Sepanjang tahun 2013, perekonomian global masih berjuang untuk pulih akibat krisis 2008. Meskipun mulai menunjukan perbaikan, namun perlambanan masih saja terjadi. Bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang dikutip laporan Bank Indonesia, menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3,1% menjadi 2,9%.
Di tengah ketidakpastian ini, muncul juga gejolak di pasar keuangan global. Hal itu, terutama dipicu oleh isu pengurangan secara bertahap (tapering) stimulus moneter (Quantitaive Easing) Amerika, negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Masalah ini menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan, sehingga melahirkan capital reversal di negara-negara berkembang. Tak terkecuali dengan yang terjadi di Indonesia.
Pengaruh perlambanan perekonomian global juga berimbas pada harga komoditas batu bara. Tingkat permintaan di pasar internasional turun. Koreksi terhadap harga komoditas tersebut pun tak bisa dihindari, sesuai dengan mekanisme pasar. Perekonomian Indonesia juga ikut terimbas. Defisit neraca perdagangan Juli 2013 mencatatkan sejarah buruk, yaitu hingga mencapai USD2,3 miliar. Terutama sejak triwulan III Tahun 2013, tekanan terhadap nilai tukar rupiah makin terasa. Bahkan hingga akhir tahun, kurs Rupiah yang pada awalnya ada di kisaran Rp9.000 per Dolar AS, sudah menembus Rp12.000 per Dolar AS.
Sebagai salah satu respons perekonomian Indonesia terhadap tekanan dari perekonomian global, Bank Indonesia sepanjang tahun 2013 sudah lima kali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Jika pada Januari masih 5,75%, sejak November sudah menjadi 7,50%.
These issues raise negative sentiments in financial markets, hence resulting in capital reversal in developing countries. No exception to what happened in Indonesia.
The influence of global economic slowdown also affected coal prices. The demand level in international market dropped. Correction to the commodity prices could not be avoided, following market mechanisms.
The Indonesian economy was also affected. Trade deficit in July 2013 reaching a disappointing USD2.3 billion.
Especially since the third quarter in 2013, pressure on exchange rate increasingly came across. Even until end of the year, Rupiah exchange rate that was initially in the range of Rp9,000 per US Dollar, reached Rp12,000 per US Dollar.
As one of Indonesia’s economic response to pressures of the global economy, Bank Indonesia during 2013 raised the benchmark interest rate (BI Rate) five times. In January it was 5.75%, and by November it had become 7.50%.
70
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2013 tidak berhasil mencapai target yang sudah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 6,3%. Perekonomian Indonesia hanya tumbuh 5,8%. Menyambut tahun 2014, perekonomian global diperkirakan masih mengalami perlambanan. Namun Indonesia tetap optimis. Hal itu tercermin pada APBN 2014 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,0%, lebih tinggi dari tahun 2013.
Seperti halnya keyakinan pemerintah, Perseroan juga memasuki tahun 2014 ini dengan optimis. Bukan hanya karena perekonomian dalam negeri yang semakin stabil, tetapi juga ada banyak peluang yang bisa diraih oleh bisnis Perseroan. Terutama di saat tahun politik seperti sekarang, yang ditandai dengan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden.
SEKTOR MEDIA
Aktivitas ekonomi nasional dan pasar iklan mengalami sedikit penurunan pada 2H tahun 2013. Pada tahun 2014, kondisi ekonomi akan membaik
dan beberapa event besar akan menaikkan
belanja iklan. Turnamen FIFA World Cup 2014 dan pemilihan umum di Indonesia akan mendorong pertumbuhan pengeluaran pada media periklanan. Didorong oleh TV FTA, televisi akan tetap menjadi media yang dominan dengan tingkat pendapatan iklan bersih sebesar 69% sebagaimana menurut perhitungan analis industrial dari Media Partners Asia (MPA). Penghasilan iklan bersih dihitung dari biaya iklan dikurangi diskon rate card di luar biaya komisi agen.
Televisi berbayar juga akan tetap menjadi media yang berorientasi pada pertumbuhan seiring meningkatnya pelanggan dari basis yang rendah. Perkiraan MPA mengindikasikan bahwa pasar untuk TV berbayar akan mencapai 3,98 juta pelanggan pada tahun 2014 dan sekitar 7 juta di tahun 2020 dengan penetrasi yang meningkat hingga 11% pada 2014 dan 17% pada tahun 2020.
Industri Periklanan dan Media
Pertumbuhan industri media di Indonesia berkaitan
Indonesia’s economic growth during 2013 did not reach targets set in State Budget (APBN) of 6.3%. Indonesian economy only grew 5.8%.
Welcoming 2014, the global economy was expected to still experience slowdown. However, Indonesia remains optimistic. This was reflected on State Budget 2014 that targets economic growth to reach 6.0%, higher than in 2013.
In line with government’s confidence, the Company also entered 2014 with optimism. Not only because the domestic economy is more stable, but also there are many opportunities that can be achieved by the Company’s business. Especially in times like the current political year, that is marked by Electoral Legislative and Presidential Elections.
MEDIA SECTOR
Activity in the local economy and the advertising market moderated in 2H 2013. In 2014, the economy will remain resilient and big events will drive up advertisement spending. The 2014 FIFA World Cup tournament and national elections within Indonesia will help boost growth in media advertising expenditures. Driven by FTA TV, television will remain the dominant medium in Indonesia, with approximately 69% of the total net advertising pie, as calculated by industry analysts Media Partners Asia (MPA). Net advertising revenue refers to advertising measured after rate card discounts and excluding agency commissions.
Pay-TV will also remain a growth-oriented media as subscribers climb from a low base. MPA forecasts indicate that the market for Pay-TV will reach 3.98 million subscribers in 2014 and approximately 7 million in 2020 with penetration climbing to 11% in 2014 and 17% in 2020.
Advertising & Media Industry
The growth of Indonesia’s media industry is directly correlated to the growth of the advertising industry,
akan bertumbuh di tingkat CAGR sebesar 15,4%, dengan demikian Indonesia merupakan pasar dengan pertumbuhan tertinggi di Asia.
Pengiklan dari perusahaan multinasional mulai mempunyai kontrol terhadap beban dan dalam beberapa kasus mulai mengadopsi pendekatan “menunggu dan melihat”. Tren seperti ini diprediksi tidak akan berlanjut pada tahun 2014 karena proyeksi ekonomi yang positif dan juga (sampai pada tahap tertentu) pengiklan dari perusahaan lokal telah mulai bergerak secara agresif, seperti halnya para pemain di industri FMCG yang mulai
mengkampanyekan produk mereka secara
nasional.
Industri FMCG mendominasi pasar, didorong oleh pertumbuhan pada kategori konsumen. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh para pemain dari industri F&B serta Toiletries & Cosmetics. Kategori industri telekomunikasi telah mulai mengurangi besaran adpsend mereka dalam beberapa tahun terakhir tetapi ini digantikan naiknya permintaan dari kategori baru lainnya. Permintaan diperkirakan akan meningkat dari kategori baru yang mulai muncul seperti otomotif dan keuangan serta pemain di FMCG lokal.
Jangkauan TV yang telah mendekati 100% mengindikasikan bahwa pangsa periklanan akan tetap sekitar 69%. Para pengiklan akan tetap menjadikan FTA sebagai media utama untuk mencapai segmen masyarakat luas ataupun segmen premium. Para pemirsa online serta iklan digital akan tumbuh secara pesat namun koneksi internet terbatas.
Televisi
Industri FTA swasta didirikan pada tahun 1988 dan hingga kini masih tetap kompetitif dengan 10 jaringan TV swasta nasional, satu stasiun TV nasional milik pemerintah dan lebih dari 80 stasiun swasta regional yang masing-masing memiliki ijin untuk bersiaran dalam satu provinsi. Pemerintah tidak lagi menerbitkan ijin TV FTA untuk penyiaran nasional. FTA adalah pendorong utama iklan TV dan menguasai 97,5% dari pangsa iklan TV. Pelanggan TV Berlangganan bertumbuh pesat namun model bisnisnya mengarah ke model langganan bukan iklan sehingga belanja iklan masih relatif rendah. Sementara TV merupakan media dengan jangkauan terluas di Indonesia, CPM atau biaya untuk
excluding agency commission, will grow by 15.4%, making Indonesia the highest-growth market in Asia.
Multinational advertisers started to control expenses, and in some cases have adopted a “wait and see approach”. This trend is unlikely to continue in 2014, due to a positive economic projection and also to some degree local advertisers have stepped up aggressively on spending, as regional advertisers in categories such as FMCG start going national with campaigns.
FMCG dominate the market, driven by the growth in consumer categories. Top spenders are F&B and Toiletries & Cosmetics. The telecom category has been reducing adspends in recent years; however this is offset by demand from other new categories. Demand is expected to grow from new, emerging categories, such as autos and finance, and as well from local FMCG companies.
TV’s ubiquity and near 100% reach means that its share of advertising remains at approximately 69%. Advertisers continue to regard FTA as the main advertising channel to reach both mass market and premium segments. Online audiences and digital advertising are growing rapidly, from a low base, but broadband connectivity is limited.
Television
The private FTA industry was established in 1988 and remains competitive, with 10 privately-owned national networks, one government-owned national network and more than 80 private regional stations, each licensed to broadcast in one province. The government no longer issues national FTA broadcasting licenses. FTA is the dominant driver of TV advertising, accounting for 97.5% of the TV advertising pie in 2013. Pay-TV customers are growing rapidly but the business is skewed towards subscription as opposed to advertising and as a result, advertising remains relatively low. While TV has the widest reach of any medium in Indonesia, its CPM advertising rates the cost of reaching a
72
relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia Pasifik. Sejak tahun 2010, advertising rates TV telah mulai meningkat secara signifikan di antara empat grup penyiar FTA.
MPA memperkirakan bahwa penjualan iklan TV bersih di Indonesia akan bertumbuh sebesar 14,9% pada tahun 2014, setelah mengalami pertumbuhan sebesar 14,6% di tahun 2013. Permintaan dan penawaran dalam hukum ekonomi sangat berlaku untuk FTA TV sebagaimana penawaran yang terbatas dipadu dengan permintaan pengiklan yang tinggi, memastikan peningkatan harga untuk grup TV FTA dengan kinerja unggul.
Para pemain kunci di industri pertelevisian adalah: MNC Group (tiga stasiun TV); Emtek (dua stasiun TV); CT Corp. (dua stasiun TV); dan Viva (dua stasiun). Masing-masing grup memproduksi hasil yang luar biasa untuk tingkat lokal, memiliki hubungan yang kuat dengan rumah produksi lokal berkualitas serta memiliki hak terhadap konten- konten dari beberapa studio Hollywood ternama.
TelevisiBerbayar
Industri TV Berbayar menyumbang sekitar 738.000 pelanggan baru secara bersih di tahun 2013, didorong oleh pertumbuhan PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) yang berakhir pada tahun 2013 dengan pangsa pasar secara keseluruhan sebesar 74%. Pada akhir tahun 2013, TV Berlangganan berhasil melakukan penetrasi terhadap 3,15 juta atau 9% dari TV rumah tangga. Besaran ARPU secara bulanan mencapai Rp109.808 atau US$10,5. MPA memprediksi bahwa pasar TV Berlangganan akan mencapai 7 juta di tahun 2020 dengan tingkat penetrasi yang menanjak mencapai 11% di tahun 2014 dan 17% di tahun 2020. Satelit direct-to- home (DTH) akan mencapai tingkat pangsa pasar sebesar 80% pada area TV Berlangganan secara jangka panjang.
Untuk ke depannya, pendorong utama pasar TV berbayar akan terpusat pada diferensiasi konten (dengan fokus pada konten lokal dan vernakular), inovasi teknologi dan strategi penjualan & distribusi yang kuat. MSKY sebagai pemimpin pasar memiliki keunggulan kompetitif karena mengontrol penjualan & distribusi dan memiliki
low compared with other markets in Asia-Pacific. Since 2010, TV advertising rates have started to increase significantly across the four
main FTA broadcast groups.
MPA forecasts indicate that net TV advertising sales in Indonesia will grow by 14.9% in 2014, after experiencing 14.6% growth in 2013. Supply and demand economics are generally favorable for free TV as limited supply combined with rising advertiser demand, ensures the ability to increase rates for the top-performing FTA TV groups.
The key players in TV are: MNC Group (three TV stations); Emtek (two TV stations); CT Corp. (two stations); and Viva (two stations). Each of these groups produces compelling domestic output, controls relationship with leading local production houses and has rights to content from major Hollywood studios.
Pay Television
The Pay-TV industry added arround 738,000 net new customers in 2013, driven by the growth of PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), which ended 2013 with a 74% market share overall. At end-2013, Pay- TV subs totaled 3.15 million, or 9% penetration of TV households. Monthly ARPU reached Rp109,808 or US$10.5. MPA forecasts indicate that the market for Pay-TV will reach 3.98 million subscribers in 2014 and approximately 7 million in 2020 with penetration climbing to 11% in 2014 and 17% in 2020. Direct-to-home (DTH) satellite will retain more than 80% market share in Pay-TV long-term.
Going forward, key drivers of the Pay-TV market will converge around content differentiation (with a focus on local and vernacular content), technological innovation and strong sales & distribution strategies. Market leader MSKY has a competitive edge as it controls its sales & distribution and has close to 20 exclusive TV channels, leveraging in particular its local content library. MSKY also plans
berencana untuk menghadirkan layanan video-on -demand pada tahun 2014 dan bekerja sama dengan MCOM untuk menawarkan layanan broadband dan IPTV. Kompetisi utama akan datang dari pemain seperti Telekom Vision yang sekarang dimiliki oleh CT Corp., dan IMTV milik Lippo.
SEKTOR KEUANGAN
Secara umum, sektor keuangan merupakan bisnis yang paling terkena imbas dari ketidakpastian perekonomian global pada tahun 2013. Di dalam negeri, terutama pada semester kedua, situasi yang tidak pasti itu dipicu juga oleh kondisi makro ekonomi yang kurang menguntungkan.
Di pasar modal, triliunan dana asing ditarik. Para investor mengamankan dananya dalam valuta dolar, sehingga ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hingga akhir tahun 2013, kurs rupiah terhadap dolar sudah di atas Rp12.000. Tekanan tersebut berimbas pada suku bunga. Sepanjang tahun 2013, Bank Indonesia lima kali menaikkan suku bunga acuan (BI rate), yang akhirnya ikut memicu kenaikan suku bunga kredit. Perseroan tetap yakin bahwa bisnis di sektor jasa keuangan akan tetap tumbuh. Selain karena kinerja internal yang baik, juga pengaruh eksternal. Investor asing yang sebelumnya menarik dana dari pasar keuangan Indonesia sudah mulai kembali. Hal itu bisa dilihat dari selisih beli dengan jual investor asing (net buy) di pasar modal pada awal tahun 2014 sudah mulai positif.
Selain itu, asing juga tetap percaya dengan instrumen surat utang negara. Pada penerbitan perdana Global Medium Term Note Pemerintah Indonesia tahun 2014 yang berdenominasi dolar AS, terjadi kelebihan permintaan 4,4 kali.
Kondisi faktor internal dan eksternal inilah yang ikut menciptakan optimisme Perseroan dalam menatap bisnis di sektor jasa keuangan.
SEKTOR ENERGI
Di sektor energi dan sumber daya alam, bisnis Perseroan dilakukan melalui anak usaha PT MNC Energi. Perseroan termasuk pendatang baru pada bisnis ini. Namun, perkembangannya sangat bagus. Dari kontribusi 0% ke Perseroan, pada tahun 2013 sudah mencapai 6,0%.
work with parent MCOM to offer broadband and IPTV services. Its main competition will come from players such as Telekom Vision, now owned by CT Corp., and the Lippo-owned IMTV.
FINANCIAL SECTOR
In general, financial sector is the most affected business by global economic uncertainties in 2013. Domestically, especially in the second half, the uncertain situation was also triggered by the less favorable macroeconomic conditions.
In capital market, trillions of foreign funds were pulled. Investors secured their funds denominated in dollars, so it would put pressure on Rupiah exchange rate. By the end of 2013, Rupiah exchange rate against dollar was above Rp12,000. These pressures impact on the interest rate. Throughout 2013, Bank Indonesia raised BI rate five times, which eventually spurred the increase in lending rates.
The Company remains confident that businesses in financial services sector will continue to grow due to excellent internal performance and also external influences. Foreign investors who withdrew their funds previously from Indonesian financial market have begun to return. It can be seen from difference between sales and purchases of foreign investors (net buy) in stock market in early 2014 has become positive. In addition, foreigners also have trusts in state sovereign debt instruments. In inital issuance of Global Medium Term Note of the Indonesian Government in 2014 denominated in US dollar, was oversubscribed by 4.4 times.
Those conditions of internal and external factors contribute to the Company’s optimism in staring business in financial services sector.
ENERGY SECTOR
In energy and natural resources sector, the Company’s business is conducted through its subsidiary PT MNC Energi. The Company is considered as new entrant in this business. However, the development is very impressive, from 0% contributions to the Company, reached 6.0% in 2013.
74
Harus diakui bahwa tahun 2013 bukan merupakan tahun yang bagus untuk bisnis pertambangan batu bara. Harganya turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun bagi Perseroan, tetap masih ada laba (margin) karena strategi yang digunakan pada waktu itu, di antaranya adalah menurunkan stripping ratio. Dengan penerapan strategi ini, biaya yang dikeluarkan menjadi lebih rendah. Untuk tahun 2014 ini, Perseroan akan fokus pada pengembangan produksi. Perseroan menargetkan dalam 2-3 tahun mendatang baru masuk dengan target pendapatan karena sumber yang dimiliki cukup banyak. Di Palembang, Sumatera Selatan misalnya, Perseroan memiliki 8 Izin Usaha Pertambangan dengan kandungan batu bara mencapai 3 miliar ton.
Khusus tambang di Sumatera Selatan itu,
Perseroan menggunakan strategi produksi
sebanyak-banyaknya, mengingat cadangan yang terkandung dalam lahan tambang Perseroan sangat besar. Dengan begitu, walaupun margin kecil, secara akumulasi tetap besar.
Seperti halnya pada unit bisnis Perseroan lain, di sektor energi dan sumber daya alam ini Perseroan akan masuk ke bisnis terintegrasi. Ke depan, di sekitar lokasi tambang yang memiliki cadangan besar seperti di Sumatera Selatan, akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap.
Dari sisi kelengkapan infrastruktur, Perseroan juga menyiapkan pelabuhan khusus yang dibangun oleh unit bisnis lain di bawah Perseroan. Pada tahap awal, pelabuhan ini hanya akan melayani kebutuhan unit bisnis di bawah Perseroan agar bisa memaksimalkan keuntungan dari hasil produksi.
SEKTOR INFRASTRUKTUR DAN PROPERTI
Perseroan juga terus ekspansi di sektor infrastruktur dan properti dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan sepanjang tahun 2013. Aksi korporasi ini dilakukan karena Perseroan yakin bisnis jasa transportasi seperti pengadaan tol dan properti memiliki masa depan bagus.
Hal itu, terutama didorong oleh kondisi makro perekonomian Indonesia yang terus tumbuh.
It must be admitted that 2013 was not a good year for coal mining business. The price fell compared to the previous year. However for the Company, there was still margin because of the strategy used at that time, including lowering the stripping ratio. With implementation of this strategy, the cost will be lower.
For 2014, the Company will focus on production development. The Company expects in the next 2-3 years revenue targets will be achieved because of quite sufficient reserves. In Palembang, South Sumatra, for example, the Company has 8 coal Mining Permits with 3 billion tons of coal reserves.
Especially in South Sumatra mines, the Company uses the strategy of maximum production, given the huge reserves in the Company’s mining area. Hence, despite small margin, the accumulation is still large.
Similar to the Company’s other business units, in this energy and natural resources sector the Company will enter into an integrated business. Looking ahead, surrounding the mining areas with large reserves such as in South Sumatra, Steam Power Plant will be built.
In terms of infrastructure completeness, the Company also prepares special port built by other business unit under the Company. In the early stages, this port will only serve the needs of business units under the Company in order to maximize profit from production.
INFRASTRUCTURE AND PROPERTY SECTOR
The Company has also expanded into the infrastructure and property sector by acquiring a number of companies during 2013. These corporate actions were done because the Company believes that transportation service business such as toll road and property has bright future.
It was, primarily driven by Indonesian macro- economic conditions that continue to grow. Income per capita continues to rise. Coupled with
population as the majority in Indonesia, property and infrastructure business will continue to grow along with the economic growth.
In property sector, the Company entered into prime assets category. It is reflected on the assets