• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan tidak ada perbedaan tingkat stres berdasarkan semester perkuliahan pada guru PAUD yang sedang menjalani tugas belajar Strata-1. Sebagian besar guru dalam proporsi yang hampir sama berada pada kategori stres sedang. Berbagai faktor

International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 447 penyebab stres tersebut antara lain: adaptasi pada pola-pola baru, keharusan menguasai IT, adanya konflik di sekolah, serta problem penyelesaian tugas. Konsekuensi pemahaman pada hasil ini adalah diperlukan upaya persiapan dan pendampingan berkelanjutan bagi guru PAUD yang akan melaksanakan tugas belajar baik dari pihak sekolah maupun universitas. Upaya ini dapat berupa bimbingan khusus pra-akademik agar guru memiliki ketrampilan dasar yang diperlukan. Dapat juga diberikan oleh sekolah dalam bentuk menyiapkan support system yang lebih mendukung aktivitas perkuliahan guru.

Peneliti merekomendasikan agar penelitian ini dilanjutkan dengan fokus pada bagaimana sekolah dan universitas dapat menjadi lingkungan yang suportif sehingga guru dapat memiliki sumberdaya yang lebih baik. Penelitian selanjutnya juga dapat memperluas cakupan pengambilan sample dari universitas berbeda. Ini dimaksudkan agar didapat data yang lebih mendalam mengenai bagaimana model pembentukan stres pada guru.

DAFTAR PUSTAKA

Das, P. P. P., & Sahoo, R. (2012). Stres and Depression among post-graduate students. International Journal of Scientific and Research Publication, 2(7), 1-5

Dafna, K,. Tali, H., (2005). Task-Oriented Versus Emotion-Oriented Coping Strategies: The Case of College Students. Vol.39, no.1, 72-86

Destanti, Handayani, Widyastuti, & Yanuarista. (2011). Perbandingan Tingkat Stres Pada Mahasiswa Ekstensi 2010 Yang bekerja Dengan Yang Tidak Bekerja. Universitas Sumatera Utara

Flook, L., Goldberg, S. B., Pinger, L., Bonus, K., & Davidson, R., (2013). Mindfulness For Teachers: A Pilot Study To Assess Effects On Stres, Burnout, and Teaching Efficacy. Journal Compilation Of International Mind, Brain, and Education, 7:182-195

Geng, G., Midford, R., Buckworth, J., (2015). Investigating the Stres Level of Early Childhood, Primary, and Secondary Pre-service Teachers during Teaching Practicum. Journal of Teacher Education for Sustainability, vol.17, no.1, 35-47

Halgin, R. P., & Whitbourne, S. K. (2010). Psikologi Abnormal : Perspektif KlinisPada Gangguan Psikologi (6 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Jayanthi, P., Thirunavukarasu, M., & Rajkumar, R. (2015). Academic stres and depression among adolescents: A cross-sectional study. Indian pediatrics, 52(3), 217-219

Klassen, R. M., & Chiu, M. M. (2011). The occupational commitment and intention to quit of practicing and pre-service teachers: Influence of self-efficacy, job stres and teaching context. Contemporary Educational Psychology, 36(2), 114ñ129.

Lyon, B. L. (2012). Stres, coping, and health. In Rice, H. V. (Eds.) Handbook of stres, coping and health: Implications for nursing research, theory, and practice (pp.3-23). USA: Sage Publication, Inc.

Khilmiyah, Akif. 2012. Stres Kerja Guru Perempuan di Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta. Lentera pendidikan, Vol 15 (2), 135-143

McCallum, F., & Price, D. (2010). Well Teachers, Well Student. Journal of Student Wellbeing, 4 (1), 19-34

Rumiani. (2006). Prokrastinasi Akademik ditinjau dari Motivasi Berprestasi dan. Stres Mahasiswa. Semarang: Jurnal Psikologi Universitas. Diponegoro.Vol.3 No.2.

Roeser, R. W., Skinner, E., Beers, J., & Patricia, A. J., (2012). Mindfulness Training and Teacher‟s Professional Development : An Emerging Area of Research and Practice. Child Development Perspectives, 6 (2), 167-173

448 International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 Samad, N.I., Hashim, Z., Moin, S., Abdullah, H., (2010). Assesments of Stres and Its Risks Factors

among Primary School Teachers in The Klang Valley, Malaysia. Global Journal of Health Science. Vol, 2, no.2, 163-171

Sugiyono (2011). MetodePenelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D (cetakan ke- 14). Bandung: Alfabeta.

Sveinsdottir, H., Gunarsdottir, H., Fridriksdottir, H. (2007). Self-Assessed Occupational Health and Working Environmental of Female Nurses, Cabin Crew and Teachers. Scandivian Journal of Caring Science, 27, 262-273.

Talib, N., & Zia-ur-Rehman, M. (2012). Academic performance and perceived stres among university students. Educational Research and Reviews, 7(5), 127-132

Taylor, S, E. (2006). Health Psychology 6th Edition. Singapore: McGraw-Hill

Waqas, A., Khan, S., Sharif, W., Khalid, U., & Ali, A. (2014). Association of academic stres with sleeping difficulties in medical students of a Pakistani medical school: a cross sectional survey. PeerJ, 2- 11.

International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 449 PROGRAM PENGEMBANGAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH (PLUS) KOTA SALATIGA TAHUN 2015

Endang Tri Wahyuni, Ely Umi Nurhayati & Paramita Ayu Ekasari IAIN Salatiga

[email protected] ABSTRACT

Multiple intelligence is plural intelegence that is had by everyone. The students as a personal that have a unity and unique. They have anything of potential and inelegancies which is explored, growth, reach, and developed. This purpose of this research is knowing student‘s multiple intelligence, developing student‘s multiple intelligence and student achievement, support factor, and multiple intelligence development obstruction of SD Muhammadiyah Plus Salatiga student. This research uses qualitative method by interview, observation, and documenting. This technique data analyse is data reduction, data serving and taking conclusion. The research procedures are apperception, field trip, and data analysing. The research result is: the all of kind student multiple intelligence are always explored and developed in SD Muhammadiyah Plus Salatiga, that include mathematic intelligence, linguistic intelligence, and visual spasial intelligence. Multiple intelligences development includes learning model that fun learning, media, tools, resources, and add activities which supporting multiple intelegencies development. This such as outing class, fieldtrip, extracurricular, extra talent and interest), achievement that is reached by student (including academic and non-academic), and support factor that increasing multiple intelligence, it is human resource and good facilities, obstruction factor is national exam, and minimal facilities of student‘s multiple intelligence in the next grade. Then, effort to solve obstraction is giving more time for every level.

Keywords: development, multiple intelligence, student‘s achievement PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2010, hal. 3). Selain itu (Samples, 1999, hal. 75) juga berpendapat bahwa pemahaman yang mendalam terhadap kecerdasan individu masing-masing anak dan gaya belajar mereka akan membantu para pendidik dalam menghadapi anak terutama dalam mengajari anak-anak dengan cara yang paling sesuai dengannnya atau dengan cara yang paling mudah untuk mereka dapat menguasai suatu pelajaran atau pekerjaan, menangkap informasi atau konsep atau berbagai keterampilan secara lebih cepat.

Setiap anak memiliki potensi dan kecerdasan masing-masing untuk dikembangkan. Kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Di dalam dunia pendidikan pemahaman makna kecerdasan sering dikatakan bahwa orang cerdas adalah dia yang pandai di bidang akademik. Seiring berjalannya waktu kecerdasan tidak lagi dibatasi pada satu paradigma saja tetapi makna kecerdasan sangatlah luas. Seorang anak dianggap cerdas tidak hanya dia yang pandai di bidang akademik saja melainkan ada bidang lain yang ia ungguli. Tuhan telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk dan berbeda dengan makhluk lainnya. Hal ini ditandai dengan diberinya manusia akal dan nafsu, sehingga manusia memiliki banyak potensi yang perlu kita hargai dan syukuri dengan mengembangkan apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

450 International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 Dalam pendidikan yang humanis, peserta didik dipandang sebagai makhluk unik yang memiliki berbagai macam potensi dan kecerdasan yang dengan kecerdasan berbeda-beda. Kecerdasan yang berbeda-beda sering disebut dengan multiple intelligence. Multiple intelligence sering disebut dengan kecerdasan majemuk, yang mana teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner. Gardner mengubah tiga paradigma mendasar tentang kecerdasan, yaitu kecerdasan tidak dibatasi tes formal; kecerdasan itu multidimensi; dan kecerdasan proses discovering ability) (Munib, 2010, hal. 70–76).

Dalam multiple intelligence disarankan untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak. Saat ini, belum semua sekolah tingkat dasar bisa memahami dan memberikan fasilitas yang mendukung guna mengembangkan kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didiknya. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengembangan multiple intelligence di SD Muhammadiyah (Plus) Kota Salatiga karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah unggulan yang mampu mengembangkan kecerdasan siswanya sehingga banyak prestasi yang diraih baik di bidang akademik maupun non akademik. Misalnya di bidang akademik juara II OSN Matematika 2015 tingkat Kecamatan Sidomukti, juara II OSN IPA 2015 tingkat Kecamatan Sidomukti dan di bidang non akademik (bidang olah raga) juara I Tae Kwondo U.28 tahun 2015 tingkat Nasional, juara II adzan tingkat kecamatan Sidomukti, dan lain sebagainya.

METODE PENELITIAN