• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skenario Simulasi Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme Transmisi Moneter Periode Transisi pada tahun 2001 –

Jumlah koefisien dari ketiga komponen tersebut adalah sama den

DAMPAK INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

5. Jalur Exchange Rate Channel (1) Var Shock (ER, INT, RR, MS,dan BASE)

6.2.3. Skenario Simulasi Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme Transmisi Moneter Periode Transisi pada tahun 2001 –

Hasil simulasi peningkatan 50 persen variabel utama untuk setiap jalur mekanisme transmisi moneter pada periode transisi tahun 2001 – 2005 ditunjukkan pada Tabel 31.

1. Jalur Interest Rate Channel Var Shock (INT,RR dan SBI)

Selama periode tahun 2001 – 2005 yang dianggap sebagai masa transisi (masa peralihan dari masa krisis menuju masa sesudah krisis – peramalan) dengan adanya peningkatan pada variabel kebijakan tingkat suku bunga, cadangan wajib minimum dan tingkat sukubunga sertifikat Bank Indonesia sebesar 50 persen lebih besar mengakibatkan perubahan pada neraca pembayaran (BOP) sebesar 21.53 persen dan hal tersebut diindikasikan karena adanya perubahan dari konsumsi 17.30 persen, Investasi (swasta -7.98 persen dan pemerintah -88.28 persen), pengeluaran pemerintah meningkat sebesar 4.32 persen, ekspor tumbuh 3.16 persen dan impor menurun -44.79 persen. Disamping itu peningkatan yang terjadi pada variabel konsumsi sebesar 17.30 persen disinyalir terjadi karena kemungkinan adanya peningkatan pendapatan

Tabel 31. Simulasi Historis Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme Transmisi Moneter Periode Transisi Tahun 2001 – 2005

SIM-1 SIM-2 SIM-3 SIM-4 SIM-5 SIM-6 SIM-7 Variable Endogen Simbol BASE % % % % % % %

Nilai Tukar ER 4968 -16.81 -6.86 93.74 -159.80 50.00 50.00 -1.85

Tingkat Sukubunga INT 10.41 50.00 -43.98 50.00 50.00 50.00 -94.68 -46.33

Indeks Harga Konsumen INDEX 269.277 -0.72 -10.66 -61.82 50.00 -2.47 -5.59 -5.83

Ekspor EXPO 30630 3.16 33.90 184.29 -246.99 18.63 26.44 17.34

Impor IMPO 20869 -44.79 -44.89 66.53 -287.56 -32.77 -34.08 -13.58

Investasi Swasta ISWA 133817 -7.98 -4.63 50.00 -33.39 -7.10 -7.57 0.18

Investasi Pemerintah IPEM 19996 -88.28 -131.85 50.00 -73.23 -88.60 -102.54 -49.83

Uang Khartal UKHA 36177 45.27 76.11 173.47 59.89 35.71 47.60 34.50

Giral GIRA 53195 8.71 27.35 135.59 -20.96 9.06 14.07 15.76

Tabungan dan Deposito TADE 304315 -14.32 -18.61 39.15 -25.89 -13.55 -16.86 -7.67

Penawaran Uang MS 399447 9.94 22.17 50.00 -89.55 50.00 50.00 15.76

Uang Primer BASE 64827 29.90 46.51 50.00 -69.41 50.00 50.00 50.00

Konsumsi CONS 313477 17.30 52.97 402.02 -80.65 14.48 28.49 25.72

Pengeluaran Pemerintah GEXP 118357 4.32 9.44 82.73 7.25 2.53 4.88 3.80

Penerimaan Pemerintah GREV 117658 2.60 9.48 83.33 -23.45 2.81 5.13 4.99

Pajak TAX 90335 3.23 11.48 100.97 -34.87 4.10 6.65 6.18

Kredit KREDIT 201816 -62.74 50.00 -62.74 -62.74 -64.65 -39.94 -116.26

Permintaan Uang MD 87860 -5.33 7.11 89.85 -69.75 2.16 5.39 5.49

Neraca Perdagangan BOT 9760 105.70 202.38 436.13 -160.26 128.53 155.86 83.44

Neraca Pembayaran BOP 47922 21.53 41.22 88.82 -32.64 26.18 31.74 16.99

Produk Domestik Bruto Indonesia PDBI 595408 6.94 27.62 238.00 -53.61 5.66 13.38 14.03

Pendapatan Disposabel YD 505073 7.60 30.50 262.51 -56.96 5.94 14.59 15.44

KETERANGAN

SIM-1 Interest Rate Channel SIM-5 Exchange Rate (1) Channel

SIM-2 Bank Lending Channel SIM-6 Exchange Rate (2) Channel

SIM-3 Balance Sheet Channel SIM-7 Direct Monetary Channel

disposabel 7.6 persen yang memungkinkan masyarakat untuk meningkatkan tingkat konsumsinya dan dari pertumbuhan pada variabel yang komponen pembentuk indikator perekonomian PDBI menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6.94 persen. Pertumbuhan positif pada kinerja perekonomian tersebut cenderung disebabkan oleh adanya peningkatan pada variabel konsumsi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan penurunan impor.

2. Jalur Bank Lending Channel Var Shock (RR, KREDIT dan SBI)

Jalur kredit yang menganggap terdapat 3 variabel (RR, KREDIT, SBI) kebijakan yang dapat di manuver oleh otoritas moneter pada periode masa transisi ini menunjukkan pengaruh yang berbeda dibandingkan dengan jalur suku bunga dan diprediksi variabel utama tersebut memiliki pengaruh pada pertumbuhan neraca perdagangan 202.38 persen, neraca pembayaran 41.32 persen, dan kinerja perekonomian PDBI naik 27.62 persen yang menggambarkan suatu peningkatan kinerja perekonomian yang lebih baik jika dibandingkan dengan kinerja perekonomian pada jalur sukubunga. Peningkatan terhadap variabel shock pada jalur kredit ini memberikan dampak pada peningktaan variabel produk domestik bruto yang cukup besar dan komponen indikator perekonomian yang dianggap memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan kinerja perekonomian tersebut adalah variabel konsumsi tumbuh 52.97 persen cenderung diakibatkan oleh adanya peningkatan dari pendapatan disposabel 30.50 persen yang memungkinkan masyarakat memiliki daya beli yang lebih tinggi, pengeluaran pemerintah tumbuh sebesar 9.44 persen, peningkatan ekspor 33.90 persen dan penurunan impor -44.89 persen yang cenderung dipengaruhi oleh adanya depresiasi nilai mata uang rupiah -6.86 persen sedangkan investasi menunjukkan pertumbuhan yang negatif baik sektor swasta -4.63 persen maupun pemerintah -131.85 persen .

3. Jalur Balance Sheet Channel Var Shock (INT, RR, MS, INV, SBI dan BASE)

Jalur Neraca atau yang juga dikenal dengan balance sheet channel yang menganggap variabel utama yang digoncang adalah tingkat sukubunga, cadangan wajib minimum, penawaran uang, investasi, tingkat sukubunga sertifikat bank Indonesia dan Uang primer ini pada masa transisi lebih menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan jalur sukubunga dan jalur kredit. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan dari konsumsi 402.02 persen yang diakibatkan oleh adanya peningkatan dalam hal pendapatan disposabel 262.51 persen, pengeluaran pemerintah tumbuh sebesar 83.33 persen, ekspor meningkat sebesar 184.29 persen, impor tumbuh 66.53 persen, uang khartal 173.47 persen dan uang giral sebesar 135.59 persen, tabungan dan deposito 39.15 persen serta investasi baik swasta maupun pemerintah sebesar 50 persen. Peningkatan-peningkatan tersebut yang cukup besar ada pada variabel konsumsi dan PDBI naik sebesar 238.00 persen atau lebih dari dua kali lipat. Hal ini didukung oleh peningkatan pendapatan disposabel yang naik cukup besar sehingga hal tersebut memungkinkan meningkatkan konsumsi masyarakat yang pada akhirnya akan memberi dampak positif terhadap peningkatan PDBI.

4. Jalur Expectation Channel Var Shock (INT, RR, INDEX, dan SBI)

Jalur ekspektasi menunjukkan hasil berbeda dengan jalur mekanisme lainnya, hal ini ditunjukkan dari variabel PDBI yang masih rata-rata turun sebesar -53.61 persen. Selain pengaruh dari turunnya pertumbuhan neraca perdagangan -160.26 persen dan neraca pembayaran -32.64 persen yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian, hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan produk domestik bruto adalah turunnya pendapatan disposabel -56.96 persen yang diasumsikan variabel tersebut mempengaruhi turunnya konsumsi sebesar –80.65 persen. Pertumbuhan ekspor turun - 246.99 persen diprediksi karena mata uang terapresiasi -159.80 persen dan hal tersebut

cenderung langsung mengakibatkan turunnya neraca perdagangan -160.26 persen. Peningkatan tingkat sukubunga pun secara tidak langsung akan meningkatkan sukubunga kredit, disamping hal tersebut dipengaruhi pula oleh naiknya tingkat sukubunga sertifikat Bank Indonesia sebesar 50 persen lebih tinggi yang menjadi dasar bagi sektor perbankan dalam menentukan sukubunga kredit dengan tingginya tingkat sukubunga kredit maka hal tersebut akan mengurangi sektor riil untuk menggunakan dana pihak perbankan dalam bentuk kredit untuk ekspansi usahanya sebesar -62.74 persen

5. Jalur Exchange Rate Channel (1) Var Shock (ER, INT, RR, MS, dan BASE)

Jalur ini menunjukkan hasil yang lebih baik dengan adanya peningkatan rata-rata yang positif pada variabel PDBI sebesar 5.66 persen disinyalir karena adanya pertumbuhan pada faktor balance of trade (neraca perdagangan) sebesar 128.53 persen dengan adanya depresiasi mata uang rupiah 50 persen maka hal tersebut berpengaruh terhadap peningkatan ekspor sehingga net ekspor meningkat dan akhirnya akan berdampak positif pada neraca perdagangan. Disamping itu komponen neraca perdagangan ekspor dan impor pun mengalami peningkatan sebesar 18.63 persen dan -32.77 persen, sedangkan variabel lain yang mengalami peningkatan adalah variabel konsumsi 14.48 persen karena adanya peningkatan pada variabel pendapatan disposabel 5.94 persen, pendapatan pemerintah 2.81 persen dan pajak 4.1 persen dan peningkatan pengeluaran pemerintah 2.81 persen. Permintaan uang dalam hal ini pun mengalami peningkatan yang tidak terlalu besar sebesar 2.16 persen lebih besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan kinerja perekonomian tersebut pada mekanisme jalur ekspektasi pada periode yang sama.

6. Jalur Exchange Rate Channel (2) Var Shock (ER, RR, MS, dan BASE)

Pada jalur nilai tukar-2 ini, variabel tingkat sukubunga tidak termasuk pada variabel yang digoncang dan hasil yang diperoleh adalah peningkatan produk domestik bruto Indonesia 13.38 persen yang lebih besar daripada simulasi yang dilakukan pada jalur nilai tukar-1, begitu pula dengan peningkatan neraca pembayaran 31.74 persen dan neraca perdagangan 155.86 persen yang diperoleh lebih besar dari pada jalur nilai tukar-1. Variabel tingkat sukubunga, ekspor, impor dan konsumsi mengalami perubahan sebesar -432.47 persen, 26.44 persen, -34.08 persen dan 28.49 persen, disamping itu baik variabel pendapatan pemerintah, pajak dan permintaan uang juga mengalami peningkatan yang cukup baik yaitu sebesar 5.13 persen, 6.65 persen, 5.39 persen dan pengeluaran pemerintah naik 4.48 persen, sehingga dengan variabel-variabel komponen dari produk domestik bruto Indonesia bertumbuh secara positif maka hal tersebut memberikan kontribusi positif pada peningkatan dan pertumbuhan dari kinerja perekonomian PDBI 13.38 persen dan pertumbuhan ini lebih baik jika dibandingkan dengan komponen yang sama pada mekanisme transmisi jalur nilai tukar-1. Pendapatan disposabel meningkat 14.59 persen sehingga cenderung mempengaruhi peningkatan konsumsi masyarakat yang akhirnya mengakibatkan perubahan pada komponen produk domestik bruto Indonesia.

7. Jalur Direct Monetary Channel Var Shock (RR, SBI dan BASE)

Jalur direct monetary channel yang sering dikenal dengan sebutan mekanisme transmisi jalur langsung menunjukkan indikator ekonomi produk domestik bruto Indonesia meningkat 14.03 persen dengan peningkatan pada neraca perdagangan 83.44 persen dan neraca pembayaran 16.99 persen. Nilai tukar yang terapresiasi -1.85 persen tidak banyak memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekspor 17.34 persen maupun impor -13.58 persen sedangkan tingkat suku bunga tumbuh 5267.15 persen

cenderung mengakibatkan turunnya variabel -116.26 persen. Konsumsi tumbuh 25.72 persen yang diprediksi sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pada pendapatan disposibel 15.44 persen yang juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan indikator kinerja perekonomian produk domestik bruto Indonesia, disamping itu sektor investasi baik swasta maupun pemerintah tidak memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan kinerja ekonomi.

6.2.4. Skenario Simulasi Peningkatan 50 persen variabel Jalur Mekanisme