BAB IV IDENTIFIKASI SEBARAN DAN KONDISI DAERAH PERBATASAN
4.5 Daerah Perbatasan di Wilayah Maluku
4.5.2 Sarana Daerah Perbatasan di Wilayah Maluku
Sarana merupakan aspek penting dalam perkembangan sebuah wilayah. Penyediaan sarana baik sosial maupun umum bertujuan untuk mengatur kebutuhan ruang dalam sebuah wilayah sehingga ruang tersebut lebih produktif, berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakatnya. Sarana Pendidikan merupakan bagian dari fasilitas sosial yang harus dipenuhi. Pendidikan memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas sehingga selain untuk tingkat kesejahteraan penduduk juga sebagai kemudahan dalam proses pembangunan di daerah tersebut. Selain itu, sarana kesehatan juga merupakan salah satu fasilitas yang
harus dipenuhi dalam sebuah wilayah, karena kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan manusia. Dengan memenuhi sarana kesehatan berarti juga memenuhi kebutuhan aspek kehidupan lainnya seperti aspek kependudukan yang pada akhirnya masyarakat akan lebih terjamin, nyaman dan lebih berkualitas.
Selain sarana pendidikan dan kesehatan, sarana ekonomi juga merupakan fasilitas penting sebagai penunjang kegiatan ekonomi seperti perdagangan dan perbelanjaan masyarakat di sebuah wilayah. Aktifitas ekonomi masyarakat secara langsung akan memberikan perkembangan bagi wilayah sehingga perlu diperhatikan dalam penyediaan sarana ekonomi ini. Terkait perkembangan daerah perbatasan akan dibahas mengenai perkembangan jumlah sarana terkait pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Jumlah sarana yang tersebar di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku akan ditampilkan dengan menggabungkan data daerah perbatasan dengan data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014. Berikut merupakan tabel jumlah sarana pendidikan, kesehatan dan ekonomi daerah perbatasan di Wilayah Maluku:
Tabel 47 Jumlah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN JML TK PERKEMBANGAN JML SD PERKEMBANGAN
2011 2015 2011 2015 MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 62 62 0% 78 89 14% KEPULAUAN ARU 0 0 0% 21 19 -10% MALUKU BARAT DAYA 16 30 88% 34 54 59% MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 11 27 145%
81 96 19%
JUMLAH 89 119 34% 214 258 21%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 47, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah TK yang tersedia bertambah sebanyak 30 unit (34%) dengan rincian 89 unit pada tahun 2011 menjadi 119 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, dimana selama 3 tahun jumlah TK bertambah sebesar 145%, sedangkan di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, terjadi perkembangan yang tetap (stagnan) dimana selama 3 tahun jumlah TK tetap yaitu sebesar 0%.
Untuk perkembangan sarana pendidikan Sekolah Dasar (SD) di wilayah Maluku juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SD yang tersedia bertambah sebanyak 44 unit (21%) dengan rincian 214 unit pada tahun 2011 menjadi 258 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah SD bertambah sebesar 59%, sedangkan terjadi
penurunan sarana SD terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah SD berkurang sebesar 10%.
Tabel 48 Jumlah Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN JML SMP PERKEMBANGAN JML SMA PERKEMBANGAN
2011 2015 2011 2015 MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 47 47 0% 15 17 13% KEPULAUAN ARU 6 5 -17% 1 1 0% MALUKU BARAT DAYA 15 17 13% 4 7 75% MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 20 40 100%
10 20 100%
JUMLAH 88 109 24% 30 45 50%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 48, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMP yang tersedia bertambah sebanyak 21 unit (24%) dengan rincian 88 unit pada tahun 2011 menjadi 109 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, dimana selama 3 tahun jumlah SMP bertambah sebesar 100%, sedangkan terjadi penurunan sarana SMP terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah SMP berkurang sebesar 17%.
Untuk perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Maluku juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMA yang tersedia bertambah sebanyak 15 unit (50%) dengan rincian 30 unit pada tahun 2011 menjadi 45 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, dimana
selama 3 tahun jumlah SMA bertambah sebesar 100%, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku terjadi perkembangan yang tetap (stagnan) yaitu 0%.
Tabel 49 Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN JML SMK PERKEMBANGAN JML PT PERKEMBANGAN
2011 2015 2011 2015 MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 7 5 -29% 0 2 200% KEPULAUAN ARU 0 0 0% 0 0 0% MALUKU BARAT DAYA 2 3 50% 0 0 0% MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 2 6 200%
0 1 100%
JUMLAH 11 14 27% 0 3 300%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 49, terlihat bahwa perkembangan sarana pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah SMK yang tersedia bertambah sebanyak 3 unit (27%) dengan rincian 11 unit pada tahun 2011 menjadi 14 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, dimana selama 3 tahun jumlah SMK bertambah sebesar 200%, sedangkan terjadi penurunan sarana SMK terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah SMK berkurang sebesar 29%.
Untuk perkembangan sarana pendidikan Perguruan Tinggi (PT) di wilayah Maluku juga mengalami penambahan, dimana dalam 3 tahun jumlah PT yang tersedia bertambah sebanyak 3 unit (300%) dengan rincian 0 unit pada tahun 2011 menjadi 3 unit pada tahun
2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah PT bertambah sebesar 200%, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku terjadi perkembangan yang tetap (stagnan).
Selain sarana pendidikan, sarana kesehatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan di daerah perbatasan. Berikut ini disajikan beberapa tabel yang menggambarkan data beberapa jenis sarana kesehatan daerah perbatasan di wilayah Maluku:
Tabel 50 Jumlah Rumah Sakit dan Rumah Sakit Bersalin di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN RUMAH SAKIT PERKEMBANGAN
RUMAH SAKIT
BERSALIN PERKEMBANGAN
2011 2014 2011 2014
MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 1 4 300% 1 1 0%
KEPULAUAN ARU 0 0 0% 0 0 0%
MALUKU BARAT DAYA 0 0 0% 0 0 0%
MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 2 3 50% 0 0 0%
JUMLAH 3 7 133% 1 1 0%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 50, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan Rumah Sakit (RS) di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah RS yang tersedia bertambah sebanyak 4 unit (133%) dengan rincian 3 unit pada tahun 2011 menjadi 7 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah RS bertambah sebesar 300%, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku
Barat Daya, Provinsi Maluku tidak terjadi perkembangan sarana kesehatan rumah sakit (0%).
Untuk perkembangan sarana kesehatan Rumah Sakit Bersalin di wilayah Maluku mengalami perkembangan yang tetap (stagnan), dimana dalam 3 tahun jumlah RS. Bersalin yang tersedia tetap berjumlah 1 unit. Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya dan Pulau Morotai merupakan kabupaten yang tidak memiliki sarana kesehatan rumah sakit bersalin sebagai pelayanan bagi masyakatnya.
Tabel 51 Jumlah Puskesmas dan Poliklinik di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN PUSKESMAS PERKEMBANGAN POLIKLINIK PERKEMBANGAN
2011 2014 2011 2014
MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 30 37 23% 1 3 200%
KEPULAUAN ARU 7 8 14% 0 0 0%
MALUKU BARAT DAYA 13 19 46% 0 0 0%
MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 22 27 23% 0 2 200%
JUMLAH 72 91 26% 1 5 400%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 51, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan puskemas di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah puskemas yang tersedia bertambah sebanyak 19 unit (26%) dengan rincian 72 unit pada tahun 2011 menjadi 91 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah puskesmas bertambah sebesar 46%, sedangkan perkembangan sarana puskesmas terendah terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah puskesmas bertambah hanya sebesar 14%.
Untuk perkembangan sarana kesehatan poliklinik di wilayah Maluku juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah poliklinik yang tersedia bertambah sebanyak 4 unit (400%) dengan rincian 1 unit pada tahun 2011 menjadi 5 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku dan Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara dimana selama 3 tahun jumlah poliklinik bertambah masing-masing sebesar 200%. Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya merupakan kabupaten yang tidak memiliki sarana kesehatan poliklinik sebagai pelayanan bagi masyakatnya.
Tabel 52 Jumlah Tempat Praktek Dokter dan Posyandu di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN
TEMPAT
PRAKTEK PERKEMBANGAN POSYANDU PERKEMBANGAN
2011 2014 2011 2014
MALUKU MALUKU TENGGARA BARAT 3 4 33% 53 71 34%
KEPULAUAN ARU 0 0 0% 18 21 17%
MALUKU BARAT DAYA 1 1 0% 32 63 97%
MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 4 4 0% 50 99 98%
JUMLAH 8 9 13% 153 254 66%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 52, terlihat bahwa perkembangan sarana kesehatan tempat praktek dokter di wilayah Maluku mengalami penambahan, dimana dalam 3 tahun jumlah tempat praktek dokter yang tersedia bertambah sebanyak 1 unit (13%) dengan rincian 8 unit pada tahun 2011 menjadi 9 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah tempat praktek dokter
bertambah sebesar 33%, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku dan Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara mengalami perkembangan yang tetap (stagnan) sebesar 0%.
Untuk perkembangan sarana kesehatan posyandu di wilayah Maluku juga mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah posyandu yang tersedia bertambah sebanyak 101 unit (66%) dengan rincian 153 unit pada tahun 2011 menjadi 254 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara dimana selama 3 tahun jumlah posyandu bertambah sebesar 98%, sedangkan perkembangan sarana posyandu terendah yaitu di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku dengan jumlah penambahan hanya 17%.
Selain sarana pendidikan dan kesehatan, sarana ekonomi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan di daerah perbatasan. Berikut ini disajikan beberapa tabel yang menggambarkan data beberapa jenis sarana ekonomi daerah perbatasan di wilayah Maluku:
Tabel 53 Jumlah Pasar dan Minimarket di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN PASAR PERKEMBANGAN MINIMARKET PERKEMBANGAN
2011 2014 2011 2014
MALUKU KEPULAUAN ARU 7 8 14% 30 32 7%
MALUKU BARAT DAYA 2 3 50% 2 2 0%
MALUKU TENGGARA BARAT 3 3 0% 10 2 -80%
MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 3 6 100% 5 4 -20%
JUMLAH 15 20 33% 47 40 -15%
Berdasarkan data pada tabel 53, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi pasar di wilayah Maluku mengalami penambahan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah pasar yang tersedia bertambah sebanyak 5 unit (33%) dengan rincian 15 unit pada tahun 2011 menjadi 20unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara dimana selama 3 tahun jumlah pasar bertambah sebesar 100%, sedangkan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, terjadi perkembangan yang tetap (stagnan) sebesar 0%.
Untuk perkembangan sarana ekonomi minimarket di wilayah Maluku terjadi pengurangan, dimana dalam 3 tahun jumlah minimarket yang tersedia berkurang sebanyak 7 unit (15%) dengan rincian 47 unit pada tahun 2011 menjadi 40 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah minimarket bertambah sebesar 7%, sedangkan terjadi penurunan tertinggi sarana minimarket terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah minimarket berkurang sebesar 80%.
Tabel 54 Jumlah Toko/Warung dan Koperasi di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN TOKO/WARUNG PERKEMBANGAN KOPERASI PERKEMBANGAN
2011 2014 2011 2014
MALUKU KEPULAUAN ARU 160 161 1% 28 31 11%
MALUKU BARAT DAYA 78 163 109% 11 4 -64%
MALUKU TENGGARA BARAT 718 636 -11% 10 35 250% MALUKU
UTARA PULAU MOROTAI 209 192 -8% 0 9 900%
JUMLAH 1165 1152 -1% 49 79 61%
Berdasarkan data pada tabel 54, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi toko/warung di wilayah Sumatera mengalami pengurangan, dimana dalam 3 tahun jumlah toko/warung yang tersedia berkurang sebanyak 13unit (1%) dengan rincian 1165 unit pada tahun 2011 menjadi 1152 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah toko/warung bertambah sebesar 109%, sedangkan terjadi penurunan tertinggi sarana toko/warung terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah toko/warung berkurang sebesar 11%.
Untuk perkembangan sarana ekonomi koperasi di wilayah Sumatera terjadi penambahan, dimana dalam 3 tahun jumlah koperasi yang tersedia bertambah sebanyak 30 unit (61%) dengan rincian 49 unit pada tahun 2011 menjadi 79 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara dimana selama 3 tahun jumlah koperasi bertambah sebesar 900%, sedangkan terjadi penurunan sarana koperasi terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah koperasi berkurang sebesar 64%.
Tabel 55 Jumlah Bank di Daerah Perbatasan Wilayah Maluku
PROVINSI KABUPATEN BANK PERKEMBANGAN 2011 2014
MALUKU KEPULAUAN ARU 1 2 100%
MALUKU BARAT DAYA 8 3 -63%
MALUKU TENGGARA BARAT 10 8 -20% MALUKU
PROVINSI KABUPATEN BANK PERKEMBANGAN 2011 2014
JUMLAH 19 13 -32%
Sumber: Pengolahan Data Potensi Desa (PODES) 2011 dan 2014
Berdasarkan data pada tabel 55, terlihat bahwa perkembangan sarana ekonomi bank di wilayah Maluku mengalami penurunan yang signifikan, dimana dalam 3 tahun jumlah bank yang tersedia berkurang sebanyak 6 unit (32%) dengan rincian 19 unit pada tahun 2011 menjadi 13 unit pada tahun 2014. Jumlah penambahan tertinggi terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku dimana selama 3 tahun jumlah bank bertambah sebesar 100%, sedangkan terjadi penurunan tertinggi sarana bank terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, dimana selama 3 tahun jumlah bank berkurang sebesar 63%.
secara keseluruhan masing-masing Kabupaten di daerah perbatasan telah memiliki sarana ekonomi yang cukup untuk melayani kebutuhan hidup masyarakatnya, sehingga dengan banyaknya jumlah sarana yang ada dapat menggerakkan roda perekonomian bagi masyarakat di daerah perbatasan Wilayah Maluku tersebut. Secara alami, perkembangan sarana dan dinamika ekonomi akan merangsang pertumbuhan wilayah di daerah perbatasan. Hal ini membutuhkan peranan pemerintah daerah maupun pusat yang dikategorikan sebagai kebijakan publik untuk membangun daerah serta sumber daya manusianya. Kebutuhan akan pusat-pusat kegiatan ekonomi di daerah perbatasan yang perlu didorong dan dikembangkan sehingga muncul dinamika ekonomi yang pesat dan pada akhirnya daerah perbatasan akan menjadi wilayah yang optimal dalam aspek pembangunan dan sumber daya.