komoditas lainnya, hal ini dikarenakan setiap produk yang mempunyai jasa pemasaran yang berbeda-beda seperti pengolahan, pengangkutan, atau distribusi dari produsen ke konsumen.

Margin diartikan sebagai balas jasa karena adanya kegiatan produksi penambahan nilai guna dalam mengalirkan produk-produk agribisnis dari tingkat petani hingga ke tingkat konsumen akhir (Herawati, 2015). Pengertian margin juga sering digunakan di tingkat lembaga pemasaran (Mi), yaitu merupakan selisih harga jual ditingkat lembaga ke-i dengan harga belinya. Untuk menghitung margin pemasaran digunakan rumus berikut :

M = He – Hp Dimana :

M : Margin Pemasaran

He : Harga yang dibayarkan konsumen kepada lembaga pemasaran (Rp/kg) Hp : Harga produsen (Rp/kg)

Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat maka semakin besar perbedaan harga antara produsen dengan harga di tingkat konsumen. Besarnya margin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat dinyatakan sebagai jumlah dari margin pada masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat.

2.4 Farmer’s Share

Farmer’s Share merupakan perbandingan harga yang diterima petani dengan harga yang dibayarkan konsumen akhir yang dinyatakan dalam bentuk persen. Farmer’s share atau bagian yang diterima petani merupakan persentase perbandingan harga yang ada di tingkat petani dengan harga yang ada di tingkat

(32)

konsumen. Hasil bagian yang diterima oleh petani baik kecil maupun besar menunjukkan merata atau tidaknya pembagian hasil oleh pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer terhadap petani. Bagian yang diterima petani akan semakin kecil jika terlalu banyak pihak yang terlibat dalam pemasaran.

Farmer’s share merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi pemasaran yang dilihat dari sisi pendapatan petani. Farmer's share sebagai persentase harga yang diterima oleh petani sebagai imbalan dari kegiatan usahatani yang dilakukannya dalam menghasilkan suatu komoditas.

Farmer’s share merupakan perbandinan harga yang diterima petani (farm price) dengan harga yang dibayrkan konsumen (retail price) yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Menurut Sudiyono (2002) adapun rumus untuk menghitung tingkat farmer’s share digunakan rumus :

FS

x 100%

Dimana :

Fs : Farmer’s Share

Pf : Harga ditingkat petani Pr : Harga ditingkat konsumen

Farmer’s share memiliki hubungan negatif dengan margin pemasaran yang mana apabila semakin tinggi margin pemasaran, maka bagian yang diterima oleh petani semakin rendah. Suatu saluran pemasaran dianggap efisien secara ekonomis apabila saluran pemasaran tersebut mempunyai bagian yang diterima petani atau nilai persentase farmer’s share lebih dari 50% (Suryadewi, 2018).

2.5 Efisiensi Pemasaran

Pemasaran dapat dikatakan efisien apabila memenuhi dua sayarat yaitu mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan harga semurah- murahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang tersebut (Mubyarto, 2002).

(33)

Ukuran efisiensi adalah kepuasan dari konsumen, produsen, serta lembaga-lembaga yang terlibat dalam mengalirkan produk atau jasa mulai dari petani sampai konsumen akhir, di mana ukuran untuk menentukan tingkat kepuasan tersebut sulit dan sangat relative. Sehingga para ahli menggunakan indikator ukuran efisiensi teknis (operasional), efisiensi harga, dan efisiensi ekonomis (Asmarantaka, 2014 dalam Achirudin 2021).

Indeks Efisiensi Teknis (IET) digunakan untuk menganalisis efisiensi pemasaran yang berhubungan dengan aspek fisik dalam kegiatan pemasaran.

Efisiensi teknis menekankan kemampuan dalam meminimumkan biaya yang dicerminkan biaya dan margin pemasaran (Raju et al, 1982 dalam Yanuar Fitri, 1997). Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) untuk menganalisis pemasaran yang berhubungan dengan fungsi pemasaran dari segi keuntungan pada setiap saluran.

Efisiensi ekonomis menekankan keterkaitan harga yang dicerminkan nilai integrasi pasar akibat pergerakan komoditi dari pasar produsen ke konsumen yang menyebabkan perubahan nilai guna tempat, waktu, bentuk dan kepemilikan (Raju et al, 1982 dalam Yanuar Fitri 1997). Secara matematis nilai IET dan IEE dapat dihitung menggunakan rumus berikut :

 Indeks Efisiensi Teknis (IET) Tij = Vij/Wij/dij

Keterangan :

Tij : Indeks Efisiensi Teknis (%) Vij : Biaya pemasaran (Rp/kg) Wij : Berat akhir produk (kg) dij : Total jarak tempuh (km)

 Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) Eij =

Keterangan :

Eij : Total keuntungan dari aktivitas pemasaran (%) Vij : Biaya pemasaran (Rp/kg)

(34)

k : Jenis pedagang yang terlibat i : Jenis Komoditi

j : Jenis saluran pemasaran : Keuntungan agen pemasaran

Menurut Calkins dan Hu-mei Wang (1987 dalam Septarini, 2019) bahwa saluran pemasaran yang dapat dikatakan efisien adalah saluran pemasaran yang mempunyai indeks efisiensi teknis (T) lebih kecil dari saluran pemasaran lainnya dan indeks efisiensi ekonomis (E) lebih besar dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya.

Kriteria saluran pemasaran dapat dikatakan efisien dibandingkan dengan saluran lainnya jika indeks efisiensi teknis (T) memiliki nilai yang lebih kecil dari saluran lainnya dan indeks efisiensi ekonomis (E) memiliki nilai yang lebih besar dari saluran lainnya.

2.6 Penelitian Terdahulu

Abik Fatoni (2017), dengan penelitian berjudul “Efisiensi Pemasaran Pepaya Varietas Calina IPB-9 (Studi Kasus Di Kecamatan Langensari Kota Banjar)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran pepaya varietas calina serta besarnya marjin pemasaran dan farmer’s share yang diterima oleh petani. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui saluran pemasaran. Secara kuantitatif, dilakukan analisis marjin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian saluran pemasaran pepaya Di Kecamatan Lengensari terbagi menjadi empat pola saluran pemasaran, yaitu :

a. Saluran I : Petani → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer→ Konsumen b. Saluran II : Petani → Pedagang Pengumpul → Pedagang Besar → Pedagang

Pengecer→Konsumen

c. Saluran III : Petani → Pedagang Pengumpul → Pedagang Pengecer → Konsumen

d. Saluran IV : Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen

Marjin pemasaran pada saluran I untuk pedagang besar sebesar Rp 750/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.000/kg, saluran II untuk pedagang pengumpul sebesar Rp 500/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.000/kg, saluran III untuk

(35)

pedagang pengumpul sebesar Rp 750/kg dan untuk pedagang pengecer Rp 1.250/kg, dan saluran IV untuk pedagang pengecer Rp 1.250/kg. besarnya bagian harga (farmer’s share) yang diterima petani pepaya dari harga yang dibayar konsumen di Kecamatan Lengensari Kota Banjar pada saluran I sebesar 50%, saluran II sebesar 42,86%, saluran III sebesar 42,86% dan saluran IV sebesar 64, 29%. Efisiensi pemasaran pada saluran I sebesar 18,57%, saluran II sebesar 25,71%, saluran III sebesar 21,39% dan saluran Iv sebesar 12,29%.

Hadi Permana (2020) dengan penelitian berjudul “Analisis Saluran Pemasaran Pepaya california (Studi Kasus Desa Sukajaya Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran pepaya california, marjin pemasaran dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pepaya california di Desa Sukajaya Kecamatan Pamarican. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa di Desa Sukajaya terdapat 3 saluran pemasaran pepaya yaitu :

a. Saluran I : Produsen → Konsumen

b. Saluran II : Produsen → Pedagang Pengecer → Konsumen

c. Saluran III : Produsen → pedagang Pengumpul → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer → Konsumen

Biaya pemasaran pada saluran I sebesar Rp. 125/kg, saluran II sebesar Rp.

230/kg dan saluran pemasaran III sebesar Rp. 1.000/kg. Sedangkan marjin pemasaran pada saluran I sebesar Rp. 0/kg, saluran II Rp. 1.900/kg dan pada saluran III Rp. 4.300/kg. Keuntungan pemasaran pada saluran I sebesar Rp.

1.575/kg, saluran II sebesar Rp. 1.670/kg dan pada saluran III sebesar Rp.

3.300/kg. Efisiensi pemasaran pada saluran I sebesar 5,43%, saluran II sebesar 9,61% dan pada saluran III sebesar 43,47%. Farmer’s Share pada saluran pemasaran I sebesar 57,50%, saluran II 57,78%, saluran III 35,58%.

Pada penelitian Ferry Firmansyah (2021) dengan judul “Analisis Pemasaran Buah Nanas di Desa Sarireja Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, biaya dan keuntungan serta tingkat efisiensi pemasaran nanas di Desa Sarireja Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Metode yang digunakan dalam

(36)

penelitian ini adalah metode analisis deskriptif untuk saluran pemasaran, secara kuantitatif dilakukan analisis marjin pemasaran, dan efisiensi pemasaran. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pemasaran nanas di Desa Srireja Kecamatan Jalancagak terdapat dua saluran pemasaran yaitu saluran pertama terdiri dari Petani → Bandar → Pedagang Pengecer → Konsumen akhir.

Sedangkan saluran pemasaran kedua yaitu Petani → Pedagang Pengecer → Konsumen akhir. Hasil perhitungan diperoleh bahwa biaya dan keuntungan lembaga pemasaran I : biaya yang dikeluarkan bandar berjumlah Rp. 193/kg, keuntungan bandar Rp.2.757/kg. Biaya yang ditanggung pedagang pengecer Rp.1.162/kg, dengan keuntungan Rp.2.088/kg. saluran pemasaran II biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 213/kg, keuntungan yang diperoleh Rp.4.787/kg.

Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer sebesar Rp. 611/kg, dan jumlah keuntungan yang didapat Rp.4.000/kg. Tingkat efisiensi pemasaran saluran II : marjin pemasaran sebesar Rp.4.000/kg, farmer’s share 55,56%, perbandingan antara biaya pemasaran dan nila produk 9,16%. Berdasarkan nilai dari marjin, farmer’s share, dan perbandingan biaya pemasaran serta nilai produk saluran II lebih efisien dari saluran I.

Rangga Setiawan (2020), dengan penelitian berjudul “Analisis Efisiensi Pemasaran Cabai Merah di Desa Jetak Ngasri Kecamatan Dau Kabupaten Malang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran cabai merah dan mengetahui tingkat pemasaran efisiensi cabai. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat dua saluran pemasaran cabai merah. Saluran I : Petani → Pengepul → Konsumen akhir, Saluran II : Petani → Pengepul → Pedagang besar → Konsumen akhir. Marjin pemasaran di tingkat pedagang besar yaitu Rp.1.850/kg, di pedagang pengecer sebesar Rp.1.600/kg, sehingga marjin keseluruhan sebesar Rp.1.950/kg. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran yang paling efisien terdapat pada saluran I.

Pada penelitian Achirudin (2021) dengan judul penelitian “Analisis Pemasaran Bawang Merah Lokal di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci”.

Penelitian ini bertujuan untuk saluran pemasaran bawang lokal, mengetahui nilai marjin dan farmer’s share pada masing-masing saluran pemasaran serta untuk

(37)

menganalisis efisiensi pemasaran bawang merah lokal. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan saluran pemasaran bawang merah lokal sedangkan analisis metode kuantitatif dilakukan untuk menganalisis efisiensi pemasaran yaitu analisis marjin pemasaran, analisis farmer’s share dan efisiensi pemasaran.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa saluran pemasaran bawang merah lokal di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci terdapat tiga saluran pemasaran yaitu saluran I : Petani → Pedagang pengumpul desa → Pedagang pengecer → Konsumen, saluran II : Petani → Pedagang pengumpul kecamatan → Pedagang pengecer → Konsumen, saluran III : Petani → Pedagang pengumpul desa → Pedagang pengumpul kecamatan → Pedagang pengecer → Konsumen akhir.

Saluran pemasaran I menunjukan total marjin pemasaran sebesar Rp.8.200/kg dan persentase farmer’s share sebesar 61,86%. Saluran pemasaran II menunjukan bahwa total marjin pemasaran sebesar Rp.7.100/kg dan persentase farmer’s share sebesar 66,19%, sedangkan saluran pemasaran III dengan total marjin sebesar Rp.9.226/kg dan persentase farmer’s share sebesar 59%. Saluran pemasaran yang efisien dilihat dari indeks efisiensi teknis adalah saluran pemasaran II, namun jika dilihat dari indeks efisiensi ekonomis adalah saluran pemasaran III.

Ivony Annisa (2018) dengan judul “Efisiensi Pemasaran Bawang Merah (Kasus: Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah)”. Penelitian Ivony bertujuan untuk menganalisis efisiensi operasional meliputi marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan terhadap biaya. Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share,dan rasiio keuntungan terhadap biaya menggunakan metode analisis data kuantitatif. sedangkan untuk menganalisis saluran pemasaran dan lembaga pemasaran menggunakan metode analisis kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah analisis efisiensi pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes menunjukan bahwa terdapat 7 saluran pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Analisis efisiensi operasional menunjukan bahwa saluran pemasaran yang efisien untuk saluran pemasaran Jawa Tengah merupakan saluran pemasaran dua. Sedangkan untuk saluran pemasaran diluar Provinsi Jawa Tengah yaitu saluran pemasaran

(38)

enam. Analisis efisiensi harga menunjukan bahwa hanya terdapat integrasi jangka pendek pada pemasaran bawang merah keluar Provinsi Jawa Tengah, yaitu Provinsi Lampung. Dimana harga bawang merah di tingkat petani mempengaruhi harga bawang merah di tingkat grosir dan pedagang eceran di Provinsi Lampung.

Dapat disimpulkan bahwa pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah telah efisien secara operasional namun belum efisien secara harga.

Penelitian Haeriyati Saad (2019) dengan judul “Analisis Pemasaran Jeruk Pamelo di Kelurahan Attangsalo Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep”.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui pemasaran jeruk pamelo demi meningkatkan hasil penjualan di Kelurahan Attangso Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, kueisioner dan dokumentasi. Untuk menganalisis data Haeriyati menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif.

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa saluran pemasaran untuk memasarkan jeruk pamelo di Kelurahan Attangsalo Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep menggunakan dua saluran pemasaran. Saluran pemasaran I : Petani → Pedagang pengumpul → Pedagang besar → Pedagang pengecer → Konsumen. Saluran pemasaran II : Petani → Pedagang pengecer → Konsumen.

Pada saluran I harga di tingkat petani sebesar Rp.2.500/kg sementara biaya di tingkat konsumen akhir Rp.15.000/kg sehingga di dapat persentase farmer’s share sebesar 16,67% dengan total marjin pemasaran Rp.100.000.000 dan total keuntungan Rp.81.250.000 serta total biaya pemasaran sebesar Rp.18.750.000 Pada saluran pemasaran II , harga di tingkat petani sebesar Rp.7.000/kg sedangkan harga di tingkat konsumen akhir Rp.15.000/kg sehingga di dapat persentase farmer’s share sebesar 46,67% dengan total marjin pemasaran Rp.2.400.000 dan total keuntungan Rp.1.600.000 serta total biaya Rp.740.000.

Dilihat secara ekonomis saluran pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang lebih ekonomis di Kelurahan Attangso Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep.

Rokhman Permadi (2017) dengan judul penelitian “Analisis Efisiensi Pemasaran Pisang Kepok di Kabupaten Seruyan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat efisiensi ekonomis masing-masing saluran pemasaran pisang

(39)

kepok berdasarkan pola pemasaran yang terbentuk, nilai persentase marjin pemasaran dan farmer’s share pada pemasaran kentang di Kabupaten Seruyan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dan pelaksanaannya menggunakan teknik survey.

Hasil penelitian ini terdapat tiga saluran pemasaran yang digunakan untuk memasarkan pisang kepok di Kabupaten Seruyan. Saluran pemasaran I : Petani

→ Konsumen. Saluran pemasaran II A : Petani → Pedagang pengumpul→

Pedagang pengecer (Kota Sampit) → Konsumen. Saluran Pemasaran II B : Petani

→ Pedangang pengumpul → Pedagang pengecer (Kota Palangkaraya) → Konsumen. Saluran pemasaran II Berdasarkan farmer’s share dan π/c merupakan saluran distribusi pemasaran yang relatif paling efisien dengan farmer’s share 50% dan π/c 4,76.

Pada penelitian Eneng Mia Saptarini (2019) dengan judul “Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Jamur Tiram Di Kabupaten Purbalingga”. Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola saluran pemasaran, menganalisis biaya marjin pemasaran dan keuntungan serta efisiensi dari masing-masing saluran pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga.

Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga saluran pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga. Saluran I : Petani → Konsumen. Saluran II : Petani → Pedagang pengepul→ Pedagang pengecer → Konsumen. Saluran III : Petani → Pedagang pengepul desa → Pedagang besar → Pedagang pengecer → Konsumen.

Margin pemasaran saluran II merupakan margin pemasaran terkecil dibandingkan dengan margin pemasaran saluran I dan saluran III. Sedangkan dari segi biaya pemasaran, saluran pemasaran I mengeluarkan biaya pemasaran terkecil dibandingkan dengan saluran II dan saluran III. Rata-rata pendapatan yang diterima petani adalah sebesar Rp.6.905.008,00/bulan dengan skala usaha sebanyak 6,489 log. Efisiensi pemasaran jamur tiram di Kabupaten Purbalingga secara indeks efisiensi teknis saluran pemasaran yang efisien adalah saluran pemasaran I, sedangkan secara indeks efisiensi ekonomis saluran yang efisien adalah saluran pemasaran II.

(40)

Suci Rahayu (2018) dengan judul penelitian “Analisis Efisiensi Pemasaran Komoditas Nanas Berbasis Structure Conduct Performance Di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur pasar pada pemasaran nanas, serta perilaku dan kinerja pasar pada pemasaran nanas. Metode analisis yang digunakan yaitu metode analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga pemasaran yang memiliki pangsa pasar terbesar adalah pedagang grosir. Hal ini menjadikan pedagang grosir sebagai price maker. Struktur pasar yang dihadapi pada pemasaran nanas di Kecamatan Ngancar adalah jenis pasar persaingan tidak sempurna yang cenderung mengarah pada pasar oligopoly. Perilaku pasar menunjukkan keseimbangan pasar dalam jangka yang tidak sempurna. Hal ini menjadikan adanya perilaku pasar yang didominasi oleh pedagang grosir berupa kolusi untuk tidak menyampaikan informasi perubahan harga agar memperoleh keuntungan tinggi dengan membuat dan menetapkan harga berdasarkan kerjasama dengan pedagang grosir lain.

2.7 Kerangka Pemikiran

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang memiliki tujuan untuk memperlancar arus barang/jasa dari produsen ke konsumen. Pengembangan usahatani pepaya yang baik akan berdampak pada distribusi pepaya dan pemasaran. Perlunya sistem pemasaran yang baik dan pola saluran yang efisien agar mendapatkan keuntungan yang baik dan arah pasar yang jelas. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi petani dalam berusahatani pepaya salah satu nya yaitu dalam kegiatan memasarkan pepaya yang telah dihasilkan. Dalam memasarkan suatu produk diperlukan peran lembaga pemasaran yang akan membentuk suatu saluran pemasaran. Saluran pemasaran pepaya di Kabupaten Muaro Jambi dapat diketahui melalui alur penjualan pepaya dari petani hingga ke konsumen akhir. Panjang pendeknya saluran pemasaran dapat menyebabkan selisih harga di tingkat petani dan harga yang dibayar konsumen akhir. Untuk melihat saluran pemasaran pepaya di Kabupaten Muaro Jambi dilakukan analisis deskriptif yaitu berdasarkan fakta yang ada dilapangan dan hasil wawancara.

Sedangkan fungsi-fungsi pemasaran pepaya di Kabupaten Muaro Jambi, dianalisis

Referensi

Dokumen terkait