BAB V PEMBAHASAN
5.3 Tindakan Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Tindakan merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki. Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau sikap, proses selanjutnya adalah diharapkan ia akan mempraktikkan apa yang diketahuinya dengan mempertimbangkan informasi dan keyakinan tentang keuntungan dan kerugian yang didapat. Perilaku yang dimaksud adalah peran serta guru sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan dan ikut mengawasi pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak agar anak dapat memelihara kesehatan reproduksinya.
Dalam pemberian pendidikan kesehatan reproduksi inimenurut Bagley &
King ( dalam Mashudi & Nur’aini, 2015), mencakup keterampilan keselamatan pribadi (Personal safety skills) merupakan seperangkat keterampilan yang perlu dikuasai oleh anak agar dapat menjaga keselamatan dirinya dan terhindar dari tindakan kekerasan seksual. Menjadi hal yang sangat mendasar untuk menjadikan anak mandiri dan bertanggungjawab untuk melindungi dirinya dari kekerasan seksual.Personal safety skills terdiri atas tiga komponen keterampilan yang dikenal dengan slogan 3 R yakni : Recognize; yakni kemampuan anak mengenali ciri-ciri orang yang berpotensi melakukan kekerasan seksual (predator), Resist; yakni kemampuan anak bertahan dari perlakuan atau tindakan kekerasan seksual, misalnya berteriak minta tolong, memberitahu orang lain bahwa orang yang menggandengnya bukanlah ayah atau ibunya, dan sebagainya dan Report; yakni kemampuan anak melaporkan perilaku kurang menyenangkan secara seksual yang
diterimanya dari orang dewasa, bersikap terbuka kepada orang tua atau guru agar dapat memantau kondisi anak tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan komponen tindakan yang harus dilakukan responden dalam pemberian pendidikan kesehatan reproduksi khususnya dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak. Hasilnya terletak pada tingkat kurang dan sedang, dengan pembahasan sebagai berikut.
5.3.1 Mengajarkan Anak Mengenali Ciri-Ciri Orang Yang Berpotensi Melakukan Kekerasan Seksual (Predator)
Pada pertanyaan apakah guru mengajarkan anak mengenali ciri orang yang
berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual pada anakmenjawab “ya” sebanyak
15 orang (27,8 %) dan yang tidak sebanyak 39 orang (72,2 %). Pertanyaan lain yang berhubungan yaitu mengajarkan anak untuk mengenali berbagai bentuk pelecehan seksual mulai dari menyentuh, mencolek hingga kekerasan seksual seperti tindak pencabulan sebanyak 32 orang (59,3 %) menjawab “ya” dan yang tidak sebanyak 22 orang (40,7 %). Pertanyaan apakah menjelaskan tentang pubertas dan perubahan fisik dan emosi yang akan dialami dan bertanggungjawab atas dirinya dengan jawaban “ya” dijawab sebanyak 24 orang (44,4 %) dan yang tidak sebanyak 30 orang (55,6 %).
Bagian ini disebut juga dengan Recognize, yakni kemampuan anak mengenali ciri-ciri orang yang berpotensi melakukan kekerasan seksual (predator).Anak diberikan kesadaran atas hak-hak pribadi terhadap tubuhnya, serta bagaimana mereka boleh menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menyentuh bagian tubuhnya, terutama yang sensitif atau yang sangat pribadi.
Dengan demikian anak diharapkan dapat membedakan pelaku tindakan kekerasan seksual daripada orang lainnya yang berkomunikasi atau melakukan kontak fisikdengannya.
5.3.2 Mengajarkan Anak Bertahan Dari Perlakuan Atau Tindakan Kekerasan Seksual
Bagian ini disebut juga dengan Resist, yakni kemampuan anak bertahan dari perlakuan atau tindakan kekerasan seksual, misalnya berteriak minta tolong, memberitahu orang lain bahwa orang yang menggandengnya bukanlah ayah atau ibunya, dan sebagainya.Pada pertanyaan apakah guru mengajarkan untuk melakukan tindakan perlawanan seperti memukul, menggigit, menendang pelaku kekerasan seksual dan melarikan diri serta pertanyaan apakah anda pernah ikut program penyuluhan/sosialisasi kesehatan reproduksi bagi anak didik di sekolah bagi anak didikseluruhnya menjawab tidak (0 %). Padahal ini merupakan bagian dari hal dasar untukmembangun kemampuan anak dalam bertahan dari perlakuan atau tindakan kekerasan seksual.
5.3.3 Mengajarkan Anak Melaporkan Perilaku Kurang Menyenangkan Secara Seksual Yang Diterimanya
Pertanyaan mengenai mengajarkan untuk mengadukan kepada orang yang dipercaya seperti orang tua atau guru bila mendapat perlakuan yang mengancam sebanyak 5 orang (9,3 %) menjawab “ya “ dan yang tidak sebanyak 49 orang (90,7 %). Bagian ini disebut Report, yakni kemampuan anak melaporkan perilaku kurang menyenangkan secara seksual yang diterimanya dari orang dewasa, bersikap terbuka kepada orang tua atau guru agar dapat memantau kondisi anak
tersebut. Anak diajari agar mampu bersikap terbuka atas tindakan kekerasan seksual yang diterimanya, dan mampu melaporkan pelaku pada orang dewasa atau lembaga lain yang berkepentingan dan dipercaya oleh anak untuk membantunya.
Berdasarkan Tabel 4.11 terlihat katagori tindakan responden tentang pendidikan kesehatan reproduksi terkait dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak berada pada tingkat baik dengan total nilai 75-100 % tidak ada(0 %), tingkat sedangdengan total nilai 65-74 % sebanyak 13 responden (24,1 %) dan tingkat kurang dengan total nilai kurang dari 65 % sebanyak 41 responden (75,9 %).
Berdasarkan hasil penelitian di atas didapatkan hasil tindakan pada tingkat kurang dan sedang. Hal ini tidak sesuai pada teori Notoatmodjo(2010), bahwa tindakan merupakan aplikasi pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh individu. Pada penjelasan di atas telah disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap berada pada tingkat baik dan sedang, namun tindakan cenderung dari sedang ke kurang. Hal ini dikarenakan faktor lain yang mempengaruhi guru sebagai responden dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi/seks kepada siswa baik secara internal maupun eksternal.
Faktor internal yang dimaksud antara lain selain beberapa guru masih menganggap bahwa pendidikan kesehatan reproduksi/seks dan belum merasa tabu pantas untuk disampaikan kepada semua siswa (tergantung pada kelas dan umur), merasa tidak menjadi tanggugjawab guru melainkan orangtua, tidak tahu apa saja yang harus disampaikan dan bagaimana menyampaikannya. Sedangkan faktor eksternal terkait dengan kebijakan dan regulasi seperti tidak adanya
peraturan khusus yang mengharuskan guru menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi/seks dan sosialisasi maupun penyuluhan bagaimana agar cara terbaik untuk menyampaikannya kepada anak sesuai dengan umur, kebutuhan dan kondisi yang ada. Peraturan yang ada berfokus pada upaya membuat jera si pelaku melalui hukuman. Sedangakan upaya pencegahan tindakan kekerasan seksual khususnya pada anak masih belum komprehensif.