• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seniman Jalanan

4.3.3 Sikap Masyarakat dalam Memaknai Seni Jalanan

Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Blumer menulis, pada dasarnya tindakan manusia terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal yang diketahuinya dan melahirkan kelakuan atas dasar bagaimana mereka menafsirkan hal tersebut. Hal-hal yang dipertimbangkan itu mencakup berbagai masalah seperti keinginan, tujuan, dan sarana yang tersedia untuk mencapainya, serta tindakan yang diharapkan dari orang lain, gambaran tentang diri sendiri, dan mungkin hasil dari cara bertindak tertentu.

Dalam hal ini, tindakan membuat sebuah karya pada suatu lokasi yang dilakukan berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang diketahui dan dipahami

oleh para seniman, serta penafsiran mereka atas makna ruang publik. Para seniman menganggap ruang publik yang tepat untuk menjadi pilihan lokasi dalam membuat suatu karya sebaiknya berupa tembok.

Visualisasi seni jalanan berdampak lain kepada pemirsanya, yakni memberikan pendidikan sosial serta pembelajaran ide-ide tentang kesenirupaan. Selain pembelajaran ide-ide tentang kesenirupaan, di dalam seni jalanan dapat dimunculkan ide-ide tentang seni jalanan sebagai media aspirasi rakyat. Sebuah karya seni jalanan, apabila sudah dipublikasikan di ruang publik, karya seni tersebut akan menjadi sesuatu yang objektif. Pemaknaan atas karya seni itu sepenuhnya ada di tangan para pembaca, orang yang lalu lalang dan yang sempat atau yang tidak sempat menafsir sehingga seolah-olah karya itu sudah lepas dari tangan senimannya. Walaupun sudah terlepas dari senimannya diharapkan, masyarakat dapat memiliki kesamaan pemahaman mengenai aspirasi rakyat yang terdapat di dalam seni jalanan.

Penggunaan seni jalanan untuk komunikasi publik akan memperlancar jalannya penguatan masyarakat karena di samping seni jalanan sebagai karya seni yang mengekspresikan realitas sosial-politik sehari-hari juga menjadi rujukan berperilaku secara sosial bagi warga yang melihatnya. Warga yang melihat secara sepintas tentang sebuah seni jalanan akan dapat dengan cepat paham maksudnya dan kemudian secara sederhana dapat merumuskan apa yang seharusnya dia lakukan atau tidak dilakukan. Dalam konteks ini, karya seni bukan hanya merupakan ekspresi seniman tetapi juga menjadi rujukan para pemerhatinya. Contohnya, seniman yang ingin menepis persepsi masyarakat dengan meluapkan idenya kedalam bentuk karya seni jalanan

Gambar 4.6

Karya seni yang bertuliskan “Graffiti Can Make Feel Good” (sumber : pribadi)

Berbagai bentuk ekspresi seni jalanan yang dituangkan dalam bentuk karya seni visual tidak luput dari dukungan masyarakat setempat yang memberikan izin kepada para seniman jalanan agar dalam rangka pengekspresia isi hati. Eksplorasi

ekspresi diri para seniman memang berbeda-beda, tergantung kebutuhan lokasi, maksud, serta tujuan dari tema yang akan dituangkan oleh para seniman.

Berikut beberapa contoh realisasi seni jalanan berdasarkan hasil dari pengekspresian isi hati para seniman jalanan di Jl. Adam Malik.

a. Karya seni jalanan yang diciptakan untuk memotivasi anak-anak muda agar tidak gampang putus asa dan berani untuk menngejar mimpi mereka setinggi langit. Karya ini dibuat oleh SmaneTwo, yang mana SmaneTwo ingin memberikan semangat kepada teman-teman sejawatnya agar tidak takut mengejar mimpi mereka meskipun terlihat tidak mungkin, SmaneTwo mengatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin sebelum hal tersebut belum dicoba.

Gambar 4.7

Hasil karya SmaneTwo yang berjudul “Sky Is The Limit” (sumber : pribadi)

b. Bentuk ekspresi diri pada karya seni ini diciptakan atas dasar kegelisahan Soul14 terhadap kegiatan yang mengandung SARA yang sampai sekarang masih ada di tengah masyarakat kota Medan.

Gambar 4.8

Hasil karya Soul14 berjudul “Peace, Love, Unity!” (sumber : pribadi)

Seni jalanan di Jl. Adam Malik lebih dimunculkan oleh komunitas-komunitas yang terorganisir dengan baik, dan mempunyai hubungan baik dengan warga setempat karena warga setempat menganggap karya yang dibuat oleh anggota komunitas yang selalu melukis di Jl. Adam Malik sangat berbeda dengan karya seni jalanan ditempat lain dan juga dapat memperindah Jl. Adam Malik yang selama ini ditempeli oleh brosur-brosur iklan yang tidak jelas dan juga tidak sedap dipandang mata. Berikut beberapa contoh karya seni dari komunitas informan.

a. Karya Seni Komunitas Funk Flows Family

Funk Flows Family adalah salah satu komunitas terlama di kota Medan. Dibentuk oleh SmaneTwo dan Penelope Voyla pada tahun 2007, dan sekarang beranggotakan 5 orang yang dimana bakat dari masing-masing anggota dapat dikatakan luar biasa. Bentuk karya seni memberikan sentuhan wildstyle dan karakter didalamnya.

Gambar 4.9

Hasil karya SmaneTwo dan Rack (sumber : pribadi)

b. Karya Seni Komunitas HJWT

HJWT sendiri kependekan dari Hand Job Writing Team yang dibentuk oleh Soul14 dan Note2. Karya yang dibuat oleh kedua orang ini didasarkan atas persahabtan yang mana mereka ingin mengatakan sahabat sejati tidak akan membiarkan sahabatnya berjalan sendiri.

Gambar 4.10 Hasil karya Soul14 dan Note2 (sumber : pribadi) c. Karya Seni Komunitas Me&Art

Me&Art sendiri adalah salah satu komunitas junior yang masih bertahan dan tetap eksis karena keseriusan anggota-anggota komunitas tersebut yang melihat banyak komunitas baru dan tidak lama kemudian bubar karena ketidakseriusan para anggotanya.

Gambar 4.11

Hasil karya Komber berteknik 3D. (sumber : pribadi)

Berbagai macam ekspresi diri para seniman di kota Medan dituangkan dalam bentuk karya seni jalanan yang digambarkan di dinding-dinding yang berada di Jl. Adam Malik. Para seniman berkreasi dan mengeksplor bagaimana seharusnya mengkaji sebuah street art dalam ruang lingkup budaya Indonesia melalui berbagai jenis style yang terdapat didalamnya, seperti tagging, wildstyle, 3D, dan lain sebagainya. Melalui seni jalanan ini pula para seniman jalanan di kota Medan akan lebih mudah memperlihatkan identitas dirinya pada hasil karya yang diciptakannya. Selain itu, para seniman dapat memberikan pesan-pesan yang positif untuk lingkungan setempat.

BAB V