• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

1.2 SISI PENAWARAN

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2015 ditopang oleh akselerasi pada sektor pertanian dan sektor konstruksi di tengah perlambatan yang terjadi pada sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan. Akselerasi pada sektor pertanian dipengaruhi peningkatan produksi seiring panen raya tanaman bahan makanan (tabama) dan panen tanaman perkebunan tahunan di beberapa daerah. Sementara itu, akselerasi pada sektor konstruksi ditopang oleh kelanjutan proyek bangunan pemerintah maupun swasta.

Di sisil lain, perlambatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh deselerasi yang terjadi pada sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan. Melambantnya pertumbuhan sektor perdagangan dipengaruhi oleh berbagai faktor dan relatif sejalan dengan pelemahan yang terjadi pada konsumsi rumah tangga pada sisi penggunaan. Hal tersebut tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang cenderung melemah akibat tingkat

Mesin-mesin 18% Kapal Laut 7% Bahan Bakar Mineral 13% Benda Besi Baja 14% Besi dan Baja

22% Lainnya 26% Tiongkok 26% Australia 20% Singapur a 14% Filipina 7% Taiwan 19% Lainnya 14% Grafik 1.13.

Perkembangan Kegiatan Bongkar Pelabuhan

Sumber : PT Pelindo IV, Bitung

-30 -25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2012 2013 2014 2015

harga yang tinggi serta penurunan harga komoditas utama perekebunan rakyat seperti cengkih dan pala. Selain itu, pembayaran gaji ke-13 PNS dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang mayoritas direalisasikan pada bulan Juli 2015 menyebabkan belanja rumah tangga terfokus pada triwulan III 2015. Tren peningkatan jumlah angka pengangguran terbuka (TPT) sejak tahun lalu serta pengaruh regulasi seperti pajak progresif kendaraan bermotor juga turut memberi pengaruh terhadap laju sektor perdagangan. Selanjutnya, pada sektor industri pengolahan, perlambatan diperkirakan dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku terutama untuk komoditas perikanan seiring kondisi cuaca yang kurang mendukung serta oleh belum adanya hasil positif yang signifikan terkait penerapan kebijakan moratorium dan transhipment.

Secara keseluruhan, sumbangan terbesar pada pertumbuhan ekonomi Sulut periode triwulan II 2015 bersumber dari sektor pertanian yang tumbuh 4,83% (yoy) dengan sumbangan sebesar 1,05%. Sektor lain yang memberikan kontribusi cukup besar pada pertumbuhan ekonomi Sulut adalah sektor konstruksi dan sektor transportasi dengan sumbangan masing-masing sebesar 0,86% dan 0,71%. Sementara itu, kendati melambat, sektor perdagangan masih memberikan kontribusi cukup besar pada perekonomian Sulut dengan sumbangan sebesar 0,74%.

Tabel 1.4.

Laju Pertumbuhan Sulawesi Utara Menurut Lapangan Usaha (%)

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah

Q1 Sumb. Q2 Sumb. Q3 Sumb. Q4 Sumb. Q1 Sumb. Q2 Sumb.

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1.92 0.42 2.77 0.62 5.16 1.14 3.75 0.82 4.00 0.83 4.83 1.05

Pertambangan dan Penggalian 4.78 0.23 6.87 0.33 6.77 0.33 9.10 0.44 12.10 0.58 7.61 0.37

Industri Pengolahan 4.14 0.46 3.28 0.37 3.18 0.35 3.15 0.34 4.00 0.44 3.01 0.33

Pengadaan Listrik, Gas dan Produksi Es 2.40 0.00 3.50 0.00 3.16 0.00 30.21 0.03 38.87 0.04 9.36 0.01

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0.21 0.00 2.12 0.00 4.04 0.01 6.47 0.01 8.21 0.01 8.36 0.01

Konstruksi 7.40 0.93 7.67 0.95 3.72 0.48 5.15 0.67 5.92 0.75 6.79 0.86

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 11.77 1.45 10.05 1.24 7.90 0.99 7.56 0.96 7.38 0.96 5.79 0.74

Transportasi dan Pergudangan 11.29 0.93 9.86 0.80 9.98 0.81 10.52 0.85 9.18 0.78 8.52 0.71

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9.19 0.20 12.43 0.25 11.93 0.24 9.94 0.20 5.68 0.12 7.20 0.15

Informasi dan Komunikasi 9.33 0.41 8.31 0.36 9.75 0.42 9.64 0.41 8.50 0.38 9.53 0.42

Jasa Keuangan dan Asuransi 1.84 0.08 -1.13 -0.04 1.73 0.06 8.78 0.31 5.71 0.22 2.35 0.09

Real Estate 9.08 0.33 9.18 0.33 8.51 0.30 8.56 0.30 7.98 0.29 7.56 0.28

Jasa Perusahaan 9.19 0.01 8.41 0.01 7.31 0.01 7.82 0.01 8.21 0.01 8.33 0.01

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 9.51 0.62 7.03 0.47 9.58 0.66 9.52 0.68 8.90 0.59 9.52 0.64

Jasa Pendidikan 4.47 0.12 7.04 0.18 3.70 0.10 0.97 0.02 2.69 0.07 5.60 0.14

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 10.98 0.41 8.32 0.31 7.17 0.26 0.19 0.01 5.98 0.23 9.39 0.35

Jasa lainnya 8.39 0.13 4.84 0.08 2.05 0.03 3.52 0.06 6.24 0.10 7.49 0.12

PDRB 6.72 6.72 6.25 6.25 6.19 6.19 6.12 6.12 6.41 6.41 6.27 6.27

2014

Sumber : Survei Penjualan Eceran, KPw BI Prov.Sulut

1.2.1. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Kendati tumbuh melambat, Sektor

Perdagangan Besar dan Eceran: Reparasi Mobil dan Sepeda Motor masih menjadi salah satu penopang perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan laporan yang ditunjukkan dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 0,74%. Pada triwulan II 2015, sektor Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 5,79% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan I 2015 yang tercatat tumbuh sebesar 7,38% (yoy) maupun periode yang sama tahun

sebelumnya dimana sektor ini mampu tumbuh mencapai 10,05% (yoy). Dilihat dari pangsanya terhadap total perekonomian Sulut, Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menempati posisi kedua di bawah sektor pertanian dengan pangsa mencapai 12,7% dari total perekonomian Sulut pada triwulan laporan.

Perlambatan pertumbuhan sektor perdagangan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang cenderung melemah akibat tingkat harga yang tinggi serta penurunan harga komoditas utama perekebunan rakyat seperti cengkih dan pala. Selain itu, pembayaran gaji ke-13 PNS dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang mayoritas direalisasikan pada bulan Juli 2015 menyebabkan belanja rumah tangga terfokus pada triwulan III 2015. Tren peningkatan jumlah angka pengangguran terbuka (TPT) sejak tahun lalu serta pengaruh regulasi seperti pajak progresif kendaraan bermotor juga turut memberi pengaruh terhadap laju sektor perdagangan.

Melambatnya kinerja sektor PHR tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) KPw BI Provinsi Sulawesi Utara yang menunjukkan adanya penurunan angka Indeks Riil Penjualan Eceran dari 258,75 pada triwulan I 2015 menjadi 254,13 pada triwulan II 2015. Penurunan terutama didorong oleh turunnya indeks penjualan riil di kelompok barang makanan dan tembakau serta kelompok kerajinan, seni dan mainan terutama pada awal triwulan laporan. Kelompok lain yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok pakaian dan perlengkapannya.

Seiring dengan melemahnya perdagangan, data penjualan kendaraan di Sulawesi Utara juga menunjukkan perkembangan serupa. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pelaku usaha, penjualan kendaraan di Sulut pada triwulan laporan kembali mengalami kontraksi cukup dalam sebesar negatif 41,77% (yoy). Berdasarkan hasil liaison, pelaku usaha menyatakan bahwa kondisi penurunan penjualan sampai triwulan II 2015 sudah berada di luar ekspektasi. Namun

Grafik 1.14. Indeks Penjualan Eceran

0 50 100 150 200 250 300 350 400 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 Jan Feb Ma r Ap r Me i Ju n Jul Agu st Se p Ok t N op Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu st Se p Ok t N op Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2013 2014 2015

demikian, pelaku usaha masih cukup optimis bahwa tingkat penjualan akan kembali terdongkrak pada paruh ke dua tahun 2015.

Grafik 1.15.

Perkembangan Kredit Sektor Perdagangan Penjualan Kendaraan Grafik 1.16.

Sumber : LBU, Lokasi Proyek Sumber : Pelaku Usaha

Sejalan dengan perkembangan sektor perdagangan, dukungan perbankan terhadap sektor tersebut juga relatif menurun. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit kepada sektor perdagangan yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, kredit yang disalurkan pada sektor perdagangan mencapai Rp.6,7 Triliun, tumbuh 12,44% (yoy). Angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dimana kredit perdagangan tumbuh sebesar 14,32% (yoy).

1.2.2. Konstruksi

Pada triwulan laporan, sektor konstruksi kembali menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara. Sektor konstruksi tercatat mengalami akselerasi pada triwulan II 2015 dengan pertumbuhan sebesar 6,79% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,92% (yoy). Sumbangan sektor Konstruksi pada laju pertumbuhan ekonomi Sulut secara keseluruhan pada triwulan laporan mencapai 0,86% atau meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 0,75%.

Memasuki pertengahan tahun 2015, bebrapa proyek baru milik pemerintah tercatat mulai berjalan. Hal ini tercermin dari realisasi anggaran yang diperuntukan bagi proyek strategis sampai dengan Juni 2015. Kondisi tersebut didukung oleh masih berlangsungya proyek bersifat

multiyears baik oleh swasta maupun pemerintah menjadi pendorong utama perkembangan sektor konstruksi. Di sisi pemerintah, beberapa proyek strategis bahkan telah mencapai penyerapan anggaran di atas 50% yaitu proyek pembangunan waduk Lolak dan Kuwil serta proyek pembangunan pelabuhan perikanan. Namun demikian, masih terdapat beberapa proyek yang masih belum berjalan seperti proyek perpanjangan jaringan (listrik pedesaan) dan proyek pembangunan pasar rakyat. Sementara itu, proyek investasi bangunan pihak swasta seperti

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah

pembangunan pusat perbelanjaan, hotel, hunian vertikal dan kompleks perumahan terpantau masih marak dan terus berlangsung tanpa mengalami hambatan berarti.

Tabel 1.4.

Perkembangan Realisasi Anggaran Proyek Strategis 2015

Sumber : DJPBN Sulawesi Utara

Tingginya pertumbuhan sektor konstruksi juga tidak terlepas dari derasnya dukungan pihak perbankan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit konstruksi yang terus menanjak sejak peruh kedua tahun 2014. Kredit konstruksi di Sulut pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp.1,05 Triliun atau mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 35,87% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 31,86% (yoy). Di sisi lain, tingginya pertumbuhan sektor konstruksi juga tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran KPw BI Sulut dimana indeks penjualan bahan konstruksi mengalami peningkatan dari 250,06 pada Maret 2015 menjadi 274,17 pada posisi Juni 2015. Perkembangan sektor konstruksi yang semakin baik, diperkirakan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi Sulut di sepanjang tahun 2015. Perkembangan pembangunan terutama untuk jenis proyek infrastruktur transportasi, diharapkan dapat memberi multiplier effect pada perkembangan sektor lain yang terkait seperti sektor perdagangan dan sektor transportasi di masa mendatang.

No Proyek Strategis Pagu (Rp.) Realisasi Juni (Rp.)

1 Pelebaran Jalan (Pelabaran jalan di Manado dan sekitarnya, Kotamobagu dan sekitarnya,

serta di Kabupaten Sangihe Talaud dan sekitarnya 699,630,344,000 106,820,105,547 2 Pembangunan Jalan Bebas Hambatan (Jalan tol Manado-Bitung) 635,095,000,000 11,746,053,100 3 Penggantian Jembatan (Pembangunan dan pelebaran berbagai jembatan di Sulawesi

Utara) 246,845,293,000 36,231,882,840

4 Pembangunan Fasilitas pelabuhan (Lanjutan pembangunan fasilitas pelabuhan laut

bitung) 245,685,948,000 8,433,950,161 5 'Rekonstruksi/Peningkatan Struktur Jalan 222,750,000,000 35,657,125,800 6 Waduk yang dibangun (Pembangunan bendungan Lolak dan Bendungan Kuwil) 179,384,905,000 104,598,266,860 7 Landas Pacu (Runway) (Bandar Udara Naha Tahuna dan Bandar Udara Miangas) 163,742,560,000 -8 Pembangunan Jembatan Baru (antara lain rekonstruksi/rehabilitasi Jembatan

Tambulinas) 154,572,000,000 17,050,051,800 9 Sarana/prasarana pengaman pantai yang dibangun (di beberapa wilayah di Sulawesi

Utara) 118,521,200,000 20,282,605,900

10 Sarana/prasarana pengendalian banjir yang dibangun (di beberapa wilayah di Sulawesi

Utara) 111,685,662,000 16,131,958,500

11 Pembangunan Jalan Baru 81,301,000,000 6,650,071,200 12 SPAM Perkotaan (di berbagai wilayah di Sulawesi Utara) 66,806,800,000 4,387,687,600 13 Panjang Jaringan Distribusi (listrik pedesaan) sepanjang 204,9 KMS 66,710,842,000 0 14 Pasar Rakyat (Type A/B) (pembangunan beberapa pasar rakyat di beberapa wilayah di

Sulawesi Utara) 59,309,243,000 0

15 Jumlah pengembangan dan pembangunan pelabuhan perikanan UPT Pusat (lokasi) pada

Grafik 1.17.

Perkembangan Kredit Konstruksi Indeks Penjualan Bahan Konstruksi Grafik 1.18.

Sumber : LBU, Lokasi Proyek Sumber : Survei Penjualan Eceran (SPE)

1.2.3. Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan merupakan sektor dengan pangsa terbesar pada struktur perekonomian Sulawesi Utara. Porsi sektor ini mencapai 21,42% terhadap nilai perekonomian Sulut di triwulan laporan. Sektor ini juga sekaligus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Sulut dengan sumbangan tertinggi dibandingkan sektor lainnya yaitu mencapai 1,05% pada triwulan laporan, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,83%.

Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan pada triwulan II 2015 tumbuh 4,83% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2015 yang tercatat sebesar 4% (yoy). Tingginya pertumbuhan sektor pertanian didorong oleh pertumbuhan yang signifikan pada subsektor tanaman perkebunan dan akselerasi pada subsektor tanaman bahan makanan. Di sisi lain, subsektor perikanan tercatat masih mengalami kontraksi dipengaruhi penetapan regulasi moratorium dan transhipment oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Akselerasi pada subsektor tanaman bahan makanan (tabama) didorong oleh peningkatan produksi seiring panen raya beras yang terjadi pada periode April Mei 2015 di sentra penghasil beras Sulut di wilayah Bolaang Mongondow dan sekitarnya. Kondisi ini juga ditandai dengan menurunnya harga beras pada periode tersebut. Subsektor tabama mencatatkan tingkat pertumbuhan sebesar 1,48% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi 4,87% (yoy). Sementara itu, pada triwulan laporan, subsektor tanaman perkebunan juga mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi mencapai 16,68% (yoy) didukung panen raya komoditas cengkih dan pala di beberapa daerah terutama daerah kepulauan.

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2012 2013 2014 2015

YoY Rp. Triliun

Kredit Konstruksi gKredit Konstruksi

-20 -10 0 10 20 30 40 0 50 100 150 200 250 Jan Mar Me i Ju l Se p N o p Jan Mar Me i Ju l Se p N o p Jan Mar Me i 2013 2014 2015

Grafik 1.19.

Perkembangan Produksi Ikan Perkembangan Kredit Sektor PertanianGrafik 1.20.

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Prov, Sulut

Sumber : LBU, Lokasi Proyek

Di sisi lain, kontraksi pada subsektor perikanan tercermin dari pertumbuhan produksi ikan tangkap yang masih mengalami tingkat pertumbuhan negatif kendati cenderung membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulut, jumlah produksi ikan tangkap tercatat mengalami pertumbuhan negatif 1,6% (yoy) pada triwulan laporan atau mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya dimana pertumbuhan terkontraksi sebesar 3,7% (yoy). Di sisi lain, dukungan perbankan terhadap perkembangan sektor pertanian terus menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari tingkat pertumbuhan kredit yang lebih baik dibandingkan triwulan lalu kendati masih mengalami kontraksi. Pembiayaan perbankan terhadap sektor pertanian tercatat sebesar Rp.308 Miliar pada triwulan laporan atau mencatatkan pertumbuhan negatif 2,15% (yoy). Kondisi ini relatif lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya dimana tingkat pertumbuhan kredit pertanian mencatatkan angka negatif 3,22% (yoy).

1.2.4. Sektor lainnya