BAB I LATAR BELAKANG
10. Rancangan dan Implementasi Video Conference
3.1.2. Pengembangan Sumberdaya Manusia
3.1.2.3. Sertifikasi Kompetensi
Dalam hal pemenuhan kebutuhan ideal subsistem manajemen SI/TI di kalangan pemerintah, salah satu masalah yang muncul adalah penentuan jumlah staf terkait serta posisi atau jabatan yang sesuai dengan kompetensi yang ada dalam SI/TI. Istilah dalam kepegawaian yang terdapat dalam jabatan fungsional kemudian harus dilakukan pemetaan dengan posisi yang sesuai SI/TI atau keberadaan seseorang dalam jabatan tertentu.
3.1.2.3. Sertifikasi Kompetensi
Kemajuan ilmu dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta era globalisasi menuntut kualitas SDM yang tinggi dengan kualifikasi tertentu.
Teknologi maju akan membawa manfaat hanya bila dioperasikan oleh sumberdaya yang berkualitas tinggi pula. Demikian juga globalisasi mendorong persaingan yang sangat tajam antar perusahaan dan antar negara. Keberhasilan dalam persaingan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas atau kompetensi pemberdaya manusia.
Globalisasi juga mendorong peningkatan mobilitas teknologi, modal, barang dan jasa serta mobilitas SDM.
Hal ini menuntut perlunya standar mutu barang serta standar kualifikasi atau standar kompetensi SDM. Standar kompetensi mencerminkan kemampuan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan didukung oleh sikap kerja. Penerapannya mengacu pada unjuk kerja dan syarat kerja. Standar kompetensi meliputi faktor‐
faktor pendukung seperti pengetahuan dan keterampilan untuk mengerjakan suatu
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 42 tugas dalam kondisi normal di tempat kerja, serta kemampuan mentransfer dan menerapkan keterampilan dan pengetahuan pada situasi yang berbeda.
Standar kompetensi dapat juga dirumuskan suatu kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas/pekerjaan yang mempersyaratkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja tertentu. Seseorang yang memiliki kompetensi mampu:
• Mengerjakan suatu tugas/ pekerjaan tertentu;
• Mengorganisasikan agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan;
• Melakukan penyesuaian bila terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula;
• Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah dan atau melaksanakan tugas/pekerjaan dengan kondisi yang berbeda.
a. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi
Dalam hal ini Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang disusun para tenaga ahli, pelaku usaha, pemerintah dan lembaga pendidikan dan pelatihan telah ditetapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang mengurus sertifikasi nasional sebagai sebuah standar kompetensi yang dapat dijadikan acuan.
SKKNI adalah uraian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan tertentu.
Standar kompetensi kerja merupakan rumusan yang benar‐benar dikerjakan di tempat kerja pada industri.
Pengembangan sertifikasi kompetensi kerja yang dilakukan oleh BNSP terkait dan terpadu dengan pengembangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) serta pengembangan pelatihan berbasis kompetensi di lembaga‐lembaga pelatihan kerja sebagai kesatuan Sistem Latihan Kerja Nasional (SISLATKERNAS).
Sesuai dengan Pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) Undang‐Undang No. 13 tahun 2003, sertifikasi kompetensi kerja merupakan bentuk pengakuan secara formal terhadap kompetensi kerja yang telah dikuasai oleh lulusan pelatihan kerja atau tenaga kerja
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 43 yang telah berpengalaman. Pengaturan sertifikasi kompetensi kerja ini merupakan bagian integral dari SISLATKERNAS.
Standar kompetensi merupakan ukuran atau patokan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang harus dimiliki seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyarakatkan. Standar kompetensi tidak berarti hanya kemampuan menyelesaikan suatu tugas, tetapi dilandasi pula bagaimana serta mengapa tugas itu dikerjakan. Dengan kata lain, standar kompetensi meliputi faktor‐faktor yang mendukung seperti pengetahuan dan kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas dalam kondisi normal di tempat kerja serta kemampuan mentransfer dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan pada situasi dan lingkungan yang berbeda.
Untuk SKKNI di bidang TI dan Komunikasi ini, baru ada standar yang diterapkan untuk bidang operator dan programmer. Kedua standar ini memberikan beberapa variabel yang sebaiknya dipenuhi oleh operator dan programmer. Harus diakui, beberapa standar kompetensi lain yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi masih harus diterapkan seperti standar untuk administrator jaringan, administrator database, dan administror web.
Standar kompetensi kerja untuk operator dan programer komputer, dibentuk sebagai upaya untuk menyediakan standar kualifikasi dalam penguasaan teknologi informasi.
Standar ini juga diperlukan untuk menyediakan instrumen program dan pengukuran dalam meningkatkan penguasaan komputer, serta menyediakan bahan dasar untuk menyelenggarakan diklat Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Dalam standar kompetensi ini, ada 27 kompetensi yang ditetapkan untuk operator komputer dan 91 kompetensi yang yang ditetapkan untuk programer. Khusus untuk operator komputer, standar kompetensi disiapkan untuk pekerja pada level operasional komputer, dan disusun dalam berbagai jenjang mulai dari asisten operator (8 unit kompetensi), operator muda (7 unit kompetensi), operator madya (6 unit kompetensi) dan operator utama (6 unit kompetensi).
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 44 Unit kompetensi yang disiapkan untuk operator, beragam jenisnya sesuai dengan level kompetensi profesi masing‐masing. Untuk asisten operator misalnya, unit kompetensi ditetapkan mulai dari mengetik pada papan ketik standar, sampai mengoperasikan piranti lunak klien e‐mail. Sedangkan untuk operator utama, bidang kompetensinya mulai dari menjelaskan konsep dan teknik dasar pemrograman, sampai membuat halaman web menggunakan HTML tingkat dasar.
Sementara untuk programer, ada 91 unit kompetensi yang terdiri dari keahlian bidang manajemen (18 unit kompetensi), pemrograman umum (33 unit kompetensi).
Selain itu ada 40 unit kompetensi untuk spesialisasi keahlian, yang terdiri dari pemrograman basis data (6 unit kompetensi), pemrograman web/internet (8 unit kompetensi), pemrograman multimedia (3 unit kompetensi), pengembangan pengujian piranti lunak (4 unit kompetensi), pemrograman dengan program aplikasi (14 unit kompetensi). Khusus untuk spesifikasi keahlian tertentu, masing‐masing bidang boleh dipilih sesuai dengan minat yang ingin ditekuni. Daftar lengkap dari standar kompetensi bidang telematika dapat dilihat di http://www.lsp‐
telematika.or.id
b. Standar Kompetensi Internasional untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kemajuan ilmu dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta era globalisasi yang menuntut kualitas SDM global. Dalam kaitan ini, diperlukan standar kompetensi yang berlaku secara global (internasional). Standar kompetensi ini biasanya dibuktikan dengan dikeluarkannya sertifikat oleh lembaga sertifikasi yang diakui.
Sertifikasi pada umumnya berbasiskan pada produk atau software dari vendor tertentu, meskipun ada juga sertifikasi yang tidak mengacu pada vendor tertentu. Saat ini sertifikasi sudah mulai menjadi kebutuhan bagi banyak praktisi di bidang TI karena sertifikasi merupakan ukuran yang valid dan layak dipercaya untuk menunjukkan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam lingkungan TI yang bergerak sangat cepat.
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 45 Berbagai sertifikasi yang dikeluarkan oleh para vendor biasanya dikelompokkan ke berbagai spesialisasi, seperti desktop specialist, system and network, administration, application development, database programming, dan sebagainya. Cisco misalnya, memiliki tiga jenjang spesifikasi, yaitu Associate, Professional, dan Expert. Dari tiga jenjang tersebut masih bisa memilih spesialisasinya, seperti network design, security, business networking, dan lain sebagainya. Beberapa jenis sertifikasi Cisco yang cukup populer antara lain Cisco Certified Network Associate (CCNA), Cisco Certified Network Professional (CCNP), Cisco Certified Designing Associate (CCDA), Cisco Certified Designing Professional (CCDP), dan Cisco Security Specialist 1 (CSS1). Untuk bisa mengambil CCNP, peserta harus memperoleh sertifikasi CCNA terlebih dahulu, begitu juga untuk jenjang yang lebih tinggi.
Microsoft menawarkan beberapa jenis sertifikasi seperti MCSE (Microsoft Certified System Engineer), MCSA (Microsoft Certified System Administrator), MCSD (Microsoft Certified Solution Developer), MCDBA (Microsoft Certified Database Administrator).
Dari Lotus akan dijumpai program sertifikasi seperti CLS (Certified Lotus Specialist), CLP AD (Certified Lotus Professional System Administration). Sedangkan Oracle memiliki beberapa jenis sertifikasi, seperti OCP DBA (Oracle Certified Professional Database Administrator) dan OCP Developer (Oracle Certified Professional Developer).
Di bidang Internet, ada sertifikasi yang dikeluarkan oleh CIW (Certified Internet Web Master) seperti Master CIW Administrator, Master CIW Enterprise Developer, dan ratusan jenis sertifikasi di bidang internet. Beberapa sertifikasi lain yang tak kalah populer akhir‐akhir ini adalah Java dan Linux. Selain berbagai jenis sertifikasi tersebut, masih banyak jenis sertifikasi lain yang dikeluarkan oleh para vendor maupun lembaga independen lainnya.
c. Program Penyusunan Standar Kebutuhan SDM SIMDKSI
Melihat kondisi SDM terkait dengan bidang TI, salah satu kegiatan yang harus diprioritaskan di bidang kepegawaian di DKSI, adalah pengelolaan SDM TI. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM sesuai dengan kebutuhan bidang TI dalam melaksanakan tugas kepemerintahan dan pembangunan, dengan kegiatan pokok antara lain:
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 46 1. Menata kembali sumber daya manusia aparatur bidang TI sesuai dengan
kebutuhan akan jumlah dan kompetensi, serta perbaikan distribusi SDM terkait;
2. Menyempurnakan sistem manajemen pengelolaan sumber daya manusia aparatur terutama pada sistem karier dan remunerasi;
3. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia aparatur dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya terkait dengan pengelolaan SIM‐DKSI;
4. Menyempurnakan sistem dan kualitas penyelenggaraan diklat PNS khususnya bidang TI;
5. Menyiapkan dan menyempurnakan berbagai peraturan dan kebijakan manajemen kepegawaian terkait dengan TI;
6. Mengembangkan profesionalisme melalui penyempurnaan aturan etika dan mekanisme penegakan hukum disiplin.
d. Pengembangan Karier
Dalam pengelolaan PNS terdapat klasifikasi dalam 3 jabatan, yaitu PNS yang menduduki jabatan struktural, jabatan fungsional, dan fungsional umum (staf administrasi). Secara umum, pengembangan karier PNS tersebut dapat dilakukan melalui program‐program/on the job training. Penugasan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) kepemimpinan dan atau teknis substansi tertentu bagi ketiga jabatan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian, kemampuan, dan keterampilan.
Struktur organisasi masa depan cenderung lebih ramping namun kaya fungsi. Hal ini membuka kesempatan karier PNS ke dalam jabatan fungsional. Di DKSI terlihat belum terdefinisikannya dengan jelas keberadaan jabatan fungsional terkait dengan TI di luar jabatan struktural yang diperlukan untuk menjalankan TI dan lebih spesifik lagi SIM‐DKSI. Di sini diperlukan analisis kebutuhan dan penentuan jabatan yang sesuai untuk bidang TI. Beberapa jabatan fungsional yang spesifik dan terkait dengan pengembangan SIM‐DKSI dapat dilihat di Lampiran 5‐6 di bagian belakang laporan ini. Jabatan ini menjadi lebih luas lebih dari sekadar jabatan fungsional pranata komputer yang saat ini paling sering diasosiasikan dengan penggunaan TI.
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 47 Yang perlu diperhatikan dalam pengisian pejabat fungsional, antara lain, adalah formasi jabatan yang tersedia, lowongan jabatan, serta persyaratan pengangkatan dan pemberhentian. Pengembangan karier pemangku jabatan fungsional harus dengan angka kredit sebagai lambang prestasi kerjanya. Di samping itu, juga dilakukan melalui berbagai program diklat fungsional/teknis dan penugasan lain yang relevan dengan bidang tugas, misalnya sebagai pengajar pada diklat atau training terkait dengan pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi.
Bila angka ideal yang telah disampaikan di bagian ini yang kita gunakan (perbandingan 1:55 untuk IT support), maka kebutuhan IT support untuk DKSI adalah sekitar 30 orang. Jumlah ini hampir sebanding dengan jumlah sub direktorat yang ada di DKSI. Jumlah ini tidak harus dipenuhi oleh klasifikasi sumberdaya manusiaberpendidikan sarjana, karena banyak level pekerjaan atau support untuk TI dapat dijalankan oleh lulusan diploma atau setingkat. Dalam rekomendasi sumberdaya manusia ini, maka IT support termasuk group kerja kecil yang ditempatkan di masing‐masing direktorat (jabatan fungsional pranata komputer yang penempatannya di direktorat, masing‐masing 5 orang).
Kemudian di operasionalisasi Data Center, terdapat Help Desk yang operasional mendukung support pada masalah‐masalah yang timbul dalam penggunaan SI/TI.
Jumlah ideal adalah 2‐3 orang. Selain itu, diperlukan staf untuk manajemen data center yang terbagi dalam manajemen jaringan, administrasi database, administrasi NOC, kemudian staf terkait dengan web support serta multimedia. Jumlah yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan pengelolaan Data Center dan NOC adalah 5‐
10 orang sementara staf lain berhubungan dengan web dan multimedia hampir sama jumlahnya.
Di luar posisi yang spesifik SIM‐DKSI masih terdapat banyak jabatan fungsional yang diperlukan untuk menjamin termanfaatkannya SIM‐DKSI terutama aplikasi‐aplikasi spesifik yang dikembangkan di tiap unit kerja. Jumlah posisi ini termasuk cukup banyak dan pemenuhannya dapat dilakukan bertahap. Lampiran 5‐6 tentang jabatan fungsional memperlihatkan pemetaan posisi yang dibutuhkan yang spesifik pada 4 fungsi atau komponen SIM‐DKSI yaitu komponen terkait Web Developer, Netware,
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 48 Spasial dan Security. Posisi lain yang tidak terpilih, dimasukkan dalam daftar jabatan yang memang diperlukan dan digunakan pada aplikasi‐aplikasi spesifik.
e. Sertifikasi Kompetensi SDM Pengelola SIMDKSI
Dalam kaitan kompetensi penggunaan teknologi informasi, diperlukan SDM yang memiliki sertifikasi kompetensi dari institusi yang berhak mengeluarkan sertifikasi kompetensi tersebut. Program sertifikasi kompetensi ini diarahkan dalam pemenuhan kompetensi dalam skala nasional dan kompetensi yang diakui di tingkat global. Mengingat perkembangan TI yang termasuk sangat pesat, maka pelatihan harus dilakukan berkesinambungan (di‐refresh setiap 2‐3 tahun sekali) dan staf atau pengelola harus dimungkinkan mendapatkan tambahan tingkatan pengetahuan yang lebih luas (pendidikan berjenjang dari keterampilan dasar sampai mahir).
Sertifikasi kompetensi yang diharapkan dicapai oleh SDM adalah sertifikasi kompetensi nasional dari Lembaga Sertifikasi Profesi di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi untuk Operator dan Programmer. Sementara sertifikasi global yang diharapkan dapat dipenuhi oleh beberapa SDM pengelola SIM‐DKSI adalah sertifikasi:
- Pengelolaan jaringan dari CISCO - Administrasi database dari Oracle - Desktop system dari Microsoft
SDM yang memiliki kompetensi berstandar nasional dan internasional ini kemudian diharapkan dapat mendiseminasi pengetahuannya dengan menjadi narasumber untuk pendidikan dan latihan yang sifatnya internal di DKSI (in house training) termasuk di dalam pelatihan yang ada di bawah:
f. Pelatihan Administrator Database
Administrator database bertanggung jawab terhadap kelancaran operasional dari basis data. Ia harus dapat mengatur siapa yang berhak mengakses segala data.
Berbeda dari organisasi atau instansi lain yang pada umumnya hanya menyimpan data tekstual biasa, seorang administrator database untuk SIM‐DKSI mempunyai tugas yang lebih kompleks, karena jenis data yang disimpan lebih beragam. Jika basis data tidak dapat digunakan, maka sudah pasti semua koleksi di dalamnya tidak akan bisa diakses. Mekanisme backup agar data selalu aman dan recovery jika terjadi
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 49 kerusakan data, serta penggabungan data hasil dari berbagai operator pemasukan data juga merupakan tanggung jawabnya. Seorang calon databse administrator sebaiknya mempunyai latar belakang pendidikan sarjana yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manajemen file serta sistem operasi komputer dan diploma informatika.
Materi untuk pelatihan administrator database adalah:
• Sistem manajemen database tingkat lanjut
• Sistem backup data
• Sistem recovery data
• Konversi database dari beragam program dan platform
g. Pelatihan Administrator Sistem Perangkat Lunak
Jika seorang administrator database lebih fokus pada kumpulan koleksi yang ada di dalam database, maka seorang administrator sistem lebih terfokus pada sistem komputer yang meliputi sistem operasi, utilitas‐utilitas serta program aplikasi yang ada di dalamnya. Pengaturan siapa saja yang berhak mengakses sistem termasuk hak aksesnya juga menjadi tanggung jawab seorang administrator sistem. Seorang calon administrator sistem sebaiknya mempunyai latar belakang pendidikan sarjana dengan pengetahuan pengoperasian komputer yang cukup memadai.
Materi yang akan diajarkan pada pelatihan administrator sistem adalah:
• Beragam sistem operasi
• Software aplikasi
• Software utilitas
• Sistem sekuriti
Tabel Kebutuhan Tenaga SI
No Posisi Pendidikan Minimal Jumlah Ideal
1 Programmer S1 4
2 System Analyst/ Program Analyst
S1 1
3 Design Engineer/ Software Engineer
S1 1
Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi | 50
4 System Development S1 1
5 Project Manager S1 1
6 System Administrator 1
7 Database Programmer and Developer
C3 2
8 Application Programmer and Developer
D3 4
9 System Implementor S2 2
10 MIS Director S2 1