BA III METODE PENELITIAN
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.4 Sikap/Kecenderungan (Disposition) Para Pelaksana
Keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik akan ditentukan dengan sikap penerimaan atau penolakan dari (agen) pelaksana. Maka dari itu sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul
persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan yang akan implementor laksanakan adalah kebijakan ”dari atas” (Top Down) yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak pernah mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan, keinginan, atau permasalahan yang warga ingin selesaikan.
Sikap penerimaan dalam pelaksanaan pembinaan Koperasi dalam memberdayakan ekonomi masyarakat, Dimulai dari sejauh mana pemahaman implementor mengenai isi kebijakan dan penguatan komitmen pelaksanaan pembinaan agar ketika di implementasikan dapat ditransfer dan diterima oleh masyarakat. Tanggapan dalam pembinaan Koperasi Terkait hal itu, dalam penguatan Komitmen implementordan pemahaman isi kebijakan seperti yang disampaikan informanDiana Luthfia, SEStaf Seksi Pemberdayaan Koperasi, bahwa pemahaman implementor terhadap Peraturan Daerah mengenai Pembinaan Koperasi dan UMKM harus terus di tingkatkan melalui penataran atau pelatihan yang diadakan oleh Dinas itu sendiri, ketika itu sudah dilakukan mutasi pegawai tidak lagi menjadi kendala mengenai kurangnya pemahaman tentang Koperasi oleh Sumber daya manusia yang dimiliki Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang.
Senada dengan Informan H. Koko,Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kabupaten Pandeglang Kurangnya pemahaman sumbeberdaya mengenai perkoperasian yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UMKM
Kabupaten Pandeglang selain karena mutasi pegawai ada faktor lain yaitu pelatihan SDM yang tidak serius pelatihan hanya bersifat formalitas saja dan pelatihan yan diadakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang hanya bersifat umum saja, jangka waktu pelatihannyapun tidak selama seperti di jaman orde baru dimana saat ini pelatihan hanya diadakan selama 3 hari itupun dipadatkan sangat jauh berbeda dengan jaman ordebaru pelatihan perkoperasian dilakukan selama minimal dua bulan, lamanya pelatihan mempengaruhi sejauh mana pemahaman atau ilmu yang diserap oleh para SDM yang mengikuti pelatihan.
Intensitas pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM dalam meningkatkan pemahaman menurut informan H. Koko,Kepala Seksi Kelembagaan Koperasi terhadap Perkoperasian tergantung Anggaran yang dimiliki oleh Dinas, dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UMKM berdampak kepada pelatihan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang, kemudian ketika melakukan pelatihan diperparah dengan dipadatkannya jadwal pelatihan sehingga transfer ilmu yang diserap oleh para SDM yang mengikuti pelatihan tidak maksimal.
Keterbatasan yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UMKM seharusnya bukan menjadi kendala harus menjadi motifasi agar kemampuan yang ada dapat di optimalkan sehingga Pelatihan yang di lakukan oleh Dinas
Koperasi dan UMKM sebagai bentuk meningkatkan SDM sehingga diharapkan ketika melakukan pembinaan koperasi dapat dimengerti oleh Koperasi dan ilmu yang didapat dapat mengembangkan koperasi itu sendiri, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang memang tidak terfokus mengembangkan Koperasi pertanian saja untuk saat ini Koperasi yang banyak dikembangkan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang yaitu Koperasi Wanita, dengan Gerakan Menabung Seribu Sehari (GEMASERI) yang dimotori oleh Dinas Koperasi dan UMKM diharapkan masyarakat memiliki tabungan yang dikelola oleh koperasi sehingga Koperasi menjadi wadah untuk keperluan atau menjalankan perekonomian masyarakat.
Dukungan Pemerintah Provinsi terhadap pengembangan Koperasi Pertanian diwilayah yang memiliki potensi hasil pertanian menrut Informan Wendi Nurwendi, ST.Kepala Program Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten salah satunya Kabupaten Pandeglang masih dalam rancangan rencana kerja, pentingnya memberdayakan masyarakat melalui Koperasi khususnya yang memiliki potensi pertanian agar lebih menguntungkan masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, hal ini sudah di sadari oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten sehingga menjadi prioritas masuk didalam rencana kerja tahun 2017-2022 untuk pengembangan Koperasi Pertanian di wilayah yang didominasi Pertanian salah satunya Kabupaten Pandeglang.
Adapun dukungan dari partner pemerintah yang lain menurut Informan H. Koko, Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kabupaten Pandeglang dalam mengembangkan Koperasi salah satunya DEKOPINDA,pemerintah sebenarnya sudah melakukan upaya untuk mengembangkan Koperasi khususnya Koperasi pertanian dengan mengucurkan bantuan berupa peralatan pertanian yang tidak murah, akan tetapi kebanyakan Koperasi yang sudah di upayakan untuk diberi bantuan masih banyak yang tidak bisa bertahan atau tidak aktif apalagi jika Koperasi yang mayoritas anggotanya laki-laki hanya beberapa bulan berjalan bagus selanjutnya tidak.
Upaya yang sudah dilakukan pemerintah menurut Informan Rully FrSeksi Kelembagaan Koperasimeskipun tidak optimal karena memiliki berbagai keterbatasan setidaknya ada keinginan untuk mengembangkan Koperasi khususnya Koperasi pertanian, tetapi dalam kenyataannya Koperasi-koperasi yang tadinya berjalan saat ini banyak yang tidak berjalan atau tidak melakukan tugasnya misalnya melakukan RAT ( Rapat Anggota Tahunan) sehingga peran pemerintah disini terus melakukan cara agar koperasi tersebut dapat, Jika ada Koperasi yang tidak melakukan kewajibannya langkah yang diambil Dinas Koperasi dan UMKM pertama-tama mengirimkan surat himbauan agar melakukan Rapat Anggota Tahunan, banyaknya koperasi yang tidak melakukan RAT menjadi prioritas Dinas Koperasi dan UMKM untuk
meng RAT kan seluruh Koperasi yang belum melakukan RAT khususnya Koperasi Pertanian.
Langkah yang di ambil ketika ada Koperasi yang tidak melakukan kewajibannya melakukan Rapat Anggota Tahunan selain memberikan surat himbauan agar melakukan Rapat Anggota Tahunan, jika himbauan tersebut tidak direspon oleh Koperasi maka Dinas Koperasi dan UMKM akan mengambil langkah dengan membubarkan Koperasi yang tidak melakukan Rapat Anggota Tahunan selama Dua Tahun,dengan banyaknya Koperasi yang tidak aktif salah satunya Koperasi pertanian dari tahun 2008 maka langkah yang akan diambil oleh Dinas Koperasi dan UMKM akan membubarkan Koperasi-koperasi yang tidak aktif, dengan demikian pembaharuan data mengenai Koperasi yang aktif ataupun tidak aktif akan mejadi lebih baik, dengan banyaknya jumlah Koperasi yang harus dibubarkan seharusnya menjadi evaluasi untuk Dinas Koperasi dan UMKM dalam membuat rencana kerja kedepannya.
Dapat disimpulkan bahwa aparatur yang dimiliki Dinas Koperassi dan UMKM kurangnya Pemahaman mengenai perkoperasian, banyak faktor yang menyebabkan itu bisa terjadi salah satunya yaitu perpindahan pegawai dari dinas ke dinas sehingga jika ada pegawai baru maka pegawai tersebut harus bisa beradaptasi dan memahami mengenai perkoperasian degngan cepat tetapi pada kenyatannya tidak semudah itu, pelatihan yang diadakan oleh
pemerintah untuk meningkatkan pemahaman para implementor sangat minim karena terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UMKM.
Pelatihan SDM yang biasa dilakukan hanya bersifat umum tidak spesifik seperti saat sebelumnya, dimana pelatihan Koperasi saat ini berbeda sehingga pemahaman SDM Dinas Koperasi dengan sumber daya koperasi pada masa orde baru berbeda lebih memahami Koperasi, perbedaan yang sangat siginifikan diakibatkan karena waktu pelatihan yang dilakukan saat ini sangat terbatas berbeda dengan jaman orde baru, pelatihan saat ini hanya dilakukan 2 sampai 3 hari saja itupun dipadatkan ilmu yang seharusnya dipahami minimal dalam jangka waktu satu minggu dipaksa harus memahami dalam jangka waktu tiga hari dan hasilnya banyak ilmu tersebut tidak terserap.
Metode pelatihan pada jaman orde baru harus dilakukan kembali dimana waktu pelatihan yang dilakukkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia di dalam Dinas Koperasi dan UMKM minimal selama 2 bulan pendidikan untuk memahami tentang perkoperasian, setelah itu di jalankan maka dalam pembinaan koperasi Sumber Daya Tersebut diharapkan akan dapat mengembangkan Koperasi dari segi usaha dan lembaganya serta memcahkan masalah-masalah ya dimiliki oleh koperasi khususnya Koperasi Pertanian.Adapun program kegiatan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang dalam mengembangkan UMKM dan Koperasi yaitu.
Tabel 4.8
PROGRAM DAN KEGIATAN DINAS KOPERASI DAN UMKM KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2016
No PROGRAM DAN KEGIATAN INDIKATOR
I Program Pengembangan Kewirausahaan dankeunggulan Kompetitif Usaha KecilMenengah. Kegiatan :
1. Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan
2. Bimbingan Teknis Fasilitator / Motivator Kewirausahaan
3. Pengembangan Usaha Kecil / Sektor Informal
4. HNH Bimbingan Teknis Manajemen Koperasi
5. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan
6. PelatihanManajemen Pengelola Koperasi
Peningkatan SDM sektorKUKM dan Peningkatan jumlah UMKM sektor pertanian
dan pariwisata Meningkatkan motivasi dan
kemampuan wirausaha Meningkatkan kemampuan
fasilitator / mot ivator dalampenanganan permasalahan
UMKM
Meningkatkan pendapatan para pelaku usaha
Meningkatkan pengetahuan tentang akuntansi dan manajemen perkoperasian Meningkatkan pelaksanaan dan
pelaporan
Meningkatkan pelaksanaan dan pelaporan
II Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi.
Kegiatan :
1. Pembinaan, Pengawasan dan Penghargaan KoperasiBerprestasi
2. Penggabungan, Pemecahan dan Pembubaran Koperasi
Jumlah Koperasi sehat Peningkatan kualitas dan
kemandirian lembaga dan usaha Koperasi Terciptanya kelembagaan
berkualitas III Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah
yang Kondusif Kegiatan :
1. Fasilitasi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah
2. Sosialisasi Pengembangan Bina Usaha Koperasi
3. Diklat Pengelola Koperasi Penerima Fasilitas
Peningkatan daya saing dan pemasaranproduk karya
KUMKM.
Meningkatkan pendapatan usaha Kelompok UMKM Meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang Perkoperasian Meningkatkan kemampuan administrasi dan pengelolaan
usaha koperasi IV Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha
bagi UsahaMikro Kecil menengah Kegiatan :
1. Sosialisasi Dukungan Informasi Penyediaan Permodalan
2. Penyelenggaraan Promosi Produk UMKM
Jumlah sosialisasi informasi permodalan
danpenyelenggaraan promosi produk UMKM Meningkatkan kemampuan mengembangkan usaha koperasi
dan kemampuan mengakses permodalan
Dikenalnya komoditas / produk unggulan UMKM (Sumber :Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang,Tahun 2017)
Dari tabel diatas menunjukan program yang dibuat untuk mengembangkan koperasi, belum ada program yang menajadi prioritas dalam pembinaan koperasi pertanian.Jika dilihat dari potensi yang dimiliki kabupaten pandeglang dari sektor pertanian dan didukung oleh keadaaan
masyarakat dan alamnya yang subur seharusnya koperasi pertanian menjadi program prioritas dalam pengembangkan dan pembinaan dibanding dengan koperasi-koperasi sejenisnya.
Kurangnya perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang dalam membina dan mengembangkan Koperasi pertanian berdampak pada banyaknya Koperasi Pertanian yang tidak aktif, adapun koperasi pertanian yang aktif masih belum dapat berkembang dari segi usahanya dan lembaganya, dengan banyaknya Koperasi Petanian yang tidak aktif harusnya ada upaya dari pemerintah untuk mencari jalan keluar melalui program yang dibuat dalam pembinaan dan pengembangan koperasi pertanian. karena dengan koperasi sebagai lembaga akar rumput diharapkan menjadi lembaga untuk mensejahterakan masyarakat kabupaten pandeglang yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.