B.2 Nasionalisme Menurut Hatta
B.2.3. Sebuah warisan: Ekonomi Kerakyatan
Pandangan Hatta tentang masalah-masalah kebangsaan seperti loyalitasnya terhadap prinsip-prinsip demokrasi dan keberpihakannya terhadap nasib rakyat, kemudian dituangkan dalam pemikiran tentang ekonomi kerakyatan. Hatta dikenal sebagai “Bapak Koperasi Indonesia” karena pemikiran-pemikiran ekonominya yang pro-kerakyatan. Ketika masih belajar ekonomi di Rotterdam, Hatta banyak mencermati nasib ekonomi modern yang pada saat itu banyak dikendalikan oleh investor-investor Belanda, terutama dalam bidang pertanian dan
perkebunan. Hatta banyak menulis di Daulat Rakyat, yang bertujuan mempersatukan ekonomi
rakyat melalui pengembangan usaha koperasi yang berbasis pada asas kekeluargaan. Pemikiran tersebut, sudah bergema semenjak Hatta terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia pada
tahun 1926. Pada saat itu Hatta menyampaikan pidato yang berjudul Economische Wereldbouw
en Machtstegenstellingen (Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan). Dari pidato
Gerald J. Tampi 752011042 | 101 ini, Hatta bermaksud menganalisis struktur ekonomi dunia yang dapat dijadikan bahan pemikiran
untuk membangun perekonomian Indonesia yang pro terhadap rakyat.142
Kerangka dasar pikiran Hatta untuk mempertegas bangsa Indonesia sebagai bagian bangsa yang mandiri diilhami oleh keinginan sebagai anak bangsa yang keluar dari cengkaraman penjajahan Belanda. Nurani itu terus mengelana menerobos sekat-sekat imperialisme yang pada akhirnya terfokus pada alur sejarah yang tak mungkin terhapus, yaitu 17 Agustus 1945. Pergolakan intelektual Hatta sebagai pemimpin bagi rakyatnya tercermin dalam pasal 33 UUD
1945.143 Penegasan akan isi pasal tersebut disajikan dalam sebuah tulisan yang sangat
monumental, Ekonomi Indonesia di Masa Depan. Tulisan yang merupakan pidato Hatta sebagai
wakil presiden yang disampaikan pada Konfrensi Ekonomi Indonesia di Yogyakarta pada 1946. Pidato tersebut merupakan penafsiran asli dari pasal 33 UUD 1945 secara yuridis-historis. Terdapat 3 hal yang ditekankan Hatta dalam pidato tersebut yang menentukan perekonomian suatu Negara, yaitu kekayaan tanah, kedudukan terhadap negeri lain dalam lingkungan internasional dan sifat serta kecakapan rakyat. khusus untuk Indonesia, Hatta menambahkan 1 unsur, yaitu sejarahnya sebagai bekas tanah jajahan.
142Ibid.,118-119.
143 Bunyi Pasal 33 UUD 1945(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. (pasal 4 dan 5, merupakan pasal tambahan yang ditetapkan pada tahun 2002)
Gerald J. Tampi 752011042 | 102
B.3. Kesimpulan
Berbicara tentang Moh. Hatta, dibutuhkan waktu yang cukup panjang, hal ini dikarena, Hatta sangat kaya akan visi, gagasan dan contoh-contoh konkret yang dialami oleh banyak orang. Dalam kehidupannya nilai-nilaibaik yang positif dari timur dan barat telah menyatu sebagaisuatu pedoman yang hampir sempurna. Bung Hatta merupakan konseptor utama tentang kedaulatan rakyat. Rakyatadalah yang utama. Baik semasa pergerakan maupun sesudah kemerdekan, rakyatmenjadi titik sentral perjuangan Hatta. Dengan pendidikan, rakyat harus dibuat sadar akan harga dirinya. Sehingga rakyat bisa berpartisipasi dalam proses politik.
Rakyatmerupakan raja atas dirinya sendiri. Dengan berpegang pada prinsipnya
tentangkedaulatan rakyat, maka pemikiran-pemikirannya kemudian selalu setuju pada rakyatseperti pada masalah kebangsaan dan perjuangannya kemudian dalam memasukkanhak- hak rakyat dalam UUD 1945.
Hatta yang terlahir dan dibentuk dalam adat Minangkabau, kemudian diperlengkapi dengan kehidupan akademik di negeri Belanda, menjadikan Hatta sebagai sosok yang sangat unik, serta sangat disegani baik kawan maupun lawan. Tak dapat dipungkiri, Hatta memiliki peranan yang sangat penting dalam memperkenalkan Indonesia di kancah Dunia Internasional. Hal tersebut terlihat dengan sangat jelas, bagaimana Hatta semasa ia kuliah di negeri Belanda, berbagai macam hal ia lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. akibat pergerakannya memperjuangkan kemerdekaan, Hatta beserta beberapa temannya sempat di penjarakan oleh pemerintah Belanda. Hal tersebut tidak membuat Hatta mematahkan semangat perjuangannya. Hatta yang lembut hati selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. senjata ampuh yang digunakan Hatta adalah otak dan pena. Daripada melawan dengan kekerasan, Hatta lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi dan menulis
Gerald J. Tampi 752011042 | 103 berbagai artikel dan buku untuk perjuangan nasib bangsa. Prinsip ini muncul, karena Hatta memiliki rasa hormat terhadap sesama manusia, tidak memandang itu lawan maupun kawan.
Kerangka pemikiran Hatta tentang nasionalisme, didasari oleh pandangannya terhadap berbagai macam fenomena yang terjadi di Indonesia. sekurang-kurangnya terdapat 3 unsur nasionalisme yang berada di Indonesia pada waktu itu, yaitu ningrat, intelek dan rakyat. Menurut Hatta Nasionalisme rakyatlah yang paling cocok untuk berada di Indonesia. hal tersebut menurut Hatta, rakyat memiliki peranan yang sangat penting dalam tumbuh kembangnya suatu bangsa atau dengan kata lain, kebangsaan tidak bisa dipisahkan dari kerakyatan. Kedua konsep ini, merupakan butir pemikiran Hatta yang paling mendasar dalam satu tarikan napas dan sekaligus melintasi semua gagasan Hatta tentang persatuan, kemerdekaan, demokrasi, ekonomi dan sejumlah gagasan politiknya yang lain, termasuk kaderisasi. Dalam hal demokrasi, terlihat dengan sangat jelas bahwa bagi Hatta demokrasi barat berhasil diterapkan dinegara-negara maju karena sesuai dengan budaya dan karakter masyarakat barat yang individualis. Wajar jika demokrasi barat yang diterapkan secara murni dinegara-negara berkembang berujung padakegagalan, karena karakter masyarakat timur yang kolektif. Namun bukan berarti demokrasi secara subtansi tidak baik. Hanya saja demokrasi yang perlu dikembangkan menurut Hatta adalah demokrasi yang digali dari bangsa itu sendiri. Untuk Indonesia Hatta menilai bahwa demokrasi yang cocok adalah demokrasi yang dibangun atas dasar kolektivitas dan kekeluargaan. Dibidang politik demokrasi menjunjung tinggi nilai musyarawah mufakat (kolektivitas) dalam mengambil keputusan sedangkan dalam bidang ekonomi dikembangkan ekonomi berdasarkan kekeluargaan yang terwujud dalam koperasi.