• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sidang Committe on Trade in Financial Services (CTFS) – WTO

BAB I KINERJA

E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa

3. Sidang Committe on Trade in Financial Services (CTFS) – WTO

Pada tanggal 1 Oktober 2012 di WTO, Jenewa, telah diadakan Sidang Committee on Trade in Financial Services (CTFS) sebagai bagian dari rangkaian Sidang Jasa yang berlangsung pada tanggal 1-5 Oktober 2012. Pembahasan Sidang meliputi agenda sebagai berikut:

Acceptance of the Fifth Protocol to the General Agreement on Trade in Services Embodying the Results of the Financial Services Negotiations

Di bawah agenda Acceptance of the Fifth Protocol to the

General Agreement on Trade in Services Embodying the Results of the Financial Services Negotiations Sekretariat

menyampaikan bahwa Jamaika telah menyelesaikan proses protokol dimaksud. Keberhasilan Jamaika menyelesaikan proses ratifikasi dianggap sebagai suatu langkah yang penting. Selanjutnya, Sekretariat menghimbau agar Brazil, sebagai negara terakhir yang belum melakukan ratifikasi, untuk segera menyelesaikannya

Recent Development in Financial Services Trade

Sidang membahas hasil konsultasi atas proposal Ekuador tentang kebutuhan policy space dalam peraturan keuangan apabila terjadi krisis keuangan (macro prudential measures). Dari konsultasi tersebut disimpulkan bahwa masih terdapat perbedaan pendapat di antara negara anggota terhadap tiga hal yang dibahas, yaitu: usulan untuk dilakukannya saling tukar pengalaman, penyusunan background note oleh Sekretariat, dan keterlibatan organisasi internasional dalam pembahasan isu tersebut.

Pada kesempatan ini Ekuador menyampaikan kembali pentingnya melakukan pembahasan atas isu ini dan bahwa diskusi perlu dilakukan secara member-driven. Pembahasan

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012 67

ini dipandang merupakan kebutuhan negara anggota mengingat situasi keuangan dunia saat ini, di mana langkah deregulasi kebijakan keuangan yang diambil banyak negara dinilai dapat menjaga stabilitas sistem keuangan mereka. Ekuador menambahkan bahwa selain saling tukar pengalaman, perlu disusun background note oleh Sekretariat untuk dijadikan dasar bagi diskusi.

Mayoritas negara anggota mendukung usulan untuk dilakukannya saling tukar pengalaman tentang penerapan kebijakan macro prudential. Namun demikian, sebagian negara anggota belum dapat menerima usulan perlunya meminta Sekretariat untuk menyusun background note, sebab arah dari diskusi yang akan dilakukan sendiri belum dapat ditentukan, sehingga akan menyulitkan penentuan batasan atau cakupan fokus yang ingin direfleksikan dalam

note.

Terkait keterlibatan organisasi internasional, seperti IMF, FSB, dan OECD, dalam diskusi, sebagian besar negara anggota juga belum melihat perlunya mengikutsertakan mereka. Negara anggota memandang bahwa diskusi harus dilakukan secara member-driven, sehingga keterlibatan organisasi internasional, yang biasanya mengarah kepada suatu konklusi atau dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tertentu, saat ini belum diperlukan.

Terkait dengan pernyataan Ekuador yang pada akhirnya berniat untuk menarik proposalnya karena tidak cukupnya dukungan dari anggota, Ketua Sidang menyampaikan mengingat usulan Ekuador khususnya mengenai saling tukar pengalaman cukup penting dan didukung mayoritas anggota, Ekuador diminta untuk menyusun dan merinci mengenai usulannya.

Technical Issue Sidang membahas Informal Note by the

Chairperson-Financial Services: Discussion of classification issues

(JOB/SERV/109) untuk melihat kembali pertanyaan-pertanyaan yang diangkat dalam overview isu klasifikasi, di mana negara anggota diminta untuk memberikan masukan. Di samping itu negara anggota juga diminta untuk memberikan usulan-usulan topik lainnya yang ingin didiskusikan.

Terkait itu Norwegia memberikan usulan untuk memperluas cakupan produk dalam amandemen klasifikasi yang meliputi jasa asuransi laut dan energi. Terhadap hal itu Ketua menjelaskan bahwa Norwegia telah meminta Sekretariat untuk menyiapkan background note untuk memfasilitasi

68 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012

diskusi. Diskusi dimaksud idealnya meliputi technical

exchange dan pertukaran pengalaman/pandangan. Negara

anggota dapat menambahkan isu-isu lainnya yang menjadi kepentingannya.

Trade in Financial Services and Development

Seluruh negara anggota menginginkan kelanjutan pembahasan tentang keterkaitan perdagangan jasa keuangan dan pembangunan. Setelah diadakannya workshop pada bulan Juni 2012, negara anggota dapat melanjutkan diskusi dengan fokus pada topik-topik terkait yang spesifik. Terkait dengan hal tersebut Sekretariat menyatakan kesediaannya untuk menyiapkan background note jika topik telah ditetapkan.

Negara anggota sepakat bahwa pendalaman diskusi tentang isu ini sangat penting, dan sejalan dengan proposal Ekuador tentang macro prudential measures akan memberikan pemahaman lebih tentang pembentukan standar pada sistem keuangan negara berkembang. Dalam hal ini negara anggota diminta untuk memberikan masukan, khususnya LDCs, tentang topik-topik atau area diskusi yang mereka kehendaki.

Argentina Measures that discriminate against products and services from certain WTO Members

Pada awal sidang Argentina meminta agar judul agenda “Argentina Measures that discriminate against products and

services from certain WTO Members” diubah menjadi "Argentina-Certain measures that affect trade in services"

dan disetujui oleh Panama yang mengajukan agenda ini. Dalam penjelasannya, Panama mengatakan bahwa pihaknya terus mengalami kesulitan dengan kebijakan Argentina yang dianggap menerapkan peraturan jasa yang diskriminatif, khususnya terhadap negara yang memiliki tingkat pajak rendah atau nol. Kebijakan ini meliputi larangan pendirian kantor cabang berdasarkan negara asal atau domisili perusahaan. Hal ini dinilai melanggar prinsip MFN dan Pasal 1.1 GATT.

Argentina dalam tanggapannya menyampaikan bahwa informasi yang diberikan oleh Panama kurang akurat. Pihaknya telah mengundang Panama untuk menyelesaikan masalah ini secara bilateral namun belum mendapatkan respons. Argentina menjelaskan bahwa negaranya mengalami banyak masalah penghindaran pajak dan penyalahgunaan peraturan perpajakan oleh perusahaan-perusahaan asing. Sebagai negara berkembang, Argentina merasa perlu menerapkan peraturan yang mengharuskan adanya transparansi dalam hal perpajakan, serta mengindari dampak negatif dari penghindaran pajak. Hal ini tambahnya

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012 69

perlu dibarengi dengan pertukaran informasi antara Argentina dan entitas yang memiliki tingkat pajak rendah dan nol guna mempertahankan tingkat pajak dasar yang berlaku di Argentina.