• Tidak ada hasil yang ditemukan

SETAN BERWUJUD MANUSIA

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 56-69)

Para guru mengakhiri debatnya. Mereka sakit hati, karena jawaban Gatholoco yang dipandang ngawur, namun sebenarnya mengandung kebenaran. Mereka bersumpah untuk tidak mau bertemu dengan orang model Gatholoco. Sementara Gatholoco merasa prihatin, meski dalam hatinya ia merasa menang berdebat. Melihat kenyataan bahwa para guru yang sebelumnya dianggap memiliki wawasan luas, ilmu agama mendalam, namun dalam prakteknya sangat mudah memvonis orang lain, menghardik orang lain. Tidak ada budi pekerti dalam ucapannya maupun tindakannya. Ia bergumam:

“Lamun wulange manusa, mêsthine pada mangrêti, mring duga lawan prayoga, aywa karêm karya sêrik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanên den kapanggih, yen pinanggih padhang têrang sagung nalar”

Terjemahan: Andai, mereka benar-benar manusia, pastilah akan memahami, akan baik dan buruk, tidak suka gampang menghakimi sesama, oleh karenanya harus ingat kepada yang Maha Pemberi, yang memberikan kemuliaan hidup, carilah (Dia) hingga ketemu, jika telah ketemu akan terang benerang kesadaran ini.

Gatholoco berkseimpulan, jika seseorang mengajarkan ilmu tanpa disertai budi pekerti, maka ia sebenarnya adalah setan yang berwujud manusia. Manusia yang sadar akan baik-buruk, sebenarnya ia menempuh jalan terang, itu juga berarti dia hidup yang sebenarnya. Manusia sejati ialah mereka yang

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 56

unggul, mampu melampaui dualitas (realitas duniawi), tidak seperti para guru itu yang buruk budi pekertinya.

Siapapun mereka yang sudah mencapai terang, ia tidak akan mudah bermasturbasi religius, tidak mudah mencari kepuasan diri karena keunggulan ilmunya dan merendahkan orang (yang nampak) bodoh lainnya. Hanya setan-setan yang berwujud manusialah yang suka melakukan Gatholoco (masturbasi) semaca itu.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 57 TUHAN YANG PEMARAH ATAU RAMAH?

Para guru, sakit hati, merasa kalah berdebat. Kemudian menghadap kepada Kyai Kasan Besari. Singkat cerita, Gatholoco bersedia menghadap Kyai Kaji (Kasan Besari). Kyai Kasan Besar merasa mampu menghadapi Gatholoco, dibanding para guru lainnya, karena merasa menguasai berbagai ilmu, termasuk ilmu Jawa. Dialog sudah memasuki persoalan keselamatan, surga dan neraka. Kyai Kasan Besari menuturkan bahwa jiwa manusia muslim yang menuruti perintah Kanjeng Nabi, seperti shalat, zakat, puasa dan lainnya akan diterima oleh Hyang Widhi, masuk surga. Sementara yang tidak mau mengikuti panutan (Kanjeng Nabi), maka dia menjadi MUSUH TUHAN, kafir, masuk neraka.

Sampai pada penjelasan ini, Gatholoco segera menyergah, dan berucap, “Gatholoco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi”. Jika pemikiran Kyai Guru demikian, itu berarti konyol. Untuk apa Tuhan memusuhi orang kafir, itu berarti tidak percaya kepada Kuasa Tuhan. Gatholoco melanjutkan, “kamulah sesungguhnya yang menghina Tuhan! Membagi-bagi manusia menjadi umat Nabi (dan yang bukan umat Nabi), adanya sebutan kafir itu, siapa yang membuat? Lantas pula siapa yang menciptakan mereka, yang memberikan kemuliaan dan celaka, tiada lain juga Hyang Maha Suci. Jikalau Tuhan mempunyai musuh yang disebut kafir yang katanya murtad kepadaNYA, sebaiknya Dia tidak usah menciptakan, dan mentitahkan (orang kafir) hidup di dunia, sehingga Tuhan tidak repot-repot mempunyai musuh yang membuat Dia

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 58

marah-marah, jikalau memang demikian Allah-mu, tidak mempunyai Budi (Buddhi :Kesadaran)!”.

Membagi-bagi, dengan vonis kafir, musuh dengan orang Islam, hanya pekerjaan sia-sia, yang mengadu domba. Sedangkan Tuhan yang diyakini dalam konsepsi Gatholoco tidak demikian, semua manusia diberi pilihan bebas memeluk agama, Tuhan yang bijaksana, tidak mudah marah-marah.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 59 MALING DUNIA DAN AKHIRAT

Penegasan Kyai Kasan Besari, bahwa semua jiwa orang muslim akan masuk surga,, sementara yang kafir masuk neraka. Pernyataan ini dipertanyakan oleh Gatholoco, dari mana dasarnya pernyataan itu? Apa melihat sendiri? Apa pernah mati, menyaksikan isi neraka dan surga? Kyai Kasan menjawab, itu semua berasal dari kitab suci yang dipelajari. Mendengar jawaban ini, Gatholoco ketawa, dan berkata, “sira santri kêparat, ngandêl marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalan naluri”. (Terjemahan: kamu ini santri keparat, percaya kok sama isi buku, njiplak bukunya orang asing, bukan buku/kitab naluri sendiri).

Kitab berbahasa Arab, tidak mengkaji kitab yang sesungguhnya (kitab diri/nurani). Wawasannu itu semua kamu peroleh dari kitab sembarangan, hingga dangkal. Padahal kamu yakin berbekal wawasanmu itu kamu kelak, mati akan menghaturkannya kepada Gusti Allah, yakni yang memilikinya.Apa seperti itu akan diterima Allah? Sebab segalanya adalah milikNYA, seluruh pujian manusia, ucapan, dzikir, semuanya milik Hyang Agung, tetapi kamu akan mengembalikannya? Apa itu justru tidak berdosa?

Kyai Kasan marah mendengar ulasan Gatholoco ini. “Kamu menghina kitab Rasul”, demikian bentaknya. Gatholoco menjawab, memang aku sudah sering menghina. Tetapi camkan baik-baik, setelah kamu membaca apa yang berbunyi/tertulis di kitab dari kertas, maka wujudkan dalam dirimu, rasakan dan hayati ayatnya yang sudah kau pelajari. Harusnya itulah yang kamu perhatikan. Bukan teks kitab suci

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 60

yang selalu kamu jadikan rujukan, harusnya amalmu sendiri yang melekat dalam diri itulah yang menjadi ayat pada dirimu sendiri. Tentu kamu akan salah lagi, jika tidak demikian, sebab kelak setelah mati, kamu akan membawa yang kamu cintai. Jika hanya bunyi tulisan ayat yang kamu cintai, maka hanya itu yang engkau bawa. Lantas apakah Tuhan akan menerima itu? Manusia sering melupakan kitab (ayat-ayat) yang ada dalam dirinya. Mencari kebenaran, nasehat dan pelajaran tidak mau memperhatikan apa yang sudah ada dalam dirinya. Ini diperparah dengan pengakuan-pengakuan bahwa amal yang dilakukan kelak di kemudian hari adalah miliknya (akibat hanya memahami teks semata). Kitab yang ada dalam diri manusia pada hakekatnya adalah milikNYA, Hyang Agung. Dengan demikian, tidak ada milik yang bisa dihaturkan kelak. Jika menyadari akan kitab diri, manusia akan menemukan bahwa dirinya, hidup di dunia ini hanyalah tinggal memakai, tidak memiliki apapun.

Gatholoco menyebut manusia yang mengaku-ngaku kepemilikan ini adalah sebagai maling dunia dan maling akhirat, “yen mangkono sira kuwe, ora ngamungna neng dunya, olehmu dadi bangsat, aneng akherat dadi pandung, anggawa dudu duweknya”.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 61 MENYEMBAH WAKTU

(Pupuh V, bait 4-7)

Benarkah orang yang rajin shalat itu pasti menyembah Allah? Tulisan berikut adalah ulasan Gatholoco yang menerangkan, yang terjadi tidak demikian adanya. Berikut saya kutip:

“Tanpa gawe jungkar-jungkir, nêmbah salat madhep keblat, clumak-clumik kumêcape, angapalake alip lam, têgêse iku lapal, angawruhana asalmu, urip prapteng kailangan”

Terjemah: Engkau jungkir balik, menyembah, shalat menghadap kiblat, umak-umik membaca do‟a, membaca ayat-ayat suci, tak akan ada gunanya, sebab itu hanya lafal, hanya kalimat. Harusnya melalui shalat, engkau berusaha mengetahui asalmu, jika tidak demikian hidupnya tak akan dapat apa-apa, kehilangan segalanya.

Orang sangat rajin shalat, magrib, subuh, duhur, asar dan isya‟. Bahkan setiap masuk waktunya, selalu mendahulukan shalat, bersegera menjalankannya. Tetapi ya hanya sebatas itu, sebatas mematuhi waktu saja. Jika pemahamannya hanya demikian, maka itu jelas salah pemahaman. Orang sangat mematuhi waktunya, tetapi lalai mencari yang disembah. Padahal, semua manusia diberi rasa, ibarat hidung yang mampu mencium berbagai bau. Hanya mengejar target waktu dan jumlah. Jadinya sepeti yang disampaikan Gatholoco:

“mung mangeran marang wayah, tan mangeran Ingkang Gawe, lamun bêngi sarta awan, pijêr kêtungkul wayah, ora mikir mring awakmu”, hanya bertuhan waktu, tidak menyembah yang

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 62

membuat waktu, siang dan malam hanya sibuk dengan waktu-waktu shalat semata, tidak meneliti diri, tidak berusaha memahami darimana asal diri. Bukankah dalam gerakan shalat diajarkan untuk sujud, rukuk, berdiri dan duduk. Apakah hanya untuk demikian saja? Apakah seumur hidup pada akhirnya mengejar waktu?

Tuhan, yang menciptakan manusia sudah membekali setiap manusia ada rasa wadag, ya itu rasul (utusan), cahaya hidup (ruh kehidupan), demikian pula gerak hati, ya Muhammad. Tiga perkara itu ada pada setiap manusia. Apakah tidak cukup modal itu? Manusia hanya punya “merasa” saja. Merasa ini, merasa itu, merasa memiliki ini, merasa memiliki itu. Melalui shalat, harusnya menyadarkan manusia untuk mengembalikan yang bukan miliknya kepada Pemilik sesungguhnya.

Mendengar uraian demikian, Kyai Kasan membanting kethu (kopyahnya) dan marah, serta bertanya: kemana aku mengembalikannya? Bagaimana aku mengembalikannya? Gatholoco tertawa. Katanya ilmunya sundul langit, kitabnya segudang, menguasai banyak ilmu, bahkan ilmu jawa. Mengapa yang demikian saja masih bertanya? Apakah tidak punya mata?

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 63 ARTI LIMA WAKTU SHALAT

(Pupuh V, bait 14-30)

Setelah kritik Gatholoco terhadap Kyai Kasan soal terjebaknya orang Islam menjalankan shalat lima waktu, yang berujung hanya taat pada waktu, menyembah waktu tanpa mengerti dan mengenal yang disembah, selanjutnya Gatholoco juga mengkritik pemahaman yang salah soal makna lima waktu (shalat wajib). Pemahaman tentang sejarah atau rahasia 5 waktu shalat yang sering diasosiasikan dengan para nabi, dimana shalat subuh dengan nabi Adam, Dhuhur nabi Ibrahim, Ashar nabi Yunus, Magrib nabi Isa, dan isya nabi Musa. Gatholoco mengajukan alasannya: “Sira iku santri blasar, mangka Nabi Muhammad, têtela Nabi Panutup, tunggule nabi sadaya”, (terjemah: Nabi Muhammad itu jelas nabi penutup, puncaknya para nabi), bagaimana sariatnya hanya sekedar mengulang sejarah nabi-nabi sebelumnya? Bukankah jumlah nabi/rasul juga lebih dari lima, mengapa yang lain tidak dijadikan dasar sariat? Jika hanya semata-mata karena sejarah, lantas buat apa shalat menjadi ibadah utama sebagai penyelamat manusia di dunia dan akherat?

Gatholoco kemudian menguraikan, bahwa yang dimaksud shoalat subuh itu shalatnya nabi Adam, adalah ketahuilah bahwa di saat subuh, saat dunia ini gelap keadaannya tidak ada (adam), kosong, maka nabi Muhammad memerintahkan shalat subuh untuk mencari DIA yang ADA (lawan dari Adam). Usaha untuk mencari DIA yang Maha Kuasa, untuk mendapatkan penerang, kesadaran, keluhuran diri. Maka di saat terik matahari yang menggodok manusia, susah-senang. Itulah shalat dhuhur (luhur), mencari Hyang Maha Luhur,

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 64

untuk berusaha mencapai keluhuruan pribadi. Seiring turunnya surya, seiring dengan perkembangan manusia mulai meredup. Begitulah kehidupan, ada kadang di atas (puncak kejayaan), kadang di bawah (rendah, hina), itulah sejatinya mengingatkan waktu ashar (asor) manusia. Shala di waktu ashar adalah menjaga spirit manusia berusaha melampaui rintangan yang menghambat, menyadari kehinaan untuk tetap berusaha mencapai keluhuruan, terang benderang jiwa.

Waktu masih berlanjut, kehidupan memasuki waktu surup, terbenam matahari, manusia diperintah shalat, agar terus berusaha mengetahui (sumurup) akan Hyang Maha Luhur, demikian pula tujuan utama manusia untuk tetap mencari penerangan jiwa yang sejati. Pada akhirnya manusia dan hidupnya sampai pada ujungnya, gelap kembali, membingungkan. Kanjeng Nabi memerintahkan untuk shalat, untuk menangisi nasib diri di saat akhir gelap kehidupan. “Nangisa”, menangislah, itulah waktu shalat isya‟, melalui proses menangis yang sungguh, memasuki relung jiwa yang gelap dan dalam, manusia tetap harus mencari cahaya kehidupan cahaya bulan (yang menerangi malam). Bulan adalah sasih, maka cahaya kasih itulah yang dicari. Shalat pada akhirnya menerbitkan bulan purnama dalam jiwa, rasa kasih sayang dalam diri pribadi. Mendengar uraiang Gatholoco seperti itu, Kyai Kasan heran dan bertanya, “dari mana penjelasan seperti itu?, apa kamu ngarang?”, Gatholoco menjawab, kitab BARUL KALBI, artinya samudra hati. Penjelasan itu bersumber dari keluasan hati yang menyamudra, tanpa batas. Lantas Kyai Kasan bertanya, “apa kamu menjalankan shalat?”, Gatholoco menjawab halus: “sêmbahyang langgêng tan pêgat”, (sembahyangku kekal tanpa putus).

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 65 SHALAT TERUS, TANPA PUTUS

(Pupuh V, bait 30-35)

Ketika Gatholoco menjawab bahwa shalatnya “sembahyang langgeng tan pegat”, bukan berarti dia meninggalkan sariat shalat lima waktu. Pada tulisan #24&25 Gatholoco mengkritik sikap para santri yang sudah merasa menyembah Tuhan melalui rutinitas shalat lima waktu, yang dipatuhi hanya waktu saja, padahal mengenai waktu juga hanya sebentar (kira-kira 5 menit), sisanya dianggap tidak shalat. Dengan kata lain, waktu yang lebih banyak tidak menyembah Hyang Luhur. Itulah kritik sebenarnya Gatholoco kepada Kyai Kasan. Lupa pada tujuan mengenal Hyang Luhur, lupa pada waktu yang berjalan dari subuh sampai malam hari, yang kesemuanya adalah tanda-tanda untuk selalu mengingat kepada Hyang Luhur. Maka, Gatholoco menerangkan sembahyangnya yang tanpa putus:

“Sujud-mami sujud eling, keblatku têngahing jagad, barêng napasku sujude, napasku mêtu mbun-mbunan, salatku mring Pangeran, mêtu saking utêkingsung, sêmbahyangku mring Hyang Suksma”

Terjemah: sujudku adalah kesadaran, kibaltku/fokusku adalah pusat jagad, aku bersujud berbarengan dengan nafasku yang keluar dari ubun-ubun, shalatku kepada Tuhan keluar dari otakku, sembahyangku kepada Hyang Sukma.

Penjelasan ini dapat dijabarkan demikian, bahwa kesadaran kepada Yang Maha Hidup adalah wujud dari sembahyang, mengikuti, taat dan patuh pada Dzat Hidup Sejati, Dia juga sebagai fokus utamanya. Gerakan bersujud (atau gerakan

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 66

lainnya) adalah bentuk dari ketundukan kepadaNYA, dalam setiap napas, saat demi saat, detik demi detik. Shalat, menyembah kepada Hyang Maha Hidup adalah puncak dari usaha keras (melalui olah daya fisik, batin dan pikir), yang kesemuanya tetap terkendali dalam kesadaran.

Gatholoco hendak menegaskan bahwa, waktu shalat, sembahyang tidak dibatasi, meski ada saat-saat tertentu dengan nama tertentu. Ketika bekerja, makan, bermain dan sebagainya, hendaknya kesadaran mengikuti dan tunduk (bersujud) kepada Hyang Maha Hidup itulah shalat tanpa putus. Kesadaran akan Hyang Maha Hidup akan mendorong seseorang untuk terus bisa hidup dengan kesadaran sejati, mampu menghidupkan sekitarnya. Lebih lanjut Gatholoco mengatakan:

“Ingkang mêtu lesan-mami, sêmbahyang mring Rasulullah, kang mêtu irungku kiye, ingkang Dzat pratandhanira, iku taline gêsang, kabeh saking napasingsun, sêbutku Allahu Allah”

Jadi, yang keluar, berbagai aktivitas akibatnya adalah ucapan-ucapan yang terpuji, memuji, mengikuti Rasulullah, mengikuti nurani yang lurus. Yang keluar dari hidung, nafas adalah pertanda adanya hidup, itulah pengikat hidup, tanpanya semua mati. Aktivitas yang tidak mengikuti rasa sejati (rasul), maka sebenarnya adalah kematian. Sebaliknya yang mengikuti rasul (rasa sejati) dia secara otomatis, wiridnya adalah Allah, Allah.

Shalat yang tanpa putus, dengan singkat dapat dikatakan adalah hidup yang bermanfaat, ucapannya, perilakunya adalah terpuji, mengikuti Rasulullah Muhammad, yang memang

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 67

kelak. Gatholoco ingin mengembalikan bahwa shalat itu adalah ibadah yang total dan utuh. Tidak diputus-putus oleh waktu dan ruang. Ketika waktu shalat, seseorang bisa khusu, namun di saat tidak shalat kelakuannya kembali busuk. Ketika di ruang shalat (masjid atau langgar) demikian tunduk, tetapi keluar darinya suka kasak-kusuk dan hati hasud.

Inilah poinnya, Gatholoco mengkritik pada santri yang merasa sudah shalat sempurna, tetapi ucapan dan perilakunya masih suka menghina, tidak menghargai hidup lainnya, tidak berguna. Jika demikian, mereka adalah sedang ngGatholoco, masturbasi, mencari puas dengan shalat yang sudah dilakukan.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 68 #27

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 56-69)

Dokumen terkait