Jumlah koefisien dari ketiga komponen tersebut adalah sama den
DAMPAK INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA
5. Jalur Exchange Rate Channel (1) Var Shock (ER, INT, RR, MS,dan BASE)
6.2.4. Skenario Simulasi Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme Transmisi Moneter Periode Peramalan pada tahun 2007 –
Hasil simulasi peningkatan 50 persen variabel utama untuk setiap jalur mekanisme transmisi moneter pada periode transisi tahun 2007 – 2010 ditunjukkan pada Tabel 32.
1. Jalur Interest Rate Channel Var Shock (INT,RR dan SBI)
Pada peramalan tahun 2007 – 2010 diperkirakan neraca perdagangan meningkat 141.30 persen suatu peningkatan yang cukup besar dan konsumsi pun meningkat rata- rata sebesar 34.97 persen lebih baik dibandingkan dengan perioda sebelumnya karena diprediksi terdapat peningkatan pada pendapatan disposabel 19.93 persen ,sedangkan variabel kredit meningkat sebesar 134.10 persen meskipun terdapat peningkatan sukubunga 50 persen lebih tinggi dari sebelumnya dan hal ini diperkirakan dunia usaha sangat membutuhkan modal usaha yang lebih besar dan mendesak sehingga peningkatan suku bunga menjadi terabaikan. Variabel produk domestik bruto Indonesia rata-rata meningkat 17.61 persen lebih baik dan diperkirakan merupakan kontribusi dari pertumbuhan neraca perdagangan dan neraca pembayaran terutama pada variabel konsumsi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor. Meskipun nilai tukar terapresiasi -16.03 persen, ekspor meningkat cukup besar yaitu 24.27 persen ,impor turun sebesar - 131.46 persen dan hal tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi peningkatan kinerja ekonomi.
Tabel 32. Simulasi Peramalan Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme Transmisi Moneter Periode Peramalan Tahun 2007 – 2010
SIM-1 SIM-2 SIM-3 SIM-4 SIM-5 SIM-6 SIM-7
Variable Endogen Simbol BASE % % % % % % %
Nilai Tukar ER 4018 -16.03 -12.87 158.98 -208.84 50.00 50.00 -4.23
Tingkat Sukubunga INT 14.6477 50.00 -187.82 50.00 50.00 50.00 -228.02 -170.23
Indeks Harga Konsumen INDEX 401.2561 -2.88 -3.70 -63.03 50.00 -1.24 0.08 -6.10
Ekspor EXPO 16833 24.27 31.80 475.61 -470.31 53.33 48.36 47.02
Impor IMPO 7221 -131.46 -121.77 326.74 -901.52 -129.10 -161.78 -57.46
Investasi Swasta ISWA 138648 -5.83 -5.13 50.00 -31.17 -6.27 -9.63 0.81
Investasi Pemerintah IPEM 7568 -270.03 -270.31 50.00 -228.40 -300.78 -347.45 -199.64
Uang Khartal UKHA 41298 48.91 50.34 203.45 60.85 37.14 39.24 42.75
Giral GIRA 54743 14.50 16.80 170.29 -16.18 15.40 12.25 19.63
Tabungan dan Deposito TADE 307799 -14.05 -14.29 43.00 -25.27 -14.93 -17.68 -8.52
Penawaran Uang MS 398887 10.79 12.62 50.00 -88.92 50.00 50.00 21.77
Uang Primer BASE 61722 32.22 33.62 50.00 -78.89 50.00 50.00 50.00
Konsumsi CONS 318008 34.97 36.23 597.86 -75.77 34.75 31.93 40.70
Pengeluaran Pemerintah GEXP 120872 7.01 7.15 106.50 9.16 4.60 4.41 5.97
Penerimaan Pemerintah GREV 122147 5.50 5.98 112.05 -21.87 5.40 4.52 7.50
Pajak TAX 98741 5.98 6.69 123.12 -31.31 5.82 4.78 8.64
Kredit KREDIT 98950 134.10 50.00 134.10 134.10 163.86 211.82 54.20
Permintaan Uang MD 96198 -0.30 1.56 118.16 -64.60 13.64 11.23 5.86
Neraca Perdagangan BOT 9611 141.30 147.20 587.50 -146.37 190.40 206.25 125.54
Neraca Pembayaran BOP 40024 33.93 35.35 141.08 -35.15 45.72 49.53 30.14
Produk Domestik Bruto Indonesia PDBI 594708 17.61 18.57 355.02 -51.19 17.31 14.63 22.65
Pendapatan Disposabel YD 495968 19.93 20.93 401.19 -55.15 19.59 16.60 25.44
KETERANGAN
SIM-1 Interest Rate Channel SIM-5 Exchange Rate (1) Channel
SIM-2 Bank Lending Channel SIM-6 Exchange Rate (2) Channel
SIM-3 Balance Sheet Channel SIM-7 Direct Monetary Channel
2. Jalur Bank Lending Channel Var Shock (RR, KREDIT dan SBI)
Pada periode peramalan tahun 2007 – 2010 dengan meningkatkan variabel cadangan minimum, jumlah kredit yang disalurkan dan tingkat sukubungan sertipikat Bank Indonesia maka akan terlihat beberapa perubahan seperti konsumsi naik 36.23 persen dan neraca perdagangan meningkat 147.20 persen dan variabel kinerja perekonomian produk domestik bruto Indonesia meningkat 18.57 persen, dalam hal ini konsumsi memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia karena pendapatan disposabel pun cukup besar mempengaruhi konsumsi yaitu 20.93 persen. Ekspor meningkat 31.80 persen dan impor menurun - 121.77 persen. pengeluaran pemerintah meningkat 7.15 persen yang tidak jauh berbeda dengan peningkatan pada jalur tingkat suku bunga. Nilai tukar terapreasiasi -12.87 persen tetapi hal ini tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan komponen ekspor 31.80 persen dan impor -121.77 persen.
3. Jalur Balance Sheet Channel Var Shock (INT, RR, MS, INV, SBI dan BASE)
Dengan dilakukannya simulasi pada jalur neraca terhadap beberapa variabel yang dianggap utama terjadi perubahan pada variabel-variabel dalam mekanisme transmisi seperti neraca perdagangan sebesar 587.50 persen atau hampir 6 kali lipat dan hal ini merupakan peningkatan yang cukup terbesar pada jalur ini. Sedangkan peningkatan terbesar lainnya adalah ekspor 475.61 persen dan impor sebesar 326.74 persen dan hal ini dimungkinkan karena terdapat depresiasi mata uang yang cukup besar yaitu 158.98 persen. Perubahan hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia cukup signifikan yaitu 355.02 persen. Komponen kinerja ekonomi lain yang memberikan pengaruh cukup besar adalah konsumsi 597.86 persen karena diperkirakan pendapatan disposabel meningkat cukup tajam 401.19 persen disamping investasi baik swasta 50 persen maupun pemerintah 50 persen dan juga
pengeluaran pemerintah 106.50 persen yang pada akhirnya komponen tersebut mengakibatkan pertumbuhan positif terhadap produk domestik bruto Indonesia.
4. Jalur Expectation Channel Var Shock (INT, RR, INDEX, dan SBI)
Jalur ekspektasi pada masa peramalan akibat pada perubahan yang sebagian besar menunjukkan perubahan negatif. Jika peningkatan 50 persen variabel-variabel utama pada jalur ekspektasi tersebut dilakukan maka variabel ekspor turun -470.31 persen dan impor -901.52 persen yang mengakibatkan pada perkembangan neraca perdagangan turun -146.37 persen , disamping itu meskipun terdapat peningkatan tingkat suku bunga naik cukup besar tetapi variabel kredit tetap naik 134.10 persen yang disinyalir karena dunia usaha masih membutuhkan modal cukup mendesak. Pertumbuhan negatif pada produk domestik bruto Indonesia -51.19 persen, diprediksi disebabkan oleh adanya penurunan konsumsi sebesar -75.77 persen karena penurunan pendapatan disposabel sebesar -55.15 persen yang secara langsung mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam melakukan konsumsi secara umum dan hal ini memberikan kontribusi bagi pertumbuhan output nasional – produk domestik bruto Indonesia. Dengan nilai tukar yang terapresiasi cukup besar -208.84 persen maka hal tersebut berakibat pada penurunan ekspor yang cukup besar pula yaitu sebesar -470.31 persen dan Impor menurun -901.52 persen yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja ekonomi. Sukubunga sertifikat Bank Indonesia yang meningkat 50 persen lebih besar mengakibatkan ‘cost of fund’ dari pihak perbankan semakin mahal tetapi dunia usaha tidak mengurangi penggunaan dana kredit untuk perputaran atau ekspansi usahanya yaitu sebesar 134.10 persen dan investasi baik swasta maupun pemerintah pun yang dipengaruhi oleh naiknya sukubunga berakibat negatif yaitu investasi swasta tumbuh -31.17 persen dan investasi pemerintah tumbuh -228.40 persen dan hal ini
secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan indikator produk domestik bruto Indonesia -51.10 persen.
5. Jalur Exchange Rate Channel (1) Var Shock (ER, INT, RR, MS, dan BASE)
Jalur sukubunga yang dianggap sebagai jalur yang pada saat ini dianggap sebagai jalur yang paling memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap kondisi moneter menghasilkan hasil perkiraan yang lebih realistik dibandingkan dengan jalur neraca yang secara umum masih banyak perubahan yang positif terutama pada perubahan konsumsi 34.75 persen diperkirakan memperoleh pengaruh dari pendapatan disposabel 19.59 persen yang pada akhirnya akan mempengaruhi produk domestik bruto Indonesia sebesar 17.31 persen dan variabel lain yang berpengaruh terhadap kinerja ekonomi adalah neraca perdagangan rata-rata sebesar 190.40 persen dan neraca pembayaran 45.72 persen. Penurunan cukup besar terjadi pada variabel investasi pemerintah sebesar -300.78 persen dan investasi swasta hanya turun -6.27 persen , Ekspor naik secara rata-rata 53.33 persen dan impor turun secara rata-rata - 129.10 persen dan hal ini diprediksi karena adanya penurunan nilai tukar (depresiasi) 50 persen sedangkan pengeluaran pemerintah hanya tumbuh sebesar 4.60 persen.
6. Jalur Exchange Rate Channel (2) Var Shock (ER, RR, MS, dan BASE)
Pada jalur nilai tukar-2 ini menunjukkan peningkatan pada neraca perdagangan sebesar 206.25 persen dengan adanya perubahan pada komponen ekspor 48.36 persen dan impor -161.78 persen. Variabel konsumsi berubah secara positif sebesar 31.93 persen yang diprediksi karena adanya pengaruh dari peningkatan pada pendapatan disposabel masyarakat sebesar 16.60 persen dan pengeluaran pemerintah tumbuh 4.41 persen yang meskipun terjadi penurunan pada sektor investasi baik swasta -9.63 persen maupun pemerintah -347.45 persen , perubahan neraca pembayaran masih berubah rata-rata secara positif sebesar 49.53 persen. Tingkat sukubunga
menunjukkan perubahan yang cukup besar yaitu -28.02 persen dan hal ini diprediksi akan menyebabkan tabungan dan deposito menurun sebesar -17.68 persen yang menyebabkan memperkecil potensi pihak perbankan untuk menyalurkan kredit kepada dunia usaha tetapi diperkirakan dengan turunnya tingkat sukubunga maka kredit yang disalurkan kepada masyarakat naik mengikuti kecenderungan penurunan tingkat suku bunga dan kebutuhan akan modal kerja bagi dunia usaha dan hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kredit sebesar 211.82 persen.
7. Jalur Direct Monetary Channel Var Shock (RR, SBI dan BASE)
Pada mekanisme transmisi jalur langsung atau yang umumnya dikenal dengan nama direct monetary channel menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan variabel utama (RR, SBI, BASE) pada jalur ini sebesar 50 persen akan mempengaruhi kinerja ekonomi produk domestik bruto Indonesia 22.65 persen. Hal ini diprediksi karena terjadi peningkatan pada beberapa variabel yang menjadi komponen indikator kinerja ekonomi yaitu ekspor meningkat 47.02 persen dan penurunan impor -57.46 persen meskipun terjadi apresiasi mata uang -4.23 persen, variabel konsumsi meningkat 40.70 persen karena adanya peningkatan pada pendapatan disposabel masyarakat 25.44 persen sehingga daya beli masyarakat untuk melakukan konsumsi meningkat dan dengan demikian neraca perdagangan tumbuh 30.14 persen dan neraca pembayaran meningkat 22.65 persen lebih besar dari nilai dasar. Pengeluaran pemerintah meningkat hanya 5.97 persen dan meskipun investasi secara umum masih tumbuh secara negatif tetapi hal itu tidak terlalu memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kinerja ekonomi produk domestik bruto Indonesia. Tingkat sukubunga yang meningkat 29.77 persen lebih tinggi tidak menyurutkan dunia usaha untuk menggunakan dana perbankan dalam bentuk kredit untuk memenuhi kebutuhan modal usahanya.
6.2.5. Perbandingan Simulasi Peningkatan 50 persen variabel Jalur