BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
hasil pekerjaan pelaksanaan lanskap kawasan SCR berdasarkan kualitas dan waktu. Faktor kualitas/mutu dipengaruhi oleh aplikasi metode kerja serta penggunaan bahan dan alat. Adapun dari segi waktu, walaupun pada awal pelaksanaan proyek terdapat deviasi keterlambatan yang mengkhawatirkan, namun kontraktor dapat mengejar keterlambatan dan meminialisir persentase deviasi melalui pengambilan strategi yang tepat. Beberapa potensi yang ditemukan pada kontraktor, yaitu: proyek dikelola oleh tim manajemen konstruksi yang berpengalaman, tim kerja solid, memiliki modal serta ketersediaan fasilitas dan peralatan yang memadai. Adapun kekurangan kontraktor berdasarkan kegiatan pengawasan lapang (supervisi), yaitu: (1) lemahnya koordinasi, (2) kualitas pekerjaan yang kurang memuaskan pada beberapa pekerjaan disebabkan penggunaan bahan dan alat yang kurang memenuhi standar, (3) kurangnya jumlah tenaga kerja. Secara umum, kontraktor sudah cukup baik dalam mengelola proyek, namun perlu diupayakan perbaikan agar lebih optimal. Produk (output) magang yang dihasilkan adalah shopdrawing, gambar konstruksi pohon, planting plan, dan as-built drawing pekerjaan softscape serta rekomendasi.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan magang, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan. Nindya-TWW, JO sebagai kontraktor pelaksana hendaknya perlu meningkatkan kualitas pekerjaan dan pengawasan lapang. Kontraktor seharusnya tidak hanya berorientasi pada efisiensi biaya tanpa
mempertimbangkan kualitas pekerjaan, karena manajemen mutu merupakan salah
satu dari tujuan proyek, dan dapat menentukan citra perusahaan. Pengawasan yang baik mampu menjaga keseimbangan antara sumberdaya, anggaran dan penjadwalan sehingga sesuai dengan perencanaan. Rapat koordinasi perlu ditingkatkan sebagai alat pengendalian dan pengkajian ulang bersama secara periodik karena sifat kegiatan proyek yang dinamis.
Konsultan perencana hendaknya lebih memperhatikan proses berfikir lengkap karena inventarisasi dan perencanaan yang tepat berpengaruh terhadap kelancaran proses pelaksanaan. Adapun MK hendaknya bersikap netral dan profesional dalam memberikan masukan atau kebijakan terkait pemilihan sub
142 kontraktor dan supplier. Saran bagi pemilik proyek (owner) yaitu DISPORA agar meningkatkan koordinasi dan komunikasi kepada seluruh peserta proyek.
Departemen Arsitektur Lanskap diharapkan mempertahankan kegiatan
magang pada perusahaan kontraktor sebagai sarana mahasiswa untuk
mendapatkan pengalaman kerja nyata serta meningkatan kemampuan,
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2011. Sejarah PON. [terhubung berkala]: http:
//id.wikipedia.org/wiki/PON [25 Maret 2011].
____. 2011. Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII - 2012 - Riau [terhubung
berkala http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1205249/ [25
Maret 2011].
____. 2011. Profil PT. Nindya Karya. [terhubung berkala]:
http://www.nindyakarya.co.id/. [25 Maret 2011]
____. 2011. Profil Grup Bosowa. [terhubung berkala]: http://www.bosowa.co.id/. [25 Maret 2011].
____. 2011. Peta Provinsi Riau. [terhubung berkala]:
:http://kesbangpollinmas.riau.go.id/statis-4-administratif.html/.
[25 Maret 2011].
____. 2011. Peta Kawasan Sport Center Riau. [terhubung berkala]:
http://googleearth.com/. [ 7 April 2011].
____. 2011. Keadaan Iklim Provinsi Riau. [terhubung berkala]:
http://riau.bps.go.id/publikasi-online/riau-dalam-angka/bab-2-keadaan-
iklim.html/. [11 Juni 2011].
____. 2011. Peta Kota Pekanbaru. [terhubung berkala]:
:http://petakotaindonesia.com/2011/06/06/peta-pekanbaru/ [25 Januari 2012].
____. 2011. Foto-foto tanaman dalam analisis Justifikasi Teknis [terhubung berkala]: http://googleimages.com/. [ 27 September 2011].
Booth, N.K. 1983. Basic Elements of Landscape Architectural Design. Illinois : Waveland Press Inc.
Cleland, D.I. dan Ireland, L.R. 2002. Project Management: Strategic Design and Implementation. New York: McGraw Hill.
Clough, R. H. and Sears, G. A. 1994. Construction Contracting. New York : John Wiely and Sons.
144 Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid I. Jakarta: Kanisius
Dulbert, Biatna. Wahyu Widyatmoko. 2010. Kajian Standardisasi Bidang Olahraga. Vol 12: Hal 1.
Eckbo, Garrett. 1964. Urban Landscape Design. McGraw-Hill Book Company,
New York.
Ervianto, Wulfram I. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi (Edisi Revisi). Yogyakarta : C.V Andi Offset.
GBHN, TAP Nomor: IV/MPR/1999 tentang Keolahragaan Nasional.
Hakim, R dan Utomo, H. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta: Bumi Aksara.
Hardjowigeno, Sarwono. 2007. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Heizer, J dan B. Render. 2006. Operations Management. Edisi VII Bahasa
Indonesia. Salemba Empat. Jakarta.
Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Jakarta: Presiden RI.
Lestari G dan Kencana IP. 2008. Galeri Tanaman Hias Lanskap. Jakarta: Penebar Swadaya.
Nindya-TWW, JO. 2011. Laporan Bulanan. Proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai. Riau.
Nindya-TWW JO. 2011. Dokumen Kontrak Induk. Proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai. Riau.
Nindya-TWW JO. 2011. Dokumen Shop Drawing. Proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai. Riau.
Nindya-TWW JO. 2011. Dokumen As-built Drawing. Proyek Penataan Kawasan
Sport Center Rumbai. Riau.
Nindya-TWW, JO. 2011. Dokumentasi Lapang. Proyek Penataan Kawasan Sport
Center Rumbai. Riau.
Noor, M. 2010. Tahapan Pelaksanaan atau Konstruksi. Teori Lanskap. Edisi 38: 74-76.
Rachman, Z. 1984. Proses Berpikir Lengkap Merencana dan Melaksanakan.
Makalah Diskusi dalam Festival Tanaman VI Himagron (Tidak
dipulikasikan). Bogor.
Sadyohutomo, Mulyono. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah – Realita dan Tantangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Saifudin, Azwar. 1997, Reliabilitas dan Validitas, ed. 3, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Simonds, J. O. dan Barry W. Starke. 2006. Landscape Architecture fourth
edition: A manual of Environment Planning and Design. New York:
McGraw-Hill Companies, Inc.
Soedarsono, Y.S. 2001. Kamus Istilah Proyek. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Soeharto, I. 1995. Manajemen Proyek: dari konseptual sampai operasional. Jakarta: Erlangga.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah. IPB
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Standar
Keolahragaan Nasional.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
146 LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah Lanjutan
Lampiran 2. Surat Kontrak KSO antar PT.Nindya Karya dan PT.Tuju Wali Wali
148 Lanjutan
Lampiran 3. Dokumen Kontrak Material Pohon
150 Lanjutan
Lanjutan
152 Lanjutan
Lanjutan
154
Lanjutan
156 Lanjutan
Lanjutan
158 Lanjutan
Lampiran 5. Berita Acara Serah Terima Pohon
160 Lanjutan
Lampiran 6 IPP (Ijin Pelaksanaan Pekerjaan) Softscape
162 Lampiran 7 IPP (Ijin Pelaksanaan Pekerjaan) Pekerjaan Penanaman Rumput.
SKALA 1:4000
Dokumen shop drawing Nindya-TWW,JO. 2011)
SKALA 1:50 SKALA 1:50
SKALA 1:60 SKALA 1:60
Institut Pertanian Bogor Mei 2012
PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN LANSKAP PADA PROYEK PENATAAN KAWASAN SPORT CENTER
RUMBAI, RIAU.
(KEGIATAN MAGANG DI NINDYA-TWW, JO)
Implementation Landscape Process of Rumbai Sport Center at Riau (Internship at Nidya-TWW JO)
Gita Pertiwi1, Fitriyah Nurul H. Utami2, Dewi Rezalini Anwar2 1 Mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB 2Staf Pengajar Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB
Abstract
The 18th Pekan Olahraga Nasional will be held in Riau Province. The Riau Government proclaimed to concentrate the sport events into a sport center. Sport Center Rumbai (SCR) has been built in stages, starting from 2008 and now it has established five venues that will be used in PON XVIII championship. As a sport center, SCR must be representative in accommodating it’s users and their security in accordance to the basic standards. SCR is structuring area facilities and infrastructure development work that consist of hardscape and softscape jobs. Implementation of SCR project is handled by Nindya-TWW Jo, which is a collaboration between two experienced company engaged in construction sector. It is neccessary to study the landscape implementation process. Implementation (construction) is performed after the stage of planning and design process is completed. By doing an internship program at Nindya-TWW Jo, student learned about landscape implementation process, especially softscape work in the sport center construction. Student is involved in SCR project by supervising the softscape implementation in the field and studio work. The product of this internship are shopdrawings, letters of administration related to implementation process and recomendation.
RINGKASAN
GITA PERTIWI. Proses Pelaksanaan Pekerjaan Lanskap pada Proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai, Riau di Nindya-TWW, JO. Dibimbing oleh
FITRIYAH NURUL H. UTAMI dan DEWI REZALINI ANWAR.
Sport Center Rumbai (SCR) adalah pusat kegiatan olahraga di Jalan Yos Sudarso, Rumbai, Kota Pekanbaru, memiliki luas 34 hektar (ha) yang terdiri dari 5 venues, yaitu: Stadion Bola Kaharuddin Nasution, Stadion Atletik, Gelanggang Aquatic, Hall Senam dan Hall Basket. Proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai adalah proyek konstruksi yang dibangun dalam rangka persiapan PON 2012, untuk melengkapi fasilitas dan sarana umum agar gedung-gedung olahraga dalam suatu kawasan sport center terintegrasi satu sama lain. Proyek ini dilaksanakan oleh perusahaan konstruksi PT. Nindya Karya dan PT. Tuju Wali Wali yang melakukan Joint Operation dengan nama kemitraan Nindya-TWW, JO. Proyek Penataan Kawasan SCR yang ditangani Nindya-TWW, JO terdiri dari 9 item pekerjaan, yaitu: (1) pekerjaan pendahuluan, (2) pekerjaan pagar, (3) pekerjaan area parkir, (4) pekerjaan drainase, (5) pekerjaan Mekanikal-Elektrikal (ME), (6) pekerjaan jalan aspal, (7) pekerjaan pintu gerbang, (8) pekerjaan bangku taman, dan (9) pekerjaan taman atau softscape.
Penulisan skripsi ini dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan magang. Kegiatan magang berlangsung selama 4.5 bulan dari April 2011 sampai Agustus 2011 di Nindya-TWW, JO, bertujuan: (1) menganalisis pelaksanaan pekerjaan
lanskap proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai, mencakup manajemen
proyek, pekerjaan softscape dan hardscape, (2) menganalisis proses bekerja di studio dalam pembuatan shop drawing dan as-built drawing pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai, serta (3) mampu merumuskan permasalahan dan membuat rekomendasi terkait pelaksanaan pekerjaan lanskap pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai. Metode kerja yang digunakan adalah partisipasi aktif dan terlibat langsung di dalam proses pelaksanaan pekerjaan lanskap, baik di studio maupun di lapang. Pekerjaan lanskap dibagi menjadi pekerjaan softscape dan hardscape. Pada pelaksanaan pekerjaan softscape penulis terlibat secara langsung mengawasi pelaksanaan pekerjaan penanaman pohon dan rumput. Adapun pada pekerjaan hardscape, penulis hanya mengamati secara umum proses pelaksanaannya di lapang, yaitu pada pekerjaan area parkir dan pekerjaan pagar. Posisi penulis selama melaksanakan kegiatan magang berada di dalam Divisi Engineering dan juga merangkap sebagai Landscape Assistant Supervisor.
Kegiatan magang terbagi menjadi tiga kegiatan, yaitu: kegiatan studio, kegiatan administrasi dan kegiatan pelaksanaan pekerjaan lanskap. Pada Divisi Engineering, penulis mempelajari masalah teknis dan kegiatan studio seperti pembuatan gambar kerja terkait dengan pekerjaan softscape. Kemudian sebagai Landscape Assistant Supervisor, penulis mempelajari administrasi terkait dengan pelaksanaan, manajemen lapang, dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan softscape. Proses pembelajaran (magang) mencakup 3 hal, yaitu: manajemen proyek, kegiatan studio, dan pengawasan lapang. Ketiga aspek tersebut dianalisis secara deskriptif, kemudian dilakukan identifikasi terhadap permasalahan dan
iv potensi yang terjadi di tempat magang, kemudian membandingkan dengan kriteria ideal untuk memberikan solusi dari sudut pandang Arsitektur Lanskap.
Hal penting yang dipelajari dalam manajemen proyek berkaitan dengan perencanaan operasional (jadwal pelaksanaan, tenaga kerja, peralatan dan material) dan pengendalian (pengkoordinasian seluruh kegiatan operasional di lapangan), kontrak pengadaan material, surat-surat terkait pelaksanaan di lapang seperti Ijin Pelaksanaan Pekerjaan (IPP) dan sebagainya. Dari kegiatan studio, dipelajari dokumen gambar, prosedur kerja di studio, justifikasi teknis material, pembuatan shop drawing dan as-built drawing pekerjaan softscape. Adapun dari aspek pelaksanaan, dipelajari pengendalian terhadap proses berjalannya pekerjaan softscape, pemanfaatan sumberdaya berupa waktu, material dan tenaga kerja, serta pengawasan (supervisi) di lapang. Pelaksanaan pekerjaan softscape yang diikuti, yaitu: pekerjaan pendahuluan, pengukuran dan pematokan, pengolahan tanah, penanaman pohon dan rumput, serta pemeliharaan rutin. Pekerjaan hardscape yang diikuti adalah pembuatan area parkir dan pagar.
Kesimpulan dari kegiatan magang ini ditemukan beberapa potensi pada kontraktor pelaksana Nindya-TWW JO, yaitu: manajemen proyek dikelola oleh tim manajemen konstruksi yang berpengalaman dan tim kerja yang solid, sedangkan dari segi pelaksanaan perusahaan kontraktor memiliki modal serta ketersediaan jumlah fasilitas dan peralatan yang memadai. Adapun kendala yang dijumpai, yaitu keterbatasan jumlah pekerja lapang dan penggunaan material yang
kurang memenuhi standar. Kendala-kendala tersebut menyebabkan keterlambatan
waktu, kerugian biaya dan mutu yang kurang terjamin. Untuk meminimalisir masalah, dilakukan identifikasi masalah secara sistematik. Keberhasilan suatu proyek diukur dari efektivitas penggunaan sumberdaya yang dibatasi oleh triple constrains, yaitu biaya, waktu dan kualitas. Kontraktor Nindya-TWW JO dinilai cukup baik dalam menangani proyek Penataan Kawasan SCR karena berhasil mengejar keterlambatan pelaksanaan dengan upaya-upaya perbaikan dan pengambilan tindakan koreksi yang tepat. Faktor kualitas/mutu dipengaruhi oleh aplikasi metode kerja serta penggunaan bahan dan alat. Adapun faktor biaya tidak dibahas oleh penulis karena merupakan hal yang tidak dapat dipublikasikan
Kegiatan magang di proyek Penataan Kawasan Sport Center, Rumbai pada
Nindya-TWW, JO telah memberikan pengalaman kerja nyata dan pengetahuan
terkait dengan bidang keprofesian arsitektur lanskap. Penulis memperoleh pengalaman dalam mengikuti proses pelaksanaan proyek lanskap tersebut mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan beserta permasalahan yang timbul seiring berjalannya proses pelaksanaan.
Secara umum pelaksanaan pekerjaan lanskap pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai pada Nindya-TWW, JO telah berjalan dengan cukup baik, sesuai dengan teori acuan pustaka dan sesuai dengan pembelajaran yang diterima di kuliah.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangPekan Olahraga Nasional (PON) adalah pesta olahraga nasional yang diselenggarakan empat tahun sekali dan diikuti seluruh provinsi di Indonesia. Pada September 2012 mendatang, Provinsi Riau ditunjuk sebagai lokasi
diselenggarakannya PON XVIII, karena itu Pemerintah Provinsi Riau
merencanakan pembangunan Riau Sport Center sebagai tempat penyelenggaraan
berbagai kegiatan olahraga. Sport Center atau bisa juga disebut kompleks olahraga merupakan suatu kawasan dimana kegiatan berbagai jenis olahraga dikonsentrasikan dalam satu lokasi terpadu. Sport Center Rumbai (SCR) adalah salah satu tempat yang akan digunakan untuk babak penyisihan beberapa cabang olahraga. Pembangunan SCR telah dimulai sejak tahun 2008 dan saat ini (Agustus 2011) telah terbangun venues Gelanggang Renang, Hall Senam dan Hall Basket, sedangkan Stadion Atletik masih dalam proses pembangunan, bersamaan dengan renovasi Stadion Kaharudin Nasution. Sebagai kawasan publik, SCR perlu dilengkapi fasilitas dan utilitas umum sehingga pemerintah mengadakan proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai (SCR). Fasilitas pelengkap diperlukan untuk mengakomodir kebutuhan pengguna sehingga tercipta kenyamanan, keamanan serta terbentuknya kesatuan ruang fisik dan lanskap secara harmonis. Secara umum proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai (SCR) terdiri dari pekerjaan softscape dan hardscape. Pekerjaan softscape meliputi penanaman pohon dan rumput, sedangkan pekerjaan hardscape terdiri dari pekerjaan area parkir, traffic island, pagar dan sebagainya.
Ervianto (2005) menyatakan pelaksanaan (construction) adalah suatu tahap untuk mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya, waktu, dan mutu yang telah disepakati. Simond dan Starke (2006) menyatakan bahwa tahapan pelaksanaan merupakan perwujudan atau kegiatan setelah selesainya tahap perancangan. Pelaksanaan proyek tidak dapat terlepas dari sistem manajemen
2 proyek, yaitu pengorganisasian atas sumberdaya berupa uang, material bahan dan alat, serta tenaga kerja. Soeharto (1995) menyatakan pelaksanaan penting untuk dipelajari karena berkontribusi sebanyak 80% terhadap keberhasilan suatu proyek, adapun perencanaan hanya berpengaruh sebanyak 20%. Dalam pengendalian suatu proyek dipelajari upaya-upaya untuk memantau proses berlangsungnya pelaksanaan agar tidak menyimpang dari tujuan semula dengan mempelajari,
menganalisis kendala dan mengambil tindakan pembetulan.
Kegiatan magang pada proyek penataan kawasan Sport Center Rumbai (SCR) di perusahaan kontraktor berguna untuk mempelajari tata laksana keprofesian arsitek lanskap secara langsung oleh mahasiswa. Nindya-TWW JO merupakan organisasi yang telah berpengalaman dan kompeten dalam bidang usaha jasa konstruksi. Joint Opeation merupakan kepanjangan dari JO, yaitu kerja sama operasi antara dua perusahaan konstruksi, yaitu PT Nindya Karya (Persero) dengan PT.TWW (Tuju Wali Wali), yaitu perusahaan kontraktor daerah di Provinsi Riau yang merupakan anak perusahaan dari Bosowa Grup.
1.2 Tujuan Magang
Tujuan dari kegiatan magang pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai, yaitu:
1. menganalisis pelaksanaan pekerjaan lanskap proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai, mencakup manajemen proyek, pekerjaan softscape dan hardscape,
2. menganalisis proses bekerja di studio dalam pembuatan shop drawing dan as- built drawing pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai,
3. mampu merumuskan permasalahan dan membuat rekomendasi terkait pelaksanaan pekerjaan lanskap pada proyek Penataan Kawasan Sport Center Rumbai.
1.3 Manfaat Magang
Kegiatan magang di PT Nindya - TWW JO pada proyek penataan kawasan Sport Center Rumbai memberikan manfaat:
1. meningkatkan pengetahuan dan kemampuan analisis penulis berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah sesuai dengan bidang keahlian Arsitektur Lanskap,
2. mengembangkan softskill dan sikap profesionalisme kerja dalam lingkup
keilmuan Arsitektur Lanskap serta menambah keterampilan dan pengalaman kerja praktis dalam pelaksanaan proyek pekerjaan lanskap,
3. sebagai media pertukaran informasi, ilmu dan teknologi serta menjalin kerja sama dan hubungan yang baik antara Departemen Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor dengan perusahaan tempat magang.
1.4 Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam penyusunan skripsi berdasarkan kegiatan magang adalah sebagai berikut:
PON XVIII 2012 Standardisasi
Pembangunan Kawasan Sport Center Rumbai Kontraktor Nindya-TWW JO Pengenalan Kondisi Umum Perusahaan Kegiatan Pelaksanaan Pekerjaan Lanskap Kelembagaan SCR, Manajemen Proyek, Pekerjaan Studio Pekerjaan Softscape Pekerjaan Hardscape Kegiatan Magang Administasi pelaksanaan, Analisis Pasca Magang Laporan Kegiatan Magang & Rekomendasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PON (Pekan Olahraga Nasional)
PON (Pekan Olahraga Nasional) adalah pesta olahraga yang
diselenggarakan empat tahun sekali dan diikuti seluruh provinsi di Indonesia (Wikipedia, 2010). Pekan Olahraga Nasional pertama (PON I) diselenggarakan di Kota Solo pada tanggal 8-12 September 1948. Pada PON 2012, telah ada 30 cabang olahraga yang akan diperlombakan, yaitu Aquatik (Diving, Swimming, Syncronized Swimming), Archery, Atletik, Badminton, Baseball, Basket, Billiard dan Snooker, Tinju, Canoeing/Rowing (Flat Water Racing, TBR), Cycling (BMX, Mountain, Bike, Road, Track), Equastrian, Fencing, Sepak Bola, Gymanstics (Artistics, Rhythmic, Aerobics), Golf, Hockey, Judo, Karate, Pencak Silat, Sailing, Softball, Menembak, Sepak Takraw, Tenis Meja, Taekwondo, Tenis, Volley (Indor, Beach), Binaraga, Wrestling, dan Wushu.
PON XVIII 2012 dilaksanakan di Pekanbaru, Riau. Terdapat dua titik sentral yang dikembangkan sebagai kompleks olahraga, yaitu Sport Center Panam dan Sport Center Rumbai (Gambar 2).
Panam Sport Center
Rumbai Sport Center
Gambar 2. Lokasi Pembangunan Sport Center Riau. (Sumber: skycrappercity.com, 2010)
Kedua Sport Center ini terletak di Kota Pekanbaru yang merupakan ibukota Provinsi Riau. Masing-masing sport center terdiri dari venues yang berbeda-beda dan akan dipakai dalam kejuaraan PON. Lokasi yang dijadikan sebagai pusat penyelenggaran PON 2012 adalah Sport Center Panam di Kampus
Bina Widya UNRI.
2.2 Kawasan Sport Center
Pada ketentuan umum UU 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, kawasan dapat diartikan sebagai wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau
budidaya. Dalam konteks pembangunan kawasan merupakan sektor dalam rangka
peningkatan kesejahteraan sosial seperti meningkatkan ketersediaan dan kualitas pelayanan prasarana dan sarana. Dapat disimpulkan bahwa kawasan adalah sebuah tempat yang memiliki batasan ruang geografis dengan ciri dan kekhususan tertentu untuk menampung kegiatan manusia berdasarkan fungsinya.
Dalam Tap MPR No.IV/MPR/1999 (GBHN), pemerintah menjadikan
olahraga sebagai salah satu arah kebijakan pembangunan, yaitu menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup. Sport center atau bisa juga disebut kompleks olahraga merupakan suatu kawasan dimana kegiatan berbagai jenis olahraga dikonsentrasikan sehingga membentuk suatu kesatuan ruang yang saling terintegrasi dalam satu lokasi yang terpadu dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya. Sport center berfungsi sebagai berikut:
1. sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga seperti PON, POPDA, PORSENI, SEA Games dan kejuaraan nasional maupun regional lainnya;
2. sebagai markas yang menjadi pusat segala kegiatan organisasi berbagai cabang olahraga untuk melaksanakan kegiatan harian, pertemuan guna membahas masalah-masalah tentang olahraga, dan lain-lain;
3. dilengkapi fasilitas penunjang seperti jaringan jalan, RTH, area parkir, saluran drainase, penerangan, dan lain-lain;
4. sebagai tempat pembinaan dan pelatihan atlet-atlet olahraga termasuk tempat menyelenggarakan perlombaan olahraga dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan daya saing para atlet.
6 2.3 Proyek
Soeharto (1995) menyatakan bahwa proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumberdaya tertentu bertujuan untuk menghasilkan produk. Cleland dan Ireland (2002) menambahkan, proyek adalah serangkaian kegiatan yang berlangsung dengan durasi tertentu, kompleksitas tertentu, pada area tertentu yang harus diakhiri dengan suatu accomplishment. Menurut Ervianto (2005), proyek memiliki tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi, yaitu: bersifat unik,
melibatkan sejumlah sumberdaya dan membutuhkan organisasi. Proyek dikatakan
unik karena suatu rangkaian kegiatan proyek hanya terjadi satu kali sehingga menghasilkan produk yang bersifat unik, berbeda dari apa yang sudah dikerjakan sebelumnya, maka tidak ada proyek yang sama sekali identik. Setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber daya, yaitu: pekerja, uang, mesin dan material.
Saifudin (1997) mengungkapkan bahwa tingkat kompleksitas kegiatan pelaksanaan proyek bergantung pada: jumlah kegiatan yang harus dikerjakan dalam proyek, jumlah kelompok atau organisasi yang terlibat dalam proyek, serta keterkaitan antara kegiatan dan organisasi dalam proyek dengan pihak luar. Terdapat tiga kendala (triple constraint) yang menjadi batasan penting dalam pelaksanaan pekerjaan, yaitu: anggaran, jadwal dan mutu. Ketiga hal ini mempengaruhi satu sama lain. Suatu alat yang digunakan untuk merencanakan,
mengorganisasi, mengkoordinasi dan mengawasi kegiatan dalam proyek sehingga
pelaksanaan berjalan sesuai dengan tujuan disebut manajemen proyek.
2.4 Manajemen Proyek
Manajemen proyek digunakan sebagai tools and techniques untuk mengkaji masalah proyek konstruksi yang berkaitan dengan penjadwalan pekerjaan, biaya proyek, pengorganisasian pekerjaan di lapangan. Menurut