• Tidak ada hasil yang ditemukan

penelitian ini pada investigasi variabel stres dan berbagai faktor penyebabnya. Pemahaman lebih mendalam pada variable ini selanjutnya dapat digunakan sebagai data untuk mengatasi permasalahan stres pada guru dan dapat menjadi bahan rujukan bagi pengembangan program-program preventif untuk meningkatkan kinerja dan kesehatan psikologis guru.

TINJAUAN PUSTAKA Stres Guru

Cannon (Lyon, 2012) mengartikan stres sebagai gangguan homeostatis yang menyebabkan perubahan pada keseimbangan fisiologis yang dihasilkan dari rangsangan fisik maupun psikologis. Cannon juga mengembangkan konsep ―flight or fight‖ yang menggambarkan bagaimana respon seseorang jika dihadapkan pada stres, akankah ia menghadapinya atau justru meninggalkannya. Menurut Lazarus (Taylor, 2006) secara umum stres dapat diartikan sebagai suatu gejala umum yang dialami individu, bercirikan adanya pengalaman mencemaskan atau menegangkan yang bersifat intensif dan relatif menekan. Kondisi ini muncul karena keadaan atau situasi eksternal yang terus memaksa individu memenuhi tuntutan yang tidak biasa pada dirinya. Lazarus (Taylor, 2006) menegaskan bahwa stres terjadi ketika kemampuan atau sumber daya yang dimiliki seseorang dinilai tidak mencukupi untuk mengatasi tuntutan situasi.

Penelitian yang dilakukan oleh NIOSH Research (Khilmiyah, 2012) menemukan bahwa penyebab stres dapat dibagi dua yaitu yang berasal dari dalam diri inidividu dan dari luar individu, antara lain:

Faktor dari dalam individu (Internal)

Faktor internal meliputi usia, kondisi fisik dan faktor kepribadian. Ada lima faktor kepribadian yaitu meliputi Extraversion, Conscientiousness, Emotional Stability, Agreeableness dan Openness to Experience. Dalam hal ini emotional stability sangat berhubungan dengan mudah tidaknya seseorang mengalami stres, dan openness to experience erat kaitannya dengan ketrampilan mindfulness pada diri individu.

Faktor dari luar individu (Eksternal)

Faktor eksternal adalah lingkungan baik lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja, cita-cita atau ambisi. Flook et al (2013) menyebutkan ada beberapa sumber stres guru yang secara umum sering ditemukan yaitu jam kerja, beban kerja yang berlebihan perilaku siswa yang sulit dikendalikan, serta faktor organizational. Sementara menurut McCallum & Price (2010) stres guru disebabkan oleh meningkatnya standar kerja yang harus dicapai, beban kerja yang berat, serta peningkatan permintaan siswa. Di Indonesia penelitian yang spesifik mengenai penyebab stres guru PAUD belum ditemukan, namun hasil penelitian Khilmiyah (2012) yang meneliti tentang stres guru perempuan di wilayah Bantul Yogyakarta menyebutkan beberapa sumber stres guru yang ditemukan antara lain: tugas rumah dan kantor yang bersamaan, disiplin ketat,

440 International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 tuntutan karier, suasana kantor tidak nyaman, atasan yang otoriter, serta hal-hal yang berkaitan dengan kenaikan pangkat atau jabatan.

Terkait peran gandanya sebagai mahasiswa, guru PAUD yang sedang menjalani tugas belajar juga memiliki dimensi stresor lain. Perguruan tinggi dapat memberikan tekanan berupa tuntutan akademik, kewajiban finansial, kemampuan manajemen waktu, serta kemampuan adaptasi dengan kehidupan kampus lainnya. Dafna dan Tali (2005) menyebutkan terdapat 4 faktor yang dapat menyebabkan mahasiswa akademis merasa tertekan dan stres, yaitu:

Stres akademik

Stres akademik dapat berasal dari persaingan kelas, isu-isu terkait pengelolaan waktu dan tugas, dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setiap mahasiswa memiliki tujuan akademik yang hendak diraih, sehingga hal-hal yang terkait pencapaian tujuan tersebut dapat menjadi sumber tekanan.

Stres emosional

Kecemasan dan kepercayaan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tuntutan akademik. Apabila mahasiswa memiliki keyakinan pada penyelesaian tugasnya ia akan merasa tenang, sebaliknya jika ada perasaan tidak yakin maka hal tersebut akan menimbulkan perasaan cemas yang dapat memicu stres.

Penyesuaian sosial

Mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan kondisi kampus yang sangat mungkin berbeda dengan lingkungan kehidupannya yang lain. Hal-hal yang sebelumnya tidak menjadi masalah, bisa jadi memunculkan konflik baru di lingkungan kampus. Mahasiswa tidak hanya harus menyesuaikan diri dengan teman-teman dari latar belakang berbeda, tetapi dengan civitas akademika lainnya.

Ekonomi

Kebutuhan akademik tidak terlepas dari kebutuhan finansial. Peran sebagai mahasiswa kerap mengharuskan seseorang menghabiskan cukup banyak dana untuk kegiatan pembelajaran yang beragam. Mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi diharuskan mampu mengelola hal ini sehingga tidak sampai menghambat kemajuan akademiknya.

Berbagai faktor penyebab stres yang ditemukan ini mengindikasikan bahwa stres merupakan masalah psikologis yang membutuhkan penanganan segera karena dapat muncul dari berbagai sumber sekaligus dan dapat berimplikasi pada kualitas mengajar yang dihasilkan guru. McCormick & Barnett (2011) menyebutkan, guru yang mengalami stres dan tidak mampu mengatasinya akan mengalami kelelahan emosional, rasa frustasi, dan beresiko tinggi meninggalkan profesinya. Lebih lanjut Halgin dan Whitbourne (2010) menyebutkan stres dapat menyebabkan berbagai dampak bagi kesehatan, berupa keluhan somatik (seperti gangguan cerna, nyeri dada atau debar jantung, insomnia, tidak nafsu makan, nyeri otot, letih, lesu dan tidak bergairah), gangguan psikis (sepertiputus asa, merasa masa depan suram, sedih dan merasa bersalah, impulsif dan mudah marah, serta selalu tegang dan suka menyendiri), dan gangguan psikomotor (seperti gairah kerja atau belajar menurun, mudah lupa dan konsentrasi berkurang) dengan atau tanpa gejala psikotik. Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh akan berusaha mengadaknan penyesuaian sehingga timbul perubahan patologis. Gejala-gejala patologis yang muncul dapat berupa hipertensi, serangan jantung, borok lambung, asma, eksim, kanker, dan sebagainya. Jika sudah timbul hipertensi, stres tetap berlangsung, sehingga

International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 441 bertambahlah resiko komplikasi serangan jantung (infrak) atau stroke otak yang berakibat fatal seperti kelumpuhan atau bahkan dapat meninggal dunia.

Model Pembentukan Stres

Lazarus dan Folkman (Taylor, 2006) melalui teori transaksional menjelaskan proses terjadinya stres salah satunya akibat individu menilai sumberdaya yang dimilikinya tidak memadai dalam menghadapi stresor (penyebab stres). Ketika individu menghadapi situasi tertentu, ia akan melakukan appraisal atau proses penilaian dan tanggapan terhadap peristiwa yang ada. Pertama ia akan masuk ke level primary appraisal dan mempersepsi apakah situasi tersebut irrelevant (netral), benign-positive (menyenangkan), atau stresful (mengancam). Jika persepsi individu melihat situasi tersebut sebagai ancaman, dalam proses penilaian selanjutnya yaitu secondary appraisal ia akan mengukur apakah memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasi situasi tersebut atau tidak. Reaksi stres akan muncul sebagai hasil proses secondary appraisal dimana individu merasa tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk menghadapi situasi menekan tersebut.

Pada proses secondary appraisal ini terdapat penentuan jenis coping yang bisa dilakukan dalam mengahadapi situasi-situasi yang mengancam (Lyon, 2012).. Lazarus and Folkman (Taylor, 2006) membagi dua metode coping (penanggulangan) yang dilakukan ketika menghadapi stres yaitu problem focused coping (penanggulangan berfokus pada masalah) dan emotion-focused coping (penanggulangan berfokus pada emosi). Problem-focused coping adalah cara menanggulangi stres dengan berfokus pada permasalahan yang dihadapi. Atau dengan kata lain, problem-focused coping dilakukan untuk menghidari atau mengurangi stres dengan cara langsung menghadapi sumber stres atau masalah yang terjadi. Emotion-focused coping adalah cara penanggulangan stres dengan melibatkan emosi. Atau dengan kata lain, seseorang yang mengalami stres akan melibatkan emosinya dan menggunakan penilaiannya terhadap sumber-sumber stres yang ada. Coping yang berfokus pada emosi dilakukan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan terhadap sumber stres. Pemilihan jenis coping ini sangat tergantung karakteristik individu dan derajat kesulitan masalah yang dihadapi.

Martaniah dkk (dalam Rumiani, 2006) menyebutkan bahwa stres terjadi melalui tahapan :

Tahap 1

stres pada tahap ini justru dapat membuat seseorang lebih bersemangat, penglihatan lebih tajam, peningkatan energi, rasa puas dan senang, muncul rasa gugup tapi mudah diatasi. Tahap 2

menunjukkan keletihan, otot tegang, gangguan pencernaan. Tahap 3

menunjukkan gejala seperti tegang, sulit tidur, badan terasa lesu dan lemas. Tahap 4 dan 5

pada tahap ini seseorang akan tidak mampu menanggapi situasi dan konsentrasi menurun dan mengalami insomnia.

Tahap 6

gejala yang muncul detak jantung meningkat, gemetar sehingga dapat pula mengakibatkan pingsan.

442 International Conference on Indonesian Islam, Education and Science (ICIIES) 2017 Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terjadinya stres merupakan bentuk respon dari persepsi individu terhadap besarnya sumber stres disbanding kapasitas diri untuk menghadapinya. Proses terjadinya stres sendiri berjalan secara bertahap sesuai derajat beban yang dirasakan individu. Informasi ini mengindikasikan bahwa kondisi stres sebenarnya dapat diatasi individu melalui strategi yang tepat. Dengan menyadari apa saja sumber stres, sejauh mana kemampuan diri, dan pemahaman terhadap kemunculan gejala-gejala stres, seseorang dapat memberikan respon yang lebih adaptif terhadap stres.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif (mixed method). Sugiyono (2011) menyatakan bahwa metode penelitian kombinasi (mixed method) adalah suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam kegiatan penelitian sehingga diperoleh data yang valid, komprehensif, reliabel, dan obyektif. Subyek dalam penelitian ini adalah 58 guru PAUD yang saat ini sedang menjalani tugas belajar di Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Subyek merupakan mahasiswa non-reguler dari semester satu, tiga, dan lima

Instrumen dalam penelitian ini menggunkan kuesioner dan skala yang telah tervalidasi. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini bersifat open-ended karena pertanyaan jenis ini memungkinkan subjek menjawab dengan rentang yang lebih luas tanpa terpengaruh strutur pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan tersebut disusun untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi sumber stres guru, dukungan pihak sekolah dan keluarga, serta tuntutan pekerjaan dan akademik. Selain itu, kuesioner juga terdiri atas sejumlah pertanyaan tertutup untuk memetakan informasi demografis, latar belakang, status pekerjaan, waktu yang dihabiskan untuk melaksanakan tugas sebagai mahasiswa dan sejarah medis. Skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Perceived Stres Scale (PSS)-10 untuk mengetahui bagaimana subjek mempersepsi situasi penuh tekanan yang dialaminya. PSS-10 dikembangkan oleh Cohen, Kamarch, dan Mermelstein (1983). PSS-PSS-10 mengukur kemampuan subjek dalam mempercayai sejauh mana situasi sehari-hari dianggap tidak terprediksi, tidak terkontrol, dan terasa membebani. Instrumen ini berbentuk self-report untuk mengetahui kondisi 1 bulan terakhir menggunakan 5 skala respon : 0-tidak pernah, 1-hampir tidak pernah, 2-jarang, 3-sering, 4-selalu. Semakin tinggi skor akhir yang diperoleh, menunjukkan tingkat stres yang semakin tinggi pula.

HASIL PENELITIAN