3 HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.1 Karakteristik dan Klasifikasi Tanah di Bawah Tegakan Hutan Sekunder
3.1.1.4 Sifat Mineralogi Tanah di Bawah Tegakan Hutan Sekunder Mineral Fraksi Pasir
Komposisi mineral fraksi pasir diamati melalui mikroskop polarisasi dengan metode line counting pada mineral pasir fraksi total. Data hasil pengamatan disajikan pada Tabel 5. Hasil menunjukkan bahwa tanah pada tegakan di bawah hutan didominasi oleh fragmen batuan, hipersten, augit dan labradorit. Mineral augit, hipersten, dan labradorit merupakan mineral primer utama yang berasal dari bahan hasil aktivitas volkanik yang secara geologis berumur relatif masih muda (Hardjowigeno, 1993). Berdasarkan sebaran mineral tersebut, menurut kriteria Mohr et al.,(1960) Komposisi mineral pasir tersebut bersifat andesitik-basaltik (intermedier).
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa jumlah dan komposisi mineral primer yang ditemukan pada horison A tidak jauh berbeda dengan horison Bw pada semua profil tanah di bawah tegakan hutan sekunder. Ini menunjukkan bahwa derajat pelapukan mineral primer pada horison A saat ini masih sama dengan derajat pelapukan horison Bw. Dengan demikian mineral primer pada tanah di bawah tegakan hutan sekunder ini masih terjaga.
Tabel 6 menunjukkan kadar mineral mudah lapuk sangat dominan pada ketiga profil. Berdasarkan data tersebut, berpedoman pada kriteria Mohr dan Van Barren (1960) menunjukkan bahwa pada ketiga profil tanah di bawah tegakan hutan sekunder mempunyai derajat pelapukan pada tanah Viril. Selain itu, adanya mineral-mineral mudah lapuk tersebut mencerminkan bahwa tanah-tanah di bawah tegakan hutan sekunder memiliki tingkat kesuburan yang relatif masih tinggi.
Tabel 5. Frekuensi mineral fraksi pasir pada tanah di bawah tegakan hutan sekunder No Horison op lmt zt hd lm fb gv lb bn hh ag hp ov ep et 1 Profil H-1 Ah 2 1 1 - 4 45 1 11 1 sp 7 26 - 1 Bw 1 sp sp sp 3 55 1 8 sp 1 6 25 sp sp 2 Profil H-2 Ah2 sp 1 sp 6 13 1 20 1 sp 16 42 - Bw sp 3 - 5 15 sp 19 2 sp 15 41 sp 3 Profil H-3 Ah1 3 1 - sp 4 23 1 21 sp sp 15 32 sp sp sp Bw2 6 sp sp sp 3 26 1 18 sp 1 14 31 sp sp sp
Keterangan : op=opak, lmt=limonit, zt=zeolite, hd=hidrargilit, lm=lapukan mineral, fb=fragmen batuan, gv=gelas volkan, lb=labradorit, bn=bitownit, hh=hornblende hijau, ag=augit, hp=hipersten, ov=olivine, ep=epidotit, et=enstatit
Tabel 6. Kadar mineral mudah lapuk, mineral hasil lapukan , dan mineral sukar lapuk pada tanah di bawah tegakan hutan sekunder
No Horison Mineral Mudah Lapuk Mineral Hasil Lapukan Mineral Sukar Lapuk
1 Profil H-1 Ah 93 5 2 Bw 96 3 1 2 Profil H-2 Ah2 93 7 < 1 Bw 92 8 < 1 3 Profil H-3 Ah1 92 5 3 Bw2 91 3 6
Keterangan ; MML: zeolite, hidrargilit, fragmen batuan, gelas volkan, labradorit, bitownit, hornblende hijau, augit, hipersten, olivine, epidotit, enstatit; MHL: lapukan mineral, limonit; MSL: opak.
Mineral Klei
X-ray difraktogram fraksi klei pada tanah di bawah tegakan hutan sekunder dengan perlakuan penjenuhan Mg2+ ditampilkan pada Gambar 7. Horison tanah yang dianalisis menggunakan X-ray Difraktormeter merupakan horison Bw yang menjadi pewakil pada setiap profil. Nampak di posisi 0-2 theta pola difraktogram pada semua profil menunjukkan pola yang tidak beraturan dan tidak memiliki puncak yang tajam. Pola tersebut menunjukkan keberadaan mineral amorf yang dominan. Mineral lain yang terdeteksi antara lain kristobalit, kuarsa, feldspar, metahaloisit serta haloisit terhidrat.
Profil H-1 selain didominasi oleh klei amorf (alofan) juga terdeteksi mineral lain berdasarkan puncak yang muncul antara lain metahaloisit (0.723 & 0.350 nm), kristobalit (0.406 nm), feldspar (0.378 & 0.322 nm), dan kuarsa (0.335 nm). Sementara itu, pada profil H-2 mineral lain yang teredeteksi berdasarkan puncak yang muncul hanya satu yaitu kristobalit (0.407 nm). Mineral lain yang terdeteksi pada profil H-3 antara lain haloisit terhidrat (0.494 nm), tridimit (0.431 nm), kristobalit (0.405 nm), metahaloisit (0.349), dan feldspar (0.321 & 0.307 nm).
18
Gambar 7. Difraktogram XRD dari klei tanah dengan penjenuhan Mg2+ pada profil tanah di bawah tegakan hutan sekunder
Dari hasil analisis diketahui komposisi mineral fraksi klei tersebut merupakan tanah yang berasal dari bahan induk volkan. Selain itu pola puncak yang muncul juga bersifat asimetris dan tidak tajam yaitu puncak yang menunjukkan mineral metahaloisit. Puncak yang muncul dengan intensitas 100 % hanya terjadi pada puncak yang menunjukkan mineral kristobalit. Mineral ini terdeteksi pada semua profil tanah di bawah tegakan hutan sekunder ini. Adanya mineral metahaloisist dan kristobalit menunjukkan bahwa kedua mineral tersebut merupakan hasil dari pelapukan abu volkan (Yatno dan Zauyah, 2003). Dilihat dari intensitas pelapukannya profil H-1 dan H-3 memiliki derajat pelapukan yang paling tinggi dengan adanya mineral sekunder metahaloisit dan haloisit terhidrat yang terdeteksi oleh XRD.
3.1.1.5 Klasifikasi Tanah di Bawah Tegakan Hutan Sekunder berdasarkan
Taksonomi Tanah
Nama tanah menurut sistem klasifikasi Taksonomi Tanah USDA dari tanah yang berada di bawah tegakan hutan sekunder ditampilkan pada Tabel 7. Berdasarkan morfologi dan sifat kimia tanahnya, ketiga profil H-1, H-2, dan H-3 memiliki epipedon umbrik, yaitu terdapat lapisan setebal 18 cm atau lebih yang memiliki warna tanah dalam keadaan lembab dengan value dan kroma kurang <3. Pada sebagian atau seluruh horison memiliki kejenuhan basa <50 % (ekstrak NH4OAc) dan kadar C-organik >0.6 %. Semua tanah memiliki horison kambik (Bw) karena tidak memenuhi syarat peningkatan klei untuk argilik. Tekstur tanah berdebu atau lebih halus serta tidak memenuhi syarat untuk horison argilik, kandik, oksik, atau spodik. Hal ini menandakan tidak terjadinya pencucian klei.
0 5 10 15 20 25 30 35 2Theta (o) H-2/Bw H-3/Bw2 H-1/Bw (mt) (cb) (fd) (mt) (qz)(fd) (cb) (ht) (td) (cb) (mt) (fd) (fd) cb=kristobalit; fd=feldsfar; ht=haloisit terhidrat;
Tabel 7. Nama tanah pada lahan di bawah tegakan hutan sekunder menurut sistem klasifikasi Taksonomi Tanah USDA
No. Profil Epipedon Horison penciri bawah Subgrup 1. H-1 Umbrik Kambik Thaptic Hapludands 2. H-2 Umbrik Kambik Thaptic Hapludands 3. H-3 Umbrik Kambik Thaptic Hapludands
Kriteria suatu tanah diklasifikasikan ke dalam ordo Andisol antara lain harus memiliki persentase jumlah Alo+½Feo (ekstrak ammonium oksalat) 2% atau lebih, bobot isi <0.90 g/cm3, dan retensi fosfat >85%. Berdasarkan kriteria tersebut maka ketiga profil tanah di bawah tegakan hutan sekunder diklasifikasikan sebagai Andisol pada kategori order. Ketiga profil Andisol tersebut memiliki regim kelembaban udik, karena tidak mengalami kering selama 90 hari secara kumulatif dalam satu tahun. Oleh karena itu, pada tingkat suborder, ketiga tanah ini diklasifikasikan sebagai Udands. Pada kategori greatgroup, ketiga profil (H-1, H-2, dan H-3) diklasifikasikan ke dalam Hapludands karena tidak memiliki ciri lain yang spesifik. Pada kategori subgroup, semua profil memiliki horison terkubur (Ab). Horison H-1 mulai kedalaman antara 58 cm, profil H-2 mulai kedalaman 43 cm, dan profil H-3 mulai kedalaman 56 cm, sehingga diklasifikasikan ke dalam Thaptic Hapludands.
3.1.2 Karakteristik dan Klasifikasi Tanah pada Penggunaan Lahan