• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKATAN PEMIKIRAN

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 99-117)

(Pupuh VI, bait 36-37)

Saya mencoba menerjemahkan “Pamanggih” sebagai “pemikiran”. Ini saya rujukkan kepada “pemikiran” dari diri. Dalam konteks mengenali diri yang sejati, maka “pemikiran” itu ibarat suara, ya suara yang muncul dari dalam diri, apakah terdengar lewat akal atau hati. Tetapi pada intinya dari dalam diri sendiri. Guru Gatholoco mencoba mengenalkan adanya macam-macam pemikiran yang berseliweran dalam akal atau hati (diri). Ada lima perlmbang untuk menggambarkannya sebagai berikut: “kang dhingin Klêthêking ati, ingkang kaping kalihira, Katêpêking lampah nênggih, Panjriting tangis ping tiga, Kêthuk nutu ping pat nênggih. Cleret Ngantih ping limeku, dene Panjriting wong nangis, lawan Klêthêking wardaya, myang Têpêking wong lumaris, tuhune iku pangucap”.

Pertama adalah seperti “kletheking ati”. Perlambang ini menunjukkan pemikiran itu masih gelap, belum muncul. Kondisi hati atau pikiran yang kosong, tidak sedang berpikir apa-apa, mungkin dapat menggambarkan perlambang pertama. Kedua seperti “ketepek-ing lampah”, langkah kaki. Suara itu sudah mulai terdengar, tetapi lirih. Perlu kejernihan, keheningan memperhatikannya. Lintasan hati, atau pemikiran atau ide muncul masih samar-samar seperti langkah kaki. Ketiga adalah seperti “tangisan”. Ini berarti kadar kejelasan sudah mulai muncul. Dorongan hati atau lintasan hati atau ide mulai jelas terdengar, misalnya “aku ingin ini”. Namun suaranya masih tunggal. Yang keempat adalah seperti “kethuk nutu”, maksudnya seperti orang-orang sedang menumbuk lesung. Suaranya riuh, banyak suara, tidak hanya satu. Dalam

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 99

pemikiranpemikiran atau lintasan hati seperti suara yang ramai sekali. Itulah gambaran yang keempat. Kelima atau terakhir adalah seperti “cleret ngantih”, seperti pelangi.

Mari perhatikan, perlambang pertama dan kelima, tidak menggunakan perlambang suara, tetapi wujud, yakni gelap dan pelangi. Sementara lainnya adalah dengan perlambang suara. Ini menunjukkan bahwa mengenal pemikiran, ide, suara, lintasan dalam diri pada awalnya memang gelap, juga sekaligus tak terdengar. Pada puncaknya, meski tidak terdengar, tetapi terlihat begitu jelas, terang, dan berwarna-warni. Puncak pemikiran dalam diri adalah ketika, diri mampu melihat itu semua, tidak sekedar mendengar. Jauh lebih mengenalnya seperti kemampuan membedakan warna-warna pelangi yang memang berbeda. Jika suara, kelihatannya tidak berbeda, hanya keras dan lemah. Suara ketukan lesung memang beraneka rupa, tetapi iramanya masih kurang bervariasi.

Orang-orang yang mampu mengenal diri lebih baik, biasanya mempunyai kemampuan membedakan ide, pemikiran dan lintasan hati diri sendiri, sejelas dan sejernih melihat pelangi yang memang berwarna-warni, tidak hanya melihat hitam atau putih saja. Jika hanya masih seperti “kletheking ati” ya gelap, ngawur, atau sudah mendengar langkah kaki, itu sebagai satu-satunya suara kebenaran atau justru mengenal suara banyak, tapi belum mampu dibedakan. Pemikiran yang dipenuhi dengan pelangi akan membuat indah sekelilingnya.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 100

Jawablah terdiri dari lima perkara, yang pertama bagaikan Kegelapan hati, yang kedua bagaikan Suara langkah kaki, yang ketiga bagaikan Jerit tangis, yang keempat bagaikan Suara ketukan orang menumbuk padi (jaman dahulu untuk memisahkan padi dengan kulitnya, harus ditumbuk disebuah tempat yang namanya Lesung. Menumbuk padi dalam istilah orang Jawa disebut Nutu. Disaat aktifitas menumbuk padi ini, suara ketukannya akan terdengar indah berirama. Apalagi jika yang melakukan aktifitas lebih dari satu orang. Suara yang terdengar sangat khas. Suara ketukan menumbuk padi ini dikenal dengan sebutan gamelan Lesung.) Cleret Ngantih ping limeku, dene Panjriting wong nangis, lawan Klêthêking wardaya, myang Têpêking wong lumaris, tuhune iku pangucap, martanipun akir kadi.

Dan bagaikan Pelangi yang kelima, maksud dari Jerit tangis, dan juga Kekotoran hati, serta Suara langkah kaki, sesungguhnya adalah lambang dari kegelisahan batin yang tak terucapkan, jika mampu menyadari hal ini maka pada akhirnya.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 101 KOMPONEN RUHANI MANUSIA

(Pupuh VI, bait 40-43)

Guru Gatholoco kemudian mencoba mengajak para santri untuk mengenal tingkatan atau komponen ruhani manusia. Gatholoco membagi komponen ruhani manusia terdiri dari tiga, yaitu yang disebut “Dzating Roh Ilapi ika, kaping pindho Roh Jasmani, kaping têlu Tanpa Prenah, Tanpa Tuduh Tanpa Yekti”. Ini berarti ada yang disebut zat ruh idhofi, ruh jasmani dan Zat Yang Tanpa Arah, Tanpa Tempat dan Tanpa Jumleger. Ruh Idhofi itu mudahnya Nyawa, yang menguatkan hidup manusia, ia nampak pada nafas, sehingga ketika nafas terputus, biasanya menjadi pertanda bahwa manusia itu sudah mati. Yang kedua adalah ruh jasmani. Ruh jasmani berada dalam jasmani, yang diperkuat oleh ruh idhafi. Wujud dari ruh jasmani ada berbentuk nafsu dan rasa. Ketika salah satu anggota tubuh kita tidak berasa, ia biasa disebut mati rasa. Ini berarti ruh yang jasmani yang ada pada anggota tubuh tersebut, mati. Bisa jadi, seluruh jasmaninya tidak bergerak, menunjukkan ruh jasmaninya tidak ada, namun ruh idhafinya masih ada. Yang ketiga adalah, Zat/Ruh yang Tanpa Arah, Tanpa Tempat, Tidak Jumleger, tapi menjadi bagian dari manusia, setiap diri manusia. DIA lah Ruh Ilahi. Setiap manusia memiliki ketiganya. Nah wujud jumlegernya diri manusia itu adalah sebenarnya sebagai bukti nyata ADAnya DIA Yang Tanpa Tempat, Tanpa Arah itu tadi.

Muhammad, sendiri dalam konteks ini bisa diartikan menjadi dua pengertian, seperti dalam baitu berikut:”Nabi Muhammad puniku, anênggih ingkang Majaji, Dzatullah Jasadi ika, kang Kakiki kang Majaji, loro-loroning atunggal, nyatane yen sira kuwi”. Nabi

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 102

Muhammad itu dapat dimaknai hakiki dan majazi. Yang majazi adalah Nabi Muhammad yang lahir di tanah Arab, sebagai manusia. Sementara yang hakiki adalah jauhar awal, ruh idhafi, hidup yang menjadi penguat hidup dan kehidupan makhluk di semesta. Orang biasa menyebutnya Nur Muhammad. Sementara DIA, Hyang Maha Hidup menjadi sumber hidup bagi keduanya, baik majazi dan hakiki. Demikian pula, Muhammad, baik yang majazi dan hakiki juga berada dalam diri manusia. Itulah mengapa, setiap manusia selalu berpotensi menjadi terpuji, dipuji dan memuji.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 103 ANUGRAH SAHADAT

(Pupuh VI, bait 44-45)

Sahadat adalah anugrah. Begitulah guru Gatholoco menyebutnya. Banyak anugrah dalam hidup manusia. Salah satunya adalah anugrah yang berkaitan dengan Iman. Lebih spesifik, guru Gatholoco menyebutnya anugrah Sahadat. Jika, suatu saat ditanyakan ada berapa macamkah anugrah Sahadat? Maka, jawablah ada tiga macamnya. Seperti disampaikan dalam bait berikut: “Martabat Nugrahan iku, lamun sira den takoni, pira nugrahaning Sadat, saurana tri prakawis, iku ingkang ping sapisan, Ngêningake Iman-neki. Ping dwi Ngeningken Tyasipun, ana dene kang kaping tri, Nglampahake Panggaotan”

Jenis pertama adalah anugrah dijernihkannya Iman, dalam hati. Pembagian ini, ingin menunjukkan bahwa ada tiga bagian diri manusia yang menerima anugrah Sahadat, yakni pertama adalah hati, yang di dalamnya menerima Iman, dan mampu menjernihkannya. Jenis yang kedua adalah diberi kemampuan menjernihkan pemikiran/kesadaran. Sahadat, kesaksian akan menjadi anugrah yang luar biasa, mana kala akal pikiran, kesadaran diberi kemampuan untuk berpikir jernih, lurus dengan kesaksiannya. Jenis yang ketiga adalah, anugrah mempraktekkan dalam kehidupan. Ini berarti, anggota badan menjadi alat pembuktian atas sahadat.

Melalui ini, guru Gatholoco sebenarnya mengingatkan kepada para santri untuk dicamkan, bahwa Sahadat yang diucapkan itu belum menjadi sebuah anugrah, mana kala belum mampu merasuk dalam hati dalam menjernihkan iman, membersihkan pemikiran serta kemampuan mempraktekkan dalam

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 104

kehidupan. Ucapan sahadat, bisa-bisa menjadi laknat, bukan anugrah, karena dicap palsu. Hal kedua, yang perlu dicamkan adalah, bahwa keberhasilan dalam beriman, bersih pikira dan perbuatan yang menyepakati sahadat adalah benar-benar anugrah semata, tidak yang lain. Jika, dipandang sebagai prestasi atas jerih payah, manusia bisa jatuh pada “ngrumangsa” yang akhirnya melahirkan sikap masturbasi religius yang parah.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 105 ANUGRAH SHALAT

Jika mencermati uraian atau ajaran guru Gatholoco pada bagian-bagian sebelumnya, sebenarnya kebaikan yang dilakukan manusia itu adalah semata-mata anugrah dari Hyang Hidup, Gusti Allah Ta‟ala. Anda bisa mencermati salah satunya adalah pada #42 yang menerangkan tentang komponen ruh manusia. Di situ ada ruh idafi, ruh jasmani, dan ruh Yang Tanpa Arah, Tanpa Tempat. Di antara itu, paling hanya ruh jasmani yang bisa dikendalikan, itupun melalui perjuangan berat. Ruh Idafi, Nyawa, Hidup, atau Jauhar Awal, tidak bisa dikendalikan. Adakah manusia yang mampu menahan nyawanya melayang? Pergi meninggalkan jasadnya? Nah, shalat sebagai bentuk perbuatan ketundukan kepada Gusti Allah Ta‟ala, tentu tidak bisa dengan mudah dilakukan oleh manusia. Ruh jasmani yang dikendalikan bukan sebuah kekuatan yang pada asalnya mengajak shalat, tetapi lebih melayani kebutuhan jasmani. Oleh karena itu, guru Gatholoco membagi adanya anugrah Shalat itu ke dalam tiga bagian. Mereka disebut “Nugrahaning Salat nênggih, saurana tri prakara, Mêgat Karsa ingkang dhingin, Tinggal Cipta kalihipun, Amadhêp ingkang kaping tri”.

Pertama adalah anurgah megat karsa, yakni memisah, memutus hubungan dengan kehendak yang bersumber dari pemenuhan jasmani (bersumber dari jasmani). Ini juga bisa dikatakan, bahwa anurgah shalat yang pertama adalah diberikannya kemampuan untuk terlepas dari kehendak jasmani semata. Shalat yang berkehendak untuk sehat jasmani, tentu dapat disebut sebagai tujuan yang salah sasaran. Kedua

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 106

adalah meninggalkan lintasan, pemikiran atau kesadaran jasmaniah yang justru dapat menenggelamkan manusia pada ide-ide jasmani, lupa pada pencarian kesadaran kesejatian. Ketiga adalah adanya kemantapan lahir batin. Ini tentu dapat dicapai ketika, dorongan-dorongan indrawi, kekuatan pemikiran yang kaya raya tidak menjadi penghalang, maka kemantapan hati akan dapat diraih. Sekali lagi, kondisi ketiganya semuanya adalah anugrah semata, bukan benar-benar atas kendali diri sendiri, sebab ada ruh idafi, ada DIA Yang Tanpa Arah dan Tempat.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 107 GATHOLOCO BERKELANA

(Pupuh VII 1-9)

Memperhatikan kisah guru Gatholoco dalam serat ini, siapa yang tidak memujinya? Kemenangan-kemenangan berdebat ia raih. Pada akhirnya ia mampu mendapatkan pesantren dan santrinya hasil dari perang berdebat itu. Para santri dan kyai yang sebelumnya menghina dirinya, ditundukkan dalam perdebatan. Sekarang ia sudah menjadi guru di pesantren, santrinya 300 orang. Setelah tuntas sesi pertama memberi wejangan kepada anak santri, ia berkeliling ke beberapa tempat. Mengajak berdebat dengan para tokoh agama, cerdik pandai dan ahli tirakat. Semua mampu ia tundukkan. Namun, pada akhirnya ia jatuh pada sebuah perilaku yang menyimpang sariat, sekaligus tanpa merasa ia telah sombong. Jadi ia terkena pada dosa yang jelas maupun yang sama. Ini seperti cuplikan dalam bait:

”wus ndilalah kerasing Kang Maha Luwih, Gatholoco tyas kalimput, mengku takabur ing batos....” juga dalam bait berikut :”solah tingkah kumlungkung, ngrengkel nakal, remen nyrekal digung, watak edir ilmu sarak den pabeni, mila saya camyahipun..”.

(Sudah menjadi kehendak Hyang Maha Lebih, hatinya dipenuhi dengan rasa sommbong, ... kelakuannya berlebihan, suka nakal dan melawan sariat, maka kesadarannya jatuh...). Dari bait ini, sudah disebutkan jelas, ia nanti akan melawan sariat, atau melanggar sariat, karena ia merasa sudah mampu menguasai ilmu batin yang demikian luas dan tinggi. Itupun disebabkan karena kesombongannnya, atas ilmu yang

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 108

diperoleh. Mengapa demikian? Setelah menang dengan lawan-lawan debatnya, ia bertemu dengan lawan-lawan debat Rsi perempuan bernama Dewi Lupitwati, dari Indragiri.

Ketika ia meninggal pesantrennya sebenarnya ia harus sudah siap behadapan dengan jagad yang luas, beraneka rupa. Dan itu disimbolkan oleh Indragiri, yaitu gunung indra, kumpulan selaksa indrawi, keindangan dunia. Di mana gunung itu dihuni oleh Rsi wanita dan para cantriknya yang semua wanita. Ya, wanita adalah jagad besar, jagad luas. Gatholoco, selama ini sibuk dengan mengenal diri sendiri. Bagaimanakah kemudian ketika ia harus berhadapan dengan jagad besar ini? Yang sebenarnya adalah jagad kecil juga? Nama Lupitwati adalah simbol dari kemaluan wanita, Vagina. Di situlah jantung dan inti dari indra lawan jenis Gatholoco. Lupit, jika diuraikan, menurut saya adalah “panggone aLU nyePIT” atau tempatnya alu (penis) dijepit. Gambaran ini sebenarnya sudah mengarahkan, bahwa yang ideal adalah ada “persetubuhan” antara jagad besar dan kecil, antara penis dan vagina. Tapi apakah yang terjadi demikian? Silakan ikuti serial-serial berikutnya.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 109 MENGENAL PAYUDARA, MENGENAL JAGAD

(Pupuh VIII, bait 7-18)

Saya mencoba menceritakan yang pokok-pokok saja. Perjalanan Gatholoco ke indragiri, kemudian bertemu dengan wanita-wanita cantik. Dewi Lupitwati mempunyai empat cantrik utama, yakni dewi Mlenuk Gembuk, Dudul Mendut, Rara Bawuk dan Rara Bleweh. Seperti disebutkan sebelumnya, tujuan utama Gatholoco adalah menantang berdebat. Perdebatan pertama Gatholoco dengan Dewi Mlenuk Gembuk. Saya lebih sreg jika nama ini sebagai sebutan untuk payudara, yang bentuknya memang menonjol montok dan empuk. Dalam bagian ini (Pupuh VIII), digambarkan bahwa pengenalan terhadap wanita, berfokus pada anggota badan sex. Untuk wanita utamanya adalah payudara dan vagina.

Ibarat sebuah hubungan sex, seolah serat ini mengajarkan untuk menghampiri payudara dulu. Namun, jangan ini yang jadi perhatian kita. Mari kita ikuti teka-teki yang diajukan, sebab ini lah perlambang yang hendak diajukan.

“ana wit agung siji, pang papat, godhongen rolas, kembange tanpa winilis, wohe amung kekalih, mung sawiji trubusipun, mubeng wolu pangiro”. (Terjemah: ada sebuah pohon besar, cabangnya empat, daunnya dua belas, bunganya tak terhitung, buahnya dua, akarnya satu, tetapi bercabang delapan).

Guru Gatholoco yang sudah mafhum atas teka-teki yang diajukan, berlagak bego. Cengengas-cengenges. Seolah ingin terlihat lemah dihadapan para wanita. Lantas ia menjawab teka-teki yang diajukan. Beginilah jawabannya. Bahwa pohon besar itu adalah lambang jagad, dunia, kehidupan. Empat daun

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 110

melambangkan arah, dimensi ruang. Daun dua belas melambangkan waktu, yaitu 12 bulan (1 tahun), sedangkan akar satu itu adalah tahun yang sebenarnya 1, tetapi jumlahnya ada delapan (putaran windu). Ada tahun alip, ehe, dal, dan sebagainya. Buahnya ada 2 adalah perlambang matahari dan bulan. Bunga yang tak terhitung melambangkan bintang, benda-benda langit lainnya yang tak terhitung banyaknya. Ini adalah perlambang jagad, di mana manusia berada dan hidup, yakni ada dimensi ruang dan waktu, alam semesta. Jika, bagian sebelumnya yang memfokuskan pada diri Gatholoco, adalah sebuah proses pengenalan diri melalui diri sendiri (mulai ruhani, pemikiran, batin dan amalan), maka pada bagian berikut ini adalah mengenal yang ada di luar diri. Maka, mengenal jagad, di mana diri (manusia) ini tinggal adalah langkah awal. Alam semesta, benda, hewan, atau makhluk lain di jagad ini adalah pihak lain yang dapat dijadikan cermin, sandaran mengenal diri. Jika Gatholoco, lebih pada proses introspeksi, maka mengenal wanita, bercinta dengan wanita adalah perlambang mengenal diri melalui jagad ini. Inilah sebenarnya bercinta dalam konteks Gatholoco.

Anda bisa mempelajari perilaku bintang, untuk kemudian didiskusikan dengan diri, mengenai kesamaan, perbedaan, dan sebagainya, yang berujung pada introspeksi diri. Begitu pula terhadap langit, bumi, matahari, bulan, waktu harian, bulan, tahun, arah dan sebagainya. Pertanyaan mendasarnya adalah apa manfaat mereka untuk pengenalan diri? Itulah foreplay yang diajukan oleh Gatholoco, melalaui Dewi Mlenuk Gembuk, payudara. Harapannya, klimaksanya adalah bersetubuh bukan? Mengenal jagad, sama persis mengenal diri, melihat jagad, sama juga melihat diri.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 111 SEPASANG BUAH DADA

Teka-teki pertama dewi Mlenuk Gembuk sudah terjawab. Namun, masih ada satu teka-teki lagi yang diajukan olehnya. Begini teka-tekinya: "Ingsun ningali maesa, kathahe amung kêkalih, nanging têlu sirahira" (Aku melihat kerbau, berjumlah dua ekor, akan tetapi mempunyai kepala tiga buah).

Nama Mlenuk Gembuk adalah simbolisasi payudara. Ada sepasang buah dada, payudara. Namun, ia, dewi Mlenuk Gembuk melihat ada dua kerbau, namun kepalanya tiga. Apa maksudnya? Ketika mengenal payudara, Mlenuk Gembuk, Gatholoco membabar pengenalannya akan jagad semesta. Berkaitan dengan ini, ingin ditegaskan bahwa dalam kehidupan di jagad ini, selalu berpasangan, dua buah satu pasang, seperti Mlenuk Gembuk, dua buah dada. Kerbau dalam konteks ini, dalam tradisi mistis Jawa sering diasosiasikan dengan kebaikan, kemuliaan. Kemudian, ia melihat dua kerbau, ini berarti bahwa kehidupan di jagad ini terlihat dua, yaitu baik dan buruk, susah dan senang, dan sejenisnya. Ini adalah satu realitas. Namun, seringkali realitas ini dilihat dalam konsepsi yang lain yakni adanya kepala tiga. Itulah yang dimaksud jawaban oleh Gatholoco, bahwa kepala dua kerbau adalah kepala berpasangan, kerbau jantan dan betina. Namun, ada kepala satu lagi, yakni kepala penis.

Realitas berpasangan dalam kehidupan itu meliputi banyak hal, namun selalu saja ada bentuk lain dari kombinasi atau bukan keduanya. Misal saja, ada susah dan senang, namun ada juga kondisi bukan susah dan senang. Ini adalah realitas baru, sebuah sastra 23 (nanti akan ada realitas sastra 21, atau anda

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 112

bisa membaca sastra 21 pada bagian sebelumnya). Ada manusia yang bersifat baik dan buruk, tetapi sering kali yang terlihat bukan itu. Manusia itu yang mempunyai sifat baik dan buruk sekaligus. Itulah gambaran besar dari jagad semesta ini, penuh dengan sastra 23 (dua kerbau, berkepala tiga).

Melalui teka-teki ini, guru Gatholoco ingin mengingatkan bahwa jagad semesta yang beraneka rupa isinya, ketika di dekati, di dalami akan muncul adanya dua buah (pasangan). Layaknya ketika orang baru melihat Mlenuk Gembuk saja dari luar, ketika di buka ada sepasang, dua buah Mlenuk Gembuk. Dan ternyata, bisa ada satu lagi Mlenuk Gembuk yang muncul, seperti kepala ketiga dari dua kerbau. Ini juga bisa diartikan, hendaknya manusia mencari dan mengenal kepala atau buah dada yang ketiga. Tidak hanya mengenal susah dan senang, atau baik dan buruk semata. Tapi akan banyak variasi yang muncul dalam melihat kehidupan dunia ini.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 113 PUTING PAYUDARA, BELAJAR INTI

(Pupuh VIII, Bait 19-28)

Jika sudah mengetahui dan mengenal payudara, maka di manakah posisi sebenarnya saraf birahi berada? Apakah pada Mlenuk Gembuknya? Atau di tempat lain? Inilah kemudian dalam serat Gatholoco mengajukan cantrik kedua bernama Dudul Mendut. Ya, sesuatu dari Mlenuk Gembuk, yang jika didudul (disentuh dengan jari) kemudian Mendut (bergerak, bergoyang). Putinglah yang saya maksud dari nama Dudul Mendut. Bukankah, dalam merangsang wanita pada payudara, intinya, pusatnya ada di puting? Demikian pula, untuk lebih mengenal kehidupan dunia, anda diajari untuk memperhatikan berbagai inti, pusat perhatian dalam banyak hal. Dudul Mendut merangkumnya dalam sebuah teka-teki, berikut:

a) Ing ngêndi prênahe Iman, di mana letaknya iman? b) ing ngêndi prênahe Buddhi, di mana letaknya budi? c) ing ngêndi prênahe Kuwat, di mana letaknya kuat? d) Ing ngendi prenahe wirang, di mana letaknya malu?

e) apa Kang Luwih Pait, apa yang lebih pahit dari hal yang pahit? f) lan Ingkang Luwih Manis, apa yang lebih manis dari yang manis?

g) Luwih Atos saking watu, apa yang lebih keras dari batu?

h) apa kang Luwih Jêmbar ngungkuli jêmbaring bumi, apa yang lebih luas dari bumi?

i) apa ingkang Luwih Dhuwur saking wiyat, apa yang lebih tinggi dari langit?

j) Apa ingkang Luwih Panas, ngungkuli panasing gêni, apa yang lebih panas dari api?

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 114

l) Luwih Pêtêng saking wêngi, apa yang lebih gelap dari malam? m) êndi aran Ningali, Mana yang disebut melihat?

n) lan êndi Kang Luwih Dhuwur, mana yang lebih tinggi? o) êndi Kang Luwih Andhap, mana yang lebih rendah? p) apa ingkang Luwih Gêlis, apa yang lebih cepat?

q) akeh êndi Wong Gêsang karo Wong Pêjah, banyak mana orang hidup daripada yang mati?

r) Wong Sugih lawan Wong Nistha, yang lebih banyak orang kaya atau miskin?

s) Wong Jalu lawan Wong Estri, yang lebih banyak laki-laki atau perempuan?

t) Wong Kapir lawan Wong Islam, yang lebih banyak orang kafir atau Islam?

Demikianlah, Dudul Mendut mengajari untuk mempelajari berbagai inti dan persoalan mendasar dari banyak hal. Guru Gatholoco menjawab semua teka-teki yang diajukan:

a) Iman itu ada di jantung (hati), (b) Budi itu ada di akal, (c) Kuat itu ada di Otot dan tulang, (d) Malu letaknya ada di mata (jika anda malu melihat, tutuplah mata anda) (e) yang lebih pahit adalah hidup dunia ini menurut mereka yang miskin, (f) bagi yang kaya, hidup dunia ini lebih manis, (g) yang lebih keras adalah hatinya orang sempit pemikirannya (h) apa yang lebih luas dari bumi adalah pandangan manusia, luasnya pandangan manusia, (I) yang lebih tinggi dari langit adalah cita-cita, keinginan, (j) lebih panas dari api adalah hatinya

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 99-117)

Dokumen terkait