1. Kelahiran Muhammad
N abi M u h am m ad di l ah i r kan dar i kal an gan kel u ar ga bangsaw an suku Qurai sy, yai tu anggota Bani Hasyi m. Bani Hasyi m termasuk dal am sepul uh pemegang jabatan terti nggi dal am masyarakat M ekah. Jabatan i ni adal ah si qayah, yai tu pengurus mata ai r zamzam untuk di pergunakan ol eh para peziarah.
Si l si l ah keturunan Nabi M uhammad ji ka di tel usuri akan sampai kepada Nabi Ismail. Ayahnya bernama Abdullah putra Abdul Mut.t.alib, seorang pemuka suku Quraisy yang memiliki pengaruh besar. Pengaruh tersebut bukan karena jabatannya, melainkan karena kepribadiannya. Ibunya bernama Aminah binti Wahhab bin Abdul Manaf.
Tahun kel ahi ran Nabi M uhammad di kenal dengan nama Tahun Gajah. Dinamakan demikian karena pada tahun itu terjadi suatu peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekah dengan tujuan menghancurkan Kakbah. Pasukan gajah tersebut dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi di
Yaman. Abrahah i ngi n mengambi l al i h peranan Kota M ekah dengan Kakbah sebagai pusat perekonomian dan peribadatan bangsa Arab.
Beberapa bul an setel ah serbuan tentara gajah tersebut, Aminah melahirkan seorang anak laki-laki. Ia lahir pada malam menjelang dini hari, Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah yang bertepatan dengan 20 Apri l 570 M . Nabi M uhammad dilahirkan sebagai anak yatim karena ayahnya telah meninggal t u j u h bu l an sebel u m kel ah i r an n ya. Wak t u i t u A bdu l l ah mengikuti rombongan kafilah ke negeri Syam (Suriah) untuk ber-dagang. Dalam perjalanan pulang, ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Yasrib (Madinah).
Setelah mendengar kabar kelahiran cucunya, Abdul Mut.t.alib mendatangi rumah Aminah. Selanjutnya, membawa cucunya tersebut ke Kakbah dan taw af mengel i l i ngi Kakbah sambi l menggendong bayi itu. Bayi tersebut diberi nama Muhammad yang artinya orang terpuji. Nama tersebut terdengar aneh bagi orang-orang Quraisy ketika itu. Dengan nama tersebut, Abdul Muttalib berharap seluruh dunia akan memujinya.
2. Masa Pengasuhan
Kebi asaan orang-orang Arab, bayi yang baru l ahi r ti dak diasuh dan disusui oleh ibunya sendiri. Bayi itu diasuh oleh wanita dari desa supaya mendapat udara yang segar dan bersih. Sel ai n i tu, agar bayi i tu kel ak dapat berbi cara menggunakan bahasa Arab yang fasih.
Ketika Muhammad lahir, para wanita dari Desa Sa’ad datang ke M ekah untuk mencari kel uarga yang akan menyusukan bayinya. Desa Sa’ad terletak di dekat Kota Taif, suatu daerah pegunungan yang sangat baik udaranya. Di antara para wanita yang datang ke Mekah tersebut terdapat seorang wanita bernama Halimah binti Abi Dua'ib as-Sa‘diyah. Ketika wanita-wanita lain tel ah mendapatkan bayi untuk di susui , i a masi h berkel i l i ng-keliling. Ia sebenarnya telah datang ke rumah Aminah, tetapi masi h ragu karena M uhammad seorang yati m. Ol eh karena ketertarikannya melihat Muhammad, ia memutuskan untuk kem-bali ke rumah Aminah dan mengasuhnya.
Kehadiran Muhammad di tengah-tengah keluarga Halimah membawa berkah. Kehidupan keluarga tersebut semakin bahagia. Kambing yang mereka pelihara menjadi gemuk-gemuk dan meng-hasilkan banyak susu. Keluarga ini percaya bahwa anak yang mereka asuh membawa berkah dalam kehidupan mereka.
Setelah Muhammad tidak lagi menyusu, ia dikembalikan kepada i bunya. Dengan berat hati , Hal i mah mengembal i kan Muhammad ke pangkuan Aminah ketika berumur empat tahun. Ket i k a M u h am m ad ber u si a en am t ah u n , A m i n ah menceri takan tentang ayahnya yang tel ah w afat. A mi nah sel an j u t n ya m em baw a M u h am m ad ke m akam su am i n ya di temani seorang pembantu bernama Ummu Ai man. Setel ah berzi arah dan mengunjungi beberapa kel uarga di M adi nah (Yasri b), mereka pun kembal i ke M ekah. Dal am perjal anan pulang, tepatnya di Kampung Abwa, Aminah jatuh sakit dan wafat. Muhammad menjadi yatim piatu pada usia enam tahun. Sepeninggal ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Mut.t.alib. Muhammad merasa sangat bahagia m en d ap at asu h an k ak ek n y a. Ter l ebi h k ak ek n y a san gat menyayangi Muhammad melebihi anak dan cucu-cucunya yang lain. Rasa sedih menjadi yatim piatu telah terobati dengan kasih sayang dari kakek tercinta. Akan tetapi, pengasuhannya tidak berlangsung lama. Ketika Muhammad berumur delapan tahun, Abdul Muttalib meninggal dunia. Muhammad diasuh kakeknya hanya selama dua tahun.
Sepeni nggal kakeknya, M uhammad di baw ah asuhan pamannya, yaitu Abu T.alib. Meskipun Abu T.alib bukan keluarga yang kaya, ia memiliki sifat-sifat terpuji sehingga disayangi dan dihormati masyarakat Mekah. Selama hidup bersama pamannya, M uhammad mendapatkan pengal aman-pengal aman penti ng. Misalnya menggembalakan kambing, berniaga ke Kota Syam dan turut serta dalam Perang Fijar.
3. Pengalaman-Pengalaman Penting Muhammad
Salah satu pengalaman penting Muhammad ketika muda, yaitu menggembalakan kambing. Awal mulanya, Muhammad menggembalakan kambing milik keluarga. Akan tetapi, tidak jarang ia mendapatkan amanah untuk menggembalakan kambing milik penduduk. Pengal aman menggembal akan kambi ng i ni tel ah mengarahkan dirinya untuk bersifat sabar, ulet, terampil, dan jujur. Sifat-sifat ini sangat penting sebagai modal dirinya menjadi seorang rasul.
Pengal aman l ai n yang sangat penti ng yai tu keti ka bel i au berumur dua bel as tahun. Pada saat i tu, M uhammad turut menemani pamannya berniaga ke Kota Syam (Suriah). Dalam per j al an an n ya, M u h ammad mel ew at i bekas pen i n ggal an kerajaan-kerajaan Arab zaman dahulu, seperti Kota Madyan dan n eger i Sam u d. Bel i au j u ga m en den gar kan ban yak k i sah menakjubkan tentang pasang surut kerajaan-kerajaan besar. Ketika perjalanan telah sampai di Busra, Abu T.alib bertemu dengan seor an g pen det a Kr i st en ber n ama Bu h ai r ah . Pen det a i n i menemukan tanda-tanda kenabi an pada di ri M uhammad. Ia menjadi khawatir jika tanda-tada tersebut diketahui oleh kaum Yahudi karena mereka tidak segan-segan akan membunuhnya. Ol eh karena i tu, Buhai rah memeri ntahkan Abu Tal i b untuk mengajak Muhammad kembali ke Mekah.
Ketika Muhammad berusia lima belas tahun, terjadi peristiwa Perang Fijar antara suku Quraisy dan suku Hawazin. Perang ini dilatarbelakangi oleh adanya pelecehan bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab). Dalam perang ini, Muhammad turut serta dengan bertugas menyedi akan anak panah bagi pamannya. Ia sendiri tidak membunuh musuh. Akibat perang t er sebu t , Kak bah t i d ak l agi r am ai d i ku n j u n gi seh i n gga berpengaruh pada perekonomian penduduk Mekah. Melihat ke-m i sk i n an dan pen der i t aan y an g di al ake-m i r aky at M ekah , M uhammad mengambi l i ni si ati f untuk mendi ri kan Hi l ful -Fud.u-l, sebuah lembaga yang bertujuan untuk membantu orang miskin dan orang yang teraniaya. Melalui Hilful-Fud.u-l ini sifat-sifat kepemimpinan Muhammad mulai tampak dan namanya semakin harum di kalangan masyarakat Mekah. (Muhammad Husain Haekal. 2005: halaman 61–62)
Kegiatan kali ini kamu diajak menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. mulai dari masa kelahiran hingga kerasulan. Untuk
memudahkan, perhatikan langkah-langkah
berikut ini.
1. Tulislah ringkasan atau catatan penting tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. dalam buku tugasmu.
2. Berilah kesan atau komentarmu terhadap ringkasan atau catatan penting yang telah kamu tulis.
3. Kumpulkan ringkasanmu kepada Bapak atau Ibu Guru untuk dinilai.
4. Bersiaplah maju ke depan kelas untuk
4. Pernikahan dengan Khadijah
Memasuki usia ke-25 tahun, Muhammad membawa barang dagangan Khadi jah bi nti Khuw ai l i d, seorang saudagar kaya. Muhammad membawa barang dagang menuju Syam di bantu oleh Maisarah, pembantu laki-laki Khadijah. Pertemuan pertama dengan M uhammad tel ah menumbuhkan si mpati di hati Khadijah. Rasa simpati dan kekaguman itu semakin besar setelah menget ah ui bah w a h asi l per dagangan di Syam mel ebi h i perkiraan.
Sel anjutnya, Khadi jah yang saat i tu berumur 40 tahun mel amar M uhammad mel al ui M ai sarah dan Nufasah, teman karibnya. Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya diterima. Tidak lama berselang, upacara pernikahan pun digelar. Pernikahan tersebut dikaruniai enam orang anak, yai tu dua putra dan empat putri . M ereka bernama Qasi m, Abdul l ah, Zai nab, Ruqayyah, Ummu Kal sum, dan Fati mah. Kedua putranya meni nggal semasa masi h keci l . Kehi dupan rumah tangga Muhammad pun diliputi kebahagiaan.
Dari w aktu ke w aktu, rasa keadi l an dan kemanusi aan M u h am m ad sem ak i n di ken al m asy ar akat . Ket i ka bel i au memasuki umur 35 tahun, bangunan Kakbah rusak berat karena banjir. Perbaikan Kakbah dilakukan secara gotong royong. Akan tetapi , pada saat hendak mengangkat dan mel etakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula, timbul perselisihan. Setiap suku ingin mendapat kehormatan untuk memindahnya. (Muhammad Husain Haekal. 2005: halaman 71–72)
M uhammad berkesempatan untuk menyel esai kan per-sel i si han tersebut. Setel ah mengetahui duduk persoal annya, Muhammad mengusulkan agar batu itu diletakkan di atas sehelai kai n kemudi an ujung kai n tersebut di angkat ol eh ti ap-ti ap pemuka suku. Keti ka sampai ke tempat asal nya, batu i tu diletakkan oleh Muhammad. Sejak saat itu Muhammad dikenal sebagai orang yang bersi fat bi jaksana dan jujur sehi ngga i a mendapat gelar al-Ami-n (orang yang dapat dipercaya).
5. Kerasulan Muhammad
Muhammad memiliki kebiasaan berkhalwat di gua Hira. Ketika ia sedang tidur dalam gua, datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepada Muhammad, ”Iqra!” ”Bacalah!” Dengan terkejut M uhammad menjaw ab, ” Saya ti dak dapat membaca.” Diulanginya pertanyaan itu sampai tiga kali. Selanjut-nya, malaikat itu berkata:
1. Iqra’ bismi rabbikallazi- khalaq(a). 2. Khalaqal-insa-na min ‘alaq(in). 3. Iqra’ wa rabbukal-akram(u). 4. Allaz.i- ‘allama bil-qalam(i). 5. ‘Allamal-insa-na ma- lam ya‘lam.
Artinya:Bacal ah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari se-gu m pal dar ah . Bacal ah , dan Tu h an m u l ah Yan g Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S. al-‘Alaq [96]: 1–5)
Setelah Muhammad mengucapkan bacaan itu, malaikat pun pergi. Demikian halnya Muhammad cepat-cepat meninggalkan gua tersebut. Sejak menerima wahyu pertama itu Muhammad telah diangkat menjadi rasul. Muhammad telah mendapat tugas tertentu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia.