LANDASAN TEORI
2.1 Teori Umum
2.1.1 Implementasi
Menurut Usman (2002:70), implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.
2.1.2 Green
Menurut Arbogast & Thornton (2010), kata green mungkin mengarahkan pikiran kita ke warna hijau tumbuh-tumbuhan yang menyegarkan, menyehatkan, mengandung arti adanya kehidupan.
2.1.3 Computing
Menurut Yudi Prayudi (2008:11), pengertian sederhana dari computing itu sendiri adalah segala hal teknis yang melibatkan penggunaan komputer.
2.2 Teori Khusus
2.2.1 Definisi Green Computing
Menurut San Murugesan (2008:24), Green IT merujuk pada Information Technology (IT) yang berbasis lingkungan, Green IT merupakan pembelajaran dan pengaplikasian desain, manufaktur, pemakaian seperti komputer, server, dan peralatan IT lainnya.
Menurut Carinhas (2009:2), Green IT dapat menurunkan biaya energi dan juga mengurangi polusi lingkungan. Walaupun permintaan energi semakin meningkat serta masi banyak teknologi dan metode untuk menghematnya. Perusahaan diharapkan bisa mengurangi emisi energi dan mempertahankan kinerja komputasinya.
Menurut Hird (2008:16), Green IT adalah sekumpulan strategi dan taktik inisiatif mengenai: (1) secara langsung mengurangi emisi karbon perusahaan, (2)
daya yang di gunakan oleh Departemen TI.
Menurut Molla (2009), Green IT memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Konsep Green IT ini merupakan konsep yang tidak didefinisikan dengan baik dan tidak pula secara seragam diterima sebagai seperangkat praktik atau pun separangkat aturan.
Menurut Molla dalam Gholamreza Nazari dan Hooman Karim (2011), menyatakan bahwa Green IT adalah kemampuan organisasi untuk secara sistematis menerapkan kriteria keberlanjutan lingkungan hidup untuk mendesain, memproduksi menggunakan sumber daya dan pembuangan limbah infrastruktur TI serta dalam komponen manusia dan manajerial yang ada dalam infrastruktur TI.
Menurut Peneliti (2013), penggunaan sumber daya komputasi secara efisien dengan cara meningkatkan efisiensi sumber daya energi dan mengurangi limbah.
2.3 Manfaat Menggunakan Green IT
Menurut San Murugesan (2008:26), ada lima manfaat dan alasan untuk menggunakan green IT: (1) menghemat daya, (2) menghemat biaya, (3) emisi karbon dan dampak lingkungan yang lebih rendah, (4) peningkatan performa dan pemakaian sistem, (5) menghemat tempat.
Gambar 2.1 Manfaat Menggunakan Green IT Sumber: San Murugesan (2008)
Menurut San Murugesan (2008:27), untuk lebih mengarah secara komprehensif dan efektif dari pelaksanaan Green IT dilakukan pendekatan holistik yang melingkupi empat bidang dalam pelaksanaannya yaitu:
Gambar 2.2 Unsur Utama Green IT Sumber: San Murugesan (2008)
Tedapat 4 unsur utama Green IT:
1. GreenUse
Mengurangi konsumsi energi komputer dan sistem IT lainnya dengan cara penggunaan perangkat yang berbasis ramah lingkungan.
2. Green disposal
Peremajaan dan penggunaan kembali komputer lama serta mendaur ulang alat-alat yang tidak terpakai.
3. Green Design
Menurut ITGI (2007), kebijakan adalah dokumen yang mencatat sebuah prinsip tingkat tinggi atau tindakan yang telah diputuskan. Sebuah kebijakan tujuannya adalah untuk mempengaruhi dan membimbing baik sekarang dan masa depan dalam pengambilan keputusan agar sejalan dengan filosofi, tujuan dan rencana strategis yang ditetapkan oleh tim manajemen perusahaan. Selain konten kebijakan, kebijakan perlu menggambarkan konsekuensi dari kegagalan mematuhi kebijakan, sarana untuk penanganan pengecualian, dan cara yang sesuai dengan kebijakan yang akan diperiksa dan diukur
Menurut Wallace and Webber (2009), kebijakan merupakan pernyataan umum dari petunjuk. Kebijakan memberikan bimbingan sehingga karyawan memahami batas-batas dimana mereka harus beroperasi. Kebijakan yang ditulis dengan baik memberikan kebebasan bertindak, mempromosikan inisiatif, dan memfasilitasi pendelegasian wewenang diseluruh organisasi. Kebijakan juga mempromosikan efisiensi penggunaan sumber daya dalam organisasi. Kebijakan menjelaskan apa dan mengapa hal-hal tersebut dilakukan. Kebijakan dianggap sebagai pengganti untuk penilaian yang baik.
2.4 Pondasi Utama Model Penerapan Green IT
Pada Jurnal Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (2012), pondisi utama model penerapan Green IT. Penerapan Green IT akan terlaksana jika didukung dengan lima pilar yang perlu diperkuat. Kelima pilar tersebut dijabarkan sebagai berikut:
1. Attitude atau sikap adalah hal yang tak berwujud. Ini menggambarkan bagaimana kita bertindak. Kebanyakan dari semua itu adalah tentang sikap atau budaya, ini adalah titik awal yang diperlukan kenginan untuk melakukan perubahan diikuti dengan komitmen untuk perubahan diikuti oleh tindakan, diiukuti dengan pengukuran efektivitas tindakan tersebut.
2. Policy atau kebijakan merupakan adalah banyak hal yang dapat kita lakukan dalam teknologi yang sesuai dan efektif dengan menggunakan teknologi yang sudah ada, dan ada banyak cara kita dapat mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon dari organisasi/perusahaan. Suatu kebijakan yang efektif untuk mengurangi energi IT
benar. Kerangka pengembangan kebijakan meliputi penetapan kebijakan, kebijakan komunikasi, implementasi kebijakan, dan pengukuran efektivitas kebijakan dan startegi mitigasi.
3. Practice atau praktek mengacu pada teknik dan perilaku. Ada banyak praktik yang dapat diadopsi oleh individu dan organisasi yang secara langsung membantu dalam penghijauan fungsi IT. Keuntungan besar dalam praktek adalah tidak perlu banyak biaya, artinya tidak perlu melakukan pembelian perangkat keras atau perangkat lunak baru, tetapi hanya perubahan kebiasaan dan pola pikir. Sebagai contoh adalah mematikan PC (personal computer) jika tidak digunakan, mendaur ulang kertas hasil printer dan mengurangi hasil printing atau cetak.
4. Technology, untuk teknologi beberapa orang berpikir tentang Green IT terutama dalam hal teknologi, pelanggan, virtualisasi server, printer duplex. Sejauh ini dalam banyak kasus cara terbaik untuk mendekati masalah teknologi Green IT adalah untuk mengambil prinsip-prinsip Green IT menjadi perhitungan sebagai bagian dari siklus peggantian perlatan normal.
5. Matrics, merupakan tindakan terakhir dalam penerapan Green IT. Pada tindakan kelima ini diterapkan 4 pilar yang didekati dengan cara yang berbeda. Sebuah strategi Green IT yang efektif harus secara jelas mengidentifkasi langkah-langkah pengurangan diberbagai bidang seperti mencapai pengehematan energi, mengurangi emisi karbon, meningkatkan upaya daur ulang, mengelola dan mengurangi konsumsi daya dan emisi karbon baik di dalam maupun luar Departemen IT, penting memastikan bahwa proyek-proyek Green IT dikelola dengan baik dari waktu ke waktu.
2.5 Matriks Green Computing 2.5.1 Matriks
mengurangi penggunaan bahan baku berbahaya, memaksimalkan efisiensi energi dalam masa hidup produk, dan mempromosikan pengolahan ulang dari limbah produk.
Untuk mengukur keefektifan dari penggunaan sumber daya energi untuk perangkat IT yang digunakan sebagai tools atau alat bantu dalam menjalankan aktifitas kegiatan bisnis diperlukkannya sebuah matriks green computing, yang didalamnya terdapat komponen konsep green computing, dimensi, indikator, dan pernyataan. Masing-masing dari komponen yang ada pada matriks green computing memiliki fungsi dan tujuan yang berguna sebagai alat ukur penulis untuk mengukur keefektifan dari penggunaan sumber daya energi untuk perangkat IT terkait dengan konsep green computing. Berikut adalah tabel matriks green computing.
Tabel 2.1 Matriks Green Computing
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
Lingkungan
Tabel 2.2 Matriks Green Computing Dimensi Ekonomi
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
1. Energy Efficient
Menurut Herrick dan Ritschard (2009), monitor LCD (Liquid Cristal Display) lebih menghemat energi dibandingkan monitor CRT (Cathode Ray Tube)
Penggunaan monitor LCD pada komputer disamping penggunaan energinya yang kecil juga tidak berat bagi mata kita jika dibandingkan dengan monitor CRT
Tabel 2.3 Matriks Green Computing Dimensi Ekonomi
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
2. Resource Efficient
Menurut Romisatria wahono (2008), green computing tidak hanya membahas tentang energy consumption, tapi juga bagaimana kita
bisa menggunakan komputer plus berbagai tool dan konten dengan lebih efisien dan jelas manfaatnya.
Penggunaan virtualisasi
server lebih hemat 70%
energi dari pada membeli
Tabel 2.4 Matriks Green Computing Dimensi Ekonomi
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
3. Cloud Computing
Menurut Robbins (2009), cloud computing pada dasarnya adalah penggunaan Internet-based service untuk mendukung proses bisnis.
Cloud computing
dipergunakan oleh perusahaan untuk
mendukung kegiatan proses bisnis.
Tabel 2.5 Matriks Green Computing Dimensi Ekonomi
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
4. Telecommuting
Menurut Nilles (1994:109), telecommuting adalah penggunaan alat telekomunikasi dan komputer untuk menggantikan kepergian ke kantor untuk bekerja.
Telecommuting diperlukan
oleh perusahaan untuk mendukung menjalankan proses bisnis.
Tabel 2.6 Matriks Green Computing Dimensi Ekonomi
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Ekonomi
5. Power Management
Menurut San Murugesan (2008:27), power management atau manajemen daya merupakan salah
satu aspek pada sistem operasi yang mengatur penggunaan sumber daya pada komputer.
Mematikan monitor komputer disaat komputer ditinggal pergi lebih baik dilakukan dibandingkan dengan mengaktifkan
Tabel 2.7 Matriks Green Computing Dimensi Lingkungan
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Lingkungan
1. Green Computing on Paperless Menurut Romi Satrio wahono (2008)
menggunakan paperless method untuk berbagai urusan kita karena itu mengurangi sampah carbon footprint.
Penggunaan kertas dengan
file elektronik untuk
pengumpulan laporan dan tugas dapat mengurangi dampak sampah carbon
Tabel 2.8 Matriks Green Computing Dimensi Lingkungan
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Lingkungan
2. Emisi karbondioksida CO2
Menurut World Bank Report (2002), melaporkan profil
pamanfaatan Information and communication technology (ICT) di Indonesia, yaitu rasio jumlah
komputer 9.9, per 1000 penduduk, sambungan telpon 91 per 1000 penduduk, jumlah internet host 0.8 per 10 000 penduduk dengan pengguna internet sebanyak 2 juta orang.
Penggunaan ICT (Information
Communication
Technology) yang semakin
tinggi dapat mempengaruhi penurunan kualitas
lingkungan dan menimbulkan emisi karbondioksida (CO2).
Tabel 2.9 Matriks Green Computing Dimensi Lingkungan
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Lingkungan
3. Reduce
Menurut Wawa Sundawa (2008:42), Tiga R (Reduce,
Reuse, Recyling) adalah sebuah implementasi mendalam tentang sustainability (Sustainability adalah sebuah pendekatan terpadu terhadap kinerja perusahaan dibidang lingkungan) yang sangat dekat dengan proses akhir dari masa hidup suatu produk yang dapat digunakan kembali atau didaur-ulang
Penggunaan perangkat
hardware yang memiliki
konsumsi energi listrik yang tinggi, diganti dengan perangkat hardware yang lebih hemat energi.
Tabel 2.10 Matriks Green Computing Dimensi Lingkungan
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Lingkungan
4. Reuse
Pada artikel lingkungan hidup (2012) menjelaskan
reuse atau penggunaan kembali adalah kegiatan
menggunakan kembali material atau bahan yang masih layak pakai.
Daur ulang perangkat IT mampu mengurangi bahaya material dari lingkungan, seperti timah hitam dan merkuri.
Tabel 2.11 Matriks Green Computing Dimensi Lingkungan
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Lingkungan
5. Recyling
Menurut peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun (2008), recycle adalah mendaur ulang komponen-komponen yang bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama ataupun produk yang berbeda
Medonasikannya atau membongkar bagian dalam perangkat IT untuk
digunakan kembali, yang masi bisa digunakan dengan catatan memiliki fitur hemat energi.
Tabel 2.12 Matriks Green Computing Dimensi Sosial
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Sosial
1. Global Warming
Menurut Hamit (2008), global warming terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca. Disebut sebagai gas rumah kaca karena gas tersebut berfungsi seperti kaca yang berada dalam rumah kaca. Sinar matahari yang dipancarkan ke bumi sebagian besar akan dikembalikan lagi ke atmosfer
Penggunaan ICT (Information
Communicatin Technology)
memiliki dampak timbulnya emisi
karbondioksida (CO2) dan menimbulkan efek Global
Tabel 2.13 Matriks Green Computing Dimensi Sosial
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Sosial
2. Corporate Social Responbility
Menutut Suhandari M.Putri Untung (2008:1),
Corporate Social Responbility (CSR) adalah komitmen
perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Perusahaan perlu berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dengan menggunakan konsep green computing.
Tabel 2.14 Matriks Green Computing Dimensi Sosial
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Sosial
3. Kemacetan
Menurut Ofyar Z Tamin (2000), jika arus lalu lintas mendekati kapasitas, kemacetan mulai terjadi. Kemacetan semakin meningkat apabila arus begitu besarnya sehingga kendaraan sangat berdekatan satu sama lain. Kemacetan total terjadi apabila kendaraan harus berhenti atau bergerak sangat lambat.
Menggunakan media IT sebagai tempat untuk melakukan pertemuan bisnis, seperti
teleconference tanpa harus
melakukan perjalanan menggunakan kendaraan.
Tabel 2.15 Matriks Green Computing Dimensi Sosial
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Sosial
4. Hemat energi
Menurut Koran Kompas tanggal (25/8/2005) melakukan penghematan energi dengan
mengoptimalkan penggunaan energi sesuai dengan tingkat kebutuhan
Perusahaan perlu berpartisipasi dalam gerakan hemat energi yang dilakukan oleh Pemerintah.
Tabel 2.16 Matriks Green Computing Dimensi Sosial
Sumber : Hasil Analisis Mahasiswa (2013)
Konsep Green
Computing
Dimensi
Indikator
Pernyataan
Sosial
5. Pencemaran
Menurut Palar (2008), pencemaran adalah suatu kondisi yang telah berubah dari kondisi asal ke kondisi yang lebih buruk sebagai akibat masukan dari
bahanbahan pencemar atau polutan.
Meminimalkan pencemaran lingkungan dapat dicegah dengan menggunakan media IT yang sesuai dengan konsep green computing.
2.5.3.1 Konsep
Menurut Dahar (1996:80), konsep adalah suatu abstraksi yang mewakali suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Konsep diperlukan untuk memperoleh dan mengkomunikasikan pengetahuan, karena dengan menguasai konsep kemungkinan memperoleh pengetahuan baru tidak terbatas.
2.5.3.2 Green Computing
Menurut Webber (2009:1), green technologies adalah pengurangan dampak lingkungan dari departemen TI. Kuncinya adalah menemukan peralatan tepat yang mudah dioperasikan serta mudah diolah sewaktu tidak dapat di gunakan lagi.
2.5.4 Dimensi
Menurut Shvoong (2011), definisi dimensi atau dalam bahasa latin adalah dimensi merupakan ukuran. Dimensi suatu besaran merupakan hubungan antara besaran itu dengan besaran-besaran pokok. Dengan kata lain, dimensi adalah cara suatu besaran itu tersusun atas besar-besaran pokoknya.
Dari ketiga dimensi yang terkait dengan sebuah konsep pada green computing, dapat dijabarkan sebagai berikut:
2.5.4.1 Ekonomi
Menurut Mankiw (2000:3), “Ekonomi adalah studi tentang bagaimana masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang selalu terbatas atau angka”.
Dengan adanya sebuah konsep green computing yang dilakukan dengan tujuan utamanya adalah mengefisiensikan segala sumber daya energi yang digunakan untuk pemanfaatan perangkat IT sehingga perusahaan dapat meminimalkan pembiayaan untuk membayar dari penggunaan sumber daya energi tersebut.
Menurut Emil Salim (1988), lingkungan adalah segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.
Semakin banyaknya penggunaan dari perangkat-perangkat IT tentu menimbulkan sebuah dampak yang sangat mengkhawatirkan bagi lingkungan, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah timbulnya pencemaran lingkungan yang saat ini dikenal dengan gas rumah kaca. Dengan menggunakan konsep green computing yang diimplementasikan pada perusahaan sehingga dapat meminimalisir dampak dari pencemaran lingkungan tersebut.
2.5.4.3 Sosial
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Sosial adalah (1) berkenaan dengan masyarakat, (2) memperhatikan kepentingan umum.
Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan perangkat teknologi yang sangat tinggi tidak dapat dirasakan dampaknya menjalankan konsep green computing yang ada dapat mengurangi serta meminimalisir dampak pencemaran lingkungan tersebut. Dalam waktu dekat, tetapi dampak tersebut dapat dirasakan setalah jangka waktu tertentu yangmsangat membahayakan, tentu hal tersebut sangat merugikan dan berbahaya bagi masayarakat secara sosial.
2.5.5 Indikator
Menurut Anneahira (2012), indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dan waktu ke waktu.
2.5.6 Pernyataan
Menurut Erwandi Hakim (2012), pernyataan adalah kalimat yang hanya mempunyai nilai dan kebenaran benar atau salah saja, tetapi tidak sekali gus kedua-duanya.
2.6 Green ICT (Information Communication Technology)
Menurut Stollenmayer (2011:8), manfaat Green ICT adalah sebagai berikut: (1) pengurangan konsumsi energi, (2) pengurangan penggunaan bahan baku, (3) pengurangan penggunaan air, (4) pengurangan jumlah sampah dan peningkatan jumlah daur ulang, dan (5) pengurangan polusi.
Menurut Philipson (2010:4), Green ICT lebih dari sekedar mengurangi emisi karbon ataupun mengurangi konsumsi energi ICT perusahaan. Green ICT adalah pusat teknologi berkelanjutan yang mana Green ICT menyediakan: (1) alat pengukuran, (2) tempat penyimpanan data, (3) mekanisme pelaporan, dan (4) teknik mitigasi yang memungkinkan keberlanjutan.
2.6.1 Taksonomi Green ICT
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), taksonomi adalah (1) klasifikasi bidang ilmu; kaidah dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek; (2) cabang biologi yang menelaah penamaan, perincian, dan pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan pembedaan sifatnya; (3) Ling klasifikasi unsur bahasa menurut hubungan hierarkis; urutan satuan fonologis atau gramatikal yang dimungkinkan dalam satuan bahasa.
Gambar 2.3 Taksonomi Green ICT
menghijaukan IT itu sendiri atau menghijaukan dengan IT. Dimana green data center merupakan bagian dari penghijauan IT itu sendiri.
2.6.2 Manfaat Green ICT
Menurut Stollenmayer (2011:8), manfaat Green ICT adalah sebagai berikut: (1) pengurangan konsumsi energi, (2) pengurangan penggunaan bahan baku, (3) pengurangan penggunaan air, (4) pengurangan jumlah sampah dan peningkatan jumlah daur ulang, dan (5) pengurangan polusi. Berikut Gambar 2.4 Manfaat Green ICT:
Gambar 2.4 Manfaat Green ICT
Sumber: Hanle (2009)
Menurut Hanle (2009:6), green ICT mempunyai beberapa manfaat untuk stakeholder perusahaan, diantaranya mempuyai manfaat–manfaat untuk perusahaan: (1) hemat beban listrik, (2) mengurangi beban operasi data center dan (3) membutuhkan lebih sedikit hardware. Dan juga mempunyai manfaat untuk lingkugan: (1) mengurangi emisi karbondioksida, (2) mengurangi konsumsi sumber daya dan (3) menaati peraturan dimasa depan.
2.7 SPSS (Statisticall Product and Service Solution)
Menurut Sarjono Haryadi dan Julianita Winda (2011:113) SPSS adalah program atau software yang digunakan untuk oleh data statistik. Dari berbagi program
SPSS adalah statistical Package for the Social Sciences, tetapi seiring berjalannya waktu SPSS mengalami perkembangan dan penggunaannya semakin kompleks untuk berbagi ilmu seperti ilmu sosial ekonomi, psikologi, pertanian, teknologi, industri, dan lain-lain sehingga kepanjangan SPSS adalah Statistical Product and Service Solution. SPSS diciptakan oleh Norman Nie, seorang lulusan Fakultas Ilmu politik dari Standford University.
2.7.1 Data Primer
Menurut (Sugiyono 2008:137) mengemukakan definisi data primer adalah sebagai berikut : “Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”.
2.7.2 Data Skunder
Menurut Sugiyono (2008:137) mengemukakan definisi data sekunder adalah sebagai berikut :
“Sumber sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan”.
2.7.3 Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2004:138), “Cara yang digunakan adalah dengan analisa item, dimana setiap nilai yang ada pada setiap butir pertanyaan dikorelasikan dengan total nilai seluruh butir pertanyaan untuk suatu variabel dengan menggunakan rumus korelasi product moment”. Syarat minimum untuk dianggap valid adalah nilai r hitung > dari nilai r table
Menurut Arikunto (1998:220), adapun perhitungan korelasi product moment, dengan rumus:
Tabel 2.17 Rumus Uji validitas
Sumber: Arikunto (1998:220) Keterangan:
X = Skor tiap item Y = Skor total variabel
2.7.4 Uji Reliabilitas
Menurut Arikunto (1998:145), “Untuk uji reliabilitas digunakan Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau Alpha sebesar 0,6 atau lebih. Untuk mempermudah analisis digunakan aplikasi pengolah data SPSS.
2.7.5 Analisis Faktor
Menurut Subash Sharma (1996), dalam studi perilaku dan sosial, peneliti membutuhkan pengembangan pengukuran untuk bermacam-macam variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, seperti tingkah laku, pendapat, intelegensi, personality dan lain-lain. Faktor analisis adalah metode yang dapat digunakan untuk pengukuran semacam itu.
Menurut Johnson & Wichern (1998), tujuan dari analisis faktor adalah untuk menggambarkan hubungan-hubungan kovarian antara beberapa variabel yang mendasari tetapi tidak teramati, kuantitas random yang disebut faktor.
2.7.6 Multiple Regression
Diperkenalkan oleh Pearson Pada (1908), multiple regression dipergunakan untuk mengetahui besarnya proporsi dari suatu variabel yang kontinu yang berhubungan atau dijelaskan oleh dua atau lebih variabel.
Tabel 2.18 Rumus Multiple Regression
Sumber: Pearson (1908) Keterangan:
Y = variabel yang ingin diprediksi b = nilai koefisien regresi
q = nilai konstanta n = banyaknya sample
2.8 Green Data Center
Menurut Bullock (2009:2), green data center adalah data center yang bisa beroperasi dengan efisiensi energi maksimal dan dampak lingkungan minimal. Termasuk mesin, listrik, pencahayaan, elektrisitas, dan peralatan TI (server, jaringan, media penyimpanan). Perusahaan mulai beralih ke green data center dikarenakan tingginya biaya listrik sehubungan dengan operasional data center. Ini adalah cara untuk mengurangi biaya operasional perusahaan dalam infrastruktur TI.
2.8.1 Pengertian Data Center
Menurut Bullock (2009:1), data center dikenal sebagai kumpulan server atau ruang komputer. Data center adalah ruangan di mana sebagian besar server dan penyimpanan data perusahaan terletak, beroperasi, dan diatur. Terdapat empat komponen utama data center: (1) white space, (2) infrastruktur pendukung, (3) peralatan IT, dan (4) operasi.
Menurut Alger (2009), data center merupakan fasilitas yang digunakan untuk penempatan beberapa kumpulan server dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi, dan penyimpanan data.
Pengolaan data center yang baik diperlukan untuk mendukung seluruh kinerja dari jaringan, dari pemakaian aplikasi, oleh karena itu aturan dan standar pengukuran merupakan hal yang penting dari administrasi data center. Beberapa tahun ini data center menjadi pembahasan yang ramai, yang sebelumnya data center bukan merupakan bahasan yang perlu dibahas dalam secara teori, tetapi kebutuhan akan informasi dari pengolahan data center yang baik membuat pakar-pakar jaringan akhirnya memutuskan untuk membahas data center lebih dalam beserta perancangan data center dalam infrastruktur TI sendiri.
2.8.2 Service Data Center
Service utama yang secara umum diberikan oleh data center adalah sebagai berikut:
Gambar 2.5 Service Data Center Sumber: Alger (2009) 2.8.2.1 Business Continuance Infrastructure
Business Continuance Infrastructure (Infrastruktur yang menjamin kelangsungan bisnis) Aspek-aspek yang mendukung kelangsungan bisnis ketika terjadi suatu kondisi kritis terhadap data center. Aspek-aspek tersebut meliputi kriteria pemilihan lokasi data center, kuantifikasi ruang data center, laying-out ruang dan instalasi data center, sistem elektrik yang dibutuhkan, pengaturan infrastruktur jaringan yang scalable, pengaturan sistem pendingin dan fire suppersion.
2.8.2.2 Data Center Security
Data Center Security (Infrastruktur keamanan data center) Terdiri dari sistem pengamanan fisik dan non-fisik pada data center. Fitur sistem pengamanan meliputi akses user ke data center berupa kunci akses memasuki ruangan (kartu akses atau biometrik) dan segenap petugas keamanan yang mengawasi keadaan data center baik didalam maupun diluar, pengamanan fisik juga dapat diterapkan pada separangkat infrastruktur dengan melakukan penguncian dengan kunci gembok tertentu. Pengamanan non fisik dilakukan terhadap bagian software atau sistem yang berjalan pada perangkat tersebut, antara lain dengan memasang beberapa perangkat lunak kemanan seperti access control list, firewall, IDS dan host IDS, fitur-fitur keamanan pada Layer 2 (Datalink layer) dan Layer 3 (network layer) disertai dengan manajemen keamanan.
2.8.2.3 Application Optimization
Application Optimization (Otimasi aplikasi) akan berkaitan dengan layer 4 dan layer 5 (session layer) untuk meningkatkan waktu respom suatu server. Layer 4 adalah layer end-to-end yang paling bawah antara aplikasi sumber dan tujuan, menyediakan end-to-end flow control, end-to-end error detection and correction, dan mungkin juga menyediakan congestion control tambahan. Sedangkan layer 5 menyediakan riteri dialog (siapa yang memiliki giliran berbicara/mengirim data), Token management (siapa yang memiliki akses ke resource bersama) serta sinkronisasi data (status terakhir sebelum link putus). Berbagai isu yang terkait dengan hal ini adalah load balancing, caching, dan terminal SSL, yang bertujuan untuk mengoptimalkan jalannya suatu aplikasi dalam suatu sistem.
2.8.2.4 IP Infrastructure
IP Infrastructure (Infarstuktur IP) menjadi servis utama pada data center. Servis ini disediakan pada layer 2 dan layer 3. Isu yang harus diperhatikan terkait dengan layer 2 adalah hubungan antara server dan perangkat layanan, memungkinkan akses media, mendukung sentralisasi yang reliable, lop-free, predictable, dan scalable. Sedangkan pada layer 3, isu yang terkait adalah memungkinkan fast-convergence routed network (seperti dukungan terhadap default gateway). Kemudian juga tersedia layanan tambahan yang disebut (Inteligent Network Service), meliputi fitur-fitur yang memungkinkan application services network-wide, fitur yang paling umum adalah mengenai Qos (Quality of Services), multicast (memungkinkan kemampuan untuk menangani banyak user secara konkuren), private LANS dan plociy-based routing.
2.8.3 Kriteria Perancangan Data center
Menurut Yulianti (2008:13), dalam melakukan perancangan terhadap sebuah data center, harus diperhatikan kriteria-kriteria berikut ini:
dan terus-menerus bagi suatu perusahaan baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terjadinya suatu kerusakan yang berarti atau tidak. Data center harus dibuat sebisa mungkin mendekati zero-failure untuk seluruh komponennya.
2. Scalability dan flexibility
Data center harus mampu beradaptasi dengan pertumbuhan kebutuhan yang cepat. Juga ketika adanya jasa baru yang harus disediakan oleh data center tanpa melakukan perubahan berarti bagi data center secara keseluruhan.
3. Security
Data center menyimpan berbagai aset berharga perusahaan, oleh karenanya sistem keamanan dibuat seketat mungkin baik pengamanan secara fisik maupun pengamanan non-fisik.
2.9 Virtualisasi
Menurut Amit Singh (2004), definisi dari virtualisasi adalah kerangka kerangka kerja atau metodologi dimana membagi sumber daya kedalam beberapa lingkungan dengan cara menerapkan satu atau lebih konsep atau teknologi seperti pembuatan partisi secara software dan hardware, pembagian waktu, simulasi sebagaian atau keseluruhan mesin, kualitas layanan dan sebagaianya.
Menurut Jason Nieh dan Ozgur Can Leonard (2000), virtualisasi adalah suatu platform dimana memungkinkan beberapa sistem beberapa sistem operasi dan perangkat lunak dapat berjalan berjalan bersamaan dalam satu mesin.
2.9.1 Jenis Virtualisasi
Menurut Rami Rosen (2006), virtualisasi sendiri sebenarnya telah dikembangkan selama 50 tahun sejak tahun1960an virtualisasi berperan pada tiga bidang yaitu: virtualisasi jaringan, virtualisasi penyimpanan (storage) dan
virtualisasi server:
1. Virtualisasi Jaringan adalah metode menggabungkan sumber daya yang tersedia di jaringan dengan membagi bandwidth menjadi beberapa bagian , dimana masing-masing yang bersifat independen dari yang lain, dan
langsung (real time). Konsep dari virtualisasi jaringan ini adalah dengam memisahkan suatu jaringan menjadi beberapa bagian, seperti membagi hard drive menjadi beberapa partisi.
2. Virtualisasi Penyimpanan adalah penyatuan penyimpanan dari perangkat penyimpanan beberapa jaringan ke suatu perangkat penyimpanan tunggal yang dikelola dari central console. Storage virtualisasi yang umum digunakan dalam Storage Area Network (SAN).
3. Virtualisasi Server merupakan pembagian sumber daya server (prosesor, memory, harddisk) dari pengguna server. Tujuannya adalah meningkatkan pemanfaatan sumber daya server.
2.9.2 Alasan Menggunakan Virtualisasi
Berikut beberapa alasan menggunakan teknik virtualisasi yaitu: 1. Konsolidasi server
Konsolidasi server dapat membuat beberapa server fisik untuk dijadikan kedalam sistem virtualisasi dan hanya menjalankan satu server fisik yang didalamnya terdapat beberapa virtual server yang dijalankan diatas satu server fisik.
Gambar 2.6 Konsolidasi Server Virtualisasi Server Sumber: Husein Alatas (2012)
2. Dukungan terhadap aplikasi
Menyediakan upgrade aplikasi dan sistem operasi ke server baru tanpa menimbulkan masalah seperti tidak kompatibel dengan perangkat keras
3. Dukungan terhadap beberapa sistem operasi
Memiliki kemampuan untuk menjalankan beberapa sistem operasi dalam satu native server. Berguna untuk melakukan pengembangan dan pengetesan beberapa sistem operasi.
4. Demonstrasi perangkat lunak
Dengan menggunakan teknik virtualisasi maka memudahkan dalam melakukan demonstrasi beta software. Pengguna dapat menyoba terlebih dahulu pada komputer virtual sebelum di jalankan pada native server yang telah menjalankan aplikasi versi lama yang telah stabil. Selain itu seorang user dapat mendemonstrasikan perangkat lunaknya dalam beberapa sistem operasi hanya dengan cukup mengoperasikan satu native server.
5. Pengembangan dan Pengetesan
Karena dalam sistem virtualisasi setiap komputer virtual terisolir antara satu dengan yang lainnya maka dapat dilakukan pengembangan dan pengetesan terhadap suatu aplikasi atau sistem operasi tanpa mengganggu layanan yang dijalankan komputer virtual lainnya.
6. Pelatihan Teknisi dan E-learning
Dengan menggunakan teknik virtualisasi, tempat pelatihan dapat memberikan hak akses administrator pada setiap komputer virtual ke peserta latihan. Peserta dapat melakukan uji coba konfigurasi tanpa mengganggu aplikasi lain yang berjalan pada komputer virtual lainnya.
2.10 Konsep Tiga R pada Green Computing
Wawa Sundawa (2008:42), Tiga R (Reduce,Reuse,Recycle) adalah sebuah implementasi mendalam tentang sustainability (sustainability adalah sebuah pendekatan terhadap kinerja perusahaan di bidang lingkungan) yang sangat dekat dengan proses akhir dari masa hidup suatu produk yang dapat digunakan kembali atau didaur-ulang.
Gambar 2.7 Konsep Tiga R pada Green Computing Sumber: Wawa Sundawa (2008)
Penggunaan energi yang besar dan ketergantungan terhadap penggunaan perangkat teknologi informasi dapat ditangani dengan prinsip Reduce, Reuse dan Recycle (3R).
2.10.1 Reduce (Mengurangi)
Perangkat IT adalah gabungan dari berbagi hardware, maka setiap hadrware berkontribusi mengkonsumsi energi. Dengan tujuan beralih pada green computing, harus ada kesadaran untuk memperbaiki kinerja, kualitas, dan efisiensi bagian dari perangkat hardware sehingga dapat mengurangi konsumsi energi lebih baik mengikuti metode "Reduce".
2.10.2 Reuse (Menggunakan kembali)
Daur ulang komponen perangkat IT tertuju pada menggunakan kembali komputer dengan sisa komponen-komponen hardware. Hal ini dapat termasuk menemukan kegunaan lain sistem tersebut seperti mendonasikannya atau membongkar bagian dalam untuk digunakan kembali. Oleh karena itu, bagian dari sistem yang sudah ketinggalan zaman dapat diaur ulang kembali penggunaannya.
2.10.3 Recycling (Mendaur ulang)
Mendaur ulang peralatan perangkat IT mampu mengurangi bahaya material dari lingkungan, seperti timah hitam, merkuri, dan hexanvalent khrom. Perangkat IT
baik perangkat IT adalah sumber terbesar racun karsinogen.
2.11 Paperles Office
Menurut McIndoo Todd (2009), paperless office merupakan suatu sistem yang mereduksi penggunaan kertas dalam proses adminitrasi perkantoran. Ide paperless office mulai mencuat pada akhir tahun 90-an. Filosofinya adalah menggunakan sesedikit mungkin kertas dan digitalisasi dokumen. Manfaatnya adalah meningkatkan produktivitas, hemat biaya, efisien tempat dan mengurangi dampak lingkungan. Paperless office memang sudah menggema beberapa tahun lalu. Sejak kemajuan dibidang teknologi informasi dan komputer, manusia mendapatkan alternatif lain dalam mengolah dan membaca berbagai dokumen. Paperless office merupakan suatu cita-cita untuk membiasakan diri mengolah dan membaca dokumen dalam bentuk digital, dengan kata lain mengurangi pemakaian kertas sebagai bahan pokok penulisan dokumen seperti sekarang.
Ada beberapa manfaat yang ditawarkan oleh penggunaan penggunaan paperless antara lain adalah sebagai berikut:
1. Efisien waktu.
2. Manajemen dokumentasi lebih baik. 3. Kenyamanan kerja lebih baik.
4. Mendukung terjadinya keputusan yang lebih baik. 5. Manajemen lebih terkendali.
6. Membaiknya citra organisasi.
2.11.1 Pohon sebagai bahan pembuat kertas
Kertas yang kita ketahui berasal dari serat kayu dari pohon, kertas yang merupakan sebagai alat tulis yang tanpa kita sadari secara langsung memiliki dampak merusak lingkungan. Biasanya kertas dihasilkan dari pohon pinus, karena pohon jenis ini menghasilkan kertas dengan kualitas terbaik jika didalam perusahaan atau organisasi penggunaan kertas sangat tinggi jumlahnya dan tentu hal itu menyebabkan meningkatnya jumlah limbah kertas yang kita hasilkan. Dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tingginya penggunaan kertas dapat diminimalisir, salah satunya adalah dengan menggunakan konsep dari green computing. Dengan menggunakan konsep green computing kertas dapat diganti dengan paperless.
Gambar 2.8 Pohon sebagai bahan pembuat kertas Sumber: www.gudangmateri.com
2.12 Energi Alternatif
Menurut Kamus Oxford (2012), menempatkan sumber energi alternatif berkorelasi dengan lingkungan dan menyatakan bahwa istilah sumber energi alternatif mengacu pada sumber energi yang tidak merugikan lingkungan. Energi yang ada sebagai sumber tenaga data center. Salah satu energi yang paling banyak digunakan sebagai sumber listrik saat ini adalah bahan bakar fosil yang diolah menjadi minyak dan kemudian dijadikan bahan bakar pembangkit listrik. Semakin hari persediaan bahan bakar dimuka bumi semakin menipis. Sehingga perlu diadakan penelitian terus menerus untuk dapat menemukan bahan bakar alternatif. Untungnya, ternyata disekitar kita terdapat terdapat bermacam-macam energi alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti energi minyak yang tentunya tidak merusak lingkungan. Macam-macam energi alternatif itu diantaranya sebagai berikut:
2.12.1 Air
Air mempunyai kekuatan luar biasa besar. Air yang mengalir, bahkan dapat menghancurkan bangunan yang kuat ketika terjadi banjir bandang ataupun tsunami.Karena kekuatan inilah, manusia dapat memanfaatkannya sebagai sumber daya alternatif. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Prosesnya yaitu menampung air sungai yang berarus deras ke dalam sebuah waduk. Lalu dialirkan
terowongan sehingga mampu memutar turbin yang dapat menggerakan generator dan menghasilkan listrik.
2.12.2 Matahari
Matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif. Energi matahari diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan sel surya atau dikenal dengan sebutan sel fotovoltaik. Contoh mudahnya dalam, pemanas air, mobil bertenaga surya, dsb.
2.12.3 Gelombang Permukaan Laut
Pemanfaatannya yaitu menjadikan energi ombak sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini didukung dengan didirikannya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga
Ombak (PLTO) di Yogyakarta. Prosesnya dengan memanfaatkan gerakan turun naik atau bergulung-gulungnya ombak menjadi energi yang digunakan untuk
menggerakan turbin pembangkit listrik.
2.12.4 Angin
Perpindahan udara atau yang biasa disebut angin ini dapat menghasilkan energi kinetik. Energi inilah yang dipergunakan untuk menggerakkan kincir angin atau turbin. Hal ini karena angin pada dasarnya memiliki kekuatan yang besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk sumber energi alternatif. Terutama angin yang terdapat ditengah lautan.
2.12.5 Biogas
Biogas dihasilkan dari kotoran hewan yang diproses lebih lanjut untuk menjadi gas metana yang dapat dipergunakan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan. Metana sebagai energi alternatif diperoleh dari sampah organik dan sistem saluran limbah. Prosesnya mempergunakan bakteri tertentu atau dikomposer yang dapat memecah biomassa lingkungan dalam kondisi pernapasan anaerob bakteri tersebut.
2.12.6 Baterai
Baterai untuk saat ini sering digunakan untuk dijadikan sumber daya energi alternatif dari alat transportasi. Banyak perusahaan otomotif yang
tersebut sudah dikomersilkan dan diterima oleh masyarakat secara luas sebagai kendaraan sehari-hari dengan menggunakan baterai sebagai pengganti bahan bakar bensin.