• Tidak ada hasil yang ditemukan

=MASTURBASI RELIGIUS=

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "=MASTURBASI RELIGIUS="

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 0

#NgajiGatholco

=MASTURBASI RELIGIUS=

2016

(2)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 1

Pengantar

1-Mengapa Menulis Serat Gatholoco ... 5

2-Menghardik Nasab ... 9

3-Soal Nama Gatholoco ... 10

4-Makna Gatholoco, Sebuah Pembelaan ... 13

5-Mandi (Bersuci) ... 17

6-Halal-Haram ... 20

7-Hidup yang Nikmat? ... 23

8-Mengikuti Rasulullah? ... 26

9-Aku Hidup, Maka Aku Ada ... 30

10-Kematian itu Sangat Dekat ...33

11-Hiduplah dengan Mata dan Telinga ... 36

12-Sudah Buta, Memvonis Buta ... 38

13-Maling ...40

14- Jawa, Tidak Njawani ...42

15-Mbodo ...44

16-Kesaksian Palsu ...46

17-Siapa Aku? ...48

18-Takdir ...50

19-“Setan” Sebagai Asal Manusia ...52

20-Perusak Agama ...54

21-Setan Berwujud Manusia ...56

22-Tuhan Yang Pemarah atau Ramah? ...58

23-Maling Dunia dan Akhirat ...60

24-Menyembah Waktu ...62

25-Arti Lima Waktu Shalat ...64

26-Shalat Terus, Tanpa Putus ...66

27-Pidato Gatholoco ...69

28-Gelap dan Terang ...71

(3)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 2

30-Hidup Itu Sama ...75

31-Introspeksi ...77

32-Energi Super Dahsyat ...80

33-Semua Ada Dalam Diri ...82

34-Kesempurnaan Ilmu ...84 35-Shalat Da‟im ...86 36-Martabat Tiga ...88 37-Berlatih Merasa ...91 38-Martabat Penglihatan ...93 39-Model Lelaku ...95 40-Tingkatan Badan ...97 41-Tingkatan Pemikiran ...99

42-Komponen Ruhani Manusia ...102

43-Anugrah Sahadat ...104

44-Anugrah Shalat ...106

45-Gatholoco Berkelana ...108

46-Mengenal Payudara, Mengenal Jagad ...110

47-Sepasang Buah Dada ...112

48-Puting Payudara, Belajar Inti ...114

49-Rara Bawuk, Ucapan dan Misterinya ...117

50-Rara Bleweh, Rahasia Rasa ...121

51-Dikotomi Kehidupan ...122

52-Dewi Lupitwati, Mengenal Pernikahan ...125

53-Menelanjangi, Tetapi Tidak Disetubuhi ...127

54-Nasehat Buat Para Wanita ...130

55-Anugrah Buddhi ...133

56-Anugrah Ruh dan Sekarat ...136

57-Anugrah Iman, Tauhid dan Makrifat ...138

58-Anugrah Karomah ...140

(4)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 3

Muji syukur, ngarsa Gusi Allah ingkang Maha Murba ing dumadi. Sholawat tur salam katur dumateng Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ugi kagem para sahabatipun, keluarganipun, para malaikat, lan para kyai.

Saya berterima kasih khususnya kepada penulis Serat Gatholoco, juga kepada mereka yang sudah bersusah payah mengumpulkan, mengalihbahasakan, menerjemahkan, menyebarkan di media-media, baik cetak, maupun elektronik. Tanpa keberadaan mereka, buku ini “MASTURBASI RELIGIUS” tidak akan pernah tersaji. Judul ini tentu saya ajukan, sebagai upaya untuk memudahkan memahami bagian terbesar dan inti dari Serat Gatholoco yang saya pahami.

Ini, adalah kumpulan tulisan saya yang saya posting di facebook saya pribadi. Tujuan utama saya adalah mengaji pada Serat Gatholoco. Jika kemudian tulisan ini bermanfaat bagi orang lain, tentu saya sangat bersyukur.

Saya berharap, ini semua membawa berkah buat saya dan keluarga, dan tentu buat para pembaca sekalian.

(5)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 4

#1

MENGAPA MENULIS SERAT GATHOLOCO?

Serat gatholoco merupakan naskah berbahasa Jawa diperkirakan muncul pada abad ke-19. Gayanya vulgar, dengan kata yang kasar, berbeda dengan banyak karya sastra yang lahir pada era itu. Secara umum serat ini dapat saya sebut sebagai gugatan, kritik atas perilaku beragama masa itu. Pada bait pembuka penulis mengakui bahwa karyanya ini muncul akibat kegelisahan, prihatin yang menjadi-jadi, seperti tertuang dalam naskah:

Prana putêk kapêtêk ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kêkêse, têmah bangkit upami nyêlaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.

Apakah kegelisahan ini muncul bisa jadi akibat penulis melihat banyak hal menyimpang dalam praktek beragama. Dengan menulis ini, diharapkan mampu mencari kebenaran yang jelas, jernih dan menentramkan hatinya.

Gatholoco adalah nama tokoh utama dalam naskah ini, meski ada tiga tokoh lain, yaitu Kyai Hasan Besari, Kyai Ahmad Arif dan Abdul Jabar. Pemilihan nama Gatholoco, buat saya sangat menarik. Gatho berarti alat kelamin (yang tersembunyi), loco berarti (mengelus, mengocok). Singkatnya gatholoco dapat saya terjemahkan bebas menjadi masturbasi. Saya mengartikan ini untuk membantu memahami naskah serat secara keseluruhan yang merupakan kritik perilaku beragama, yang menurut penulis dianggap seperti orang masturbasi. Ciri penting masturbasi adalah egois, mencari kesenangan sendiri dan tentu tidak memerlukan orang lain untuk mencapai kesenangan.

(6)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 5

Orang dalam praktek keberagamaannya bisa mirip bermasturbasi. Bisa jadi melalui penampilan yang sarat dengan tanda-tanda atau pernik-pernik yang menunjukkan kesucian dan kesalehan dalam beragama. Melalui pernak-pernik ini, seseorang mampu mereguk kenikmatan, mampu menggairahkan diri dalam beragama kemudian mencapai tarap orgasmus.

Awal bagian serat gatholoco, kritik atas masturbasi beragama ini adalah melalui penampilan dan nama itu sendiri. Gambaran kesalehan tiga guru pesantren dengan atribut pakaian menjadi pembuka.

Bakda subuh wau tiga Kyai, rujuk tyasnya condhong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enjing, sarêng angkatipun.

Murid nênêm umiring tut wuri, samya anggêgendhong, kang ginendhong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iji, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.

Bagaimana ketiga guru tersebut digambarkan sedang ditunggu oleh para santri sehabis subuh. Sementara ada enam santr yang mengawal membawa kitab sebanyak 24 buah, berjalan menuju ke sebuah tempat. Mereka berhenti, beristirahat. Para murid nampak berdzikir penuh khusuk. Namun kemudian didatangi oleh seorang yang buruk rupa.

Penggambaran kondisi ini jelas, antara yang berpenampilan buruk dan berpenampilan soleh. Ia adalah gatholoco yang digambarkan bertubuh pendek, matanya juling, rambut keriting, hidung pesek, dagu tidak lancip, telinga lebar maju,

(7)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 6

pipi kempot, serta gambaran katuranggan yang jelek. Penggambaran kontras ini dihadirkan di awal, seolah mengajak kepada pembaca untuk bersiap-siap menyaksikan dua bentuk yang berlawanan, dua kutub yang siap beradu. Memang demikian, pada bagian-bagian selanjutnya akan dijumpai perdebatan sengit dua kubu ini.

Gatholoco yang berpenampilan jelek itu kemudian mendekat kepada kumpulan santri dan kyainya. Sambil kebul-kebul merokok, yang baunya sangit, gatholoco tetap mendekat dan berbaur. Melihat kelakuan gatholoco seperti ini, murid-murid banyak yang terganggu. Para guru juga demikian, serta mengeluarkan reaksinya. Mereka mengucap istighfar, taawud dan tahlil. Mereka merasa aneh dan janggal menemui manusia semacam itu. Segera saja mereka langsung memberi cap kepada gatholoco:

Janma ingkang rupane kayeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, Padha tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan wêruh sakehing Nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng akherat, rikêl sewu siksane neng dunya kuwi.

Manusia yang berwujud seperti ini, sembari menoleh berkatalah kepada para sahabat (para santri), Lihatlah itu, manusia kurang pengajaran, tidak mengenal Para Nabi, didunia sudah celaka, belum kelak, disiksa di akherat, berlipat seribu siksaannya lebih dari siksaan didunianya kini.

Begitu mudahnyakah manusia memvonis orang lain, hanya karena wujudnya? Penampilannya? Perilakunya yang belum benar-benar terbukti mengancam kehidupan orang lain? Mungkin dengan mengeluarkan vonis itu, kemudian puas? Bahkan dengan membiasakannya bisa mencapai orgasme, yang semakin mengukuhkan kesalehan?

(8)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 7

MENGHARDIK NASAB

Setelah Gatholoco dihardik karena penampilannya, selanjutnya yang dihadirkan sudah melebar ke masalah lain, soal keturunan, nasab. Kalau mau jujur, apakah ketiga guru dan santrinya itu mengenal betul Gatholoco? Oh tentu belum, bahkan soal nama saja, baru ditanyakan kemudian. Berikut ini saya kutip dari bait 9 Pupuh II Dandanggula:

Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan. Terjemahan: Dia (gatholoco)- sesungguhnya bukan anak manusia, tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan, keturunan Hantu atau Wewe, Gatooloco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

Bayangkanlah bagaimana sakit hati anda, jika anda dihardik soal keturunan dari siapa anda. Apalagi menghardik sebagai anak iblis, setan, hantu dan sejenisnya. Dihardik sebagai anak bapaknya, katakanlah memang pernah jadi narapidana akibat mencuri, kemudian disebut anak pencuri saja sakit hati, apalagi ini. Fakta bukan, yang jelas ini spekulasi luar biasa. Bahwa orang yang burup rupa itu mesti anak penjahat, sejahat-jahatnya sama dengan iblis.

(9)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 8

Keberagamaan seseorang seringkali dikaitpautkan dengan nasab, keturunan. Tidak sedikit orang yang mabuk gelar religius karena keturunan ini. Ketika dirinya diketahui keturunan orang-orang suci, saleh dan alim, kemudian melihat orang lain dengan sebelah mata. Apakah kemudian, karena keturuanan seperti itu otomatis dia mempunyai kualifikasi seperti leluhurnya yang dibanggakan? Tentu tidak to? Lagi-lagi kembali kepada prestasi masing-masing diri. Bahkan bagi sebagian yang sadar diri, nasab menjadi beban yang luar biasa berat untuk memberi bukti, bahwa dirinya diupayakan tidak terlalu jauh dengan leluhurnya.

Masturbasi melalui nasab bisa saja dilakukan oleh mereka yang lahir dalam keluarga saleh, alim dan suci.Kondisi ini selalu didengungdengungkan dalam benak, menancap di hati dan menghasilkan sebuah orgasme akan kesalehan diri. Ketika dihadapkan kenyataan orang lain, yang nampak buruk, sontak birahinya membuncah, menderu dan selanjutnya dikocok-kocok, untuk mencapai orgasme. Menghina orang lain yang bernasab tidak semulia dirinya, dengan berbagai sebutan dan spekulasi mengaitkan dengan penjahat atau musuh-musuh orang suci dengan kata lain adalah masturbasi guna mencapai kenikmatan diri sendiri. Begitua nikmat dengan menghardik nasab orang, meninggikan nasab sendiri, padahal nasibnya bisa jadi tidak jauh berbeda.

(10)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 9

SOAL NAMA GATHOLOCO

Serat Gatholoco, bagi saya sekali lagi adalah sebuah kritik atas sikap dan perilaku merasa puas, senang pada diri sendiri. Sementara orang lain atau pihak lain adalah diperlakukan sebagai obyek pemuas belaka. Ibarat sex, maka gatholoco itu memperlakukan pihak lain sebagai perangsang, kemudian berupaya memuaskan diri sendiri, meski pihak lain itu tidak pernah terlibat bersama dalam mencapai orgasme. Yang ada hanyalah khayalan diri.

Jika pada bagian sebelumnya, orgasme batin ini melalui penampilan dan rupa yang buruk pihak lain, maka dalam bagian ini adalah soal nama. Berikut saya kutip bait 13 (masih pupuh II) yang berbunyi:

Lah ta sapa aranira yêkti, sarta manêh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.

Terjemahan: Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

Para guru menanyakan nama, dan dijawab namanya adalah Gatholoco. Ia mengaku sebagai lelaki sejati, rumahnya ditengah

(11)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 10

jagad. Mendengar jawaban ini, para guru langsung tertawa terbahak, bahkan lebih jauh mengumpat, monyet, busyet, nama yang tidak lumrah, nama yang haram dipakai. Kita berhenti sejenak.

Beberapa waktu lalu, soal nama sempat menjadi perhatian banyak orang, sebut saja ada orang bernama Tuhan, Syaitonirojim, bahkan ada yang “.”. Ini tentu tidak lazim. Sebagian orang langsung buru-buru mengeluarkan vonis, bahkan dengan label dan ukuran agama. Seperti para guru itu memperlakukan nama Gatholoco. Langsung distempel HARAM. Bahkan hanya soal nama, seseorang divonis tidak bakal bisa masuk surga. Seperti ungkapan para guru di bait 16, “Tidak patut, namamu itu sangat-sangat jelek, karena sangat tabunya, bukah hanya makruh tapi sudah najis bahkan haram! Itu nama yang mencelakakan, nama yang membuat orang menjadi durhaka, nama yang tidak patut, sudah disebutkan didalam kitab, apabila menghindari hal-hal yang haram jika meninggal kelak pasti akan naik ke surga, yang tidak menghindari hal-hal yang haram pasti kelak masuk neraka”. Seolah, hanya mereka yang mempunyai nama yang lazim dianggap baik sajalah yang layak masuk surga, sementara yang tak lazim, bahkan cenderung porno tidak layak. Potret merasa paling beriman karena memiliki nama yang baik, layaknya orang bermasturbasi, ketika menemu orang lain dengan nama yang tidak lazim, atau dianggap tidak syar‟ie. Nama-nama yang tidak mengambil dari kitab suci bisa dianggap juga tidak suci, najis dan tak layak disandang sehingga akan menjadi penghambat pemiliknya masuk surga.

(12)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 11

diberi nama dari kitab suci. Kadang sebuah sebutan di daerah tertentu sebagai nama yang biasa, tetapi di daerah lain tidak pantas. Apakah kemudian, surga akan menyeleksi nama-nama berdasarkan daerah tertentu? Apakah surga hanya akan menerima nama orang yang berbahasa tertentu?

(13)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 12

#4

MAKNA GATHOLOCO, SEBUAH PEMBELAAN

Sebelum membahas bagian pembelaan ini, saya ringkas dulu tiga bagian sebelumnya. Bahwa Gatholoco adalah pasemon, kritikan menggunakan simbol atau sanepan. Ketika Gatholoco mendekati para santri dan kyainya, dengan penampilan tidak patut/jelek dan rupa yang tak tampan, hardikan bertubi-tubi diterima Gatholoco. Orang-orang yang belum mengenal betul Gatholoco mudah menjatuhkan penilaian, vonis dan menentukan nasib surga dan neraka. Reaksi Gatholoco tidak langsung membalas dengan kemarahan, tetapi dengan asyik kebul-kebul (merokok), makan, cengengas-cengenges dan mabok. Sikap ini semakin membikin kalap dan semakin deras laknat yang diterima Gatholoco.

Ketika ditanya namanya, ia menjawab: “Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad”. Jawaban tegas, namanya Gatholoco, bagi saya adalah sebuah jawaban pasemon, jawaban yang sebenarnya sebagai kritik yang ditujukan kepada penanya. Seolah-olah rasa jengkel yang dipendam akibat hardikan, umpatan dan laknat yang diterima memunculkan jawaban yang terkesan sekenanya, seenaknya dan ngawur. Maka para guru yang mendengar jawabannya, tertawa terbahak-bahak, menganggap gila, semakin meyakinkan bahwa dzon yang sebelumnya disematkan benar adanya. Gatholoco itu manusia yang jelek, baik nama, kelakukan, rupa dan nasab.

Namun, saya memahami itu sebagai jawaban kritis, maka sebutan Gatholoco atau Masturbasi itu ditujukan kepada para pemvonis dan pelaknat, yang begitu mudahnya dikeluarkan

(14)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 13

Selanjutnya Gatholoco menerangkan soal namanya:

Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan

Terjemahan: Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan, Loco artinya Dikocok.

Gatholoco bagi gatholoco tidak jorok. Gatho itu kepala, utama, pemimpin. Letaknya dimana? Pada bait 13 disebut “omahku tengah jagad”, adanya ditengah jagad. Jagad dalam dunia mistik Jawa, ada jagad gede, jagad cilik. Manusia bisa disebut jagad cilik, sementara alam semesta jagad besar. Sebutan besar kecil bisa terbalik, jika itu menyangkut manusia. Berada di tengah jagad, artinya, gato itu ada di tengah diri manusia. Jika konstruksi fisik yang dijadikan ukuran, gato bisa diartikan penis. Bagi saya bukan itu. Gato lebih tepat dirujukkan kepada hati atau rahsa. Mari lanjutkan pada bait 15.

Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya (15) Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang

(15)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 14

Kinisik, satunya lagi Barang Panglusan, akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

Gatholoco dapat disebut dengan tiga nama, yaitu Barang Kinisik, Barang Panglusan dan Lanang Sujati. Sebutan barang kinisik, bisa berarti diisik-isik (dielus-elus). Hati atau rasa manusia itu dielus, dirangsang, dilatih, mengolah berbagai ifnformasi. Tiap hari bisa berbolak-balik rasanya yang muncul. Memang hati itu seperti dikocok terus menerus setiap saat. Kadang sakit, kadang suka, kadang sedih, kadang galau dan sebagainya. Untuk memahami itu pula perlu ditelisik dengan jernih dan teliti. Jika hanya dikocok-kocok saja, yang terjadi ya Gatholoco yang merujuk pada masturbasi hati/rasa.

Hati adalah barang halus, oleh karenanya disebut Barang Panglusan. Sementara sebutan Lanang Sujati/Sejati, adalah hati yang asli, asal, belum terkotori oleh perkara remeh temeh. Sehingga dia akan mudah dikenali pada keempat penjuru dunia (keblat papat) dan lima pancer (pusat). Pemahaman seperti ini akan jumbuh dengan pemahaman masyarakat Jawa pada hati. Hati yang masih asli itu sebagai pertanda hati yang sejati, sebagai Lanang ( LAN= Landepe, tajamnya, NANG= weNANG, kehendak, tekad). Dengan kata lain, Gatholoco itu meliputi tiga hal, pertama berkaitan dengan Kinisik (mengisik-isik, mengocok, mengolah, meneliti) berbagai lintasan hati, Halus (artinya lembut, samar), proses dua hal ini perlu dikuatkan dengan tekad yang tajam, sehingga benar-benar mampu mengetahui rahasia Gato (hati yang tersimpan).

Jika hati sering digosok kotorannya, diredam amarahnya, ditundukkan kesombongannya, itulah Lanang Sejati, ya Gatholoco. Namun jika yang digosok itu adalah rasa marah,

(16)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 15

itulah Gatholoco yang hanya kulitnya, wujud sareatnya, mencari kepuasan sendiri semata, Masturbasi. Proses melocogato, menghasilkan sperma, benih kehidupan.

“Walaupun aku bukan priyayi, akan tetapi namaku adalah Rahasia Mulia, supaya kelak para keturunanku, akan menjadi priyayi besar (18 pupuh II).”

Benih yang terlahir dari proses meloco sejati akan menurunkan priyayi besar, akan menghadirkan manfaat besar bagi sekitarnya. Sebab ia adalah rahasia mulia (sir hati), hati nurani yang jernih, bening dan tersimpan rapi. Namun, jika itu gatholoco yang hanya sekedar Masturbasi, maka dia akan melahirkan angkara murka, kama wutah sak paran-paran (sperma/benih amarah dimana-mana).

(17)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 16

#5

MANDI (BERSUCI)

Memasuki bagian ini, saya akan mengajukan satu poin penting untuk digunakan memahami bagian selanjutnya. Bagian 1 s/d 4 pembaca sudah saya suguhi adanya dua kubu yang berbeda dalam memahami banyak hal. Yang utama adalah soal lahir dan batin, soal nama dan makna nama. Sebut saja, seperti judul serat ini, GATHOLOCO, bagi kalangan guru dinilai nama kotor, jorok dan jelek, yakni berarti masturbasi. Sedangkan bagi Gatholoco sendiri memiliki makna yang mendalam sebagai cermin proses membersihkan hati. Posisi berbeda ini akan berlaku di banyak kasus. Bagian ini perbedaan tersebut pada persoalan mandi, bersuci.

Kebiasaan berwudhu, mandi dalam pengertian sebagai upaya bersuci, kadang menjadi perangsang bagi seseorang untuk merasa suci. Lama-lama, ketka melihat orang yang berpenampilan nggembel, jorok dan jelek, langsung “muncrat” penilaian dan vonis najis. Wudlu dan mandinya, memang menghilangkan najis dan hadas, tetapi malah mengotori hatinya. Masturbasi religius muncul kembali, dalam kasus mandi (bersuci). Berikut ini kutipan dialog antara gatholoco dan para guru.

Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, „ingSUn urip tan nêJA maTI‟, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram (19 Pupuh II)

(18)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 17

selalu menjaga rahasia hati, menjaga jiwa yang asli, menguatkan ketajaman nurani, maka sebenarnya dia menjaga ruh yang hakikatnya tidak mau mati. Kemudian dijawab para guru, bahwa rupa gatholoco seperi hanti, jelek tak pernah tersentuh air. Lagi-lagi soal rupa, soal fisik yang jadi bahan olokan, bahan menyudutkan seseorang. Meski sudah dijelaskan panjang lebar, tetap saja yang diserang adalah rupa. Para guru nampak puas dengan menghina seperti itu. Gatholoco cemberut, dan menimpali. Meski rupanya jelek, tetapi dia tetap bersih. Dengan apa dia harus mandi, untuk membersihkannya? Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga (20 Pupuh II)

Badan manusia (gatholoco) ada unsur air, apakah air bisa mensucikannya? Dengan api? Badan juga ada unsur api. Dengan tanah? Badan juga penuh unsur tanah. Pakai angin? Badan juga sumber angin. Lantas hendak dengan apa aku harus mandi (bersuci), begitu tanya gatholoco kepada para guru.

Menurut para guru, tubuhmu dari sperma, maka layak mandi (bersuci) dengan air. Pandangan ini secara sareat (atau yang berlaku pada nyata dan lazimnya), memang demikian menggunakan air. Tetapi, bagaimana dosa-dosa dalam hati? Apakah cukup dengan air? Itulah sebenarnya yang dimaksud oleh gatholoco. Maka dia menyalahkan pandangan para guru tersebut, dalam memahami sareat. Pandangan ini tentu bodoh (menurut gatholoco), tidak tepat. Hal batin dibahas dengan

(19)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 18

sudut pandang lahir. Meski ia berhubungan, maka itu tidak sepadan.

Untuk bersuci batin (gatholoco itu menyangkut batin/hati), maka gatholoco menegaskan, “ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh Segala macam perbuatan yang salah, itulah mandi yang sesungguhnya bagi manusia, mandi yang sebenar-benarnya mandi”. Tekad untuk menjaga hati dari kotoran hati itulah mandi, membersihkan kotoran hati (melalui berbagai aktivitas) itu juga mandi sejati.

(20)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 19

HALAL-HARAM

Makanan mana yang haram, dan yang halal, secara syariat sudah jelas. Banyak informasi tentang hal ini. Apa saja jenis makanan yang halal dikonsumsi oleh orang Islam sudah diatur, demikian pula informasinya sudah mudah didapat. Namun, perbedaan pandangan (saya lebih melihatnya sebagai bentuk kritik Gatholoco) terhadap masalah halal-haram makanan ini juga terjadi. Gatholoco mengkritik sikap orang-orang yang sebatas memahami halal-haram pada wujud jenis makanan saja, tetapi kurang memperhatikan sisi lain dari makanan itu. Hanya terbatas pada pemenuhan syarat wujud kehalalan.

Mari perhatikan bait-bait berikut:

Najan arak iwak celeng babi, anggêr doyan mêsthi sira pangan, ora wedi durakane, Gatholoco sumaur, Iku bênêr tan nganggo sisip, kaya pambatangira, najan iwak asu, sun titik asale purwa, lamun bêcik tan dadi sêriking janmi, najan babi celenga (22 Pupuh II)

Terjemahan:

Walaupun arak, daging celeng dan babi, asal kamu doyan pasti kamu makan, tidak takut dosa, Gatholoco menyahut, Benarlah dan tidak salah, semua dugaanmu kepadaku itu, walaupun daging anjing, aku teliti asal usulnya, manakala diperoleh dengan jalan yang tidak menyakiti sesama manusia, begitupun juga walau daging babi dan celeng.

Masturbasi religius melalui halal-haram dapat muncul dalam bentuk menilai orang-orang yang memakan makanan haram, seperti arak, babi, anjing, secara otomatis orangnya juga dihukumi najis. Merasa jijik untuk mendekat, tidak mau

(21)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 20

bersikap baik, karena seluruh tubuhnya, dagingnya, darahnya ikut najis akibat makan makanan yang haram (najis). Termasuk semua amal perbuatannya juga najis, tertolak akibat makanan yang dikonsumsi. Sementara, mereka yang merasa hanya makan makanan halal, adalah dirinya suci seperti makanan yang dimakannya, termasuk darahnya dan dagingnya.

Apakah demikian adanya? Bagaimana, katakanlah orang yang sebelumnya suka makan makanan haram, kemudian bertobat, apakah harus membersihkan apa yang sudah masuk dalam tubuhnya? Apakah itu semua tidak dapat diampuni? Demikian beratkah untuk membersihkan diri, bertobat? Gatholoco tidak sepakat dengan yang demikian. Masih ada celah haram dalam makanan, yakni soal cara memperolehnya. Ini, bagi gatholoco juga berdampak sangat serius.

Berikut pendapatnya yang sudah diterjemahkan:

“Walaupun arak daging celeng dan babi, asal kamu doyan pasti kamu makan, tidak takut dosa, Gatholoco menyahut, Benarlah dan tidak salah, semua dugaanmu kepadaku itu, walaupun daging anjing, aku teliti asal usulnya, manakala diperoleh dengan jalan yang tidak menyakiti sesama manusia, begitupun juga walau daging babi dan celeng”. (23 Pupuh II).

Poin utamanya adalah, cara untuk memperoleh makanan tidak melukai, tidak merugikan sesama manusia. Makanan yang dihasilkan dari buah usaha sendiri, seperti menanam, beternak sendiri, berburu di hituan, (bagi gatholoco) jauh lebih menentramkan daripada diperoleh dengan cara mencuri, meski jenis makanan itu halal. Pandangan radikal ini tentu tidak membenarkan manusia hobi makan makanan haram, tetapi

(22)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 21

juga ada halal dan haramnya.

Kasus ini juga berlaku untuk pakaian, perhiasan diri. Banyak orang bisa memperoleh citra penampilan yang luar biasa. Barang-barang yang dipakai bagus, harganya mahal, juga tidak najis. Rutin dicuci, dilaundry bahkan diberi parfum wewangian. Banyak orang menumpuk pakaian. Tiap bulan berburu yang baru. Setiap bepergian berburu merek baru. Jika itu semua hanya menumpuk kesombongan, apakah baju dan perhiasan demikian tidak menjadi kotoran, najis bagi hati? Bagaimana jika makanan, pakaian, perhiasan itu adalah hasil dari mencuri, menipu, atau korupsi? Andai saja Gatholoco menjadi penuntut umum para koruptor, percekcokannya bisa dahsyat, lebih dahsyat dari serat gatholoco sendiri.

(23)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 22

#7

HIDUP YANG NIKMAT?

Setelah perdebatan tentang halal-haram makanan dan pakaian, kemudian berlanjut pada soal bagaimana menikmati makanan dan pakaian itu. Sekali lagi, orang yang sudah terbiasa menghina, merasa diri paling suci, akan juga muncul kebiasaan menilai orang lain tidak bahagia. Kalau toh ada, kemudian akan dengki. Kalau perlu digagalkan kebahagiaan itu. Itulah watak pelaku Masturbasi Religius.

Para guru mengetahui bahwa prinsip Gatholoco soal halal-haram sampai pada cara memperoleh barang. Bagaimana bisa (seperti jaman edan begini) benar-benar memperoleh sesuatunya itu halal seratus persen? Kalau menuruti kemurnian ini, apa bisa kaya? Bisa menikmati hidup yang enak? Seperti tutur para guru dalam bait berikut:

... pantês têmên uripmu cilaka, kamlaratan salawase, tan duwe bêras pantun, sandhangane pating saluwir, kabeh amoh gombalan, sajêge tumuwuh, ora tau mangan enak, ora tau ngrasakake lêgi gurih, kuru tan darbe wisma (26 Pupuh II).

... Pantas jika hidupmu celaka, melarat selamanya, tak memiliki makanan cukup, busana-pun compang camping, semua hanya gombal lusuh, selama hidup, tak pernah memakan makanan enak, tidak pernah menikmati rasa manis dan gurih, makanya kurus kering dan tak memiliki rumah.

Bagi para guru yang menghina ini Gatholoco, dianggap miskin, karena tak ada harta yang dimiliki. Para guru berkata,”pakaian yang kotor langsung kubuang di sampah, bareng kotoranku.

(24)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 23

yang kere, mana bisa kamu menikmati itu?”

Kalau seperti itu, para guru itu tidak beda dengan kebanyakan manusia, bukan orang istimewa. Gelar keagamaan tidak ada nilai lebihnya. Gatholoco, dengan kemiskinannya merasa menjadi istimewa, karena barang-barang yang dimilikinya dibagi dengan sesama, yang baru atau lama demikian juga. Gatholoco rela memakai yang jelek-jelek saja. Rela makan makanan yang tidak enak saja, biarlah yang lain merasakan enaknya. Dia mau meminum yang pahit, sedangkan yang manis bisa dinikmati oleh orang lain.

Gatholoco hanya mencatat, menikmati Sastra 21 (selikur) saja. Sebuah kesadaran akan kesendirian dan kebersamaan. Sadar akan adanya Dzat yang Tunggal, dan hidup berdua (2) dengan Yang Tunggal. Kemiskinan, pahit, tidak enak, juga yang yang enak, kaya dan manis adalah Tunggal adanya. Gatholoco lebih menikmati adanya realitas ganda (2) sebagai sebuah ketunggalan (1), itulah sastra, dinamika hidup yang dicatat dalam hati Gatholoco. Berikut ungkapannya:

“Yang kumakan setiap hari, kupilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit, kotoranku (batin) menjadi gunung, nampak terlihat jelas. Mengolah rasa tidak enak seperti itu, kesadaran akan kotoran diri itu menyakitkan. Ibarat gunung berapi dengan lavanya yang tersimpan, jika akan keluar, memunculkan asap. Semua kotoran diri dimakan (diterima dan diolah dalam batin). Pengolahan itu dilakukan tiap saat. Menerima penderitaan, cobaan, ujian, menyadari kekurangan dan mengolahnya untuk yang bermanfaat. Inilah proses daur ulang melalui batin. Inilah wujud Gatholoco sebagai Barang

(25)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 24

Kinisik yang sejati. Pada akhirnya, dalam menghadapi realitas dunia yang ada baik dan buruk, pahit dan manis, serta berbagai dualitas seperti itu, Gatholoco menunjukkan tekad yang kuat melampauinya”.

Dalam kasus ini, aku ingat pesan guru kejawenku,” jika menghadapi yang dirasa tidak enak, maka bersangkalah, anugrah apa yang hendak Tuhan berikan”. Pun sebaliknya,”jika menemu yang enak, ujian apa yang hendak Tuhan turunkan”. Ketika saya dinyatakan mencapai tahap tertentu, aku diberi pilihan, memilih susu atau racun. Secara alamiah aku memilih susu, sebab susu itu enak dan bergizi. Tetapi guruku mengingatkanku, untuk memilih racun, sebab racun yang diminum bisa diolah menjadi obat. Tentu ini hanya sanepan. Dalam dunia kedokteran, obat sebuah penyakit itu kadang berasal dari penyakit. Imunisasi itu katanya dibuat dari virus.

(26)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 25

MENGIKUTI RASULULLAH?

Jika dalam bagian #7, Gatholoco menggambarkan dirinya yang miskin dan fisiknya kurus, karena itu adalah maboknya pada Rasulullah (utusan Allah). Berikut kutipannya:

Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan (32 Pupuh II).

Terjemahan: Gatholoco menjawab, mengapa diriku kurus, karena mengikuti kehendak Kanjeng Rasul, tiap hari aku turuti, pergi siang dan malam, mengambil candi dan mabuk. Bisa di makan atau dibakar, Allah merestui.

Membaca istilah-istilah dalam serat ini tidak bisa leterlek, seperti yang tertulis. Jika diikuti sejak awal, maka ada konsepsi yang bersifat batin yang diungkap oleh Gatholoco. Ketika dia menyebut kotoran, itu dirujukkan pada dosa. Atau menerangkan namanya sendiri, gatholoco, itu adalah aktivitas membersihkan hati nurani, bukan masturbasi. Pada kutipan di atas menyebut candu dan madat, artinya adalah mabok pada hati nurani. Menuruti bisikan hati yang jernih. Dengan demikian, tentu Allah merestuinya. Jika, perintah nurani (yang disebut Kanjeng Rasul) tidak dituruti, maka dia marah betul, membikin tidak bisa tidur dan menyiksa diri.

Konsepsi Gatholoco tentang Rasul yang sedemikian, mendapat protes keras dari para guru. Menurut mereka yang disebut

(27)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 26

Rasulullah itu ya yang ada di Arab sebagai junjungan manusia sedunia. Mereka menghardik Gatholoco demikian, sehingga tidak pantas Kanjeng Rasul itu mengutus nyandu dan madat. Jelas itu perbuatan haram.

Lagi-lagi ada perbedaan persepsi, meski pada sebutan yang sama. Gatholoco mengatakan bahwa jika Kanjeng Rasul yang disebut itu, maka beliau sudah seribu tahun lebih meninggal, tidak wujud. Meski dengan jungkir balik memuji, belum tentu ditemui. Lantas mengaku mengikuti Rasulullah itu seperti apa? Banyak pihak, akhir-akhir ini berteriak dan bersemboyan mengikuti Rasulullah, namun banyak juga yang berebut kebenaran dan akhirnya bertengkar. Semua atas nama Rasulullah. Padahal yang diikuti adalah kata-kata yang tertulis dalam kitab semata. Penafisran atas teks itu kembali kepada nafsu masing-masing diri. Sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsunya, bukan dawuhnya Kanjeng Rasul. Oleh karena itu, gatholoco mengkritik keras perilaku seperti ini. Mengikuti hati nurani yang sudah terlatih tiap saat membersihkan jiwa, akan mendekatkan kepada Kanjeng Rasul, yakni utusan yang ada dalam diri setiap pribadi manusia. Gatholoco berusaha keras mencari dan mendekatkan diri pada Kanjeng Rasul (utusan) yang ada dalam diri sendiri, bukan yang di luaran, sebab beliau sudah wafat. Berikut sebagian kritik pedas Gatholoco atas memperturutkan hawa nafsu atas nama Kanjeng Rasul:

Rasulullah seda sewu warsi, sira bêngok saking wisma-nira, bok kongsi modot gulune, masa bisa karungu, tiwas kêsêl tur tanpa kasil (36 Pupuh II)

(28)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 27

lalu, kamu teriaki dari rumahmu, walaupun sampai memanjang lehermu, tidak akan berkenan hadir menemuimu? Hanya melelahkan diri sendiri tiada guna.

Padahal, al Quran dan Hadits itu adalah petunjuk yang harusnya meningkatkan kesadaran, memperhalus budi dan mempertajam nurani. Oleh karenanya, perilaku yang suka merendahkan orang lain, menilai orang lain jauh dari Al Quran dan Hadits, tidak mengikuti Rasulullah (padahal belum tentu demikian), adalah sikap gegabah. Lagi-lagi perilaku seperti ini adalah masturbasi religius, merasa dekat sekali dengan Kanjeng Nabi, nyatanya belum tentu.

Gatholoco menyadari apa yang sudah dipaparkan sejak awal, belum tentu benar mutlak adanya. Masih ada kebingungan memastikan kebenarannya. Ini adalah sikap kesatria dia. Kemudian dia meminta pendapat hukum dari para guru. Namun apa jawab mereka? Lagi-lagi hardikan, dan merasa tidak pantas Gatholoco diberi pendapat soal agama, menurut mereka Gatholoco sudah tersesat jauh. Berikut hardikannya: Asru ngucap Nyata sira maling, ora pantês rembugan lan ingwang, sira iku wong munapek, duraka ing Hyang Agung, lamun ingsun gêlêm mulangi, pakartine dursila, mring panjawabipun, ora wurung katularan, najan ingsun datan anglakoni maling, yen gêlêm mulangana, Nalar bangsat paturane maling, yêkti dadi melu kêna siksa,

Terjemahan: Dengan lantang dikatakan: Ternyata kamu maling! Tidak pantas meminta pendapat kami! Kamu orang munafik! Berdosa kepada Hyang Agung! Jika kami sampai

(29)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 28

bersedia memberikan pendapat, tidak urung bakal ketularan (dosanya)! Walaupun kami tidak ikut mencuri, manakala bersedia memberikan pendapat. Sama saja menyetujui perbuatan bangsat seorang maling!

Luar biasa. Dikasih sudut pandang lain, tidak mau, diminta pendapat tidak mau, malah merendahkan dan menghardik. Inikah gambaran watak para guru? Perilaku orang-orang yang merasa paling suci, paling beriman, paling dekat kepada Rasulullah? Daripada terus menerus dihardik, Gatholoco menantang bermain tebak-tebakan, teka-teki. Apa teka-tekinya? Monggo diikuti bagian berikutnya.

(30)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 29

#9

AKU HIDUP, MAKA AKU ADA

Memasuki Pupuh III ini, teka-teki sudah dimulai. Maksud dari teka-teki yang diajukan Gatholoco adalah untuk menguji ketajaman pandangan mengenai kehidupan ini. Ada satu pertanyaan yang diajukan Gatholoco, yaitu: mana yang lebih dahulu/tua, antara Dhalang, Wayang, Kelir dan Blencong (lampu)? Pertanyaan ini perlu dipahamai dalam sebuah pagelaran wayang. Ketiga guru yang diajak teka-teki (Kyai Arif, Kyai Abdul Jabar dan Kyai Manaf) mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Begitulah kehidupan ini, setiap orang juga punya pandangan yang beragam atasnya. Tetapi mana yang paling utama? Yang paling menentukan dalam kehidupan ini? Kyai Arif menjawab bahwa yang paling tua adalah kelir (layar untuk pertunjukan). Baginya kelir itu jelas kelihatan, bahkan sebelum adanya dalang dan wayang. Kyai Jabar menjawab dhalanglah yang paling tua. Pagelaran wayang itu kalau ada dhalang, meski sudah ada kelir dan blencong. Kyai Manaf menjawab bahwa yang lebih tua adalah Wayang (pagelaran wayang). Jika seseorang akan mengadakan pagelaran wayang, maka konsep pagelaran itu sendiri sudah ada, bisa jadi jauh sebelum adanya blencong, dhalang dan kelir. Dalam Dialog di serat Gatholoco, masing-masing saling menyalahkan pandangan yang lainnya. Tetapi menyalahkan pihak lain ternyata belum menjamin benar. Itu juga wujud dari perilaku Masturbasi Religius. Perbedaan pendapat ini seperti kisah beberapa orang buta untuk menggambarkan bentuk gajah. Masing-masing meyakini yang dipegang, yang dekat dan dirabanya, dirasakannya.

(31)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 30

Bagi Gatholoco, justru Blencong itulah yang paling tua. Ini bukan sekedar jawaban yang berbeda atau sengaja beda, tetapi jawaban yang benar-benar menunjukkan kualitas dirinya memahami realitas hidup ini. Mengapa? Katakanlah, semua sudah siap, Dhalang siap, Wayang siap, Kelir siap, penabuh musik siap, sinden siap, dan sebagainya. Tetapi bagaimana kemudian jika tak ada lampu? Apakah kemudian wayang itu nampak sebagai pagelaran? Bisa jadi dhalang tinggal menjalankan wayang, penabuh tinggal memukul alat musik, sinden terus berdendang. Itu semua dilakukan sesuai pakem, meski tak ada blencong, pagelaran bisa berjalan. Sekali lagi, tapi itu tak ada artinya bagi anda yang menonton.

Blencong adalah cahaya, hidup, sadar bahwa dirinya hidup, itulah gambaran blencong. Sebelum saya lahir di dunia ini, alam ini sudah berjalan seperti biasanya. Orang-orang yang sudah terlahir dan hidup di dunia ini sudah hidup, tetapi bagi saya, itu semua tidak berarti apa-apa. Setelah saya lahir, kemudian saya bisa melihat, merasakan, dan sebagainya saya baru benar-benar bisa menyaksikan pagelaran wayang itu, bahkan bisa menikmatinya. Dengan kata, Aku Hidup, Maka Aku Ada. Hidup dalam pengertian tidak sekedar sudah bisa hidup, makan, minum dan sebagainya, tetapi juga dituntut kesadaran bahwa diri ini memang hidup.

Itulah jawaban Gatholoco atas teka-teki sanepan yang diajukan. Banyak orang terjebak, bahwa kelir itu penting. Kelir adalah lambang raga, lambang wujud aktivitas. Sementara wayang adalah sukma sejati mengikuti perintah dhalang (rasul) dalam diri. Dibalik itu semua ada Dzat Hidup Yang Maha Hidup, yang memercikan kehidupan kepada diri manusia.

(32)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 31

ketika diingatkan kepada Dzat Maha Hidup. Tetapi lagi-lagi marah, dan ilmu semacam itu tidak pantas dikeluarkan oleh orang macam Gatholoco. Seolah-olah hanya mereka para guru yang layak membicarakannya, memedarnya. Padahal nyatanya mereka belum memamahinya. Ini juga Masturbasi Religius, merasa paling berhak bicara soal Tuhan, paling berhak mengetahui Tuhan, orang lain dianggap tidak layak.

Guru tiga duk miyarsa, anyêntak sarwi macicil, Rêmbug gunêm ujarira, iku ora lumrah janmi, ... (16 Pupuh III)

Terjemahan: Begitu mendengarnya ketiga Guru, membentak sembari melotot, Apa yang telah kamu katakan, tidak lumrah diucapkan manusia!

Dalam kondisi marah seperti itu, Gatholoco mengajukan pertanyaan. Jika pagelaran wayang telah usai, wayang dan kelir dimasukkan kotak, dhalang berpisah dengan kelir, wayang berpisah dengan blencong, lantas ke manakah perginya wayang dan blencong?

(33)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 32

#10

KEMATIAN ITU SANGAT DEKAT

Seorang bijak mengajukan sebuah pertanyaan: apa yang paling dekat dengan manusia? Jawabany adalah Ajal/Kematian. Meski tiap hari minum vitamin, antitoksin, antiaging, atau bersembungi di bunker, atau pindah ke bulan, ajal itu sudah pasti datang. Karena, ajal itu tidak pernah jauh dari hidup manusia. Gatholoco punya pendirian yang sama, bahwa mati itu selalu bersama-sama dengan hidup manusia. Berikut kutipannya:

Benjang yen sira palastra, urip-mu ana ing ngêndi, saikine sira gêsang, pati-mu ana ing ngêndi, uripmu bakal mati, pati nggawa urip iku, ing ngêndi kuburira, sira-gawa wira-wiri, tuduhêna dununge panggonanira (15 Pupuh III).

Terjemahannya: Kelak jika kalian meninggal dunia, hidup-mu berada dimana? Saat ini kalian hidup, mati-mu berada dimana? Hidup-mu bakal menemui mati, mati akan membawa pergi hidup-mu, dimanakah kematian itu berada? Sesungguhnya (kematian) telah kalian bawa kesana-kemari, tunjukanlah tempat kediamannya.

Hidup ibarat blencong/lampu dalam sebuah pagelaran wayang. Ialah yang membuat pagelaran itu bisa dilihat. Sebaliknya, penonton menyadari adanya pagelaran wayang, melihat aksi dhalang, mendengar suara sinden dan alunan musik gamelan. Melaluinya pula, penonton bisa melihat megahnya kelir yang dibentang. Begitulah, hidup adalah kesadaran akan diri sendiri dan lainnya. Meski, blencong yang

(34)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 33

kelir menjadi jelas eksistensinya. (silakan baca #9).

Bagi para pelaku Masturbasi Hidup seperti diuraikan sebelumnya, tidak menyadari adanya pihak lain yang ada. Seperti kyai Arif yang mementingkan kelir, tidak memandang pentingnya dhalang, wayang atau blencong. Baginya keberadaan kelir itulah yang pokok. Kelir adalah ibarat raga, jagat, rumah tinggal, alam sekitar, ruang, waktu dan sejarah. Mereka yang mementingkan kelir, akan sibuk dengan penampilan dan keberadaan itu semua. Sibuk, asyik dan mabok memperhatikan kelir membuat lupa darata, lupa hidupnya, apalagi hidup lainnya.

Demikian pula yang gila dhalang. Mereka yang sangat gandrung dhalang pakem Banyumasan akan berbeda dengan pakem Kartasura. Ada yang memprotes munculnya Bawor di jajaran punakawan, atau sebaliknya memprotes nama Bagong. Lakon Petruk dadi Ratu tidak disukai, karena dianggap merusak pakem. Dalam agama, bagi pengikut madhab A atau tarekat B, tidak suka bahkan menolak keberadaan lainnya. Karena dhalang adalah pakem itu sendiri, penuntun laku dan teladan.

Mereka yang menganggap (pagelaran) wayang akan terbawa arus membenci Sengkuni, atau memuja Arjuna. Lakon romantisme dan kesaktian Arjuna menjadi kesukaan sementara lakon Jamus Kalimasada tidak disukai. Bagaimana misalnya Bima yang menggunakan gada tiba-tiba diganti dengan panah, akan membuat marah. Banyak orang usil dengan tetangga, mengkiblat artis dan meniru gayanya. Itulah gambaran mereka yang terlalu gandrung pada pagelaran wayang.

(35)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 34

Kondisi seperti itulah yang disebut mati, kematian. Tak ada blencong (lampu) wayang tak nampak apa-apa kecuali gelap. Bahwa yang hanya gandrung pada kelir, dhalang atau wayang lupa, bahwa kegilaan itu sebenarnya telah menutup kesadarannya akan eksistensi diri maupun lainnya. Nah, bagi yang mengetahui peran penting blencong/hidup akan tahu dan bisa menikmati pagelaran wayang, memperhatikan gerakan tangan dhalang, aksi akrobat wayang, dan kemegahan kelir yang dibeber. Manusia di saat masih dalam kandungan, ia hidup dalam pengertian bernyawa. Kemudian bayi, anak-anak, ya hidup. Bahkan dewasa juga hidup, karena ditandai adanya makan dan minum. Tapi manusia yang lupa adanya eksistensi diri dan lainnya, sebenarnya mati, seperti matinya lampu dalam pagelaran wayang, gelap gulita.

Meski demikian, ketika blencong dinyalakan, sering terjadi bahwa penonton (diri) itu mengantuk atau lalai, tidak konsen dalam menyaksikan pagelaran wayang. Menonton wayang ya sekedar menonton saja. Lebih tragis lagi, kalau sebagai penonton, malah dia tidak menyadari bahwa dia sendiri menjadi bagian dari sebuah pagelaran wayang yang lebih besar. Tontotan sudah disuguhkan, tapi penontonnya tidur semua. Apalah artinya? Hanya dapat kenyang tidur. Inilah kematian yang sangat besar. Kematian itu sangat dekat, bergandengan dengan hidup itu sendiri.

(36)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 35

HIDUPLAH DENGAN MATA DAN TELINGA

Orang yang sudah terbiasa melakukan masturbasi religius bisa disebabkan karena masturbasi (kesadaran) hidup. Ia tidak mampu membedakan hidup dan mati, meski antara hidup dan mati itu adanya bergandengan dan beriringan. Bahkan ia tidak mampu menyadari bahwa dirinya itu hidup atau mati. Efeknya menular menjadi kebiasaan masturbasi sosial.

Anda mungkin sudah tahu sebuah binatang yang sering dijadikan gambaran mereka yang punya perilaku memeras hidup orang lain. Ya, lintah, atau sering disebut lintah darat. Lintah darat itu yang manusia. Dalam bait 17 Pupuh III berikut Gatholoco menggambarkan:

Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Terjemahannya: Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

Orang-orang (santri) yang tidak menyadari akan hidupnya, juga matinya dalam hidup, adalah mereka yang mati rasa, tidak memiliki rasa rumangsa. (silakan baca bagian #10). Ibaratnya adalah lintah, yang tidak memiliki mata dan telinga. Tidak

(37)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 36

mampu mendengar suara hati, tidak mampu melihat realitas yang sebenarnya. Tidak mampu membedakan antara madu dan darah, semua dianggap sama, yaitu darah. Kemudian lintah menghisap sekenyang-kenyangnya sampe membesar badannya untuk menampungnya. Ia terlena dengan kenikmatan yang dirasakannya. Yang diperturuti adalah mulutnya, perutnya, kerongkongannya semata.

Tidak mau bersusah payah mendengar, melihat, mengkaji sedalam-dalamnya. Apa yang tertulis oleh dalil ditelan mentah-mentah. Abai pada substansi terjebak pada kulit. Asal itu menguntungkan dirinya, tutup mata, tutup telinga, dijalankan. Selalu berdalih, ini ada dalilnya, itu ada dasar hukumnya. Apa yang diperbuat ada teks nashnya yang sudah jelas, tanpa menggali dengan mata dan telinga lebih sabar, dengan kehalusan rasa yang mendalam. Ilmu sejati tidak diperhatikan. Banyak praktek agama dan kehidupan yang bagi semua pihak sudah didasari atas dalil yang menurutnya paling shohih. Tetapi pada nyatanya, tidak sedikit yang kemudian bertengkar, bahkan saling membunuh. Tidak peduli bahwa mereka adalah tetangganya, saudaranya. Itu semua dirasakan sangat pas menurut rasanya sendiri. Tidak perndah ditimbang dengan rasa orang lain. Yang terjadi adalah kekacauan sosial, kekacauan kemanusiaan.

Dus, para pelaku masturbasi sosial sebenarnya itu tidak memiliki mata dan telinga. Apakah mereka terima jika disebut demikian? Oh, tentu tidak akan menerima. Baginya mata dan telinga adalah milik mereka yang sudah maksimal difungsikan. Ikuti pemaparan bagian selanjutnya.

(38)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 37

SUDAH BUTA, MEMVONIS BUTA

Maka, benar adanya. Mereka tidak terima jika dikatakan tak punya mata dan telinga. Yang terjadi malah sebaliknya. Orang yang mengingatkan, dihardik buta. Berikut kutipan bait 19 Pupuh III:

Têtêp urip tanpa mata, matamu mata soca pring, matamu tanpa paedah, matamu tan migunani, Kyai Guru mangsuli, muring-muring asru muwus, Apa sira tan wikan, mring mataku loro iki

Terjemahannya: Kalian hidup tak memiliki mata! Matamu mata batang bambu! Matamu tak bermanfaat! Matamu tak berguna! Kyai Guru menjawab, marah-marah membentak keras, Apa kamu buta! Tidak melihat jikalau kami punya mata!

Apakah benar, Gatholoco itu buta? Atau mereka yang sebenarnya buta? Gatholoco membuktikan bahwa ucapannya adalah benar adanya. Dia mengajukan beberapa pertanyaan sepele, yang membuat para guru terdiam, tak mampu membantahnya. Jika memang para guru itu memiliki mata, apa memang benar-benar memiliki mata?

Gatholoco mengajukan sebuah soal, jika memang mata itu miliki para guru, tentu mereka bisa mengendalikannya. Bisakah para guru tertidur dengan satu mata? Satu terpejam, satunya lagi berjaga, sehingga masih bisa mengawasi? Atau menulikan satu telinga dan memfungsikan telinga satunya? Apa bisa melakukan itu? Jika tidak, maka itu bukti yang kuat bahwa mereka tidak benar-benar memiliki mata dan telinga, tak memiliki sedikitpun kuasa atasnya.

(39)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 38

Dasar suka masturbasi, diingatkan tetap saja sibuk masturbasi. Para guru tetap ngeyel, jika mereka sejak kecil tidak terpisah dari wajahnya, artinya matanya sudah menempel. Sejak kecil sudah ada, itu semua pemberian Allah. Wah, sebuah pengakuan yang hebat, sudah bawa-bawa Allah segala. Gatholoco tertawa, geli mendengar jawaban itu. Gatholoco mengajukan sederetan pertanyaan. Jika itu pemberian Allah, kapan diberi? Dimana diberinya? Apakah ada saksinya saat pemberian itu? Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, para guru bingung, dan keceplosan menjawab: ya dari bapak-ibu. Meledaklah tawa Gatholoco. Orang tua mana ada yang bisa membuat mata dan telinga? Bikinnya dari apa, bagaimana membuatnya? Semakin jengkel saja, para guru diberi pertanyaan macam-macam yang tidak diduga itu.

(40)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 39

MALING

Para guru yakin, bahwa Allah lah yang telah memberi raga; mata, telinga dan sebagainya. Beginilah tutur mereka:

Guru tiga nulya mojar, Allah Ingkang Maha Suci, ingkang karya raganingwang. Gatholoco anauri, Prênah apa sireki, kalawan Kang Maha Luhur, dene ta pinaringan, mata loro kanan-kering, têlu pisan pinaringan grana lesan (27 Pupuh III)

Terjemahannya: Ketiga Guru lantas berkata, Allah Yang Maha Suci, yang telah membuat raga kami, Gatholoco menyahuti, Punya hubungan apa kalian, dengan Yang Maha Luhur? Sehingga kalian diberikan, kedua bola mata kanan dan kiri, yang ketiga bahkan diberikan hidung dan lesan.

Pertanyaan unik segera diajukan oleh Gatholoco. Jika memang itu pemberian Allah, lantas apa hubungan mereka dengan Allah, sehingga mereka diberi itu semua? Apa jawaban para guru? “karena do‟a-do‟a kami diterima”. Jawaban yang benar-benar luar biasa. Diri merasa dekat dengan Allah, merasa paling disayang, sehingga do‟a pujinya diterimakabulkan.

Mendengar jawaban ini, Gatholoco langsung membentak. Klaim itu semua pada hakekatnya juga milik Allah. Lisan yang membuat klaim itu juga milik Allah, mengapa berani berdalih bahwa semua nikmat itu diberi Allah karena amal dan do‟anya? Perilaku demikian, bagi Gatholoco adalah MALING yang sebenarnya maling. Mencuri milik yang Maha Memiliki. Banyak orang menjadi maling seperti ini, yang tak lain hanya untuk memenuhi hasrat masturbasi religiusnya.

(41)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 40

Mulut, telinga, lisan, raga adalah pinjaman dari Allah. Jika menggunakannya tidak sesuai KehendakNYA, dia telah menyelewengkan, apalagi sampai mengakui kepemilikan dan menggunakan sesuai hawa nafsunya. Kelak akan menjadi pesakitan, dituntu mengembalikan. Padahal tidak pernah tahu darimana asalnya, kemudian dihilangkan, disimpan di alam gaib, dan kelak akan dihadirkan untuk menjadi saksi dalam persidangan. Bagi Gatholoco, tindakan apapun dilumat lembuat, diloco dengan keras, agar tidak sampai jatuh pada hal yang salah. Sebab takut kelak menjadi pesakitan yang tak bisa membuktikan kebenaran apapun.

Bagi sebagian pembaca, jawaban model Gatholoco ini seperti jawaban orang gila. Semua tahu raga itu pemberian dari Allah, tetapi kan nyatanya menjadi milik manusia. Maka semua terserah manusianya mau menggunakan untuk apa. Gatholoco hanya mengingatkan, bahwa itu semua ada pemilik yang sebenarnya. Bahkan bukti sederhana yang menunjukkan kepemilikan adalah pada mata, yang tak bisa diatur sesuai kehendak manusia. Jangan sampai menjadi maling, mencuri milik Allah. Itu mungkin masih lazim, tetapi jika mencuri kuasa Allah? Mengklaim bahwa amalanya, do‟anya sudah pasti diterima, sudah pasti masuk surga sebab amal perbuatan dan ibadahnya. Seolah olah mereka pemilik surga dan neraka, seenaknya mengatur siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang pantas di neraka. Bukankah itu mencuri KekuasaanNYA? Bukankah seperti itu sama saja dengan membunuh Allah, dalam pengertian meniadakan Allah sebagai Maha Kuasa?

(42)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 41

JAWA, TIDAK NJAWANI

Setelah berbagai debat antara Gatholoco dan tiga guru pada pupuh pertama, sampai sebagian pupuh tiga ini, perseteruannya tidak berhenti. Gatholoco merasa heran dengan sikap para guru yang mudah marah, menghina, memvonis keburukan pada Gatholoco. Sampai-sampai Gatholoco meragukan asal para guru. “Apakah kalian itu orang Asing? Jika, sama-sama orang Jawa, mengapa kalian tidak Njawani sama sekali?”, begitu kira-kira pertanyaan yang diajukan. Namun lebih lengkapnya dibaca pada bait ke-36 berikut:

Apa sira wong Benggala, Guru tiga anauri, Ingsun iki bangsa Jawa, Muhammad agama-mami, Gatholoco nauri, Sira wong kapir satuhu, Kristên agamanira, lamun sira bangsa Jawi, dene sira tan nêbut Dewa Bathara.

Terjemah: Apakah kalian orang Benggala (maksudnya India), Ketiga Guru menjawab, Kami ini orang Jawa, (ajaran) Nabi Muhammad agama kami! Gatholoco menjawab, Kalian manusia „Penentang‟/Kafir yang sesungguhnya, seperti halnya orang Kristen! Jika memang kalian orang Jawa, mengapa tidak menyebut (Nama Tuhan dengan sebutan) Dewa Bathara?

Pada bagian ini sampai bait 38, Gatholoco menggugat sifat dan watak para guru yang katanya orang Jawa, tetapi memiliki tabiat seperti para kolonialis (yang kebetulan saat itu beragama Kristen). Tidak mengenal budaya Jawa sendiri, tidak memiliki kearifan yang sebenarnya di Jawa juga diajarkan oleh para leluhur.

(43)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 42

Bahwa setiap bangsa memiliki tradisi budi pekerti. Kedatangan agama baru, apakah yang dibawa oleh orang Eropa, India (Benggala), Arab dengan agama Hindu, Budha, Kristen dan Islam bukan berarti kemudian menirukan kebiasaan mereka yang sebenarnya juga tidak sesuai ajaran agamanya. Apakah menghardik, menghina, memvonis seperti yang dilakukan oleh para guru kepada Gatholoco diajarkan oleh agama-agama itu? Tentu tidak.

Gatholoco mengingatkan bahwa di Jawa sudah ada agama Budha, dalam pengertian adalah agama budhi pekerti (Budhi Dhaya yang luhur), sejak dahulu kala. Maka agama apapun bisa diterima orang Jawa sebagai penyempurna keluhuran yang sudah dimiliki. Para guru mempraktekkan budi pekerti yang melepas agama Islam itu sendiri dalam perilaku, jadinya yang nampak seolah tradisi Arab, atau menghilangkan watak Krsiten yang mengajarkan kasih sayang dan yang nampak adalah nafsu Eropa menguasai dunia.

Inilah yang ditentang Gatholoco. Bahkan pada akhir bait yang tersebut diatas, menggugat, “mengapa tidak menyebut Tuhan dengan Dewa Bathara?”, atau dalam konteks ke kinian, mengapa mereka yang menyebutnya dengan “Tuhan, Gusti Allah” kemudian tidak dianggap Islam? Hanya karena sebutan semata, padahal artinya tetaplah menyebut Tuhan itu sendiri. Apakah tidak boleh menggunakan bahasa sendiri, bahasa ibu, untuk memanggil Tuhannya sendiri?

(44)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 43

MBODO

Setelah disebut sebagai orang yang yang tidak Njawani, karena mengaku orang Jawa tetapi tidak memiliki budi pekerti seperti yang diajarkan dalam tatakrama Jawa, maka para guru semakin marah. Kebiasaan menghina semakin menjadi-jadi. Memang inilah ciri khas pelaku Masturbasi Religius. Selalu merasa suci, dengan menghina orang lain, dengan memvonis orang lain kotor dan sesat, mereka merasakan kenikmatan dan kesucian dalam batinnya. Apa umptannya? Mari kita baca dalam bait berikut:

Ketiga Guru begitu mendengarnya, keras membentak sembari menuding, Gatholoco kamu gila! Gatholoco menjawab, Aku memang gila, jika bertemu orang sepertimu, aku takut ketularan, tidak memiliki mata dan telinga, pengetahuan kalian hanya melulu berkisar tentang jakat pitrah (zakat fitrah) saja. Tudingan gila sudah biasa diterima Gatholoco, bahkan sejak awal berjumpa jauh lebih kasar dari itu juga sudah. Dengan gaya sindiriannya, tidak mempunyai mata dan telinga seperti lintah kembali dikemukakan oleh Gatholoco. Lalu disambung dalam baitu berikutnya:

Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, Nyata sira anak JALANG, Gatholoco amangsuli, Iku bênêr tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kêna ing pêjah, lamun wis tumêkeng jangji, yêkti mulih mring asale padha ILANG.

Ketiga Guru semua, dengan hati panas menyahuti, Nyata kamu anak JALANG! Gatholoco menjawab seenaknya, Ucapanmu

(45)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 44

benar tidak keliru, bapak ibu kakek dan buyut-ku, semua terkena mati, jika sudah sampai pada saatnya mati, pasti pulang keasalnya semua meng-HILANG!

Terbiasa dihinia, membuat Gatholoco semakin cerdas dalam menghadapinya. Tidak marah, tidak membalas dengan kekasaran yang setimpal. Tetapi dengan cara dan kata-kata yang tetap lembut, tetapi menusuk hati dan kesadaran. Jika disebut gila, dia membalas dengan tak punya mata dan telingan (seperti lintah). Dia tidak memilih kata Asu misalnya, tetapi seperti lintah. Kata JALANG yang menunjukkan kerendahan asal-usul, orang tua, dijawab dengan santai, bahkan seolah kata JALANG didengar sebagai HILANG. Inilah sikap membodoh ala Gatholoco, tetapi positif bagi Gatholoco, dengan adanya makna baru dalam hinaan, mendorong pikiran positif serta tetap mempu berargumen dengan benar, bahwa semua manusia akan kembali ke asal, yakni HILANG. Ini artinya, mengendalikan emosi menjadi energi positif.

Tetapi, apa itu akan bertahan lama? Sebab hardikan berikutnya jauh lebih menukik, Gatholoco dihardik soal ibunya.

(46)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 45

KESAKSIAN PALSU

Sungguh, para guru menghina Gatholoco lebih sadis. Jika sebelumnya disebut anak jalang, atau pada awal-awal serat disebut anak jin, maka kali ini hardikan yang juga umpatan “Turuk biyang”. Maaf, “turuk” itu dalam bahasa Indonesia ya Vagina. Kata itu memang untuk umpatan. Rupanya, kebiasaan masturbasi religi semakin memperparah nafsu untuk mengina orang lain. Sementara “biyang” ya pokok, asal, ya dari kata “biyung” atau ibu. Jadi umpatan “turuk biyang” seperti menyebut “anak vagina”. Duh, kotor sekali umpatan para guru ini kepada Gatholoco.

Reaksi Gatholoco tetap saja mbodo. Sebutan itu seolah menjadi nasehat baginya, bahwa memang dirinya terlahir dari rahim/vagina bagi seorang ibu. Tetapi apakah demikian nyatanya, Gatholoco tidak berani bersumpah. Mengapa, sebab dia sendiri tidak mengetahui persis kejadian kelahirannya. Pengetahuan umum, bahwa setiap manusia terlahir melalui itu. Namun, seiring perkembangan teknologi kedokteran, tidak demikian. Manusia yang lahir melalui operasi cesar, tentu tidak bisa disebut demikian.

Lagi-lagi umpatan bagii Gatholoco dijadikan alat atau inspirasi introspeksi, berhati-hati dalam bersikap. Para guru, bagi Gatholoco terlalu gegabah. Mengumpat dengan menyebut asal lahir dirinya. Padahal baru saja ketemu, menyaksikan peristiwa lahirnya saja tidak, tetapi hanya berdasar pengetahuan umum semata, padahal tidak pasti 100% demikian. Ibu atau bapaknya Gatholoco adalah orang yang layak paling tahu proses kelahiran dirinya, tetapi orang lain dengan mudah menilainya.

(47)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 46

Cara pandang demikian, juga terjadi di banyak hal. Seseorang yang tidak mengetahui detail, hanya pengetahuan umum saja atau “gebyah uyah”, padahal ada hal-hal khusus bisa terjadi tetapi sudah berani memvonis seseorang. Apakah semua orang Indonesia itu ramah? Kan tentu tidak. Kebiasan memvonis semacam ini sebenarnya seperti memberi kesaksian palsu, seperti gugatan Gatholoco berikut:

saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngêndi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau wêruh iku ujar ambêlasar.

Terjemahan: sekarang kalian (yang baru bertemu denganku saat ini saja), telah berani menyatakan bahwa aku terlahir dari vagina ibu, jika memang benar kalian tahu pasti, dimanakah rumah ibu-Ku, lantas siapakah namanya, serta seberapa ukuran, milik (vagina) ibu-Ku? Jika tidak bisa menjawab nyata kalian telah bersaksi palsu!

(48)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 47

SIAPA AKU?

Para guru yang menghina Gatholoco dengan sebutan “Turuk biyang” menandakan bahwa mereka menilai Gatholoco sebagai wujud Gatholoco yang dilihat saja. Hakikat Gatholoco juga hanya dipandang demikian. Dengan kata lain, Gatholoco yang kelihatan jelek dinilai jelek semuanya, padahal setiap manusia memiliki unsur Ilahi dalam dirinya. Ada Ruh yang sebenarnya merupakan pancaran Ilahi. Maka Gatholoco menjelaskan jika pandangan demikian adalah keliru.

wujude Ingsun saiki, mujud dhewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng alam dunya, ana satêngahing bumi, lawan sira kala karya raganira.

Terjemah: (Ketahuilah) bahwa, wujud-KU ini, berwujud dengan sendirinya dan tanpa tandingan, Allah tidak menciptakan-KU, namun ragaku ini, ciptaan Allah di dunia, ada ditengah bumi, seperti halnya mencipta raga kalian.

Jawaban Gatholoco ini adalah pandangan, bahwa setiap diri manusia ada unsur alam dan Ilahi. Badan Gatholoco bisa rusak, tetapi AKU abadi, sebagai tempat mengabdi untuk segala sifat, baik dan buruk, menghidupi segalanya dalam kesatuan. AKU adalah Allah, ya Muhammad. Pandangan ini adalah memfokuskan pada sejatinya HIDUP, yang sejatinya menghidupi manusia, sejatinya tempat yang dituju oleh manusia dengan sifat baik dan buruk. AKU juga ada dalam diri Muhammad, ada dalam diri setiap manusia, meski penciptaan raganya bisa berbeda-beda.

(49)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 48

Para guru mengkritik pandangan Kesatuan seperti itu. Apa kuasa Gatholoco berani mengaku demikian? Gatoloc menjawab, bahwa menyadari wujud di dunia, mati, ada dan sirna, semua terjadi karena Ijin-NYA, Kehendak-NYA. Gatholoco tidak memiliki apa-apa. Wujud raga adalah wujud (adanya) HIDUP, untuk bisa mengenal Tuhan, bertindak atas Kehendak-NYA, ucapan, penglihatan, penciuman, pendengaran pada hakekatnya adalah milik-NYA.

Tegas Gatholoco, aku ini buka apa-apa, tak memiliki apa-apa, kecuali “mung pangrasa duwek-mami” (hanya rasa memiliki saja), itupun jika atas kasih sayang-NYA. Andai saja tidak mendapatkannya, maka yang dimiliki adalah sepi, dan sepi itu kosong, tak ada apa-apa, seperti saat belum ada (wujud), tetap kosong, tidak tahu apa-apa.

(50)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 49

TAKDIR

Di saat Gatholoco menjelaskan bahwa AKU yang sejati abadi, tak pernah rusak, para guru memprotes. Seolah Gatholoco mengklaim bahwa dirinya menyatu (jazad/jisim) dengan Tuhan. Bagi Gatholoco, dalam diri manusia ada AKU yang tak bisa rusak karena kematian. Lalu, para guru menduga lagi,” kalau begitu, engkau tahu takdir?”. Gatholocopun menjawab:”Wêruh pisan pêsthine mring raganingwang” (bahkan aku tahu takdirku sendiri). Dilanjutkan dalam bait berikut:

“Ingsun pêsthi awakingwang, wayah iki dina iki, jêjagongan lawan sira, mêngko gawe pêsthi maning, kang durung den lakoni, kanggone mêngko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka”

Terjemahan: Telah aku tetapkan sendiri, pada saat ini hari ini, duduk bertemu dengan kalian semua, nanti aku akan membuat takdir lagi, yang belum terjadi, untuk hari esok dan kelak, harus hati-hati dalam membuatnya, sehingga tidak kurang dan tidak lebih, jika salah (tidak hati-hati) bisa merusak kitab sastra angka.

Takdir yang dijelaskan Gatholoco adalah kejadian yang ada dalam kendali manusia. Bahwa saya saat ini sedang menulis adalah takdir yang saya buat. Kemudian nanti minum kopi dan merokok adalah takdi-takdir berikutnya. Dan akibat dari perbuatan (takdir-takdir) yang saya buat saat ini bisa mempengaruhi takdir (kejadian) esok hari atau kelak kemudian hari. Artinya takdir yang demikian adalah sebab akibat. Jika

(51)

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 50

tidak hati-hati, maka perhitungan atas sebab akibat bisa rusak, tidak tercapai apa yang dikendaki. Inilah yang dimaksud oleh Gatholoco, mengenai takdir yang demikian.

Namun ia tetap percaya bahwa masih ada takdir (kondisi, kejadian) dimana manusia tidak mampu mengendalikannya. Itulah takdir (kepastian) dari Hyang Widhi.Manusia tidak mudah membuat takdir yang mampu melampaui batas dualitas (senan-susah), membuat takdir yang benar-benar seimbang (lahir-batin). Oleh karena itu bagi Gatholoco, dalam membuat takdir (bertindak) harus dalam keadaan pikiran bahagia (positif), dengan kekuatan ini diharapkan akan mampu melampaui batas dualitas itu sendiri. Apapun hasilnya (akibat) dari takdir yang dibuat hari ini, di esok atau kelak hari tetap akan diterima dan mampu membuat takdir-takdir baru yang akan diseimbangkan dengan mudah nanti.

Referensi

Dokumen terkait

"roses pengeluaran sputum dari paruparu, bronkus dan trakea yang dihasilkan oleh klien "roses pengeluaran sputum dari paruparu, bronkus dan trakea yang dihasilkan oleh

Karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu yang

Apabila Anda dalam keadaan normal dan ‘sehat’ tentu Anda akan menyadari bahwa apa yang dilakukan si pria pada teman saya itu adalah termasuk tindakan ‘teror’ tapi bagi beberapa pria

Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui dan memahami karakteristik santri lansia dalam meningkatkan hafalan Al-Qur’an di Majelis Ummahat Ishlahunnisa’ Ngebel Yogyakarta; 2)

Indikator INF6 yaitu “Informasi dengan tingkat detail yang tepat” dimana pada kuadran ini indikator belum sesuai dengan harapan pengguna serta memiliki tingkat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) terfermentasi dalam ransum terhadap non karkas dan daging giblet

Untuk mengukur keefektifan dari penggunaan sumber daya energi untuk perangkat IT yang digunakan sebagai tools atau alat bantu dalam menjalankan aktifitas