• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perpustakaan Umum

2.1.2 Tujuan Perpustakaan Umum

Menurut Siregar (2011, 39) menyatakan tujuan perpustakaan yaitu:

“Tujuan utama perpustakaan umum adalah memberikan sumberdaya dan pelayanan dalam berbagai bentuk media kepada penduduk yang membutuhkan, baik kebutuhan pendidikan, informasi, dan pengembangan individu/pribadi, termasuk rekreasi dan mengisi waktu luang”.

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 2) menyatakan pada umumnya suatu perpustakaan didirikan dengan tujuan untuk:

1. Mengumpulkan bahan pustaka, yaitu secara terus-menerus menghimpun sumber informasi yang relevan untuk koleksi.

2. Mengolah atau memproses bahan pustaka berdasarkan suatu sistem tertentu.

3. Menyimpan dan memelihara, yaitu mengatur, menyusun, dan memelihara, agar koleksi rapi, bersih, awet, utuh, lengkap, dan mudah diakses.

4. Menjadi pusat informasi, sumber belajar, penelitian, preservasi, rekreasi, dan kegiatan ilmiah lainnya.

5. Menjadi agen perubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Menurut Hermawan dan Zen (2006, 31) menyatakan tujuan perpustakaan umum antara lain:

1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi.

4. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum bertujuan untuk menyediakan informasi yang mudah, murah, cepat, tepat dan

memberikan kesempatan bagi masyarakat dalam mengembangkan minat baca dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka dalam memperoleh informasi dan menggunakan informasi yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.3 Fungsi Perpustakaan

Menurut Aziz (2014, 17) menyatakan perpustakaan mengemban beberapa fungsi umum sebagai berikut:

1. Fungsi penyimpanan/Deposit

Perpustakaan sebagai institusi penyimpanan koleksi, berkewajiban untuk menyimpan dan melestarikan semua karya cetak berupa buku, jurnal, laporan penelitian, karya ilmiah serta karya rekam berupa kaset, compact disc (CD), piringan hitam, yang telah diterbitkan.

2. Fungsi informasi

Terkait dengan fungsinya sebagai penyedia sumber informasi, perpustakaan merupakan institusi penyedia berbagai informasi atau koleksi yang disesuaikan dengan jenis perpustakaan dan user yang dilayani.

3. Fungsi rekreasi

Fungsi ini memiliki arti bahwa user dalam membaca berbagai koleksi yang tersedia tidak semata untuk memenuhi tujuan praktis, seperti persiapan menghadapi ujian, persiapan mengajar, atau persiapan mencari sumber rujukan penelitian.

4. Fungsi pendidikan

Perpustakaan merupakan sumber belajar dan pendidikan tanpa mengenal batasan usia.

5. Fungsi kultural

Perpustakaan berfungsi kultural atau kebudayaan berarti perpustakaan menyimpan khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya masyarakat.

Menurut Badan Standar Nasional (SNI 7495:2009, 3) menyatakan fungsi perpustakaan umum kabupaten/kota adalah:

1. Mengembangkan koleksi.

2. Menghimpun koleksi muatan lokal.

3. Mengorganisasi materi perpustakaan.

4. Mendayagunakan koleksi.

5. Menyelenggarakan pendidikan pengguna.

6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.

7. Melestarikan materi perpustakaan.

Membantu peningkatan sumber daya perpustakaan di wilayahnya.

Menurut Sutarno (2006, 37) “Perpustakaan umum berfungsi untuk memberikan layanan kepada seluruh lapisan masyarakat, sebagai pusat informasi, pusat belajar, tempat rekreasi, penelitian dan pelestarian koleksi bahan pustaka yang dimiliki”.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum mempunyai fungsi sebagai pusat informasi, rekreasi, penelitian dan sumber informasi bagi masyarakat dengan menyediakan berbagai bahan pendidikan, dan bahan rujukan bagi anggota masyarakat dan melestarikan bahan pustaka agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

2.1.4 Tugas Perpustakaan Umum

Menurut Standar Nasional Perpustakaan (SNP 003:2011, 8) menyatakan bahwa tugas perpustakaan umum adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini.

2. Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup.

3. Menunjang sistem pendidikan formal, non formal, dan informal.

4. Menyediakan sarana pengembangan kreativitas diri anggota masyarakat.

5. Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat sehingga aspirasi budaya lokal dapat terpelihara dan berkembang dengan baik.

6. Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi perpustakaan lain serta berbagai situs web.

7. Menyelenggarakan kerja sama dan membentuk jaringan informasi.

8. Menyediakan fasilitas belajar dan membaca.

9. Memfasilitasi pengembangan literasi informasi dan komputer.

10. Menyelenggarakan perluasan layanan perpustakaan proaktif antara lain melalui perpustakaan keliling.

11. Melakukan pengembangan dan pembinaan perpustakaan kecamatan dan perpustakaan desa/kelurahan diwilayahnya.

12. Menghimpun dan melakukan pemuktahiran data perpustakaan di wilayah dan menginformasikan ke sistem data nasional perpustakanan.

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495:2009, 7) menyatakan tugas perpustakaan umum kabupaten/kota adalah:

1. Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini.

2. Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup.

3. Menunjang sistem pendidikan formal, non formal dan informasi.

4. Menyediakan sarana pengembangan kreativitas dari anggota masyarakat.

5. Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat sehingga apresiasi budaya lokal dapat terpelihara dan berkembang dengan baik.

6. Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi perpustakaan lain serta sebagai situs Web.

7. Menyelenggarakan kerja sama dan menbentuk jaringan informasi.

8. Menyediakan fasilitas belajar dan membaca.

9. Memfasilitasi pengembangan literasi informasi dan komputer.

10. Menyelenggarakan perluasan layanan antara lain melalui perpustakaan keliling.

Menurut Sutarno (2006, 91) menyatakan tugas utama perpustakaan adalah berperan aktif melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan perpustakaan tersebut, dengan cara:

1. Menghimpun , menyediakan, menyiapkan, mengelolah, mengemas, dan memelihara koleksi bahan siap pakai, serta sarana informasi lainnya yang sesuai dengan keperluan perpustakaan dan masyarakat pemakai.

2. Mendayagunakan koleksi, berupa penyediaan sistem layanan, penyiapan tenaga manusia penyediaan sarana dan prasarana, serta menginformasikan/mempromosikan koleksi dan jasa kepada masyarakat.

3. Melaksanakan layanan kepada masyarakat pemakai, termasuk memberikan informasi tentang konsep perpustakaan, bimbingan kepada pemakai yang menemui kesulitan mengakses sumber informasi.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum mempunyai tugas menyediakan, menyimpan, mengelolah, mengemas, dan memelihara koleksi serta menyediakan sarana pengembangan membaca usia dini dan sarana pendidikan seumur hidup agar masyarakat dapat memanfaatkan koleksi yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi yang mereka butuhkan dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari.

2.2 Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan merupakan bagian pokok dari sebuah perpustakaan karena untuk menentukan tingkat keberhasilan sebuah perpustakaan di lihat dari koleksinya. Agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal sebuah perpustakaan harus dapat menyediakan koleksi yang memiliki kualitas isi dan kemuktahiran isi dari koleksi tersebut.

2.2.1 Pengertian Koleksi Perpustakaan

Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 3) “Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan”.

Menurut Suwarno (2010, 81) “Koleksi bahan pustaka adalah sejumlah bahan pustaka yang telah ada di perpustakaan dan sudah diolah (diproses), sehingga siap dipinjamkan atau digunakan oleh pemakai”.

Menurut Badan Standar Nasional (SNI 7495:2009, 3) standar koleksi perpustakaan umum kabupaten/kota adalah sebagai berikut:

1. Koleksi perpustakaan dikembangkan untuk menunjang visi dan misi, tugas pokok, dan fungsi serta kebutuhan masyarakat.

2. Jenis koleksi perpustakaan terdiri atas koleksi karya cetak, karya rekam dan bentuk lain yang mengakomodasikan semua kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan penyandang cacat.

3. Perpustakaan umum kabupaten/kota memiliki koleksi buku sekurang-kurangnya 5.000 judul.

4. Perpustakaan menyediakan koleksi terbitan lokal dan koleksi muatan lokal.

5. Koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

6. Penambahan koleksi buku sekurang-kurangnya 2% dari jumlah judul per tahun.

7. Perpustakaan melakukan pencacahan koleksi sekurang-kurangnya setiap 3 tahun.

8. Perpustakaan melakukan penyiangan koleksi sekurang-kurangnya setiap 3 tahun.

9. Perpustakaan melanggan sekurang-kurangnya 2 judul surat kabar terbitan lokal propinsi dan 2 judul terbitan nasional.

10. Perpustakaan melanggan sekurang-kurangnya 5 judul majalah.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum memiliki berbagai jenis koleksi baik tercetak maupun noncetak yang dilayankan agar dapat memenuhi kebutuhan informasi kelompok masyarakat.

2.2.2 Jenis Koleksi Perpustakaan

Jenis koleksi perpustakaan berbeda-beda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Perpustakaan umum memiliki jenis koleksi yang beraneka ragam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Koleksi perpustakaan umum mencakup semua disiplin ilmu dan dimaksudkan untuk dipakai oleh semua lapisan masyarakat.

Komposisi dan jumlah masing-masing jenis koleksi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pengembangan daerah Sutarno (2006, 71) mengelompokkan bahan pustaka di perpustakaan terdiri atas:

1. Kelompok bahan pustaka umum.

2. Kelompok bahan pustaka rujukan.

3. Kelompok bahan pustaka berkala (majalah dan surat kabar).

4. Kelompok bahan pustaka pandang dengar (audio visual).

5. Kelompok bahan terekam dan elektronik seperti film, kaset, video, dan lain-lain.

6. Kelompok bahan pustaka yang disesuaikan dengan kelompok pembaca, misalnya anak-anak, remaja, dewasa, dan lain-lain.

7. Kelompok bahan pustaka tertentu, misalnya untuk penelitian dan sebagainya.

Sedangkan menurut Hermawan dan Zen (2006, 17) koleksi terdiri dari:

1. Bahan tercetak (printed), seperti: buku, majalah, surat kabar, tesis, skripsi, selebaran, dan lain sebagainya yaang dicetak berbasis kertas.

2. Bahan terekam (recorded), seperti: kaset, video, disket, CD-ROOM, bahan pandang dengar (audio visual), kit, realia, multimedia, dan alin sebagainya yang diregam dalam berbagai media misalnya diatas pita magnetik.

3. Bahan terpasang (online), dimana secara fisik tidak ada di perpustakaan, tetapi dapat diakses melalui jaringan teknologi informasi. E-Books, e-journals adalah contoh koleksi terpasang.

Adapun jenis koleksi menurut Siregar (1999, 3) yaitu:

“Barang cetakan terdiri dari buku-buku majalah, surat kabar, pamplet, lembaran photo, brosur dan bahan-bahan lepas atau terjilid lainnya. Barang rekaman terdiri dari kaset, mikrofilm, mikrofis, slide, piringan hitam, video kaset, CD.Rom, (Compack Disk Read Only Memory) dan lain-lain”.

Dari pernyataan diatas diketahui bahwa perpustakaan umum menyediakan berbagai macam jenis koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka guna mendukung dan meningkatkan kualitas pengetahuan. Koleksi yang dimiliki perpustakaan tidak hanya terdiri bahan pustaka tercetak, tetapi juga bahan noncetak guna memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya.

2.2.3 Koleksi Perkapita

Menurut Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 19) disebutkan bahwa : koleksi bahan pustaka, yang kusus untuk pustaka buku berjumlah sekurang-kurangnya 1000 (seribu) judul. Koleksi ini sudah mengalami pengolahan, sehingga siap dipinjam atau dimanfaatkan masyarakat pemakai.

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495:2009, 3) disebutkan bahwa : perpustakaan umum kabupaten/kota memiliki koleksi buku sekurang-kurangnya 5.000 judul.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa jumlah koleksi (judul) di perpustakaan haruslah disesuaikan dengan jumlah penduduk yang ada di wilayahnya tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di wilayah tersebut.

2.2.4 Pengembangan Koleksi

Pengembangan koleksi disuatu perpustakaan merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan guna untuk memenuhi semua kebutuhan informasi yang tepat yang perlu disediakan bagi pengguna.

Menurut Darmono dalam Iskandar (2017, 24) menyatakan bahwa prinsip-prinsip pengembangan koleksi sebagai berikut:

1. Relevansi

Artinya aktifitas pemilihan dan pengadaan terkait dengan program pendidikan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Berorientasi kepada pemakai. Dengan demikian kepentingan pengguna menjadi acuan dalam pemilihan dan pengadaan bahan pustaka.

2. Kelengkapan

Koleksi perpustakaan diusahakan tidak hanya terdiri dari buku teks yang langsung dipakai untuk mata pelajaran yang diberikan tetapi juga menyangkut bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada dalam kurikulum. Semua komponen koleksi mendapatkan perhatian yang wajar sesuai dengan tingkat prioritas yang ditentukan.

3. Kemuktahiran

Disamping memperhatikan masalah kelengkapan, kemutakhiran sumber informasi harus diupayakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kemutakhiran bahan pustaka dapat dilihat dari tahun terbit.

Jika bahan pustaka diterbitkan pada tahun terakhir, maka dapat dilihat dari kemutakhiran dapat dikatakan mutakhir.

4. Kerjasama

Unsur-unsur yang terkait dalam pembinaan koleksi harus ada kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pembinaan koleksi berjalan efektif dan efisien. Kerjasama ini melibatkan semua komponen yang terlibat dalam pembinaan koleksi seperti kepala perpustkaan, petugas perpustakaan atau pustakawan, guru, serta pihak yang mengadakan pembelian.

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 13) “Pengembangan koleksi adalah semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan dan pengadaan bahan pustaka”.

Menurut Sutarno (2003, 90) “Pengembangan koleksi adalah awal dari pembinaan koleksi perpustakaan, bertujuan agar koleksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai, dan jumlah bahan pustaka selalu mencukupi”. Kegiatan pengembangan koleksi ini terdiri atas pekerjaan-pekerjaan:

1. Menyusun rencana operasional pengembangan koleksi.

2. Menghimpun alat seleksi.

3. Melakukan survei minat pemakai.

4. Melakukan survei bahan pustaka.

5. Membuat dan menyusun desiderata.

6. Menyeleksi bahan pustaka.

7. Pengadaan bahan pustaka.

8. Meregistrasi bahan pustaka.

9. Mengevaluasi dan menyiangi koleksi.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengembangan koleksi yaitu rencana kegiatan untuk memperluas koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan agar sesuai dengan kebutuhan informasi para penggunanya.

2.2.5 Belanja Koleksi Pepustakaan

Perpustakaan sebagai unit kerja yang harus melakukan pembinaan dan pengembangan koleksi mutlak memerlukan anggran setiap tahunnya. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495:2009, 6) menyebutkan sumber anggaran perpustakaan umum berasal dari:

1. Anggaran perpustakaan secara rutin tersedia melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

2. Anggaran dari sumber lain yang tidak mengikat.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 100) menyebutkan pembinaan anggaran perpustakaan mencakup lima hal yaitu:

1. Sumber yang pasti, misalnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) untuk Pemerintah Pusat, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Pemerintah Daerah.

2. Penggunanya sesuai dengan perencanaan kebutuhan, skala prioritas, aturan dan tertib administrasi keuangan yang berlaku. Dikelola secara terbuka, transparan, efisien, berdaya guna dan berhasil, guna, sehingga tujuannya dapat dicapai dengan baik.

3. Dapat dikontrol, diawasi, diperiksa, dan di monitor baik oleh atasan langsung (pengawasan melekat-Waskat), pengawasan fungsional (wasnal) maupun pengawasan masyarakat (waskat) melalui pers, dan dewan perwakilan rakyat, dan perorangan.

4. Jumlahnya diusahakan meningkat, hal ini sesuai dengan meningkatnya kebutuhan, volume kegiatan, bertambahnya pemakai dan berkembangnya keinginan masyarakat.

5. Diupayakan adanya sumber-sumber keuangan yang lain, sejauh memungkinkan untuk digali atau dicarikan.

Menurut Hermawan dan Zen (2006, 22) menyatakan berbagai sumber dana perpustakaan, adakalanya:

1. Dana rutin, yaitu yang sudah ditentukan secara terus menerus untuk pengolahan perpustakaan.

2. Dana proyek, yaitu dana yang disediakan untuk melakukan kegiatan tertentu, misalnya untuk kegiatan otomasi perpustakaan, pembangunan gedung lazimnya disediakan dana khusus untuk kegiatan tersebut.

3. Dana sumbangan yang sifatnya tidak permanen dan hanya sewaktu-waktu (kadang-kadang).

Dari pernyataan diatas dapat diketahui sumber anggaran belanja perpustakaan didapat dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) untuk Pemerintah Pusat, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Pemerintah Daerah dan juga dana dari sumbangan.

2.2.6 Pengadaan Koleksi

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 15) “Pengadaan koleksi merupakan proses penghimpun koleksi yang akan dijadikan koleksi perpustakaan”. Metode pengadaan koleksi yaitu:

1. Pembelian

Penambahan koleksi dengan cara membeli merupakan kegiatan penambahan koleksi yang paling banyak dilakukan oleh perpustakaan.

Dengan cara ini dapat dilakukan pemilihan koleksi yang benar-benar sesuai degan kebutuhan pengguna dan dana yang tersedia.

2. Penerimaan hadiah

Cara lain untuk menambah koleksi adalah dengan menerima hadiah atau dengan megajukan permintaan.

3. Tukar-menukar koleksi

Perolehan koleksi perpustakaan dapat juga dilakukan dengan cara tukar-menukar koleksi dengan perpustakaan lain ataupun instansi tertentu lainnya.

4. Keanggotaan organisasi

Perolehan koleksi perpustakaan juga dapat dilakukan degan menjadi anggota organisasi (keanggotaan institusi atau keanggotaan perorangan).

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 177) pengadaan koleski bahan pustaka dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1. Pembelian baik langsung maupun melalui pihak ketiga.

2. Melakukan tukar menukar.

3. Mendapatkan bantuan/sumbangan.

4. Mengadakan seperti membuat foto copi, membuat duplikasi, membuat CD, dan lain sebagainya.

5. Menerbitkan, termasuk didalamnya membuat kliping koran.

Menurut Siregar (1999, 4) penambahan koleksi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Pembelian

Pembelian dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan memesan langsung kepada penerbit, membeli bahan pustaka melalui toko buku dan dari agen atau distributor.

2. Menerima sumbangan/hadiah/bantuan

Penambahan koleksi dapat juga dilakukan dengan menerima sumbungan buku dari pihak lain baik perorangan maupun lembaga.

3. Tukar menukar

Penambahan koleksi dapat juga dilakukan dengan melakukan tukar menukar, namun perlu ada persetujuan antara kedua belah pihak yang melaksanakannya.

4. Titipan

Perpustakaan dapat memperkaya koleksinya dengan menerima titipan dari pihak lain baik perorangan maupun lembaga.

5. Produksi/penerbitan sendiri

Penambahan koleksi dengan produksi/penerbitan sendiri dapat dilakukan perpustakaan dengan cara menerbitkan indeks, bibliografi, dan terbitan berkala (bulletin) perpustakaan. Dalam melaksanakan pengadaan koleksi perpustakaan, dapat dilakukan melalui tahapan pekerjaan sebagai berikut:

a. Pemilihan bahan pustaka b. Pemesanan

c. Pencatatan dan inventarisasi bahan pustaka

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan dengan pembelian baik langsung maupun pihak ketiga, hadiah, tukar-menukar, titipan dan keanggotaan organisasi.

2.2.7 Pengolahan Koleksi

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 35) “Pengolahan koleksi merupakan proses penyiapan koleksi untuk dapat dilayankan ke pengguna”. Pengolahan koleksi buku meliputi:

1. Inventarisasi

Tahapan pertama pengolahan koleksi buku adalah mendaftar koleksi yang baru datang. Tahap mendaftar koleksi biasa dikenal dengan istilah inventarisasi. Yang pada umumnya mencatat hal-hal sebagai berikut:

1) Tanggal pemesanan

12) Jumlah eksemplar

Katalogisasi merupakan proses pembuatan daftar keterangan lengkap suatu koleksi yang disusun berdasar aturan tertentu. Tahap katalogisasi yaitu:

1. Katalogisasi subjek

1) Subjek dan tajuk subjek 2) Klasifikasi bahan pustaka 2. Katalogisasi deskriptif

1) Penentuan tajuk entri 2) Deskripsi bibliografi 3) Katalog perpustakaan 3. Kegiatan pasca katalogisasi

Setelah kegiatan katalogisasi selesai, selanjutnya memberi kelengkapan pada buku, sehingga siap dilayankan kepada pengguna. Kelengkapan buku yang perplu dipersiapkan meliputi:

1. Label nomor panggil 2. Kartu buku

3. Kantong kartu buku

4. Blanko/slip tanggal kembali (date due) Barcode

Menurut Sutarno (2006, 179) “Pengolahan atau “processing” adalah pekerjaan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan penempatan di rak atau di tempat tertentu yang telah disediakan”. Untuk bentuk yang berbentuk tercetak yakni buku dan sejenisnya, maka pekerjaan pengolahan itu meliputi:

1. Menyusun rencana operasional pengolahan bahan pustaka, meliputi : 1) Menentukan sistem klasifikasi dan katalogisasi yang akan dipakai.

2) Menentukan kebijakan otomasi dan penggunaan komputer dalam mengolah, menyimpan dan menggunakan koleksi.

3) Merancang kartu-kartu, slip buku dan formulir yang diperlukan.

2. Registrasi bahan pustaka

Kegiatan ini adalah mencatat identitas bahan pustaka pada buku induk atau kartu indeks (cardek). Data pustaka yang didaftarkan pada buku induk meliputi :

1) Nama pengarang

2) Judul buku

3) Tanggal diterima di perpustakaan 4) Tahun terbit

5) Edisi ke berapa?

6) Nama penerbit

7) Tempat dan tahun terbit

8) Sumber (membeli, sumbangan atau lainnya)

9) Keterangan lain yang dianggap perlu, seperti harga, jumlah eksemplar dan seri

3. Pengecapan atau stempel perpustakaan pada halaman tertentu, biasanya dibubuhkan di bagian depan, di bagian tengah, dan di bagian belakang.

4. Klasifikasi

Selanjutnya mengklasifikasi adalah kegiatan menganalisis bahan pustaka dan mentukan notasi yang mewakili subjek bahan pustaka dengan menggunakan sistem klasifikasi tertentu. Salah satunya sistem Dewey Decimal Classification (DDC) dan Universal Dewey Classification (UDC) atau sistem yang lain.

5. Katalogisasi

Katalogisasi adalah kegiatan membuat deskripsi data bibliografi suatu bahan pustaka menurut standar atau peraturan tertentu. Katalogisasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1) Katalogisasi sederhana, adalah kegiatan katalogisasi yang hanya mencantumkan informasi data bibliografis, tingkat (level) 1 berdasarkan Anglo American Cataloging Rules (AACR) yaitu : judul asli, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor standar seperti International Standard Book Number (ISBN).

2) Katalogisasi kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumakan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambah antara judul pararel, judul-judul seri, judul terjemah, dan pengarang tambahan.

3) Katalog salinan adalah kegiatan menyalin data bibliografi lain dengan atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.

Kartu-kartu katalog yang dibuat dapat dapat terdiri atas:

1) Katalog pengarang 2) Katalog judul 3) Katalog subjek 4) Katalog klasifkasi 6. Pembuatan kelengkapan pustaka

Pembuat kelengkapan pustaka adalah kegiatan menyiapkan dan membuat kelengkapan pustaka agar pustaka itu siap dipakai, mudah dipergunakan, dan untuk memelihara agar koleksi tetap dalam keadaan baik.

7. Penjajaran kartu (file)

Kartu-kartu katalog yang sudah selesai dibuat (ditik) sesuai dengan format, kemudian dijajarkan (di-file) pada laci atau lemari katalog. Penjajaran

8. Penyusunan koleksi (buku) di rak

Setelah buku atau bahan pustaka selesai diproses dan dilengkapi dengan berbagai kelengkapan tersebut diatas, dan kartu-kartu katalog di jajarkan menurut sistem tertentu. Kemudian bahan pustaka tersebut harus segera disusun atau diatur pada rak buku untuk dilayankan kepada pemakai perpustakaan.

9. Penyimpanan dan pelestarian bahan pustaka

Pekerjaan menyimpan dan pelestarian bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan perpustakaan. Tujuannya agar setiap bahan pustaka selalu terpelihara atau terawat sehingga usianya menjadi panjang, daya pakainya lama, dan penempatannya di rak selalu teratur dan keadaannya selalu bersih.

3) Pendaftaran ke buku induk 2. Klasifikasi Koleksi

4. Penyandian (Pembuatan nomor buku)

5. Kartu buku, kantong buku, lembar tanggal kembali, dan label buku 6. Penyusunan kartu katalog

7. Penyusunan buku dalam rak

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengolahan koleksi adalah kegiatan awal penyiapan koleksi yang lakukan perpustakaan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan penempatan di rak agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang mereka perlukan.

2.2.8 Seleksi Koleksi perpustakaan

Menurut Handayani (2013, 139) menyatakan pustakawan sebagai selektor harus memiliki kriteria seleksi yaitu:

1. Memahami fungsi dan tujuan perpustakaan tempat ia bekerja.

2. Mengenal kebutuhan masyarakat yang dilayani.

3. Mengetahui bahan perpustakaan apa saja yang ada di pasaran.

4. Mengenal prinsip-prinsip seleksi umum, khusus (untuk bidang subyek atau

4. Mengenal prinsip-prinsip seleksi umum, khusus (untuk bidang subyek atau