BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Koleksi Perpustakaan
2.2.8 Seleksi Koleksi Perpustakaan
Menurut Handayani (2013, 139) menyatakan pustakawan sebagai selektor harus memiliki kriteria seleksi yaitu:
1. Memahami fungsi dan tujuan perpustakaan tempat ia bekerja.
2. Mengenal kebutuhan masyarakat yang dilayani.
3. Mengetahui bahan perpustakaan apa saja yang ada di pasaran.
4. Mengenal prinsip-prinsip seleksi umum, khusus (untuk bidang subyek atau format) dan lokal (disesuaikan dengan kondisi perpustakaan tempat ia bekerja)
5. Mengenal dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi yang tepat.
6. Memahami berbagai kendala (sosial, budaya politik, dsb) yang harus diperhitungkan agar tercapai keputusan-keputusan (selection decision) yang dapat dipertanggung jawabkan.
Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6) “Seleksi bahan perpustakaan adalah kegiatan menilai desiderata dan mempertimbangkan usulan untuk menetapkan bahan perpustakaan yang perlu diadakan oleh perpustakaan berdasarkan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan”.
Adapun alat bantu seleksi dan verifikasi yaitu:
1. Alat bantu seleksi merupakan sarana yang diperlukan untuk menetapkan/menentukan pilihan bahan perpustakaan yang akan diadakan sesuai dengan visi dan misi perpustakaan bersangkutan. Alat bantu seleksi memuat informasi tentang deskripsi bibligrafis seperti judul, kepengarangan, tempat terbit, penerbit dan tahun terbit. Alat bantu seleksi dapat berupa:
1) Bibliografi 2) Books in print 3) Brosur
4) Katalog pameran buku 5) Katalog penerbit 6) Katalog toko buku 7) Resensi buku
8) Ulrich’s International Directory
2. Verifikasi adalaha kegiatan memeriksa dan melengkapi data bibliografis setiap judul bahan perpustakaan, serta mencocokannya dengan koleksi yang ada di perpustakaan agar tidak terjadi duplikasi.
Menurut Siregar (1999, 7) menyatakan pihak-pihak yang dilibatkan dalam pemilihan bahan pustaka yaiu:
1. Pustakawan
Secara umum tugas pustakawan pengadaan adalah sebagai berikut:
1) Sebagai penentu apakah satu buku dibeli atau tidak 2) Menyeleksi permintaan pemakai/pakar
3) Bertanggung jawab akan pembinaan koleksi 4) Mengarahkan dan mengkordinir pemilihan buku
5) Membina kerjasama dengan pihak lain yang berhubungan dengan pembinaan koleksi. Misalnya para pakar/komisi perpustakaan 6) Membina hubungan baik dengan penerbit/agen
7) Melaksanakan pemilihan buku referensi umum 8) Memikirkan penggunaan dana secara tepat guna 9) Menganalisa kebutuhan pengguna
Sesuai dengan tugas yang dilaksanakan oleh pustakawan bagian pengadaan tersebut, maka personil/pustakawan bagian pengadaan sebaiknya memenuhi kriteria berikut:
1) Memiliki pengetahuan/keterampilan dalam bidang administrasi 2) Memiliki pengetahuan tentang perdagangan buku/majalah
3) Mengetahui peraturan perdagangan seperti impor buku dan majalah
4) Mengetahui fungsi dan tujuan perpustakaan 5) Dapat berhubungan dengan bagan lain 6) Memiliki kecermatan dalam bekerja
7) Dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat 8) Memiliki inisiatif
9) Taktis
10) Dapat memecahkan masalah dengan cepat
11) Memahami dengan baik alat bantu pemilihan buku (book selection aids)
2. Subyek spesialis/pakar
Mereka merupakan ahli dalam memilih subyek bidang ilmu tertentu, dan lebih mengetahui cara menelusurinya pada sarana bibliografi, dan selalu mengikuti perkembangan bidang ilmu yang menjadi spesialisasinya.
3. Bagian sirkulasi
Keikutsertaan bagian ini dalam pemilihan buku karena bagian ini dapat memberi informasi tentang buku yang banyak digunakan, sehingga dapat dipikirkan penambahan jumlahnya.
4. Bagian pengadaan
Bagian pengadaan memegang peranan yang penting dalam pemilihan bahan pustaka karena bagian ini bertugas melaksanakan administrasi tentang pemilihan bahan pustaka, seperti mencatat semua permintaan yang datang dari pihak-pihak yang dilibatkan dalam pemilihan buku.
5. Pengguna
Pengguna merupakan orang-orang yang memanfaatkan koleksi perpustakaan, oleh sebab itu permintaan mereka atas bahan pustaka perlu dipertimbangkan agar kebutuhan pengguna terpenuhi.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa dalam melakukan seleksi bahan pustaka dapat dilakukan oleh pustakawan atau orang-orang yang berwewenang dan memahami sarana bibliografis serta memahami kebutuhan informasi para pemakainya.
2.2.9 Perawatan Bahan Putaka
Menurut Ibrahim (2013, 78) “Tujuan utama program perawatan dan pelestarian bahan pustaka adalah mengusahakan agar koleksi bahan pustaka selalu siap dan siap dipakai.
Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 135) pemeliharaan koleksi di perpustakaan meliputi 3 kegiatan yaitu:
1. Pelestarian (preservation) : Pelestarian koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan koleksi agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
2. Pengawetan (conservation): Pengawetan koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk melindungi koleksi dari kerusakan dan kehancuran.
3. Perbaikan (restoration): Perbaikan koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki koleksi yang rusak sehingga dapat digunakan lagi.
Perbaikan koleksi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Penjilidan: Kegiatan penjilidan adalah proses perbaikan koleksi dengan cara menyusun atau merangkai lembaran-lembaran kertas, kemudian dijahit atau dilem.
a. Perbaikan isi buku atau blok buku.
b. Pembuatan sampul buku.
2) Perbaikan punggung buku yang rusak:
a. Dilem.
b. Diganti kertas sisi/penutup dan dilapisi dengan kain penguat/kasa.
a. Diberi perekat kedua sisinya yang sobek untuk ditempelkan kembali.
b. Bila ada halaman buku yang sobek dan tidak mungkin direkatkan dengan lem, maka dapat diperbaiki dengan memfotokopi atau menscan halaman yang rusak itu (dari buku dengan judul yang sama) kemudian direkatkan kembali.
4) Perbaikan halaman yang lepas: Memberi lem pada punggung halaman untuk menempelkan halaman yang lepas itu, lalu dipres agar lemnya kuat dan rata.
5) Penyampul bahan pustaka: Bahan pustaka diberi sampul plastik atau kertas supaya lebih awet dan tidak mudah kotor.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perawatan bahan pustaka sanga penting dilakukan yaitu dengan cara pelestarian, pengawetan, dan perbaikan bahan pustaka agar dapat digunakan kembali oleh para pengguna.
2.2.10 Cacah Ulang (Stock Opname) dan Penyiangan Koleksi (Weeding) Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6) “Cacah ulang (stock opname) adalah kegiatan pendataan ulang koleksi mencakup verifikasi lokasi dokumen, pemeriksaan dokumen yang tidak ada di tempat atau hilang, atau sedang dipinjam, serta memeriksa kondisi fisik koleksi”.
Menurut Zen (2013, 10) menyebutkan manfaat dari cacah ulang yaitu untuk mengetahui jumlah:
1. Koleksi terakhir di miliki perpustakaan.
2. Koleksi yang hilang.
3. Koleksi yang dipinjam tetapi belum dikembalikan.
4. Koleksi yang salah tempat.
5. Koleksi yang rusak.
6. Koleksi yang tidak pernah atau jarang digunakan.
7. Koleksi yang banyak diminati.
Sedangkan menurut Evans dalam Zen (2013, 10) menyebutkan alasan yang mendorong untuk melakukan kegiatan cacah ulang yaitu:
1. Untuk menghemat tempat (to save space).
2. Untuk memperbaiki akses (to improve access).
3. Untuk penghematan uang (to save money).
4. Untuk menyediakan tempat bagi koleksi baru (to make room for the newmaterials).
Sedangkan menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6)
“Penyiangan adalah kegiatan mengidentifikasi, memilih, dan mengeluarkan bahan perpustakaan dari jajarannya sesuai kebijakan pengembangan koleksi”.
Menurut Lasa (2005, 323) “Penyiangan adalah upaya pengeluaran sejumlah koleksi perpustakaan karena dianggap tidak relevan lagi, terlalu banyak jumlah eksemplarnya, sudah ada edisi baru, atau koleksi itu termasuk terbitan yang dilarang”.
Menurut Zen (2013, 12) menyatakan ketika diputuskan bahwa beberapa koleksi akan disiangi (dikeluarkan) dari koleksi perpustakaan, maka beberapa kegiatan yang harus dilakukan antara lain:
1. Membuat daftar koleksi yang akan disiangi.
2. Memberikan cap atau tanda yang menyatakan bahwa koleksi tersebut sudah dikeluarkan dari koleksi perpustakaan.
3. Mengeluarkan semua kartu katalog yang terkait dengan koleksi tersebut, misalnya kartu pengarang, kartu judul, kartu subjek, dan sebagainya.
Termasuk menghapus koleksi dari pengkalan data katalog terpasang.
4. Membuat laporan kegiatan penyiangan yang akan dilakukan secara sistematis.
5. Jika dimungkinkan koleksi hasil siangan dihadiahkan kepada perpustakaan lain yang memerlukan. Sebaiknya, sebelumnya mengirim surat tawaran kepada calon penerima.
6. Sering juga koleksi hasil siangan dijual dengan harga murah kepada anggota perpustakaan atau masyarakat umum.
7. Kedangkala koleksi hasil siangan dijadikan sebagai barter tukaran koleksi dengan perpustakaan lain.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa penyiangan koleksi yaitu kegiatan mengidentifikasi, memilih koleksi serta mengeluarkannya dari rak sesuai
dengan peraturan tertulis kegiatan penyiangan sebagai pedoman melaksanakan kegiatan penyiangan.
2.3 Evaluasi Koleksi
Evaluasi Koleksi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan koleksi di suatu perpustakaan. Evaluasi koleksi dilakukan untuk mengetahui sejauhmana koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan para penggunanya.
2.3.1 Pengertian Evaluasi Koleksi
Menurut Wisnu dalam Syukrinur (2017, 95) menyatakan bahwa:
“Evaluasi koleksi merupakan salah satu dari kegiatan pembinaan koleksi yang bertujuan untuk mengetahui secara lebih jelas siapa yang dilayani oleh perpustakaan dan koleksi apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk perencanaan bahan literatur lebih lanjut serta menilai koleksi agar relevansinya dapat dipertahankan”.
Menurut Credaro dalam Maryam (2015, 32) menyebutkan tiga cara mengevaluasi koleksi perpustakaan yaitu:
1. Survey opini pengguna yang berpusat pada user (pemustaka) melalui kuesioner atau interview.
2. Pendekatan conspectus yang melibatkan penggunaan deskripstor subjek.
3. Pendekatan cumulative, yang mengkombinasikan beberapa dari metode pertama dan kedua metode pengukuran koleksi.
Menurut Almah (2012, 20) “Evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan baik dari segi ketersediaan koleksi itu bagi para pemakai maupun pemanfaatan koleksi itu oleh pemakai”.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan untuk mengetahui siapa yang dilayani oleh perpustakaan serta menilai koleksi agar relevansinya dapat dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya.
2.3.2 Tujuan Evaluasi Koleksi
Evaluasi koleksi bertujuan untuk menyesuaikan koleksi yang ada di perpustakaan yang telah ditetapkan oleh masing-masing perpustakaan seperti kebutuhan pengguna dan latar belakang pengguna.
Menurut Syukrinur (2017, 95) menyatakan tujuan evaluasi koleksi perpustakaan adalah untuk:
1. Mencari pemahaman lebih akurat tentang wilayah (scope), kedalaman dan kegunaan dari koleksi.
2. Mempersiapkan pedoman dasar, membantu persiapan dan mengukur efektifitas kebijakan untuk pengembangan koleksi.
3. Menetapkan kecukupan dan kualitas dari koleksi.
4. Menetapkan adanya kekuatan khusus atau kelemahan dalam koleksi.
Menurut Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Zuraidah (2013, 30) tujuan dari evaluasi koleksi pada perpustakaan yaitu:
1. Mengetahui mutu, lingkup, dan kedalaman koleksi.
2. Menyesuaikan koleksi dengan tujuan dan program perguruan tinggi.
3. Mengikuti perubahan, perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi.
4. Meningkatkan nilai informasi.
5. Mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi.
6. Menyesuaikan kebijakan penyiangan koleksi.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa tujuan evaluasi koleksi adalah untuk mengetahui mutu dan juga kedalaman serta kegunaan dari koleksi untuk meningkatkan nilai informasi pada koleksi perpustakaan.
2.3.3 Proses Evaluasi Koleksi
Proses evaluasi koleksi merupakan salah satu proses yang sangat penting dilakukan guna mengetahui sejauh mana keberhasilan pengembangan koleksi karena proses ini sangat menentukan kualitas dari koleksi yang dimiliki perputakaan. Dalam melakukan proses evaluasi koleksi terdapat metode-metode
evaluasi koleksi tercetak, tetapi ada unsur-unsur yang dapat digunakan dalam evaluasi sumber elektronik.
Menurut Zuraidah (2013, 31) metode evaluasi koleksi ada dua yaitu:
1. Metode terpusat pada koleksi
Metode ini terdapat beberapa cara untuk melakukan evaluasi koleksi, yaitu:
1) Pencocokan terhadap daftar tertentu, bibliografi atau katalog 2) Penilaian dari pakar
3) Perbandingan pada berbagai standar koleksi 2. Metode terpusat pada penggunaan
Metode ini terdapat beberapa cara melakukan evaluasi koleksi yaitu:
1) Melakukan kajian sirkulasi 2) Meminta pendapat pengguna
3) Menganalisis statistik pinjam antar perpustakaan 4) Melakukan kajian sitiran
5) Melakukan kajian penggunaan ditempat (ruang baca) 6) Memeriksa ketersediaan koleksi di rak
Sedangkan pendapat yang sama juga dikemukakan menurut Almah (2012, 23) yaitu:
1. Metode terpusat pada koleksi
Pada metode ini terdapat cara untuk melakukan evaluasi koleksi, yaitu:
1) Pencocokan terhadap daftar tertentu, bibliografi atau katalog 2) Penilaian dari pakar
3) Perbandingan data statistik
4) Perbandingan pada berbagai standar koleksi 2. Metode terpusat pada pengguna
Pada metode ini terdapat beberapa cara untuk melakukan evaluasi koleksi, yaitu:
1) Dilakukan kajian sirkulasi 2) Meminta pendapat pengguna 3) Melakukan kajian sitiran 4) Melakukan kajian sitiran
5) Memeriksa ketersediaan koleksi di rak 3. Terpusat pada koleksi pencocokan daftar
Metode dengan menggunakan daftar pencocokan (cheklist). Metode ini dapat digunakan dengan berbagai tujuan, baik dengan satu metode saja maupun dikombinasikan dengan teknik yang lain.
4. Penilaian pakar
Metode ini tergantung pada keahlian seseorang untuk melakukan penilaian dan penguasaan terhadap subyek yang dinilai.
5. Perbandingan data statistik
Metode ini digunakan untuk mengembangkan pendekatan kuantitatif untuk mengevaluasi koleksi yang berguna untuk pengambilan keputusan.
6. Perbandingan dengan berbagai standar koleksi
Tersedia berbagai standar yang diterbitkan untuk hampir setiap jenis perpustakaan. Standar itu memuat semua aspek dari perpustakaan, termasuk koleksi.
7. Metode pada penggunaan kajian sirkulasi
Metode ini menggunakan dua asumsi dasar dalam kajian pengguna/penggunaan adalah:
1) Kecukupan koleksi buku terkait langsung dengan pemaanfaatannya oleh pengguna
2) Statistik sirkulasi memberikan gambaran yang layak mewakili penggunaan koleksi
8. Meminta pendapat pengguna
Metode ini menggunakan metode survei untuk mendapatkan data persepsi pengguna tentang kecukupan koleksi baik secara kualitatif maupun kuantitatif merupakan salah satu data yang sangat berguna untuk program evaluasi koleksi.
9. Menganalisa statistik pinjam antar perpustakaan
Bila pemakai perpustakaan banyak menggunakan perpustakaan lain bisa jadi ada masalah dengan koleksi perpustakaan itu.
10. Melakukan kajian pengguna di tepat(ruan baca)
Metode ini digunakan untuk melakukan kajian dengan menghitung buku dan jurnal yang ada di meja baca setelah dibaca pengguna dalam waktu tertentu atau dihitung seluruhnya sepanjang tahun.
11. Memeriksa ketersediaan koleksi di rak
Pustakawan perlu melakukan pengumpulan data mengenai ketersediaan koleksi di rak pada kurun waktu tertentu.
12. Evaluasi terbitan berkala
Metode ini digunakan untuk mengevaluasi terbita berkala, adapun proses evaluasi pada terbitan berkala mencakup:
1) Apakah akan melanjutkan atau menghentikan langganan terhadap sebuah judul terbitan berkala.
2) Apakah akan menambah langganan terhadap sebuah judul terbitan berkala yang belum dimiliki.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa proses evaluasi koleksi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode untuk mengevaluasi koleksi perpustakaan. Dari metode-metode tersebut bertujuan untuk menilai
koleksi agar para pengguna perpustakan dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan.
2.4 Standar Nasional Perpustakaan (SNP)
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpsutakaan bahwa “Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah Lembaga Pemerintah Non Kementrian yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan, bertugas menetapkan kebijakan nasional, kebijakan umum dan kebijakan teknis pengelolaan perpustakaan; melaksanakan pembinaan, pengembangan, evaluasi dan koordinasi terhadap pengelolaan perpustakaan;
membina kerjasama dalam pengelolaan sebagai jenis perpustakaan; dan mengembangkan standar nasional perpustakaan.
Perpustakaan Nasional RI sebagai Lembaga Pembina yang harus dapat diteladani dan dirujuk sebagai acuan nasional dalam melaksanakan layanan, pembinaan, dan pengembangan perpustakaan di indonesia.
Dalam melaksanakan salah satu tugasnya, Perpustakaan Nasional RI menyusun Standar Nasional Perpustakaan. Tim Perumus Standar Nasional Perpustakaan yang dibentuk dengan SK Kepada Perpustakaan Nasional RI No.209a/1/a/V.2011 telah menyusun, membahas dan menyepakati 5 (lima) Standar Nasional Perpustakaan, yaitu Perpustakaan Provinsi, Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota, Perpustakaan Kecamatan, Perpustakaan Desa/Kelurahan, dan Perpustakaan Khusus. Pada tahun 2011 di Bogor kelima standar tersebut telah diuji publik dengan mengambil sampel wilayah di Indonesia Bagian Timur, Indonesia Bagian Tengah, dan Indonesia Bagian Barat.
Sesuai PP No. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah bahwa perpustakaan Kabupaten/Kota, merupakan perpustakaan yang diperuntukan bagi masyarakat luas di wilayah Kabupaten/Kota sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial ekonomi, dengan mengembangkan sistem layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan bertanggung jawab atas pembinaan dan pengembangan semua jenis perpustakaan di wilayahnya.
Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota merupakan dasar acuan pendirian, pengelolaan dan pengembangan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang berlaku sama secara nasional.
2.4.1 Standar Nasional Perpustakaan (SNP) Perpustakaan Umum Kabuapten/Kota Tahun 2013
Dalam melaksanakan salah satu tugasnya, Perpustakaan Nasional RI menyusun Standar Nasional Perpustakaan. Tim Perumus Standar Nasional Perpustakaan yang dibentuk dengan SK Kepada Perpustakaan Nasional RI No.209a/1/a/V.2011 telah menyusun, membahas dan menyepakati 5 (lima) Standar Nasional Perpustakaan, yaitu Perpustakaan Provinsi, Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota, Perpustakaan Kecamatan, Perpustakaan Desa/Kelurahan, dan Perpustakaan Khusus. Pada tahun 2011 di Bogor kelima standar tersebut telah diuji publik dengan mengambil sampel wilayah di Indonesia Bagian Timur, Indonesia Bagian Tengah, dan Indonesia Bagian Barat.
2.4.2 Indikator Koleksi Perpustakaan Menurut SNP Tahun 2013
Berikut beberapa indikator koleksi menurut Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota tahun 2013 yaitu:
2.4.2.1 Koleksi
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
a. Koleksi perpustakaan Umum Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Umum Kabupaten/Kota untuk mendukung kebijakan pembangunan daerah.
b. Perpustakaan memiliki jenis koleksi referensi, koleksi umum (koleksi disirkulasikan), koleksi berkala, terbitan pemerintah, koleksi khusus (muatan lokal), koleksi langka, dan jenis koleksi lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
c. Jenis koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan mengakomodasi kebutuhan koleksi berdasarkan tingkatan umur, pekerjaan (profesi), dan kebutuhan khusus, seperti kebutuhan penyandang cacat.
d. Komposisi dan jumlah masing-masing jenis koleksi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pembangunan daerah.
2.4.2.2 Jenis Koleksi
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
1) Koleksi Umum 2) Koleksi Rujukan
3) Koleksi Terbitan Berkala 4) Koleksi Terbitan Pemerintah 5) Koleksi Khusus
6) Koleksi Langka 2.4.2.3 Koleksi Per Kapita
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
Jumlah koleksi perpustakaan Umum Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 0,025 per kapita yakni jumlah penduduk Kabupaten/Kota dikalikan dengan 0,025.
No. Jumlah Penduduk
2 200.000 – 300.000 7.500
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
Koleksi terbaru perpustakaan yang terbit lima tahun terakhir sekurang-kurangnya 5% dari jumlah koleksi yang ada pada tahun berjalan.
2.4.2.5 Pengembangan Koleksi
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
1) Pengembangan koleksi perpustakaan mengacu pada kebijakan pengembangan koleksi sebagai pedoman tertulis yang harus ditinjau sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) tahun sekali.
2) Kebijakan pengembangan koleksi memuat prinsip-prinsip seleksi koleksi perpustakaan, termasuk kriteria yang digunakan seleksi dan penyiangan serta ketentuan-ketentuan yang terkait dengan hadiah dan pertukaran.
3) Pengembangan koleksi melalui kegiatan pengadaan/pembelian koleksi baru sekurang-kurangnya 5% dari jumlah judul koleksi pada tahun berjalan.
4) Pengembangan koleksi memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan kebutuhan masyarakat setempat.
2.4.2.6 Belanja Koleksi Perpustaakaan
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota mengalokasikan anggaran penyelenggaraan perpustakaan sekurang-kurangnya Rp. 1000,- per kapita per tahun.
2.4.2.7 Pengolahan dan Pengorganisasian Koleksi Perpustakaan Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
Pengolahan koleksi perpustakaan dilakukan berdasarkan sistem yang baku.
Proses pengolahan materi perpustakaan dilakukan melalui pencatatan di dalam buku induk dan atau sistem terotomasi, pendeskripsian data bibliografis, dan pengklasifikasian koleksi perpustakaan.
Koleksi perpustakaan harus tertata diruang koleksi paling lambat satu pekan setelah proses pengolahan agar dapat diakses dan dimanfaatkan pemustaka.
a. Seleksi Koleksi Perpustakaan
Seleksi bahan perpustakaan mengacu pada kebijakan pengembangan koleksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Perbaikan dan Perawatan Koleksi Perpustakaan a. Fumigasi koleksi perpustakaan
Perpustakaan melakukan fumigasi atau pembasmian terhadap serangga perusak koleksi perpustakaan setiap 1 (satu) tahun sekali dan atau sesuai dengan kebutuhan.
b. Perbaikan koleksi perpustakaan
Perpustakaan melakukan perbaikan koleksi perpustakaan yang mengalami kerusakan melalui kegiatan berupa penjilidan, dalam rangka perbaikan dan pelestarian bahan pustaka yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali setahun.
c. Pengendalian kondisi ruangan (cahaya kelembaban)
Perpustakaan harus menjaga pencahayaan dan temperatur ruangan guna menghindari kerusakan koleksi.
2.4.2.8 Cacah Ulang dan Penyiangan
Menurut Standar Nasional Perpustakaan tahun 2013:
Perpustakaan melakukan cacah ulang (stock opname) dan penyiangan koleksi sekurang-kurangnya sekali dalam 3 tahun.
Jumlah koleksi yang disiangi sekurang-kurangnya berjumlah 0,0125 eksemplar per kapita per tahun.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono (2009, 15) Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari generalisasi.
Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yanag merupakan suatu nilai di balik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Deli serdang yang beralamat di Jalan Mawar No. 12 Lubuk Pakam.
3.3 Proses Penelitian
Adapun proses penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah
1. Penentuan Informan
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan. Menurut Sugiyono (2009, 300) purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti dan bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.
Tabel 3.1 Idendifikasi Informan
Informan (I) Jabatan
I1 Sekretaris Dinas Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Deli Serdang
I2 Kepala Seksi Pengembangan Koleksi Dinas Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Deli Serdang I3 Pustakawan Bagian Pengolahan Koleksi Dinas
Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Deli Serdang
2. Jenis Dan Sumber Data
Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Data primer yaitu data yang secara langsung diperoleh oleh peneliti dari hasil wawancara dan observasi. Seperti sikap dan pemahaman
dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama dalam melakukan interpretasi data.
2) Data sekunder yaitu data yang mendukung data primer yang bersumber dari buku, jurnal maupun dokumen perpustakaan lain yang berhubungan dengan penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan :
1. Wawancara
Teknik wawancara ini dilakukan secara langsung dengan pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang. Dalam proses
Teknik wawancara ini dilakukan secara langsung dengan pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang. Dalam proses