BAB V PEMBAHASAN
5.2 Sikap Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap terjadi karena adanya rangsangan sebagai objek sikap yang harus diberi respon, baik responnya positif ataupun negatif, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dan sebagainya. Dalam hal ini terkai dengan sikap seorang guru yang dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai pendidikan kesehatan reproduksi khususnya pada upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak.
Berdasarkan Tabel 4.9 terlihat katagori tingkat sikap responden dalam hal pendidikan kesehatan reproduksi terhadap upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak berada pada tingkat baik sebanyak 87,0 %, tingkat sedang sebanyak 11,1 % dan tingkat kurang 1,9 %. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan sikap responden terhadap pendidikan kesehatan reproduksi maupun pencegahan kekerasan seksual pada anak cukup positif atau baik, dengan pembahasan sebagai berikut.
5.2.1 Pendidikan Kesehatan Reproduksi Pada Anak Masih Tabu
Pernyantaan pendidikan kesehatan seksual pada anak masih tabu sebanyak 30 orang (55,6 %) menjawab setuju dan tidak setuju sebanyak 24 orang (44,4 %).
Menurut Helmi dan Paramasti (dalam Dewi, 2013) tentunya berkaitan dengan kurang terbukanya informasi mengenai pendidikan kesehatan reproduksi/seks yang benar dan sehat dalam masyarakat, bahkan muncul kecenderungan membiarkan seks dianggap tidak bermoral dan tabu jika dibicarakan secara terbuka.
Hal serupa juga berdasarkan berdasarkan penelitian Kartika Ratna Pertiwi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta (2007) tentang Urgensi Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Sekolah mendapatkan bahwa anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan bahwa anak mempercayai sosok guru sebagai pemberi informasi yang benar dan akurat dalam berbagai masalah kesehatan. Di Indonesia sendiri orang tua yang harusnya menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi ini masih merasa kaku dan tabu membicarakan seks pada anaknya, atau keterbatasan ruang dan waktu bahkan kemampuan untuk menyampaikannya maka peran guru sangat besar untuk melengkapinya (Pertiwi, 2012).
Berbicara masalah seksualitas di kalangan sekolah masih dianggap tabu bagi sebagian orang. Rendahnya pemahaman akan kesehatan reproduksi merupakan indikator lemahnya pemerintah dalam melindungi, menghormati, dan memenuhi hak warga Negara atas kesehatan reproduksi. Hal ini tentunya membutuhkan pemikiran khusus agar regulasi yang ada dapat adil bagi setiap orang terlebih anak yang harus dilindungi.
Sementara kekerasan seksual khususnya pada anak ini telah menjadi topik lama. Menurut Imron (2011) “Dewasa ini kesehatan reproduksi menjadi perhatian
(ICPD), di Kairo, Mesir, pada tahun 1994”. Konferensi tersebut menghasilkan
kesepakatan perubaahan paradigma dalam pengolahan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang terfokus pada kesehatan reproduksi serta upaya pemenuhan hak-hak reproduksi. Maka sejak itulah masyarakat internasional secara konsisten mengukuhkan hak-hak remaja akan informasi tentang kesehatan reproduksi dan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk konseling (Rosmulyana, 2014). Di Indonesia, hal ini masih kurang disadari terlihat dari peraturan yang ada masih fokus pada hukuman pelaku bukan pda tindak pencegahannya.
Berdasarkan gambaran di atas dibutuhkan usaha untuk mengubah pemikiran guru bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya sebatas hubungan seksual tapi juga sebagai bentuk tanggungjawab untuk dapat melindungi dirinya sendiri. Sikap ini tentunya harus didukung olehregulasi yang sesuai akan pentingnya menyadarkan guru terhadap perannya dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada siswanya.
5.2.2 Pendidikan Kesehatan Reproduksi Dapat Mencegah Dan Menghindarkan Anak
Pada pernyataan selanjutnya mengenai pendidikan reproduksi/seks sejak dini dapat mencegah dan menghindarkan anak dari kekerasan seksual terdapat 4 orang (7,4 %) yang tidak setuju. Sisanya sebanyak 50 orang (92,6 %) menyatakan setuju.Sikap ini menunjukkan hal positif responden. Hal ini telah tertuang dalam peraturan yang ada bahwa Pendidikan Kesehatan Reproduksi merupakan salah satu upaya dalam mencegah tejadinya kekerasan seksual pada anak. Ini juga dapat
dijadikan sebagai upaya strategis dalam mewujudkan upaya kesehatan pada anak yang tertuang dalam Peratuan Menteri Kesehatan No. 25 tahun 2014 Pasal 2 yaitu; menjamin agar anak usia sekolah dan remaja mendapatkan pendidikan kesehatan melalui sekolah maupun luar sekolah, serta menjamin terpenuhinya hak kesehatan anak dengan memperhatikan siklus hidup sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya (Peraturan Menteri Kesehatan, 2014). Meski pada November 2015 Mahkamah Konstitusi masih menolak pendidikan kesehatan reproduksi masuk dalam kukrikulum khusus.
5.2.3 Peran Guru Dapat Membantu Orangtua Dalam Memberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah
Pada pernyataan selanjutnya mengenaiperan guru dapat membantu orangtua dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolahsebanyak 53 orang (98,1 %) menjawab setuju 1 orang (1,9 %) menyatakan tidak setuju.Hal
inimenunjukansikappositif guru
terhadapperannyadalammemberikanpendidikankesehatan reproduksi padasiswa. Sikapinitentunyasangatdiperlukan,
karenameskibelumtertuangdalamperaruran yang
khususdalampemberianpendidikankesehatanreproduksi,
namunKomisiPerlindunganAnak Indonesia telahmelakukansosialisasimelalui media.Wujud kepedulian KPAI ini dilakukan melalui berbagai kampanye mengenai hak-hak anak, sosialisasi tentang dampak kekerasan seksual maupun hukuman bagi pelaku kekerasan seksual serta berbagai pelatihan bagi orang tua
dan guru mengenai deteksi dini indikasi tindakan kekerasan seksual yang mungkin dialami oleh anak. Disamping pencegahan diawal dengan memahamkan anak mengenai kekerasan seksual dalam pendidikan kesehatan reproduksi sebagai
bentuk upaya preventif tentulah
optimal.Berdasarkanhasilwawancaradenganresponden,
sikapiniterbentukdaripemberitaan media
terkaitdenganbanyaknyakasusanaksebagaikorbankekerasanseksual. Meski begitu tidak dipungkiri bahwa tidak adanya regulasi khusus yang mengatur menyebabkan sebagian responden masih enggan atau merasa tidak menjadi tanggungjawabnya dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi tersebut. 5.2.4 Perlunya Sosialisasi dan Pelatihan Agar Guru Dapat Menyampaikan
Pendidikan Kesehatan Reproduksi Secara Tepat dan Terarah
Disamping adanya sosialisasi mengenai dampak kekerasan seksual seperti yang disampaikan sebelumnya tentu saja diperlukan jugasosialisasi dan pelatihan agar guru dapat menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi secara tepat dan terarah. Ini terlihat dari hasil penelitian bahwa sebanyak 53 orang (98,1 %) setuju dan 1 orang (1,9 %) tidak setujusosialisasi dan pelatihan agar guru dapat menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi. Ini membuktikan bahwa banyak guru yang merasa tidak tahu apa yang harus disampaikan dan bagaimana cara dalam menyampaikannya.
Namun, ada beberapa pernyataan mendasar selain di atas yang memiliki respon negatif seperti pendidikan kesehatan reproduksi/seks diberikan ketika anak telah menstruasi dan mimpi basah sebanyak 40 orang (74,1 %) setuju dan tidak
setuju sebanyak 14 orang (25,9 %). Hal ini tidak sesuai dengan jumlah nilai baik pada pertanyaan pengetahuan sebanyak 32 orang (59,3 %) karena menurut responden benar bahwa sebaiknya pemberian pendidikan kesehatan reproduksi diberikan saat usia dini akan tetapi di Indonesia hal ini tidak sesuai dengan kebiasaan dan budaya di Indonesia.
Dari tingkat katagorik sikap responden dalam hal pendidikan kesehatan reproduksi dalam upaya pencegahan kekerasan seksual didapat tingkat baik berada pada tingkat baik dengan total nilai 75-100 % sebanyak 47 responden (87,0 %), tingkat sedang berada pada total nilai 65-74 % sebanyak 6 responden(11,1 %) dan tingkat kurangberada pada total nilai kurang dari 65 % sebanyak 1 responden 1,9 %. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan sikap responden terhadap pendidikan kesehatan reproduksi maupun pencegahan kekerasan seksual pada anak cukup positif atau baik.
Pendidikan kesehatan reproduksi atau pendidikan seks penting untuk mencegah agar anak tidak masuk ke tindakan-tindakan penyimpangan dan mendapatkan tindakan kekerasan seksual (child abuse). Anak perlu mendapatkan informasi tentang pengetahuan pendidikan reproduksi. Ini menyebabkan sikap yang dipengaruhi oleh stimulus informasi atau pengetahuan tentang kekerasan seksual pada anak yang didapat dari media menyebabkan kekhwatiran sehingga sikap positif muncul meskipun masih konvensional. Sikap ini dapat lebih ditingkatkan melalui sosialisasi persuasif dan pelatihan pada guru.