• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana Daerah Perbatasan di Wilayah Kalimantan

Dalam dokumen DAFTAR ISI... SAMBUTAN... KATA PENGANTAR... (Halaman 61-74)

BAB IV IDENTIFIKASI SEBARAN DAN KONDISI DAERAH PERBATASAN

4.2 Daerah Perbatasan di Wilayah Kalimantan

4.2.2 Sarana Daerah Perbatasan di Wilayah Kalimantan

Sarana merupakan aspek penting dalam perkembangan sebuah wilayah. Penyediaan sarana baik sosial maupun umum bertujuan untuk mengatur kebutuhan ruang dalam sebuah wilayah sehingga ruang tersebut lebih produktif, berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakatnya. Sarana Pendidikan merupakan

bagian dari fasilitas sosial yang harus dipenuhi. Pendidikan memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas sehingga selain untuk tingkat kesejahteraan penduduk juga sebagai kemudahan dalam proses pembangunan di daerah tersebut. Selain itu, sarana kesehatan juga merupakan salah satu fasilitas yang harus dipenuhi dalam sebuah wilayah, karena kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan manusia. Dengan memenuhi sarana kesehatan berarti juga memenuhi kebutuhan aspek kehidupan lainnya seperti aspek kependudukan yang pada akhirnya masyarakat akan lebih terjamin, nyaman dan lebih berkualitas.

Selain sarana pendidikan dan kesehatan, sarana ekonomi juga merupakan fasilitas penting sebagai penunjang kegiatan ekonomi seperti perdagangan dan perbelanjaan masyarakat di sebuah wilayah. Aktifitas ekonomi masyarakat secara langsung akan memberikan perkembangan bagi wilayah sehingga perlu diperhatikan dalam penyediaan sarana ekonomi ini. Terkait perkembangan daerah perbatasan akan dibahas mengenai perkembangan jumlah sarana terkait pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Jumlah sarana yang tersebar di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan akan ditampilkan dengan menggabungkan data daerah perbatasan dengan data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014. Berikut merupakan tabel jumlah sarana pendidikan, kesehatan dan ekonomi daerah perbatasan di Wilayah Kalimantan:

Tabel 17 Jumlah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

PROVINSI KABUPATEN JML TK PERKEMBANGAN JML SD PERKEMBANGAN 2011 2014 2011 2014 KALIMANTAN BARAT SAMBAS 4 4 0% 37 39 5% BENGKAYANG 1 1 0% 25 27 8% SANGGAU 4 8 100% 46 138 200% SINTANG 4 5 25% 57 67 18% KAPUAS HULU 14 24 71% 93 113 22%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 2 6 200% 11 12 9% KALIMANTAN

UTARA MALINAU 5 18 260% 25 95 280%

NUNUKAN 21 29 38% 61 86 41%

JUMLAH 55 95 73% 355 577 63%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES), 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 17, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah TK yang tersedia bertambah sebanyak 40 unit (73%) dengan rincian 55 unit pada tahun 2011 menjadi 95 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah TK bertambah sebesar 260%, sedangkan di Kabupaten Sambas dan Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat mengalami perkembangan yang tetap (stagnan) yaitu 0%.

Untuk perkembangan sarana pendidikan Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kalimantan juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SD yang tersedia bertambah sebanyak 222 unit (63%) dengan rincian 355 unit pada tahun 2011 menjadi 577 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3

tahun jumlah SD bertambah sebesar 280%, sedangkan untuk perkembangan sarana SD terendah terjadi di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah SD bertambah hanya sebesar 5%.

Tabel 18 Jumlah Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES), 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 18, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMP yang tersedia bertambah sebanyak 38 unit (43%) dengan rincian 88 unit pada tahun 2011 menjadi 126 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah SMP bertambah sebesar 214%, sedangkan terjadi penurunan sarana SMP terjadi di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah SMP berkurang sebesar 7%.

PROVINSI KABUPATEN

JML SMP

PERKEMBANGAN JML SMA PERKEMBANGAN

2011 2014 2011 2014 KALIMANTAN BARAT SAMBAS 8 10 25% 2 2 0% BENGKAYANG 4 6 50% 1 2 100% SANGGAU 14 13 -7% 3 2 -33% SINTANG 12 16 33% 3 3 0% KAPUAS HULU 20 28 40% 9 9 0%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 2 3 50% 2 2 0% KALIMANTAN

UTARA MALINAU 7 22 214% 3 8 167%

NUNUKAN 21 28 33% 7 12 71%

Untuk perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Kalimantan juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMA yang tersedia bertambah sebanyak 10 unit (33%) dengan rincian 30 unit pada tahun 2011 menjadi 40 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah SMA bertambah sebesar 167%, sedangkan terjadi penurunan sarana SMA terjadi di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah SMA berkurang sebesar 33%.

Tabel 19 Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

PROVINSI KABUPATEN JML SMK PERKEMBANGAN JML PT PERKEMBANGAN

2011 2014 2011 2014 KALIMANTAN BARAT SAMBAS 2 2 0% 0 0 0% BENGKAYANG 0 1 100% 0 0 0% SANGGAU 3 3 0% 0 1 100% SINTANG 1 1 0% 0 1 100% KAPUAS HULU 3 4 33% 0 1 100%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 0 0 0% 0 0 0% KALIMANTAN

UTARA MALINAU 0 3 300% 0 0 0%

NUNUKAN 2 4 100% 0 1 100%

JUMLAH 11 18 64% 0 4 400%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES), 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 19, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMK yang tersedia bertambah sebanyak 7 unit (64%) dengan rincian 11 unit pada tahun 2011 menjadi 18 unit pada tahun

2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah SMK bertambah sebesar 300%, sedangkan di Kabupaten Sambas, Sanggau, Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur mengalami perkembangan yang tetap (stagnan) yaitu 0%.

Untuk perkembangan sarana pendidikan Perguruan Tinggi (PT) di wilayah Kalimantan juga mengalami penambahan, dimana dalam 3 tahun jumlah PT yang tersedia bertambah sebanyak 4 unit (400%) dengan rincian 0 unit pada tahun 2011 menjadi 4 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah PT bertambah di masing-masing kabupaten sebesar 100%, sedangkan Kabupaten Sambas, Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur mengalami perkembangan yang tetap (stagnan) yaitu 0%.

Selain sarana pendidikan, sarana kesehatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan di daerah perbatasan. Berikut ini disajikan beberapa tabel yang menggambarkan data beberapa jenis sarana kesehatan daerah perbatasan di wilayah Kalimantan:

Tabel 20 Jumlah Rumah Sakit dan Rumah Sakit Bersalin di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

PROVINSI KABUPATEN RUMAH SAKIT PERKEMBANGAN

RUMAH SAKIT BERSALIN PERKEMBANGAN 2011 2014 2011 2014 KALIMANTAN BARAT SAMBAS 0 0 0% 0 0 0% BENGKAYANG 0 0 0% 0 0 0% SANGGAU 0 1 100% 0 0 0%

PROVINSI KABUPATEN RUMAH SAKIT PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT BERSALIN PERKEMBANGAN 2011 2014 2011 2014 SINTANG 0 0 0% 0 0 0% KAPUAS HULU 1 2 100% 1 0 -100%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 0 0 0% 0 0 0% KALIMANTAN

UTARA MALINAU 0 0 0% 0 0 0%

NUNUKAN 0 0 0% 1 1 0%

JUMLAH 1 3 200% 2 1 -50%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 20, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan Rumah Sakit (RS) di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah RS yang tersedia bertambah sebanyak 2 unit (200%) dengan rincian 1 unit pada tahun 2011 menjadi 3 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat; dimana selama 3 tahun jumlah RS bertambah masing-masing sebesar 100%, sedangkan kabupaten lainnya antara lain Kabupaten Sambas, Sintang dan Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat; Kabupaten Malinau dan Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara tidak terjadi perkembangan sarana kesehatan rumah sakit (0%).

Untuk perkembangan sarana kesehatan Rumah Sakit Bersalin di wilayah Kalimantan j mengalami penurunan, dimana dalam 3 tahun jumlah RS. Bersalin yang tersedia berkurang sebanyak 1 unit (50%) dengan rincian 2 unit pada tahun 2011 menjadi 1 unit pada tahun 2014. Sebagian besar Kabupaten perbatasan di Wilayah Kalimantan belum memiliki sarana kesehatan rumah sakit bersalin.

Tabel 21 Jumlah Puskesmas dan Poliklinik di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

PROVINSI KABUPATEN PUSKESMAS PERKEMBANGAN POLIKLINIK PERKEMBANGAN 2011 2014 2011 2014 KALIMANTAN BARAT SAMBAS 11 11 0% 0 0 0% BENGKAYANG 5 11 120% 0 0 0% SANGGAU 7 5 -29% 0 1 100% SINTANG 15 19 27% 0 1 100% KAPUAS HULU 27 35 30% 1 1 0%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 7 12 71% 0 0 0% KALIMANTAN

UTARA MALINAU 18 37 106% 0 0 0%

NUNUKAN 26 52 100% 0 1 100%

JUMLAH 116 182 57% 1 4 300%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 21, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan puskemas di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah puskemas yang tersedia bertambah sebanyak 66 unit (57%) dengan rincian 116 unit pada tahun 2011 menjadi 182 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat dimana selama 3 tahun jumlah puskesmas bertambah sebesar 120%, sedangkan terjadi penurunan sarana puskesmas terjadi di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah puskesmas berkurang sebesar 29%.

Untuk perkembangan sarana kesehatan poliklinik di wilayah Kalimantan juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah poliklinik yang tersedia bertambah sebanyak 3 unit (300%) dengan rincian 1 unit pada tahun 2011 menjadi 4 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Sanggau dan Sintang, Provinsi Kalimantan Barat; Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah

poliklinik bertambah sebesar 100%, sedangkan kabupaten lainnya antara lain Kabupaten Sambas, Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat; Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara tidak terjadi perkembangan sarana kesehatan poliklinik (0%).

Tabel 22 Jumlah Tempat Praktek Dokter dan Posyandu di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

PROVINSI KABUPATEN TEMPAT PRAKTEK PERKEMBANGAN POSYANDU PERKEMBANGAN 2011 2014 2011 2014

KALIMANTAN BARAT SAMBAS 4 2 -50% 13 13 0%

BENGKAYANG 0 0 0% 10 14 40%

SANGGAU 5 7 40% 15 15 0%

SINTANG 5 10 100% 38 51 34%

KAPUAS HULU 8 25 213% 55 64 16%

KALIMANTAN TIMUR MAHAKAM ULU 0 0 0% 22 23 5% KALIMANTAN UTARA MALINAU 0 16 1600% 26 63 142%

NUNUKAN 13 19 46% 53 113 113%

JUMLAH 35 79 126% 232 356 53%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 22, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan tempat praktek dokter di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah tempat praktek dokter yang tersedia bertambah sebanyak 44 unit (126%) dengan rincian 35 unit pada tahun 2011 menjadi 79 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah tempat praktek dokter bertambah sebesar 1600%, sedangkan terjadi penurunan sarana tempat praktek dokter terjadi di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah tempat praktek dokter berkurang sebesar 50%.

Untuk perkembangan sarana kesehatan posyandu di wilayah Kalimantan juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah posyandu yang tersedia bertambah sebanyak 124 unit (53%) dengan rincian 232 unit pada tahun 2011 menjadi 356 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah posyandu bertambah sebesar 142%, sedangkan terjadi stagnasi (perkembangan tetap) sarana posyandu di Kabupaten Sambas dan Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah posyandu tidak mengalami penambahan maupun pengurangan (0%).

Selain sarana pendidikan dan kesehatan, sarana ekonomi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan di daerah perbatasan. Berikut ini disajikan beberapa tabel yang menggambarkan data beberapa jenis sarana ekonomi daerah perbatasan di wilayah Kalimantan:

Tabel 23 Jumlah Pasar dan Minimarket di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

KABUPATEN PASAR PERKEMBANGAN MINIMARKET PERKEMBANGAN

2011 2014 2011 2014 BENGKAYANG 0 0 0% 4 0 -100% KAPUAS HULU 0 21 2100% 10 13 30% MAHAKAM HULU 0 1 100% 0 3 300% NUNUKAN 7 34 386% 4 30 650% SAMBAS 0 3 300% 0 2 200% SANGGAU 1 4 300% 2 2 0% SINTANG 6 2 -67% 19 5 -74% MALINAU 1 4 300% 0 0 0% JUMLAH 15 69 360% 39 55 41%

Berdasarkan data pada tabel 23, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi pasar di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah pasar yang tersedia bertambah sebanyak 54 unit (360%) dengan rincian 15 unit pada tahun 2011 menjadi 69 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat dimana selama 3 tahun jumlah pasar bertambah sebesar 2100%, sedangkan di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat mengalami perkembangan tetap (stagnan) dimana selama 3 tahun jumlah pasar tetap sebesar 0%.

Untuk perkembangan sarana ekonomi minimarket di wilayah Kalimantan terjadi penambahan yang cukup signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah minimarket yang tersedia bertambah sebanyak 16 unit (41%) dengan rincian 39 unit pada tahun 2011 menjadi 55 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah minimarket bertambah sebesar 650%, sedangkan terjadi penurunan sarana minimarket terjadi di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, dimana selama 3 tahun jumlah minimarket berkurang sebesar 100%.

Tabel 24 Jumlah Toko/Warung dan Koperasi di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

KABUPATEN TOKO/WARUNG PERKEMBANGAN KOPERASI PERKEMBANGAN

2011 2014 2011 2014 BENGKAYANG 70 176 151% 6 2 -67% KAPUAS HULU 441 680 54% 17 6 -65% MAHAKAM HULU 78 88 13% 2 8 300% NUNUKAN 445 1888 324% 11 22 100% SAMBAS 367 418 14% 9 14 56% SANGGAU 446 483 8% 14 3 -79% SINTANG 979 860 -12% 19 26 37%

KABUPATEN TOKO/WARUNG PERKEMBANGAN KOPERASI PERKEMBANGAN

2011 2014 2011 2014

MALINAU 156 121 -22% 9 3 -67%

JUMLAH 2982 4714 58% 87 84 -3%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 24, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi toko/warung di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah toko/warung yang tersedia bertambah sebanyak 1732 unit (58%) dengan rincian 2982 unit pada tahun 2011 menjadi 4714 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah toko/warung bertambah sebesar 324%, sedangkan terjadi penurunan sarana toko/warung terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah toko/warung berkurang sebesar 22%.

Untuk perkembangan sarana ekonomi koperasi di wilayah Kalimantan terjadi pengurangan, dimana dalam 3 tahun jumlah koperasi yang tersedia berkurang sebanyak 3 unit (3%) dengan rincian 87 unit pada tahun 2011 menjadi 84 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur dimana selama 3 tahun jumlah koperasi bertambah sebesar 300%, sedangkan penurunan tertinggi sarana koperasi terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah koperasi berkurang sebesar 67%.

Tabel 25 Jumlah Bank di Daerah Perbatasan Wilayah Kalimantan

KABUPATEN BANK PERKEMBANGAN 2011 2014 BENGKAYANG 0 0 0% KAPUAS HULU 2 11 450% MAHAKAM HULU 0 0 0% NUNUKAN 2 19 850% SAMBAS 0 4 400% SANGGAU 2 7 250% SINTANG 1 2 100% MALINAU 2 0 -100% JUMLAH 9 43 378%

Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014

Berdasarkan data pada tabel 25, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi bank di wilayah Kalimantan mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah bank yang tersedia bertambah sebanyak 34 unit (378%) dengan rincian 9 unit pada tahun 2011 menjadi 43 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara dimana selama 3 tahun jumlah bank bertambah sebesar 850%, sedangkan terjadi penurunan sarana bank terjadi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, dimana selama 3 tahun jumlah bank berkurang sebesar 100%.

secara keseluruhan masing-masing Kabupaten di daerah perbatasan telah memiliki sarana ekonomi yang cukup untuk melayani kebutuhan hidup masyarakatnya, sehingga dengan banyaknya jumlah sarana yang ada dapat menggerakkan roda perekonomian bagi masyarakat di daerah perbatasan Wilayah Kalimantan tersebut. Secara alami, perkembangan sarana dan dinamika ekonomi akan merangsang pertumbuhan wilayah di daerah perbatasan. Hal ini

membutuhkan peranan pemerintah daerah maupun pusat yang dikategorikan sebagai kebijakan publik untuk membangun daerah serta sumber daya manusianya. Kebutuhan akan pusat-pusat kegiatan ekonomi di daerah perbatasan yang perlu didorong dan dikembangkan sehingga muncul dinamika ekonomi yang pesat dan pada akhirnya daerah perbatasan akan menjadi wilayah yang optimal dalam aspek pembangunan dan sumber daya.

Dalam dokumen DAFTAR ISI... SAMBUTAN... KATA PENGANTAR... (Halaman 61-74)

Dokumen terkait