• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan uraian-uraian yang terdapat pada bab sebelumnya, maka dapat diberikan saran sebagai berikut :

1. Kelemahan yang ada pada Konvensi Den Haag 1899 dan 1907 ialah bahwa tidak adanya ketentuan yang secara jelas menyatakan sanksi yang akan diterima apabila ketentuan di dalam perangkat hukum tersebut dilanggar. Sedangkan pada CWC, terdapat ketentuan mengenai sanksi yang dapat diterima oleh negara anggota CWC yang melanggar ketentuan CWC. Namun yang menjadi kelemahan ialah CWC tidak mempertimbangkan sumber dana

yang diperlukan untuk memusnahkan senjata tersebut, sehingga di dalam prakteknya terdapat berbagai negara yang belum memusnahkan senjata kimia yang dimilikinya karena kekurangan dana.

2. PBB memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi ketika perdamaian internasional terancam, serta upaya diplomatik telah gagal, salah satunya ialah dengan embargo persenjataan. Embargo persenjataan dapat dilakukan agar Suriah tidak mampu mengembangkan kembali senjata-senjata kimia yang telah dimusnahkan tersebut.

3. Saran yang dapat diberikan kepada Suriah ialah untuk menjalankan framework berkaitan dengan pemusnahan senjata kimia yang dimilikinya. Dalam hal Suriah gagal melaksanakan framework yang dirancang khusus terhadapnya tersebut, maka Suriah akan dipandang sebagai suatu negara yang tidak memiliki itikad baik untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 5 Piagam PBB, maka apabila Suriah gagal melaksanakan framework tersebut, PBB berwenang untuk menangguhkan hak dan kewajiban Suriah sebagai bagian dari Majelis Umum PBB.

BAB II

LARANGAN PENGGUNAAN SENJATA KIMIA DALAM KONFLIK BERSENJATA

A. Pengaturan Cara Perang Sebagai Bagian dari Hukum Humaniter

Hukum humaniter adalah cabang dari hukum internasional publik yang belum banyak dikenal oleh masyarakat banyak. Hukum humaniter merupakan nama baru yang dahulu dikenal sebagai Hukum Perang (Laws of War).24 Hukum humaniter internasional adalah bagian dari hukum internasional yang merupakan kumpulan peraturan hukum yang mengatur mengenai hubungan antar negara. Hukum humaniter internasional berlaku terhadap konflik bersenjata.25

Hukum Humaniter oleh Haryomataram dibagi menjadi 2 (dua) aturan pokok, yaitu:26

1. Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk berperang (Hukum Den Haag / The Hague Laws);

2. Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil dari akibat perang (Hukum Jenewa / The Geneva Laws).

24 Haryomataram, Pengantar Hukum Humaniter, Op. Cit., hal. 1.

25 “International humanitarian law is part of international law, which is the body of rules

governing relations between States… International humanitarian law applies to armed conflicts”

seperti yang termuat di dalam “What Is International Humanitarian Law?” pada 5 Januari 2014, pukul 10.00 WIB.

Hukum Humaniter oleh Mochtar Kusumaatmadja mencakup cakupan yang lebih luas daripada cakupan yang dikemukakan oleh Haryomataram. Adapun aturan pokok yang dikemukakan oleh Haryomataram hanyalah merupakan bagian daripada kelompok “Jus in bello” yang dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja. Pembagian hukum humaniter menurut Mochtar Kusumaatmadja diantaranya, sebagai berikut:27

1. Jus ad bellum, yaitu hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata;

2. Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi lagi menjadi 2 (dua) yaitu:

a. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war). Bagian ini biasanya disebut The Hague Laws.

b. Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang. Ini lazimnya disebut The Geneva Laws.

Berdasarkan pembagian yang dilakukan oleh kedua sarjana di atas, walaupun pembagian yang dikemukakan tersebut berbeda, namun pada dasarnya mereka sependapat bahwa hukum humaniter terdiri dari The Hague Laws dan The Geneva Laws sebagai sumber hukum utamanya28

Konvensi Den Haag 1907 (dikenal juga dengan Hukum Den Haag) merupakan konvensi yang dihasilkan dalam Konferensi Perdamaian Pertama di Den

, walaupun masih ada sumber-sumber hukum humaniter internasional lainnya.

27 Ibid.. hal. 3

28 Terlihat pula dalam kalimat “Present-day international humanitarian law has grown from

two main sources: the Law of Geneva, i.e. a body of rules which protect victims of war, and the Law of the Hague, i.e. those provisions which affect the conduct of hostilities.” yang termuat dalam “Law of Geneva and the law of the Hague”, yang dapat diakses di

11.10 WIB.

Haag pada tahun 1899, yang disempurnakan dalam Konferensi Kedua yang dilaksanakan pada tahun 1907. Adapun hukum Den Haag ini terutama mengatur tentang alat dan cara berperang (means and methode of warfare).29

Berbeda halnya dengan Hukum Den Haag yang terdiri dari 13 (tiga belas) konvensi dan 1 (satu) deklarasi, pada Hukum Jenewa, hanya terdapat 4 (empat) konvensi pokok beserta 3 (tiga) protocol tambahan. Adapun keempat Konvensi Jenewa 1949 diantaranya adalah :

Konferensi Den Haag tahun 1907 menghasilkan 13 (tiga belas) konvensi dan 1 (satu) deklarasi yang akan dibahas pada sub-bab berikutnya.

30

1. Geneva Convention for the Amelioration of the Condition of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field yang telah direvisi menjadi Geneva Convention (I) on Wounded and Sick in Armed Forces in the Field, 1949; 2. Geneva Convention for the Amelioration of the Condition of the Wounded,

Sick and Shipwrecked Members of Armed Forces at Sea yang telah direvisi menjadi Geneva Convention (II) on Wounded, Sick and Shipwrecked of Armed Forces at Sea, 1949;

3. Geneva Convention relative to the Treatment of Prisoners of War yang telah direvisi menjadi Geneva Convention (III) on Prisoners of War, 1949;

29 Haryomataram, Pengantar Hukum Humaniter, Op. Cit., hal. 46. 30

Istilah lama diambil dari buku karangan Arlina Permanasari, dkk, Pengantar Hukum

Humaniter, Op. Cit., hal. 32, sedangkan istilah baru yang digunakan sekarang (setelah direvisi)

diambil dari “Treaties and State Parties to Such Treaties”, tanggal 5 Januari 2014 pukul 11.30 WIB.

4. Geneva Convention relative to the Protection of Civilian Persons in Time of War yang tela direvisi menjadi Geneva Convention (IV) on Civilians, 1949. Adapun keempat konvensi Jenewa 1949 tersebut di atas berkaitan dengan : (1) pasukan bersenjata yang terluka atau sakit di dalam situs peperangan; (2) pasukan bersenjata yang terluka, sakit, atau terdampar di laut; (3) tawanan perang; (4) penduduk sipil.

Ketiga Protokol Tambahan daripada Konvensi Jenewa 1949, diantaranya adalah sebagai berikut:31

1. Protocol I (1977) relating to the Protection of Victims of International Armed Conflicts.

2. Protocol II (1977) relating to the Protection of Victims of Non-International Armed Conflicts.

3. Protocol III (2005) relating to the Adoption of an Additional Distinctive Emblem.

Sedangkan ketiga protokol tambahan ini lebih menekankan lagi terhadap perlindungan yang sepantasnya diberikan. Adapun ketiga protokol tambahan ini berkaitan dengan : (1) perlindungan terhadap korban atas konflik bersenjata internasional; (2) perlindungan terhadap korban atas konflik bersenjata non- internasional; (3) penambahan lambang-lambang pembeda pada saat konflik bersenjata.

31 “Geneva Conventions, dimuat dalam

Berdasarkan keempat konvensi dan ketiga protokol tambahan Konvensi Jenewa 1949, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat jelas dalam hal yang diatur dalam kedua sumber utama hukum humaniter ini, yakni Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa. Apabila Hukum Den Haag mengatur mengenai tentang alat dan cara berperang, maka Hukum Jenewa mengatur mengenai perlindungan terhadap korban perang.32

B. Tata Cara Perang Menurut Konvensi Den Haag Sebagai Bagian dari Hukum Humaniter

Hukum humaniter, khususnya sumber hukum humaniter, apabila dikaitkan dengan penelitian ini maka akan lebih difokuskan pada Hukum Den Haag, karena penelitian ini menitikberatkan pada jenis senjata yang digunakan oleh Suriah di dalam konflik bersenjata yang mana termasuk dalam kajian Hukum Den Haag.

Seperti yang telah dinyatakan pada sub-bab sebelumnya, Konvensi Den Haag adalah salah satu sumber utama daripada Hukum Humaniter. Konvensi Den Haag ini dihasilkan dari Konferensi Perdamaian Pertama di Den Haag pada tahun 1899, yang disempurnakan dalam Konferensi Kedua yang dilaksanakan pada tahun 1907 33

32 Dapat terlihat pada “The Law of Geneva, i.e. a body of rules which protect victims of war”

yang termuat pada “What Is International Humanitarian Law?”

.

pada 5 Januari 2014, pukul 11.55 WIB.

Konferensi Den Haag tahun 1907 menghasilkan 13 (tiga belas) konvensi dan 1 (satu) deklarasi, diantaranya sebagai berikut:34

1. Convention I for the Pacific Settlement of Disputes;

2. Convention II Respecting the Limitations of the Employment of Force for the Recovery of Contract Debts;

3. Convention III Relative to the Opening of Hostilities;

4. Convention IV Respecting the Laws and Customs of War on Land;

5. Convention V Respecting the Rights and Duties of Neutral Powers and Persons in case of War on Land;

6. Convention VI Relating to the Status of Enemy Merchant Ships at the Outbreak of Hostilities;

7. Convention VII Relating to the Convention of Merchant Ships into War Ships; 8. Convention VIII Relating to the Laying of Automatic Submarine Contact

Mines;

9. Convention IX Concerning Bombardment by Naval Forces in Time of War; 10. Convention X for the Adoption to Maritime Warfare of the Principles of the

Geneva Convention;

11. Convention XI Relative to Certain Restrictions with Regard to the Exercise of the Right of Capture in Naval War;

12. Convention XII Relative to the Creation of an International Prize Court; 13. Convention XIII Concertning the Rights and Duties of Neutral Powers in

Naval War.

14. Declaration XIV Prohibiting the Discharge of Projectiles and Explosives from Balloons.

Convention I for the Pacific Settlement of Disputes mengatur mengenai tata cara penyelesaian damai suatu persengketaan internasional. Adapun konvensi ini merupakan hasil daripada Konferensi Perdamaian Pertama di Den Haag tahun 1899. Konvensi ini diterima dan diperluas oleh Konvensi Den Haag 1907. Konvensi ini menghendaki terbentuknya Permanent Court of Arbitration (Pengadilan Tetap

Arbitrase)35. Konvensi yang mendasari pembentukan Permanent Court of Arbitration hingga saat ini telah diratifikasi oleh 115 negara, baik yang meratifikasi salah satu ataupun kedua konvensi.36

“…Drago Doctrine, which was incorporated into the Hague Convention II of 1907 Respecting the Limitations of the Employment of Force for the Recovery of Contract Debts (Drago-Porter Convention).Under the Drago-Porter Convention, states agreed not to use armed force for the recovery of state debts unless there was a refusal to submit the claim to arbitration.”

Konvensi yang dimaksud ialah konvensi Den Haag tahun 1899 dan 1907.

Convention II Respecting the Limitations of the Employment of Force for the Recovery of Contract Debts menekankan bahwa dalam hal pelunasan hutang, kekerasan bersenjata tidak dapat dilaksanakan oleh suatu negara terhadap negara lainnya, kecuali dalam hal terdapat negara yang menolak untuk menyerahkan klaim ke lembaga arbitrase, seperti yang terlihat pada:

37

Convention III Relative to the Opening of Hostilities mengatur tentang tata cara dimulainya suatu perang. Perang yang dimaksud ialah perang dalam arti hukum, yakni apabila perang itu dimulai sesuai dengan cara yang ditentukan dalam konvensi

35 Permanent Court of Arbitration terbentuk pada tahun 1899 dan berkedudukan di Den Haag,

Belanda. Permanent Court of Arbitration terbentuk sebagai salah satu kebijakan dari Konferensi Perdamaian Pertama Den Haag tahun 1899, yang menjadikannya institusi tertua berkenaan dengan penyelesaiaan sengketa internasional. Dapat dilihat pada “Permanent Court of Arbitration”, 20.16 WIB.

36

“Member States”, Januari 2014, pukul 20.21 WIB.

37 Andrew Newcombe, Lluís Paradell, Law and Practice of Investment Treaties: Standards of

ini.38

“The contracting Powers recognize that hostilities between themselves must not commence without previous and explicit warning, in the form either of a declaration of war, giving reasons, or of an ultimatum with a conditional declaration of war.”

Adapun tata cara yang ditentukan dalam konvensi yang dimaksud tersebut terdapat pada Pasal 1 konvensi yang bersangkutan tersebut, yang berbunyi :

39

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 tersebut, terlihat bahwa telah diakui bahwa perang tidak akan dimulai tanpa adanya peringatan yang tegas sebelumnya, yang mana harus dilakukan dalam bentuk deklarasi perang40, memberikan alasan-alasan, atau suatu ultimatum41

Convention IV Respecting the Laws and Customs of War on Land memuat tentang hukum dan kebiasaan berperang di daratan. Konvensi ini merupakan salah satu hasil dari Konferensi Perdamaian Pertama di Den Haag 1899, namun mengalami sedikit perubahan sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari Konvensi Den Haag dengan pernyataan perang dalam hal ultimatum tersebut tidak dipenuhi.

38

Arlina Permanasari, dkk., Pengantar Hukum Humaniter, Op. Cit., hal. 26.

39 Pasal 1 Konvensi III Den Haag 1907

40 Haryomataram menyebutkan bahwa deklarasi perang, sekalipun mengenai hal ini tidak ada

ketentuannya, namun seyogyanya disampaikan secara tertulis karena pentingnya arti deklarasi perang tersebut. Dengan adanya deklarasi ini, maka kedua belah pihak berada dalam keadaan perang. Adanya keadaan perang ini harus segera diberitahukan kepada negara-negara netral. Haryomataram, Bunga

Rampai Hukum Humaniter (Hukum Perang), Penerbit Bumi Nusantara Jaya Jakarta, Jakarta, 1988, hal.

36.

41

Penjelasan mengenai ultimatum diambil dari penjelasan Haryomataram bahwa suatu ultimatum memuat beberapa persyaratan yang harus dijawab oleh penerima ultimatum dalam waktu tertentu. Dalam hal tidak ada jawaban, atau jawaban itu kurang tegas, atau apabila jawaban itu kurang memuaskan, maka semua itu dianggap sebagai suatu penolakan. Ibid., hal 37.

1907. Konvensi IV Den Haag 1907 ini hanya memuat 9 Pasal, namun dilengkapi pula dengan lampiran yang disebut dengan Hague Regulations42

1. Klausula Si Omnes

.

Beberapa pengaturan penting mengenai hukum dan kebiasaan perang di darat yang terdapat pada Konvensi IV Den Haag 1907 dan Hague Regulations, diantaranya :

Klausula ini tercermin dari Pasal 2 Konvensi IV Den Haag 1907, yang berbunyi, “The Provision contained in the regulation referred to in art.1, as well as in the Present Convention, are only binding between Contracting Powers, and only if all the Belligerents are parties to the Conventions”. Adapun dari ketentuan Pasal 2 tersebut, dapat diketahui bahwa Klausula Si Omnes ialah suatu klausula yang menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang ada pada Konvensi IV Den Haag 1907 ataupun Hague Regulations hanya berlaku jika pihak-pihak yang terlibat dalam perang adalah pihak dari Konvensi ini. Dalam hal terdapat salah satu pihak yang bukan merupakan peserta konvensi, maka konvensi ini tidak berlaku.43 Namun demikian, ketentuan yang ada pada Konvensi IV Den Haag 1907 dan Hague Regulations telah dianggap sebagai bagian daripada hukum kebiasaan internasional44

42 Arlina Permanasari, dkk., Pengantar Hukum Humaniter, Loc. Cit. 43 Ibid., hal 27.

44

Berdasarkan Pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional, salah satu sumber Hukum Internasional adalah kebiasaan internasional (International Customs). Statuta Mahkamah Internasional dapat dilihat pada http://www.icj-cij.org/documents/index.php?p1=4&p2=2&p3=0#CHAPTER_II , diakses pada 25 Januari 2014, pukul 19.38 WIB.

sehingga dengan demikian, pada dasarnya Konvensi IV Den Haag 1907 dan Hague Regulations juga mengikat negara-negara bukan peserta konvensi.45 2. Pasal 1 Hague Regulations

Pasal 1 Hague Regulations ini menentukan siapa saja yang termasuk belligerents46, yaitu tentara. Selain menentukan siapa saja yang termasuk sebagai belligerents, Pasal ini juga menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kelompok milisi (militia) dan korps sukarela sehingga dapat dikategorikan sebagai kombatan.47 Adapun syarat-syarat agar kelompok milisi dan korps sukarela agar disebut sebagai kombatan, diantaranya:48

a. Dipimpin oleh seorang yang bertanggung jawab atas bawahannya; b. Memakai tanda/emblem yang dapat dilihat dari jauh;

c. Membawa senjata secara terbuka

d. Melaksanakan operasinya sesuai dengan hukum dan kebiasaan perang.

45 Dapat dilihat pada bagian “The provisions of the two Conventions on land warfare,…are

considered as embodying rules of customary international law. As such they are also binding on States which are not formally parties to them.” yang terdapat pada “Convention (IV) respecting the Laws and Customs of War on Land and its annex: Regulations concerning the Laws and Customs of War on Land. The Hague, 18 October 1907.”

2014, pukul 19.40 WIB.

46 Belligerent menurut Kamus Oxford memiliki makna “a nation or person engaged in war

or conflict, as recognized by international law” yang diterjemahkan suatu negara atau orang yang

terlibat dalam perang atau konflik, yang diakui oleh hukum internasional. Dapat dilihat pada 20.10 WIB.

47 Arlina Permanasari, dkk., Pengantar Hukum Humaniter, Loc. Cit. 48 Ibid.

3. Pasal 2 Hague Regulations

Pasal 2 Hague Regulations mengatur mengenai Levee en Masse49 yang dikategorikan sebagai belligerent. Adapun syarat-syarat agar Levee en Masse dikategorikan sebagai belligerent, diantaranya :50

a. Penduduk dari wilayah yang belum diduduki; b. Secara spontan mengangkat senjaga;

c. Tidak ada waktu untuk mengatur diri d. Membawa senjaga secara terbuka; e. Mengindahkan hukum perang.

Hal penting yang harus diingat adalah bahwa Levee en Masse berbeda dengan masyarakat sipil (civilians). Hal yang membedakannya adalah bahwa Levee en Masse terlibat secara dalam perang atau konflik bersenjata, sedangkan civilians tidak. Hal ini akan mempengaruhi perlakuan yang akan diberikan kepada mereka dalam hal mereka jatuh ke tangan musuh.

4. Pasal 3 Hague Regulations

Pasal 3 Hague Regulations menetapkan menyatakan bahwa pasukan bersenjata dari belligerent dapat terdiri dari kombatan dan non-kombatan. Dalam hal mereka tertangkap oleh musuh, maka mereka mempunyai hak

49 Levee en Masse oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) dalam websitenya

dijelaskan sebagai “inhabitants of a country which has not yet been occupied, on the approach of the

enemy, spontaneously take up arms to resist the invading troops without having time to form themselves into an armed force. Such persons are considered combatants if they carry arms openly and respect the laws and customs of war”. “Definition of Civilians”,

untuk diperlakukan sebagai tawanan perang. Pasal 3 Hague Regulations berbunyi “The armed forces of the belligerent parties may consist of combatants and non-combatants. In the case of capture by the enemy, both have a right to be treated as prisoners of war.” Perlu dicatat bahwa non- kombatan yang dimaksudkan dalam Pasal 3 bukanlah penduduk sipil, tetapi bagian dari angkatan bersenjata yang tidak turut bertempur.51

5. Pasal-Pasal Hague Regulations yang mengatur cara dan alat berperang

Pasal yang berkenaan dengan cara berperang terdapat pada Pasal 22 Hague Regulations yang berbunyi “The right of belligerents to adopt means of injuring the enemy is not unlimited”52, yang memiliki makna bahwa hak pihak yang terlibat perang untuk melukai musuh tidaklah tidak terbatas. Prinsip ini ditegaskan kembali dalam Resolusi XXVIII pada Konferensi Internasional Palang Merah ke XX di Wina (1965); dan juga dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 2444 (XXIII).53

51 Ibid.

52 “Convention (IV) respecting the Laws and Customs of War on Land and its annex :

Regulations concerning the Laws and Customs of War on Land. The Hague, 18 October 1907”,

pukul 18.53 WIB.

53 Arlina Permanasari, dkk., Pengantar Hukum Humaniter, Op. Cit., hal. 63 yang mengutip

Pasal 23 Hague Regulations mengatur mengenai alat berperang. Adapun Pasal 23 Hague Regulations berbunyi :54

(a) To employ poison or poisoned weapons;

In addition to the prohibitions provided by special Conventions, it is especially forbidden

(b) To kill or wound treacherously individuals belonging to the hostile nation or army;

(c) To kill or wound an enemy who, having laid down his arms, or having no longer means of defence, has surrendered at discretion;

(d) To declare that no quarter will be given;

(e) To employ arms, projectiles, or material calculated to cause unnecessary suffering;

(f) To make improper use of a flag of truce, of the national flag or of the military insignia and uniform of the enemy, as well as the distinctive badges of the Geneva Convention

(g) To destroy or seize the enemy’s property, unless such destruction or seizure be imperatively demanded by the necessities of war;

(h) To declare abolished, suspended, or inadmissible in a court of law the rights and actions of the nationals of the hostile party. A belligerent is likewise forbidden to compel the nationals of the hostile party to take part in the operations of war directed against their own country, even if they were in the belligerent’s service before the commencement of the war.

Pasal 23 Hague Regulations tersebut khususnya melarang: (a) menggunakan racun atau senjata beracun; (b) membunuh atau melukai individu setia yang merupakan bagian dari negara musuh atau pasukan musuh; (c) membunuh atau melukai musuh yang telah menyerah; (d) mendeklarasikan untuk tidak akan mengampuni; (e) menggunakan senjata, proyektil, ataupun bahan yang dikalkulasikan menimbulkan penderitaan yang tidak perlu; (f) penggunaan yang tidak perlu atas

54

“Convention (IV) respecting the Laws and Customs of War on Land and its annex :

Regulations concerning the Laws and Customs of War on Land. The Hague, 18 October 1907”,

pukul 19.03 WIB.

bendera perdamaian yang digunakan dalam genjatan senjata, baik bendera kebangsaan atau lencana dan seragam militer musuh, termasuk pula tanda-tanba pembeda yang telah diatur dalam Konvensi Jenewa; (g) Memusnahkan atau merampas harta musuh, terkecuali apabila pemusnahan atau perampasan demikian

Dokumen terkait