BAB I KINERJA
E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa
6. Sidang Council for Trade in Services (CTS) – WTO
Sebagai penutup rangkaian Sidang Services Week Oktober 2012, pada tanggal 5 Oktober 2012, di WTO Jenewa telah dilangsungkan Sidang Council for Trade in Services (CTS).
Notifikasi berdasar Artikel lll:3; lll:5; dan V:7 GATS
Sidang mencatat notifikasi Hong Kong, China (S/C/N/645), Nepal (S/C/N/647-650), dan Norwegia (S/C/N/651-652), atas reformasi dan perubahan kebijakan perdagangan jasa mereka sesuai Artikel lll:3. Norwegia menambahkan bahwa notifikasi ini merupakan upaya untuk memperkuat fungsi CIS untuk mengembangkan transparansi antar-Anggota seperti yang dimandatkan oleh MC-8.
Di bawah Artikel lll:5, Norwegia juga melakukan notifikasi dengan menginformasikan kebijakan sektor telekomunikasi Thailand yang berpotensi untuk mendistorsi pasar. Kebijakan tersebut bernama "Notification of National Broadcasting and
Telecommunications Commission Re: Stipulation of
Prohibitions on Actions in the Nature of Foreign Dominance"
yang diterbitkan dalam Royal Gazette tanggal 23 Juli 2012 dan berlaku keesokan harinya. Norwegia menyatakan bahwa kebijakan tersebut melarang penguasaan saham, hak voting dan kegiatan lain yang memungkinkan orang asing memegang kontrol pada perusahaan penyedia jasa telekomunikasi Thailand. Meskipun Thailand belum meliberalisasikan sektor ini, namun Norwegia meminta Thailand menjelaskan bagaimana kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen Thailand di GATS, terutama Schedule of
Commitments Thailand terkait akses pasar (Artikel XVI), national treatment (Artikel XVII), dan domestic regulations
(Artikel VI).
Menanggapi hal ini, Delegasi Thailand menyatakan bahwa jawaban resmi atas pertanyaan Norwegia tengah disusun oleh kementerian terkait di Bangkok. Namun sebagai initial
response, Thailand menyatakan bahwa jelas tertulis bahwa
kebijakan tersebut tidak boleh melanggar komitmen internasional yang telah dibuat Thailand, sehingga tidak bertentangan dengan GATS. Selain itu, kebijakan tersebut dibuat lebih untuk menghindari dominasi asing dalam pengajuan usulan kebijakan sektor telekomunikasi dan penunjukan/pemberhentian anggota dewan direksi penyedia jasa telekomunikasi.
Sedangkan di bawah Artikel V:7 GATS, sidang mencatat notifikasi FTA antara Ukraina, Eslandia, Liechtenstein, Norwegia dan Swiss (S/C/N/644): El Salvador, Guatemala,
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012 75
Honduras dan Kolombia (S/C/N/646); China dan Hong Kong, China (S/C/N/264/Add.6), serta China and Macao, China (S/C/N/265/Add.6).
Selain itu, terdapat komunikasi dari India yang mempertanyakan beberapa konsep definisi dalam RTA Amerika Serikat – Korea Selatan dan RTA Amerika Serikat - Kolombia yang berbeda dengan GATS, seperti definisi MFN dan NT yang hanya mencakup services supplier, bukan
services dan services supplier seperti dalam GATS. Demikian
juga definisi cross border supply dalam RTA berbeda dengan GATS. India juga mempertanyakan tujuan RTA dalam meliberalisasi perdagangan jasa dalam mode 4. Baik Amerika Serikat maupun Korea Selatan meminta waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut secara detail dan tertulis. Namun sebagai initial response, Amerika Serikat menyatakan bahwa menurut hemat mereka services sangat terkait erat dengan services supplier, sehingga definisinya dapat digabung, Sedangkan Korea Selatan menyatakan bahwa sesuai footnote 3 Artikel 3.1 RTA tersebut, arah liberalisasi perdagangan jasa di mode 4 diatur sesuai kesepakatan masing-masing pihak.
Pembukaan kembali the
Fifth Protocol GATS
untuk aksesi Jamaika
Sekretariat menginformasikan bahwa sesuai kesepakatan dalam pertemuan CTFS tanggal 1 Oktober 2012, the Fifth
Protocol GATS akan dibuka kembali hingga tanggal 4
Desember 2012 untuk menerima aksesi Jamaika. Diinformasikan bahwa pada akhir 1990-an Jamaika gagal merampungkan proses ratifikasi aksesi the Fifth Protocol GATS karena krisis keuangan domestik. Namun saat ini Jamaika siap untuk melakukan proses ratifikasi, setelah melakukan reformasi aturan domestik, terutama di bidang jasa asuransi pensiun dan praktik perbankan.
Diskusi mengenai
International Mobile Roaming (IMR)
Dalam Agenda International Mobile Roaming (IMR), Sekretariat meminta wakil dari ITU untuk meng-update Anggota mengenai rekomendasi CTS atas transparansi pembebanan biaya IMR pada end user. ITU memaparkan bahwa draf rekomendasi mengenai hal ini telah disepakati Anggota ITU untuk kemudian akan dibawa ke World
Conference on International Telecommunication (WCIT 2012)
di Dubai, pada bulan Desember 2012.
Selandia Baru menginformasikan bahwa Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informatika Selandia Baru dan
Department of Broadband, Communication and the Digital Economy (DBCDE) Australia telah mengeluarkan draf laporan
76 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012
terutama dalam proyek Trans-Tasman Mobile Roaming. Draf laporan tersebut merekomendasikan penurunan tarif IMR Trans-Tasman kedua negara. Australia mendukung laporan tersebut. Sementara India berharap bahwa bentuk kerja sama apapun dari kedua negara di sektor ini tidak melupakan komitmen MFN keduanya di schedule of commitments masing-masing.
Diskusi mengenai
E-Commerce
Terdapat tiga paper utama mengenai pembahasan
e-commerce, yakni sepuluh prinsip trade-related ICT oleh
Amerika Serikat dan Uni Eropa (S/C/W/338); cloud computing oleh AS (S/C/W/339); dan e-commerce dan UKM oleh Swiss (S/C/W/340). Dalam pertemuan CTS kali ini Uni Eropa membagi pengalamannya dalam hal pemberian otoritas dan lisensi untuk penyedia jasa telekomunikasi dan information
society services. Dengan dikeluarkannya dua instrumen EU directive baru-baru ini, penyedia jasa hanya perlu melakukan
notifikasi kepada otoritas Uni Eropa sebelum melakukan suplai jasa, tanpa perlu menunggu pemberian izin. Uni Eropa tidak menerapkan pembatasan lisensi/otorisasi apapun untuk penyedia mode 3 information society services, asalkan tidak melanggar aturan keamanan dan perlindungan konsumen.
Dalam kesempatan ini, Australia juga menyarankan untuk memasukkan tiga prinsip tambahan dalam sepuluh prinsip
trade related ICT AS - Uni Eropa, yakni: (i) online consumer protection, (ii) online personal data protection; dan (iii) unsolicited commercial electronic messages (spam)
(S/C/W/349).
Tanggapan Anggota pada umumnya memuji langkah liberalisasi kebijakan otorisasi dan lisensi Uni Eropa. Namun demikian, sebagian besar Anggota negara berkembang menyatakan bahwa tingkat liberalisasi sejauh itu masih sangat sukar dilakukan di negaranya, mengingat adanya keterbatasan infrastruktur untuk memonitor, melindungi konsumen serta pertimbangan aspek keamanan nasional. Sementara Amerika Serikat mengusulkan untuk diselenggarakan workshop mengenai e-commerce yang didukung oleh banyak Anggota.
Indonesia dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa harus ada balance coverage dalam diskusi tentang prinsip-prinsip e-commerce dengan mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur dan kemampuan pemerintah. Saat ini Indonesia dalam proses mempersiapkan peraturan untuk menjamin keamanan bertransaksi dalam e-commerce.
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Oktober 2012 77
Indonesia mendukung usulan diadakannya workshop mengingat Indonesia tengah mengembangkan kebijakan tentang e-commerce.
Other Business Afrika Selatan menyesalkan penjadwalan pertemuan services
week kali ini dengan mengosongkan dua hari di tengah
pertemuan. Hal ini dinilai sebagai pemborosan bagi delegasi dari capital. Afrika Selatan memahami apabila sebagian Anggota harus melakukan konsultasi informal untuk membahas beberapa inisiatif, namun diharapkan tidak dengan mengorbankan kepentingan Anggota lain. Afrika Selatan mengharapkan agar di masa mendatang penjadwalan dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip inklusivitas. Pada intervensi berjudul Pathway to Trade in Services
Reform, Australia memberikan update perkembangan diskusi
RGF mengenai plurilateral agreement on services, di mana saat ini mereka tengah mengumpulkan critical mass untuk mencari common platform perjanjian tersebut. Hal ini kemudian memancing tanggapan antusias dari Anggota, terutama dalam hal transparansi dan inklusivitas perjanjian tersebut. Sebagian besar Anggota dari negara berkembang terutama India, China, Brazil, Afrika Selatan, dan Argentina mengecam inisiatif plurilateral agreement on services, karena tidak sesuai dengan mandat MC-8, bahwa different approach harus dilakukan dengan semangat transparansi dan inklusivitas, sesuai dengan prinsip single undertaking dan multilateralisme. Anggota tidak akan menerima
pre-determined outcome dari proses di luar prinsip-prinsip
tersebut untuk dimasukkan ke dalam GATS.
Untuk notifikasi certified commitment EC25, Uni Eropa menginfokan bahwa hingga saat ini baru 18 negara Uni Eropa melakukan ratifikasi atas komitmen tersebut.