7. KESIMPULAN DAN SARAN
7.2 Saran
Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat diberikan demi peningkatan
kualitas pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” :
1. Sebaiknya pelayanan IV admixture di produksi steril juga dilakukan kepada pasien Jamkesmas dan KJS untuk menjamin mutu obat yang akan diberikan.
104
Universitas Indonesia
2. Dalam rangka meningkatkan eksistensi peran apoteker farmasi klinik di
Rumah Sakit Kanker “Dharmais” sebaiknya kegiatan visite atau ronde dan
konseling dapat dilakukan diseluruh ruangan
3. Sebaiknya Rumah Sakit Kanker “Dharmais” memiliki ruangan khusus
pelayanan informasi obat agar segala informasi tentang obat yang dibutuhkan oleh pasien, tenaga kesehatan lain maupun profesi lain dapat diberikan dengan baik.
4. Untuk meminimalisir terjadinya kesalahan dan mempermudah penelusuran apabila terjadi kesalahan sebaiknya penandaan pada kolom HRKP di SAFARI dapat diisi oleh petugas SAFARI.
5. Sebaiknya permintaan mutasi barang dari SAFARI maupun SAFARJAN dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore, sehingga bagian logistik farmasi tidak perlu melakukan mutasi berkali-kali dalam jumlah yang sedikit, dan untuk menghemat waktu dan penggunaan kertas.
Anonim. (2004). Standar Kompetensi Farmasis Indonesia. ISFI : Jakarta.
Anonim. (2013). Lembar Informasi Internal RS. Kanker “Dharmais” Edisi No.
013 Tahun II. Rumah Sakit Kanker “Dharmais” : Jakarta.
Dirjen Bina Pelayanan Medik. (2009). Pedoman Instalasi Pusat Steriisasi
(Central Sterile Supply Department) di Rumah Sakit. Kementerian
Kesehatan RI : Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.
Kementerian Kesehatan RI : Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.1045/Menkes//Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI : Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Kementerian Kesehatan RI : Jakarta
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Peraturan Menteri Kesehatan
No.269/Menkes/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis. Kementerian Kesehatan RI : Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.340/Menkes/Per/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit. Kementerian Kesehatan RI : Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (1992). Undang-Undang Republik Indonesia No.23
Tahun 1992 tentang Kesehatan. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009b). Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Jakarta.
Quick, J.D., Hume, M., Rankin, J.R., O’Connor, R.W. (1997). Managing Drug
Supply, Second Edition, Revised and Expanded. Kumarin Press : West
Hartford.
Rumah Sakit Kanker Dharmais. (2011). Profil Rumah Sakit Kanker Dharmais. Jakarta: Diklat RSKD.
Siregar, Charles J.P. dan Amalia, Lia (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan
107
Universitas Indonesia
109
Universitas Indonesia
Lampiran 4. Alur Pelayanan ISS
Keterangan : Daerah Kotor Daerah Bersih Sterilisator Daerah Steril Gudang logistik USER PENERIMAAN PENGESETAN PENGISIAN FORM
PENGEMASAN DAN PELABELAN INDIKATORISASI STERILISASI PENYIMPANAN PENDISTRIBUSIAN
GUDANG
PENGADAAN
111
Universitas Indonesia
113
Universitas Indonesia
115
Universitas Indonesia
117
Universitas Indonesia
119
Universitas Indonesia
121
Universitas Indonesia
123
Universitas Indonesia
125
Universitas Indonesia
127
Universitas Indonesia
129
Universitas Indonesia
131
Universitas Indonesia
133
Universitas Indonesia
135
Universitas Indonesia
137
Universitas Indonesia
Lampiran 32. Etiket
(a) (b)
(c) (d)
Keterangan : (a) Etiket Obat Luar, (b) Etiket Obat Dalam, (c) Etiket Luar Rekonstitusi Obat Kanker dan IV Admixture, (d) Etiket Dalam Rekonstitusi Obat Kanker dan IV Admixture
139
Universitas Indonesia
141
Universitas Indonesia
143
Universitas Indonesia
RESPONSE TIME PELAYANAN RESEP
PASIEN RAWAT INAP LANTAI VII DAN LANTAI VIII
DI RUMAH SAKIT KANKER “DHARMAIS”
TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
DI RUMAH SAKIT KANKER “DHARMAIS”
PUTRI RAHMAWATI, S.Far.
1206330002
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014
ii DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN SAMPUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 2. TINJAUAN UMUM ... 3 2.1 Waktu Tanggap (Response Time) ... 3 2.2 Standar Pelayanan Minimal Farmasi Rumah Sakit ... 3 2.3 Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Inap ... 3 2.4 Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Kanker
“Dharmais ... 5 2.5 Faktor yang Mempengaruhi Waktu Pelayanan Resep ... 7
3. METODE PENGKAJIAN ... 9 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 9 3.2 Metode Pengkajian ... 9 3.2.1 Kriteria Inklusi ... 9 3.2.2 Kriteria Eksklusi... 9 3.2.3 Pengumpulan Data ... 9
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11 4.1 Hasil ... 11 4.1.1 Response Time Ruang Rawat Inap Mawar 2 ... 11 4.1.2 Response Time Ruang Rawat Inap Anggrek 2 ... 12 4.1.3 Response Time Ruang Rawat Inap Mawar 1 ... 13 4.1.4 Response Time Ruang Rawat Inap Anggrek 1 ... 14 4.2 Pembahasan ... 15
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 18 5.1 Kesimpulan ... 18 5.2 Saran ... 19
DAFTAR ACUAN ... 20 LAMPIRAN ... 21
Gambar 2.1 Alur Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Tunai ... 6 Gambar 2.2 Alur Pelayanan Pasien Rawat Inap Jamkesmas dan KJS ... 6 Gambar 2.3 Alur Pelayanan Pasien Rawat Inap Askes ... 7 Gambar 4.1 Response time pelayanan resep obat jadi di Ruang Mawar 2
lantai 7 ... 11 Gambar 4.2 Response time pelayanan resep obat racik di Ruang Mawar 2
lantai 7 ... 12 Gambar 4.3 Response time pelayanan resep obat jadi di Ruang Anggrek 2
lantai 7 ... 12 Gambar 4.4 Response time pelayanan resep obat racik di Ruang Anggrek 2
lantai 7 ... 13 Gambar 4.5 Response time pelayanan resep obat jadi di Ruang Mawar 1
lantai 8 ... 13 Gambar 4.6 Response time pelayanan resep obat racik di Ruang Mawar 1
lantai 8 ... 14 Gambar 4.7 Response time pelayanan resep obat jadi di Ruang Anggrek 1
lantai 8 ... 14 Gambar 4.8 Response time pelayanan resep obat racik di Ruang Anggrek 1
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Perbandingan jumlah resep pada waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan resep obat racik lantai 7 dan lantai 8 ... 15
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Response Time Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Ruang Mawar 2 Lantai VII Rumah Sakit Kanker “Dharmais ... 21 Lampiran 2 Response Time Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Ruang
Anggrek 2 Lantai VII Rumah Sakit Kanker “Dharmais ... 22 Lampiran 3 Response Time Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Ruang
Mawar 1 Lantai VIII Rumah Sakit Kanker “Dharmais ... 23 Lampiran 4 Response Time Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Ruang
1 Universitas Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2008, Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit dimaksudkan agar tersedianya panduan bagi daerah dalam melaksanakan perencanaan pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan standar pelayanan minimal rumah sakit. Salah satu sarana kesehatan yang memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah rumah sakit. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu dengan standar yang ditetapkan dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129/Menkes/SK/II/2008, Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Rumah Sakit merupakan ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal, juga merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur pelayanan minimum yang diberikan oleh Rumah Sakit. Salah satu pelayanan rumah sakit yang minimal wajib disediakan oleh rumah sakit diantaranya adalah pelayanan farmasi
Pelayanan farmasi di suatu rumah sakit dikelola oleh unit atau instalasi farmasi yang bertugas menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di rumah sakit. Instalasi Farmasi Rumah Sakit berperan penting dalam memberikan pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang berorientasi kepada pasien dan melakukan penyediaan obat yang bermutu serta terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Instalasi Farmasi bertanggung jawab dalam mengoptimalkan pelayanan resep pasien rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit.
Dalam rangka memenuhi standar pelayanan minimal pelayanan farmasi di Rumah Sakit Kanker “Dharmais”, Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” perlu melakukan evaluasi pencapaian indikator kinerja pelayanan farmasi. Salah satu indikator yang harus dicapai sesuai standar dari pelayanan farmasi adalah waktu tunggu untuk pelayanan obat jadi maksimal 30 menit sedangkan obat racikan maksimal 60 menit. Dengan demikian, perlu dilakukan evaluasi waktu tanggap pelayanan resep (response time) di Rumah Sakit Kanker “Dharmais” terutama pelayanan resep pada pasien rawat inap, mengingat evaluasi waktu tanggap pelayanan resep pada pasien rawat jalan telah dilakukan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan tugas khusus di Rumah Sakit Kanker “Dharmais” yaitu untuk:
a. Mengetahui waktu tanggap pelayanan resep pada pasien rawat inap di lantai VII dan lantai VIII Rumah Sakit Kanker Dharmais.
b. Membandingkan hasil evaluasi waktu tanggap RS Kanker “Dharmais” terhadap Standar Pelayanan Minimal (SPM) Menteri Kesehatan RI.
3 Universitas Indonesia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Waktu Tanggap (Response Time)
Waktu tanggap pelayanan resep (response time) merupakan tenggang waktu pelayanan resep yang dimulai dari pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat. Response time pelayanan obat di Instalasi Farmasi dibagi menjadi waktu tunggu pelayanan obat jadi dan waktu tunggu pelayanan obat racikan. Response time yang cepat, tepat, dan sesuai prosedur akan dapat memberikan pelayanan farmasi yang efektif, pelayanan yang berkesinambungan dan efisien (Kementerian Kesehatan RI, 2004).
2.2 Standar Pelayanan Minimal Farmasi Rumah Sakit (Kementerian Kesehatan RI, 2008)
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, terdapat 21 jenis pelayanan rumah sakit yang minimal wajib disediakan oleh rumah sakit, salah satunya adalah pelayanan farmasi yang meliputi :
a. Waktu tunggu pelayanan
b. Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat c. Kepuasan Pelanggan
d. Penulisan resep sesuai formularium
Selain itu, terdapat dua indikator mutu yang dapat menilai setiap jenis pelayanan yang diberikan, salah satunya mengenai waktu tunggu pelayanan yang terbagi menjadi dua yaitu waktu tunggu pelayanan obat jadi dan waktu tunggu pelayanan obat racikan.
2.3 Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Inap
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004, kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien rawat inap di rumah sakit, dapat diselenggarakan
secara sentralisasi dan atau desentralisasi dengan sistem persediaan lengkap di ruangan, sistem resep perorangan, sistem unit dosis atau sistem kombinasi oleh Satelit Farmasi.
Pelayanan perbekalan farmasi pasien rawat inap di Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dilakukan di depo farmasi ruangan yang berada di tiap ruangan rawat inap, yaitu di kelas VIP/VVIP, kelas I, kelas II, kelas III, ruang anak, dan ruang teratai (Jamkesmas). Kegiatan petugas depo farmasi di ruangan rawat inap Rumah Sakit Kanker “Dharmais”:
Menyiapkan obat-obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien sesuai dengan 5 benar.
Menyiapkan obat oral, obat injeksi, dan alat kesehatan sebagai persediaan untuk masing-masing pasien dan dicatat di Kartu Indeks (Kardeks)
Menyiapkan barang farmasi dasar dan emergency.
Menyimpan obat dan alkes ke dalam masing-masing box pasien.
Mencatat obat-obat dan alat kesehatan yang tidak digunakan oleh pasien yang selanjutnya dikembalikan ke apotek/retur.
Pelayanan depo farmasi di rawat inap dilakukan secara Unit Dose Dispensing (UDD) atau unit dose dengan menyiapkan obat untuk penggunaan 24 jam (sesuai dosis obat dan aturan pakai). Alur penyiapan obat di UDD yaitu obat disiapkan oleh petugas UDD sesuai dengan dan dimulai dari pemberian obat sore hingga besok siang. Khusus untuk hari Jumat, petugas farmasi menyiapkan obat yang dibutuhkan pasien hingga hari Senin. Obat disiapkan dalam plastik dengan warna yang berbeda untuk setiap waktu pemberian (Lampiran 26). Plastik obat yang digunakan yaitu pagi (plastik putih), siang (plastik merah), sore (plastik biru), malam (plastik hijau), dan untuk obat-obat dengan penggunaan pada jam-jam tertentu (misalnya golongan narkotika atau psikotropika) menggunakan plastik berwarna kuning. Obat yang telah disiapkan oleh petugas UDD, kemudian akan diserahkan ke perawat untuk diberikan kepada pasien.
5
Universitas Indonesia
2.4 Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Kanker “Dharmais”
Rumah Sakit Kanker “Dharmais” (RSKD) memiliki sistem pendistribusian obat desentralisasi, yaitu sistem pendistribusian perbekalan farmasi yang mempunyai cabang di dekat unit perawatan atau unit pelayanan. Cabang ini dikenal dengan istilah depo farmasi atau satelit farmasi. Di RSKD terdapat Sateli Farmasi Rawat Inap (SAFARI) yang merupakan bagian dari Instalasi Farmasi yang melaksanakan kegiatan pelayanan farmasi berupa pelayanan resep dari ruang rawat inap. SAFARI merupakan bagian dari Instalasi Farmasi yang melaksanakan kegiatan pelayanan farmasi berupa pelayanan resep dari ruang rawat inap dan HCU. Berdasarkan status pasien, SAFARI melayani 6 jenis pasien, yaitu pasien tunai/reguler/deposit, pasien Jaminan Perusahaan, pasien Asuransi Kesehatan Sosial (Askes-Sos), pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan KJS (Kartu Jakarta Sehat).
Alur pelayanan resep secara umum di SAFARI yaitu resep dari dokter diterima SAFARI untuk di-billing dan dicetak etiket selanjutnya obat disiapakan atau diracik, kemudian dilakukan pengemasan dan pemberian etiket, setelah itu dilakukan penyerahan obat dengan memeriksa 5B (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu, dan benar cara pemberian). Pada pelaksanaan pelayanan mulai dari obat dihargai, diracik, dikemas, dan diserahkan, dilakukan oleh petugas SAFARI yang berbeda dan setiap petugas harus memberi paraf pada kolom HRKP (hargai, racik, kemas, penyerahan) dan 5B sesuai dengan tugasnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa obat yang akan diserahkan sudah benar. Di SAFARI, pelaksanaan HRKP sudah berjalan, namun dalam penandaan HRKP belum optimal karena petugas yang melaksanakan pada umumnya tidak memberikan randa pada kolom HRKP dan 5B yang ada pada resep.
Untuk pasien rawat inap tunai dan jaminan perusahaan, resep diberikan langung oleh petugas UDD ke SAFARI. Sedangkan untuk pasien rawat inap Askes, Jamkesmas dan KJS, resep diserahkan oleh petugas UDD ke keluarga pasien untuk diantarkan sendiri ke SAFARI. Selanjutnya akan dilakukan pelayanan resep sesuai alur pelayanan resep secara umum di SAFARI, kemudian obat diantarkan ke petugas UDD ruangan oleh petugas SAFARI.
Gambar 2.1 Alur Pelayanan Resep Pasien Rawat Inap Tunai
Untuk pasien Askes, terlebih dahulu resep dibawa ke bagian Askes untuk diverifikasi dan diperiksa obat apa saja yang ditanggung dan yang tidak ditanggung sesuai Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) Askes. Apabila ada obat yang diperlukan tetapi tidak ada dalam DPHO, maka pasien peserta Askes diminta menanggung biaya obatnya secara pribadi. Setelah itu resep diantarkan pasien atau keluarga pasien ke SAFARI. Sedangkan untuk pasien Jamkesmas dan KJS, resep terlebih dahulu dibilling oleh petugas SAFARI, setelah itu diverifikasi, kemudian resep diberikan kembali ke SAFARI untuk dilakukan pelayanan resep.
Gambar 2.2 Alur Pelayanan Pasien Rawat Inap Jamkesmas dan KJS R/ dibilling dan dicek kembali kelengkapan R/ sesuai
dengan status pasien dan di cap HRKP
Menyiapkan obat sesuai R/ dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar waktu, benar dosis dan benar cara
pemberian)
Diantae kembali ke Depo farmasi UDD Petugas SAFARI memeriksa kelengkapan resep Resep diantar Petugas Depo Farmasi UDD ke SAFARI
Diverifikasi petugas jaminan
Pasien diberi SKP (Surat Keabsahan Jaminan)
Resep disiapkan di depo farmasi secara UDD Resep
Dibilling oleh petugas SAFARI Pasien
7
Universitas Indonesia
Gambar 2.3 Alur Pelayanan Pasien Rawat Inap Askes
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Waktu Pelayanan Resep
Renni Septini (2012) dalam Tesisnya menulis faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan resep, yaitu :
1. Jenis Resep, disini jenis resep dibedakan menjadi jenis racikan dan non racikan. Dimana jenis resep racikan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan jenis resep jadi.
2. Jumlah Resep dan kelengkapan resep. Dalam hal ini adalah jumlah item resep, dimana setiap penambahan item obat di dalam resep akan memberikan penambahan waktu pada setiap tahap pelayanan resep. 3. Shift petugas, dimana pada shift pagi memerlukan waktu pelayanan
yang lebih cepat dibandingkan dengan shift sore.
4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia yang cukup dan terampil, sehingga dapat mengurangi lama waktu pelayanan resep
5. Ketersediaan obat sesuai dengan resep yang diterima, sehingga waktu yang terbuang untuk mencari obat pengganti yang lain dapat dikurangi.
Resep
Diberikan kepada pasien
DPHO Di luar DPHO
Keluarga Pasien (Pasien membeli secara tunai)
Dilayani oleh petugas farmasi ruangan secara UDD Verifikasi Petugas ASKES
6. Sarana dan fasilitas yang dapat menunjang proses operasi pelayanan resep, antara lain pemakaian alat-alat teknologi yang canggih yang dapat memberikan kepuasan kepada pasiennya.
9 Universitas Indonesia
BAB 3
METODE PENGKAJIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian
Pengkajian response time pelayanan resep pasien rawat inap dilakukan di Satelit Farmasi Rawat Inap (SAFARI) Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” Jalan S. Parman Kav. 84-86 Slipi Jakarta Barat selama pelaksanaan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA), yaitu pada tanggal 10 – 25 Oktober 2013.
3.2 Metode Pengkajian 3.2.1 Kriteria Inklusi
Data yang dikumpulkan memiliki kriteria inklusi sebagai berikut:
a. Resep dokter yang berasal dari ruang rawat di lantai VII dan VIII pasien rawat inap Rumah Sakit Kanker “Dharmais”.
b. Resep tersebut diserahkan ke Satelit Farmasi Rawat Inap (SAFARI) Instalasi Farmasil Rumah Sakit Kanker “Dharmais”.
c. Waktu pelayanan resep SAFARI mulai dari jam 08.00 sampai 16.00 WIB 3.2.2 Kriteria Eksklusi
Data yang tidak diambil sesuai dengan kriteria eksklusi, yaitu:
a. Resep dokter yang berasal dari ruang rawat di lantai VII dan VIII pasien rawat inap Rumah Sakit Kanker “Dharmais”.
b. Resep dokter yang berasal dari pasien rawat jalan Rumah Sakit Kanker “Dharmais”.
c. Resep tidak diterima oleh Satelit Farmasi Rawat Inap (SAFARI) Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais”.
d. Waktu pelayanan resep SAFARI < jam 08.00 dan > jam 16.00 WIB 3.2.3 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berasal dari resep dokter pasien rawat inap di ruang rawat lantai VII dan lantai VIII Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. Ruang
rawat inap yang terdapat di lantai VII dan lantai VIII Rumah Sakit Kanker “Dharmais” antara lain :
a. Lantai VII, terdiri dari dua ruang inap, yaitu Ruang Mawar 2 dan Ruang Anggrek 2. Ruang mawar 2 merupakan ruang rawat inap kelas 1 untuk pasien pribadi dan jaminan perusahaan, sedangkan ruang anggrek 2 merupakan ruang rawat inap kelas VIP untuk pasien pribadi, askes dan jaminan perusahaan.
b. Lantai VIII, terdiri dari dua ruang rawat inap, yaitu Ruang Mawar 1 dan Ruang Anggrek 1. Ruang mawar 1 merupakan ruang rawat inap kelas 1 untuk pasien Askes, sedangkan ruang anggrek 1 merupakan ruang rawat inap kelas VIP/VVIP untuk pasien pribadi, Askes dan jaminan Perusahaan. Data yang dikumpulkan meliputi waktu pelayanan satelit farmasi rawat inap sejak resep diterima SAFARI (billing) pelayanan resep pengantaran perbekalan farmasi ke ruang rawat inap. Alur pelayanan resep pasien rawat inap Rumah Sakit Kanker “Dharmais” yaitu resep dari dokter diterima oleh petugas depo farmasi rawat inap. Kemudian untuk pasien pribadi dan jaminan perusahaan resep akan diantarkan langsung oleh petugas depo rawat inap ke SAFARI, sementara untuk pasien Askes resep akan diserahkan petugas depo farmasi kepada keluarga pasien untuk dibawa ke satelit farmasi rawat inap (SAFARI).
Resep pasien pribadi dan jaminan perusahan yang sampai di SAFARI langsung dihargai (billing). Khusus pasien Askes, terlebih dahulu resep dibawa ke bagian Askes untuk dilakukan verifikasi, lalu resep dikembalikan ke SAFARI untuk di-billing, kemudian obat disiapkan oleh petugas SAFARI termasuk peracikan obat untuk resep obat racikan. Kemudian dilakukan pengemasan dan penyerahan perbekalan farmasi ke ruang rawat. Untuk pasien rawat inap, obat langsung diantarkan petugas SAFARI ke ruang depo farmasi ruang rawat inap.
11 Universitas Indonesia
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada pengkajian response time pelayanan resep di Satelit Farmasi Rawat Inap (SAFARI) Rumah Sakit Kanker “Dharmais”, hasil pengukuran dibagi berdasarkan ruang rawat inap yang terdapat di lantai VII dan lantai VIII Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. Jenis pelayanan resep terbagi menjadi pelayanan resep obat jadi dan obat racikan.
4.1.1 Response Time Ruang Rawat Inap Mawar 2
Pengumpulan data response time pelayanan resep ruang rawat inap Kelas 1, Mawar 2 Lantai VII dilakukan selama dua hari. Response time yang diamati sebanyak 24 resep obat jadi dan 4 resep obat racik. Terdapat 5 resep yang belum terlayani setelah jam 16.00 WIB. Rata-rata pelayanan resep obat jadi di ruang rawat inap Mawar 2 membutuhkan waktu 61 – 120 menit (50%), sedangkan rata – rata pelayanan resep obat racik di ruang rawat inap Mawar 2 membutuhkan waktu