KAJIAN PUSTAKA
A. Sistem Pendidikan Pesantren
1. Sejarah Pesantren di Indonesia
Pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren.
Istilah pondok, mungkin berasal dari kata funduk, dari bahasa Arab yang
berarti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi di dalam pesantren Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri.
Pondok pesantren adalah salah satu bentuk lembaga pendidikan dan keagamaan yang ada di Indonesia. Secara lahiriah, pesantren pada umumnya merupakan suatu komplek bangunan yang terdiri dari rumah kiyai, masjid, pondok tempat tinggal para santri dan ruangan belajar (Nasir, 2005:80-81).
Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman,
tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia, sebab lembaga yang serupa pesantren ini sebenarnya sudah ada sejak masa kekuasaan Hidu- Budha. Sehingga Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga pendidikan yang sudah ada (Madjid, 1997:3).
Secara umum pesantren dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni
pesantren salaf atau pesantren tradisonal dan pesantren khalaf atau modern.
Sebuah pesantren disebut pesantren salaf jika dalam kegiatan
pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola pengajaran klasik atau lama, yakni berupa pengajian kitab kuning dengan metode pembelajaran tradisional serta belum dikombinasikan dengan pola
pendidikan modern. Sedangkan pesantren khalaf atau modern adalah
pesantren yang di samping tetap dilestarikannya unsur-unsur utama pesantren, memasukan juga ke dalamnya unsur-unsur modern yang ditandai dengan sistem klasikal atau sekolah dan adanya materi ilmu-ilmu umum dalam muatan kurikulumnya. Pada pesantren ini sistem sekolah dan adanya ilmu-ilmu umum digabungkan dengan pola pendidikan pesantren klasik (Maksum, 2003:7-8).
Pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia (indigenous)
yang merupakan lembaga keagamaan. Beberapa peneliti berpendapat bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang merupakan kelanjutan dari tradisi Hindu-Budha (Madjid, 1993:3). Proses transformasi model pesantren, dari Hindu ke Islam berlangsung dalam model yang tidak jauh beda dari sebelumnya, hanya saja muatan pendidikan yang berubah. Model
seperti adanya pimpinan kharismatik, tata asrama, gedung tempat ibadah, kelas-kelas untuk pembelajaran, disinyalir sama persis antara model pesantren setelah di-Islamkan dari sebelumnya.
2. Komponen-komponen Pesantren
Dalam bukunya M. Bahri Ghazali (2003:17) mengajukan delapan komponen pondok pesantren yang melekat atas dirinya yang meliputi: pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri dan kiyai, metode dan evaluasi.
a. Masjid
Masjid pada hakekatnya merupakan sentral kegiatan kaum muslimin baik dalam dimensi ukhrowi maupun duniawi dalam ajaran Islam, karena pengertian yang lebih luas dan maknawi masjid memberikan ciri-ciri sebagai kemampuan seorang abdi dalam mengabdi kepada Allah yang disimbolkan dengan adanya masjid (tempat sujud) (Ghazali, 2003:18).
Di dunia pesantren masjid dijadikan ajang sentral kegiatan pendidikan Islam. Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama, tempat berlangsungnya proses belajar mengajar adalah masjid (Ghazali, 2003:19).
b. Pondok
Setiap pesantren pada umumnya mempunyai pondokan. Pondok dalam pesantren pada dasarnya merupakan dua kata yang sering
berarti keberadaan pondok dalam pesantren merupakan wadah penggemblengan, pembinaan dan pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan (Ghazali, 2003:19-20).
c. Kurikulum dan Materi Pembelajaran
Kurikulum adalah rencana tertulis berisi ide dan gagasan yang
dirumuskan oleh institusi pendidikan. Kurikulum dapat diartikan sebagai
sebuah dokumen perencanaan yang berisi tujuan yang harus dicapai, isi
materi, dan pengalaman belajar yang harus dilakukan peserta didik,
strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang
untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta
implementasi dari dokumen yang dirancang dalam kehidupan nyata.
Komponen-komponen kurikulum saling berkaitan dan saling
mempengaruhi, terdiri dari tujuan yang menjadi arah pendidikan,
komponen pengalaman belajar, komponen strategi pencapaian tujuan,
dan komponen evaluasi. Singkatnya kurikulum berfungsi sebagai
pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan (Fahham,
2015:20-21.
Secara umum, kurikulum pondok pesantren dapat dipilah menjadi
dua, yakni kurikulum studi keagamaan dan kurikulum studi umum.
Dalam pondok pesantren tradisional, ada pemisahan antara kurikulum
pesantren dan kurikulum sekolah dan/atau madrasah. Kurikulum
pesantren merupakan kurikulum khas pesantren berupa ilmu-ilmu
ushul fikih, tafsir, hadits, tasawuf, nahwu/sharaf, dan akhlak serta sirah
(sejarah) nabi. Sementara kurikulum sekolah merupakan kurikulum yang
berasal dari kementrian pendidikan nasional, jika pesantren tersebut
memiliki sekolah semisal SMP dan SMU. Selanjutnya jika pesantren
memiliki madrasah semisal Tsanawiyah dan Aliyah, maka ia
menggunakan kurikulum yang berasal dari Kementerian Agama.
Sementara dalam pesantren modern, pada umumnya menggunakan
kurikulum terpadu, yakni tidak memisahkan antara kurikulum pesantren
yang berupa kurikulum studi keagamaan dan kurikulum
sekolah/madrasah yang berupa studi umum.
Untuk meningkatkan kemampuan santri di bidang-bidang
tertentu, selain materi-materi agama, diajarkan juga materi keterampilan
khusus yang disesuaikan dengan tujuan dan orientasi pesantren, seperti
yang dilaksanakan Pesantren Gontor dengan materi muhadlarah
(ceramah), bahasa Arab, dan Inggris (Fahham, 2015:21) .
d. Kiyai
Keberadaan kyai dalam pesantren sangat sentral sekali. Suatu lembaga pendidikan Islam disebut pesantren apabila memiliki tokoh sentral yang disebut kiyai. Jadi kiyai dalam dunia pesantren sebagai penggerak dalam mengemban dan mengembangkan pesantren sesuai dengan pola yang dikehendaki. Bahkan kyiai bukan hanya pemimpin pondok pesantren tetapi juga pemilik pondok pesantren (Ghazali, 2003:21).
e. Santri (Peserta didik)
Istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai perwujudan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kiyai yang memimpin sebuah pesantren (Ghazali, 2003:22- 23).
Dalam bukunya Jasa Ungguh Muliawan (2005:154-156) dikatakan bahwa, santri terdiri dari dua kelompok yaitu:
1) Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah jauh dan
menetap dalam pondok pesantren.
2) Santri kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di
sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya di pesantren, mereka bolak-balik dari rumahnya sendiri.
f. Metode
Selain dari unsur-unsur tersebut, pesantren juga memiliki ciri khas yang unik lainnya, yaitu metode pengajaran kitab dengan wetonan atau bandongan, sorogan, dan hafalan. Wetonan atau bandongan adalah metode pengajaran dengan cara santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai, kemudian kiai membacakan kitab yang akan dipelajari saat itu, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan.
Sedangkan sorogan adalah metode pengajaran dengan cara santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajari metode ini adalah metode yang paling sulit dari
keseluruhan sistem pendidikan di pesantren. Sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi dari murid.
Metode hafalan adalah metode yang paling umum dalam pesantren, terutama untuk hafalan al-Quran dan Hadits (Muliawan, 2005:159).
g. Evaluasi
Istilah evaluasi atau penilaian (evalution), merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari suatu kegiatan tertentu, dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh hasil belajar yang dicapai selama proses pendidikan atau pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan apakah hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan atau standarisasi (Masyhud, 2004:104).
Evaluasi belajar dilakukan oleh guru/tutor/ustadz pondok pesantren penyelenggara selama proses pembelajaran sesuai dengan kemajuan santri dalam belajar yaitu melalui evaluasi belajar tahap akhir (EBTA). Proses evaluasi ini dilakukan sendiri oleh pihak pondok pesantren yang bersangkutan (Faiqoh, 2003:80).
h. Pengajaran Kitab-kitab Islam Klasik
Kitab-kitab klasik biasanya dikenal dengan istilah kitab kuning yang terpengaruh oleh warna kertas. Kitab-kitab itu ditulis oleh ulama zaman dahulu yang berisikan tentang ilmu keislaman seperti: fiqih, hadits, tafsir maupun tentang akhlaq (Ghazali, 2003:24).