• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I KINERJA

E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa

6. Sidang Council of Trade in Services

Sebagai penutup dari rangkaian Sidang isu Jasa, pada tanggal 23 Maret 2012 di Jenewa telah dilaksanakan Sidang Council on Trade in Services (CTS)

Sectoral and Modal Discussion

Pembahasan di bawah agenda ini difokuskan pada peran Usaha Kecil dan Menengah dalam perdagangan jasa. Terkait dengan isu tersebut, delegasi Swiss menyampaikan, kalian tentang perdagangan jasa, UKM dan e-commerce, yang bertujuan memberikan gambaran umum tentang

Disampaikan oleh delegasi Swiss bahwa UKM lebih banyak melakukan penjualan lewat internet dalam rangka perluasan pasar baru. E-commerce juga dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan transparansi pasar dan memudahkan kontak dengan konsumen. Sejumlah hambatan yang masih dialami oleh UKM Swiss adalah terkait dengan keamanan logistik dan perlunya investasi tambahan. Melalui kajian ini Swiss menginginkan masukan tentang e-commerce di negara anggota lainnya, termasuk hambatan yang dialami dan bagaimana mengatasi hambatan tersebut.

Negara anggota menyambut baik upaya Swiss untuk melakukan kajian tersebut, yang dinilai bermanfaat untuk memahami kebijakan Swiss terkait dengan e-commerce. Sebagian delegasi negara anggota, termasuk Delri, sepakat dengan pandangan Swiss bahwa hambatan yang dialami rata-rata sama, yaitu masalah keamanan, logistik, dan perlindungan data. Untuk itu disepakati dibutuhkannya rezim kebijakan yang lebih baik, kepastian hukum, strategi baru dan perlindungan untuk mendapatkan manfaat perdagangan jasa yang maksimal.

Karena perbedaan tingkat pembangunan dan teknologi dengan negara maju, e-commerce di negara berkembang belum tumbuh secara maksimal. Dengan demikian manfaat yang diperolehnya pun juga belum maksimal. Negara anggota menginginkan agar pembahaaan isu ini dilanjutkan supaya Negara anggota dapat lebih banyak memberikan masukan. Pembahasan ini juga dinilai sesuai dengan program kerja e-commerce di WTO.

Dedicated Discussion on International Mobile Roaming (IMR)

Sebagai negara penyelenggara Simposium mengenai

International Mobile Roaming (IMR), delegasi Australia

menyampaikan laporan penyelenggaraan simposium yang telah dilaksanakan di WTO tanggal 22 Maref 2012. Simposium dinilai berhasil menghasilkan berbagai masukan untuk dijadikan dasar bagi pembahasan lebih lanjut.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa proses untuk mengatur IMR tidaklah mudah. Terjadi perdebatan tentang perlunya pengaturan di tingkat multilateral dan masih belum diketahui mekanisme pengganti sekiranya sistem

roaming dihapuskan. Di beberapa negara telah dicoba cara

untuk mengendalikan IMR dengan price gaps. Berbagai organisasi internasional juga tercatat telah membahas isu ini.

Terdapat concern serius terkait IMR dan apa yang dapat dilakukan oleh WTO untuk mengatasi biaya roaming

charge yang sangat tinggi. Negara anggota perlu mencari

opsi untuk menangani permasalahan tersebut dalam konteks WTO.

Work Programme on Electronic Commerce

Pembahasan selama ini difokuskan pada dua dokumen dari AS dan UE. Di samping itu, sebagai referensi, negara anggota diminta untuk mengkaji dokumen tentang keputusan terkait e-commerce yang disepakati pada KTM-8 (W/T/L/43).

Terkait dokumen yang disampaikan oleh AS dan EU (S/C/W338), diharapkan akan terdapatnya pertukaran pengalaman di antara negara anggota. Proses pembahasan ini diupayakan untuk transparan dan inklusif meskipun konsultasi dilakukan secara terbatas. Dengan demikian seluruh negara anggota diharapkan juga dapat memberikan masukan. Beberapa hal yang dibahas termasuk dasar dan cakupan prinsip, promosi e-commerce, pengartian GATS, dan tujuan kebijakan.

Mengenai dokumen dari AS tentang mobile application

and cloud computing, AS mengharapkan dukungan dan

negara anggota terhadap pelaksanaan pertukaran pengalaman mengenai kebijakan yang terkait dengan sektor dimaksud.

Negara anggota secara umum menyambut baik kedua dokumen tersebut dan memandangnya sebagar dasar untuk pembahasan lebih lanjut di CTS. Selain itu, CTS juga memiliki mandat membahas isu e-commerce dengan tujuan memfasilitasi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini juga perlu dipertimbangkan gaps yang ada antara negara maju dan negara berkembang, yang dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam memetik manfaat dan kegiatan perdagangan.

Other Business Delegasi AS menyampaikan informasi tentang inisiatif

"Plurilateral Services Pad" yang sebelumnya telah dibahas

dalam forum "Enchilada". AS berharap untuk dapat bekerja sama dengan negara anggota lain untuk mengeksplorasi berbagai opsi dalam meningkatkan liberalisasi perdagangan jasa. Dalam hal ini, AS memberikan contoh kerja sama regional dan bilateral yang dianggap dapat meningkatkan akses pasar, yang pada gilirannya nanti dapat diaplikasikan dalam konteks WTO.

Meskipun didukung oleh beberapa negara anggota, mayoritas negara anggota belum dapat menerima usulan ini, karena dianggap tidak sesuai dengan sistem perdagangan multilateral dan belum jelas kontribusinya terhadap Doha Development Agenda. Negara anggota menggarisbawahi mengenai pentingnya proses yang transparan dan inklusif di dalam membahas seluruh isu. Negara angggota juga menginginkan kejelasan tentang bentuk dan sifat dari inisiatif tersebut. Beberapa permintaan klarifikasi yang disampaikan kepada negara yang ikut dalam inisiatif tersebut adalah: kemungkinan inisiatif tersebut manjadi suatu early agreement; kepentingan untuk membawa isu ini ke CTS; dan apakah inisiatif akan bersifat MFN atau terbatas. Selain itu negara anggota juga menekankan pentingnya keseimbangan kemajuan di antara isu Jasa, NAMA, dan Pertanian.

Pada kesempatan tersebut Delri menyampaikan bahwa Indonesia telah mengikuti perkembangan pembahasan inisiatif tersebut dengan seksama, khususnya untuk melihat potensi dampaknya terhadap sistem perdagangan multilateral. Indonesia juga menginginkan klarifikasi tentang tujuan dari inisiatif tersebut terkait dengan multilateralisme. Indonesia juga mengingatkan mengenai pentingnya untuk mengedepankan mandat DDA. penerapan prinsip special and differential treatment (S and

D) transparansi dan inklusivitas.

Serah Terima Keketuaan CTS

Pada akhir sidang, telah dilaksanakan pula penyerahan Keketuaan CTS dari Duta Besar Erwidodo, yang memangku masa jabatannya tahun 2011/2012, kepada Duta Besar Joakim Reiter (Swedia), yang akan memangku jabatannya tahun 2012/2013.

Dokumen terkait