• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap manusia atau untuk singkatnya kita sebut sikap, telah didefinisikan ke dalam berbagai versi oleh para ahli. Dari berbagai devinisi tersebut pada umumnya dapat dimasukkan ke dalam tiga kerangka pemikiran berikut ini:

a. Kerangka pemikir yang pertama diwakili oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), Charles Osgood, dan Berkowitz (dalam Saifuddin Azwar 2003:4) menurut mereka, sikap suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Secara lebih spesifik, Thurstone sendiri mempormulasikan sikap sebagai derajat afek positif atau afek ne gatif terhadap suatu objek psikologis.

b. Kelompok pemikir yang kedua diwakili oleh para ahli seperti Chave (1928), Lapierre (1931), Mead (1934), dan Gorden Allport (1935) (dalam Saifuddin Azwar, 2003:5) menurut kelompok pemikiran ini, sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila

individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Lapierre mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimulus sosial yang telah terkondisikan.

c. Kelompok pemikir yang ketiga adalah kelompok yang berorientasi kepada skema triadik (triadik scheme) menurut kerangka pemikir ini suatu sikap merupakan konsentrasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berorientasi dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek. Secord & Backman (1964) (dalam Saifuddin Azwar, 2003:5) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek dilingkungan sekitarnya.

Di samping pembagian kerangka pemikiran tradisional terurai di atas, di kalangan para ahli psikologi sosial mutakhir terdapat pula klasifikasi pemikiran tentang sikap dalam dua pendekatan seperti berikut ini:

a. Pendekatan yang pertama memandang sikap sebagai kombinasi reaksi, afeksi, perilaku dan kognitif terhadap suatu objek. Ketiga komponen tersebut secara bersamaan mengorganisasikan sikap individu. Pada uraian di atas di kenal dengan nama skema triadik, disebut juga pendekatan

tricomponent. Perhatikan skema gambar berikut ini: (Saifuddin Azwar, 1988:8)

Gambar 1:

Konsepsi skematik Rosenberg & Hovland mengenai sikap (adaptasi dari Fishbein & Ajzen, 1975:340)

Dalam skema gambar 1 terlihat bahwa sikap seseorang terhadap sesuatu objek selalu berperanan sebagai perantara antara responsnya dan objek yang bersangkutan. Respons diklasifikasikan dalam tiga macam, yaitu respons kognitif (respons perseptual dan pernyataan mengenai apa yang diyakini), respons afektif (respons syaraf simpatetik dan pernyataan afeksi), serta respons konatif atau perilaku (respons berupa tindakan dan pernyataan mengenai perilaku). Masing- masing klasifikasi Variabel independen

yang dapat diukur

Variabel intervening

Variabel dependen yang dapat diukur

STIMULASI (individu, situasi, isu sosial,

kelo mpok sosial, dan objek sikap lainnya. SIKAP AFEKSI KOGNISI KONASI • Respons syaraf simpatetik. • Pernyataan lisan tentang afek. • Respons perceptual. • Pernyataan lisan tentang keyakinan. • Tindakan yang tampak. • Pernyataan lisan mengenai perilaku.

respons ini berhubungan dengan ketiga komponen sikapnya (dalam Saifuddin Azwar, 1988)

b. Pendekatan kedua timbul karena adanya ketidakpuasan atas penjelasan mengenai inkonsistensi yang terjadi diantara ketiga komponen yaitu komponen kognitif, afektif, dan perilaku dalam membentuk sikap. Oleh karena itu pengikut pendekatan ini memandang perlu untuk membatasi konsep sikap hanya pada aspek afektif saja (single component). Definisi yang mereka ajukan mengatakan bahwa sikap tidak lain adalah ‘afek atau penilaian-positif atau negatif- terhadap suatu objek’. Pengikut pendekatan ini adalah Fishbein & Ajzen (1980), Oskamp (1977), Petty & Cacioppo (1981), Brehm & Kassin (1990) (dalam Saifuddin Azwar, 2003:6).

Sedangkan menurut pendapat Ngalim Purwanto (1984:136) sikap

(attitude) adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu cara kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi. Sebagai reaksi maka sikap akan selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang atau tidak senang terhadap suatu objek, melaksanakan atau menjauhi suatu objek.

Selain itu, Ellis (dalam Ngalim Purnomo, 1984:136) mengemukakan pendapat tentang sikap sebagai berikut:

Attitude involve some knowledge of situation. However, the essential aspect of the attitude is found in the fact that some characteristic feeling or emotion is experienced, and as we would accordingly expect, some definite tendency to action is associated.

2. Fungsi Sikap

Menurut Katz (dalam Bimo Walgito, 1991:110) sikap mempunyai empat fungsi yaitu:

a. Fungsi Instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.

Fungsi ini adalah berkaitan dengan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai alat dalam rangka mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek tersebut. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap yang bersangkutan. Maka dari itu, fungsi ini disebut sebagai fungsi manfaat (utility), yaitu sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam rangka pencapaian tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, karena dengan sikap yang diambil oleh seseorang, orang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap lingkungan sekitarnya. b. Fungsi Ego

Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan egonya. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya atau egonya. Demi untuk mempertahankan egonya orang yang bersangkutan mengambil sikap tertentu. Misal, orang tua mengambil sikap tertentu untuk mempertahankan egonya dalam keadaan terdesak pada saat diskusi dengan anaknya.

c. Fungsi Ekspresi Nilai

Fungsi ini menunjukkan sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan dirinya, seseorang akan mendapatkan kepuasan. Dengan individu mengambil sikap tertentu terhadap nilai tertentu, ini menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan. d. Fungsi Pengetahuan

Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti, dengan pengalaman-pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. Elemen-elemen dari pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa hingga menjadi konsisten. Ini berarti seseorang memiliki sikap tertentu terhadap suatu objek, menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut terhadap objek sikap yang bersangkutan.

3. Komponen Pembentukan Sikap

Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap yaitu: a. Komponen kognitif (komponen konseptual), yaitu komponen yang

berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal- hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap. b. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang

berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak senang

merupakan hal negatif. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan negatif.

c. Komponen konatif (kompoenen perilaku), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap sikap (Bimo Walgito, 1994:110).

Menurut Allport (dalam Tri Dayakisni dan Hudaniah, 2003:96) menjelaskan tiga komponen sikap:

a. Komponen kognitif

yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang objek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang objek sikap.

b. Komponen afektif

yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang dan rasa tidak senang.

c. Komponen konatif

yaitu komponen yang merupakan kesiapan seseorang untuk berperilaku yang berhubungan dengan objek sikap.

Selanjutnya, komponen sikap yang diutarakan oleh David Krech, Richard S. Crutcfield dan Egerton L. Ballachey (1962) dalam buku yang berjudul “individual in society” (dalam G. Mujiyana : Skripsi, 2005:18) sebagai berikut:

a. Komponen kognitif (the cognitive component)

Komponen ini merupakan suatu sikap yang terdiri dari kepercayaan mengenai suatu objek tertentu. Kognisi yang melekat pada sistem sikap itu merupakan kepercayaan evaluatif terhadap objeknya, baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan, baik atau buruk, dan lain- lain.

b. Komponen perasaan (the feeling component)

Komponen ini merupakan komponen perasaan yang menunjukkan adanya emosi dalam hubungannya dengan objek. Suatu objek dapat dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai.

c. Komponen kecenderungan bertindak (the action tendency component)

Komponen ini mencakup kesiapan-kesiapan bertingkahlaku yang berkaitan dengan objek sikap. Jika seseorang bersikap positif terhadap suatu objek, maka ia cenderung mendukung objek tersebut, sebaliknya apabila ia bersikap negatif ia cenderung tidak mendukung objek tersebut.

Komponen-komponen di atas berpengaruh terhadap kesiapan-kesiapan bertindak seseorang dalam menghadapi suatu objek. Objek yang dihadapi seseorang menentukan apakah sikap itu termasuk sikap individu atau sikap sosial. Sikap individu adalah sikap yang terdapat pada seseorang dalam hubungannya dengan kesukaannya atau ketidaksukaannya secara pribadi terhadap suatu objek. Sedangkan sikap sosial adalah sikap yang terdapat pada sekelompok orang dalam masyarakat atau seluruh masyarakat yang

dimanivestasikan dalam bentuk kegiatan yang sama dan dilakukan berulang-ulang (dalam Onong Uchjana Effendy, 1983:92-93).

4. Ciri-ciri Sikap

a. Sikap itu dibawa sejak lahir

Ini berarti bahwa manusia pada waktu dilahirkan belum membawa sikap-sikap tertentu terhadap suatu objek karena sikap-sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, melainkan terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu sikap dapat dipelajari dan dapat berubah. Meskipun sikap dapat berubah, tetapi sikap mempunyai kecenderungan yang stabil.

b. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap

Oleh karena itu, sikap selalu terbentuk atau dapat dipelajari dalam hubungannya dengan objek tertentu, yaitu mulalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut.

c. Sikap dapat tertuju pada satu objek, tetapi juga tertuju pada sekumpulan objek-objek

Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang, maka orang tersebut juga akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut tergabung

di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan objek sikap.

d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar

Sikap ini menunjukkan kalau sesuatu sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan lama bertahan pada diri orang yang bersangkutan. Sikap tersebut akan sulit berubah dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Demikian pula sebaliknya, apabila sikap itu belum begitu mendalam ada dalam diri seseorang maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama dan akan mudah berubah.

e. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi

Ini berarti bahwa sikap terhadap suatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan), tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap suatu objek tersebut. Disamping itu, sikap juga mengandung motivasi, ini berarti bahwa sikap juga mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek-objek yang dihadapinya (Bimo Walgito, 1994:115).

Ciri-ciri sikap yang lain dikemukakan oleh Onong Uchjana Effendy (1983:92) dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Manajemen” sebagai berikut:

a. Sikap bukan merupakan pembawaan manusia sejak lahir, melainkan terbentuk selama pekembangannya, sebagai akibat hubungannya dengan objek-bojek di lingkungannya.

b. Sikap dapat berubah sebagai hasil interaksi antara seseorang dengan orang lain, karena itu sikap adalah hasil pelajaran dari lingkungan dan dapat dipelajari oleh lingkungan.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, melainkan senantiasa mengandung relasi dengan suatu objek. Objek tidak hanya satu jenis, melainkan bermacam-macam sesuai dengan banyaknya objek yang menjadi perhatian orang tersebut.

d. Sikap bersangkutan dengan dimensi waktu, yang berarti sikap hanya cocok untuk situasi tertentu, yang belum tentu sesuai dengan waktu lain karena itu sikap dapat berubah menurut situasi.

e. Sikap tidak dapat menghilang walaupun kebutuhan sudah dipenuhi.

f. Sikap mengandung faktor-faktor motivasi dan emosi. Sifat inilah yang membedakan sikap dengan pengetahuan yang terdapat pada seseorang.

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sarlito W. Sarwono (1991:95) menyatakan ciri-ciri sikap sebagai berikut:

a. Dalam sikap selalu terdapat subyek dalam obyek.

b. Dalam sikap tidak dibawa sejak lahir melainkan dipelajari dan di bentuk melalui pengalaman-pengalaman.

c. Sikap tidak dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya.

d. Dalam sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan.

e. Sikap tidak dapat menghilang walaupun kebutuhan sudah terpenuhi. f. Sikap dapat bermacam- macam sesuai dengan banyak objek yang menjadi

perhatian orang yang bersangkutan.

5. Terbentuknya Sikap

Seperti telah dipaparkan di atas sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi sikap dibentuk sepanjang perkembangan individu yang bersangkutan. Untuk dapat menjelaskan bagaimana terbentuknya sikap akan jelas diikuti pada bagan sikap berikut ini : (dalam Onong Uchjana Effendy, 1983:95)

Gambar 2: Terbentuknya sikap Faktor internal - Fisiologis - Psikologis SIKAP Faktor eksternal - Pengalaman - Situasi - Norma-norma - Hambatan - Pendorong REAKSI Objek Sikap

Dari bagan tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor fisiologis dan psikologis serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma- norma yang ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semuanya ini akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang.

Pendapat lain menurut terbentuknya sikap yang dikemukakan oleh Elita D. Nugroho adalah (1982:13):

a. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam atau pengalaman traumatik.

b. Melalui imitasi, peniruan dapat terjadi tanpa sengaja, dapat pula dengan sengaja. Dalam hal terakhir individu harus mempunyai minat dan rasa kagum terhadap model, selain itu diperlukan pula pemahaman dan kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru. Peniruan ini akan terjadi lebih lancar bila dilakukan secara kolektif.

c. Melalui sugesti, di sini individu membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa alasan dan pemikiran yang jelas, tetapi semata- mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau suatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.

d. Melalui identifikasi, di sini individu meniru orang lain atau suatu badan didasari suatu kerterikatan yang emosional sifatnya. Meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai. Identifikasi seperti ini sering terjadi antar anak dengan ayah, antara guru dengan muridnya dan lain- lain.

6. Pembentukan Sikap

Dalam hal ini yaitu interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Menurut Saifuddin Azwar (1988:31) pembentukan sikap memiliki beberapa faktor yang sangat mempengaruhi antara lain :

a. Pengaruh pengalaman pribadi

Apa yang dialami oleh seseorang akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang tersebut terhadap stimulus sosial. Tanggapan juga menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Penghayatan tersebut kemudian akan membentuk sikap, baik positif maupun negatif. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus mempunyai kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Maka dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.

b. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena kebudayaan pulalah yang memberikan corak pengalaman individu- individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat.

c. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Seseorang yang dianggap penting diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak tindak dan pendapat kita. Di antara orang yang dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami dan lain-lain. Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konfomis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan berkeinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

d. Pengaruh media massa

Media massa tersebut terdiri dari televisi, surat kabar, majalah dan lain-lain yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi media massa membawa pesan-pesan yang berisikan sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.

e. Pengaruh lembaga pendidikan

Lembaga pendidikan dan lembaga agama mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisahnya antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

f. Pengaruh faktor emosional

Tidak semua bentuk sikap yang ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, semua bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasarkan oleh emosi, yang berfungsi semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.

B. Program Pengalaman Lapangan

Dokumen terkait