BAB V PENUTUP
B. Saran
Setelah membaca keseluhan pembahasan dan kesimpulan di atas, menjadi penting untuk penulis sampaikan pentingnya memahami teologi pluralis sebagai salah satu pendekatan untuk mengerti benar menjalani kehidupan beragama dalam menjadi warga negara, yang hidup pada komunitas masyarakat plural dalam banyak hal. Sehingga harmonisasi kehidupan bersama yang dicita-citakan menjadi tercapai.
Saran yang hendak penulis sampaikan meliputi:
1. Pentingnya mengkaji dan melakukan penelitian lebih lanjut tentang pemikiran keagamaan Komaruddin Hidayat, mengingat banyaknya karya dan luasnya pemikiran beliau yang tersebar.
2. Tentang Teologi Pluralis yang penulis sandarkan kepada Komaruddin Hidayat bukan tidak mungkin membutuhkan penelitian lebih jauh. Hal ini karena pasti dalam penelitian yang penulis lakukan terdapat keluputan dan kesalahan.
3. Penulis juga berharap melalui pendekatan teologi pluralis ini, pemahaman keagamaan dan sikap beragama masyarakat kita menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan menjalani hidup dengan harmoni dalam keberagaman untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.
81
Daftar Pustaka
Abdullah, M. Amin, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Ali Engineer, Asghar, Islam dan Teologi Pembebasan, Cet V, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Ali, Muhammad, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003.
Alkhateeb, Firas, Sejarah Islam yang Hilang: Menelusuri Kembali Kejayaan Muslim Pada Masa Lalu. Penerjemah Mursyid Wijanarko, Yogyakarya:
Bentang Pustaka, 2016.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2010.
Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan Dalam Agama-Agama Manusia, Penerjemah Zainul Am, Ed. III, Bandung: Mizan, 2018.
_______________, Berperang Demi Tuhan, Bandung: Mizan, 2013.
_______________, Field of Blood. Penerjemah Yuliani Liputo, Cet. II, Bandung:
Mizan, 2017.
_______________, Masa Depan Tuhan. Penerjemah Yuliani Liputo, Ed. II, Bandung: Mizan, 2013.
Aziz Dahlan, Abdul, Ilmu Kalam, Jakarta: Ushul Press, 2010.
Boisard, Marcel A. Humanisme dalam Islam. Penerjemah H. M. Rasjidi, Jakarta:
Bulan Bintang, 1980.
Caputo, John D., Agama Cinta: Agama Masa Depan. Penerjemah Martin Lukito Sinaga, Bandung: Al-Mizan, 2013.
Dagun, Save M., Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1997.
Dawkind, Ricard, The God Delution. Penerjemah Zaim Rofiqi, Depok: BANANA, 2017.
Depag RI, Al-Quran Tafsir Perkata Tajwid Kode Angka.
Farid Ismail, Fuad & Hamid Mutawalli, Abdul, Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam), Jogjakarta: IRCiSoD, 2012.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat: 1 Cet. Ke-28, Yogyakarta: Penebit Kanisius, 2016.
Haikal, Mohammad Hassan, Islam Dan Keselamatan Pemeluk Agama Lain.
Penerjemah Chandra Utama, Bandung: Mizan, 2016.
Hanafi, Ahmad, Teologi Islam (Ilmu Kalam), Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
Harari, Yuval Noah, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Penerjemah Damaring Tyas Wulandari Palar, Cet. VII, Jakarta: KPG, 2019.
Harb, Ali, Nalar Kritis Islam Kontemporer. Penerjemah Umar Bukhory dan Ghazi Mubarak, Jogjakarta: IRCiSoD, 2012.
F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Neitzsche) Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011.
Hidayat, Komaruddin, Agama Punya Seribu Nyawa, Jakarta: Noura Books, 2012.
, The Wisdom of Life: Menjawab Kegelisahan Hidup dan Agama, Jakarta: Kompas, 2008.
, Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi, Jakarta: Paramadina, 2003.
, & Nafis, Muhammad Wahyuni, Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial, Jakarta: Paramadina, 1995.
, Penjara-Penjara Kehidupan, Jakarta: Noura Books, 2016. Optimisme. Cet. XI, Jakarta: Hikmah, 2008.
, Spiritual Side of Golf: Menjaga Konsistensi dan Kejujuran.
Cet. II, Jakarta: Expose, 2012.
, Wisdom of Life: Agar Hidup Bahagia Penuh Makna, Jakarta: Noura Books, 2014.
, Iman Yang Menyejarah: Memeluk Agama: Kebutuhan Menemukan Pijakan, Jakarta: Noura Publishing, 2018.
,, Agama Punya Seribu Nyawa, Jakarta: Noura Books, 2012.
, Politik Panjat Pinang: Di Mana Peran Agama?, Jakarta:
Kompas, 2006.
J Moleong, Lexi, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya, 2012.
Kartanegara, Mulyadhi, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Penerbit Baitul Ihsan, 2006.
___________________, Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia, Bandung: Mizan, 2017.
Nasr, Sayyed Hossein, Intelektual Islam: Teologi, Filsafat dan Gnosis. Penerjemah Suharsono dan Djamaluddin MZ, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
_________________ , dan Leaman, Oliver (editor), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam: Buku Pertama. Penerjemah Tim Penerjemah Mizan, Bandung:
Penerbit Mizan, 2003.
Nasuhi, Hamid dkk., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi), Ciputat: CeQDA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007.
Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986.
Partanto, Pius A dan Al Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya:
Penerbit Arkola, 2001.
Rahman, Budhy Munawar, Reorientasi Pembaruan Islam: Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia. Cet. II, Malang: PUSAM UMM, 2018.
________________________, Islam Pluralis, Jakarta: Paramadina, 2001.
________________________, (editor), Membela Kebebasan Beragama:
Percakapan tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Pluralisme Buku II, Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), 2010.
Rozak, Abdul & Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam (Edisi Revisi), Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2016.
Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno hingga Sekarang, Cet. Ke-1V, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016.
Salmah, Af Idah ed., Teologi Islam Terapan: Upaya Antisipatif terhadap Hedonisme Kehidupan Modern, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003.
Shihab, M. Quraish, Islam Yang Saya Anut: Dasar-Dasar Ajaran Islam, Jakarta:
Lentera Hati, 2018.
Sirry, Mun’in (editor), Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, Cet. VI, Jakarta: Paramadina, 2004.
Surajiyo, Filsafat Ilmu: Suatu Pengantar, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005.
Usman, Fathimah, Wahdat al-Adyan: Dialog Pluralisme Agama, Jogjakarta: LKiS, 2002.
Weber, Max, Sosilogi Agama: A Handbook. Penerjemah Yudi Santoso, Yogyakarta: IRCiSoD, 2012.
William, L. Resse, Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought USA: Humanities Press Ltd, 1999.
Wirman, Eka Putra, Restorasi Teologi: Meluruskan Pemikiran Harun Nasution Bandung: Penerbit Nuansa Aulia, 2013.
Zainuddin, M, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam Malang: Bayu Media, 2003.
Sumber Lain:
Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, 6 Januari 2019.
85
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Mohammad Haris
Tempa Tanggal Lahir : Sumenep, 26 Agustus 1995 Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Dusun Durbugan RT/RW 003/004 Desa Campaka Kec.
Pasongsongan Kab. Sumenep Provinsi Jawa Timur
Alamat Sekarang : Jl. Pesanggrahan No. 17 Cempaka Putih Kec. Ciputat Timur Tangerang Selatan Provinsi Banten
No. Handphone : +62822 9813 7482
E-mail : [email protected]
PENDIDIKAN FORMAL
1. MI Arraudlah (2001-2008) 2. MI Nurul Islam (2009)
3. MTs Nurul Islam (2010-2012) 4. MA 1 Annuqayah Putra (2013-2015) 5. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Sekarang) PENDIDIKAN NONFORMAL
1. Ponpes Nurul Islam (2009-2014) 2. Ponpes Annuqayah (2015)
Demikian riwayat hidup ini peneliti buat dengan sebenar-benarnya.
Surat Penelitian
Surat Pernyataan Wawancara
KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI
1. Siapa nama orang tua, Bapak, baik ayah maupun ibu?
2. Semasa kecil bersama orang tua, di mana Bapak tinggal?
3. Siapa tokoh yang menginspirasi Bapak ketika masih kecil?
4. Sekarang orang-orang mengenal Bapak sebagai cendekiawan, lantas siapakah sosok yang Bapak kagumi dan mempengaruhi pemikiran Bapak?
5. Sebagai seorang cendekiawan, sudah pasti Bapak suka membaca, baik buku maupun keadaan. Selama ini buku apa saja yang sangat mempengaruhi Bapak?
6. Dalam perjalanan intelektual Bapak, sebagai pembaca yang baik tentu Bapak juga ingin menyelematkan sebuah gagasan, utamanya dengan menulis. Berawal dari mana Bapak terinspirasi untuk menulis?
7. Buku apa yang Bapak pertama kali terbitkan?
8. Sampai saat ini, ada berapa jumlah buku yang telah Bapak terbitkan, dan lantas masih adakah buku yang sedang Bapak tulis sekarang?
9. Apa aktivitas yang Bapak tekuni saat ini?
10. Dalam karya-karya Bapak yang saya baca, kecenderungan pemikiran Bapak bersifat universal. Dalam arti Bapak menulis lebih mengarah kepada nilai-nilai kemanusiaan tanpa mengenal ras, budaya dan agama. Mengapa demikian?
11. Salah satu judul buku Bapak, Agama Punya Seribu Nyama, yang sekaligus merupakan istilah yang hendak Bapak pakai untuk meyakinkan pembaca bahwa agama tidak akan pernah mati. Hilang satu, tumbuh lainnya. Dasar apa yang menyebabkan Bapak berpikir demikian?
12. Dalam buku Bapak yang lain berjudul Wisdom of Life, ada pernyataan bahwa pada tataran esoteris dan puncak peradan manusia, akan muncul suatu paham keberagamaan dan sikap keberagamaan yang humanistik-universal. Atas dasar apa Bapak memiliki keyakinan tersebut?
13. Dalam buku yang sama, Bapak juga menyatakan bahwa agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang menekankan dan menghargai
persamaan nilai-nilai luhur setiap agama. Pernyataan tersebut merupakan corak dari teologi pluralis. Jika saya boleh menyimpulkan, pluralitas adalah agama masa depan, terlepas dari rumpun agama yang ada. Bagaimana Bapak menjelaskan hal tersebut?
14. Sebagai seorang teolog-pluralis, prinsip apa saja yang harus dipegang dan dilaksanakan dalam menjalani kehidupan yang majemuk dan kompleks ini?
15. Seperti yang telah disebut sebelumnya, tulisan-tulisan Bapak yang tersebar, khususnya yang bernuansa agama—menggambarkan pandangan dan sikap yang bercorak teologi pluralis. Bagaimana bapak memaknai term tersebut?!
16. Terakhir, bagaimana Bapak melihat masa depan agama dan agama di masa depan!?
HASIL WAWANCARA
Sampai di rumah Prof. Komaruddin Hidayat tepat pada jam 16.00 WIB.
Mobil beliau baru masuk pagar, pun beliau ternyata masih dalam mobil. Sebelum keluar dari mobil beliau tampak menyadari bahwa saya adalah mahasiswa yang akan melakukan wawancara sehingga, kebetulan saya bersama salah seorang teman kelas, kami langsung dipersilakan masuk dan menunggu di depan pintu rumah.
Tidak sampai lima menit, kami dipersilakan masuk dan duduk di ruang tunggu.
Kisaran tiga menit Prof. Komaruddin keluar, dan kami disambut dengan hangat.
Beliau menanyakan status kami dari fakultas apa, asal dari mana hingga tidak lama setelah teh dihidangkan oleh, mungkin, pembantu rumah tersebut, beliau menanyakan maksud kedatangan kami.
- (sebagai pewawancara) + (sebagai narasumber)
- “Wacana yang akan saya wawancarakan adalah teologi pluralis. Dulu pernah saya buat proposal tentang Filsafat Parennial, tapi kemudian oleh Pak Iqbal (salah satu dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta) disebutkan bahwa buku itu bukan tulisan murni Mas Komar, itu adalah tesis dari Wahyuni Nafis. Tapi karena Mas Komar kebetulan pembimbingnya, secara tidak langsung beliau yang mengarahkan isinya, dan paham betul. Tapi karena saya kepikiran dan menyadari buku Prof. Komar masih banyak, akhirnya saya belokkan ke teologi pluralis agar penelitian ini murni atas pemikiran Prof. Komar.”
+ “Iya-iya, bagus. Selama ini apa saja posisi, kesimpulan, hipotesa sementara yang kamu simpulkan apa dari bacaan itu?”
- “Untuk sementara yang saya dapat, dan sempat terbantah oleh Bu Rosmaria sebagai pembimbing, beliau mempersoalkan apakah Prof. Komar menulis tentang teologi pluralis atau tidak. Saya bilang, jika memberikan makna istilah khusus pada teologi pluralis memang tidak. Tetapi setelah saya baca sebagian besar karya beliau, tampak kemudian pemikirannya memiliki corak teologi pluralis. Dalam artian yang saya pahami tentang teologi
pluralis itu sebagai bentuk paham keagamaan atau sikap keagamaan yang berpegang teguh terhadap keyakinannya sendiri, namun pada saat ber-samaan juga terbuka atas pemahaman yang datang dari luar.”
+ “Satu catatan saja, pertanyaan beliau itu bagus. Bu Rosma memper-masalahkan saya menulis buku perihal pluralisme tidak. Kalua saya menulis buku pluralisme, kamu tidak perlu research lagi, iya kan? Untuk apa gunanya, saya sudah nulis, kok, begitu kan? Dan ketika kita meneliti karya orang memang, satu, membahas membantah posisi dia sebagai apa. Tapi kedua adalah mencoba menelusuri, mengumpulkan, menjahit apa, gitu. Jadi gunanya research ya itu. Kalau sudah terang benderang, untuk apa diresearch. Research itu berguna justru ketika kita ingin bertanya, seseorang yang belum clear sama sekali posisinya, sesungguhnya apa sih posisi dia.
Ini berlaku untuk saya, untuk siapa pun juga. Misalnya tentang research al-Quran, atau hadis, atau karya-karya orang, itu kan kita ingin melihat sesuatu sesungguhnya apa yang dikatakan. Setelah ini apa yang ingin Anda tanyakan, silakan, mau wawancara atau apa?”
- “Saya sudah membuat 20 pertanyaan, yang sebelumnya ada 15 saja.
Sepuluh pertama terkait biografi Prof. Komar sendiri, dan sisanya terkait dengan tema skripsi saya.”
+ “Oke. Buku-buku saya yang kamu baca apa saja?”
- “Tidak semua buku saya dapatkan, karena banyak ternyata buku Prof.
Komar tidak dicetak ulang. Saya memiliki 12 buku, meski sadar tidak dalam semua buku itu ada pembahasan yang saya cari. Saya membaca utuh sekitar empat buku, selebihnya saya menyesuaikan dengan tema dan kebutuhan.”
+ “Cukup lah itu. Jadi bisa dimulai pertanyaannya. Silakan!”
- “Sebagaimana disebutkan sebelumnya, mungkin bisa dimulai dari nama orang tua baik ayah mau pun ibu dan profesi kedunya!”
+ “Nama ayah saya Imam Hidayat. Nama ibu saya Zubadiyah. Aku umur 9 tahun ibu kandung saya meninggal. Sedangkan ayah meninggal, kurang lebih lima tahun lalu, saya lupa kapan persisnya, dalam usia 90 tahun.
Sedangkan profesi ayah saya itu dulu sebagai Pejuang ’45. Kemudian oleh pemerintah setelah merdeka dikasih hadiah pangkat ketentaraan, prajurit atau apalah itu.”
- “Semasa kecil, Prof. Komar tinggal bersama orang tua?”
+ “Iya sama orang tua, kemudian ibu meninggal. Ayah menikah lagi, dan bersama ibu tiri saya tidak begitu nyaman, akhirnya saya tinggal bersama nenek. Tapi tetap dekat, karena rumah nenek dengan rumah saya berdekatan. Terus yang ketiga saya terbiasa tinggal bersama kawan untuk tidur, entah di masjid, di langar-langgar atau malah pindah-pindah rumah teman. Jadi dari kecil mainan saya itu, ya di masjid.”
- “Dari pergaulan itu, adakah tokoh yang menginspirasi Prof. Komar?”
+ “Sewaktu SD, kalau di kampung itu kita kan dididik oleh lingkungan. Orang tua tidak pernah ngajari ngaji, anak kan otomatis bisa karena malu kan di masjid. Orang tua tidak nyuruh sunat tapi kita minta sunat kan biasa.
Setamat SD, tahun 65 itu, harap tahu ya, ekonomi Indonesia itu sedang krisis. Krisis ekonomi, politik, sawah-sawah juga gagal panen. Jadi masa kecil saya adalah masa yang kenangannya pahit. Memori masa kecil saya itu pahit. Karena di kampung miskin, di samping kondisi nasional ya begitu.
Waktu itu Komunis sedang berkembang. Dan saya sudah merasakan lingkungan saya itu benci dengan Komunis dan PKI itu saya merasakan.
Oleh orang tua, saya dikirim ke Sekolah Teknik Kanisius, teknik pertukangan. Alasannya orang tua agar nanti punya keterampilan kerja.
Karena di kampung saya, tukang-tukang itu hidupnya makmur, rumahnya bagus. Tukang kan kalau di kampung diundang ke sana ke mari. Orang tua saya terkesan. Nanti biar mandiri, makanya disekolahkan di Sekolah Tehnik Kanisius di Muntilan. Jadi saya belajar, dan kadang-kadang juga ke gereja.
Orang tua saya juga heran, saya suka Katolik, suka ke gereja. Orang tua ya diam saja, tidak pernah nanya apa-apa. Tidak sampai setahun saya keluar tidak betah karena jalan kaki dari kampung saya ke Muntilan dan saya merasa itu bukan passion saya, tidak tertarik. Kemudian pada waktu itu, di kampung saya dibuka pesantren baru, Pondok Pesantren Pabelan. Kiainya
itu alumni dari Gontor Ponorogo. Dulu sudah ada pesantren tradisional, sudah banyak karena memang daerah santri. Kemudian dihidupkan dengan cara baru, model Gontor itu. Ada kelas, ada boarding pesantren. Disiplin dengan jadwal, ngajarnya pakai dasi. Kemudian saya di situ angkatan pertama, tahun 1965-1966. Ada 32 orang, antara laki-laki dan perempuan itu dicampur. Semuanya itu anak sekampung Pabelan kecuali satu. Mereka adalah anak-anak yang sudah DO (drop-out), tidak tamat sekolah, pegangguran, dan akhirnya ditampung di situ. Tapi pendidikanya bagus disiplin. Mulainya di emperan masjid. Kami kerja bakti, ngangkut pasir, batu, buat sekolah, bersihin kambing, ayam dan sekarang saya baru tahu bahwa itu adalah life skills. Kiai saya itu sangat advance, apa saja dikerjakan sehingga tidak ada jarak antara kelas, masyarakat dan kehidupan. Bahkan tidak ada tembok antara pesantren dan masyarakat, semua melebur. Tahun kedua, baru mulai berdatangan dari luar desa maupun kota. Mereka yang tidak diterima di Gontor masuk di situ. Waktu itu normal, kurikulumnya sampai 3 tahun. Tapi setelah saya mau keluar, perkembangannya meningkat, guru-gurunya didatangkan dari luar. Tapi saya bosan, dan nggak tamat karena tidak ada teman saya. Akhirnya saya jalan-jalan ke tempat teman di Babad Lamongan, di sana saya jadi guru. Karena sudah bingung mau ngapain, akhirnya menjadi guru madrasah ibtidaiyah. Orang sana senang kalau ada guru dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Mangelang karena dianggap telaten, sabar dan Bahasa halus dibanding orang sana yang keras.
Saya setahun, dapat gaji, dapat tempat tinggal. Tapi saya berpikir, kalau guru saya bilang kalau saya di IAIN Jogja pasti lulus langsung jadi dosen, masuk Jurusan Adab saja. Tapi beliau tidak tahu keadaan ekonomi saya tidak memungkinkan. Hingga setahun dua tahun saya katif di masyarakat saja waktu itu. Ada PII (Pelajar Islam Indonesia), Pemuda Muhammadiyah,
ada juga Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Pendeknya kegiatan apa saja saya tidak mikir, terpenting aktif aja, kadang dakwah bersama senior-senior.
Jenuh pada kegiatan itu, kemudian saya nekat pergi ke Jakarta. Niatnya jalan-jalan doang, kaya apa sih Jakarta. Karena dari kecil orang di kampung saya itu pada ke Jakarta dan transmigran, ke Sumatera transmigran, dan banyak banget itu tetangga-tetangga saya pada kerja. Saya ingin tahu, kaya apa sih Jakarta. Akhirnya saya ke Jakarta, dan ketemu teman di Jalan Salemba, niat saya memang jalan-jalan saja. Pendeknya saya kan bisa sambal kerja apa saja, jadi pembantu, jadi apa saja pasti bisa karena juga ada teman. Rupanya teman saya itu kerja di bagian cat duco. Tahu nggak cat duco? Itu yang mobil, motor rusak diampelas lagi, kemudian disemprot jadi baru lagi, dan itu orang Muntilan. Dia orang Muntilan yang sukses di Jakarta, jadinya dia ngajak keluarganya, keponakannya. Saya kan kenal di situ, sedangkan teman yang saya tuju satunya adalah orang yang cukup mampu di Muntilan, tapi karena dia jenuh, kuliahnya juga DO. Jadi saya ke situ ketemunya sama orang-orang DO. Eee… Naaah!”
“Saya lihat, masuk Jakarta itu saya sudah terbuka. Masuk Pulo Gadung, terminal ya. Lihat mobil, bis buanyak sekali kan. Waw! Jakarta kan bayangannya mengerikan, kota hitam, mengerikan, kota hitam, negatif lah Jakarta. Ketika saya lihat, lah, kalau begini saya juga bisa hidup di terminal.
Di sini tukang cuci bis bisa hidup, eee, jadi saya sudah siap di Jakarta, apapun. Saya dulu suka baca buku silat, Kho Ping Hoo ya. Kamu nggak tahu?”
- “Nggak tahu (jawab barengan sambal sedikit tertawa) hehe…”
+ “Itu silat perjuanga. Pesilat bagaimana balas dendam ayahnya dibunuh oleh penjahat. Dia latihan silat bertahun-tahun untuk balas dendam atas kematian ayahnya. Pendeknya itu cerita petualangan hidup, berani menantang hidup isinya. Nah, karena saya pembaca berat novel-novel petuangan, jadi saya ke Jakarta enteng sekali.”
- “Jadi semacam sudah memiliki pengalaman melalui cerita itu ya, Prof?”
+ “Eee, mental. Bukan pengalaman karena saya belum mengalami kan. Tapi mental saya mental pesilat kehidipan. Jadi kalau ada tantangan itu nggak takut bahkan saya menghadapi, dan tidak takut jatuh. Jatuh ke mana coba, sudah di bawah, kok. Dan di pondok kan juga sudah biasa tidur di masjid dari kecil kan. Jadi saya biasa saja. Lihat orang jual korang, saya juga bisa.
Lihat orang jualan gorengan, ah saya juga bisa. Jadi begitu masuk terminal Jakarta saya merasa bisa hidup di Jakarta hingga bertemu dengan teman yang di Salemba itu, yang kerjaannya cuma mengampelas, dikerok, dicat.
Kan saya juga punya keterampilan dikit-dikit kalau urusan seni begitu. Tiga malam di Salemba, lalu saya ingat punya teman perempuan, dulu sepondok.
Dia kawin dan suaminya seorang militer, mereka tinggal di Komplek Mabad-Rempoa. Markas Besar Angkatan Darat Rempoa, tahu ya? Tempat tinggal para perwira menengah ke bawah lah. Saya ke situ, belum ada listrik.
Masih baru di bangun. Saya ke situ dan oleh suami temen saya diajak menghadiri rapat. Rapat panitia masjid, rapat kompleks, rapat ini, rapat itu.
Lah, ini aku juga bisa ngerjain begini karena sudah aktif di Muntilan kan, di organisasi. Begini deh, saya kerjakan saja. Jadi urusan RT, RK, RW itu saya kerjakan semua. Dari mulai ngurus KTP, bikin nama jalan, koordinir pengajian, panitia buat sekolah sampai apa itu saya lakukan. Saya bisa.
Justru di situ banyak anak muda pengangguran seperti di pondok dulu kan, ketemu lagi lah sama pengangguran. Tapi saya aktif dan yang lainnya di situ. Lalu saya jalan-jalan ke Kampung Hutan, lihat, lah Institut Agama Islam Negeri, Syarif Hidayatullah, loh … ooh di sini. Tek! Ini kan sekolahnya Cak Nur kan di sini.”
“Saya ingat betul ketika di pesantren ada Nurcholish Madjid, yang suka disebut kiai saya. Dulu teman di Gontor, Cak Nur itu. Kalau di Jakarta kan
“Saya ingat betul ketika di pesantren ada Nurcholish Madjid, yang suka disebut kiai saya. Dulu teman di Gontor, Cak Nur itu. Kalau di Jakarta kan